Showing posts with label review hotel. Show all posts
Showing posts with label review hotel. Show all posts

Monday, November 21, 2016

Hotel Alternatif di Mercure Nusa Dua Bali





Tawaran ke Bali untuk urusan mengisi workshop penulisan cerita anak tidak saya sia-siakan. Saya langsung mengiyakan kendati sebenarnya agenda acara saya sudah padat. Bali selalu membuat saya tidak berani menolak tawaran siapapun untuk ke sana. Apalagi kali ini acara akan dihelat di Nusa Dua, wilayah Bali yang belum saya injak di tiga kunjungan ke Bali sebelumnya.


Dari Bandara I Gusti Ngurah Rai saya dijemput menuju  Mercure Nusa Dua Hotel. Saya sudah membayangkan hotel ini berada persis di sisi pantai seperti saat saya ke Mercure Resort di Sanur tahun lalu. Namun, anggapan saya langsung gugur ketika dari jalan raya ternyata mobil yang saya tumpangi tidak mengarah ke kawasan Bali Tourism Development Corpoartion, tapi sedikit di luarnya.


Itu artinya hotel ini tidak menempel dekat pantai. Wuah, kurang seru nih. Akhirnya, saya segera check in dan menuju kamar. Dan kekecewaan saya itu luntur seketika, lantaran view yang tampak di jendela sangat membuat saya senang. Kolam renang yang menarik dan pepohonan asri di sekitar. Ini tak kalah mengasyikan. Toh, tinggal di kamar hotel menempel di pantai pun belum tentu mendapat view pantai. Malah beberapa kali saya kecewa dapat view kurang asyik.

Setelah bertanya, akhirnya saya tahu meskipun tidak dekat pantai, Mercure Nusa Dua punya area pantai sendiri di Nusa Dua. Untuk menyambangi tempat itu cukup naik mobil hotel yang bisa mengantar jemput sejak pukul delapan pagi.

Buat saya sih terlalu siang pukul delapan pagi. Sebab saya tahu Pantai Nusa Dua tempat keren untuk menyaksikan matahari terbit alias sun rise. Esok harinya saya langsung ke luar hotel usai shalat Subuh samembari jogging rutin. Ternyata pantainya nggak jauh-jauh amat, Hanya dengan sepuluh menit jogging saya sudah sampai pantai lewat jalan Pantai Menggiat. Berbeda dengan pantai milik hotel yang ada di sekitar Pulau Peninsula.


Jadi, soal pantai dekat atau tidak, sudah bukan soal lagi buat saya. Mau lihat matahari terbit tinggal jogging sebentar. Mau berenang? Kolam renangnya amazing kece. Biru sebiru hatiku. Halagh! Biar enak berenangnya, mendingan pagi-pagi saja. Habis jogging di pantai. Biasanya para bule kan belum bangun. Kalau agak siang banyak anak-anak. Sore sampai malam banyak pemandangan bikin kurang fokus .

Sehabis berenang dan berbilas, bisa tuh langsung sarapan di Soka Restaurant. Tempatnya semi terbuka tapi tetap nyaman. Berada di lantai bawah dekat kolam renang. Dari lobi hotel hanya turun satu lantai.

Selama lima hari di hotel saya tidak bosan dengan variasi menunya karena mengombinasikan menu nasional dan internasional. Lagian saya diet. Jadi, paling ya salad dab buah saja yang dimakan. Atau sesekali makan daging ayam, ikan atau telur. Pelayanannya sangat ramah di resto. Saya beebrapa kali minta dipotongkan sayur okra untuk obat diabetes saya, eh bukan cuman dipotong tapi juga dibersihkan dan disediakan air panas untuk merendamnya juga. Kerenlah.

Oh iya, bicara soal kamar, menurut saya sih sesuai dengan gaya hotel masa kini yang minimalis, tapi ruangan tetap terasa luas. Patokannya sih mudah. Jika masih ada ruang untuk shalat, artinya itu cukup luas.

Bagian shower dan toilet terpisah. Ini menguntungkan buat tamu yang sharing kamar dengan orang lain selama menginap. Seperti kali ini saya share dengan komikus Sweta Kartika. Cuman bagian dinding showernya saja yang  berkaca (ini memang model sekarang) itu terlalu transparan. Jadi kalau mau mandi ya mending atur-atur jadwal saja saat salah seorang keluar kamar biar nggak risih.

Yang membuat saya betah berada di kamar adalah view menghadap pool, selain tentu saja bed yang nyaman buat tidur. Tapi saya sarankan jika akan menginap di sini membawa terminal tiga karena colokannya terbatas. Apalagi jika punya gadget yang banyak untuk dicharge. Belum lagi jika sharing kamar.


Selama di Mercure ini, ruangan paling sering saya singgahi adalah ruangan meeting dan seminar. Ada empat ruangan yang dipakai yang terletak di dekat lobi hotel. Saya sering singgah ke sini bukan semata untuk workshop, tapi juga karena ada ruang mushola. Sudah jadi kebiasaan saya, memilih shalat di mushola hotel ketimbang di kamar, karena beberapa alasan.


Ruang seminar dan rapat menurut saya cukup memadai. Yang terpenting sih wifinya kuat. Selebihnya ya standar. Apalagi ini buat workshop. Saat padat tamu, penyejuk ruangan juga bejalan normal. Begitu pula dengan sistem suara.

Fasilitas lain yang ada di sini adalah penyewaan sepeda, spa, dan gym yang sama sekali tidak saya manfaatkan karena kesibukan di acar yang saya ikuti. Tapi saya suka dengan pojok baca di dekat lobi yang cantik. Entahlah, saya sering betah berada di lobi hotel yang tersedia ada rak buku sehingga bisa asik membaca.


Mercure Nusa Dua juga dekat dengan desa adat masyarakat sekitar. Jadi jika ingin ke minimarket, dari  hotel tidak terlalu jauh, demikian juga tempat pijak refleksi, atau rumah makan bagi yang bosan dengan hidangan hotel.

Jika ingin membeli oleh-oleh bisa berburu di Jalan Pantai Menggiat yang hanya 100 meter dari hotel. Tentu saja harus ditawar saat membeli. Jika tidak pandai menawar bisa pergi ke Hardis sekitar empat kilometer dari hotel. saya pergi ke sana dengan ojek online, walaupun sebenarnya telarang beroperasi di daerah sana.

Kesimpulan saya, hotel ini lebih cocok untuk menginap dalam jumlah rombongan, membuat acara workshop maupun seminar. Jika untuk liburan keluarga bisa jadi alternatif meskipun tidak berada dekat pantai, sehingga budget kamar pun lebih rendah ketimbang hotel-hotel di kawasan BTDC. Toh, kalau mau ke hotel ada mobil hotel yang bisa antar jemput.



Monday, August 1, 2016

4 Alasan Menginap di Hotel Best Western Premier The Hive, Jakarta Timur








Tinggal di Bandung dan kerap dinas di Jakarta, membuat saya beberapa kali kebingungan mencari hotel untuk stay satu atau beberapa malam di Jakarta. Banyak pertimbangannya mencari hotel di Jakarta.

Kadang saya menemukan hotel yang cocok, tapi lokasinya nggak strategis dan macet. Kadang pula alternatif kendaraan umum terbatas. Giliran saya menemukan yang strategis, pelayanan hotel dan fasilitas kurang memuaskan. Alhasil saya sering tanya sana-sini juga minta rekomendasi teman atau browsing di beberapa laman yang menyediakan saran  atau rekomendasi hotel.

Belum lama ini saya harus dinas ke Jakarta untuk dua acara sampai larut malam. Mau tak mau saya harus menginap di Jakarta. Setelah bertanya-tanya saya mendapat rekomendasi untuk menginap di Hotel Best Western Premier The Hive, Cawang, Jakarta Timur.

Strategis



The Hive yang saya tahu artinya adalah sarang lebah. Dan saya agak penasaran juga untuk segera tiba di Hotel BWP The Hive. Begitu beres dari acara di Kuningan, saya langsung menuju ke Cawang. Alhamdulillah lancar. Ternyata di depannya ada sebuah halte Trans Jakarta. Sangat menguntungkan jika jam macet  karena Trans Jakarta bisa leluasa melenggang di jalurnya sendiri.

Kawasan Cawang merupakan pintu masuk ke Jakarta dari sebelah timur. Banyak kantor-kantor pemerintah, bisnis, militer sampai universitas berdiri di kawasan Cawang. Tentunya para tamu yang memiliki kepentingan ke kantor-kantor tersebut bisa meamnfaatkan BWP The Hive untuk tinggal. Apalagi   dari Bandara Halim Perdana Kusumah dalam keadaan lancar hanya 10 menit. Dan tol kawasan Cawang juga bisa meuju ke beberapa arah, seperti ke Bekasi, Bogor, tengah kota Jakarta, bahkan ke bandara Soekarno Hatta.

Untuk pusat rekreasi juga bisa dengan mudah menuju ke Taman Mini sampai Ancol. Kalau sekadar wisata kuliner, karena berada di kawasan kondominium, tersedia mall di hotel tersebut. Kalao nggak mau ribet lagi, ya makan saja di resto milik hotel. Kuliner Indonesianya enak-enak kok.


Nyaman


Saat di lobi kita bisa melihat dekorasi interior dengan kotak heksagon sebagai lambang sarang lebah di beberapa titik. Baik di dinding, lantai maupun lagit-langit. Enaknya memang kalau hotel punya nama yang bisa dijadikan tema desain.

Saya langsung merasa nyaman ketika menyambangi balkon yang menyajikan hamparan kolam renang dan restoran. Kenyamanan kian terasa ketika saya kemudian sampai ke kamar. Tara! bed yang empuk dengan selimut nyaman dan saya mendapat view yang bagus untuk melihat sekitar Cawang.

Malamnya ketika tertidur saya bisa terlelap pulas karena merasakan kenyamanan di dalam hotel. Padahal biasanya saya termasuk yang susah tidur kalo di hotel.

Komplet

Menginap di hotel kadang kita juga ingin melakukan hal lain di luar tidur. seperti yang saya ungkap tadi, di sini ada kolam renang yang bikin segar karena ada angin di sekitarnya. enaknya sih berenang saat pagi. tapi kalau sempat nya sore hari juga asyik. 

Mau menjaga kesehatan? Di sini tinggal menuju ruang gym untuk mengeluarkan keringat. Nggak perlu angkat-angkat barbel, cukup dengan lari santai di atas treadmill juga seru. Nggak heran sih kalo di hotel ini fasilitasnya komplet, namanya juga hotel bintang lima. Apalagi masih dalam satu group Best Western yang mendunia. Sampai-sampai towelnya pun pakai standar internasional.


Lezat

Hal paling menyenangkan tinggal di The Hive  bagi saya adalah saaat sarapan di Heather Resto. Menunya lengkap dari oriental sampai kontinental, termasuk tradisonal Indonesia. Sampai bingung milihnya. Tapi karena namanya sarapan ya nggak bisa banyak-banyak makannya. Sepertinya memang harus menginap lebih dari semalam biar bisa merasakan semua menu breakfast.

Sorenya saya sempat menikmati aneka menu andalan Heather Resto. Jelasnya baca di sini aja nih: Bebek goreng.

Nah, saya rekomendasikan hotel ini untuk perjalanan dinas, bisnis atau rekreasi bareng keluarga. Terutama yang aktivitasnya di kawasan Jakarta Timur. Eh tapi ke Jakarta Pusat juga nggak jauh kok.





Tuesday, November 24, 2015

Begini Rasanya Menginap di Hotel All Seasons Thamrin Jakarta

Saat mendapat undangan untuk menginap di hotel ini, saya sempat salah membaca. Four Seasons, padahal All Seasons. Saya baru sadar ketika ingat hotel Four Season bukannya sedang renovasi? Dan begitu membaca alamatnya di Jalan Talang Betutu, Thamrin, ya ternyata memang saya keliru.


Saya check in ke hotel berbintang tiga ini setelah perjalanan panjang dari Bandung, ke Gramedia matarman, lalu ke kantor PT Newmont Nusa Tenggara di Kuningan. Jadi benar-benar lelah dan bawaannya pengen ketemu bantal.

Setelah konfirmasi ke front office, lalu meminjamkan KTP saya, segera saya mendaptkan nomor kamar 202 dan kuncinya. Oh iya, lobi htel ini nggak luas-luas amat. Selain ada tempat duduk-duduk di sayap kanan ada juga patung lucu ini. Lihat foto narsis saya pertama di lobi hotel ini ya.



Saya pun naik lift ke lantai dua. Nggak jauh. Tapi tetap aja nggak akan bisa masuk ke lantai itu kalo nggak bawa kartu elektronik dari front officer. Dan, begitu buka kamar saya langsung manggut-manggut. Ya, nggak jauh dengan yang ditampilkan di website mereka.









Saya suka interior bagian bed dan meja depan bed. Tapi jendelanya tertutup setengah. Mungkin itu plang hotel atau sesuatu. Jadi saya hanya dapat cahaya dari luar dari setengah jendela yang ada. Dan karena minimalis, wastafel pun ada di luar kamar mandi, dekat bed. Toilet dan shower terpisah karena memang .. ya minimalis.

Niat saya untuk bobo tampan sehabis shalat tak terlaksana karena tiba-tiba langsung ada panggilan meeting. Saya diminta ke ruang UT.

Ruang UT dan R

Terus terang saya nggak tahu apa itu UT. Apakah upper top atau lainnya, tapi sepertinya kalo dari petunjuk lift ada di lantai teratas.  Di ruang inilah saya meeting dengan teman-teman seperjuangan. Sebentar sih. Karena lebih mirip briefing.




Kemudian, saya diminta untuk ke ruang R untuk makan malam. Yeah ... saya ke kamar dulu, mandi dan shalat magrib baru deh ke ruang R. Nah kalo ini mungkin singkatannya adalah restoran.

Saya suka ruang R karena ada teras balkon sehingga bisa menghirup udara Jakarta. Di malam hari terlihat lebih indah karena cahaya lampu bertebaran di mana-mana. bahkan meskipun hujan.




Ada musik hidup saat malam malam. Walau sebenarnya agak berisik buat yang nggak suka makan dengan iringan musik ingar bingar. Seperti kata CEO Room to Read yang mengajak teman-teman ngobrol.

"Terlalu berisik," kata Errin. Tapi dia maklum banget, karena tahu orang Indonesia dimana pun suka banget menyanyi. Bah!

Oh iya, saya memasuki R ini tiga kali sehari. Sarapan, makan siang dan makan malam. Dan alhamdulillah saya nggak merasa bosan makan di tempat ini. Begitu pun masakannya. Soalnya, selalu tersedia menu Indonesia, aneka sambal dan kerupuk. hahaha. Indonesia banget ya gue.


Catatan saja ya:

1, Hotel ini mungkin cocoknya memang buat yang manfaatin untuk simpan barang lalu beraktivitas seharian di luar kamar, lalu pulang untuk tidur nyenyak karena lelah. Bukan hotel untuk liburan. Walaupun minimalis tapi tetap terasa premium kok.

2. Cocok banget untuk yang cari hotel budget di tengah kota Jakarta. Terutama kalau ada pertemuan-pertemuan bisnis yang mengharuskan datang pagi. dari pada macet. Mendingan nginap di sinilah. Apalagi dari luar kota.

3. Asyiknya kalau saya dari Bandung, dekat sekali dengan kawasan Jalan Blora. Tempat favorit para pengguna jasa travel. Bahkan juga dekat dengan stasiun kereta Semanggi. Jadi kalo mau kabur ke luar kota, hehehehe, ya gampang.

4. Strategis ke Thamrin City. Soalnya saya sempat lupa bawa batik, nah ke Thamrin City cuman 10 menit pakai ojek sampai. Asal pintar nawar ojek aja.

Saturday, June 13, 2015

Nyenyaknya Tidur Dua Malam di Hotel Lombok Raya Mataram




Matahari mulai tergelincir ke barat ketika kami masuk ke Hotel Lombok Raya di Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat ini. Sayua tak begitu sempat memerhatikan bangunan depan hotel karena begitu ramai kendaraan dan spanduk selamat datang tamu peserta seminar ini dan itu.

Saat check in di front office, kami tak mengalami kesulitan karena sudah reservasi sebelumnya. Seorang room staf room service meminta saya mengikuti langkahnya menuju ke dalam hotel. Ternya jalan menuju kamar tak sedekat yang saya kira. Tapi saya senang karena saya bisa melihat sisi lain hotel ini yang ternyata begitu asri.


“Ini hotel bintang berapa?” tanya saya .

“Bintang tiga. Tapi akan diupgrade jadi bintang empat,” jawab staf room service.

Oh, pantas saja telihat luas dan asri. Rasanya memang sudah tidak pas kalau hanya bintang tiga.

Tatkala pintu kamar terbuka, saya langsung jatuh cinta dengan desain interiornya. Sederhana, tapi berseni. Semua terkesan rapi. Bahkan kamar mandinya juga tampak rapi. Yang bikin saya senang adalah kamarnya memiliki balkon. Saya bisa duduk santai di teras balkon sambil melihat eksterior terbuka hotel yang asri.

Satu lagi kejutan, sandal hotelnya berbeda dengan kebanyakan hotel. Di sini sandal jepit berwarna kuning biru yang unik. Saya sejak melihatnya langsung kepikiran untuk membawanya pulang. Kalau sendal hotel biasa, saya sudah bosan.

Di sela-sela waktu santai di hotel, saya melihat fasilitas hotel yang memadai. Kolam renangnya ditata tidak kotak begitu saja seperti kebanyakan.  Ada pilihan kolam dangkal dan dalam untuk dewasa. Sayangnya, saya tidak sempat berenang di sana. Padahal kepengen sekali. Apalagi ada jembatan melintang di atasnya.

Di hotel ini juga tersedia kios cenderamata yang menurut saya cukup bersaing harganya dengan produk di luar hotel. Biasanya kan harga sovenir di hotel mahal. Di sini kaos seharga Rp20.000 saja tersedia. Cuman ya, tentu kualitasnya juga seharga itu. Selain kain batik dan tenun Lombok, juga dijual batu akik yang sedang trend. Saya yang dompetnya sudah menipis hanya sempat membeli gantungan kunci. Hihihihi.

Lokasi hotel Lombok raya terbilang strategis. Untuk mencapai mall, cukup berjalan beberapa puluh meter. Begitu pula mencari tempat makan, baik khas lokal maupun modern tidak terlampau jauh.


Saya mungkin akan kembali menginap di hotel ini jika suatu hari pergi ke Lombok. Apalagi hotel ini tampak ramah keluarga. Saya betah di sini karena bisa tidur nyenyak selama dua malam. Oh iya, menu sarapannya juga seru di sini. Apalagi saat saya menginap disajikan kolak pisang dan ubi. Membuat saya semakin rindu datangnya Bulan Ramadan, yang sesaat lagi ini.


Foto-foto: Benny Rhamdani

^_^

Pengalaman Menginap di Swiss Bell Hotel Jayapura




Berpergian dengan instansi pemerintah, kerap seperti kencan buta. Kadang jadwalnya diubah semau mereka, kadang pula hotelnya baru diketahui detik-detik saat tiba di airport. Begitu pula yang saya alami ketika mengikuti perjalanan dinas ke Jayapura, Papua. Saya sampai mndarat di Bandara Sentani, tidak tahu menahu akan menginap di hotel yang mana. Alhasil, saya kerap tidak berani merencanakan apa-apa di kota tujuan nanti. Khawatir jika ternyata tempat yang rencananya akan dkunjungi jauh dari tempat yang dihayalkan.

Tepat setelah beberapa menit keluar bandara Sentani, saya baru tahu akan menginap di Swiss Bell Hotel. Letaknya tidak ada gambaran, karena saya belum sempat browsing seluruh hotel di Jayapura. Saya pun tidak berani muluk-muluk membayangkan hotelnya. Dan ternyata ...voila! Hotel itu terletak  di pinggir Pantai Kupang Dok 2, Jayapura. Konon nama Kupang berasal dari singkatan bangKU PAnjaNG yang banyak terlihat di sekitar sisi pantai.




Begitu sampai, saya yang sudah keroncongan karena perjalanan panjang dari Bandung (3 jam Bandung-Jakarta, 4 jam Jakarta-Jayapura, dan 45 Menit Sentani-Jayapura) langsung happy ketika diminta mengisi perut dulu di restorannya. Tambah happy lagi lagi ketika tahu restorannya memiliki halaman dimana tamu bisa duduk di luar sambil memandang pantai.

Dari sini saya bisa melihat pulau-pulau kecil nan indah, pelabuhan Jayapura, hingga bukit Polimak dengan tulisan Jayapura City. Rasanya pengen nyebur saja ke laut di depan saya karena hari saat saya sampai lumayan menyengat.

Setelah mengganjal perut, saya masuk ke kamar hotel, berharap jendela kamar akan menghadap ke laut juga. Tapi ... hmmm, saya harus menelan mimpi saya. Jendela menghadap ke arah jalanan nan ramai. Kurang berasa sedang menginap di sebuah kota bernama Jayapura.

Fasilitas di dalam hotel tidak ada yang lebih maupun kurang dibandingkan dengan hotel sekelasnya di Pulau Jawa sekalipun. Apalagi ini hotel yang memiliki group, pastinya memiliki standart segalanya. Termasuk pelayanannya. Cuman, mungkin karena kota Jayapura sedang senang padam listrik, beberapa kali saya kegerahan karena AC mati disebabkan listrik PLN padam.

Lokasinya sendiri menurut saya strategis. Saat pagi hari kita bisa hunting matahari terbit di pantai depan kantor Gubernur. Mau ke mall juga tak seberapa jauh karena ada Jayapura Mall. Tersedia pula beberapa kios penjual sovenir, jika tak sempat sengaja mencari barang-barang khas setempat.

Malam hari, kawasan Dok 2 ini sangat ramai dengan beraneka ragam kuliner dan hiburan malam, seperti karaoke.

Naik angkot pun cukup mudah. Ada pangkalan angkot putih yang siap mengantar kita ke pusat keramaian di 'kota', yakni Jalan Ahmad Yani. Warga setempat biasa memangggil angkot dengan 'taksi'.

Karena ini perjalanan dinas, jadwal padat, saya tidak sempat memeriksa fasilitas lain di hotel. Tapi saya bisa bilang puas tinggal di sini, walaupun sebenarnya agak jauh dari lokasi acara saya, yakni di sebuah SMK negeri di Abepura.

Saya bersama sastrawan Jamal D Rahman di halaman restoran.



Foto-foto: Benny Rhamdani

Sunday, May 17, 2015

Sangria, Hotel Berbintang Tanpa AC namun Tetap Diminati






Rasanya memang aneh bila menginap di hotel berbintang tiga, tapi kita tidak menemukan air conditioner  (AC) di dalam kamarnya. Nyatanya saya bertahan menginap sembilan hari di hotel bernama Sangria Resort di Lembang, Jawa Barat ini.

View kamar bikin adem. (Foto: Benny)
 Saat pertama bertandang, saya menyetir sendiri ke Jalan Holtikultura Lembang. Sedikit meragukan dengan performa hotel itu karena jalan yang harus dilalui tidak diaspal halus dan berada di ujung jalan kecil.  Akhirnya, bayangan itu langsung pupus karena saya bisa melihat sebuah hotel yang cantik.

Begitu menuju front officer yang ramah, saya segera mendapatkan kunci. Voila! Saya mendapatkan sebuah kamar yang menghadap langsung ke sebuah lereng dipenuhi pepohonan. Di kejauhan saya melihat gunung Burangrang berdiri tegak.



Hall di Sangria juga nyaman lho. (Benny)
Lantai kamar terasa dingin membuat saya ingin mematikan AC. Tapi di mana remotenya? Terus di mana AC-nya? Halagh, ternyata memang tidak ada AC. Kesejukan di kamar ternyata karena memang suhu udara Lembang yang di bawah 20 derajat Celsius. Saya  segera memakai sandal hotel. Dan sandal hotelnya berbeda sekali dengan kebanyakan sandal hotel lainnya.  Bikin telapak kaki terasa hangat.

Saya pun tertarik masuk ke websitenya dan melihat rate kamarnya. Wow, di atas satu juta semua. Dan tidak ada AC pula.  Okay, tapi fasilitas kamarnya cukup memadai kok. Ada  wifi yang jika beruntung posisi kamarnya bisa sangat kencang, televisi dengan saluran HBO, jomlah colokan yang pas, meja keja, coffee maker, dan fitur standar hotel lainnya.

Kamar mandinya pun terbilang sedang ukurannya.  Hanya showernya saja menurut saya kurang panjang. Jadi kalau mandi kadang harus mepet-mepet tembok.

Citrus Taste

Saya menginap di hotel ini dua kali. Kali pertama saya menginap empat malam, kali kedua saya menginap lima malam. Rupanya, penyelenggara workshop yang saya ikuti ketagihan dengan Sangria. Salah satunya tentu karena di sini ada resto yang menurut saya keren, yakni Citrus Taste.

Kerennya resto ini karena memiliki view yang indah bila kita makan di balkonnya. Dari dalam pun kita bisa melihat saja sih. Tapi kalo di balkon kita bisa menikmati udara segar dan cahaya matahari pagi saat sarapan. Kalo malam? Brrr, kecuali pakai jaket, silakan saja makan di balkonnya.


Soal pilihan menu makanan saat sarapan menurut saya cukup variatif. Nggak terlalu melimpah seperti kalau saya menginap di hotel-hotel yang berada di tengah kota. Tapi saya malah jadi tidak tergoda untuk tetap menjaga menu sarapan yang sehat. Minimal, tetap konsumsi serat, kan?

Menu makan siang dan makan malam pun menurut saya lumayan variatif. Kadang masakan lokal, kadang oriental, kadang ada continental. Pastinya sih, masuk perut saya. Kalau misalnya agak sedikit bosan, saya tinggal keluar cari kuliner Lembang. Kebetulan lokasi Sangria nggak begitu jauh dengan jajanan malam susu murni dan ketan bakar, kalau siang bisa juga mampir ke Pasar Apung yang beken itu. Jaraknya hanya 10 menit pakai mobil. Itu pun karena harus memutar dulu. Pulangnya sih hanya lima menit.

Kelas Yoga



Hal paling saya suka selama di Sangria adalah viewnya, termasuk layoutnya yang memanfaatkan kontur tanah di lokasi. Coba deh lihat kolam renangnya. Keren banget.  Apalagi kalau dilihat dari ketinggian. Sayangnya saya belum sempat mencicipi nyebur di sana karena padatnya jadwal acara workshop.

Selain kolam renang ada juga jauzzi buat yang ingin santai-santai berasa dipijat di dalam air. Sayangnya saya juga belum mencicipinya. hiks. Padahal kalau lihat sekelilingnya yang asri, kita bakal nggak menyangka sedang berenang di kolam renang melainkan di sebuah danau kecil.


Ini saya lagi ikutan kelas yoga.
Tapi saya sempat mengikuti kelas yoga di outdoor tak jauh dari kolam renang. Benar-benar asik, dan tentunya bikin badan terasa sehat setelahnya. Instruktur yoga pun berpengalaman. Membuat saya ingin kembali mengambil kelas yoga yang dulu pernah saya tekuni. Ya, sebelum peru saya sebesar ini … hiks.

Untuk kelas yoga ini saya nggak harus bayar lagi. Cukup daftar saja. Lalu nanti kita disediakan matras untuk alas beryoga. Juga disediakan handuk putih kecil dan sebotol minuman. Walaupun gerakannya masih kaku-kaku, cuek aja ikutin instruktur. Namanya juga pengen hidup sehat.





Di Sangria juga terdapat kolam ikan yang tampak alami. Bila ingin memberi makan ikan ini, jangan mengambil di restoran. Saat masuk ke kamar hotel, sudah disiapkan makanan ikan di atas meja yang bisa kita pakai gratis.

Jangan berpikir untuk memancing atau menyeroknya ya. walaupun kita gemas melihat ikan yang montok-montok dan berwarna cantik itu.

Cuman, ya siap-siap saja kalau kembali dari kolam renang.  Soalnya nggak ada lift. Jadi harus menapakai tangga naik. Lumayan ngos-ngosan buat yang nggak terbiasa berolahraga.


Saya berharap satu hari nanti bisa kembali ke sini. Bukan untuk workshop, tapi benar-benar untuk bersantai bersama keluarga.

^_^

Monday, December 22, 2014

Pengalaman Menginap di Mercure Resort Sanur

Mercure Resort Hotel


Begitu membaca undangan workshop empat hari, saya akan diinapkan di Mercure Resort Sanur (MRS), buru-buru saya browsing. Di website resminya sih keren banget foto-fotonya. Tapi biasanya memang begitu, kan? Jadi saya cari review blogger ihwal resort tersebut. Ternyata mayoritas positif.

Setidaknya saya mendapat tiga kata kunci untuk MRS, yakni menyatu dengan pantai, hijau, dan senyap. Itu sudah cukup bagi saya sebagai blogger yang gemar mereview hotel.


Saya check in pada tanggal 11 Desember 2012 sore. Karena sudah direservasi oleh panitia, saya tinggal menyebutkan nama penyelenggara dan nama saya.  Saya  langsung diberikan kunci karena roommate saya sudah check in lebih dulu.

Jalan dari Lobi ke kamar
Penampilan depan hotel sih kurang begitu meyakinkan resortnya. Apalagi jika dibandingkan beberapa hotel di Sanur, seperti Hyat Park. Namun begitu memasuki lobi hotel, saya mulai menyukai MRS. Interiornya benar-benar suasana Bali banget. Belum lagi crew MRS yang ramah dan siap membantu.

Dari lobi menuju ke kamar, saya harus melewati jalan terbuka dan melewati pepohonan hijau nan rindang. Papan-papan penunjuk sangat unik, dan cukup membantu saya mencari kamar.

Begitu masuk kamar hotel, tada! Seperti saya bayangkan! kamar tanpa karpet. Ya iyalah, di daerah pantai kalau kamarnya berkarpet pasti bakal penuh pasir. Dan yang pertama saya periksa adalah jumlah colokan. Ternyata hanya tiga yang bisa dipakai. Tentu saja ini kurang karena harus sharing bersama teman sekamar. Saya saja butuh untuk mencharge satu smartphone, satu tab, satu kamera DSLR, satu kamera Gopro, satu remote Gopro, dan satulaptop yang kadang habisnya bersamaan. Maka yang terpikir pertama kali adalah membeli sambungan stop kontak.

Interior kamar sederahana

Lalu, sedikit hal yang mengganjal adalah kami mendapat kamar single bed (king). Setelah menghubungi panitia, kami dibolehkan pindah ke kamar dengan twins bed. Hal mengganjal lainnya  dinding kamar mandi yang dari kaca. Ini seperti kamar hotel lainnya di Novotel Gajah Mada Jakarta. Bedanya, di Novotel dilengkapi penutup otomatis yang tinggal tekan. Sementara di kamar saya adanya krey manual. Dan bagian bawahnya sudah susah ditutup.

Buat saya, semua kegiatan di kamar mandi adalah privacy. Jadi ya sudah, paling saya akan mengatur jadwal mandi dan lainnya ketika teman sekamar  keluar saja.

Salah satu yang membuat kami akhirnya memutuskan tidak pindah kamar adalah kamar kami paling dekat dengan ruang workshop. Jadi nggak perlu buru-buru ke workshop, atau kalau ada yang tertinggal tidak perlu kepayahan. Lagipun, saya dan teman sekamar sudah kenal baik. Cukuplah dibatasi dengan tumpukan guling dan bantal kursi.



Kamar saya menginap


Pantai, Hijau dan Senyap


Pantainya keren 
Sebagai penyuka destinasi wisata alam, saya pun menuju Pantai Sanur. Benar-benar menyatu dengan MRS. Meskipun Pantai Sanur bukan jenis pantai denganombak tinggi, tapi saya malah menyukainya. Tenang dan tampak luas.



Di pantai saya masih bisa melihat nelayan dengan jukungnya pulang dan pergi melaut. Bisa melihat juga penduduk setempat liburan di pantai membawa anak-anaknya, karena sangat  aman. Yang paling menyenangkan adalah bisa memotret sunrise dengan indah. Yup, Sanur memang terkenal dengan sunrise-nya, sementara Kuta dengan sunset-nya.

Jika sudah puas dimanjakan lautan, saya menghabiskan waktu bejalan-jalan lingkungan MRS yang hijau. Pohon-pohon kelapa, mangga, jambu air, kamboja dan pohon rindang lainnya membuat saya betah berada di luar kamar hotel. Bahkan pihak MRS juga membuat sawah kecil berisi padi lho.

Saya juga suka susana MRS yang senyap, jauh dari hiruk pikuk. Seperti diketahui banyak orang, Sanur memang lebih disukai turis senior karena keheningannya. Bahkan selepas magrib saya keluar hotel tidak menemukan kegiatan apapun.

Tersedia pendopo dielilingi pepohonan
Tapi tenang saja, fasilitas di MRS ini terbilang lengkap jika ingin beraktivitas. Kolam renang ada dua, jogging track tersedia dekat pantai, tempat spa ada, mau apa lagi?

Wifi gratis? Ya ada sih. Yang berbayar juga ada. Cuman tahu sendiri deh kalau yang gratisan seperti apa. Itu sebabnya saya tetap mengandalkan modem sendiri ataupu tethering. Daripada garuk-garuk pasir di pantai karena kesal nggak bisa ngeblog.




Pandawa Resto

Inilah salah satu tempat yang paling sering dikunjungi di MRS, Pandawa. Setelah di lihat karena nama-nama meja hidangannya diberi nama tokoh-tokoh pandawa. Coba sebutkan apa saja.

Makan sambil lihat view yang asyik


Saat sarapan, menu yang saya inginkan tersaji. Misalnya, salad, buah-buahan, roti dan omelet. Kadang ada pula nasi goreng. Tapi untuk orang Indonesia yang suka sarapan sampai kenyang mungkin kurang variatif. Saya punya teman yang kalau sarapan di hotel seperti makan siang, semua makanan berat dilahap. Kalau saya sih pengennya sih sesekali ada bubur ayam. Hahaha, tapi karena ini di Bali, jadi mungkin bukan ciri khas sarapan di sana. lagipun, saya tahu sekali MRS dominan dikunjungi turis asing.

Sarapan saya


Makan siang sedikit lebih variatif hidangannya. Tapi selama empat kali makan siang di sini, saya menemukan pengulangan beberapa menu. Oh iya, harus hati-hati bagi tamu muslim, karena di sini disediakan juga menu berbahan daging babi.

Makan malam, terkadang hidangannya tak jauh dari makan malam. saya sendiri kerap melewatkan makan malam karena merasa lelah. Sebab, letak kamar ke tempat makan ini lumayanlah jaraknya. Kadang habis makan, begitu kembali ke kamar, lapar lagi.

Hal yang menarik dari tempat makan ini adalah view-nya. Kita bisa makan sambil melihat orang-orang berenang di kolam atau mengarahkan pandangan ke pantai. Sehingga kita benar-benar teralihkan dari jenis makanannya.

Biar tidak bosan, cobalah mencari jajanan kaki lima di Pasar Sindu sanur di malam hari. Komplet pilihannya. Termasuk untuk turis muslim.

Rekomendasi

Pilihan kamar lainnya
Menurut saya, Mercure Resort Sanur sangat direkomendasikan untuk liburan keluarga karena suasananya yang tidak terlalu ramai, tapi juga dekat dengan fasilitas hiburan untuk anak-anak di pantai. Untuk anak-anak muda yang biasanya lebih mencari penginapan yang lebih murah dan minimalis, tentu tidak cocok.

MRS juga sangat cocok untuk tempat pelatihan/seminar/workshop karena memiliki aula yang relatif luas. Apalagi jika materinya berhubungan dengan kreativitas. Dengan suasana yang natural, sangat memancing semangat proses kreatif.

Cocok juga untuk pasangan yang tengah dimabuk cinta dan ingin berfoto, karena nyaris semua sudut di MRS bisa dijadikan untuk pemotretan prewedding, termasuk di pantainya.

Selamat menginap.

^_^

Foto-foto: Benny Rhamdani