Showing posts with label Jogja. Show all posts
Showing posts with label Jogja. Show all posts

Friday, April 8, 2016

Lima Alasan Hotel di Jogja ini Cocok Untuk Blogger



Maret lalu saya diundang mengikuti acara Ngobrol MPR dan Netizen di Jogja. Tepatnya di Hotel Eastparc Jalan Adisucipto. Sebagai blogger, Terus terang saya merasa senang sekali dengan hotelnya. Paling tidak, saya mencatat lima hal yang bikin saya betah dan ingin kembali lagi.

Akses Bandara Adisucipto

Menurut saya yang berangkat dengan penerbangan ke acara tersebut, hotel ini mudah diakses dari Bandara Adisucipto Jogja. Saya bisa naik Trans Jogja langsung dari bandara, walaupun kemudian harus berjalan sedikit.  Naik taksi pun relatif terjangkau.





Teras Mood Booster

Tidur di kamar hotel sih mungkin sudah standar. Tapi nggak semua hotel punya teras yang bisa jadi mood booster. Saya suka teras kamar di hotel ini. Apalagi dengan view sekitar kolam renang yang asri. Sungguh memancing kita untuk berkarya di blog masing-masing. Ditambah lagi jaringan wifi yang kencang sehingga makin menunjang untuk ngeblog.



Kolam Segar

Hotel Eastparc juga memiliki kolam renang ukuran sedang. Nyaman untuk dipakai untuk melakoni olahraga renang.Air kolamnya tidak terlalu pekat kadar kaporitnya. Yang jelas mau beernang jam berapa pun tetap asyik basah-basahin di sini. Buat seorang blogger penting untuk menjaga kesehatan, kan?




Representative Hall

Terkadang membuat acara blogger di ruang hotel terasa tidak nyaman justru karena telalu mewah. Tapi di sini tidak demikian. Hall terasa bersahaja sehingga blogger di saat acara tetap merasa enjoy. Colokan untuk ngecharge pun cukup tersedia karena inilah hal paling penting untuk para pemilik gawai.

Hidangan Terbaik

Yang tidak kalah penting bagi blogger di sebuah hotel adalah retorannya. Fan di sini, restonya menyajikan hidangan terbaik. Baik makanan lokal maupun luar. Saya sendiri senang tersedia pojok jamu di sini.




Sunday, March 20, 2016

Mencicipi Lezatnya Nasi Pecel Gumilang di Jogja




Pagi itu saya menapaki Jalan Laksda Adisucipto KM6,5, Yogyakarta,  dengan perut lapar belum sarapan. Tujuan saya Eastparc Hotel sudah di depan mata. Tapi sebuah kedai pecel dengan sejumlah motor dan mobil yang parkir di depannya membuat arah langkah saya berubah.

Saya menghampiri kedai Pecel Pincuk Gumilang itu, dan ternyata di dalamnya lumayan ramai. Mungkin sekitar 12 orang sedang asyik makan di kedai yang tak seberapa luas. Seorang ibu duduk di jongko melayani sejumlah pembeli, baik yang dibawa pulang maupun makan di tempat.

Saya harus bersabar menunggu sekitar sepuluh menit karena rata-rata yang membeli untuk dibawa pulang minimal memesan tiga bungkus. Bayangkan jika satu pesanan menghabiskan waktu 1,5 menit saja.

Waktu sepuluh menit saya pakai untuk melihat pesanan sejumlah pembeli. Akhirnya saya tahu lauk untuk teman pecalnya. Ketika saya iliran ditanya, saya pesan nasi pecal ditambah telur dadar dan empal.

Ibu yang melayani dengan cekatan memenuhi pesanan saya. Manakan disajikan di atas tatakan anyaman bambu dan beralas daun pisang. Suka sekali dengan penyajian yang tradisional ini. Begitu terhidang, saya langsung menyantapnya.

Saya merasa bagian yang terenak dari nasi pecel ini adalah bumbu pecelnya.  Selain itu empal dan peyeknya juga melengkapi kelezatan kuliner ini. Pembeli juga bisa memilih minuman di sini, tapi saya pilih teh manis dingin saja.

Pak Wawan, 49 tahun, pemilik kedai ini mengaku sudah membuka usahanya hampir enam tahun. Setiap hari dia membuka kedainya mulai pukul enam pagi hingga duabelas siang. “Rata-rata pembeli di sini sudah umur duapuluhlima tahun ke atas. Jarang anak muda mampir.  Kecuali yang mengantar atau diajak orangtuanya,” kata Pak wawan.

Dalam sehari Pak Wawan mampu menjual hingga 200-250 porsi dengan harga perporsi tergantung pesanan. Porsi saya yang lebih dari komplet termasuk es teh manis dihargai Rp20.000. Silakan hitung omsetnya setiap hari.

Jika melihat Pak Wawan selalu menyapa ramah pelanggan yang turun dari mobil, motor maupun jalan kaki, tampak rata-rata sudah dikenalnya. “Kebanyakan yang datang ke sini memang pelanggan sejak bertahun-tahun,” jelasnya.

Pak Wawan mengungkapkan rahasia kelezatan nasi pecelnya. “Rahasianya, bumbunya kami buat sendiri. Bumbunya memang ala Blitar, tapi sudah disesuaikan dengan lidah orang Jogja. Sebab kalau bumbu asli Blitar itu pedas sekali, dan orang Jogja kurang suka,” tandasnya.

Thursday, October 15, 2015

Mencicipi Makanan Lokal di Dua Tempat Kuliner Jogja




Akhir pekan lalu saya tiba di Jogja, dan langsung dijemput Ketua Jurusan Diploma Jurusan Ilmu Perpustakaan Bu Marwiyah bersama keluarganya. Untunglah saya nggak langsung dibawa ke penginapan mengingat di kereta tadi saya nggak berselera makan siang.

Saya diajak menuju ke Resto Merapi yang lokasinya tepat di depan bangunan SMAN 3 Jogja. Suasananya relatif sepi. Hanya ada sepasang tamu di dalamnya. Mungkin karena masih terbilang baru. 


Sebelum duduk saya memilih menu, dan pilihan saya langsung jatuh ke pecel Jogja. Saya harus menahan diri untuk mencicipi daging-dagingan merah selama di luar kota. Kalau darah tinggi saya naik terus kan berabe. Sebagai teman makan  saya memesan teh manis dingin.

Tidak lama kemudian pesanan saya datang. Tumpukan sayur mayur itu langsung membuat selera makan saya muncul. Sekilas saya melihat porsi nasi yang relatif banyak. Tapi ya dicoba saja pelan-pelan untuk dihabiskan.

Saya suka bumbu pecel Jogja yang tidak terlalu encer tapi tidak juga kental. Pas. Rasanya juga pas di lidah, walaupun sebenarnya saya lebih cocok bumbu pecel Madiun. Peyek kacang yang menemani juga terasa gurih dan renyah.

Tak berapa lama pecel pun habis. Nasinya juga. hehehe. Cuman rasanya saya pilih minumannya. Rasanya lebih cocok makan pecel jika tehnya tidak manis dan tidak pakai es alias teh tawar hangat. Oke deh, kakak. Nanti kalau ke sini lagi, saya akan coba menu lainnya ya.

Jadah Bakar Leker





Malam kedua di Jogja saya diajak oleh Mak Labibah, dosen merangkap blogger beken, ke kawasan XT Square. saat turun dari mobil saya agak curiga. Kok sepi ya? Ternyata memang tempat tersebut lebih pas dikunjungi di atas pukul sembilan malam. Saat live music mulai berkumandang.

Akhirnya kami memilih salah satu kedai dan pilihan menunya yang saya langsung inginkan adalah mie godok Jogja dan jadah bakar. Kalau mi godok Jogja sih memang udah jadi favorit saya dari dulu. Tapi jadah bakar tuh baru.



Jadah bakar ini mengaingatkan saya dengan ketan bakar khas Lembang. Tapi yang ini nggak ditemani sambel oncom. Malah ada varian yang dipakaikan keju atau cokelat. Saya lebih suka yang original saja. Teman minumnya tentu saja saya pilih secangkir kopi gayo. Hahaha pokoknya Aceh ketemu Jogja.

Mie godok Jogja saya ludeskan dengan waktu singkat. Entah mengapa, saya suka banget ya kuah mie jogja ini. Apalagi ada cabe rawit utuh sebagai ranjau penyedap. Jadi nggak perlu dikasih sambel instan.



Untuk jadah bakarnya saya juga suka. Hanya kalau dibandingkan dengan ketan bakar lembang sih masih lebih suka ketan bakar lembang. Soalnya aroma sangit bakarnya lebih menggoda. Kalau ini bakarannya masih halus.

Nah, karena waktu sudah larut malam, kami pun bergegas pulang. Kebetulankami melewati kedai kopi yang bikin saya ingin mampir. Hmm, mungkin kunjungan berikutnya ya.