Monday, April 15, 2013
Sunday, April 14, 2013
Tuesday, March 26, 2013
Leafie: Belajar Kearifan dari Seekor Ayam Betina
“Dedadunan
adalah ibu dari para bunga. Bernapas sambil bertahan hidup walau dihempas
angin. Menyimpan cahaya matahari dan membesarkan bunga putih yang menyilaukan
mata. Jika bukan karena dedaunan, pohon pasti tidak dapat hidup.”
-Leafie,
hal. 85

Fabel merupakan karya fiksi yang karakter utamanya adalah hewan.Kadang manusia hadir dalam fabel sebagai pelengkap belaka. Kisah-kisah fabel paling melekat saya baca dari buku Aesop., misalnya kisah rubah dan bangau. Dan umumnya, jumlah halaman fabel lebih pendek karena disuguhkan untuk anak-anak. Pada masa kecil saya, hewan yang paling sering dijadikan tokoh dalam fabel lokal adalah kancil, monyet dan kura-kura. Terutama hewan yang harus ditemui di kebun binatang. Baru belakangan ketika bacaan asing diserap ke dunia literasi Indonesia, hewan-hewan peliharaan jadi tokoh utama di fabel, seperti kucing, anjing, kelinci, dan ayam.
Dua
tahun lalu saya membaca berita novel anak laris hingga satu juta eksemplar di
Korea Selatan. Judulnya Leafie , A Hen into the wild karya Hwang Sun-mi. Yang
membuat saya takjub, novel anak ini berjenis fabel. Wow, jarang sekali sebuah
fabel kontemporer bisa laris sedemikian rupa. Apalagi di tengah serbuan fabel
dalam bentuk animasi keren dari Hollywood.
hancinema.net
Pada
2012, ketika saya mengunjungi Bologna Book Fair di Italia dan juga Frankfurt
Book Fair di Jerman, saya begitu bahagia bisa memegang bentuk novel laris
tersebut. Sayangnya, karena dalam bahasa Korea, saya tidak bisa menikmati
isinya. Beruntung, tahun ini Mizan Pustaka merilis edisi Bahasa Indonesia di
bawah bendera imprint Penerbit Qanita.
Fabel
Getir
Buku
laris Korea ini dalam bahasa Indonesia disesuaikan judulnya menjadi Leafie
dengan tagline Ayam buruk rupa dan itik Kesayangannya. Fabel ini dikategorikan
sebagai novel kearifan. Tentu sah-sah saja pelabelan ini. Mengingat materi yang
disampaikan Hwang Sun-mi jauh dari sekadar fabel ringan untuk konsumsi anak.
Cerita tentang ayam betina pesakitan disajikan dengan gaya bercerita yang bisa
dinikmati semua kalangan, ditambah pesan-pesan universal yang bisa digenggam
siapapun.
Cerita
diawali dengan kehidupan di sebuah lahan peternakan. Leafie tinggal di kandang
ayam khusus ayam petelur. Ia tak bisa bermain di halaman sejak masuk setahun
lalu. Dia hanya bisa berdiri dan mengulurkan kepala melalui celah kandang kawat
besi. Ayam betina ini pengagum dedaunan, hingga dia menamai dirinya sendiri
dengan ‘Leafie’, dari kata ‘leaf’ (daun).
Banyak
mimpi di kepala Leafie selama berada di kandang bersama ayam-ayam betina
lainnya. Mimpi terbesarnya adalah mengerami telurnya sendiri sampai menetas.
Sampai kemudian Leafie dianggap sakit oleh pemiliknya, dan dibuang ke lubang
bersisi tumpukan bangkai ayam. Justru di sinilah awal petualangan dan mimpinya
terwujud satu per satu.
Perkenalannya
dengan Bebek Liar yang dijuluki Pengelana, juga penghuni peternakan lainnya
membuat Leafie mengenali berbagai karakter hewan di sekelilingnya. Persahabatan
Leafie dan Pengelana terputus ketika Pengelana menemukan tambatan hatinya,
Bebek Putih Susu. Entah apa yang terjadi, Leafie kembali bertemu pengelana
dalam keadaan sendiri. Bersamaan dengan itu, Leafie menemukan telur bebek.
Mimpinya untuk mengerami telur terwujud meskipun bukan telurnya sendiri.
Hubungan
Leafie semakin erat dengan Pengelana. Saat Leafie mengeram, pengelana yang
mencari makan dan menjaganya dari musuh bebuyutan para unggas, yakni musang
yang telah mengintai Leafie sejak di pembuangan ayam sekarat itu.
Pembaca
akan dibuat kaget sekaligus terharu dengan pengorbanan Pengelana demi
membiarkan Leafie mengerami telur hingga menetas. Dan kejutan-kejutan lain yang
mengharu biru terus akan kita temukan di lembar-lembar petualangan getir Leafie
dengan Greenie, anak bebek yang memanggilnya Ibu.
Karakter
Kuat
Kekuatan
utama buku ini adalah karakter Leafie yang membuat pembaca langsung jatuh cinta
padanya. Pemimpi, lugu, pantang menyerah, dan spontan. Efeknya, makin mudah
pula membawa emosi pembaca ke suasana senang, tegang maupun getir.
Buku ini
dilengkapi pula ilustrasi berwarna khas Korea karya Kim Hwan-young yang
memanjakan mata pembaca. Tapi bagi pembaca yang tak mau terpengaruh dengan
visualisasi kisah Leafie, dapat mengabaikan (Sungguh, ilustasinya indah dan
sangat sayang dilewatkan).
Saya
berharap buku ini bisa dibaca banyak orang karena pesan kearifan yang begitu
dekat dengan realita sosial. Tekad juang untuk meraih mimpi yang dilakukan
Leafie sangat inspiratif. Tak perlu cemas dengan penceritaan adegan
mangsa-memangsa karena kritikus sastra anak-anak Kim Seo Jeong memberikan catatan
di akhir novel ini. Semua nilai kearifan disajikan tanpa menggurui karena
tokoh-tokohnya adalah hewan. Itulah keistimewaan fabel.
Satu
kecelakaan kecil pada buku Leafie edisi bahasa Indonesia adalah pemilihan kata
‘itik’ di cover. Padahal di isi cerita, Greenie adalah seekor bebek. Dan di
kepala saya, itik dan bebek itu berbeda. ^_^
rating: **** sangat keren
rating: **** sangat keren
Wednesday, March 13, 2013
Tuesday, March 5, 2013
Baauer Tendang Psy
(Sekali lagi, tulisan yang masuk HL Kompasiana.Com)
Con los terroristas
Sekali lagi, kekuatan youtube.com
telah melahirkan tren baru. Setelah Gangnam Style yang begitu
fenomenal, kini seluruh dunia terjangkit demam musik dan tarian Harlem
Shake. Dari hari ke hari banyak pengguna youtube dari penjuru dunia
mengupload video dance Harlem Shake versi baru. Jumlah penikmat pun terus bertambah cepat.
Harry Rodrigues yang lebih dikenal dengan nama DJ Baauer adalah orang yang menciptakan musik Harlem Shake. Pria 23 tahun yang berasal dari Philadelphia, Pennsylvania, ini tidak membayangkan virus Harlem Shake akan beredar luas. Produser musik muda ini hanya membuat satu lagu yang terinspirasi dari kehidupannya. Dj Baauer merupakan anak adopsi yang kemudian hidup dengan keluarga dan suasana baru di daerah Harlem. Sebagai penghormatan kepada tarian lokal tempatnya tinggal terciptalah komposisi music yang meledak dari tangannya. Tarian Harlem Shake sendiri lahir pada 1981 di kawasan Harlem, New York. Beberapa gerakan Harlem diadaptasi dari tarian di Etiopia.
Tapi sesuatu yang menarik terjadi pada lagu Harlem Shake. Seorang komedian amatir Frank Filthy membuat video menggunakan lagu tersebut. Plotnya sederhana. Sekelompok orang sibuk dengan urusan mereka, sementara teroris bertopeng melakukan tarian bebas. Kemudian tiba-tiba semua menari dengan gerakan yang konyol, liar dan tak tertata, dan tiba-tiba video ini berhenti.
Seseorang melihat video itu dan merasa bisa melakukannya lebih baik. Mereka upload versi mereka. Begitu pula yang lain. Maka muncullah tarian Harlem Shake versi tentara batalion, ruang kelas, pekerja kantor, tim renang, model, keluarga, bahkan anjing. Setidaknya ada 40.000 video Harlem Shake menggoyang Youtube.
Con los terroristas
And Do the Harlem Shake
Con los terroristas
Di Indonesia, demam Harlem Shake telah pula merambah layar kaca. Setidak pertunjukan komedi dengan
rating tinggi seperti Pesbuker dan Overa Van Java telah menayangkan
aksi Harlem Shake secara live. Dan itu disambut antusias oleh masyarakat
ketika diunduh pula ke Youtube.
Harry Rodrigues yang lebih dikenal dengan nama DJ Baauer adalah orang yang menciptakan musik Harlem Shake. Pria 23 tahun yang berasal dari Philadelphia, Pennsylvania, ini tidak membayangkan virus Harlem Shake akan beredar luas. Produser musik muda ini hanya membuat satu lagu yang terinspirasi dari kehidupannya. Dj Baauer merupakan anak adopsi yang kemudian hidup dengan keluarga dan suasana baru di daerah Harlem. Sebagai penghormatan kepada tarian lokal tempatnya tinggal terciptalah komposisi music yang meledak dari tangannya. Tarian Harlem Shake sendiri lahir pada 1981 di kawasan Harlem, New York. Beberapa gerakan Harlem diadaptasi dari tarian di Etiopia.
Tapi sesuatu yang menarik terjadi pada lagu Harlem Shake. Seorang komedian amatir Frank Filthy membuat video menggunakan lagu tersebut. Plotnya sederhana. Sekelompok orang sibuk dengan urusan mereka, sementara teroris bertopeng melakukan tarian bebas. Kemudian tiba-tiba semua menari dengan gerakan yang konyol, liar dan tak tertata, dan tiba-tiba video ini berhenti.
Seseorang melihat video itu dan merasa bisa melakukannya lebih baik. Mereka upload versi mereka. Begitu pula yang lain. Maka muncullah tarian Harlem Shake versi tentara batalion, ruang kelas, pekerja kantor, tim renang, model, keluarga, bahkan anjing. Setidaknya ada 40.000 video Harlem Shake menggoyang Youtube.
Ribuan
orang dari berbagai kalangan dan usia menciptakan versi mereka sendiri
dan tetap menggunakan lagu karya Baauer. Harlem Shake saat ini sedang
dibanding-bandingkan dengan Gangnam Style. Menurut Baauer, “Dunia sangat luas dan bebas. Kita lihat saja apa yang akan terjadi nanti. Biarlah orang yang menilainya apakah pantas untuk dikonsumsi atau tidak.”
Baauer saat ini sedang kebanjiran manggung di beberapa festival di negeri Paman Sam. Turnya akan dilakukan bekerjasama rapper Danny Brown, demikian dirilis thedrop.fm.
Monday, February 25, 2013
Sunday, February 24, 2013
Sunday, February 17, 2013
Nulis Ramen Ling-Ling Jadi HL di Kompasiana
Terkadang masuk HL di Kompasiana.com itu nggak bisa ditebak. Nulis nggak sampai 10 menit, eh tahu-tahu jadi headline. Ini tulisannya yang saya kasih judul:
Ramen Ling-ling Bikin Kembali Muda
Terus terang, cari ramen yang enak di Bandung rada susah. Terutama yang harganya pas di kantong. Maklum sudah berkeluarga. Kalo beli makanan nggak bisa untuk sendiri. Pernah saya mencoba ramen yang kata orang enak, tapi ternyata rasanya seperti ramen instan. Tentu saja saya tidak suka ramen instan yang kini banyak dijual di grosiran.
Selain ramen, juga tersedia Takoyaki (bola-bola Jepang isi
daging), Kuro Takoyaki (takoyaki hitam dengan tinta cumi), Okonomiyaki
(martabak Jepang isi sayur, telur, dan daging), Sobayaki (martabak mie Jepang
isi mie soba, telur, dan daging), Modanyaki (martabak Jepang isi sayur, mie
soba, telur, dan daging), juga Winner Cheese Modanyaki (modanyaki tripple
cheese dan daging cumi).
Puas dengan ramen, ketika melihat para pengunjung menikmati
desert berwarna-warni, kami ikutan pesan. Desert stroberi, mangga, vanilla. Hm,
ternyata rasanya benar-benar maknyus. Desert mangganya ya berasa mangga. Bukan
esens mangga yang aneh.
Kedai Ling-ling buka pukul 13.00. Kalau sudah lapar jangan
coba-coba datang petang. Biasanya penuh dan harap antre. Pembelinya kebanyakan
mahasiswa atau anak SMA. jadi kalau ke sana, saya berasa muda kembali 20 tahun.
Cara membeli ramen, kita menemui bagian order, lalu menulis
sendiri pesanannya. Kalau masih asing dengan jenis makanan Jepang sebaiknya
tanya-tanya dulu. Selain makan di bagian bar, kalau membludak biasanya makan di
kursi tanpa atap. Pokoknya jangan membayangkan rumah makan mentereng. Sebagian
malah ada yang makan di mobil di parkiran. Jadi, kalau hujan nggak gitu repot
harus cari perlindungan.
Bila tempatnya penuh biasanya saya langsung membungkus saja.
Soalnya, pengunjungnya anak-anak kuliahan. Kalau sudah nongkrong susah
ngusirnya.
Saya menjadi pelanggan tetap Kedai Ling-Ling dan jarang ke
tempat makan ramen lainnya lagi. Kecuali kalau kehabisan saja :(
Tapi beberapa minggu lalu, saya sempat membaca twitter
resminya Kedai Ling-ling @kling_ling. Mereka akan pindah ke daerah Sukajadi.
Entah kapan tepatnya. Tapi saya harap yang di jl. Cihampelas jangan ditutup.





























