Showing posts with label jakarta. Show all posts
Showing posts with label jakarta. Show all posts

Tuesday, October 21, 2014

Mengenal Sekilas Budaya Tiongkok di Candra Naya



Salah satu efek  jadi blogger adalah kemanapun saya pergi akan mencari obyek wisata terdekat untuk ditulis. Salah satunya adalah ketika saya harus mengikuti workshop literasi anak di Novotel Hotel, Jalan Gajah Mada, Jakarta, pada 13-16 Oktober 2014. Hanya beberapa langkah dari lobi hotel tersebut, saya melihat sebuah cagar budaya Candra Naya yang langsung menyedot perhatian saya untuk mendatanginya.

Semula saya mengira bangunan bergaya Tiongkok itu adalah vihara atau kelenteng. Ternyata, bekas rumah Major Khow Kim An, pemimpin masyarakat Tionghoa di Jakarta pada masa kolonial Belanda pada 1910-1916. Sebagian menyebutkan bangunan tersebut dibangunan oleh ayah Major Khow Kim An yakni Khow Teng Tjoan. Tapi ada juga yang menyebutnya bangunan itu sudah berdiri sejak masa kakeknya yakni Khow Tian Sek.

Sekitar tahun 1990-an saya sering ke daerah Kota dan melihatnya nyaris seperti bangunan lusuh. Lalu pada tahun 2000-an saya melewatinya dengan penuh khawatir karena mulai berdiri kerangka-kerangka tinggi di sekitarnya. saya berharap penuh bangunan dengan atap melengkung itu tidak dihancurkan. Sedihnya, saya malah mendengar bangunan yang memiliki struktur atap tou-kung itu malah akan dipindahkan ke Taman Mini. Untungnya tidak jadi.

Bila masuk dari bagian depan kita bisa melihat papan nama bangunan itu tertulis Candra Naya. Dalam bahasa Sanskerta yang saya tahu, Chandra berarti bulan, Naya berarti baru (lawannya: purana berarti lama). Ingin tahu sejarah lengkap Candra Naya, silakan baca informasi di dinding kanan, sementara tentang sang Major ada di sebelah kiri. 

Begitu masuk ke dalam saya seperti terlontar ke masa lalu, tepatnya bangunan di kawasan Pecinan era Jakarta bernama Batavia. Mungkin karena terpampang beberapa foto tentang masa lalu, juga aksara kanji Tiongkok.

Berdasarkan informasi yang tertera, Khouw Kim An lahir di Batavia pada 5 Juni 1879. Ia fasih berbahasa negeri Kincir Angin meskipun dididik di sekolah Hokkien. Khouw Kim An menjadi salah satu pendiri Tiong Hwa Hwe Kwan Jakarta yang berdiri pada 1900, dan pada 1905 ia diberi pangkat letnan oleh Belanda.

Pada 1908 Khouw Kim An dipromosi menjadi kapten, dan kemudian naik lagi menjadi mayor pada 1910. Karena itulah Candra Naya dulu disebut sebagai Rumah Mayor.

Khouw Kim An sempat tinggal di Bogor sebelum menempati rumah warisan ayahnya itu pada 1934. Selain sebagai pengusaha, Khouw Kim An juga menjadi pemegang saham Bataviaasche Bank.

Pada masa pendudukan tentara Jepang, Khouw Kim An ditawan dan meninggal di kamp konsetrasi Jepang pada 13 Februari 1945. Ia dimakamkan di dekat kompleks pemakaman keluar Khouw di Jati Petamburan.

Diperkirakan, jika bukan dibangun pada tahun kelinci 1867 oleh Khouw Tjeng Tjoan, maka Candra Naya dibangun Khouw Tian Sek pada tahun kelinci 1807 untuk menyambut kelahiran puteranya pada 1808.

Perkiraan dibangunnya Candra Naya pada tahun kelinci itu berasal dari adanya sebuah lukisan di dalam gedung dengan tulisan dalam bahasa Cina dengan karakter Han yang berarti “Pada musim gugur di tahun kelinci”

Menurut petugas kebersihan yang saya tanya, selain sebagai tempat pameran, bangunan ini  ini juga kadang dijadikan tempat pertunjukan Wayang Potehi.

Sekitar 1946 berdiri Sin Ming Hui (Perkumpulan Sinar Baru) dan menyewa gedung Candra Naya ini sebagai pusat kegiatannya. Diantara kegiatan yang dilakukan perkumpulan ini adalah mendirikan klinik yang kemudian berkembang menjadi Rumah Sakit Sumber Waras.

Di tempat ini juga pernah digelar kejuaraan  bulutangkis pertama yang diadakan Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia, kompetisi bilyar dan angkat berat pertama di Jakarta, serta sebagai tempat belajar seni beladiri kung fu.

Candra Naya juga pernah digunakan sebagai tempat pendidikan oleh Sin Ming Hui dari mulai jenjang SD, SMP, SMA, dan kemudian berkembang dengan adanya Universitas Tarumanegara. Para fotografer juga pernah menggunakan gedung ini sebagai tempat mereka berkumpul.

Pada 1965, Sin Ming Hui berganti nama menjadi “Perkoempoelan Sosial Tjandra Naja” atas saran Lembaga Pembina Kesatuan Bangsa. Dari tahun 1960-an hingga 1970-an Candra Naya menjadi tempat pesta pernikahan kaum kelas atas.

Hal yang membuat saya betah di dalam Candra Naya adalah sejumlah kaligrafi Cina berisi kalimat-kalimat positif. Selain itu juga terdapat hiasan dinding berwujud panglima perang dan puteri-puteri cantik Tiongkok. Tak ketinggalan lukisan Dewi Kwan Im dan sederet topeng karakter yang saya tidak kenal tapi membuat saya terhanyut suasana. Rasanya tidak bosan menikmatinya. Sayang, karena informasi yang kurang dalam bahasa Indonesia, banyak hal yang saya tidak mengerti.


Candra Naya tidak hanya dikenal di dalam negeri, namun juga dikenal di kawasan regional Asia Tenggara dan internasional. Candara Naya merupakan bagian terpadu dari Green Central City, superblock yang dibangun oleh PT Bumi Perkasa Permai.

Setelah kembali ke masa kini begitu ke luar Candra Naya, saya pun menyesuaikan diri di sayap kanan Candra Naya. Di sana terdapat caffe Oey yang menyajikan aneka hidangan peranakan.

Menyenangkan juga bisa mampir ke Candra Naya di sela kesibukan mengikuti workshop. Betul seperti kata penulis traveling Agustinus Wibowo,” Traveling tidak harus pergi jauh.”  Bahkan hanya beberapa langkah dari lobi hotel menginap.

follow me: @bennyrhamdani_

Wednesday, September 18, 2013

Asyiknya Ikutan Test Drive Chevrolet Spin


Team Maroon Five (foto: Benny Rhamdani)


Ogah rugi’ adalah nama tengah saya. Setiap kali mengikuti acara off-air, semaksimal mungkin  menggali banyak ilmu dari peserta yang hadir. Termasuk ketika mengikuti acara yang digelar Kompasiana ‘ Test Drive Chevrolet Spin’ pada Sabtu (14/9). Sehingga, jika kalah memenangkan lombanya, saya masih mendapat manfaat lain dari acara ini.

Bermula ketika panitia mulai mengumumkan grup 5 yang akan masuk dalam satu mobil di depan Bentara Budaya Jakarta. Selain saya, disebutkan pula nama kompasianer lainnya, yakni Dzulfikar Alala yang sudah saya kenal karena beberapa kali menjuarai lomba ngeblog, Mercy yang beberapa saat sebelumnya menyebutkan dirinya mantan wartawan Kompas, dan Ev Simanungkalit yang tampak pendiam tapi rajin senyum. Dan,  diumumkan pula satu admin Kompasiana yang akan bergabung, yakni Nurul.

Kami kemudian mendapat jatah mengendarai Spin warna Maroon. Saya nggak nyangka kalau  akan mendapat mobil yang warnanya senada dengan t-shirt yang saya kenakan. Tapi sejak saya melihat beberapa mobil  Spin di parkiran Gedung Oren, saya sudah naksir warna yang satu ini. Bahkan Mercy sudah menyimpan tas berisi amunisi di bagasinya. Kami pun sepakat menamakan grup kami Maroon Five.

Briefing sekaligus pembagian kelompok.
(foto: Benny Rhamdani)
Sebelum berangkat kami memutuskan Dzul yang berprofesi guru Bahasa Inggris  untuk nyetir pertama kali. Saya sih setuju, karena melihat pengalamannya mengikuti acara test drive. Begitu mobil mulai berjalan di gigi pertama, kami mulai mereview fitur-fitur mobil. Standar saya sebagai penumpang yang awam dunia otomotif adalah jika bisa duduk di atas jok dengan nyaman, lalu merasakan embusan freon AC, juga menikmati  suara musik yang merdu itu sudah cukup. Kalau urusan laju kendaraan, saya pikir itu menyangkut skill pengemudinya. Dan saya menilai standar itu semua sudah memenuhi harapan.

Setelah masuk pintu tol  Slipi, kami pun mulai buka-bukaan profil masing-masing. Dari Mercy, pengetahuan saya tentang home schoolling bertambah. Dari Dzul yang lebih dulu nyemplung di dunia blogger, saya banyak mendapat trik memenangkan lomba, sampai tip pergaulan sesama blogger. Maklum, Dzul menurut saya sudah masuk kategori blogger seleb.

Yang menarik adalah obrolan dari admin Nurul. Beruntunglah saya karena dapat beberapa bocoran tentang tips posting di Kompasiana, juga info-info menyangkut penyelengaraan lomba nulis di Kompasiana. Walau sedikit berbau curcol di sana-sini, saya selalu menyimak kata-kata admin yang masih pengantin baru ini.

Di sini kami semakin akrab, dan obrolan sempat mengalihkan kami memerhatikan speedometer. Benar-benar tidak nyadar kalau kami sudah melewati kecepatan 95 km/jam. Tak ada getaran dan goyang yang kami rasakan.

Di Cawang, sebelum masuk ke tol jagorawi, kami sempat melihat salah satu mobil peserta mengambil jalur ke tol Cikampek. What’s wrong?

Baru nyadar mesinnya diesel.
(foto: Benny Rhamdani)
Tak terasa 45 menit berlalu. Spin yang kami tumpangi tiba di titik kumpul pertama yakni rest area Sentul. Yang jadi bahasan kami saat turun adalah bagaimana rasanya peserta lain mengendarai Spin yang berbahan bakar solar.

“Lho, mobil kita kan pakai solar,” jelas Dzul.

Saya kaget. Hampir nggak percaya karena selama perjalanan saya nggak merasakan getaran seperti kalau naik mobil berbahan bakar solar. Dzul pun menujukkan pintu tanki bahan bakar. Ya, ternyata solar! Dan itu saya percaya benar-benar ketika mendengar suara mesin mobil dinyalakan dari luar.

Setelah istirahat sejenak, kami berganti supir. Kali ini giliran Ev Simanungkalit yang oleh panitia di daftar lolos peserta ditulis Simangkulangit. Ernest, begitu panggilannya, tampak kalem saat mulai mengemudi.

Mobil pun melaju ke Bogor, dan begitu masuk kota yang disesaki angkot ini, kami mulai bersiaga agar tidak salah jalur. Peta petunjuk jalan tidak dipakai. Kami memilih mengikuti mobil tim survey panitia yang beda merk.  Makin menuju pinggir kota Bogor, jalan makin menyempit.  Apalagi ketika hendak ke lokasi wisata Gunung Salak Endah, jalan makin menanjak. Setidaknya ada dua belokan patah yang cukup sulit dilalui, apalagi jika berpapasan kendaraan dari lawan arus.

Hanya 100 meter menjelang garis akhir, mobil yang kami tumpangi sempat slip ditanjakan dan tikungan tajam. Ernest berusaha dengan tenang menyelesaikan masalah. Beberapa kali usahanya untuk maju gagal. Untunglah rem tangan kendaraan kami berfungsi baik sehingga mobil kami tidak sampai merosot ke jurang.  Terus terang, kalau saya mungkin sudah akan kebanjiran keringat, lalu minta tolong panitia menggantikan saya :P.


Akhirnya, dengan cara berkelak-kelok cepat, mobil kami lolos ke track yang kami tuju. Kami pun memarkirkan mobil, lalu ke luar mencuci paru-paru dengan udara yang benar-benar segar.

Istirahat Bermanfaat

Usai makan dengan lauk pauk yang bikin perut kekenyangan, kami mendapat materi product knowdlege dari Kompas Otomotif (Materi yang disajikan akan saya tulis terpisah). Saya superserius memerhatikan karena berikutnya yang akan mengemudi adalah saya.

Pada sesi penyerahan doorprize, saya kaget waktu disebut masuk tiga orang yang aktif ngetweet selama perjalanan. Rasanya sih hanya dua tweet. Kalau pemenang lainnya—Syaifudin Sayuti dan Haris Maulana—memang sudah beken sebagai tukang ngetweet di banyak acara.

Kami kemudian diizinkan membuat acara bebas di sekitar Curug. Sebenarnya saya sudah membawa pakaian salin, tapi kemudian saya batalkan niat mandi di bawah air terjun karena nggak kebayang harus membawa pakaian basah di ransel. Sedangkan dari Jakarta nanti saya harus naik bis umum.

Mau motret pun tidak bisa karena satu gadget sudah dalam kondisi mati, satu tab dalam kondisi sekarat yang saya pakai untuk komunikasi dengan isteri, dan kameran pun ternyata sudah habis batere. Akhirnya, cuma bisa nguping perbincangan teman Kompasianer sambil berdoa hujan tidak turun.

Kebablasan


Doa saya nggak dikabulkan. Hujan turun bersaaman dengan waktu kami kembali ke Jakarta. Saya pun masuk ke Spin  bersama anggota Maroon Five lainnya. Saya berdoa berulangkali, karena inilah pengalaman pertama saya ikut acara test drive, pertama mengemudikan mobil bermesin diesel, pertama kali mengendarai mobil model Amerika, dan pertama kali nyupir dari gunung di Bogor.

Saat iring-iringan mulai berjalan beberapa meter, tiba-tiba terdengar bunyi alarm. Ya, ampun karena sempat berhenti tadi, rem tangan lupa diturunkan. Pantesan tadi terasa berat. Untung ada bunyi alarm. Penting banget yang sudah masuk usia pikun kayak saya.

Mobil pun kemudian menuruni jalan kecil yang menurun. Beberapa kali harus menepi karena berpapasan dengan bus dan mobil lain dari arah berlawanan. Belum sampai jalan raya, hujan turun dengan derasnya. Saya mulai mencari cara agar wiper bergerak lebih cepat. Tapi tuas di kiri stir sudah diputar dan ditarik seperti saran Dzul masih bergerak lambat.

Duh, padahal hujan makin lebat dan jarak pandang semakin terbatas. Saya pun memutuskan mengikuti lampu mobil di depan saja. Sampai tiba-tiba saya menarik tuas, dan … berhasil! Wiper bekerja cepat menghapus air hujan di kaca depan.

Saya sempat menjajal kehandalan kopling di gigi satu dan dua. Maksud saya, bagaimana kalau perpindahannya nggak mulus? Tenyata nggak se’ndut-ndutan’ mobil yang saya biasa pakai. Artinya, kalau pengemudi pemula yang memakai, tidak akan terlalu mengkhawatirkan bagi penumpang.

Di tengah jalan, dua mobil peserta di depan kami mengambil jalan berbeda. Ada yang lurus, satu lagi belok. Saya ambil yang belok. Ternyata itu salah. Akhirnya saya harus mutar balik. Di sinilah saya harus menguji persneling spin yang tuas mundurnya sangat Amrik banget. Posisinya tidak dimentokkan ke kanan lalu tarik ke belakang, melainkan menarik tuas dulu kemudian ditarik seperti masuk gigi pertama.

Agak kerepotan juga karena belum terbiasa, ditambah arus lalu lintas yang macet. Tapi saya bersyukur bisa melaluinya dengan selamat (tepuk tangan nggak dilarang, lho). Setelah itu, tak ada lagi mobil peserta lain yang saya ikuti. Akhirnya insting saja bekerja. Cari jalan masuk pintu tol. Dan rupanya sangat macet luar biasa. Sampai-sampai tiga pria di belakang tertidur. Sedangkan AC mobil di depan kenapa mati ya? Saya sampai ngoprek semua yang ada di dashboard, tapi tetap kepanasan.  Akhirnya saya putuskan buka jendela karena hujan mulai mengecil.

Lolos kemacetan dan masuk tol, Nurul dapat telepon agar  masuk rest area untuk ganti pengemudi. Nurul bilang akan sampai dua kilometer lagi. Tapi selidk punya selidik, kami masuk ke tol dari pintu yang berbeda dengan lainnya. Dan kami sudah melaju jauh menembus tol Jagorawi. Untunglah ini bukan acara Amazing Race yang akan membuat kami kalah telak. Kami boleh istirahat di manapun suka. Tepat saat azan magrib berkumandang kami istirahat di  Rest Area Km 21 Gunung Putri.

Sambil ngopi-ngopi kami bertukar pengalaman lagi. Hampir lupa waktu. Tapi saya ingat masih harus melanjutkan perjalanan ke Bandung, jadi saya minta segera beranjak.

Berikutnya adalah Mercy yang mengemudi. Meskipun pernah punya pengalaman ditabrak truk di jalan tol, kompasianer wanita satu-satunya di mobil kami ini mengendarai Spin dengan santai. Bahkan saat menyisi ke kiri di tengah kemacetan Pancoran  pun terasa halus.

Di sinilah saya turun untuk lanjut ke Bandung. Saya merasa lega karena melewati hari dengan segudang pengalaman baru, wawasan, dan tentu saja … teman. Semoga tim Maroon Five bisa kembali kumpul dalam satu grup di acara darat Kompasiana lainnya. Aamin…

OoOoO

repost dari: http://teknologi.kompasiana.com/otomotif/2013/09/17/segudang-manfaat-dari-test-drive-chevrolet-spin-590718.html