Showing posts with label bali. Show all posts
Showing posts with label bali. Show all posts

Tuesday, June 26, 2018

Rasakan Indahnya Malam Pertama di Bali Itu Mudah dan Murah, Begini Caranya

Honeymoon tertunda sambil anniversary enaknya ke Bali.
(Foto: Benny Rhamdani)

Bulan madu alias honeymoon masih jadi impian banyak pasangan. Bukan hanya bagi yang akan menikah. Buat yang sudah menikah tapi nggak sempat melakukan honeymoon pasca resepsi pernikahan juga. Contohnya, ya kayak saya ini.

Pasalnya, nggak semua orang benar-benar bisa mengadakan honeymoon segera setelah menikah sesuai impian mereka. Selain karena waktu yang sering tidak cocok dengan kesibukan pasangan yang biasanya sedang meniti karir. Juga kondisi keuangan yang tak memungkinkan lantaran tersedot biaya pernikahan dan keperluan lainnya yang lebih prioritas.

Tapi, nggak perlu khawatir. Kita kan masih bisa membuat honeymoon yang tertunda. Bulan madu yang lebih terencana dengan baik dan lebih siap. Kalau bisa sih, berdekatan dengan perayaan anniversary pernikahan, biar benar-benar terasa seperti habis menggelar pernikahan.

Saya sendiri pengen sekali bisa bulan madu bersama istri ke negeri impian saya, yakni India. Kayaknya seru, bisa ke Kashmir, Simla, Goa, sampai ujungnya merayakan anniversary pernikahan di Taj Mahal. Cuman ya, terlalu mahal. Alternatifnya apalagi kalau bukan Bali!

Paling nggak enak pergi ke pantai tapi nggak sama pasangan.
(foto: Benny Rhamdani)

Mengapa Bali? Karena saya sudah beberapa kali perjalanan dinas ke Bali. Di sela waktu dinas, saya menyambangi tempat-tempat wisata di Pulau Dewata itu, muncul keinginan untuk mengajak istri tercinta ke Bali. Sekaligus menikmati indahnya malam pertama bersama di Bali ala-ala pengantin baru. 
Berikut cara mudah dan murah yang kami lakukan untuk melakukan honeymoon sekaligus merayakan anniversary pernikahan kami.

1. Siapkan dana honeymoon

Kita nggak akan bisa ke mana-mana kalau nggak punya uang. Kecuali ada mukjizat yang membuat kita bisa pelesiran di Bali begitu saja. Jadi, sebisa mungkin siapkan dananya jauh-jauh hari. Bisa dari menyisihkan sisa gaji. Tapi alangkah lebih baiknya jika diambil dari pendapat di luar gaji, seperti yang saya lakukan adalah mengerjakan proyek di luar kantor, memenangkan lomba ngeblog atau quiz, sementara istri saya ikut membantu lewat arisan.

Kerja yang rajin biar bisa nabung buat honeymoon.
(foto: Benny Rhamdani)

Berdasarkan pengalaman, sebaiknya siapkan dana lebih dari anggaran. Biaya untuk di Bali berdua  selama dua malam, misalnya Rp15 juta, sebaiknya siapkan sekitar Rp20-25 juta. Sebab jika kita punya dana banyak, sesuatu jadi terasa murah. Sebaliknya, jika dana mepet alias pas-pasan, biaya Rp.100.000 saja terasa mahal banget. Toh, uangnya nggak harus kita habiskan semua juga.

2. Diskusikan rencana waktu dan tujuan bersama

Karena tujuan honeymoon sebenarnya adalah untuk menguatkan ikatan tali pernikahan, mulailah dengan menjalin komunikasi bersama yang intens dengan pasangan saat merencanakan perjalanan honeymoon yang tertunda ini. Seperti, berapa lama, ke mana aja, ngapain aja, menginap di mana dan sebagainya. Jangan sampai begitu di Bali, malah nggak jelas arah dan tujuan. Kecuali bagi yang sama-sama pasangan random.

Bikin rencana matang berduaan dan jangan mepet-mepet.
(Foto: Benny Rhamdani)

Saran aja sih. Merencanakan waktu dan tujuan bersama ini juga membuat segalanya lebih efisien dan efektif. Oh iya, kita juga bisa membuat rencana B, misalnya khawatir kalau kegiatan outdoor tidak mungkin dilakukan karena hujan. Nah, kalo mau berdebat di sinilah saatnya. Jangan sampai nanti malah berantem di lokasi honeymoon karena persiapan yang nggak matang.

Kami akhirnya memutuskan untuk tinggal di sekitar Bali Selatan yang banyak wisata pantainya. Maklum, kami kan tinggal di Bandung. Jadi melihat pantai dan mendengar suara deru ombak itu sesuatu yang romantis banget. Dan karena keterbatasan waktu cuti saya, lalu mengindari peak season, kami hanya punya waktu 3 hari 2 malam.

3. Pilih travel biro terpercaya

Namanya traveling pakai pesawat dan harus menginap, sangat susah menghindari yang namanya jasa travel biro alias agen perjalanan.  Apalagi agen perjalanan online, sangat membantu banget. Carilah agen perjanan online terpercaya yang terkenal. Bila menemukan beberapa nama, cobalah masuk ke beberapa web yang populer.

Awalnya sih kami hunting tiket dan hotel terpisah. Ternyata menghabiskan waktu. Sampai kami menemukan paket honeymoon Traveloka ke Bali yang punya pemesanan tiket sekaligus hotel.

Ya, udah! Kami akhirnya memutuskan ambil produk paket tiket+hotel ini karena mempermudah  dan nggak perlu lagi memesan tiket dan hotel secara terpisah. Pointnya sih mudah dan saving time! Kami jadi bisa langsung membandingkan juga pilihan lokasi hotelnya yang dekat Legian, Kuta atau Nusa Dua gitu nggak pakai ribet.

Enak udah ada paket plus hotel kalo honeymonn ke Bali nih.
(Captured from traveloka.com)

Mudahnya lagi, kita diberikan list yang bisa diatur berdasarkan harga, skor pengguna dan tingkat popularitas. Kalo saya sih lebih suka berdasarkan  rekomendasi. Nah, ternyata hotel yang di kawasan pantai sesuai impian kami tersedia banyak di sini. 

Selain mudah, ternyata juga harganya lebih murah ketimbang pesan tiket pesawat dan hotel terpisah.
Pas dicek untuk pesan paket pesawat+hotel  ternyata lebih hemat dibanding pesan terpisah. Baik hatinya, bisa hemat sampai 20% tanpa kode promo apapun. Pastinya sih, ternyata di bawah anggaran kami jauh banget. Jadi, lebihnya bisa kami simpan untuk honeymoon berikutnya. 

Dan kebanyakan juga pasti tahu dong, Traveloka tuh tersedia banyak metode pembayaran. Jadi, saya sih merekomendasikan Traveloka kalo urusan agen perjalanan online, palagi untuk paket tiket plus hotel. Apalagi, saya biasa pakai untuk perjalanan dinas juga. Jadi saya sudah simpan aplikasinya di smartphone saya.

Nah, itu dia cara merasakan honeymoon yang mudah dan murah di Bali. Jadi nggak ada alasan lagi menunda-nunda lagi honeymoon impian. Ssst, nggak cuman artis aja yang bisa nikmati indahnya malam pertama di Bali.



^_^

Monday, November 21, 2016

Hotel Alternatif di Mercure Nusa Dua Bali





Tawaran ke Bali untuk urusan mengisi workshop penulisan cerita anak tidak saya sia-siakan. Saya langsung mengiyakan kendati sebenarnya agenda acara saya sudah padat. Bali selalu membuat saya tidak berani menolak tawaran siapapun untuk ke sana. Apalagi kali ini acara akan dihelat di Nusa Dua, wilayah Bali yang belum saya injak di tiga kunjungan ke Bali sebelumnya.


Dari Bandara I Gusti Ngurah Rai saya dijemput menuju  Mercure Nusa Dua Hotel. Saya sudah membayangkan hotel ini berada persis di sisi pantai seperti saat saya ke Mercure Resort di Sanur tahun lalu. Namun, anggapan saya langsung gugur ketika dari jalan raya ternyata mobil yang saya tumpangi tidak mengarah ke kawasan Bali Tourism Development Corpoartion, tapi sedikit di luarnya.


Itu artinya hotel ini tidak menempel dekat pantai. Wuah, kurang seru nih. Akhirnya, saya segera check in dan menuju kamar. Dan kekecewaan saya itu luntur seketika, lantaran view yang tampak di jendela sangat membuat saya senang. Kolam renang yang menarik dan pepohonan asri di sekitar. Ini tak kalah mengasyikan. Toh, tinggal di kamar hotel menempel di pantai pun belum tentu mendapat view pantai. Malah beberapa kali saya kecewa dapat view kurang asyik.

Setelah bertanya, akhirnya saya tahu meskipun tidak dekat pantai, Mercure Nusa Dua punya area pantai sendiri di Nusa Dua. Untuk menyambangi tempat itu cukup naik mobil hotel yang bisa mengantar jemput sejak pukul delapan pagi.

Buat saya sih terlalu siang pukul delapan pagi. Sebab saya tahu Pantai Nusa Dua tempat keren untuk menyaksikan matahari terbit alias sun rise. Esok harinya saya langsung ke luar hotel usai shalat Subuh samembari jogging rutin. Ternyata pantainya nggak jauh-jauh amat, Hanya dengan sepuluh menit jogging saya sudah sampai pantai lewat jalan Pantai Menggiat. Berbeda dengan pantai milik hotel yang ada di sekitar Pulau Peninsula.


Jadi, soal pantai dekat atau tidak, sudah bukan soal lagi buat saya. Mau lihat matahari terbit tinggal jogging sebentar. Mau berenang? Kolam renangnya amazing kece. Biru sebiru hatiku. Halagh! Biar enak berenangnya, mendingan pagi-pagi saja. Habis jogging di pantai. Biasanya para bule kan belum bangun. Kalau agak siang banyak anak-anak. Sore sampai malam banyak pemandangan bikin kurang fokus .

Sehabis berenang dan berbilas, bisa tuh langsung sarapan di Soka Restaurant. Tempatnya semi terbuka tapi tetap nyaman. Berada di lantai bawah dekat kolam renang. Dari lobi hotel hanya turun satu lantai.

Selama lima hari di hotel saya tidak bosan dengan variasi menunya karena mengombinasikan menu nasional dan internasional. Lagian saya diet. Jadi, paling ya salad dab buah saja yang dimakan. Atau sesekali makan daging ayam, ikan atau telur. Pelayanannya sangat ramah di resto. Saya beebrapa kali minta dipotongkan sayur okra untuk obat diabetes saya, eh bukan cuman dipotong tapi juga dibersihkan dan disediakan air panas untuk merendamnya juga. Kerenlah.

Oh iya, bicara soal kamar, menurut saya sih sesuai dengan gaya hotel masa kini yang minimalis, tapi ruangan tetap terasa luas. Patokannya sih mudah. Jika masih ada ruang untuk shalat, artinya itu cukup luas.

Bagian shower dan toilet terpisah. Ini menguntungkan buat tamu yang sharing kamar dengan orang lain selama menginap. Seperti kali ini saya share dengan komikus Sweta Kartika. Cuman bagian dinding showernya saja yang  berkaca (ini memang model sekarang) itu terlalu transparan. Jadi kalau mau mandi ya mending atur-atur jadwal saja saat salah seorang keluar kamar biar nggak risih.

Yang membuat saya betah berada di kamar adalah view menghadap pool, selain tentu saja bed yang nyaman buat tidur. Tapi saya sarankan jika akan menginap di sini membawa terminal tiga karena colokannya terbatas. Apalagi jika punya gadget yang banyak untuk dicharge. Belum lagi jika sharing kamar.


Selama di Mercure ini, ruangan paling sering saya singgahi adalah ruangan meeting dan seminar. Ada empat ruangan yang dipakai yang terletak di dekat lobi hotel. Saya sering singgah ke sini bukan semata untuk workshop, tapi juga karena ada ruang mushola. Sudah jadi kebiasaan saya, memilih shalat di mushola hotel ketimbang di kamar, karena beberapa alasan.


Ruang seminar dan rapat menurut saya cukup memadai. Yang terpenting sih wifinya kuat. Selebihnya ya standar. Apalagi ini buat workshop. Saat padat tamu, penyejuk ruangan juga bejalan normal. Begitu pula dengan sistem suara.

Fasilitas lain yang ada di sini adalah penyewaan sepeda, spa, dan gym yang sama sekali tidak saya manfaatkan karena kesibukan di acar yang saya ikuti. Tapi saya suka dengan pojok baca di dekat lobi yang cantik. Entahlah, saya sering betah berada di lobi hotel yang tersedia ada rak buku sehingga bisa asik membaca.


Mercure Nusa Dua juga dekat dengan desa adat masyarakat sekitar. Jadi jika ingin ke minimarket, dari  hotel tidak terlalu jauh, demikian juga tempat pijak refleksi, atau rumah makan bagi yang bosan dengan hidangan hotel.

Jika ingin membeli oleh-oleh bisa berburu di Jalan Pantai Menggiat yang hanya 100 meter dari hotel. Tentu saja harus ditawar saat membeli. Jika tidak pandai menawar bisa pergi ke Hardis sekitar empat kilometer dari hotel. saya pergi ke sana dengan ojek online, walaupun sebenarnya telarang beroperasi di daerah sana.

Kesimpulan saya, hotel ini lebih cocok untuk menginap dalam jumlah rombongan, membuat acara workshop maupun seminar. Jika untuk liburan keluarga bisa jadi alternatif meskipun tidak berada dekat pantai, sehingga budget kamar pun lebih rendah ketimbang hotel-hotel di kawasan BTDC. Toh, kalau mau ke hotel ada mobil hotel yang bisa antar jemput.



Sunday, November 13, 2016

Lima Sensasi Aduhai di Pantai Geger Bali



Pantai Geger  memang tak sepopuler pantai lainnya di Bali. Padahal pantai ini menyimpan sensasi yang bikin saya teriak," Aduhai kerennya!". Sungguh, pagi itu tak percuma saya jogging jauh-jauh ke daerah Sawangan Nusa Dua. Tadinya saya mengira akan nyasar ke tempat asing lantaran sudah jauh dari kawasan Bali Tourism Development Corporate (BTDC).

Setelah melewati jalan dengan kanan kiri semak-semak, akhirnya saya menemukan jalan beraspal dengan papan penunjuk ke Pantai Geger. saya terus terang baru mendengarnya. Ketimbang penasaran saya pun mengikuti jalan itu yang ternyata membuat saya sampai ke hamparan pasir pantai nan indah.

Setidaknya ada lima sensasi yang bisa kita nakimati di Pantai geger, terutama di pagi hari yang masih sepi.

Sensasi Sunrise


Pagi itu saya tiba di pantai belum pukul enam pagi. Dan saya masih melihat matahari yang tengah mengendap naik di garis cakrawala. Jadi, jika inginmelihat Sunrise di Pantai Geger, pastikan dulu pukul berapa matahari akan muncur. selebihnya tinggal berharap saja tidak ada awan. Bagi penggemar fotografi, pemandangan sunrise akan jadi lebih menarik karena di pinggiran terlihat sejumlah jukung yang bisa menjadi ornamen foto.


Sensasi Lanskap


Bagi saya lanskap di Pantai Geger ini sangat memesona. Apalagi dengan kehadiran bukit geger dengan hiasan puncak pura.  Tidak heran jika disini berdiri dua hotel megah yang konon paling mahal di Bali. Gara-gara itu pula tempat yang dulu sepi ini, sekarang mulai menarik minat banyak wisatawan, terutama bule-bule yang senang berjemur di pantai.

Pantai Geger tambah cantik dengan tanjung kecil yang sering disebut Bukit Geger. Akses menuju bukit tersebut cukup nyaman. Ada tangga setapak dari hotel Nikko.


Sensasi Budaya





Yang paling menyenangkan ketika di Bali adalah bisa menemukan sentuhan budaya yang Bali banget di setiap sudutnya. Termasuk ke bukit geger di Pantai Geger. Dengan berjalan menanjak sedikit kita akan menemukan sebuah pura cantik bernama  Pura Geger Dalam Pemutih. Pura ini sangat ramai dikunjungi warga desa adat Peminge saat bulan tilem.

Gerbang pura bernama Candi Bentar. Ingat ya, Candi Bentar bukan berarti namanya. Candi Bentar merupakan istilah untuk gerbang atau gapura yang bentuknya seperti sebuah stupa dibelah dua. kanan dan kirinya sama.

Sensasi Karang



  

Jika di sisi kiri bukit Geger hanya tampak pantai, maka di sisi kanan kita akan melihat tebing karang kecil yang dapat kita turuni. Serunya terdapat gua-gua kecil yang juga biasa dijadikan tempat upacara. Buat yang hobi berfoto, bebatuan karang ini sangat cantik dijadikan latar. 

Tempat ini juga sering dijadikan para penduduk setempat untuk memancing. Siapa tahu Anda juga ingin ikut memancing di sini.

Sensasi Pantai


Sekali lagi, Pantai Geger tak diragukan lagi keindahan pasir putihnya. Di sini juga kita akan meihat kehidupan nelayan setempat yang sibuk mencari ikan. Ada juga beberapa penduduk yang memilih mandi di pantai pada pagi hari. Mungkin saat turis masih di bawah selimut.

Pada siang hari dan sore hari, tempat ini akan sangat padat dengan aneka aktivitas rekreasi pantai. Mulai dari kano, snorkeling, bahkan ada atraksi naik onta di sepanjang garis pantai. Jadi terserah Anda, ingin datang saat masih sepi atau justru ketika ramai.

Foto-foto: Benny Rhamdani
Kecual Foto Unta dari Website Hotel Nikko Bali.

Monday, November 7, 2016

Menikmati Goyang Basah di Pantai Pandawa Bali



Saat tiba di Nusa Dua Bali, salah satu destinasi wisata incaran saya adalah Pantai Pandawa di Desa Kutuh, Kabupaten Badung. Alasannya sederhana, setiap orang yang pernah melancong ke sana selalu berkomentar positif ihwal kecantikannya. Jelas saya penasaran, apa yang jadi misteri kecantikan Pantai Pandawa.

Di sela-sela agenda kegiatan workshop yang padat, akhirnya saya dapat mengambil waktu pada sore hari ke Pantai Pandawa. Dari hotel tempat menginap di Mercure Hote Nusa Dua. saya naik taksi di depan  lobi langsung menuju ke Pantai Pandawa. Ternyata jalan yang harus dilalui sangat sepi dan naik turun, serta berkelak-kelok. Seru juga naik taksi ke daerah seperti ini. 

Akhirnya sampailah saya di satu kawasan yang tampak lengang dan gersang. Terbaca papan larangan masuk bagi taksi online . Saya tersenyum. Bagimana bisa mengenali taksi online atau bukan sementara wujud taksi online seperti mobil umumnya.




Supir taksi berhenti sebentar. Saya diminta membayar tiket masuk sebesar Rp12.000. Kata si penjaga tiket, untuk turis asing Rp15.000. Lalu taksi melewati jalan yang membelah tebing. Dan saya belum melihat pantai, sampai setelah melewati belahan tebing, barulah saya melihat hamparan pasir pantai berwarna putih dan tentu saja lautan nan membiru terkena pantulan langit.

Saya merinding melihatnya. Inilah rahasia kecantikan Pantai Pandawa. Letaknya berada di balik bukit batu yang tinggi sehingga tak tampak dari jauh. Orang pasti akan menyangka daerah ini semata bukit bebatuan. Ternyata menyembul pesona alam yang luar biasa.


Taksi pun berhenti dan saya harus membayar tarif sebesar Rp80.000. Supir taksi menunjukkan  jalan masuk yang harus saya ikuti. Semakin dekat saya dengan pantai, semakin begitu memikat pantai ini. Rasanya saya langsung terpesona. Pantas saja banyak film-film televisi mengambil lokasi syuting di tempat ini.


Hari sudah senja, tak banyak yang bisa saya lakukan selain menapaki pasir pantai dan menyaksikanturunnya matahari di ufuk barat. Sunset di pantai ini memang tiak sempurna. Namun tetap saja menambahkan kecantikan Pantai Pandawa. Besok saya akan ke sini lagi, niat saya dalam hati.



Naik Kano
 



Akhirnya, keesokan harinya saya datang lagi. Kali ini saya tak sendiri tapi dengan dua teman lainnya. Keberangkatan pun tidak menggunakan taksi, tapi diantar oleh warga lokal yang masih kerabat teman saya. Hari pun masih siang.

Agak aneh juga ketika melewati loket masuk, ternyata harga tiket bukan Rp12.000 melainkan Rp10.000 saja. Jadi harga yang benar berapa ya? Entahlah, saya juga tidak dapat tiket masuknya. Tidak memikirkannya. Yang penting bisa kembali melihat Pantai Pandawa yang sepertinya memang bikin ketagihan.

 

Kami bertiga akhirnya menyewa kano. Untuk satu kano yang bisa dinaiki dua orang, kami harus merogoh kocek Rp50.000. Teman saya yang sendirian, menggunakan jasa joki, harus membayar Rp50.000 plus jasa joki Rp20.000. Enaknya pakai joki itu bisa mendayung kano sampai ke tengah. Sedangkan saya, hahahaha boro-boro. Takut duluan melihat ombak. Rasanya lumayan deg-degan saat ombak menggoyang-goyang basah kano. Ya saya cuman berani mendayung rada ke tengah sedikit, terus membelok. Pokoknya, sudah ngedayung kano dan basah-basahan.

Sebelum mendayung kano di laut, kami dibekali jaket pelampung. Perahu pun disiapkan dengan posisi siap dayung. Pokoknya tenang saja walupun nggak bisa berenang, atau nggak pernah naik kano sebelumnya. Ssemua aman selama nggak sok jagoan.

Di atas kami melayang paralayang dari atas bukit Timbis. Katanya sih, untuk naik paralayang selama 15 menit harus membayar Rp1,5 juta. Saya masih pikir-pikir saat ini untuk mengeluarkan uang sebanyak itu. Entah nanti. Soalnya penasaran juga sih.

 

Setelah puas mendayung kano, saya memilih berenang karena gemas melihat air laut yang bening dan dangkal. Cuman ya harus hati-hati berenang di pantai ini karena kano berseliweran di dekat kita.

Setelah puas berbasah-basahan, kami duduk sambil emnunggu pakaian mengering. Kami kemudian memesan kelapa muda dengan harga Rp20.000 per butir. Benar-benar melengkapi petualangan hari ini.

Kami baru beranjak setelah puas menikmati Pantai Pandawa. bergerak ke bagian bukit batu dan mengambil beberapa frame foto untuk dipasang di media sosial. ya iyalah, masa buat dipasang di ijazah? Wkwkwkwkw ...


Tuesday, November 1, 2016

Melipir ke Pulau Nusa Dua Dharma

Saat berdiri di  Pantai Nusa Dua, saya penasaran melihat sebentuk pulau yang tampak hijau.  Tak seberapa besar tapi cukup menggoda untuk disambangi. Saat mendekati saya melihat jalan setapak menuju ke pulau hancur karena terjangan ombak. Otomatis saya harus melompat ke pasir pantai yang sedang surut.

Seorang wanita Bali setengah baya tampak membawa sesajen di kepalanya menuju pulau itu. Saya pun mengikutinya dari belakang. Suasana pagi yang masih sepi, membuat saya agak gentar masuk ke area pulau itu sendirian.











Nama kawasan Nusa Dua kabarnya diambil karena terdapat dua pulau di dekatnya. Satu pulau yang lebih besar bernama Nusa Gede  atau kadang juga disebut Pulau Peninsula yang saya sudah kunjungi sebelumnya. Satu lagi adalah pulau yang sedang saya tapaki saat ini bernama Nusa Dharma.

Untuk menuju Nusa Dharma kita harus sedikit mendaki. Tapi tenang, ada anak tangga yang membantu kita agar tidak kerepotan naik turun pulau ini. Begitu tiba di pulau, kita akan menemukan jogging track dengan lajur ke kanan dan kiri. Salah satu lajur menuju ke sebuah pura yang disambangi oleh perempuan tadi.


Nama pura tersebut mengambil nama pulau yakni Pura Nusa Dua Dharma. Terdapat penjelasan sejerah pura tersebut. Konon pulau tersebut didirikan oleh warga Tionghoa bernama Tan Sie Yong  pada 110 Juni 1948 sebagai tanda pembauran perbedaan etnis di Bali.

Di pulau yang tak seberapa luas ini, kita bisa menemukan lapangan rumput yang bisa dipakai untuk menggelar matras dan beryoga atau sekadar lari dan jalan santai berkeliling menikmati suasan sejuk diringi kicau burung-burung. Kita juga bisa mendengar suara ombak bersahutan di sisi pulau.



Jika tak puas kita bisa mencari jalan setapak melihat bagian sisi pulau berupa karang yang lumayan curam. Di sini kita bisa melihat laut lepas juga bisa melihat Pulau Peninsula atau Nusa Gede yang tak seberapa jauh. Bahkan patung Arjuna dan Dewa Krisna terlihat jelas tinggi menjulang.

Saya puas bisa melipir ke pulau ini yang masih terasa asli. Kita bisa menjauh sejenak dari kehidupan duniawi di sepanjang pantai Nusa Dua, untuk menikmati keindahan alam. Alangkah baiknya setiap pengunjung ke etmpat ini tidak membawa makanan dan minuman, juga tidak membuang sampah sekecil apa pun.

Bagi yang ingin mengunjungi Pulau Nusa Dharma, aksesnya sngat mudah. Apalagi dari Denpasar, tinggal lewat tol laut menuju ke kawasan Bali Tourism Develpoment Corporation (BTDC). Nanti akan melihat dua pulau berdampingan. Pulau Nusa Dharma adalah yang lebih kecil. Satu lagi yang perlu diketahui, masuk ke sini gratis dan tidak boleh membawa drone.


Monday, October 31, 2016

Basah-basah Manja di Water Blow Nusa Dua, Bali






Berada di Nusa Dua dan ingin eksplorasi wisatanya? Inilah salah satu obyek wisata yang kudu dikunjungi. Alasan utama, tempatnya keren sudah pasti. Kedua, gratis. Iyalah, apalagi berada di kawasan BTDC (Bali Tourism Development Corporation) yang semuanya serba premium.

Untuk mencapai Water Blow sudah tentu harus masuk ke kawasan BTDC lebih dulu. Ada beberapa jalan masuk, tapi saya lebih dekat dari Jalan Pantai Mengiat. Setelah itu berjalan belok ke kiri dan berjalan menyusuri pantai beberapa ratus meter.

 



Nah, jika sudah bertemu papan penunjuk, cari arah ke Paninsula Island atau nama lainnya Nusa Gede Island. Sebenarnya sih menurut saya nggak tampak seperti pulau-pulau amat. Mungkin karena airnya sedang surut. Setelah berjalan beberapa puluh meter kita akan melihat patung besar  Dewa Krisna  dan Arjuna yang memang terkenal dekat dalam kisah Mahabharata.


Sebuah taman nan luas segera kita lihat begitu jalan menanjak beberapa tangga. Di sekitar patung terdapat jogging track yang melingkar. Jika datang pagi hari maupun sore, banyak orang jogging di sini. Memang tempatnya snagat nyaman untuk segala kegiatan kebugaran. Bahkan beberapa orang tampak bersepeda dan yoga.

Untuk menuju Water Blow, kita kudu berjalan setengah lingkaran, baik ke kiri maupun ke kanan. Tepatnya di  bagian belakang patung. Nanti, kita akan menemukan gerbang kecil. di sampingnya tertera papan pengumuman larangan selama di area Water Blow.  Intinya sih, kita harus menjaga lingkungan dan berhati-hati.
 


Setelah melewati gerbang kecil kita bisa langsung melihat kawasan Water Blow dengan hamparan batu karangnya. Tapi tenang, teman saya Hayati pasti kesakitan kalau harus berjalan di atas karang. Jadi ada pedestrian menuju monumen Water Blow.

 

 

Saat saya berkunjung terjangan ombak ke karang tidak sedahsyat yang saya lihat di Internet. Tapi lumayan bikin adrenalin naik. Benar kata Made, sekuriti yang saya tanya. "Besarnya ombak nggak tentu. nanti saya bilang sore, taunya nggak besar. Saya bilang pagi, taunya malah sore besarnya," jelasnya.

Jujur saja, hasrat untuk melanggar larangan begitu besar. Soalnya kengerian karang dan daerah terjangan ombak benar-benar memancing kita buat mendekatinya. Tuh, kan akhirnya saya ditegur petugas.


Saya lihat beberapa pasangan melakukan sesi foto di tempat yang rada ekstrim ini. Menurut saya memang pagi hari adalah yang terbaik agar bisa memotret dalam bentuk siluet. Apalagi jika kemudian datang ombak besar dan menciprati kita. Wow, bisa dipastikan cewek-cewek menjerit manja sambil memegang kekasihnya. Saya pegang apa dong?  .

Pastinya, tempat ini layak dikunjungi walaupun gratis. Tapi sebaiknya dengan pasangan.