Thursday, July 24, 2014

Perjalanan ke Batu Hijau (1)

Bermula saat sedang rapat evaluasi di sebuah tempat di Bandung. Karena sudah lama, saya mulai jenuh. Tangan pun mulai membuka HP, mengecek group WA untuk group Bootcamp Newmont. Tiba-tiba Bu Jenni nyelonong masuk, dan bilang," Siapa yang mau ikut ke Newmont Kamis. Khusus dua orang. Siapa cepat dia dapat." (Intinya sih begitu)

Buru-buru saja saya menyatakan siap. Peserta lainnya adalah Griska. Hahaha, saya sendiri asal nyanggupin aja walaupun belum tahu kantor ngizinin atau nggak saya ambil cuti. Juga isteri saya.

***

Akhirnya saya berangkat juga dari Bandung Kamis dini hari. Karena harus tiba di Bandara Soeta, saya berangkat dari pool bis Prima Jasadi Batu Nunggal  pukul 02.30. Biarlah kepagian. Soalnya siangan dikit aja bisa kena macet di Bekasi.

Saya tiba duluan di Bandara. Bisa shalat subuh dulu, kemudian nongkrong di terminal 1A. Kemudian muncul Griska dan Harris Maulana. Tak lama kemudian Bu Jenni manggil minta kumpul. Olalala, ternyata yang ikutan ada lagi. Crew  Trans Corp, dan SCTV.  Satu lagi adalah Mbak Valencia Silly yang ngetop banget itu. Bukunya kebetulan juga terbit di tempat saya kerja. Voila! Setelah sarapan, kami pun cek in deh.


Ngomong-ngomong, tahun ini adalah yang pertama kali naik pesawat kembali. Soalnya, dari kantor udah lama nggak ada dinas ke luar negeri :) Maklum deh, traveler abidin (atas biaya dinas). Dan ini adalah penerbangan terjauh juga ke arah timur Indonesia, yang sebelumnya cuman sampai Bali. Jadi, agak antusias aja. Apalagi saya tuh pengen banget menjelajah seluruh Indonesia.

Maskapai yang digunakan adalah Lion Air dengan tujuan Bandara Internasional Lombok (yang masih baru itu). Tadinya khawatir ngaret. Soalnya saya pernah ngalamin sama maskapai satu ini. Ternyata nggak.


Well, karena akan bergeser waktu, saya putar dulu arloji sebelum naik pesawat. Tambah satu jam. Dan seperti biasa, saya potret sana-sini. kali aja nanti ada lomba ngeblog tentang Lion Air gitu kan udah punya fotonya.




Karena udah agak siang sejak buka counter, ternyata rombongan kami dapat seat yang berpencar. Hahaha, berasa nggak rombongan, soalnya duduk jauh-jauhan. Tapi setidaknya saya bisa tidur karena masih ngantuk. Kalo duduk sebelahan sama yang dikenal terus tidur itu kan namanya nggak sopan. Sebelum tidur, selfie dulu ah :)


Mungkin sekitar1,5 jam kemudian pesawat akhirnya mendarat. Saya masih agak-agak ngantuk. Cuman nggak mungkin juga terus-terusan tidur. Nanti diculik pilotnya gimana? So, saya pun mengambil tas kamera di kompartemen..

Begitu turun dari pesawat, pertama saya berhamdallah karena diberi kesempatan menginjak tanah  Lombok. And then, saya potret-potret lagi dah. Terutama yang ada label Lion Airnya. Lagi, buat lomba ngeblog kelak. Sudah puas, langsung antre ambil bagasi .... yang lamanya minta ampun. Hm, pantas aja makin banyak orang yang alergi masukin bawaan ke bagasi. :(


Di luar ternyata ada Willy dari METRO TV yang kemudian bergabung. Sudah dekat? Belum! Masih panjang perjalanan menuju Batu Hijau di Sumbawa Barat, ternyata. Tapi sebagai traveler, kita harus menikmati perjalanan, jauh maupun dekat. Karena inti traveling bukan tujuan, namun perjalanan :) #Katanya

Berikutnya adalah perjalanan darat menuju Pelabuhan Kahyangan di Lombok timur. Untuk menempuhnya, kami menggunakan mobil travel Inova. Ada tiga mobil untuk membagi kami. Dan saya satu mobil dengan Harris serta Griska.

Seperti yang saya duga, pasti deh supirnya ngebut. Beneran aja. Ngebut sengebut-ngebutnya. Sampai saya nggak mau lihat ke depan. Pura-pura ngobrol atau ngunyah makanan.

Ngomong-ngomong makan, Bu Jenni nraktir kami makan siang dulu di sebuah tempat makan tak jauh dari Bandara.Menunya bikin perut yang lapar langsung megap-megap. Tapi tetap sih favorit saya ya plecing kangkung. Nama tempat makannya lupa, nanti deh ditanya dulu ke Griska.

Dan momen makan gini adalah paling tepat untuk ngecas HP. Walaupun jadinya sepanjang makan saya berusaha mengingat-ingat terus lagi ngecas HP. Maklum deh pelupa akut. Lah, pas sarapan di Bandara aja tadi sempat lupa tas kamera :)

Lanjut ke perjalanan deh. Di antara ngebutnya mobil travel yang disupiri Husnan, saya berusaha melihat-lihat pemandangan di sisi jalan. Banyak banget masjid dengan menara yg besar. Nyaris hanya beberapa ratus meter bertemu masjid-masjid besar. Mudah-mudahan jemaahnya juga banyak ya. Saya juga baru tahu kalau ternyata Lombok punya gelar Pulau 1000 Masjid.

Pengennya sih kalo ada di satu tempat dengan petunjuk nama kecamatan atau kabupaten gitu, ya berhenti dulu. Tapi keknya nggak mungkin juga. 

Setelah 1,5 jam perjalanan, rasanya senang bingits ketika akhirnya melihat laut Lombok Timur. Soalnya, kaki udah pegel ikut-ikutan nginjek rem saking ngebut dan seringnya menyalip mobil lain. Selain itu, rasanya kok pengen pipis :P

(bersambung)

Monday, July 21, 2014

Dua Jam Keliling Thailand





Berkunjung ke Thailand dalam waktu terbatas tapi ingin melihat banyak bangunan bersejarah? Mudah. Datanglah ke Ancient Siam (Siam Kuno) yang berada di Samuth Prakan, pinggir kota Bangkok. Lokasi ini belum begitu popular bagi pelancong Indonesia, bahkan beberapa warga Bangkok ketika  ditanya mengaku belum pernah ke sana.

Dari Bangkok untuk menuju lokasi yang lebih dikenal dengan nama Muang Boran ini bisa dengan naik BTS menuju Bearing dengan ongkos 40 baht, lalu melanjutkan dengan taksi.

Setelah membayar tiket masuk seharga 500 baht,  pengunjung dipersilahkan memilih kendaraan yang dipakai untuk mengelilingi Ancient Siam. Dengan luas 320 hektar, taman yang mulanya akan dibangun lapangan golf ini, tidak mungkin dikelilingi dengan jalan kaki. Pengunjung bisa memilih naik bus terbuka atau bersepeda. Naik kereta memang nyaman, tapi tidak bisa berlama-lama di satu anjungan. Akhirnya, pilihan saya adalah bersepeda.

Bersepeda tidak disarankan bagi yang jarang berolahraga karena jarak yang cukup panjang serta suhu udara yang panas. Pengunjung bisa menyewa mobil golf dengan tarif 150 baht untuk dua kursi, 300 baht untuk 4 kursi, dan 450 baht untuk yang 6 kursi. Tarif dihitung per jam.

Ancient Siam dijuluki juga museum  outdoor terbesar di dunia. Ketika masuk pengunjung dari Indonesia pasti akan merasa seperti ke Taman Mini di Jakarta. Bedanya, di Taman Mini menonjolkan anjungan provinsi dengan rumah adatnya. Sementara di Ancient Siam menampilkan 116 replikasi bangunan dan monumen bersejarah di seluruh Thailand yang jika ingin ditemui aslinya tidak akan cukup waktu 2-3 hari. Ukuran replikasi ada yang sesuai aslinya, ada pula yang diperkecil skalanya.

Anjungan pertama yang bisa disinggahi adalah The Stupa of Phra Maha That, Ratchaburi, kemudian model pasar gaya lama di pedesaan Thailand lengkap dengan rumah adatnya. Di tempat ini pengunjung bisa membawa oleh-oleh khas Thailand.

Pengunjung juga bisa melihat  duplikasi komplek Dusit Maha Prasat Palace  atau yang lebih dikenal dengan nama The Grand Palace yang nyaris mirip dengan aslinya, termasuk taman di sekitarnya. Begitu pula dengan istana putih bernama Sanphet Prasat Palace. Meskipun hanya duplikasi, pengunjung pasti akan terkagum dengan detail yang dibuat mirip dengan aslinya.

Tak seberapa jauh, pengunjung dapat menemukan bangunan unik terdiri dari susunan bata merah. Rupanya inilah replika reruntuhan Kerajaan tua  Ayutthaya. Nah, kalau turis Indonesia mau ke tempat aslinya, butuh waktu berjam-jam untuk sampai dari Bangkok.

Selain bangunan istana dan kuil, di taman luas yang bentuknya menyerupai siluet peta negara Thailand ini dapat juga dilihat begitu banyak patung menawan. Misalnya saja patung kisah Ramayana berwarna putih dilengkapi danau dan air terjun kecil.

Dari semua anjungan, banyak pengunjung menyukai replikasi The Hall of the Enlightened. Atapnya yang berwarna keemasan dan hijau langsung menarik mata dari kejauhan. Untuk masuk ke bangunan utama, pengunjung harus menapaki jembatan melewati danau. Di bangunan utama terdapat sejumlah patung Budha. Tempat ini sangat cocok untuk lokasi pemotretan.

Floating Market

Katanya, belum ke Thailand kalau tidak pasar terapungnya. Tapi dari Bangkok cukup memakan waktu menuju ke lokasi pasar terapung. Untunglah di Ancient Siam ini ada tiruannya.

Di anjungan floating market, pengunjung benar-benar bisa merasakan hal yang sama dengan aslinya. Ada danau buatan dikelilingi bangunan khas Thailand. Tentu saja lengkap dengan pedagang jajanan di atas perahu dan tempat makan di sekitarnya. Ada pula jembatan yang membuat lokasi ini benar-benar menyenangkan, terutama untuk foto-foto narsis. Jika dipasang di Facebook, orang akan mengira kita benar-benar berkunjung ke floating market asli.

Sepanjang perjalanan mengelilingi Ancient Siam, sebagian besar bangunan yang dilihat berhubungan dengan agama Budha dan Hindu. Tapi jangan khawatir, pengunjung yang ingin sholat  bisa menemukan mushola di anjungan floating market. Walaupun kecil, tapi bersih.

Berkeliling ke Ancient Siam, selain mendapat pengetahuan sejarah dan budaya Thailand, juga mendapat sehat karena mengelilinginya sambil bersepeda. Tapi disarankan datang di pagi hari, biar tidak merasa kepanasan.

Rasanya, menyenangkan juga bila di Bandung dan sekitarnya terdapat museum terbuka semacam ini.

(Benny Rhamdani, Traveler tinggal di Bandung)

Foto-foto: Benny Rhamdani



Tulisan Ini dimuat di Harian Umum PIKIRAN RAKYAT 12 Juli 2014

Wednesday, July 9, 2014

Römerberg, Kota Tua di dalam Kota Modern Frankfurt



Sungguh saya merasa takjub bisa berdiri di Römerberg, yang merupakan  alan-alun  kota tua (Altstadt) Frankfurt, Jerman. Para turis biasanya menjadikan alun-alun ini sebagai awal perjalanan wisata dalam kota. Apalagi di sini berdiri pusat informasi wisata. Juga tempat pemberangkatan bis wisata. Selain bangunan tua, kita juga bisa menikmati aksi para artis pantomim yang berdiam dalam waktu yang lama. Jika ingin berfoto bersamanya, jangan lupa siapkan uang receh.

Nama Römerberg berasal dari bangunan balai kota Frankfurt bernama Römer. Balai kota ini dibangun antara abad 15 dan 18 dengan gaya arsitektur Gothic. Bangunan utamanya dikenal sebagai Zum Römer, yang berarti penghormatan kepada Romawi. Bila sempat melongok ruang bersejarah tempat penobatan Kaisar Romawi, kita akan menyaksikan foto-foto raja dan kaisar Jerman, dari Friedrich Barbarossa yang memerintah pada tahun 1152 hingga Franz II, yang berkuasa pada tahun 1806.

Keramaian di  Römerberg  telah  berlangsung sejak abad ke-12, saat perdagangan besar-besaran dimulai. Bursa niaga ini menarik minat para pengunjung dan pedagang termasuk  dari Italia dan Perancis. Karena letaknya yang strategis, membuat kawasan ini jadi pilihan tempat utama penyelenggaraan berbagai pameran dan perayaan, termasuk perayaan penobatan Kaisar Romawi dulu.

Di sisi timur , berhadapan dengan Römer,  berdiri sederet bangunan rumah kayu  atau  Ostzeile. Inilah rekonstruksi bangunan rumah-rumah khas Jerman abad ke 15-16, yang pernah luluh lantak oleh pemboman Inggris saat perang PD II. Bangunan yang berdiri sekarang selesai  didirikan pada 1983. Uniknya, masing-masing rumah memilik nama.  Dari kiri ke kanan adalah Zum Engel, Goldener Greif , Wilder Mann, Kleiner Dachsberg-Schlüssel , Großer Laubenberg  dan Kleiner Laubenberg .

Saat ini, bagian bawah Ostzeille dipakai sebagai café dan tempat menjual cendera mata khas Frankfurt. Mulai dari magnet kulkas hingga hiasan dinding lengkap tersedia. Bahkan kaos sepakbola tim nasional Jerman. Tentu saja dengan harga tempat wisata yang lebih mahal jika dibandingkan kita membeli di stasiun kereta Frankfurt.

Berjalan ke selatan  Römerberg terdapat Historisches Museum. Tempat ini menyajikan rekaman sejarah kota Frankfurt. Di sini kita bisa melihat maket kota Frankfut jaman pertengahan, sebelum dihancurkan perang.  Di depan Historisches Museum terdapat Alte Nikolaikirche, gereja gothic permulaan yang dibangun pada tahun 1290. Dulunya bangunan ini digunakan sebagai gereja pengadilan untuk kaisar hingga abad ke-15.  Pada pukul 9:05, 12:05 dan 17:05 akan terdengar dentang rangkaian 35 lonceng gereja. Saya  beruntung bisa mendengar riuh rendah bunyi lonceng karena tepat di sana pukul 12.05 siang.

Karena waktu makan siang telah tiba, saya pun segera keluar dari Römerberg menuju kota Frankfurt modern yang sesungguhnya .  Menutup wisata jalan-jalan di Frankfurt dengan makan di kedai kebab dari para imigran.


Air Mancur Keadilan


"Inilah Dewi Keadilan! Dia tampak mengerikan. Timbangannya telah hilang.  Dewi yang malang. Dia kehilangan setengah lengannya, dibawa setan .”

Itulah kalimat yang ditulis  penyair Friedrich Stoltze saat menggambarkan Gerechtigkeitsbrunnen pada 1863. Kini, tentu saja kondisinya sudah membaik. Jika tidak, mana ada jutaan orang mau melakukan sesi pemotretan di dekat air mancur  keadilan itu.

Gerechtigkeitsbrunnen dibangun pada tahun 1543 dan beberapa kali direnovasi karena perang. Di tengah-tengahnya berdiri patung Dewi Keadilan membawa timbangan keadilan, tetapi tanpa penutup mata.  Air mancur yang keluar dari empat malaikat di bawah patung Dewi Keadilan melambangkan Keadilan, Sikap sederhana, Harapan, dan Cinta.  Pada masa penobatan kaisar, air yang keluar adalah anggur (wine) dan diperebutkan masyarakat setempat.

Air mancur keadilan itu berdiri di pusat Römerberg. Saat berdiri di sana, saya hampir  tidak percaya kota di Jerman ini pernah hancur akibat dibombardir pasukan udara Inggris pada Perang Dunia kedua (PD II).  Apalagi ketika menginjak kawasan yang didirikan pada abad 12 tersebut. Semua bangunan di sana tampak seperti benar-benar tua, padahal baru direkontruksi  pemerintah Jerman setelah PD II.

 Foto2: Benny Rhamdani


Sunday, June 29, 2014

Tanpa Newmont, Pantai Maluk Kian Sunyi

Pantai Maluk Menanti Wisatawan





Gradasi warna biru terlihat dari tepi laut hingga ke langit ketika kaki saya menginjak Pantai Maluk di Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Keindahan alam pulau madu ini membuat keletihan saya sirna setelah perjalanan dari Batu Hijau. Namun, saya bingung karena pantai ini terlalu sepi untuk sebuah tujuan wisata yang sudah terkenal. Bahkan hanya tiga warung makan yang buka di siang hari.  
“Sejak Newmont berhenti operasi 6 Juni lalu, pengunjung Pantai Maluk terus turun. Karena kebanyakan pengunjung memang dari keluarga karyawan Newmont,” jelas Arie Burhanudin, salah seorang warga setempat yang ditemui sedang berada di Pantai Maluk.

Seperti diketahui, perusahaan tambang PT Newmont Nusa Tenggara telah menyatakan kondisi kahar awal Juni lalu.  Sebanyak 80% dari 4.000 karyawannya terpaksa dirumahkan. Padahal, mereka adalah pasar potensial pariwisata di Sumbawa Barat, termasuk Pantai Maluk.

Pantai Maluk sendiri  terkenal  karena memiliki ombak yang dijuluki Super Suck. Ombak dari Samudera Indonesia itu terpecah saat menuju daratan oleh sebuah tanjung yang oleh penduduk setempat di beri nama Tanjung Ahmad. Pecahnya ombak ini menggulung hingga ketinggian di atas dua meter, sehingga ombak di pantai Maluk masuk ke dalam daftar ombak terbaik bagi para peselancar.

Pada saat pengunjung masih ramai, sekitar pantai banyak disewakan  papan selancar serta kano dengan tarif relatif terjangkau. Untuk kano cukup merogoh Rp5.000 per jam. Namun saat saya berkunjung, para penyewa papan selancar dan kano tidak tampak satu pun. Juga ombak yang saya lihat tampak tenang mengayun beberapa perahu kecil di sisi timur pantai.

Pasirnya yang putih dan lembut menjadikan wisatawan betah berlama-lama di pantai ini untuk sekedar berjemur atau malah berenang. Tak jarang pengunjung sengaja datang menjelang senja untuk berburu matahari tenggelam.


Untuk menujukkan kepedulian lingkungan,  di Pantai Maluk juga terdapat terdapat tempat penangkaran penyu yang berada tepat di tepi pantai. Di pantai ini juga disediakan area voli serta area bermain anak-anak di Pantai Maluk namun kapasitas untuk fasilitas tersebut masih minim. 

Yang tak kalah asyik berada di Pantai Maluk adalah kulinernya. Jangan sesekali ke pantai ini tanpa sempat menikmati kelapa muda yang ditetesi jeruk limau, serta menyantap nasi dengan kuliner khas sepat dan raret. Sepat adalah sajian ikan yang dimakan bersama kuah sayur yang rasanya kecut, sedangkan raret adalah dendeng sapi yang dicacah kecil-kecil serta renyah rasanya. 

Raret, dendeng khas Sumbawa.
Untuk menuju Pantai Maluk sesungguhnya lumayan butuh perjuangan, apalagi saya berangkat dari Bandung. Saya mengawalinya dengan pergi ke Bandara Soekarno Hatta lebih dulu, kemudian naik pesawat menuju Bandara Internasional Lombok sekitar 90 menit. Perjalanan kemudian dilanjutkan lewat darat, dan karena harus mengejar jadwal keberangkatan feri, maka harus naik mobil sewaan travel. Harga sewa per mobil antara Rp300.000 – Rp400.000 tergantung jenis mobilnya. 

Perjalanan darat menuju Pelabuhan Kahyangan di Lombok Timur memakan waktu sekitar 90 menit. Itu juga tergantung lamanya istirahat di perjalanan, untuk makan siang dan mencicipikuliner khas Lombok seperti ayam Taliwang. Dari Pelabuhan Kahyangan, saya naik boat menuju pelabuhan milik PT Newmont sekitar 90 menit. Tapi pelabuhan ini tidak bisa sembarangan diakses.  Dari  dermaga harus ditambah lagi dengan jalan darat sekitar 45 menit.

Perjalanan saya terbilang cepat tapi mahal. Untuk yang memiliki budget rendah bisa naik bus maupun kapal feri yang lebih murah. Harap diingat pula jadwal keberangkatan feri tidak setiap saat. Jadi sebelum berangkat harus dicek jadwalnya. Juga upayakan agar tidak terlalu gelap sampai Sumbawa, karena pasti akan menemukan kesulitan mencari kendaraan umum.

Dari Mataram Lombok, bisa naik bus Damri  jurusan Mataram – Taliwang – Maluk. Sampai di Maluk akan disambut keramaian sebuah kota kecil, untuk sampai di pantainya cukup naik ojek Rp. 15.000

Di Pantai Maluk tersedia hotel untuk menginap. Selain Pantai Maluk, wisatawan juga bisa berkunjung ke pantai-pantai lainnya yang indah tak  seberapa jauh, seperti Pantai Lawar dan Pantai Rantung. Cuman, karena masalah transportasi dan akses yang belum diperhatikan oleh pemerintah setempat, perlu waktu dan biaya lebih yang harus disiapkan. 

Tge bloggers are Me, Harris Maulana, Griska and  Silly.

Semestinya, di tengah kebingungan masyarakat setempat yang banyak bergantung kepada denyut nadi Newmont, pemerintah daerah sudah saatnya segera turun tangan. Bukankah jika pariwisata pantai Maluk terus terangkat akan baik untuk pendapatan daerah dan masyarakatnya? 

(Benny Rhamdani, traveler tinggal di Bandung)

Foto2: Benny Rhamdani




TULISAN ini dimuat di PIKIRAN RAKYAT 28 Juni 2014



Tuesday, June 24, 2014

Menikmati Ayam Rarang, Kuliner Khas Lombok Timur




Pernah mendengar kuliner ayam rarang? Pasti belum, kan? Sebab untuk mencicipi ayam bakar satu ini harus datang langsung ke Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

Dalam perjalanan darat saya bersama teman-teman dari Pelabuhan Kahyangan menuju Bandara Internasional Lombok,  supir travel menghentikan mobilnya di Desa Rarang, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Kami pun masuk ke halaman parkir  sebuah rumah makan yang menyajikan khas kuliner setempat. Tepatnya di samping SPBU Rarang. Ya, makan siang telah tiba!

Rumah makan ini menyediakan saung-saung khusus untuk tamu yang ingin makan sambil lesehan,  di belakang warung mereka di pinggir jalan. Meskipun saungnya tak terlalu istimewa dibandingkan saung lesehan di tempat saya tinggal (Bandung) namun saya tetap penasaran mencicipi salah satu unggulan rumah makan ini, yakni ayam rarang.

Sambil menunggu pesanan datang saya mampir ke dapurnya. Dan bertanya-tanya kepada pelayan warung. Ayam rarang merupakan ayam bakar  berlumur bumbu cabai merah yang mengkilat dengan tambahan jeruk limau di atasnya. Air liur saya langsung menetes melihatnya. Saya membayangkan rasanya sepedas ayam taliwang.


Proses membuat ayam rarang dimulai dengan membakar ayam di tungku menggunakan kayu bakar. Kalau melihat bentuknya, tampak ayamnya adalah ayam kampung yang masih sangat muda. Ayam tidak disajikan utuh seperti ayam taliwang, tapi potongan kecil-kecil. Setelah itu dibumbui seperti halnya bumbu pelecing,  yakni ulekan cabe merah besar, kemiri, bumbu besar, ketumbar, dan merica.

Cara penyajiannya unik karena bebeda dengan penyajian ayam taliwang.  Ayam rarang disajikan dengan kacang kedelai goreng, sayur bening, ati empela goreng yang ditusuk seperti sate.  Kalau ada yang tidak suka boleh disingkirkan kok. Saya sih suka dengan sayur beningnya karena hitung-hitung pengganti lalab sebagai makanan wajib saya.

Mau tahu rasanya? Rasa pedas langsung membakar mulut. Tapi tenang, pedasnya bisa dinetralisir dengan nasi putih.  Jadi, setelahnya tidak terasa mulas. Bumbunya juga terasa gurih, dan bagi lidah saya aroma kemiri sangat terasa. Yang paling nikmat adalah daging ayamnya yang tidak kenyal dengan aroma sangit kayu bakar. Maklum, ayam ABG. Dan kemungkinan besar jenis ayam inilah yang membedakan dengan ayam taliwang.

Saya merasa puas dengan ayam rarang ini. Bahkan habis beberapa potong. Hanya sedikit kekurangan dalam penyajian hidangan, yakni tidak ada buah-buahan pencuci mulut.  Tapi tak apalah. Yang penting sudah bisa mencicipi makanan khas Lombok Timur.

Sampai saat saya dan teman-teman meneruskan perjalanan menuju Bandara Internasional Lombok, rasa bumbu ayam rarang masih terasa di lidah. Nggak percaya. Coba sendiri deh.

Foto-foto: Benny Rhamdani

Wednesday, June 11, 2014

Tokyo Banana Asal Bandung






Bagi penggemar kuliner Jepang, tentu tidak asing dengan nama Tokyo Banana. Bahkan banyak yang menjadikannya oleh-oleh saat ke Jepang dan kembali ke Indonesia. Tapi belakangan, orang membeli Banana Tokyo tak perlu lagi jauh-jauh ke Jepang lantaran di Bandung sudah ada yang menekuni bisnis kuliner ini.

Bagi yang belum kenal, Tokyo Banana adalah cake sponge berbentuk seperti  pisang yang di dalamnya berisi fla pisang. Tapi belakangan isi dan warna pun berkembang mengikuti selera, seperti strawberry, cokelat, keju, melon, dan lainnya. Tapi bentuknya tetap pisang.

Saya sendiri baru mengetahuinya belum lama ini. Lantaran kian banyak penggemar kuliner yang membicarakannya, saya pun menyambangi Tokyo Banana di Bandung. Kebetulan sekali letak Tokyo Banana di Bandung sangat dekat dengan tempat tinggal saya.

Tidak sulit untuk menemuka tempat penjualan Tokyo Banana di kawasan Margahyu ini. Begitu masuk komplek tersebut tinggal lurus terus, sampai nanti akan melihat rumah dengan spanduk Tokyo Banana di sisi kanan.

Rumah itu masih tampak baru ditempati karena segalanya masih kosong. Seorang pria kemudian keluar dan menyambut kami ramah. Setelah saya bertanya informasi seputar produk Tokyo Banana, saya diizinkan untuk masuk dapur. Ternyata ada beberapa anak muda tengah berkresi membuat Tokyo Banana. Beberapa tampak sibuk mengantar pesanan.

Akhirnya saya memutuskan untuk membeli satu box dulu yang berisi campuran rasa. Begitu saya merasakannya, akhirnya saya bisa memutuskan, rasa original dan melon adalah favorit saya.

Dari Pisang Ijo
Saya pun mencari-cari siapa pemilik usaha ini. Ternyata seorang entrepreuneur muda bernama Riezka Rahmatiana yang sebelumnya berkecimpung dalam bisnis penganan, yakni pisang ijo. Selama ini, orang sudah mengenal pisang ijo. Banyak pelanggannya yang meminta dibuatkan kudapan yang lebih praktis tanpa es seperti pisang ijo itu. Oleh karena itu, Riezka pun membuat Tokyo Banana.

Riezka memulai usahany sejak Oktober 2013 dengan modal  Rp500.000. untuk kebutuhan bahan baku. Agar lebih unggul dari produk sejenis lainya Rizka menciptakan enam varian rasa, yaitu melon, stroberi, durian, cokelat, vanila, dan pisang ambon. Keenam rasa ini dihasilkan dari fla dan pasta makanan.



Dalam waktu 3 bulan saja, produk Riezka bisa memikat konsumen. Jika awalnya Riezka hanya bisa menjual 20 kotak, pada awal 2014 dia berhasil menjual sekitar 100 kotak dalam sehari. Tokyo Banana dibanderol Rp40.000 per kotak berisi 6 cake. Harga stauan tentunya lebih mahal.

Tokyo Banana pun menggaet reseller untuk mendongkrak penjualannya. Ketika saya berkunjung pun saya ditawari. Sayangnya formulir sedang habis. Jadi saya menjajal saja dulu seadanya. Ketika di test di laman Facebook saya dan isteri saya, ternyata banyak orang yang tertarik dan ingin membeli. 

Hmm, boleh juga nih ikut bisnis Tokyo Banana. Tak hanya lezat rasanya, tapi juga omsetnya :)

Monday, June 9, 2014

Belanja Habis-habisan di Milan




 

Saat mendapatkan kesempatan berkunjung ke Milan, Italia, yang pertama ada di kepala ketika hendak berangkat adalah barang-barang fashion dengan brand ternama dan harga yang gila-gilaan. Terbayang pula lalu lalang warga Milan dengan busana trendi dan wangi parfum yang semerbak. Ternyata, tidak semua bayangan saya benar.

Sebelum berangkat ke Italia, saya dikenalkan oleh seorang teman dengan seorang  reseller tas branded di Jakarta. Dia mengajak saya bisnis sebagai kurir tas branded. Saya pun dititipkan sejumlah uang dan kartu kredit. Di Milan saya bertemu dengan orang Indonesia yang sudah menjadi warga Milan bernama Dian. Dialah yang akan membeli tas-tas mahal itu sesuai orderan yang masuk.


Karena tidak punya rencana lain, akhirnya saya memilih ikut  belanja di kota Milan. Jarang-jarang kan bisa keluar masuk toko tas ternama dan belanja dengan uang puluhan hingga ratusan juta rupiah untuk sebuah tas. Ya, walaupun uang dan barangnya punya orang lain.

Saya pun dibawa ke kawasan Duomo.  Dian bercerita tentang bisnis tas branded ini. Caranya, temannya di Jakarta yang mencari pembeli, lalu mereka kasak-kusuk mencari orang Indonesia yang akan mampir di Milan. Terkadang, Dian sendiri merangkap kurir kalau sekalian pulang kampung.


Menurut Dian, meskipun di Indonesia bisa ditemukan outlet-outlet tas branded, tapi belum tentu koleksinya sekomplet di Milan. Harganya pun berlipat karena sudah kena biaya distribusi, pajak, dan tentu saja display toko. Keuntungan yang diambil Dian dan patner diambil dari selisih harga jual, juga diskon turis saat pembelian dengan menunjukkan paspor, termasuk kartu diskon tertentu. Belum lagi pengembalian pajak pembelian di bandara yang jumlahnya cukup lumayan.

Bisnis ini memang tergantung orang yang mau dititipkan tas. Sementara soal order tas dari Jakarta, tidak pernah kesulitan mencarinya. ” Orang Indonesia memang gila belanja. Setiap musim mereka selalu ganti tas bermerk. Padahal orang Milan sendiri belum tentu punya tas branded itu. Kalaupun mereka beli, hanya satu untuk seumur hidup,” ucap seorang teman di Italia.

Saya yang akhirnya jadi kurir freelance ini pun kebagian fee yang lumayan. Cukup untuk akomodasi saya jalan-jalan ke Venesia di akhir petualangan saya di Italia.

Trip Belanja


Agar tak kelimpungan saat belanja di Milan, sebaiknya sudah mengetahui betul barang yang hendak dibeli, karena harus disesuaikan dengan lokasi belanjanya.

Bagi penggemar Armani, bisa mengunjungi butiknya yang elegan di Via Manzoni, yakni Spazio Armani No.31. Selain bisa berbelanja koleksi terbaru seluruh lini Armani, mulai dari Giorgio, Emporio hingga Casa dan Fiori, kita  bisa  juga menikmati suasana santai di Armani Cafe atau restoran Nobu, yang dimiliki oleh aktor Robert de Niro.  Program sale di butik ini berlangsung pada Januari dan Juli.

Tempat belanja yang saya suka adalah di  Corso Vittorio Emanuele  karena menyajikan berbagai  merek busana siap pakai, seperti Max Mara, Moreschi, Bruno Magli dan Pollini. Ingin yang lebih murah? Di sini terdapat berbagai butik yang juga ada di Indonesia seperti  H&M, Zara dan Furla. Ironisnya, saya melihat sejumlah pengemis berkeliaran di antara butik-butik itu.

Saya juga diajak melihat gerai-gerai busana sporty yang mengutamakan kenyamanan di  Via Torino yang menghubungkan Duomo dan Corso di Porta Ticinese. Sesungguhnya, ada satu kawasan yang cocok untuk orang yang suka produk dengan harga miring seperti saya, yakni Fidenza Village Factory Outlet. Sayangnya, waktu saya tak cukup karena harus memakan waktu satu jam perjalanan ke luar Milan. Di tempat tersebut terdapat 50 outlet besar dari produk busana hingga perabotan rumah tangga.

Pastinya, di Milan saja saya  sudah cukup merasakan suasana belanja yang benar-benar diperlakukan sebagai raja oleh para pelayan. Mereka tidak terlihat kesal ketika kita minta dilihat barang seri-seri tertentu yang tidak ada di display. Kita bisa menunggu proses  ditemani minuman yang mereka sediakan. Satu kali, ketika saya kebelet ke toilet di sebuah butik … wow, saya diminta masuk ke sebuah ruangan yang serba Kristal. Benar-benar bikin saya enggan mengotori ruangan tersebut.


Wisata Arsitektur

Jangan bilang saya hanya buang waktu ke luar masuk toko saja saat di Milan. Sambil belanja, saya
menikmati wisata arsitektur karena lokasi belanja berdekatan dengan banguna-bangunan tua yang megah.
Sebut saja gereja San Carlo al Corso yang merupakan bangunan neoklasik di pusat Milan. Gereja yang dibangun pada 1847 ini berdiri di tengah pusat perbelanjaan. Di  kanan kiri  gereja dan seberang jalan berderet  butik-butik terkenal. Padahal, gereja ini dulunya dikaitkan dengan wabah kolera dan pes di Milan pada abad 16.

Yang menakjubkan di ujung jalan setelah melewati gereja San Carlo al Corso, saya melihat gereja Katedral Milan yang kabarnya gereja katedral terbesar ke empat di dunia. Katedral Milan dibangun berdasarkan ide bangsawan Milan bernama Gian Galeazzo Visconti, pengusaha marmer. Dia bertekad membuat katedral  yang seluruhnya terbuat dari marmer. Pembangunan dimulai pada 1368. Marmernya diambil dari tambang marmer milik Visconti di Gunung Candoglia yang berjarak 50 km dari Milan. Karena sulit diangkut lewat darat, maka digunakanlah kanal-kanal di Milan untuk mengangkut marmer.

Ketika melihat gereja yang memiliki ornamen menarik, langsung terbayang kehebetan orang-orang Italia di masa lalu. Entah arsiteknya maupun kuli-kuli bangunan yang mengerjakannya. Betapa mereka merancang sebuah bangunan yang kokoh agar bisa dinikmati orang hingga ratusan tahun kemudian.

Di depan gereja ini terbentang alun-alun yang biasanya dipakai wisatawan berfoto-foto atau bercanda dengan sekumpulan merpati. Mirisnya, di alun-alun depan gereja inilah kita harus waspada dengan para pencopet. Tidak hanya pencopet, juga sejumlah orang yang berusaha memeras. Caranya, mereka menawarkan turis memakai gelang persaudaraan, tapi kemudian kita harus membayar gelang dari benang itu dengan harga tak wajar. Yang saya saksikan sendiri ada turis yang harus membayar 10 euro.

Masih di sekitar gereja Katedral, kita bisa menikmati keindahan arsitektur Galleria Vittorio Emanuele II salah satu pusat perbelanjaan tertua di dunia. Nama Vittorio Emanuele II  merupakan raja pertama dari Kerajaan Italia. Bangunannya Ini dirancang Giuseppe Mengoni pada tahun 1861 dan dibangun antara 1865 dan 1877.
Struktur Galleria terdiri dari dua arcade kaca berkubah di oktagon (segi delapan), menghubungkan jalan Piazza del Duomo ke Piazza della Scala. Jalan ini ditutup atapnya dengan lengkungan kaca dan baja seperti Burlington Arcade di London , yang merupakan prototipe untuk pusat perbelanjaan.

Di tengah segi delapan, terlukis empat mosaik menggambarkan Lambang dari tiga Ibukota dari Kerajaan Italia (Turin, Florence dan Roma ) ditambah Milan. Tradisi mengatakan jika seseorang  berputar dengan tumit kanan pada gambar testikel banteng (Turin Coat of Arms), ini akan membawa keberuntungan. Ada yang mengatakan, jika bisa berhasil berputar di atas testikel banteng itu tanpa jatuh dan menghadap ke arah yang sama akan kembali ke Milan tahun berikutnya. Percaya? Tentu saja tidak.


Di ujung senja saya tiba di Castello Sforzesco. Sebenanya saya ingin masuk ke kastil tua yang kini menjadi museum itu. Namun pintu masuk baru saja ditutup. Akhirnya saya hanya duduk beristirahat di fountain besar di depannya. Saya pikir hanya di Roma  terdapat air mancur yang indah. Di Milan pun ada, tapi tak memiliki mitos lempar koin terpenuhi keinginan.





Masjid Milan


Sebelum berbelanja, saya menyempatkan diri  ke destinasi wisata favorit saya setiap berkunjung ke kota di luar negeri, yakni masjid.

Berdasarkan informasi yang saya peroleh di Internet, akhirnya saya  mengunjungi sebuah masjid di Segrate, Milan. Hampir setengah jam perjalanan ke luar pusat kota. Masjid bernama Al Rahman ini merupakan mesjid dengan kubah dan menara pertama di itali setelah mesjid terakhir dirobohkan di Lucera pada abad ke14.  Masjid yang diresmikan 28 Mei 1988 ini sekaligus menjadi pusat kegiatan umat muslim di Milan.

Bahagia sekali ketika bisa wudhu dengan air keran superdingin dan shalat ashar di Al Rahman. Apalagi ketika bertemu belasan muslim belia Italia yang tengah belajar  di salah satu ruangan bangunan masjid. Al Rahman memang menjadi pusat belajar agama islam, dan bahasa Arab.

Menurut Ali Abu Syaima, Imam Al Rahman, jamaah masjid dari kota Milan berjumlah 200 orang. Tidak hanya imigran, tapi juga penduduk asli.  Jumlah ini terus meningkat karena di Italia selama tiga tahun terakhir saja sudah bertambah 2000 pemeluk baru agama Islam. Dan kebanyakan para mualaf adalah dari kaum muda yang ingin memeluk agama Islam karena kemauannya sendiri.

Dijelaskan pula, bahwa warga muslim, khususnya muslimah di Milan juga berpakaian mengikuti perkembangan mode di Milan. Mereka kebanyakan tidak mengeksklusifkan diri dengan  hijab warna serbagelap. “Yang pasti masih sesuai ajaran islam,” ucapnya.

Naik Apa?

Untuk berkeliling di Milan, jika hanya memiliki budget terbatas, bisa naik subway atau trem. Tak perlu bingung, cukup datang saja dari stasiun utama kereta Milan. Dari sana, sangat mudah menjangkau semua jurusan.

Jika bepergian sendiri dan tidak menguasai bahasa Italia, sebaiknya sudah browsing duluan di Internet kereta yang akan ditumpangi dan stasiun yang akan dituju.  Sebab, informasi dalam bahasa Inggris minim sekali. Juga tak mudah menemukan warga Milan yang pandai berbahasa Inggris. Jika tetap kebingungan, langsung datangi pusat informasi wisata yang ada di stasiun. Mereka akan memberi informasi yang sejelas-jelasnya dalam bahasa Inggris.

Bila pergi rombongan  dan memiliki uang saku lebih, sebaiknya menyewa mobil rental. Cari saja di Internet pasti mudah menemukannya. Cara ini lebih efektif untuk mengelilingi Milan sekehendak hati.

Soal makanan di Milan tidak usah khawatir. Restoran halal cukup mudah ditemukan karena di Milan banyak pendatang dari  negara mayoritas muslim. Jangan berspekulasi memesan pizza atau pasta, karena kebanyakan dicampur daging atau lemak babi. Mengapa babi? Karena harganya lebih murah ketimbang sapi.


Grazie.
foto2: Benny Rhamdani

Monday, May 26, 2014

Menikmati Wisata Sejarah Kota Bandung Modal Goban


Mau ikut naik Fino baru?


Hari gini jalan-jalan keliling Bandung menikmati wisata sejarah dengan uang goban alias Rp50.000 doang? Bisa kok. Tenang aja. Walaupun disebut kota belanja dan kuliner, Bandung masih boleh terbilang ramah kantong. 

Ada tiga hal yang bikin touring di kota Bandung ngirit. Pertama, jangan gampang ngiler belanja-belenji di setiap outlet. Sekadar windows shopping aja sih silakan.  Kedua, jangan malu makan di kakilima. Yang penting bersih dan enak. Eh, juga halal tentunya. Ketiga,  pakai angkot memang bisa sih ngirit ketimbang naik taksi, tapi dijamin nggak efektif dalam hal waktu. Soalnya, sopir angkot di Bandung itu terkenal Raja Ngetem. ah, saran saya mah ya pakai sepeda motor. Apalagi di Bandung banyak jalan satu arah dan jalan tikus. 

Okay, kebetulan saya baru punya Yamaha Fino nih. Joknya aja masih diplastikin. Apa? Mau ikut? Bayar!



Yuk, keliling Bandung dengan duit Goban.

Oke deh, sambil siap-siap, saya ceritakan dulu ya alasan saya memilih Yamaha Fino. Gini ya, sekarang tuh orang lagi senang banget CLBK alias Cinta Lama Bersemi Kembali. Nah, saya sebagai orang yang lahir dari era skuter, pengen banget nyicipin skuter lagi dengan polesan sedikit modern. Nah, Yamaha Fino mewakili banget keinginan saya ini.  Lagian, seru banget kalo kita keliling Bandung menikmati wisata sejarahnya sambil pake kendaraan yang desainnya retro kayak Yamaha Fino ini.

Sekarang kita isi bensin dulu, yuk. Walaupun tankinya bisa memuat 4,1 liter nggak usah full tank kok. Soalnya kan Yamaha Fino ini irit. Jadi cukuplah diisi 2 liter dulu. Cling! Saldo saya berkurang menjadi Rp.37.000,-

Karena masih pagi, ayo kita ke GOR Saparua di Jalan Ambon. Kita mulai wisata sejarah kita sambil jogging di sana. Pasalnya, sekitar lapangan Saparua banyak bangunan bersejarah yang bisa kita lihat. Misalnya saja Markas Kodiklat TNI AD yang menempati bangunan bersejarah terkait dengan perkembangan kota Bandung. 



Kalau di Batavia ada Pasar Gambir, di Bandung ternyata ada Jaarbeurs atau Annual Trade Fair. Acara ini mulai diadakan pada tahun 1920 pada bulan Juni sampai Juli atas prakarasa Comite tot Behartiging van Bandoeng's Belangen (Komite guna mengurus kota Bandung) yang pada tahun 1920 berubah namanya menjadi Bandoeng Vooruit (Bandung maju). Dari tahun 1920 sampai 1924 Jaarbeurs dilaksanakan di kawasan  GOR Saparua.


Baru pada tahun 1925 gedung utama Jaarbeurs di Menadostraat 50 (kini  Jalan  Aceh) didirikan oleh kontraktor G.J. Bel berdasarkan karya arsitek C.P. Wolff Schoemaker (1882-1949). Acara bursa dagang tahunan ini berakhir pada tahun 1941 karena pada tahun 1942 Jepang keburu masuk Indonesia



Ada yang unik dari bangunan bersejarah itu, yakni kita bisa melihat patung tiga pria bugil. Pada masa orde baru, tiga patung itu pernah ditutup papan lho. Mungkin dianggap tabu.


Patung Tiga Pria Bugil



GOR Saparua sendiri pada era 1990 terkenal sebagai tempat manggung konser musik metal. Belum disebut band metal kalau belum pernah manggung di GOR Saparua. Sekarang dikhususkan buat olahraga. Buat saya, olahraga pagi itu penting sebelum keliling Bandung. Lagian, buat yang masih jomblo bisa cari gebetan yang sehat dan bugar di sini. 

Aneka kegiatan olahraga yang bisa dilakukan di Gor Saparua
Habis olahraga 1-2 jam pengin sarapan? Okay kita bayar parkir dulu Rp1000 ya sebelum meninggalkan GOR Saparua. Cling! Saldo menjadi Rp36.000. 

Saya akan mengajak ke kuliner bersejarah di GOR KONI Padjadjaran. Namanya Cakwe Lie Tjay Tat. Dari GOR Saparua hanya menempuh waktu 15 menit kurang dengan Yamaha Fino. Cakwe ini Cakwe Lie Tjay sangat terkenal di Bandung karena sudah berdiri sejak 1934 di Pasar Baru, Bandung. Paling maknyus saat kita makan sambil dicocol ke saus masam yang khas. Kalo teh tawarnya tentu saja bisa kita minta gratis. Cling! Saldo berkurang Rp.8000 menjadi Rp 28.000. Dikurangi lagi parkir Rp.1000. menjadi Rp.27.000.


Kedai Cakwe Lie Tjay Tat di GOR Padjadjaran selalu ramai. (dokpri)


Nah, sekarang yok kita telusuri Jalan Braga. Kurang 10 menit dari GOR KONI Padjadjaran kita bisa mencapai Jalan Braga yang kanan kiri jalannya dipenuhi bangunan tua. Sebaiknya kita parkir motor di dekat reruntuhan Sarinah saja, lalu jalan kaki biar bisa foto-foto.



Sayap timur Gedung Merdeka, tempat penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika




Toko kue dan roti Sumber Hidangan berdiri sejak 1929. 



New Majestic, bioskop pertama di Bandung

Display lukisan di pinggir Jalan Braga


Jika beruntung bisa membuat foto dengan latar seperti di Eropa

Jalan Braga menyimpan sejarah panjang kota Bandung. Salah satu yang terpenting di saan ada Gedung Merdeka tempat diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika. Kita bisa masuk ke museum tanpa bayar. Di Jalan Braga sendiri kita bisa melihat banyak bangunan peninggalan Belanda. itu sebabnya jalan ini begitu terkenal dan sering dijadikan latar untuk pemotretan. dari foto narsis sampai pre-wedding.

Tanpa terasa waktu shalat dhuhur hampir tiba. Yuk kita shalat di Masjid  Raya Bandung yang juga bersejarah. Letaknya masih satu area dengan Jalan Braga, jadi kita simpan saja Yamaha Fino di sana, biar nggak bayar parkir lagi.

Masjid Raya Bandung

Sehabis shalat, bisa buka internet pake Wifi gratis lho.

Kubah terbaru


Bisa melihat sekeliling Bandung dari menara.

Masjid ini didirikan pada 1812 bersamaan dipindahkannya pusat kota Bandung dari Krapyak, sekitar sepuluh kilometer selatan kota Bandung ke pusat kota sekarang. Awalnya dibangun dengan bentuk bangunan panggung tradisional yang sederhana, bertiang kayu, berdinding anyaman bambu, beratap rumbia dan dilengkapi sebuah kolam besar sebagai tempat mengambil air wudhlu.

Menjelang konferensi Asia Afrika pada tahun 1955, Masjid Agung Bandung mengalami renovasi besar-besaran. Atas rancangan Presiden Soekarno, Masjid Agung Bandung mengalami perubahan total diantaranya kubah dari sebelumnya berbentuk “nyungcung” menjadi kubah persegi empat bergaya timur tengah seperti bawang. Keberadaan Masjid Agung Bandung yang baru waktu itu digunakan untuk shalat para tamu peserta Konferensi Asia Afrika.

Kubah berbentuk bawang hanya bertahan sekitar 15 tahun. Setelah mengalami kerusakan akibat tertiup angin kencang dan pernah diperbaiki pada tahun 1967, kemudian kubah bawang diganti dengan bentuk bukan bawang lagi pada 1970.

Pada 1973, Masjid Agung Bandung mengalami perubahan besar-besaran lagi. Lantai masjid semakin diperluas dan dibuat bertingkat, atap kubah masjid dibuat berbentuk Joglo.


Perubahan total terjadi lagi pada tahun 2001, dan selesai pada 13 Januari 2006, bersamaan dengan pergantian nama dari Masjid Agung Bandung menjadi Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat serta menyandang predikat sebagai masjid provinsi, namun masyarakat Bandung kebanyakan masih menyebutnya sebagai Masjid Agung Bandung.

Usai shalat  ada baiknya menaiki menara di sebelah utara dengan tarif naik lift Rp3000 untuk dewasa.

Dari menara masjid saya bisa melihat sekeliling Bandung, walau sebagian terhalangi gedung bertingkat di sekitar masjid. Jika cuaca cerah, cukup banyak dan jauh yang bisa kita lihat. 

Sekarang kita cari makan siang dulu yuk. Duit sudah berkurang Rp.1000 untuk parkir dan Rp3000 naik menara masjid. Jadi tinggal Rp23.000

Isi bensin dulu 1 liter lagi Rp.6.500. Maka sisa saldo menjadi Rp16.500.
Bu Eni penjualan warung nasi Barokah bisa membiayai anaknya 
sampai kuliah. 


Mau makanan yang murah meriah? Cari saja makanan kaki lima di Bandung.  Salah satunya seperti Warung Barokah milik Bu Eni ini lho. Dengan Rp10.000 aja kita bisa makan segala macam sampai kenyang. Makanannya juga klasik. Minumnya gratis. 

Habis kenyang makan, kita teruskan yuk wisata sejarah di Bandung. Hampir semua museum di Bandung gratis. Ada Museum Geologi, Museum Pos, dan sebagainya. Jadi kita bisa menikmati sepuas-puasnya.Haus? Beli minuman dalam botol Rp3000.

Nah, masih ada sisa Rp.3500 kan. Ngggg, kasih tau ga ya? soalnya kan nggak enak bilang-bilang tadi uang itu udah dimasukkan ke kencleng masjid.

Cukup kan uang Rp.50.000 untuk wisata sejarah di Bandung? Kalo nggak percaya coba aja deh. Dan jangan lupa shalat dan sedekah ya buat yang muslim/muslimah.Soalnya, seringkali dapat mukjizat yang nggak kita kira lho. Misalnya mendadak ketemu teman dan ditraktir makan, atau parkir nggak bayar karena belum datang tukang parkirnya. Oh iya, dilihat juga video ini ya. Siapa tahu dapat ide yang lebih gokil.




Foto-foto: Benny Rhamdani