Tanpa banyak diketahui publik Indonesia, ternyata pihak pemerintah
Indonesia telah resmi menandatangani kesepakatan menjadi tamu
kehormatan di Frankfurt Book Fair (FBF) 2015. Penandatanganan diwakili
Mentri Pendidikan dan Kebudayaan pada awal Juni 2013. Pengumuman dari
pemerintah Indonesia belum resmi terdengar, namun laman resmi dari FBF
sudah merilisnya pada 1 Juli 2013.
Tahun lalu ketika saya mengunjungi Frankfurt Book Fair 2012, wacana
Indonesia menjadi tamu kehormatan tersebut sudah tersiar. Ada perasaan
bangga karena di kawasan Asia Tenggara menjadi negara pertama yang
bisa menjadi tamu kehormatan di FBF. Bahkan seorang teman-teman editor
di Malaysia bertanya sambil bercanda,” Indonesia bayar berapa hingga
jadi guest of honour di Frankfurt?”
Kebanggaan itu sedikit menyusut karena bulan demi bulan setelahnya, saya
nyaris tak mendengar respon pemerintah atas undangan FBF. Saya pun
mulai pesimis terhadap pemerintah seolah tak peduli dengan perkembangan
perbukuan nasional kita. Dan kini, rasa pesimis itu berubah menjadi
optimis, sekaligus bertanya-tanya siapkah Indonesia menjadi Guest of
Honour di FBF 2015? Apa saja yang sudah dilakukan?
Saya dan penulis Negeri 5 Menara, A. Fuadi di paviliun Indonesia, Frankfurt Book Fair 2012. (foto Benny Rhamdani)
Di manakah Indonesia?
Setiap kali menyebut nama Indonesia di kancah internasional, sering sekali saya mendengar orang-orang keheranan. Indonesia?
Where is it?
Bahkan Direktur FBF, Juergen Boos menyebut Indonesia sebagai negara
dengan jumlah populasi penduduk yang tinggi namun hanya sedikit orang
Jerman yang tahu.
Faktanya, dunia perbukuan Indonesia belum bicara banyak di kancah
international. Kalaupun mau disebut, jelas Pramoedya Ananta Toer
(1925-2006) adalah penulis Indonesia yang paling mendunia. Pram pernah
dianugerahi PEN Freedom Award, dan lebih dari 30 karyanya dipublish
setidaknya ke dalam 20 bahasa . Pramoedya Ananta Toer adalah juga
kandidat kuat penerima Nobel Prize untuk Literature. Di generasi muda,
ada Ayu Utami penulis novel
Saman yang diterbitkan Horlemann Verlag (2007). Bintang barunya adalah Andrea Hirata yang karyanya Laskar Pelangi (
Rainbow Troops) sudah diterbitkan Hanser Berlin (2013) dan peraih ITB Book Award pada International Tourism Exhibition di Berlin.
Dengan jumlah penerbit aktif mencapai 1000 perusahaan di Indonesia
mestinya tidak sulit untuk menembus dunia internasional. Apalagi
beberapa penerbit sudah dengan inisiatif sendiri menerjemahkan
buku-bukunya ke dalam Bahasa Inggris dan menjualnya lewat agen-agen
literasi Indternasional. Termasuk yang dilakukan Yayasan Lontar yang
aktif melakukan penerjemahan buku nasional ke bahasa Inggris.
Saat bincang-bincang dengan beberapa pengunjung FBF yang mengenal
Indonesia, umumnya di benak mereka, Indonesia merupakan negara yang
memiliki beragam seni budaya, kaya literasi lisan, serta generasi
mudanya yang sangat
digital minded.
Usulan Program
Saya yakin dana yang akan dikucurkan pemerintah di FBF 2015 tidak akan
sedikit. Karenanya perlu strategi yang matang agar seusai acara akbar
tersebut, kita benar-benar memetik hasilnya.
Sekedar perbandingan, pada FBF 2012, Selandia Baru melakukan promosi
besar-besaran di hampir semua penjuru lokasi. Setidaknya 300 agenda
acara digelar mereka. Tidak hanya memanfaatkan satu paviliun yang
dipenuhi penerbit buku negarany. Negara beribukota di Wellington ini
juga melakukan promosi wisata outdoor seperti demonstrasi pemahatan kayu
khas suku Maori. Dengan cerdasnya, negara yang belum punya penulis dan
produk buku yang mendunia ini, mengaitkan industri buku mereka dengan
karya J.R.R Tolkiens berjudul The Hobbit dan Lord of The Rings. Padahal
kaitannya hanya karena Selandia Baru menjadi lokasi syuting film
berdasarkan dua buku fenomenal tersebut.
Selandia Baru pun tak tanggung-tanggung memboyong 67 penulis dan 69
senimannya untuk memeriahkan FBF ini. Tentunya upaya besar ini tidak
akan menjadi sia-sia, dengan jumlah pengunjung puluhan ribu per hari.
Catatan prestasi Selandia Baru yang mengedepankan tema
while you were sleeping
di FBF antara lain kunjungan 67.500 orang ke paviliun mereka selama
lima hari (25.000 orang saat dibuka untuk umum).
Dari sisi promosi
melalui media juga terbilang sukses, karena selama bulan Oktober 2012
telah terdokumentasi 9.000 kliping siaran pers. Tentu saja yang paling
menggembirakan adalah bagi industri perbukuan mereka sendiri, yakni
terjualnya hak penerjemahan 83 judul buku ke Bahasa Jerman.
Tahun ini, Brasil akan menjadi tamu kehormatan, disusul Finlandia pada
2014. Keduanya bisa pula dijadikan acuan agar kita bisa tampil maksimal.
Untuk persiapan, saya harapkan IKAPI sebagai ujung tombak di FBF kelak, melakukan beberapa hal:
1. Memfasilitasi penerjemahan buku-buku nasional ke dalam bahasa
Inggris (atau bahasa asing lainnya). Alangkah baiknya pemerintah bisa
mendukung dari sisi pembiayaan. Sebab saya lihat, pemerintah Malaysia
sangat getol dengan hal ini di setiap pameran buku International.
Tentunya, buku yang difasilitasi adalah buku-buku yang memenuhi standart
dan selera pasar Internasional.
2. Membentuk wadah agen literasi yang kemudian bertugas memasarkan
judul-judul buku yang sudah diterjemahkan. Meskipun sebagian penerbit
(besar) sudah memiliki, tapi masih banyak penerbit yang belum menemukan
celah untuk memasarkan hak terjemahnya ke internasional. Padahal dengan
semakin banyaknya buku nasional yang dipasarkan, akan makin banyak yang
mengenal Indonesia. Dan ini akan berimbas ke sektor lain, seperti
pariwisata.
3. Menunjuk orang-orang yang tepat menjadi duta literasi di FBF, baik
penulis, desainer buku, illustrator, komikus, termasuk kritikus
perbukuan.
4. Jika memang terbatas dengan sumber daya manusia yang mendukung,
libatkan oraganisasi dan komunitas perbukuan nasional. Umumnya mereka
sangat militan untuk mendukung kegiatan perbukuan Indonesia. Jangan
sampai hanya karena ‘kekuarangan orang’ akhirnya perencanaan program
jadi kurang matang.
5. Beritakan program-progam yang akan diusung, agar masyarakat bisa ikut memberi masukan.
6. Ikapi juga harus menegaskan kepada pelaku industri perbukuan
Indonesia, bahwa event ini bukan hanya untuk kepentingan satu-dua
penerbit buku, tapi bermanfaat untuk seluruh insan perbukuan. Sehingga
harus didukung oleh semua pelaku industri perbukuan nasional.
Sebagai insan perbukuan nasional, saya sungguh berharap kesempatan
Indonesia di FBF 2015 dimanfaatkan semaksimal mungkin. Jika tidak, entah
harus menunggu berapa lama lagi kita akan mendapat kesempatan ini.
OOO