Showing posts with label Frankfurt Book Fair 2015. Show all posts
Showing posts with label Frankfurt Book Fair 2015. Show all posts

Monday, September 1, 2014

Secuil Tentang Frankfurt Book Fair



Jangan mengaku insan perbukuan jika belum ke Frankfurt Book Fair (FBF). Begitu kata beberapa praktisi di Industri perbukuan. Maka jadilah FBF impian banyak editor, penerjemah, petinggi penerbitan, desainer, ilustrator, penulis dan masih banyak lagi. Seberapa istimewanya FBF ini?


FBF atau  dalam bahasa Jerman disebut Frankfurter Buchmesse merupakan pameran buku terbesar di dunia yang telah dimulai sejak abad ke-15 di kota industri, Frankfurt, Jerman. Terbesar dari sisi penerbitan yang ikut berpartisipasi dan pengunjungnya setiap hari. 

FBF digelar setiap Otober di Area Frankfurt Trade Fair. Perwakilan dari penerbit buku dan multimedia hadir untuk bernegoisasi mendapatkan hak penerbitan di negara masing dengan harga yang realistis. Alhasil, FBF jadi ajang  bergengsi bagi dunia perbukuan internasional dan merupakan ajang terbesar untuk transaksi copyright maupun unjuk karya literasi bermutu dari berbagai bangsa di dunia.  Pameran ini diselenggarakan oleh German Publishers and Booksellers Association. Selama sepekan sekitar 7.000 peserta dari lebih 100 negara dan lebih dari 286.000 pengunjung ambil bagian. 



Menurut sejarah, cikal bakal FBF berawal dari penermuan mesin cetak pertama oleh  Johannes Guttenberg lebih dari 500 silam di Mainz, tak jauh dari Frankfurt. Sejak itu pula digelar book fair pertama, hingga akhir abad 17 menjadi pameran buku terpenting di Eropa. Namun  sesuai perkembangan masyarakat, ajang tersebut dihalangi Leipzig Book Fair. Setelah Perang Dunia, tepatnya 1949, pameran pun kembali ke asal.

Sejak tahun 1976, digelar ajang a Guest of Honour (tamu kehormatan) yang menjadi  fokus selama book fair. Sebuah ruang pameran khusus disiapkan untuk tamu negara untuk melakukan pameran sesuai tema negaranya.


Saat saya berkunjung ke FBF pada 2012, tamu kejormatan adalah Selandia Baru. Negara tersebut membuat pameran buku dan kebudayaan lokal yang menarik.



Indonesia akan menjadi tamu kehormatan pada 2015. Saat ini, semua insan perbukuan Indonesia tengah mempersiapkan diri meramaikan ajang FBF. Meskipun sepengetahuan saya, belum mendapat dukungan penuh dari pemerintah, tapi tak menyurutkan gairah pegiat perbukuan. Semoga saja pada saatnya nanti dukungan semakin bertambah, dan nama Indonesia benar-benar terangkat di mata masyarakat perbukuan dunia.


Saat ini, perbukuan Indonesia masih dianggap sebelah mata oleh peserta FBF. Umumnya pula, wakil penerbitan Indonesia yang datang masih sebagai konsumen. Bukan yang berhasil banyak menjual hak terbit di luar negeri.

Dan saya berharap bisa menjadi saksi hidup dengan hadir di FBF 2015 untuk melihat kesuksesan tersebut.  Melihat banyak penulis Indonesia hadir dan membagikan tandatangan di bukunya. Bukan hanya pengarang Eropa.







foto-foto: Benny Rhamdani

Friday, August 2, 2013

Jelang Frankfurt Book Fair 2015 - Repost



Tanpa banyak diketahui publik Indonesia, ternyata pihak pemerintah Indonesia telah resmi  menandatangani kesepakatan menjadi tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair  (FBF) 2015. Penandatanganan diwakili Mentri Pendidikan dan Kebudayaan pada awal Juni 2013. Pengumuman dari pemerintah Indonesia belum resmi terdengar, namun laman resmi  dari FBF sudah merilisnya pada 1 Juli 2013.

Tahun lalu ketika saya mengunjungi Frankfurt Book  Fair 2012, wacana Indonesia menjadi tamu kehormatan tersebut sudah tersiar.   Ada perasaan bangga karena di kawasan Asia Tenggara  menjadi negara pertama yang bisa menjadi tamu kehormatan di FBF. Bahkan seorang teman-teman editor di Malaysia bertanya sambil bercanda,” Indonesia bayar berapa hingga  jadi guest of honour di Frankfurt?”

Kebanggaan itu sedikit menyusut karena bulan demi bulan setelahnya, saya nyaris tak mendengar respon pemerintah atas undangan FBF. Saya pun mulai pesimis terhadap pemerintah seolah tak peduli dengan perkembangan perbukuan nasional kita. Dan kini, rasa pesimis itu berubah menjadi optimis, sekaligus bertanya-tanya siapkah Indonesia menjadi Guest of Honour di FBF 2015? Apa saja yang sudah dilakukan?



13744674681926795168
Saya dan penulis Negeri 5 Menara, A. Fuadi di paviliun Indonesia, Frankfurt Book Fair 2012. (foto Benny Rhamdani)

Di manakah Indonesia?

Setiap kali menyebut nama Indonesia di kancah internasional, sering sekali saya mendengar orang-orang keheranan. Indonesia? Where is it? Bahkan Direktur FBF, Juergen Boos menyebut Indonesia sebagai negara dengan jumlah populasi penduduk yang tinggi namun hanya sedikit orang Jerman yang tahu.

Faktanya, dunia perbukuan Indonesia belum bicara banyak di kancah international. Kalaupun mau disebut, jelas Pramoedya Ananta Toer (1925-2006) adalah penulis Indonesia yang paling mendunia. Pram pernah dianugerahi PEN Freedom Award, dan lebih dari 30 karyanya dipublish setidaknya ke dalam 20 bahasa . Pramoedya Ananta Toer adalah juga  kandidat kuat  penerima Nobel Prize untuk Literature. Di generasi muda, ada Ayu Utami penulis novel Saman yang diterbitkan Horlemann Verlag  (2007). Bintang barunya adalah Andrea Hirata yang karyanya Laskar Pelangi (Rainbow Troops) sudah diterbitkan Hanser Berlin (2013) dan peraih ITB Book Award pada  International Tourism Exhibition di Berlin.

Dengan jumlah penerbit aktif mencapai 1000 perusahaan di Indonesia mestinya tidak sulit untuk menembus dunia internasional. Apalagi beberapa penerbit sudah dengan inisiatif sendiri menerjemahkan buku-bukunya ke dalam Bahasa Inggris dan menjualnya lewat agen-agen literasi Indternasional.  Termasuk yang dilakukan Yayasan Lontar yang aktif melakukan penerjemahan buku nasional ke bahasa Inggris.

Saat bincang-bincang dengan beberapa pengunjung FBF  yang mengenal Indonesia, umumnya di benak mereka,  Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam seni budaya, kaya literasi lisan, serta  generasi mudanya yang sangat digital minded.

Usulan Program

Saya yakin dana yang akan dikucurkan pemerintah di FBF 2015 tidak akan sedikit. Karenanya perlu strategi yang matang agar seusai  acara akbar tersebut, kita benar-benar memetik hasilnya.

Sekedar perbandingan, pada FBF 2012, Selandia Baru melakukan promosi besar-besaran di hampir semua penjuru lokasi.  Setidaknya 300 agenda acara digelar mereka. Tidak hanya memanfaatkan satu paviliun yang dipenuhi penerbit buku negarany.  Negara beribukota di Wellington ini juga melakukan promosi wisata outdoor seperti demonstrasi pemahatan kayu khas suku Maori.  Dengan cerdasnya, negara yang belum punya penulis dan produk buku yang mendunia ini, mengaitkan industri buku mereka dengan karya J.R.R Tolkiens berjudul The Hobbit dan Lord of The Rings. Padahal kaitannya hanya karena Selandia Baru menjadi lokasi syuting film berdasarkan dua buku fenomenal tersebut.

Selandia Baru pun tak tanggung-tanggung memboyong 67 penulis dan 69 senimannya untuk memeriahkan  FBF ini.  Tentunya upaya besar ini tidak akan menjadi sia-sia, dengan jumlah pengunjung puluhan ribu per hari.

Catatan prestasi Selandia Baru yang  mengedepankan tema while you were sleeping di FBF antara lain  kunjungan 67.500 orang ke paviliun mereka selama lima hari (25.000 orang saat dibuka untuk umum).
 Dari sisi promosi melalui media juga terbilang sukses, karena selama bulan Oktober 2012 telah terdokumentasi 9.000 kliping siaran pers. Tentu saja yang paling menggembirakan adalah bagi industri perbukuan mereka sendiri, yakni terjualnya hak penerjemahan 83 judul buku ke Bahasa Jerman.

Tahun ini, Brasil akan menjadi tamu kehormatan, disusul Finlandia pada 2014. Keduanya bisa pula dijadikan acuan agar kita bisa tampil maksimal.

Untuk persiapan, saya harapkan IKAPI sebagai ujung tombak di FBF kelak, melakukan beberapa hal:

1.  Memfasilitasi penerjemahan buku-buku nasional ke dalam bahasa Inggris (atau bahasa asing lainnya). Alangkah baiknya pemerintah bisa mendukung dari sisi pembiayaan. Sebab saya lihat, pemerintah Malaysia sangat getol dengan hal ini di setiap pameran buku International. Tentunya, buku yang difasilitasi adalah buku-buku yang memenuhi standart dan selera pasar Internasional.

2. Membentuk wadah agen literasi yang kemudian bertugas memasarkan judul-judul buku yang sudah diterjemahkan. Meskipun sebagian penerbit (besar) sudah memiliki, tapi masih banyak penerbit yang belum menemukan celah untuk memasarkan hak terjemahnya ke internasional. Padahal dengan semakin banyaknya buku nasional yang dipasarkan, akan makin banyak yang mengenal Indonesia. Dan ini akan berimbas ke sektor lain, seperti pariwisata.

3. Menunjuk orang-orang yang tepat menjadi duta literasi di FBF, baik penulis, desainer buku, illustrator, komikus, termasuk kritikus perbukuan.

4. Jika memang terbatas dengan sumber daya manusia yang mendukung, libatkan oraganisasi dan komunitas perbukuan nasional. Umumnya mereka sangat militan untuk mendukung kegiatan perbukuan Indonesia. Jangan sampai hanya karena  ‘kekuarangan orang’ akhirnya perencanaan program jadi kurang matang.

5. Beritakan program-progam yang akan diusung, agar masyarakat bisa ikut memberi masukan.

6. Ikapi juga harus menegaskan kepada pelaku industri perbukuan Indonesia, bahwa event ini bukan hanya untuk kepentingan satu-dua penerbit buku, tapi bermanfaat untuk seluruh insan perbukuan. Sehingga harus didukung oleh semua pelaku industri perbukuan nasional.

Sebagai insan perbukuan nasional, saya sungguh berharap kesempatan Indonesia di FBF 2015 dimanfaatkan semaksimal mungkin. Jika tidak, entah harus menunggu berapa lama lagi kita akan mendapat kesempatan ini.
OOO