Showing posts with label buku. Show all posts
Showing posts with label buku. Show all posts

Tuesday, May 2, 2017

Lima Hal Serunya Jadi Editor Buku

Seorang editor buku tak hanya berkutat di depan komputer. banyak serunya.
 (Foto: Benny)


Alhamdulillah, saya sudah melewati masa 12 tahun menjadi seorang editor buku.

Profesi editor buku masih awam bagi sebagian masyarakat. Bahkan pernah ketika menjawab pertanyaan tetangga sebelah bahwa pekerjaan saya adalah sebagai editor buku, dia langsung  menanyakan harga cetak buku Yasin. Memang,  tak jarang saya bertemu orang yang masih bingung antara bisnis penerbitan (buku) dan percetakan (buku).

Saya tidak ingin menjelaskan ihwal jenis-jenis pekerjaan saya sebagai editor buku. Kali ini saya akan berbagi hal-hal yang menyenangkan selama menyandang profesi editor buku. Banyak hal jika ditulis. Biar tidak letih membacanya, saya ringkas menjadi lima hal saja.

Pembaca Pertama Naskah (calon) Buku Best Seller
Menggarap naskah kumpulan puisi Prilly Latuconsia. (Foto: Benny)

Kebahagiaan pertama seorang editor adalah ketika mendapat naskah dari penulis terkenal. Bisa juga mendapat naskah bagus yang potensial laris dari penulis yang belum terkenal. Ujung kebahagiaan adalah ketika buku itu kemudian disukai masyarakat dan laris manis dari segi penjualan. Walaupun yang akan dikenal masyarakat adalah penulisnya, tapi sebagai ‘bidan’ yang membantu proses persalinan buku itu tentu akan ikut bahagia.

Saya sering merasa bangga ketika mendapat naskah, misalnya dari Pidi Baiq. Bangga karena sayalah yang pertama dipercaya membaca utuh karyanya. Saat penggemarnya masih menunggu buku terbit, saya sudah menamatkannya. Bahkan saya bisa bantu ikut memoles di beberapa bagian. Itu menyenangkan.



Mengenal Dekat Penulis Terkenal

Bertemu Djoko Lelono, penulis favorit ketika saya kecil. (Foto Benny)


Mungkin orang lain mengidolakan artis atau tokoh politik, saya sejak dulu selalu mengidolakan penulis. Jadi saya bangga jika bisa kenal dekat penulis terkenal.  Beruntunglah saya sebagai editor buku bisa mendekati beberapa penulis beken di Indonesia, tanpa harus kelihatan seperti fansnya.  Deretan nama penulis yang saya ingin temui sebagian besar sudah saya beri tanda centang karena akhirnya terwujud. Siapa saja? Maaf ini wilayah privasi.

Karena saya bekerja di penerbit buku nasional yang kerap menerbitkan buku-buku penulis asing, kesempatan untuk bertemu penulis luar negeri pun sangat besar. Ini sangat menyenangkan buat saya.
Sebagian penulis yang saya idolakan itu bahkan akhirnya menjadi sangat dekat dan bersahabat. Keren kan bisa bersahabat dengan seorang penulis. Saya tidak pernah merasa rugi sedikit pun berkenalan dengan seorang penulis. Malah semakain banyak bertemu penulis terkenal, wawasan penulisan saya makin bertambah.

Dilibatkan Acara Bergengsi

Terlibat dalam agenda internasional itu memperluas jaringan dan menambah wawasan.
(Foto: Benny)


Tidak sedikit orang mengira pekerjaan seorang editor buku hanyalah duduk di depan komputer. Mungkin itu editor buku pada masa lampau. Saya sendiri sejak tahun-tahun pertama menjadi editor buku kerap bekerja di luar kantor. Bekerja karena ditugaskan oleh perusahaan untuk menjadi pembicara pada acara seminar, pemateri workshop, menjadi anggota panitia kegiatan nasional, dan masih banyak lainnya.

Bahkan selama bertahun-tahun saya selalu terlibat dalam kegiatan besar seperti Konferensi Penulis Cilik Indonesia, maupun Akademi Remaja Kreatif Indonesia dari Kementerian pendidikan dan kebudayaan. Bekerjasama dengan Kedutaan besar republic Indonesia di India, saya juga pernah menjadi utusan meninjau New Delhi World Book Fair misalnya.

Traveling ke Luar Negeri

Dinas ke luar negeri sekaligus menjelajak negeri impian saya, India.
(Foto Benny)

Ini adalah hal yang sungguh di luar perkiraan saya. Tadinya saya sama sekali tidak terpikir akan melakukan perjalanan dinas keluar negeri jika menjadi seorang editor buku. Itu sebabnya saya sebelumnya memilih profesi sebagai wartawan. Tapi di dunia jurnalistik saya belum pernah merasakan dinas ke luar negeri sama sekali.

Dua tahun setelah menjadi editor buku saya sudah ditugaskan ke Malaysia, selanjutnya saya dinas ke Italia, Jerman, Thailand,  dan Italia. Maka, nikmat mana lagi yang tidak saya syukuri menjadi seorang editor buku?

Tak hanya luar negeri, saya pun bisa mengunjungi separuh total jumlah provinsi di Indonesia karena menjadi editor buku.

Menjadi Pejuang Literasi

Mamadukan passion saya dengan ikut gerakan literasi.
(Foto: Benny)

Minat baca Indonesia yang rendah membuat miris hati saya. Dan saya ingin bergabung dengan para pejuang literasi untuk meningkatkan nagka tersebut. Tak hanya jumlah tapi juga kualitas.  Dengan bekerja sebagai editor buku, dengan mudah saya bisa mendapat akses dan koneksi dengan para pejuang literasi. Bahkan saya bisa ikut memberi dukungan, misalnya informasi mendapatkan buku dengan harga diskon.

Sebagai editor buku, saya juga kerap mendapat hadiah buku dari banyak orang. Ketimbang menumpuk, biasanya saya donasikan ketika melakukan perjalanan ke daerah terluar yang sulit menjangkau buku. Senang rasanya bisa melihat wajah orang-orang yang bahagia ketika mendapatkan buku, terutama anak-anak.


Tentu saja duka dan bapernya juga saya terima sebagai editor buku. Tapi saya tidak akan menuangkannya sekarang. Kecuali jika ada 100 orang menandatangani petisi agar saya menuliskannya.

Tuesday, January 17, 2017

Tiga Novel Laris dari Wattpad



Berbagai cara dilakukan penerbit untuk menerbitkan buku. Selain dikirim langsung dari penulis, kini penerbit juga membidik naskah yang ditayangkan melalui aplikasi Wattpad. Tentu saja tidak sembarangan angkut ke buku.

Wattpad merupakan situs dan aplikasi ponsel yang dibuat oleh Allen Lau dan Ivan Yuen pada November 2006. Wattpad, seperti situs dan aplikasi yang serupa, misalnya: Fiction Press, menyediakan wadah bagi para penulis di seluruh dunia untuk mengangkat karya mereka ke panggung dunia maya tanpa ada aturan-aturan tertentu yang mengikat, menghambat imajinasi mereka untuk berkembang.

Ada beberapa kriteria yang diterapkan penerbit agar sebuah naskah dari Wattpad bisa diterbitkan ke dalam bentuk buku. Pertama, naskah tersebut telah dikunjungi jutaan kali oleh netizen. Kedua, naskahnya secara isi tidak bermasalah, seperti pornografi dan keaslian. Ketiga, penulisnya mau diajak kerja sama.

Tak sedikit penulis baru lahir dari Wattpad ini. Dan kemudian bukunya malah ngehits menembus daftar best sellers. Berikut adalah Tiga judul novel laris yang berasal dari Wattpad.

Dear Nathan



Novel karya Erisca Febriani ini memulai cerita dari keterlambatan mengikuti upacara pertama di sekolah baru, Salma Alvira bertemu dengan seorang cowok yang membantunya menelusup lewat gerbang samping. Selidik punya selidik, cowok itu ternyata bernama Nathan; murid nakal yang sering jadi bahan gosip anak satu sekolah.

Novel ini sangat laris dan siap difilmkan. Sebelum ditebitkan sudah dikunjungi 7,5 juta kali di akun penulisnya. Diterbitkan oleh penerbit Media Baru.


Bad Romance



Novel karya siswi SMAN 5 Bandung Milli Equita ini bercerita tentang Nathaniel Adriano Wirasetya, seorang cowok yang hobi banget bikin rusuh seantero sekolah. Mulai dari hal sepele kayak telat, bikin kerusuhan, sampai tawuran. Parah? Banget. Tapi statusnya sebagai cucu pemilik yayasan seolah bikin semua peraturan menguap gitu aja kalau udah menyangkut nama Nathan. Katya jengah dengan kelakuan sok berkuasa dan sok gantengnya Nathan. Sampai akhirnya Katya berani melawan, tapi justru malah membuat Nathan semakin menjadi-jadi.

Novel ini terbilang laris karena sudah cetak ulang belum dalam hitungan waktu satu bulan. Sebelum diterbitkan sudah dibaca 6 juta pengunjung di Wattpad. Novel ini diterbitkan oleh Pastel Books.

Friend Zone



Novel karya Vanesa Marcella ini bercerita tentang David yang di mata Abel, David adalah cowok sempurna. Dia ganteng, populer, meski tengil tetapi baik, dan selalu berada di sisi Abel. Tiap David memandangnya, Abel selalu berharap rona merah di pipinya tidak ketahuan oleh David. Apalagi saat David menyentuhnya, mengacak rambutnya, seolah seluruh partikel di dalam tubuh Abel siap melesat tinggi menembus langit. Hanya satu kekurangan David, ia adalah sahabat Abel.

Novel remaja ini juga terbilang laris dan sudah cetak ulang. Sebelum diterbitkan sudah dibaca hampir 7 juta pengunjung. Novel ini diterbitkan oleh Bentang Pustaka.

Wednesday, December 28, 2016

16 Hal Menarik Tentang Novel 'Dilan'


Novel Dilan karya Pidi Baiq sudah laris di tahun pertama terbit pada 2014. Dengan mengusung judul Dia Adalah Dilanku Tahun 1990, novel yang mengusung dua karakter utama Dilan dan Milea ini mengagetkan masyarakat pembaca buku dengan gaya bercerita tak biasa dan jenis percintaan yang unik.
Pada 2015, Pidi Baiq menelurkan sekuelnya dengan judul Dia Adalah Dilanku Tahun 1991. Kisah kasih tak sampai yang dipaparkan di buku ini membuat pembacanya patah hati dan meraung-raung. Toh, buku ini tak kalah larisnya dengan buku pertama. Dan pada September 2016, penulis yang biasa disapa Surayah itu kembali mencetak sukses dengan menerbitkan buku Milea, Suara dari Dilan. Sebelum terbit, bukunya sudah terjual dengan sistem pre-order sebanyak lebih dari 5.000 eksemplar. Sungguh luar biasa, mengingat novel saat ini habis di angka 3.000 eksemplar saja harus melakukan perjuangan berat.
Menjelang penutup akhir tahun 2016 ketiga buku tersebut sudah mencatat rekor penjualan hampir 500.000 eksemplar. Itu saja di luar penjualan e-book resmi melalui Playstore yang juga menjejak penjualan terlaris hingga kini. Entah berapa banyak buku terjual jika dijumlah dengan buku bajakannya yang merajelela.
Setidaknya, inilah 16 hal yang membuat ketiga buku Dilan itu laris, menurut catatan saya pribadi yang ikut mengangani penerbitan setiap buku-buku Pidi Baiq.
1.
Pidi Baiq telah membuat riset terlebih dulu sebelum menulis Dilan. Terutama karena ada perpindahan genre dari buku yang ditulis sebelumnya yang humor ataupun satir ke novel remaja. Dia mengaku membaca sekilas novel-novel teenlit yang disukai remaja, meskipun tak menamatkan semuanya. Pidi Baiq merupakan pembaca buku yang baik. Sebelumnya, dia adalah pelahap buku-buku filsafat.
2.
Pidi Baiq memosisikan lebih dulu bahwa dua buku Dilan adalah untuk pembaca buku cowok. Sehingga dia mengolah konten cerita sedemikian rupa agar bisa dinikmati pembaca cowok. Padahal selama ini teenlit identitik dengan bacaan remaja cewek.
3.
Pidi Baiq membuat test the water dengan memosting bab-bab awal setiap bukunya di blog, untuk mendapat respon dari calon pembaca bukunya kelak. Respon inilah yang turut membantu menyemangati dirinya untuk menuntaskan novelnya.
4.
Pidi Baiq juga membagikan nukilan tulisannya di akun Twitter @pidibaiq sehingga membuat followersnya makin penasaran.
5.
Pidi Baiq menuliskan cerita Dilan berdasarkan cerita nyata, tokoh-tokoh nyata, sehingga dia merasa tidak menemui kesulitan untuk membuat cerita itu hidup. Katanya, dia nggak perlu sibuk menghayalkan sesuatu untuk ditulis. Tak heran jika karakter yang ditulisnya hidup dan dicintai pembacanya.
6.
Pidi Baiq berhasil membangun setting cerita Bandung pada tahun 1990-an sehingga membangkitkan kenangan para pembaca yang pernah merasakan usia remaja pada tahun tersebut. Alhasil, sasaran pembacanya meluas tidak hanya kepada remaja saat ini, tapi juga remaja pada tahun 1990-an. Tidak aneh jika di sebuah keluarga ada yang berebut membaca antara ibu dan anak.
7.
Pidi Baiq menulis apa adanya, tanpa terpaku pada teori teknis menulis novel. Misalnya, soal konflik dan dramatisasai cerita. Trilogi Dilan boleh dibilang cerita yang konflik dan unsur dramanya tidak tajam, tapi pembaca tetap menikmatinya.
8.
Kisah cerita cinta yang dituliskan Pidi Baiq sangat unik dan bukan kacangan. Banyak pembaca yang merasa terkesan dengan kisah cinta dilan dan Milea ini, mulai dari perkenalan hingga proses pacaran.
9.
Pidi Baiq tidak memaksakan diri untuk menulis yang semata untuk membahagiakan pembaca, meskipun akhirnya berakhir putus.
10.
Banyak kalimat-kalimat menarik di setiap halaman buku karya Pidi Baiq yang bisa dikutip untuk diposting di status, instagram maupun dibuat desain khusus, istilah kekiniannya, quotable.
11.
Pidi Baiq juga rajin roadshow untuk mempromosikan bukunya secara offline, sehingga penggemarnya bisa bertanya banyak hal tentang buku Dilan. Dan tentu saja book signing. Hal ini membuat hubungan pembaca dan penulis menjadi lebih akrab dan membuat pembacanya jadi militan.
12.
Novel ketiganya Milea, juga menyisakan rasa penasaran di hati pembaca. Terutama kehadiran Cika yang menggantikan posisi Milea di hati Dilan. Hal ini membuka kesempatan hadir kelanjutan kisah cinta Dilan, kali ini dengan Cika. menurut kabar, Cika adalah wanita yang kemudian akan dinikahi Dilan. Penasaran?
13.
Pastinya Pidi Baiq juga telah membocorkan dua buku terkait Dilan yang sudah ditulisnya. Pertama adalah Bunda yang berkisah tentang kehidupan ibu dari Dilan sehingga Dilan usia SD. Lalu kisah cinta monyet Dilan di SMP dengan wanita bernama Julia.
14.
Rencana akan mengangkat Dilan ke layar lebar juga membuat novel ini semakin laris karena banya yang ingin tahu jalan ceritanya lebih dulu.
15.
Novel Dilan juga berhasil membawa perubahan terhadap gaya gaul anak muda sekarang, termasuk gaya pacaran yang lebih sehat. bahkan banyak cowok yang meniru abis gaya Dilan dalam menalukan hati cewek. Sebaliknya, banyak cewek yang yang memasang standart cowok semodel Dilan.
16.
Pastinya novel Dilan juga telah membangkitkan minat baca di kalangan remaja. Pasalnya, banyak remaja yang mengaku baru membaca novel pertama kali ya novel Dilan itu. Membaca novel dilan dianggap sebagai bagian gaya hidup remaja kekinian, bukan masalah literasi.
Nah, itu kira-kira yang membuat tiga buku tentang Dilan laris manis hingga kini. Mungkin ada yang ingin menambahkan?

Tuesday, October 1, 2013

Cara Cerdik Menembus Penerbit Buku




Jadi penulis baru memang harus cerdik. Terutama ketika berhasrat menerbitkan karyanya di sebuah penerbit buku. Apalagi di penerbit buku besar yang biasanya superketat menyeleksi naskah terbit.

Salah satu cara pintar memburu peluang agar naskah kita diterbitkan oleh penerbit mayor adalah mengetahui waktu yang tepat untuk mengirim naskah. Mungkin untuk seorang penulis yang sudah berulang kali karyanya diterbitkan tidak ada masalah dengan waktu. Tapi yang pemula, saya sangat sarankan untuk memerhatikan ini.

Saat ini, hingga tiga bulan ke muka adalah saatnya para penerbit berburu naskah untuk diterbitkan. Mengapa?

Pertama,  memasuki kwartal akhir setiap tahun, biasanya naskah untuk tahun berjalan sudah fix dalam jadwal. Penerbit mulai melakukan evaluasi buku-buku yang sudah mereka terbitkan dua kwartal sebelumnya. Mana genre yang laku dan tidak laku.  Genre yang laku sangat 
memungkinkan untuk diteruskan dalam rencana produksi tahun berikutnya. Yang tidak laku, ya dibuang. Jadi cobalah menggali buku-buku yang tidak laku dari dua kwartal yang sudah berjalan. Dan jangan coba mengirim genre itu lagi ke penerbit.

Kedua, jika naskah yang kita miliki bukan dari genre yang tidak laku, tapi juga tidak ada di genre yang laku, berarti masih ada peluang. Sebab, biasanya penerbit buku juga berharap genre-genre baru bisa masuk, untuk menjajal pasar di kwartal awal tahun depan. Yang penting naskahnya punya daya pikat di toko buku.

Ketiga, setiap awal tahun biasanya akan ada banyak pameran buku. Di Jakarta bulan Februari ataupun Maret biasanya digelar Islamic Book fair (IBF) yang jumah pengunjungnya membludak.
 Nah, penerbit akan mencari amunisi sebanyak mungkin untuk acara tersebut. Jadi cobalah kirim naskah ke penerbit yang akan terlibat di acara itu sekitar 3-4 bulan sebelumnya.

Keempat, percayalah mengirim naskah di kwartal akhir akan lebih baik karena buku bisa terbit kwartal pertama atau kedua tahun berikutnya.  Peluang laku lebih besar. Karena kalau sudah masuk masa tahun ajaran baru, puasa, apalagi lebaran, pasar buku cenderung menurun. Begitu pun satu- dua bulan setelah lebaran.

Jadi, cobalah selesaikan naskah yang sedang ditulis. Dan jangan tunda untuk mengirimnya ke penerbit impian masing-masing. Selalu pastikan bahwa naskah yang dikirim adalah naskah yang terbaik. Bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga pembaca.

Monday, September 30, 2013

Thursday, September 26, 2013

Modus Penipuan Menyasar Calon Penulis Buku




Seperti halnya di bidang menyanyi, akting, dan lainnya, dunia tulis-menulis juga dikelilingi orang-orang tak bertanggung jawab yang mengambil keuntungan dari impian seseorang menjadi penulis buku. Tak jarang, korbannya bisa rugi materi, psikis, dan harga diri. Bahkan saya sempat pula mendengar seorang calon penulis permpuan yang sampai dilecehkan secara seksual.
Berikut saya sampaikan beberapa modus penipuan yang menyasar calon penulis, yang sering sampai ke telinga saya:

1. Tiba-tiba seseorang mengaku editor sebuah penerbitan dan menawarkan jasa menerbitkan naskah calon penulis. Orang itu meminta imbalan kepada calon penulis agar naskahnya pasti lolos terbit. Catatan untuk modus seperti ini adalah mengecek dulu keberadaan penerbitnya. Jika tidak ada di Google, Facebook, Yellow Pages, bahkan di antahberantah sekalipun, maka tolaklah permintaannya. Jika penerbitnya ada, minta konfirmasi keberadaan nama editor itu. Perlu diketahui, seorang editor sudah digaji oleh penerbitnya, sehingga ganjil jika ada editor yang sampai minta uang jasa kepada calon penulis. Justru penulislah yang kelak akan mendapat bayaran dari penerbit.

2. Seseorang dari penerbit buku meminta naskah kepada calon penulis. Walaupun penerbitnya tidak terkenal, tapi kantornya ada, Facebook ada, bahkan punya website sendiri. Tidak meminta imbalan sedikit pun. Tapi tiba-tiba kantor, facebook dan website-nya hilang setelah calon penulis  mengirim naskah.  Catatan untuk kejadian seperti ini adalah sebelum mengirimkan naskah cobalah bertanya kepada para penulis lain untuk merekomendasikan. Beberapa kejadian, ada oknum yang bikin penerbitan untuk menerbitkan sejumlah judul buku, kemudian kabur. Dia tidak membayarkan royalti kepada penulis, sementara bukunya tetap terbit dan beredar luas. Penulis tidak bisa apa-apa karena tidak ada kantornya. Biasanya nanti pelaku akan mendirikan penerbit abal-abal lagi dan mencari korban.

3. Seseorang mengaku kenal dengan penulis terkenal, lalu menjanjikan calon penulis dibimbing menulis oleh penulis tersebut, bahkan duet bareng. Dia menunjukkan foto bareng penulis di Facebooknya. Sebagai jasa kelancaran, dia meminta sejumlah uang. Setelah uang didapatkan, Facebooknya ditutup. Catatan untuk menghadapi kasus seperti ini adalah, selalu cek dan ricek, misalnya kepada penulis yang dia sebutkan atau kepada penerbit si penulis jika penulisnya susah dikontak.

4. Seseorang mengaku-ngaku agen naskah. Dia hanya minta persentase royalti atau uang muka royalti bila naskah diterbitkan. Namun, saat buku terbit nama yang tercantum adalah nama orang lain, bukan nama si penulis naskah yang masih calon penulis. Alasannya, namanya tidak menjual. Si penulis tetap mendapat haknya, tapi secara harga diri tertindas. Catatan bila berhadapan dengan agen naskah adalah membuat perjanjian yang detil mengenai hak dan kewajiban penulis.

5. Seseorang dari penerbit meminta naskah kepada calon penulis. Setelah buku terbit dan terjual, penulis hanya mendapat sedikt royalti. Padahal penulis tahu bukunya sangat laris. Penerbit tersebut malah menyebutkan persentase royalti yang kecil. Sang penulis tidak pernah mendapatkan surat perjanjian penerbitan serta mendiskusikan royalti. Penulis baru umumnya sangat mudah manut-manut karena keinginannya menerbitkan buku lebih diutamakan.

Itulah sebagian modus penipuan yang bisa saya sampaikan. Saran saya kepada calon penulis buku, banyaklah bertanya kepada teman-teman penulis, tambah wawasan dunia penerbitan buku, agar tidak menelan kekecewaan dan akhirnya patah arang untuk mewujudkan mimpi menjadi penulis.

00oo00

Tulisan ini repost dari tulisan saya di:
http://media.kompasiana.com/buku/2013/09/26/5-modus-penipuan-menyasar-calon-penulis-buku-593272.html

Wednesday, August 21, 2013

Saturday, August 3, 2013

Naskah Kumpulan Puisi Saya Ditolak 10 Penerbit

Tulisan menjadi HL di kompasiana.com




Seseorang yang tidak saya kenal, tiba-tiba mengirim pesan melalui inbox, “Mas, di sana menerbitkan buku kumpulan puisi nggak?”

Saya tersenyum. Ini untuk ke sekian kalinya menerima pertanyaan sejenis. Lalu, saya jawab,”Untuk saat ini belum. Coba ke penerbit lain saja.”

Lalu saya menerima jawaban yang cepat pula,”Naskah kumpulan puisi saya sudah ditolak sama 10 penerbit, Mas.”

Saya pun berusaha menguatkan hatinya agar terus berusaha mencari penerbit, juga memotivasinya agar terus menulis puisi.

Mengapa  Ditolak?

Di  internet kita dengan mudah menemukan kisah-kisah penolakan naskah oleh penerbit yang akhirnya berujung kesuksesan pada diri si penulis. Di balik itu, banyak penulis sukses tanpa melalui penolakan lebih dulu yang kisahnya tidak diungkapkan di internet. Nah, kemudian tergantung pada kita sendiri, mau masuk kelompok mana? Melewati sekian penolakan oleh penerbit dulu sebelum bisa menerbitkan buku ataukah langsung  sukses menerbitkan begitu pada naskah kiriman pertama.

Kompasiana, Lautan Penulis Hebat

Tulisan ini menjadi HL di kompasiana.com


Sebuah komentar dari Kang Pepih Nugraha mampir di postingan saya tentang Serunya Berburu Lisensi Naskah Asing. Saya kutip di sini:
“Kang Benny, jangan jauh-jauh berburu buku asing atuh, calon buku dari para penulis Indonesia saja masih banyak. Mau kerjasama dengan Kompasiana, kang?  Saya punya catatan para Kompasianer yang tulisannya bagus-bagus  dan saya telah menjalin kerjasama dengan beberapa penerbit mainstream ternama, antara lain Bentang, Grassindo, Elexmedia, GPU dll.”

Saya belum menjawab komentar Kang Pepih di kolom balas.  Tapi saya akan menjawab untuk Kang Pepih dan Kompasianer lainnya, di postingan ini.

Mengapa menerjemahkan buku asing?

Mungkin banyak orang yang mengira, penerbit lokal yang menerbitkan buku terjemahan itu demi gengsi semata. Saya tidak akan menampik juga tidak mengiyakan. Nanti dulu jawabannya.

Serunya Berburu Lisensi Buku Asing



Sewaktu kecil, saya kira menerbitkan buku (fiksi dan nonfiksi) asing ke dalam versi bahasa Indonesia tinggal menerjemahkan saja. Ternyata ada proses yang kadang sangat panjang dan berdarah-darah sebelum sebuah buku asing bisa diterjemahkan. Pastinya, penerbit di Indonesia harus mendapatkan lisensi dari penerbit asal buku tersebut, jika tak ingin dicap pembajak atau kemudian hari dituntut secara hukum. Tapi ketentuan ini tidak berlaku bagi naskah asing klasik yang sudah masuk public domain.
Proses berburu lisensi buku asing dimulai dari pihak penerbit yang biasanya menjadi tanggung jawab editor akuisisi. Seorang editor akuisisi (buku asing) harus selalu mengikuti perkembangan perbukuan internasional. Dia harus memantau buku-buku yang akan terbit dari penulis-penulis ternama sekelas Dan Brown, JK Rowling atau Stephenie Meyer. Dia juga harus meng-up-date daftar best-sellers Internasional. Dan tentunya dia punya kepekaan mencium tren buku  yang akan datang di Indonesia.



Setelah browsing daftar sejumlah buku, editor akuisisi selanjutnya meminta kepastian isi dari buku yang ditaksirnya. Dia bisa menghubungi penerbitnya langsung, maupun melalui agen-agen lisensi yang terpercaya. Tentunya, seorang editor akuisi harus memiliki jaringan yang kuat dengan pemasar lisensi dari penerbit asing maupun agen lisensi. Dari merekalah, seorang editor akusisi bisa mngetahui izin untuk menerjemahkan ke Bahasa Indonesia masih tersedia atau tidak, juga meminta reading copy (contoh buku).

Bila izin menerjemahkan buku asing itu masih belum diambil penerbit lokal lainnya (available), editor akusisi bisa meminta reading copy sebagai bahan evaluasi. Baik berupa fisik asli buku maupun PDF. Demi kecepatan kerja redaksi, PDF adalah yang terbaik.

Tidak semua buku best-sellers di luar negeri akan laku dijual di Indonesia. Sebaliknya, buku-buku tidak terkenal di luar negeri ada pula yang akhirnya meledak di Indonesia. Itulah  fakta di dunia penerbitan yang penuh spekulasi.  Itu sebabnya editor akuisisi bersama tim penerbit harus mengevaluasi dengan seksama namun dalam tempo yang tak terlalu lama. Pengalaman di dunia perbukuan kerap kali menjadi kunci sukses memilih sebuah buku asing diterbitkan atau tidak.

1375164782682976654
Perlu skill khusus, berburu lisensi naskah asing. (foto: Benny Rhamdani)

Jika sudah muncul hasil akan menerbitkan buku tersebut, langkah selanjutnya adalah mengajukan penawaran. Untuk beberapa penerbit asing yang punya nama besar, biasanya proses penawaran harus disertai company profile dan langkah-langkah strategis pemasaran. Apalagi jika buku itu karya penulis papan atas.
Repotnya, jika lisensi buku asing itu ternyata diperebutkan banyak penerbit lokal. Biasanya akan ada proses bidding alias penawaran dengan harga tertinggi. Di sinilah kadang terjadi perang berdarah-darah karena terjadi perebutan lisensi.  Kehati-hatian tetap harus dipegang, agar penawaran tidak terlalu rendah sehingga lepas diambil penerbit lokal lainnya, juga jangan sampai telalu tinggi sehingga merusak pasar lisensi buku asing serta merugi karena bukunya tak selaku uang advance yang dikeluarkan.

Jadi, jangan heran jika melihat novel terbaru karya penulis ‘D’ tiba-tiba diterbitkan Penerbit M, padahal buku pertamanya diterbitkan Penerbit S. Bisa ditebak, kalah sewaktu penawaran. Apa saja yang ditawarkan?  Uang muka royalty dan besar royalti.

Jika dalam penawaran kemudian dinyatakan ‘deal’, maka selanjutnya  masuk ke proses perjanjian kerja sama. Setiap penerbit asing punya kebijakan berbeda dengan penerjemahan bukunya. Ada penerbit asing yang  tak banyak permintaan, artinya penerbit lokal bisa memperlakukan buku terjemahan itu sesuai pasar setempat (mengubah cover, mengganti judul, dan sebagainya).  Ada juga penerbit asing yang rewel yang melarang ini-itu saat menerbitkan bukunya dalam Bahasa Indonesia. Yang pasti, peraturan itu harus dibaca dan dipatuhi agar tak mendapat masalah di kemudian hari.

Pentingnya ke Pameran Buku Internasional

Meskipun sekarang sudah memasuki era internet, sehingga mudah berhubungan dengan orang lain yang jauh jaraknya, tapi dalam hal berburu lisensi naskah asing kita harus melakukan pertemuan langsung. Itulah sebabnya, seorang editor akuisisi sebuah penerbitan harus berusaha bisa mengunjungi pameran buku tingkat internasional seperti Frankfurt Book Fair.

Di sana kita bisa berkenalan secara tatap muka langsung (tentu dengan janji sebelumnya) dengan pemasar lisensi dari penerbit maupun para  agen lisensi internasional. Kehadiran sang editor akuisisi akan menambah kredibilitas penerbitnya. Bagaimana mereka tidak mengapresiasi kita, saat mereka akhirnya bisa melihat seseorang dari ‘random country’ hadir di sebuah pameran berskala internasional. Sehingga ketika suatu hari nanti terjadi kompetisi penawaran, kita memiliki poin lebih yang sifatnya non-material.

13751645541090432893

Dengan berkenalan dan menjalin hubungan dengan meraka, seorang editor akuisisi biasanya mendapatkan prioritas ketika mereka hendak meluncurkan buku-buku baru. Tidak kah ini sangat bermanfaat, bisa mengetahui sebuah judul buku baru dari penulis beken, sebelum diketahui publik.

Di pameran internasional, seorang editor akuisisi juga bisa dengan leluasa browsing buku-buku asing dengan membacanya langsung, sehingga bisa mencium aroma ‘best sellers’ atau ‘flop’ untuk pasar nasional.
Saya sendiri kadang mendapat bocoran buku-buku yang diambil oleh penerbit lain di Indonesia, ataupun penerbit dari negara yang pembacanya mirip di Indonesia. Obrolan informal dengan mereka kadang amat berharga untuk menambah wawasan perbukuan seorang editor akuisisi. Tak jarang pula saya mendapat peluang untuk mempromosikan buku-buku karya anak bangsa kepada mereka.

Sayangnya, saya masih sering sekali bertemu dengan teman-teman dari tanah air yang mendapat peluang ke pameran buku internasional hanya sebatas sebagai pengamat dan jalan-jalan. Hal lainnya, saya jarang melihat penerbit di Indonesia yang meregenerasi  editor akusisi yang datang ke pameran buku internasional. Rasanya dia lagi-dia lagi. Padahal, hubungan dengan para agen dan pemasar lisensi di penerbit asing kadang bersifat personal, sehingga ketika seorang editor akuisisi meninggal, belum tentunya penggantinya siap menangani semua jaringan editor akuisisi tersebut. Akhirnya penerbit itu malah kehilangan kesempatan untuk berkompetesi berburu lisensi naskah asing.

000

Friday, August 2, 2013

Jelang Frankfurt Book Fair 2015 - Repost



Tanpa banyak diketahui publik Indonesia, ternyata pihak pemerintah Indonesia telah resmi  menandatangani kesepakatan menjadi tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair  (FBF) 2015. Penandatanganan diwakili Mentri Pendidikan dan Kebudayaan pada awal Juni 2013. Pengumuman dari pemerintah Indonesia belum resmi terdengar, namun laman resmi  dari FBF sudah merilisnya pada 1 Juli 2013.

Tahun lalu ketika saya mengunjungi Frankfurt Book  Fair 2012, wacana Indonesia menjadi tamu kehormatan tersebut sudah tersiar.   Ada perasaan bangga karena di kawasan Asia Tenggara  menjadi negara pertama yang bisa menjadi tamu kehormatan di FBF. Bahkan seorang teman-teman editor di Malaysia bertanya sambil bercanda,” Indonesia bayar berapa hingga  jadi guest of honour di Frankfurt?”

Kebanggaan itu sedikit menyusut karena bulan demi bulan setelahnya, saya nyaris tak mendengar respon pemerintah atas undangan FBF. Saya pun mulai pesimis terhadap pemerintah seolah tak peduli dengan perkembangan perbukuan nasional kita. Dan kini, rasa pesimis itu berubah menjadi optimis, sekaligus bertanya-tanya siapkah Indonesia menjadi Guest of Honour di FBF 2015? Apa saja yang sudah dilakukan?



13744674681926795168
Saya dan penulis Negeri 5 Menara, A. Fuadi di paviliun Indonesia, Frankfurt Book Fair 2012. (foto Benny Rhamdani)

Di manakah Indonesia?

Setiap kali menyebut nama Indonesia di kancah internasional, sering sekali saya mendengar orang-orang keheranan. Indonesia? Where is it? Bahkan Direktur FBF, Juergen Boos menyebut Indonesia sebagai negara dengan jumlah populasi penduduk yang tinggi namun hanya sedikit orang Jerman yang tahu.

Faktanya, dunia perbukuan Indonesia belum bicara banyak di kancah international. Kalaupun mau disebut, jelas Pramoedya Ananta Toer (1925-2006) adalah penulis Indonesia yang paling mendunia. Pram pernah dianugerahi PEN Freedom Award, dan lebih dari 30 karyanya dipublish setidaknya ke dalam 20 bahasa . Pramoedya Ananta Toer adalah juga  kandidat kuat  penerima Nobel Prize untuk Literature. Di generasi muda, ada Ayu Utami penulis novel Saman yang diterbitkan Horlemann Verlag  (2007). Bintang barunya adalah Andrea Hirata yang karyanya Laskar Pelangi (Rainbow Troops) sudah diterbitkan Hanser Berlin (2013) dan peraih ITB Book Award pada  International Tourism Exhibition di Berlin.

Dengan jumlah penerbit aktif mencapai 1000 perusahaan di Indonesia mestinya tidak sulit untuk menembus dunia internasional. Apalagi beberapa penerbit sudah dengan inisiatif sendiri menerjemahkan buku-bukunya ke dalam Bahasa Inggris dan menjualnya lewat agen-agen literasi Indternasional.  Termasuk yang dilakukan Yayasan Lontar yang aktif melakukan penerjemahan buku nasional ke bahasa Inggris.

Saat bincang-bincang dengan beberapa pengunjung FBF  yang mengenal Indonesia, umumnya di benak mereka,  Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam seni budaya, kaya literasi lisan, serta  generasi mudanya yang sangat digital minded.

Usulan Program

Saya yakin dana yang akan dikucurkan pemerintah di FBF 2015 tidak akan sedikit. Karenanya perlu strategi yang matang agar seusai  acara akbar tersebut, kita benar-benar memetik hasilnya.

Sekedar perbandingan, pada FBF 2012, Selandia Baru melakukan promosi besar-besaran di hampir semua penjuru lokasi.  Setidaknya 300 agenda acara digelar mereka. Tidak hanya memanfaatkan satu paviliun yang dipenuhi penerbit buku negarany.  Negara beribukota di Wellington ini juga melakukan promosi wisata outdoor seperti demonstrasi pemahatan kayu khas suku Maori.  Dengan cerdasnya, negara yang belum punya penulis dan produk buku yang mendunia ini, mengaitkan industri buku mereka dengan karya J.R.R Tolkiens berjudul The Hobbit dan Lord of The Rings. Padahal kaitannya hanya karena Selandia Baru menjadi lokasi syuting film berdasarkan dua buku fenomenal tersebut.

Selandia Baru pun tak tanggung-tanggung memboyong 67 penulis dan 69 senimannya untuk memeriahkan  FBF ini.  Tentunya upaya besar ini tidak akan menjadi sia-sia, dengan jumlah pengunjung puluhan ribu per hari.

Catatan prestasi Selandia Baru yang  mengedepankan tema while you were sleeping di FBF antara lain  kunjungan 67.500 orang ke paviliun mereka selama lima hari (25.000 orang saat dibuka untuk umum).
 Dari sisi promosi melalui media juga terbilang sukses, karena selama bulan Oktober 2012 telah terdokumentasi 9.000 kliping siaran pers. Tentu saja yang paling menggembirakan adalah bagi industri perbukuan mereka sendiri, yakni terjualnya hak penerjemahan 83 judul buku ke Bahasa Jerman.

Tahun ini, Brasil akan menjadi tamu kehormatan, disusul Finlandia pada 2014. Keduanya bisa pula dijadikan acuan agar kita bisa tampil maksimal.

Untuk persiapan, saya harapkan IKAPI sebagai ujung tombak di FBF kelak, melakukan beberapa hal:

1.  Memfasilitasi penerjemahan buku-buku nasional ke dalam bahasa Inggris (atau bahasa asing lainnya). Alangkah baiknya pemerintah bisa mendukung dari sisi pembiayaan. Sebab saya lihat, pemerintah Malaysia sangat getol dengan hal ini di setiap pameran buku International. Tentunya, buku yang difasilitasi adalah buku-buku yang memenuhi standart dan selera pasar Internasional.

2. Membentuk wadah agen literasi yang kemudian bertugas memasarkan judul-judul buku yang sudah diterjemahkan. Meskipun sebagian penerbit (besar) sudah memiliki, tapi masih banyak penerbit yang belum menemukan celah untuk memasarkan hak terjemahnya ke internasional. Padahal dengan semakin banyaknya buku nasional yang dipasarkan, akan makin banyak yang mengenal Indonesia. Dan ini akan berimbas ke sektor lain, seperti pariwisata.

3. Menunjuk orang-orang yang tepat menjadi duta literasi di FBF, baik penulis, desainer buku, illustrator, komikus, termasuk kritikus perbukuan.

4. Jika memang terbatas dengan sumber daya manusia yang mendukung, libatkan oraganisasi dan komunitas perbukuan nasional. Umumnya mereka sangat militan untuk mendukung kegiatan perbukuan Indonesia. Jangan sampai hanya karena  ‘kekuarangan orang’ akhirnya perencanaan program jadi kurang matang.

5. Beritakan program-progam yang akan diusung, agar masyarakat bisa ikut memberi masukan.

6. Ikapi juga harus menegaskan kepada pelaku industri perbukuan Indonesia, bahwa event ini bukan hanya untuk kepentingan satu-dua penerbit buku, tapi bermanfaat untuk seluruh insan perbukuan. Sehingga harus didukung oleh semua pelaku industri perbukuan nasional.

Sebagai insan perbukuan nasional, saya sungguh berharap kesempatan Indonesia di FBF 2015 dimanfaatkan semaksimal mungkin. Jika tidak, entah harus menunggu berapa lama lagi kita akan mendapat kesempatan ini.
OOO

Wednesday, June 12, 2013

Monday, April 22, 2013

Neilson Hays Library: Perpustakaan Tanda Cinta

Neilson Hays Library yang Nyaman.

Jika di India ada Taj Mahal sebagai tanda cinta Shah Jahan atas wafatnya sang isteri tercinta Mumtaz Mahal, lain lagi dengan di Bangkok, Thailand.  Pria berkulit putih Heywood Hays membangun sebuah perpustakaan atas kepergian isterinya karena Kolera.

Bangunan itu sangat mudah dicapai  karena berdekatan dengan stasiun MRT  Silom atau  stasiun BTS Saladang.  Cukup berjalan kaki melewati gedung-gedung bertingkat sampailah di salah satu tempat yang teduh di Sarawong Road. Jika melihat sebuah bangunan bergaya Neo-klasik, itulah Neilson Hays Library.

Berawal ketika  pada  1869 sekumpulan wanita  kulit putih yang senang membaca buku membentuk  The Bangkok Ladies Library Association.  Kemudian. Bergabunglah seorang missionari bernama  Jennie Neilson pada 1881. Dia senang dengan klab buku tersebut karena bisa saling menukar buku dan diakusi buku.
Lambang Cinta.

Jennie menikah dengan Dr Thomas Heywood Hays yang begitu mendukung kegiatannya membuat perpustakaan. Sayangnya Jennie meninggal tiba-tiba pada tahun 1920 – diduga  akibat kolera.  Dr Hays  pun membangun sebuah gadung perpustakaan baru sebagai tanda cinta untuk isterinya.


Perpustakaan baru  dibuka pada  26 Juni 1922. Dirancang oleh arsitek Italia Mario Tamagno,  bangunan baru menampilkan kekayaan fitur klasik seperti plesteran bermotif dan lantai kayu jati. Fokus arsitekturnya  adalah kubah Italianate yang indah. Bangunan ini digambarkan oleh Bangkok Times, pada saat pembukaan sebagai “… sebuah istana besar dalam skala kecil”.  Perpustakaan Nielsen Hays diberi status “Historic Landmark” pada tahun 1986 oleh Asosiasi Arsitek Siam.

Kini, Neilson Hays Library menjadi perpustakaan umum dengan sistem keanggotaan. Meskipun demikian, perpusatakaan ini lebih dikenal sebagai perpustakaan untuk anak. Apalagi diediakan sudut koleksi untuk anak-anak. Sementara, setelah pintu masuk bagian ini, dijadikan galeri untuk ruang pameran lukisan dan karya seni lainnya.
Ruang baca anak.



Jika merasa lapar, pengunjung tidak perlu khawatir. Disini, disediakan pula kafe untuk menyantap hidangan bersama keluarga. Kafe yang terang ini mengombinasikan konsep dalam dan luar ruangan. Kafe yang didominasi dengan warna hijau, menjadikannya sebagai lokasi sempurna untuk beristirahat sejenak. Bahkan, kadang kala di sini diadakan kegiatan-kegiatan khusus, misalnya acara untuk anak-anak, pertemuan pengarang buku atau para seniman.

Secara pribadi saya senang berkunjung ke perpustakaan. Apalagi yang menyimpan koleksi buku-buku kuno seperti Neilson Hays Library. Saya membayangkan suatu hari buku saya berada di perpustakaan tersebut dan dibaca banyak orang.

(br)

Kunjungan ke Bangkok, Ibukota Buku Dunia 2013

Promosi Hingga ke Monore
Penetapan UNESCO kepada  Bangkok sebagai Ibukota Buku Dunia  untuk tahun 2013 di Paris, 27 Juni 2011, membuat saya penasaran ingin mengunjungi ibukota Thailand tersebut. Seberapa hebatnya dunia perbukuan di sana.
Keinginan saya terwujud, ketika Mizan Publishing mengutus saya mengunjungi Bangkok International Book Fair yang digelar 29 Maret-8 April 2013. Acara yang diselenggarakan Asosiasi Penerbit dan Penjual Buku Thailand (Pubat) ini menampilkan 950 stand dengan melibatkan 400 penerbit lokal dan puluhan penerbit dari Taiwan, Singapura dan Korea Selatan.

Dari tempat saya menginap di kawasan Lumphini, saya cukup naik MRT selama 10 menit menuju lokasi pameran di Queen Sirikit National Conventional Centre. Dari stasiun MRT Queen Sirikit, akses menuju tempat pameran hanya 50 meter. Sehingga calon pengunjung yang menggunakan kendaraan umum amat nyaman.  Sangat berbeda dengan pameran buku di Jakarta. Dari halte busway harus naik ojek atau berjalan kaki lebih dari seratus meter.

Masuk ke selasar arena pameran yang telah memasuki tahun ke-45 untuk skala nasional, dan ke-11 untuk skala internasional, saya langsung disambut dengan jajaran komik-komik Asia yang mencolok warna sampulnya. Namun karena saya datang awal, stand-stand di luar itu belum dibuka. Saya pun masuk ke dalam hall tanpa tiket, yang di depannya merupakan food court. Setelah melewati lorong, sampailah ke dalam hall luas yang sangat ramai.
Serunya Stand Buku Anak. (foto Beny Rhamdani)

Ruangan pameran yang sejuk membuat saya  lupa suhu di Bangkok saat itu mencapai 40 derajat Celsius. Saya pun mulai memerhatikan sudut-sudut ruang pameran buku yang tahun ini bertema “Read for Life”. Meskipun ukuran stan  mirip dengan pameran di Jakarta, namun tampilannya lebih aktratif. Buku tidak berjejal begitu banyak sehingga pengunjung masih leluasa memilih-milih buku.

Budaya membaca di generasi muda sangat kuat. (foto Benny Rhamdani)
Kedatangan saya ke pameran kali ini, selain melihat perkembangan buku di Thailand, juga menawarkan right buku Indonesia untuk diterbitkan di Thailand. Orang-orang penerbitan di Thailand relatif lebih terbuka dan ramah untuk diajak kerjasama di industri perbukuan. Demikian halnya dengan mitra agen yang saya temui, bisa diajak diskusi panjang lebar tentan rencana penerbitan. Walaupun menurut saya, ruang untuk pertemuan dengan agen ini sangat sempit dibandingkan di Frankfurt, Jerman.


Hal yang sangat saya kagumi di arena pameran, pengunjung malah didominasi kalangan pelajar dan mahasiswa. Mereka antusias berebut buku-buku yang dijual, mulai dan novel, komik sampai buku-buku non fiksi, buku asing, buku akademik dan buku-buku tua berkelas. Acara-acara yang melibatkan kaum muda pun berlimpah, mulai dari workshop penulisan, festival komik, dan sebaginya.

Selain pameran buku, juga digelar pameran foto HM Raja dan karya terjemahan HRH Princess Maha Chakri Sirindhorn, serta sejumlah stand e-book oleh penerbit online.

Layak


Mengutip situs BBC Travel, General Director UNESCO Irina Bokova mengatakan, Bangkok dicanangkan sebagai World Book Capital 2013 karena fokus kepada komunitas dan pro terhadap perkembangan kultur membaca.

Saya yang berangkat bersama enam penulis DAR! Mizan saat menyusuri Kota Bangkok mendapati banyak toko dengan rak-rak penuh buku. Toko-toko ini menjual aneka novel, majalah, sampai komik manga. Beberapa mal besar seperti Siam Paragon sudah dilengkapi jaringan toko buku asal Jepang yakni Kinokuniya, dan perusahaan buku berbahasa Inggris terbesar di Thailand yakni Asia Books.

Ada pula jaringan toko buku Barnes & Noble asal AS, dan Waterstones asal Britania Raya. Toko-toko buku ini punya atmosfer yang nyaman untuk pengunjung bersantai sambil membaca. Ada sofa, pendingin udara, lantai kayu, dan komputer yang bisa digunakan untuk selancar dunia maya.

Para penggemar buku bekas bisa menemukan ‘harta karun’ di Dasa Books, Jalan Sukhumvit. Ada lebih dari 16.000 buku bekas dalam berbagai bahasa untuk dijual maupun dibaca di tempat. Di sini, wisatawan bisa membaca buku di kafe sambil menyeruput kopi dan mengunyah brownies cokelat.

Untuk sekadar membaca, sempatkanlah mengunjungi Library Cafe yang masih berlokasi di Jalan Sukhumvit. Toko buku mungil ini punya atmosfer yang sangat nyaman, dengan interior ala tahun 1950-an. Kita bisa membaca buku sepuasnya sambil memesan kopi panas.


(br)

Monday, April 15, 2013