Monday, January 19, 2015

Tips Berlanja Murah Kain Tradisional Bali di Pasar Klungkung



Harga kain tradisional asli Bali di pasar ini terbilang murah. Tapi kalau mau dapat yang lebih murah, ada tipsnya lho.


Bagi pecinta kain tradisional, belum lengkap rasanya bila datang ke Bali tapi tak bertandang ke Pasar Klungkung. Sebab di sinilah pusat penjualan paling terkenal kain tenun Bali yang menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM). Tidak terlalu sulit untuk mencapai Pasar Klungkung. Letaknya di Jalan Diponegoro, kota Semarapura, sehingga tak jarang masyarakat setempat  menyebutnya Pasar Semarapura. Tepatnya, di seberang Taman Kerta Gosa yang sohor itu.


Setelah melewati gerbang yang relatif kecil, saya menemukan lahan luas terbuka yang dipenuhi kios-kios alat upacara adat di sisi kiri. Terlihat ramai, lantaran saya datang menjelang Hari Raya Galungan. Beberapa dagangan berupa pernak-pernik dekorasi dari daun lontar meluber hingga ke badan jalan.

Sementara di sisi kanan, terdapat area khusus untuk lapak-lapak yang menjual perhiasan, terutama perak. Namun terlihat sepi dan beberapa kios tutup.



Saya kemudian masuk ke bangunan utama Pasar Klungkung, dan saya segera sadar akan memasuki kawasan yang dipenuhi kios-kios kain. Jangan mencari baju barong atau kain pantai seperti di Pasar Sukowati. Di sini bukan tempatnya. Hanya beberapa kios yang menjual dalam jumlah sedikit.

Di Pasar Klungkung, menu utama dagangannya adalah kain-kain tradisional. Mata saya pun terbelalak melihat keindahan corak kain yang dipajang di setiap toko.  Sehelai corak rarang yang sedang ngetrend, bisa dijual dari harga Rp.500.000 hingga Rp2.000.000. Tapi jangan khawatir, semua harga di sini bisa ditawar. Bukankah tawar menawar adalah seni menarik belanja di pasar tradisional.

Lantaran saya tidak pandai menawar, saya urung membeli sehelai kain sutera bermotif rarang. Target saya kemudian beralih mencari kain endek ukuran selendang untuk isteri di rumah. Akhirnya saya memilih endek berwarna putih. Ketika saya tanyakan harganya, kok murah sekali. Menurut pedagangnya, karena bahannya dari katun biasa. Akhirnya, pedagang itu memilihkan endek putih lainnya dari bahan sutera.

Setelah tawar menawar, akhirnya saya bisa mendapatkan harga di bawah Rp.100.000. Yes! Rasanya senang sekali jika berhasil menawar barang yang kita inginkan.

Target berikutnya, saya mencari kemeja putih model safari yang sering dipakai warga Bali untuk upacara keagamaan. Setelah menyusuri beberapa kios, saya gagal menemukan ukuran yang cocok dengan tubuh saya (melirik perut). Ada beberapa kemeja putih yang ukurannya cocok, tapi modelnya seperti baju muslim yang mudah ditemukan di kota tempat tinggal saya, Bandung.

Semula saya juga ingin membeli udeng, ikat kepala khas Bali. Tapi setelah ingat di rumah sudah punya hasil membeli di Ubud beberapa tahun silan dan belum pernah dipakai, saya membatalkannya.

Terakhir, saya membeli beberapa kain ikat dan pakaian untuk oleh-oleh keluarga. Wuah, tidak sadar menghasilkan dua kantung kresek besar ketika berjalan meninggalkan Pasar Klungkung.

Oh iya, saya sempat juga melihat bagian belakang pasar yang ternyata dipadati los-los penjual kebutuhan sehari-hari masyarakat Klungkung. Ternyata pasar ini tak hanya menjual kain.


Tips Belanja




Nah ini, ada saran bagi  yang ingin belanja di Pasar Klungkung. Semoga berguna.

1. Kain di Pasar Klungkung bukan jenis kain untuk sehari-hari, tapi untuk upacara ataupun perayaan tertentu. Secara kualitas pun jauh di atas jenis kain untuk pakaian sehari-hari. Apalagi ditenun dengan ATBM dan menggunakan sutera alam. Jadi sangat wajar bila harga kain di atas rata-rata untuk keperluan sehari-hari.

2. Pelajari lebih dulu jenis-jenis kain Bali sebelumnya akan lebih baik. Begitu pula motif yang sedang trend. Biasanya, semakin trend motifnya, makin mahal.

3. Jangan ragu untuk bertanya soal kualitas kain. Misalnya, gampang luntur atau tidak, cara merawatnya dan lain sebagainya. Pedagang dengan senang hati akan menjelaskannya.

4. Jika datang dari luar Bali, cobalah datang bersama teman yang orang Bali agar lebih mudah bertransaksi. Tapi jangan lantas berharap mendapat harga murah, karena tidak semua orang Bali juga pandai menawar.

5. Coba browsing kisaran harga kain tenun Bali dengan cara apapun. Salah satunya berkunjung ke toko-toko kain di Bali ataupun online. Harga di Pasar Klungkung bisa dipastikan di bawah harga tersebut. Apalagi jika membeli dalam jumlah banyak karena sebenarnya beberapa kios merupakan pedagang grosiran.

6. Sedikit bersabar sebelum memutuskan membeli. Menawar dan membandingkan harga dengan gerai lainnya wajib dilakukan. Karenanya, jangan berharap harga murah jika waktu yang dipunya sangat sempit.

7. Harga di pagi hari ketika kios baru dibuka biasabya lebih murah.

Selamat berburu dan berbelanja kain tradisional Bali di Pasar Klungkung.

^_^

foto-foto: Benny Rhamdani

Sunday, January 18, 2015

Pasar Tradisional Ramah dan Segar di Sanur Bali



Orang-orang menyebutnya Pasar Sindu, tapi di papan nama tertera Pasar Ramah dan Segar. Menarik juga ternyata isi pasar tradisional satu ini.

Pagi telah menunjukkan waktu pukul enam saat kaki melewati gerbang Pasar Sindu Sanur, Bali. Keramaian terlihat dari lalu lalang motor dan pejalan kaki di pelataran pasar. Beberapa pembeli tampak ke luar dari dalam pasar dengan belanjaannya.


Ini adalah pengalaman pertama saya memasuki pasar tradisional di Bali, selain Pasar Sukowati yang terkenal dengan aneka oleh-olehnya itu. Rasa takjub langsung terasa ketika melihat suasana pasar di dalam yang begitu tertata rapi, meskipun ramai. Aroma dupa pun menyeruak dari sesajen di tiang-tiang tinggi yang berdiri di setiap kios. Benar-benar pemandangan yang unik lantaran saya belum pernah melihat hal seperti ini.



Saya termasuk senang masuk ke pasar tradisional. Karena suasananya sangat humanis jika direkam oleh kamera foto. Belum lagi suara tawar menawar antara pedagang dan pembeli. Benar-benar hidup. Tentunya, pasar tradisional sekarang berbeda sekali dengan pasar ketika saya masih kecil.


Pasar tradisional sekarang jauh lebih bersih. Meskipun kita berada di dekat los daging yang biasanya becek disertai bau anyir, namun  tetap nyaman, seperti  di Pasar Sindu ini.

Tidak heran jika pasar ini terlihat lebih nyaman dibandingkan sebelumnya, biaya untuk merevitalisasinya saja mencapai Rp3,4 milyar. Dana tersebut murni bersumber dari swadaya masyarakat dan Yayasan Pembangunan Sanur. Pasar ini kemudian diresmikan kembali pada tanggal 4 Agustus 2010 oleh Marie Elka Pangestu saat menjadi Menteri Perdagangan RI.

Saat itu Marie Elka Pangestu  menginginkan pasar tradisional seperti Pasar Sindu lebih dikenal dengan nama pasar ramah dan segar. Ramah berarti masyarakat dapat berinteraksi saling tawar menawar secara ramah, dan segar masyarakat yang berjualan menyediakan bahan pokok yang segar.



Tentang Ramah, menurut saya memang terasa sekali ketika berjalan-jalan dan membeli barang di Pasar Sindu. Setidaknya setiap saya minta izin memotret, mereka mempersilakan dengan ramah. Mereka juga mau meladeni saya bercakap-cakap walau tak membeli.

Bu Pasti, salah satu penjual bunga-bunga sesaji malah langsung bercerita ketika saya bertanya tentang dagangannya. “Saya jualan bunga di sini sudah 12 tahun. Waktu itu pasarnya belum seperti ini. Sekarang sudah lebih bagus,” jelasnya dengan logat Bali


Lalu, seorang ibu setengah baya memintanya membungkuskan bunga campur seharga limabelasribu rupiah. Ada lagi seorang ibu yang menawar hiasan untuk penjor. Dia pun langsung sibuk meladeni pembeli.

“Mau hari raya Galungan, jadi banyak yang beli untuk perlengkapan upacara,” kata Bu Pasti.



Saya pun berterima kasih lalu melangkah ke tempat lainnya.

Pasar Sindu berdiri di atas lahan seluas 51 are untuk menampung 361 pedagang yang sebagian besar merupakan masyarakat lokal. Dari jumlah tersebut 150 ditampung los dan 78 menempati toko, sisanya pedagang musiman. Pedagang los ditata sesuai dengan jenis dagangan yang dijual sehingga masyarakat lebih mudah untuk berbelanja. Penataan los  sesuai dengan jenis dagangan juga  dapat mempermudah menjaga kebersihan pasar.


Di pasar ini ditata menjadi tiga  los utama.  Ada Los A untuk para pedagang yang menjual alat upacara dan buah-buahan. Los B untuk pedagang sembako dan jajanan Bali. Sedangkan los C untuk pedagang yang menjual daging dan ikan.

Seperti umumnya pasar tradisional, barang yang dijual memang terlihat masih segar, baik bunga, buah, sayur maupun daging. Cocok jika Pasar Sindu ini menyandang gelar pasar ramah dan segar. Tak heran pula jika Pasar Sindu ini sering dijadikan rujukan untuk revitalisasi pasar-pasar lain di wilayah Bali.

Setengah Hari


Mengamati kesibukan para pedagang Pasar Sindu ini memang mengasyikan. Ada pedagang yang sibuk meladeni pembeli, pedagang yang sembahyang di sudut pasar, bule-bule berbelanja buah, bahkan ada juga pedagang yang menjahit.


Bu Agung pemilik toko alat sembahyang tampak tekun membuat saku untuk menyimpan perak dari kain bercorak hitam putih kotak. Dia memiliki dua toko di Pasar Sindu, satu toko lagi di pasar lainnya. Menurut Bu Agung, tokonya sedang sepi dari pembeli sehingga dia memilih mengisi waktu dengan menjahit. “Agak siang sedikit biasanya ramai,” ucapnya.

Pasar Sindu bukan jenis pasar tradional yang buka sepanjang hari.  Sekitar pukul duabelas sampai satu siang, pasar sudah ditutup. Sayangnya Pak Nyoman, petugas Satpam yang saya tanyakan tidak bisa menjelaskan alasannya. Namun, menurut saya cukup efektif juga untuk menjaga Pasar Sindu tetap bersih, karena jumlah sampahnya tidak menggunung jika dibuka terus menerus.


Uniknya, kawasan sekitar Pasar Sindu ini menjelang pukul enam sore akan kembali ramai. Kali ini berbeda dengan suasana di pagi hari. Pasar Sindu berubah menjadi pusat jajanan malam hari. Banyak tersedia aneka jajanan, termasuk makanan halal untuk wisatawan muslim. Pasar  jajanan ini buka hanya sampai pukul sepuluh malam.

Saya juga melihat turis-turis asing ikut menyantap makanan kaki lima yang ada di Pasar Sindu.


Potensi Wisata



Dengan kekhasan yang ada pada masyarakat Bali, Pasar Sindu sangat potensial menjaring wisatawan yang sedang berkunjung ke Sanur. Terutama untuk wisatawan yang ingin membeli jajanan kaki lima khas setempat.

Selain itu, los buah-buahan juga menjadi favorit wistawan asing yang ingin tahu lebih banyak tentang buah-buahan lokal, seperti salak, manggis, dan lainnya.

Selama saya berada di Sanur, informasi tentang Pasar Sindu sebagai pasar tradisional kurang diinformasikan. Saya baru mendapatkannya ketika browsing di Internet. Seandainya informasi melalui brosur di hotel-hotel tersedia, kemungkinan besar turis asing yang singgah akan lebih banyak lagi. Apalagi jika disediakan bus pulang pergi ke lokasi pasar.

Jadi, sebelum beraktivitas liburan di Pantai Sanur, tidak ada salahnya berwisata ke Pasar Sindu yang unik ini.



^_^

Foto-foto: Benny Rhamdani