Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Tuesday, June 26, 2018

Rasakan Indahnya Malam Pertama di Bali Itu Mudah dan Murah, Begini Caranya

Honeymoon tertunda sambil anniversary enaknya ke Bali.
(Foto: Benny Rhamdani)

Bulan madu alias honeymoon masih jadi impian banyak pasangan. Bukan hanya bagi yang akan menikah. Buat yang sudah menikah tapi nggak sempat melakukan honeymoon pasca resepsi pernikahan juga. Contohnya, ya kayak saya ini.

Pasalnya, nggak semua orang benar-benar bisa mengadakan honeymoon segera setelah menikah sesuai impian mereka. Selain karena waktu yang sering tidak cocok dengan kesibukan pasangan yang biasanya sedang meniti karir. Juga kondisi keuangan yang tak memungkinkan lantaran tersedot biaya pernikahan dan keperluan lainnya yang lebih prioritas.

Tapi, nggak perlu khawatir. Kita kan masih bisa membuat honeymoon yang tertunda. Bulan madu yang lebih terencana dengan baik dan lebih siap. Kalau bisa sih, berdekatan dengan perayaan anniversary pernikahan, biar benar-benar terasa seperti habis menggelar pernikahan.

Saya sendiri pengen sekali bisa bulan madu bersama istri ke negeri impian saya, yakni India. Kayaknya seru, bisa ke Kashmir, Simla, Goa, sampai ujungnya merayakan anniversary pernikahan di Taj Mahal. Cuman ya, terlalu mahal. Alternatifnya apalagi kalau bukan Bali!

Paling nggak enak pergi ke pantai tapi nggak sama pasangan.
(foto: Benny Rhamdani)

Mengapa Bali? Karena saya sudah beberapa kali perjalanan dinas ke Bali. Di sela waktu dinas, saya menyambangi tempat-tempat wisata di Pulau Dewata itu, muncul keinginan untuk mengajak istri tercinta ke Bali. Sekaligus menikmati indahnya malam pertama bersama di Bali ala-ala pengantin baru. 
Berikut cara mudah dan murah yang kami lakukan untuk melakukan honeymoon sekaligus merayakan anniversary pernikahan kami.

1. Siapkan dana honeymoon

Kita nggak akan bisa ke mana-mana kalau nggak punya uang. Kecuali ada mukjizat yang membuat kita bisa pelesiran di Bali begitu saja. Jadi, sebisa mungkin siapkan dananya jauh-jauh hari. Bisa dari menyisihkan sisa gaji. Tapi alangkah lebih baiknya jika diambil dari pendapat di luar gaji, seperti yang saya lakukan adalah mengerjakan proyek di luar kantor, memenangkan lomba ngeblog atau quiz, sementara istri saya ikut membantu lewat arisan.

Kerja yang rajin biar bisa nabung buat honeymoon.
(foto: Benny Rhamdani)

Berdasarkan pengalaman, sebaiknya siapkan dana lebih dari anggaran. Biaya untuk di Bali berdua  selama dua malam, misalnya Rp15 juta, sebaiknya siapkan sekitar Rp20-25 juta. Sebab jika kita punya dana banyak, sesuatu jadi terasa murah. Sebaliknya, jika dana mepet alias pas-pasan, biaya Rp.100.000 saja terasa mahal banget. Toh, uangnya nggak harus kita habiskan semua juga.

2. Diskusikan rencana waktu dan tujuan bersama

Karena tujuan honeymoon sebenarnya adalah untuk menguatkan ikatan tali pernikahan, mulailah dengan menjalin komunikasi bersama yang intens dengan pasangan saat merencanakan perjalanan honeymoon yang tertunda ini. Seperti, berapa lama, ke mana aja, ngapain aja, menginap di mana dan sebagainya. Jangan sampai begitu di Bali, malah nggak jelas arah dan tujuan. Kecuali bagi yang sama-sama pasangan random.

Bikin rencana matang berduaan dan jangan mepet-mepet.
(Foto: Benny Rhamdani)

Saran aja sih. Merencanakan waktu dan tujuan bersama ini juga membuat segalanya lebih efisien dan efektif. Oh iya, kita juga bisa membuat rencana B, misalnya khawatir kalau kegiatan outdoor tidak mungkin dilakukan karena hujan. Nah, kalo mau berdebat di sinilah saatnya. Jangan sampai nanti malah berantem di lokasi honeymoon karena persiapan yang nggak matang.

Kami akhirnya memutuskan untuk tinggal di sekitar Bali Selatan yang banyak wisata pantainya. Maklum, kami kan tinggal di Bandung. Jadi melihat pantai dan mendengar suara deru ombak itu sesuatu yang romantis banget. Dan karena keterbatasan waktu cuti saya, lalu mengindari peak season, kami hanya punya waktu 3 hari 2 malam.

3. Pilih travel biro terpercaya

Namanya traveling pakai pesawat dan harus menginap, sangat susah menghindari yang namanya jasa travel biro alias agen perjalanan.  Apalagi agen perjalanan online, sangat membantu banget. Carilah agen perjanan online terpercaya yang terkenal. Bila menemukan beberapa nama, cobalah masuk ke beberapa web yang populer.

Awalnya sih kami hunting tiket dan hotel terpisah. Ternyata menghabiskan waktu. Sampai kami menemukan paket honeymoon Traveloka ke Bali yang punya pemesanan tiket sekaligus hotel.

Ya, udah! Kami akhirnya memutuskan ambil produk paket tiket+hotel ini karena mempermudah  dan nggak perlu lagi memesan tiket dan hotel secara terpisah. Pointnya sih mudah dan saving time! Kami jadi bisa langsung membandingkan juga pilihan lokasi hotelnya yang dekat Legian, Kuta atau Nusa Dua gitu nggak pakai ribet.

Enak udah ada paket plus hotel kalo honeymonn ke Bali nih.
(Captured from traveloka.com)

Mudahnya lagi, kita diberikan list yang bisa diatur berdasarkan harga, skor pengguna dan tingkat popularitas. Kalo saya sih lebih suka berdasarkan  rekomendasi. Nah, ternyata hotel yang di kawasan pantai sesuai impian kami tersedia banyak di sini. 

Selain mudah, ternyata juga harganya lebih murah ketimbang pesan tiket pesawat dan hotel terpisah.
Pas dicek untuk pesan paket pesawat+hotel  ternyata lebih hemat dibanding pesan terpisah. Baik hatinya, bisa hemat sampai 20% tanpa kode promo apapun. Pastinya sih, ternyata di bawah anggaran kami jauh banget. Jadi, lebihnya bisa kami simpan untuk honeymoon berikutnya. 

Dan kebanyakan juga pasti tahu dong, Traveloka tuh tersedia banyak metode pembayaran. Jadi, saya sih merekomendasikan Traveloka kalo urusan agen perjalanan online, palagi untuk paket tiket plus hotel. Apalagi, saya biasa pakai untuk perjalanan dinas juga. Jadi saya sudah simpan aplikasinya di smartphone saya.

Nah, itu dia cara merasakan honeymoon yang mudah dan murah di Bali. Jadi nggak ada alasan lagi menunda-nunda lagi honeymoon impian. Ssst, nggak cuman artis aja yang bisa nikmati indahnya malam pertama di Bali.



^_^

Tuesday, November 22, 2016

Ini Dia Anggota Pasukan Perdamaian Termuda Asal Indonesia di Sudan


Yudha jadi anggota pasukan perdamaian termuda asal Indonesia di Sudan

Pria bernama lengkap Gede Sandika Yudha ini sejak lama bermimpi menjadi anggota pasukan perdamaian PBB. Tepatnya ketika tamat pendidikan brigadir Brimob pada tahun 2009. Akhirnya, mimpinya terwujud menjadi anggota pasukan perdamaian di Sudan. Dan, banyak pengalaman yang didapatnya selama berada di negara gersang itu.

"Pada Desember 2009 saya mendengar cerita dan baca berita  di media sosial tentang pasukan perdamaian. Semula saya pikir itu hanya untuk anggota TNI lewat kontingen Garuda. Ternyata setelah saya telusuri ada juga pasukan Polri yang ikut misi perdamaian di Sudan di bawah PBB dengan nama Formed Police Unit Garuda Bhayangkara. Saya kemudian tertarik mencari tahu lebih jauh karena ingin bergabung," ucap polisi berpangkat Brigadir Polisi Satu (Briptu) ini semangat di sela tugasnya.

 Briptu Gede Sandika Yudha S.H

Setelah mendapat informasi mengenai seleksi FPU, kelahiran  Timor Timur 17 Desember 1990 ini berusaha menunggu dengan sabar agar mimpinya terwujud. Pasalnya, salah satu persyaratan yang harus dipenuhi dari Polri untuk penugasan bersama PBB adalah sudah berdinas lima tahun. Usai masa dinas terpenuhi, Yudha pun mengikuti seleksi.

"Tes seleksi nggak mudah karena banyak tahapan tes. Apalagi banyak senior saya yang ikut tes juga. Tentu pengalaman mereka lebih banyak," jelas pria bergelar sarjana hukum ini. "Begitu dinyatakan lulus seleksi saya merasa senang. Sebelum berangkat saya harus mengikuti latihan pra operasi untuk melatih fisik, kemampuan bahasa, dan lainnya." 


Pria yang berdinas di  Lemdiklat Mabes Polri ini mampu melewati  latihan khusus tersebut di Cikeas, Bogor, selama sekitar enam bulan. "Motivasi saya sangat kuat untuk mencari pengalaman baru dalam bertugas di luar negeri melalui pasukan perdamaian (peace keeper). Orangtua dan saudara pun mendukung keinginan saya. Makanya saat saya berangkat pun ada kebanggan tersendiri terhadap diri sendiri dan orangtua serta adik-adik saya," kenangnya mengingat masa meninggalkan tanah air untuk tugas yang mulia ini pada Desember 2015.

Mendapat potongan tumpeng dari Komandan Pasukan di Sudan,
saat ultah Brimob ke -71 karena jadi anggota termuda.

Satu lagi yang lebih membanggakan adalah saat Yudha mengetahui dirinyalah yang termuda di antara anggota pasukan perdamaian yang bertugas di Sudan. "Sebenarnya saat seleksi saya monitor bahwa saya adalah yang termuda. Makanya saya sangat bersyukur ketika dinyatakan lulus. Meskipun akhirnya saat di tempat tugas harus siap di perintah apapun oleh senior," lanjutnya sambil tersenyum.

Pengalaman berkesan pun banyak didapatnya. "Saya paling berkesan ketika patroli dan memberikan bantuan kepada masyarakat. Begitu sampai, mereka langsung berlari mendekati kami untuk mendapatkan bantuan. Di dalam hati saya bersyukur menjadi warga Indonesia yang negaranya subur makmur. Tidak seperti di sini yang serba kekurangan," lanjut Yudha, pemilik akun instagram @yudha_asb .

Satu lagi pengalaman yang tak diduga Yudha adalah ketika patroli, salah jalan alias kesasar, sehingga dihujani tembakan oleh aparat setempat.  "Kemudian, perwakilan dari kami turun dan negosiasi lumayan alot. Akhirnya, kami diberi jalan tapi diberi peringatan agar izin lebih dulu," imbuhnya.

Kini, pengalaman seperti itu tak terulang lagi lantaran sudah hapal sekali dengna tugasnya. Dan Januari 2017 nanti, Yudha akan kembali menginjak bumi Indonesia. Kembali menunasikan tugas di bumi pertiwi ini.



Tuesday, May 17, 2016

Kontroversi, Monumen Merpati Perdamaian di Padang Malah Makin Ramai



"Pantai ini dulu tak secantik begini," demikian ucap Bu Dewi, warga Padang yang mengantar saya menelusuri Pantai Muaro  Lasak di sisi kota Padang, Sumatera Barat.




Kami berhenti sejenak di Monumen Merpati Perdamaian bulan April lalu. Saya memandangi sejenak monumen yang menjulang setinggi delapan meter. Konon keberadaan monumen merpati itu hingga kini mengundang kontroversi karena dianggap sebagai misi kristen di tanah Minang yang dominan umat Muslim.

Setahu saya, merpati dalam mitologi Yunani merupakan simbol cinta. Dan merpati yang ada di monumen juga lebih mirip merpati origami Jepang. Bangsa Tiongkok juga menggunakan merpati sebagai simbol perdamaian dan panjang usia. Sedangkan di Mesir, merpati merupakan lambang ketenangan.


Bu Dewi menjelaskan lingkungan monumen yang sebelumnya tak beraturan. Bahkan dari sisi jalan kita tidak bisa melihat pantai karena tertutup warung-warung dan bangunan liar. Tapi dengan kerja arif Walikota Padang H. Mahyeldi Ansharullah, warga pemilik bangunan di sekitar pantai mau pindah dengan sukarela.

Seperti yang  saya saksikan, lingkungan sekitarnya kini tampak lengang dan asri. Beberapa pengunjung tampak menikmati keindahan pantai atau berfoto di dekat monumen. Tampak juga pedagang mainan mulai berdatangan. Sepanjang tertib dan dibatasi jumlahnya, kehadiran pedagang ini tidak akan menjadi masalah.

Debur ombak Samudra Hindia yang menepi menjadi musik pengiring saat berada di sekitar monumen yang kabarnya selalu diserbu ribuan pengunjung. Bahkan di akhir pekan, sejak dini hari di sekitarnya sudah banyak warga yang jogging.


Di seberang monumen merpati terdapat kios-kios kuliner yang beberapa juga sudah buka di pagi hari. Dan akan lebih ramai lagi di sore hari, karena kedai-kedai itu memiliki balkon agar pengunjung bisa menikmati keindahan matahri tenggelam sambil mengisi perut.

Ya, semoga saja dengan adanya Monumen Merpati Perdamaian yang digagas oleh TNI Angkatan Laut ini semoga kawasan pantai Padang bisa semakin damai.



Monday, April 18, 2016

Bersujud di Masjid Jami Pontianak





Traveling ke pelbagai kota di Indonesia kurang afdol jika tak mencapai masjid bersejarah di dalamnya. Hal itu saya lakukan ketika ke Pontianak, Kalimantan Barat. Mengunjungi Masjid Jami atau lebih dikenal dengan nama Masjid Sultan Syarif Abdurrahman sungguh melengkapi perjalanan saya di Kota Khatulistiwa ini.

Jaraknya dairi Istana Kdriyah tak begitu jauh. Dari pertigaan, istana harus belok ke kiri, sedangkan masjid tua ini berjalan ke kanan. Saya harus melewati jembatan anak Sungai Landak. Sesaat saya terpesona dengan jajaran perahu kecil yang tertambat di pinggiran sungai.



Melewati jembatan, masjid sudah terlihat. Begitu pula Sungai Kapuas nan ramai.Sempat tergoda untuk menuju pinggira Kapuas, tapi suara azan ashar berkumandang. Saya pun masuk ke masjid yang sebagian besar materinya adalah kayu belian. Tampak kokoh meskipun bukan dari beton. Jejak sejarah pun masih tampak, tak seperti masjid-masjid lama yang begitu direnovasi tak menyisakan bekas sejarahnya sama sekali.



Inisiatif majid ini sama dengan pendiri Kota Pontianak, yakni Syarif Abdurrahman Alkadrie, keturunan Arab, anak Al Habib Husein, penyebar agama Islam dari Jawa. Al Habib Husein datang ke Kerajaan Matan pada 1733 Masehi. Al Habib menikahiputri Raja Matan (kini Kabupaten Ketapang) Sultan Kamaludin, bernama Nyai Tua. Dari pernikahan tersebut kemudian lahirlah Syarif Abdurrahman Alkadrie, yang meneruskan jejak ayahnya menyiarkan agama Islam.

Syarif Abdurrahman bersafari dari Mempawah  menyusuri sungai Kapuas. Rombongan Abdurrahman sampai di muara persimpangan Sungai Kapuas dan Sungai Landak pada 23 Oktober 1771. Kemudian mereka  membuka  hutan di dekat muara itu untuk dijadikan daerah permukiman baru. Abdurrahman mendirikan sebuah kerajaan baru Pontianak. Ia pun membangun masjid dan istana untuk sultan.





Saya menaiki lantai masjid setinggi setengah meter dari tanah. Konon, dulu tingginya mencapai dua meter. Dan kolongnya saat ini sudah dicor agar masjid tidak terus turun ke tanah. Saat masuk ke dalam masjid suasana sejuk terasa karena dinding masjid kebanyakan adalah jendela-jendela yang bisa dibuka. 


Saya melihat pilar-pilar dengan diameter sekitar setengah meter. Tampak agung. Saat menuju ke tempat wudlu, barulah saya merasakan kembali suasana modern. Kembali masuk ke masjid lagi, saya merasa terlempar ke masa lalu kembali.

Sepintas saya melihat mimbar masjid yang seperti bagian geladak kapal. Unik juga. Dan saya pun ikut bersujud dengan jamaah lainnya, menunaikan shalat ashar berjamaah. Berdebar rasanya saat sujud karena membayangkan rasanya shalat di masjid ini pada masa lampau. Seusai shalat saya merasa lebih tenang dan bahagia. Akhirnya, bisa juga bersujud di masjid yang bersejarah ini.


Monday, April 11, 2016

Kekuatan Magis Danau Linow di Tomohon






Bus yang membawa kami dari Minahasa Tenggara menuju ke Manado akhirnya membelok  keluar dari Jalan Raya Tomohon, Sulawesi Utara. Jalan yang dilalui lebih sempit dan naik turun sehingga sedikit was-was melaluinya. Apalagi jika bertemu kendaraan dari arah berlawanan. Tapi rasa itu hilang ketika di ujung jalan melihat sebentuk danau nan indah kehijauan dan sebuah papan nama bertuliskan Danau Linow.




Tujuan kami, rombongan blogger dan fotografer, ke tempat ini sebenarnya adalah untuk memenuhi makan siang yang tertunda. Tapi rasa lapar saya entah ke mana perginya, begitu melihat hamparan danau yang dikelilingi bukit ini. Tampak dua kepulan asap geothermal di kejauhan membuat keindahan danau jadi lebih sempurna. Saya merasa bukan di Indonesia.

Saya kemudian melewati gerbang menuju Resto Dlinow dan menuruni anak tangganya. Sungguh, pandai sekali pemilik resto ini memilih tempat. orang tentu tak akan lagi memikirkan jenis masakannya di tempat seindah ini.

Dari pelataran resto, Danau Linow terlihat lebih cantik lagi. Aroma belerang menyeruak karena lelehannya bisa dilihat di samping kiri resto. Beberapa bebek danau terlihat berenang di dekatnya. Sungguh fantastis unggas-unggas itu bisa berenang diair yang pastinya hangat dan berfosfor. Sesekali bebek-bebek itu memasukkan kepalanya ke dalam air. Rasanya tidak mungkin dia mengambil ikan di kepekatan belerang sisa letusan Gunung Mahawu ratusan tahun silam.








Di seberang danau terlihat rumah kayu yang membuat danau semakin eksotis. Saya merasakan kekuatan magis yang membuat saya jatuh cinta dengan danau ini. Kekuatan magis yang muncul karena keindahan danau. Dan lebih takjub lagi, danau ini bila diperhatikan memiliki  warna air danau berubah-ubah dari biru, hijau, sampai kekuningan.



Kekuatan magis makin terasa ketika melihat kukuhnya Gunung Lokon yang masih aktif. Hamparan hijau pepohonan yang seperti menyimpan banyak misteri.

Teman-teman fotografer dan blogger tak henti mengabadikan keindahan danau. Sampai akhirnya pesanan makan tiba. Kami mulai mengerumuni meja dan menyantap pesanan. Saya perlahan menghabiskan mie cakalang yang lezat. Hangat. Sangat cocok dipindahkan ke perut karena gerimis mulai turun membuat suasana sedikit dingin.

Bagi yang ingin bertandang, usahakanlah ke Manado terlebih dahulu. Dari Manado melalui jalan darat pergilan ke arah Tomohon sekitar 30 km. Karena jalan yang cukup sempit, biasanya ditempuh sekitar satu jam sampai tujuan.




^_^


Tuesday, April 5, 2016

Tujuh Daya Tarik Pantai Lakban di Sulawesi Utara




Sulawesi Utara memang terkenal dengan pantainya. Sebut saja Bunaken yang hits sejak lama. Tapi beberapa pantai tampak belum dikenal banyak orang. Salah satunya adalah Pantai Lakban yang terletak di Ratatotok, Minahasa Tenggara, 

Setidaknya saya mencatat tujuh daya tarik yang membuat Pantai Lakban sedikit berbeda dengan pantai lainnya. Saran saya, siapkan kamera untuk mengabadikan keindahan Pantai Lakban. Apa saja daya tarik itu?





Pantai Indah dan Tenang



Pantai Lakban jauh dari keramaian kota, sehingga tempatnya terasa nyaman dan sunyi. APalagi jika berkunjung di hari biasa. Karena masih tenang, kita bisa menikmati pantainya dengan nyaman. Segala kegiatan pantai bisa dilaukan di sini. Mulai dari melempar freesbie, main voli, bahkan berenang di airnya yang tenang.


Bukit Harapan



Salah satu titik tujuan yang bisa dicapai di Pantai Lakban adalah Bukit Harapan. Di bukit ini terdapat simbol bulan bintang dan salib melambangkan kerukunan umat beragama di sekitarnya. Mungkin juga kerukuanan umat agama di Sulawesi Utara yang punya moto 'Kita Orang Bersaudara' itu. Untuk mencapainya hatrus menaiki anak tangga cukup curam. Tapi pemandangan dari atas bukit kearah timur dan barat sangat menakjubkan.

Bukit ini merupakan hadiah dari PT Newmont Minahasa Raya yang dulu beroperasi di kawasan ini. Saat ini, perusahaan tambang tersebut sudah tutup karena habis kontrak karyanya dengan pemerintah Indonesia.


Dua Rumah Ibadah Berdampingan









Untuk melakukan ibadah bagi pengunjung jangan khawatir. Di Pantai Lakban tersedia dua rumah ibadah, yakni Masjid An Namira dan Gereja Masehi Injili yang berdampingan di satu perkarangan.
Dua rumah ibadah juga melambangkan kerukunan umat beraga di kawasan Pantai Lakban.


Naik Bentor


Bosan di pantai? Kita bisa keliling naik bentor yang merupakan kendaraan umum khas setempat. MIntalah menyusurui jalan mulus sepanjang pantai. Bisa juga dipakai berkeliling melihat perkapungan nelayan di ratatotok yang bersih dan tertata rapi.


Kehidupan Nelayan


Ke pantai tanpa melihat sisi kehidupan nelayan rasanya kurang afdol. di Pantai Lakban kita bisa melihat nelayan yang menjaring ikan dari dekat. Bahkan kita bisa menyewa perahu nelayan untuk sekadar mengunjungi pulau-pulau kecil di Pantai Lakban.


Ikan Bakar






Di kampung-kampung nelayan kita akan menemukan para nelayan sedang membakar atau mengasap ikan tangkapan. Kita dapat membeli dari mereka langsung. Tentu akan lebih nikmat jika dimakan bersama nasi dan sambal dabu-dabu. Eit, bukan berarti digado begitu saja tidak enak. Tetap enak kok. Apalagi bagi pecinta kuliner laut.


Sunrise




Pantai Lakban menyajikan pemandangan matahari terbit yang indah. Baik dari sisi pantai maupun dari puncak Bukit Harapan. Syarat untuk menyaksikan sunrise hanya satu, segera menuju ke pantai setelah sahalat subuh.


Nah, untuk transportasi ke Pantai Lakban, silakan menuju ke Manado terlebih dahulu bila dari luar Sulawesi Utara. Setelah itu naik kendaraan lewat darat selama tiga jam.


Thursday, February 25, 2016

Tiga Daya Tarik Tugu Khatulistiwa Pontianak




Datang ke Pontianak, Kalimantan Barat, tidak lengkap rasanya jika tidak mengunjungi Tugu Khatulistiwa. Tapi apa ya kira-kira  daya tari tugu yang dibangun pada tahun 1928 itu? Setelah saya mengunjungi, dan mendapat penjelasan dari  Sutami, petugas Tugu Khatulistiwa, inilah tiga daya tarik utama tugu yang menjadi ikon masyarakat kalbar ini.

Bersejarah 



Tentu saja yang pertama menarik minat adalah sejarah Tugu Khatulistiwa itu sendiri.  Konon dari catatan yang diperoleh pada tahun 1941 dari V. en. W oleh Opzichter Wiese dikutip dari Bijdragen tot de geographie dari Chef Van den topographischen dienst in Nederlandsch- Indië : Den 31 sten Maart 1928 telah datang di Pontianak satu ekspedisi Internasional yang dipimpin oleh seorang ahli Geografi berkebangsaan Belanda untuk menentukan titik/tonggak garis equator di kota Pontianak.



Setelah itu dibangunlah  tugu pertama tahun 1928 berbentuk tonggak dengan anak panah. Tahun 1930 disempurnakan, berbentuk tonggak dengan lingkarang dan anak panah. Tahun 1938 dibangun kembali dengan penyempurnaan oleh opzicter / architech Silaban.  Tahun 1990, Tugu Khatulistiwa direnovasi dengan pembuatan kubah untuk melindungi tugu asli serta pembuatan duplikat tugu dengan ukuran lima kali lebih besar dari tugu yang aslinya.

Bangunan tugu terdiri dari 4 buah tonggak kayu belian (kayu besi), masing-masing berdiameter 0,30 meter, dengan ketinggian tonggak bagian depan sebanyak dua buah setinggi 3,05 meter dan tonggak bagian belakang tempat lingkaran dan anak panah penunjuk arah setinggi 4,40 meter. Diameter lingkaran yang ditengahnya terdapat tulisan EVENAAR (bahasa Belanda yang berarti Equator) sepanjang 2,11 meter. Panjang penunjuk arah 2,15 meter. Tulisan plat di bawah anak panah tertera 109o 20' OLvGr menunjukkan letak berdirinya tugu khatulistiwa pada garis Bujur Timur.

Momen Langka



Momen  menakjubkan dan langka  di sekitar Tugu Khatulistiwa terjadi saat titik kulminasi matahari, yakni fenomena alam ketika matahari tepat berada di garis khatulistiwa. Saat itu posisi matahari akan tepat berada di atas kepala sehingga menghilangkan semua bayangan benda-benda di permukaan bumi. Pada peristiwa kulminasi tersebut, bayangan tugu akan  hilang  beberapa detik saat diterpa sinar Matahari. Demikian juga dengan bayangan benda-benda lain di sekitar tugu.

Peristiwa titik kulminasi Matahari itu terjadi setahun dua kali, yakni antara tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September. Peristiwa alam ini menjadi event tahunan kota Pontianak yang menarik kedatangan wisatawan

Atrkasi Telur





Saya terhibur  ketika Sutami menunjukkan sebutir telur ayam. Mau didadarkah? Sutami membuktikan  bahwa Tugu Khatulistiwa lantaran memiliki medan magnet yang berbeda dan berpengaruh kepada gaya gravitasi benda. Telur ayam di tangannya didirikan di atas lantai dan ... ajaib! Tidak terguliling dan menggelinding.  Saya pun mencobanya dan berhasil.  Menariknya atraksi ini jika dibuatkan catatan rekor lomba mendirikan telur tercepat. Pasti seru untuk atraksi maupun publikasi. Apalagi jika pemecah rekor disyahkan dengan sertifikat.

Maaf, numpang narsis :)
Foto-foto; Benny Rhamdani.

Tuesday, January 19, 2016

Mengejar Kupu-kupu di Air Terjun Bantimurung






Waktu saya hanya sedikit untuk berangkat ke Bandara Hassanudin, Makassar, Hari itu. Tetapi seorang teman meyakinkan bahwa saya bisa berkunjung ke tempat wisata alam Taman Nasional Bantimurung, Kabupaten Maros. Apalagi jarak ke bandara dari Bantimurung tak seberapa jauh.

Akhirnya saya berangkat ke Bantimurung dari Makassar pagi itu dengan menggunakan petek-petek atau angkot. Dari daerah Daya (Jalan Printis Kemerdekaan) saya naik angkot menuju ke Pasar Maros sekitar 20 menit. Dari Pasar Maros perjalanan dilanjutkan dengan angkot menuju Bantimurung.

Agak sulit juga membedakan angkot ke jurusan Bantimurung karena tulisan tujuan kurang terbaca dari jauh. Tapi di depan Pasar maros saya minta bantuan supir angkot yang sedang ngetem. Jadi nggak terlalu sulit.

"Biasanya ada yang ngetem di sini," kata supir petek-petek itu.



Perjalanan menuju ke Pasar Maros yang lurus-lurus saja dan terbilang lancar karena hari masih pagi. Saya sendiri sengaja berangkat pagi karena biasanya angkot tidak gampang ngetem. Pagi itu saatnya pelajar brangkat sekolah, otomatis angkot penuh. Di kiri kanan banyak sekali kedai-kedai penjual roti Maros yang khas.


Perjalanan ke Bantimurung berbeda lagi karena sudah masuk ke alam pedesaan. Jalanan dengan aspal yang licin dan kendaraan yang terbilang jarang, membuat supir menjalankan mobilnya dengan kencang. Saya pun menikmati pemandangan sisi jalan yang indah dan asri. Rumah-rumah panggung yang unik, diselingi hamparan pepohonan di kejauhan.

Ternyata jarak dari Pasar Maros ke bantimurung relatif dekat. Saya pikir tadinya akan melewati jalan berliku dan naik-turun. Dan enaknya lagi, trayek angkot ini mengantar saya sampai depan pintu loket Wisata Bantimurung. Soalnya, selain saya juga naik beberapa pedagang dari lokasi wisata.

Lembah Kupu-Kupu 







Setelah bayar karcis, saya masuk dan sempat ditawari jasa pemandu. Saya sedang terburu-buru jadi kurang berminat. Jadi saya masuk saja memgikuti papan penunjuk. Tempat yang saya sasar pertama kali adalah museum kupu-kupu. Tapi karena terlalu pagi, museum itu masih digembok.  Nggak lucu kan kalau saya bongkar paksa.

Di sebelahnya terdapat sangkar untuk pengangkaran kupu-kupu yang agak horor dilihat sepagi itu. Maka saya pun beringsut menuju ke lokasi lain.





Kembali ke jalan utama taman yang bernama lengkap  Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, saya kagum dengan bukit-bukit karst yang mengelilinya. Apalagi banyak celah-celah yang menyerupai gua alami. Bawaannya pengen berteduh, bakar ayam dan menikmatinya ala-ala orang purba.

Beberapa kupu-kupu berterbangan selapanjang saya berjalan. Tidak heran jika Bantimurung mendapat julukan Kerajaan Kupu-kupu. Kabarnya, terdapat 250 spesies kupu-kupu di etmpat ini. Dan 20 di antaranya dilindungi. saya tidak tahu mana saja yang dilindungi. Tapi memang kupu-kupu memang selayaknya semua jangan sampai musnah karena membantu tanaman dalam penyerbukan.

Di ujung teman, mata saya tertumbuk pada air terjun yang mengalirkan air dengan deras. Rupanya inilah air terjun Bantimurung yang terkenal itu. Saya segera merasakan airnya yang sejuk dan berlama-lama di sekitarnya untuk mengambil beberapa foto. Sampai sempat-sempatnya mengejar kupu-kupu cantik yang berterbangan dekat air tejun Bantimurung.

Tak berapa lama datang beberapa pria dan bermain di pinggir air terjun itu. Kalau tidak terburu-buru mungkin saya juga akan ikut mandi.

Selain air terjun juga terdapat beberapa lokasi yang bisa dikunjungi, seperti Goa Mimpi yang bisa memintas jalur Taman Nasional Bantimurung. Jumlah goa di sekitar Bantimurung sangat banyak. dan konon goa itu dulu sering dipakai untuk bersemedi.

Cendera Mata





Di taman ini, fasilitas menurut saya terbilang lengkap. Mulai dari mushola, kedai makanan, sampai toilet mudah diakses. Bahkan trdapat bungalow yang bisa disewa Rp850.000 per malam. Juga terdapat gazebo dan saung kecil untuk disewa sewaktu-waktu ingin bikin acara kantor atau keluarga.


Begitu pula dengan souvenir. Semua lengkap. saat hendak keluar malah di kantor informasi saya sempat ditawari membeli satu kotak kupu-kupu aneka warna yang dikeringkan sebanyak 15 ekor. Tapi saya kasihan melihatnya, jadi tidak jadi beli,

Di luar pun demikian. Kotak-kotak berisi kupu-kupu dijual di beberapa kios. Selain tentunya kaos, topi dan pernak-pernik berbau kupu-kupu. Saya terpaksa melewatinya khawatir waktu tak cukup untuk mencapai bandara.

Pastinya, saya tidak menyesal melipr ke Taman Wisata Bantimurung. Apalagi perjalanan bolak-balik Bantimurung melewati pemandangan yang menyenangkan. Suatu hari saya ingin datang lagi ke sini bila ada trip ke Makassar. Bahkan membawa keluarga saya.