Showing posts with label Domestik. Show all posts
Showing posts with label Domestik. Show all posts

Thursday, February 25, 2016

Tiga Daya Tarik Tugu Khatulistiwa Pontianak




Datang ke Pontianak, Kalimantan Barat, tidak lengkap rasanya jika tidak mengunjungi Tugu Khatulistiwa. Tapi apa ya kira-kira  daya tari tugu yang dibangun pada tahun 1928 itu? Setelah saya mengunjungi, dan mendapat penjelasan dari  Sutami, petugas Tugu Khatulistiwa, inilah tiga daya tarik utama tugu yang menjadi ikon masyarakat kalbar ini.

Bersejarah 



Tentu saja yang pertama menarik minat adalah sejarah Tugu Khatulistiwa itu sendiri.  Konon dari catatan yang diperoleh pada tahun 1941 dari V. en. W oleh Opzichter Wiese dikutip dari Bijdragen tot de geographie dari Chef Van den topographischen dienst in Nederlandsch- IndiĆ« : Den 31 sten Maart 1928 telah datang di Pontianak satu ekspedisi Internasional yang dipimpin oleh seorang ahli Geografi berkebangsaan Belanda untuk menentukan titik/tonggak garis equator di kota Pontianak.



Setelah itu dibangunlah  tugu pertama tahun 1928 berbentuk tonggak dengan anak panah. Tahun 1930 disempurnakan, berbentuk tonggak dengan lingkarang dan anak panah. Tahun 1938 dibangun kembali dengan penyempurnaan oleh opzicter / architech Silaban.  Tahun 1990, Tugu Khatulistiwa direnovasi dengan pembuatan kubah untuk melindungi tugu asli serta pembuatan duplikat tugu dengan ukuran lima kali lebih besar dari tugu yang aslinya.

Bangunan tugu terdiri dari 4 buah tonggak kayu belian (kayu besi), masing-masing berdiameter 0,30 meter, dengan ketinggian tonggak bagian depan sebanyak dua buah setinggi 3,05 meter dan tonggak bagian belakang tempat lingkaran dan anak panah penunjuk arah setinggi 4,40 meter. Diameter lingkaran yang ditengahnya terdapat tulisan EVENAAR (bahasa Belanda yang berarti Equator) sepanjang 2,11 meter. Panjang penunjuk arah 2,15 meter. Tulisan plat di bawah anak panah tertera 109o 20' OLvGr menunjukkan letak berdirinya tugu khatulistiwa pada garis Bujur Timur.

Momen Langka



Momen  menakjubkan dan langka  di sekitar Tugu Khatulistiwa terjadi saat titik kulminasi matahari, yakni fenomena alam ketika matahari tepat berada di garis khatulistiwa. Saat itu posisi matahari akan tepat berada di atas kepala sehingga menghilangkan semua bayangan benda-benda di permukaan bumi. Pada peristiwa kulminasi tersebut, bayangan tugu akan  hilang  beberapa detik saat diterpa sinar Matahari. Demikian juga dengan bayangan benda-benda lain di sekitar tugu.

Peristiwa titik kulminasi Matahari itu terjadi setahun dua kali, yakni antara tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September. Peristiwa alam ini menjadi event tahunan kota Pontianak yang menarik kedatangan wisatawan

Atrkasi Telur





Saya terhibur  ketika Sutami menunjukkan sebutir telur ayam. Mau didadarkah? Sutami membuktikan  bahwa Tugu Khatulistiwa lantaran memiliki medan magnet yang berbeda dan berpengaruh kepada gaya gravitasi benda. Telur ayam di tangannya didirikan di atas lantai dan ... ajaib! Tidak terguliling dan menggelinding.  Saya pun mencobanya dan berhasil.  Menariknya atraksi ini jika dibuatkan catatan rekor lomba mendirikan telur tercepat. Pasti seru untuk atraksi maupun publikasi. Apalagi jika pemecah rekor disyahkan dengan sertifikat.

Maaf, numpang narsis :)
Foto-foto; Benny Rhamdani.

Friday, February 5, 2016

Merinding Saat di Museum Kalimantan Barat



Sebelum keliling kota Pontianak, Kalimantan Barat, sebaiknya datanglah lebih dulu  Museum Provinsi Kalimantan Barat  di Jalan Jenederal Achmad Yani. Sebab dari sinilah kita bisa mengenal betul sejarah serta budaya yang ada di Pontianak, bahkan Kalimantan Barat.

Saya merasakannya ketika menyambangi museum yang menyimpan berbagai benda-benda bernilai historis dari tiga suku besar yang ada di Kalimantan Barat, yaitu: Suku Melayu, Suku Dayak, dan Suku Tionghoa.

Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi ketika saya tiba. Beberapa pengunjung lokal terlihat memasuki pintu museum setelah membayar tiket masuk di depannya. Petugas museum dengan ramah langsung menyambut dan mempersilakan saya untuk melihat koleksi museum. Mereka juga siap memberikan informasi yang dibutuhkan.

Ruangan pertama yang saya masuki seperti ruang pengenalan tentang peradaban. Di sini saya bisa melihat koleksi geologika berupa peta dan jenis batu-batuan. Juga koleksi biologika berupa tengkorak atau rangka manusia, tumbuhan, dan binatang. SEmaikn seru ketika melihat koleksi arkeologika berupa benda  peninggalan budaya sejak masuknya budaya Barat seperti kapak perimbas , serpih dan mata panah , beliung, kapak persegi dan gerabah, serta manik-manik dan nekara



Keliling museum ini maskin mengasyikan ketika naik ke lantai atas melihat Ruang Budaya Kalimantan Barat, meliputi tujuh unsur kebudayaan: religi dan upacara kebudayaan, mata pencaharian hidup, organisasi kemasyarakatan, teknologi dan peralatan, pengetahuan, kesenian, bahasa.

Jujur saja saya merasa merinding ketika masuk ke sini karena kental dengan suasana mistis. Terutama ketika tiba di koleksi yang berhubungan dengan kematian, seperti Tiang Sandung orang Dayak yang merupakan tempat menaruh abu ataupun jenazah, kain kafan orang Melayu dan alat-alat untuk melakukan perdukunan pada jaman dahulu.



Bisa terbayang jika tiba-tiba lampu di museum mati dan saya sendirian di depannya. Hiiy. Tapi jangan takut, karena selalu ada petugas museum yang menmani dan memrikan informasi jelas ihwal koleksi museum.




Setelah itu, saya menuju ruang khusus koleksi keramik yang membuat saya ingin membawanya pulang. Hehehe. Tentu saja dilarang keras. Jadi nikmati saja sambil merasakan betapa kayanya budaya Indonesia ini sejak dulu.

Di luar museum, saya juga melihat koleksi menarik seperti miniatur rumah adat dan perahu lancang kuning yang biasa dipakai Raja Pontianak berkeliling di Sungai Kapuas pada masanya.

Nah, berminat ikut merinding?



Foti-foto: Benny Rhamdani

Sunday, January 31, 2016

Melipir ke Fort Rotterdam




Salah satu lokasi wisata yang ingin saya datangi ketika bepergian ke Makassar, Sulawesi Selatan, adalah benteng Fort Rotterdam. Alasannya? Ya penasaran aja sama yang namanya benteng bekas peninggalan masa silam.

Setelah turun di depannya dengan menggunakan becak dari hotel, saya langsung mauk ke gerbang yang dijaga tiga orang. Saya diminta masuk ke pos tiket. Tak ada penejlasan saya harus bayar berapa. Petugas hanya minta uang bayaran seikhlasnya. Menurut saya agak aneh juga ya. Nanti bagaimana menghitung uang masuk ke kas dan bagaimana cara menghitung potongan pajaknya untuk negara. Apalagi saya nggak dikasih karcis apapun setelah membayar Rp20.000.

Barulah ketika masuk ke bagian museumnya dan ditagih uang tiket, saya mendapat tiket dengan harga yang pasti. Okelah, saya nggak mau ribet juga soal tiket nggak jelas itu. Saya berusaha menikmati suasana benteng yang kerap disebut Benteng Ujung Pandang ini di bawa sengatan matahari yang bikin saya terus berkeringat dan kehausan


Saya mulai naik ke bagian atas benteng dan melihat reruntuhan yang saya tidak bisa bayangkan bagaimana bentuk aslinya.  Benar-benar reruntuhan. Dan saya baru bisa dapat gambaran begitu brwosing di Internet.







Fort Rotterdam  adalah sebuah benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. Letak benteng ini berada di pinggir pantai sebelah barat Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 yang bernama I manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa'risi' kallonna. Awalnya benteng ini berbahan dasar tanah liat, namun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin konstruksi benteng ini diganti menjadi batu padas yang bersumber dari Pegunungan Karst yang ada di daerah Maros.

Benteng Ujung Pandang ini berbentuk seperti seekor penyu yang hendak merangkak turun ke lautan. Dari segi bentuknya sangat jelas filosofi Kerajaan Gowa, bahwa penyu dapat hidup di darat maupun di laut. Begitu pun dengan Kerajaan Gowa yang berjaya di daratan maupun di lautan.



Nama asli benteng ini adalah Benteng Ujung Pandang, biasa juga orang Gowa-Makassar menyebut benteng ini dengan sebutan Benteng Panyyua yang merupakan markas pasukan katak Kerajaan Gowa. Kerajaan Gowa-Tallo akhirnya menandatangani perjanjian Bungayya yang salah satu pasalnya mewajibkan Kerajaan Gowa untuk menyerahkan benteng ini kepada Belanda. Pada saat Belanda menempati benteng ini, nama Benteng Ujung Pandang diubah menjadi Fort Rotterdam. Cornelis Speelman sengaja memilih nama Fort Rotterdam untuk mengenang daerah kelahirannya di Belanda. Benteng ini kemudian digunakan oleh Belanda sebagai pusat penampungan rempah-rempah di Indonesia bagian timur.


Di kompleks Benteng Ujung Pandang kini terdapat Museum La Galigo yang di dalamnya terdapat banyak referensi mengenai sejarah kebesaran Makassar (Gowa-Tallo) dan daerah-daerah lainnya yang ada di Sulawesi Selatan. Sebagian besar gedung benteng ini masih utuh dan menjadi salah satu objek wisata di Kota Makassar

Setelah mengitari renruntuhan benteng sambil membaca sejarah, saya masuk ke dua museum yang ada di dua sayap. Museumnya lebih banyak menceritakan sejarah dan seni budaya di tanah Sulawesi selatan. Jadi mau tahu tentang budaya Toraja atau Bugis juga ada di sini. Mau masuk ke museum yang bernama  Museum La Galigo  ini  harus membayar lagi Rp5000. Siap-siap saya buka sepatu dan sandal bila ingin masuk ke dalam.

Untuk yang senang foto-foto bareng, lokasi museum ini sangat indah sebagai latar. Apalagi datang pada sore hari.

Care ke benteng ini gampang sekali. Dar manapun, mintalah antar ke Pantai Losari karena lokasinya berada di dekat kawasan Pantai Losari.

Monday, January 18, 2016

Menikmati Karya Seni di Pantai Losari Makassar


Buat apa ke Pantai Losari di Makassar? Pantainya tidak ada pasir dan karang seperti pantai-pantai di Bali. Begitulah kata seorang teman. Tapi saya menemukan keasyikan tersendiri saat melipir ke Pantai Losari. Mata saya dimanjakan karya seni anak bangsa di pantai ini.

Pantai Losari terdiri atas empat anjungan, yakni anjungan Pantai Losari, anjungan Metro Makassar dan Bugis-Makassar, serta anjungan Toraja-Mandar.

Beberapa karya seni yang bisa kita nikmati di Pantai Losari, mulai dari seni arsitek, seni instalasi, seni patung, sampai seni lukis. Bagi saya ini semacam memberi penyegaran jiwa di tengah panasnya kota Makassar yang membuat saya kerap berkeringat saat di luar ruangan.

Seni Arsitek Masjid Amirul Mukminin





Padahal saya masuk ke area Pantai Losari masih pukul delapan, namun matahari sudah menengat kulit. Tujuan pertama saya adalah melihat-lihat masjid terapung Amirul Mukminin yang tampak anggun berdiri di atas tiang setinggi sembilan meter.

Karena air laut sedang surut, saya tak melihat masjid itu sedang mengapung. Mungkin lepas senja barulah masjid ini bisa tampak terapung di pantai Makassar. Kendati tampak kecil, ternyata masjid ini bisa sampai menampung 400 jemaah lho.


Masjid ini memiliki gaya arsitektur yang unik. Di inggir Masjid terdapat tangga yang menjulang  dan menjalar melingkari masjid dari lantai pertama hingga tiga. Bila hendak sahalat magrib, jamaah akan melihat pesona Pantai Losari  saat melewati tangga tersebut. Lantai yang paling atas digunakan sebagai tempat khusus bagi jamaah yang ingin melaksanakan shalat sendiri (biasanya sholat sunnah) agar lebih khusuk. Lantai kedua  khusus untuk jamaah wanita. Lantai pertama digunakan shalat bagi jamaah pria. Arsitek Danny Pomanto yang mendesain masjid ini juga memberikan aksen  jendela terbuka sehingga angin pantai masuk ke rongga Masjid.


Kendati sudah diberi nama resmi masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid Terapung, Masjid Biru, dan Masjid 99 Al Makazzary. Berdiam sejenak di masjid ini sambil mengamati seni arsitekturnya merupakan hiburan tersendiri buat saya.

Seni 20 Patung Dada






Di pelataran depan Masjid Terapung, saya melihat duapuluh patung dada  berwarna putih berdiri gagah. Selain nama, juga terdapat keterangan informasi tahun kelahiran. Tentu akan lengkap jika ditulis juga peranan mereka hingga patung dada mereka hadir di sana. Khususnya bagi wisatawan yang ingin belajar sejarah kota Makassar.

Saya sendiri hanya mengenal lima nama dari keseluruhan. Selebihnya saya baru tahu ketika membaca internet. Kira-kira berapa nama yang Anda kenal dari deretan nama ini? Arung Palakka, Andi Sultan Daeng Raja, Andi Lasinrang, L.S. Madukelleng, Ranggong Daeng Romo, Jenderal M. Yusuf, Andi Pangeran Pettarani, Karaeng Patingaloang, Mayor Jenderal A. Mattalata, Pongtiku, dan Andi Djemma.


Sayangnya ada patung dada yang dicoreti tangan-tangan usil. Saya mau menghapusnya tadi tidak bisa. Oh iya, selain patung dada juga ada patung lainnya.

Patung Sultan Hasanuddin, pahlawan nasional asal Gowa, bertengger di Anjungan Losari. Karena keberaniannya pahlawan ini dijuluki “De Haantjes van Het Oosten” oleh pihak Belanda, yang artinya Ayam Jantan dari Timur.

Di sebelah patung itu, ada patung Andi Abdullah Bau Massepe, seorang asisten residen (Ken Kanrikan)—bentukan Jepang ketika itu, pahlawan nasional yang menyerukan agar semua rakyat untuk bersatu mempertahankan kemerdekaan sampai tetes darah penghabisan. Ada juga sosok ulama besar penyebar Islam, yaitu Syekh Yusuf.

Di anjungan Bugis-Makassar beridiri patung berbentuk becak, kapal pinisi, permainan paraga, dan tarian pepe-pepeka ri makka.





Patung-patung di anjungan Bugis-Makassar ini dibuat oleh perajin dari Mojokerto, Jawa Timur, Yusach N.H. Sementara patung tokoh-tokoh Sulawesi Selatan, dibuat oleh perajin asal Toraja. Masyarakat Toraja terkenal dengan budaya membuat patung kayu, yang dikenal dengan nama tau-tau.

Di pelataran Toraja-Mandar  beridiri patung tedong bonga—kerbau belang, tongkonan—rumah adat Toraja, dan tari pa’gelu.  Pembuatan patung-patung di anjungan Metro Makassar dan Bugis-Makassar ini, menghabiskan biaya sekitar Rp 2 miliar, kabarnya.

Seni Lukis di  Makassart Gallery




Hal paling menarik selain foto-foto selfie di depan instalasi  aksara nama kota dan suku di Sulawesi Selatan, buat saya adalah ketika menemukan Makssart Gallery. Wuah, sebagai pecinta karya lukis, saya langsung buru-buru masuk ke dalamnya,

Saya sungguh mengagumi coretancoretan cat di atas kanvas yang terpajang di galeri. Kesedrahaan, kekayaan warna merupakan kekuatan yang ditawarkan banyak pelukis. Waluapun penataan display masih seadanya, masuk galeri ini ibarat menemukan oase di padang pasir.




Di luar tampak seorang bapak tengah membuat sektsa dengan sungguh-sungguh. Saya ingin bertanya-tanya tapi khawatir mengusik konsntrasinya. Jadi saya harus puas cukup dengan melihat bapak itu sedang berkarya.

Seandainya ruang galeri ditata lebih apik, saya yakin orang akan semakin tertarik mengunjunginya dan belama-lama di dalam.

Siang makin terik. Jiwa saya terpuaskan sudah dengan karya seni yang bertaburan di Pantai Losari. Selama ini, saya membaca Pantai Losari lebih banyak dibahas soal kuliner kaki limanya, maupun momen sunset. Ternyata banyak hal lain yang bisa kita nikmat, tergantung passion kita tentunya.