Showing posts with label Literasi. Show all posts
Showing posts with label Literasi. Show all posts

Tuesday, May 2, 2017

Lima Hal Serunya Jadi Editor Buku

Seorang editor buku tak hanya berkutat di depan komputer. banyak serunya.
 (Foto: Benny)


Alhamdulillah, saya sudah melewati masa 12 tahun menjadi seorang editor buku.

Profesi editor buku masih awam bagi sebagian masyarakat. Bahkan pernah ketika menjawab pertanyaan tetangga sebelah bahwa pekerjaan saya adalah sebagai editor buku, dia langsung  menanyakan harga cetak buku Yasin. Memang,  tak jarang saya bertemu orang yang masih bingung antara bisnis penerbitan (buku) dan percetakan (buku).

Saya tidak ingin menjelaskan ihwal jenis-jenis pekerjaan saya sebagai editor buku. Kali ini saya akan berbagi hal-hal yang menyenangkan selama menyandang profesi editor buku. Banyak hal jika ditulis. Biar tidak letih membacanya, saya ringkas menjadi lima hal saja.

Pembaca Pertama Naskah (calon) Buku Best Seller
Menggarap naskah kumpulan puisi Prilly Latuconsia. (Foto: Benny)

Kebahagiaan pertama seorang editor adalah ketika mendapat naskah dari penulis terkenal. Bisa juga mendapat naskah bagus yang potensial laris dari penulis yang belum terkenal. Ujung kebahagiaan adalah ketika buku itu kemudian disukai masyarakat dan laris manis dari segi penjualan. Walaupun yang akan dikenal masyarakat adalah penulisnya, tapi sebagai ‘bidan’ yang membantu proses persalinan buku itu tentu akan ikut bahagia.

Saya sering merasa bangga ketika mendapat naskah, misalnya dari Pidi Baiq. Bangga karena sayalah yang pertama dipercaya membaca utuh karyanya. Saat penggemarnya masih menunggu buku terbit, saya sudah menamatkannya. Bahkan saya bisa bantu ikut memoles di beberapa bagian. Itu menyenangkan.



Mengenal Dekat Penulis Terkenal

Bertemu Djoko Lelono, penulis favorit ketika saya kecil. (Foto Benny)


Mungkin orang lain mengidolakan artis atau tokoh politik, saya sejak dulu selalu mengidolakan penulis. Jadi saya bangga jika bisa kenal dekat penulis terkenal.  Beruntunglah saya sebagai editor buku bisa mendekati beberapa penulis beken di Indonesia, tanpa harus kelihatan seperti fansnya.  Deretan nama penulis yang saya ingin temui sebagian besar sudah saya beri tanda centang karena akhirnya terwujud. Siapa saja? Maaf ini wilayah privasi.

Karena saya bekerja di penerbit buku nasional yang kerap menerbitkan buku-buku penulis asing, kesempatan untuk bertemu penulis luar negeri pun sangat besar. Ini sangat menyenangkan buat saya.
Sebagian penulis yang saya idolakan itu bahkan akhirnya menjadi sangat dekat dan bersahabat. Keren kan bisa bersahabat dengan seorang penulis. Saya tidak pernah merasa rugi sedikit pun berkenalan dengan seorang penulis. Malah semakain banyak bertemu penulis terkenal, wawasan penulisan saya makin bertambah.

Dilibatkan Acara Bergengsi

Terlibat dalam agenda internasional itu memperluas jaringan dan menambah wawasan.
(Foto: Benny)


Tidak sedikit orang mengira pekerjaan seorang editor buku hanyalah duduk di depan komputer. Mungkin itu editor buku pada masa lampau. Saya sendiri sejak tahun-tahun pertama menjadi editor buku kerap bekerja di luar kantor. Bekerja karena ditugaskan oleh perusahaan untuk menjadi pembicara pada acara seminar, pemateri workshop, menjadi anggota panitia kegiatan nasional, dan masih banyak lainnya.

Bahkan selama bertahun-tahun saya selalu terlibat dalam kegiatan besar seperti Konferensi Penulis Cilik Indonesia, maupun Akademi Remaja Kreatif Indonesia dari Kementerian pendidikan dan kebudayaan. Bekerjasama dengan Kedutaan besar republic Indonesia di India, saya juga pernah menjadi utusan meninjau New Delhi World Book Fair misalnya.

Traveling ke Luar Negeri

Dinas ke luar negeri sekaligus menjelajak negeri impian saya, India.
(Foto Benny)

Ini adalah hal yang sungguh di luar perkiraan saya. Tadinya saya sama sekali tidak terpikir akan melakukan perjalanan dinas keluar negeri jika menjadi seorang editor buku. Itu sebabnya saya sebelumnya memilih profesi sebagai wartawan. Tapi di dunia jurnalistik saya belum pernah merasakan dinas ke luar negeri sama sekali.

Dua tahun setelah menjadi editor buku saya sudah ditugaskan ke Malaysia, selanjutnya saya dinas ke Italia, Jerman, Thailand,  dan Italia. Maka, nikmat mana lagi yang tidak saya syukuri menjadi seorang editor buku?

Tak hanya luar negeri, saya pun bisa mengunjungi separuh total jumlah provinsi di Indonesia karena menjadi editor buku.

Menjadi Pejuang Literasi

Mamadukan passion saya dengan ikut gerakan literasi.
(Foto: Benny)

Minat baca Indonesia yang rendah membuat miris hati saya. Dan saya ingin bergabung dengan para pejuang literasi untuk meningkatkan nagka tersebut. Tak hanya jumlah tapi juga kualitas.  Dengan bekerja sebagai editor buku, dengan mudah saya bisa mendapat akses dan koneksi dengan para pejuang literasi. Bahkan saya bisa ikut memberi dukungan, misalnya informasi mendapatkan buku dengan harga diskon.

Sebagai editor buku, saya juga kerap mendapat hadiah buku dari banyak orang. Ketimbang menumpuk, biasanya saya donasikan ketika melakukan perjalanan ke daerah terluar yang sulit menjangkau buku. Senang rasanya bisa melihat wajah orang-orang yang bahagia ketika mendapatkan buku, terutama anak-anak.


Tentu saja duka dan bapernya juga saya terima sebagai editor buku. Tapi saya tidak akan menuangkannya sekarang. Kecuali jika ada 100 orang menandatangani petisi agar saya menuliskannya.

Tuesday, January 17, 2017

Tiga Novel Laris dari Wattpad



Berbagai cara dilakukan penerbit untuk menerbitkan buku. Selain dikirim langsung dari penulis, kini penerbit juga membidik naskah yang ditayangkan melalui aplikasi Wattpad. Tentu saja tidak sembarangan angkut ke buku.

Wattpad merupakan situs dan aplikasi ponsel yang dibuat oleh Allen Lau dan Ivan Yuen pada November 2006. Wattpad, seperti situs dan aplikasi yang serupa, misalnya: Fiction Press, menyediakan wadah bagi para penulis di seluruh dunia untuk mengangkat karya mereka ke panggung dunia maya tanpa ada aturan-aturan tertentu yang mengikat, menghambat imajinasi mereka untuk berkembang.

Ada beberapa kriteria yang diterapkan penerbit agar sebuah naskah dari Wattpad bisa diterbitkan ke dalam bentuk buku. Pertama, naskah tersebut telah dikunjungi jutaan kali oleh netizen. Kedua, naskahnya secara isi tidak bermasalah, seperti pornografi dan keaslian. Ketiga, penulisnya mau diajak kerja sama.

Tak sedikit penulis baru lahir dari Wattpad ini. Dan kemudian bukunya malah ngehits menembus daftar best sellers. Berikut adalah Tiga judul novel laris yang berasal dari Wattpad.

Dear Nathan



Novel karya Erisca Febriani ini memulai cerita dari keterlambatan mengikuti upacara pertama di sekolah baru, Salma Alvira bertemu dengan seorang cowok yang membantunya menelusup lewat gerbang samping. Selidik punya selidik, cowok itu ternyata bernama Nathan; murid nakal yang sering jadi bahan gosip anak satu sekolah.

Novel ini sangat laris dan siap difilmkan. Sebelum ditebitkan sudah dikunjungi 7,5 juta kali di akun penulisnya. Diterbitkan oleh penerbit Media Baru.


Bad Romance



Novel karya siswi SMAN 5 Bandung Milli Equita ini bercerita tentang Nathaniel Adriano Wirasetya, seorang cowok yang hobi banget bikin rusuh seantero sekolah. Mulai dari hal sepele kayak telat, bikin kerusuhan, sampai tawuran. Parah? Banget. Tapi statusnya sebagai cucu pemilik yayasan seolah bikin semua peraturan menguap gitu aja kalau udah menyangkut nama Nathan. Katya jengah dengan kelakuan sok berkuasa dan sok gantengnya Nathan. Sampai akhirnya Katya berani melawan, tapi justru malah membuat Nathan semakin menjadi-jadi.

Novel ini terbilang laris karena sudah cetak ulang belum dalam hitungan waktu satu bulan. Sebelum diterbitkan sudah dibaca 6 juta pengunjung di Wattpad. Novel ini diterbitkan oleh Pastel Books.

Friend Zone



Novel karya Vanesa Marcella ini bercerita tentang David yang di mata Abel, David adalah cowok sempurna. Dia ganteng, populer, meski tengil tetapi baik, dan selalu berada di sisi Abel. Tiap David memandangnya, Abel selalu berharap rona merah di pipinya tidak ketahuan oleh David. Apalagi saat David menyentuhnya, mengacak rambutnya, seolah seluruh partikel di dalam tubuh Abel siap melesat tinggi menembus langit. Hanya satu kekurangan David, ia adalah sahabat Abel.

Novel remaja ini juga terbilang laris dan sudah cetak ulang. Sebelum diterbitkan sudah dibaca hampir 7 juta pengunjung. Novel ini diterbitkan oleh Bentang Pustaka.

Wednesday, December 28, 2016

16 Hal Menarik Tentang Novel 'Dilan'


Novel Dilan karya Pidi Baiq sudah laris di tahun pertama terbit pada 2014. Dengan mengusung judul Dia Adalah Dilanku Tahun 1990, novel yang mengusung dua karakter utama Dilan dan Milea ini mengagetkan masyarakat pembaca buku dengan gaya bercerita tak biasa dan jenis percintaan yang unik.
Pada 2015, Pidi Baiq menelurkan sekuelnya dengan judul Dia Adalah Dilanku Tahun 1991. Kisah kasih tak sampai yang dipaparkan di buku ini membuat pembacanya patah hati dan meraung-raung. Toh, buku ini tak kalah larisnya dengan buku pertama. Dan pada September 2016, penulis yang biasa disapa Surayah itu kembali mencetak sukses dengan menerbitkan buku Milea, Suara dari Dilan. Sebelum terbit, bukunya sudah terjual dengan sistem pre-order sebanyak lebih dari 5.000 eksemplar. Sungguh luar biasa, mengingat novel saat ini habis di angka 3.000 eksemplar saja harus melakukan perjuangan berat.
Menjelang penutup akhir tahun 2016 ketiga buku tersebut sudah mencatat rekor penjualan hampir 500.000 eksemplar. Itu saja di luar penjualan e-book resmi melalui Playstore yang juga menjejak penjualan terlaris hingga kini. Entah berapa banyak buku terjual jika dijumlah dengan buku bajakannya yang merajelela.
Setidaknya, inilah 16 hal yang membuat ketiga buku Dilan itu laris, menurut catatan saya pribadi yang ikut mengangani penerbitan setiap buku-buku Pidi Baiq.
1.
Pidi Baiq telah membuat riset terlebih dulu sebelum menulis Dilan. Terutama karena ada perpindahan genre dari buku yang ditulis sebelumnya yang humor ataupun satir ke novel remaja. Dia mengaku membaca sekilas novel-novel teenlit yang disukai remaja, meskipun tak menamatkan semuanya. Pidi Baiq merupakan pembaca buku yang baik. Sebelumnya, dia adalah pelahap buku-buku filsafat.
2.
Pidi Baiq memosisikan lebih dulu bahwa dua buku Dilan adalah untuk pembaca buku cowok. Sehingga dia mengolah konten cerita sedemikian rupa agar bisa dinikmati pembaca cowok. Padahal selama ini teenlit identitik dengan bacaan remaja cewek.
3.
Pidi Baiq membuat test the water dengan memosting bab-bab awal setiap bukunya di blog, untuk mendapat respon dari calon pembaca bukunya kelak. Respon inilah yang turut membantu menyemangati dirinya untuk menuntaskan novelnya.
4.
Pidi Baiq juga membagikan nukilan tulisannya di akun Twitter @pidibaiq sehingga membuat followersnya makin penasaran.
5.
Pidi Baiq menuliskan cerita Dilan berdasarkan cerita nyata, tokoh-tokoh nyata, sehingga dia merasa tidak menemui kesulitan untuk membuat cerita itu hidup. Katanya, dia nggak perlu sibuk menghayalkan sesuatu untuk ditulis. Tak heran jika karakter yang ditulisnya hidup dan dicintai pembacanya.
6.
Pidi Baiq berhasil membangun setting cerita Bandung pada tahun 1990-an sehingga membangkitkan kenangan para pembaca yang pernah merasakan usia remaja pada tahun tersebut. Alhasil, sasaran pembacanya meluas tidak hanya kepada remaja saat ini, tapi juga remaja pada tahun 1990-an. Tidak aneh jika di sebuah keluarga ada yang berebut membaca antara ibu dan anak.
7.
Pidi Baiq menulis apa adanya, tanpa terpaku pada teori teknis menulis novel. Misalnya, soal konflik dan dramatisasai cerita. Trilogi Dilan boleh dibilang cerita yang konflik dan unsur dramanya tidak tajam, tapi pembaca tetap menikmatinya.
8.
Kisah cerita cinta yang dituliskan Pidi Baiq sangat unik dan bukan kacangan. Banyak pembaca yang merasa terkesan dengan kisah cinta dilan dan Milea ini, mulai dari perkenalan hingga proses pacaran.
9.
Pidi Baiq tidak memaksakan diri untuk menulis yang semata untuk membahagiakan pembaca, meskipun akhirnya berakhir putus.
10.
Banyak kalimat-kalimat menarik di setiap halaman buku karya Pidi Baiq yang bisa dikutip untuk diposting di status, instagram maupun dibuat desain khusus, istilah kekiniannya, quotable.
11.
Pidi Baiq juga rajin roadshow untuk mempromosikan bukunya secara offline, sehingga penggemarnya bisa bertanya banyak hal tentang buku Dilan. Dan tentu saja book signing. Hal ini membuat hubungan pembaca dan penulis menjadi lebih akrab dan membuat pembacanya jadi militan.
12.
Novel ketiganya Milea, juga menyisakan rasa penasaran di hati pembaca. Terutama kehadiran Cika yang menggantikan posisi Milea di hati Dilan. Hal ini membuka kesempatan hadir kelanjutan kisah cinta Dilan, kali ini dengan Cika. menurut kabar, Cika adalah wanita yang kemudian akan dinikahi Dilan. Penasaran?
13.
Pastinya Pidi Baiq juga telah membocorkan dua buku terkait Dilan yang sudah ditulisnya. Pertama adalah Bunda yang berkisah tentang kehidupan ibu dari Dilan sehingga Dilan usia SD. Lalu kisah cinta monyet Dilan di SMP dengan wanita bernama Julia.
14.
Rencana akan mengangkat Dilan ke layar lebar juga membuat novel ini semakin laris karena banya yang ingin tahu jalan ceritanya lebih dulu.
15.
Novel Dilan juga berhasil membawa perubahan terhadap gaya gaul anak muda sekarang, termasuk gaya pacaran yang lebih sehat. bahkan banyak cowok yang meniru abis gaya Dilan dalam menalukan hati cewek. Sebaliknya, banyak cewek yang yang memasang standart cowok semodel Dilan.
16.
Pastinya novel Dilan juga telah membangkitkan minat baca di kalangan remaja. Pasalnya, banyak remaja yang mengaku baru membaca novel pertama kali ya novel Dilan itu. Membaca novel dilan dianggap sebagai bagian gaya hidup remaja kekinian, bukan masalah literasi.
Nah, itu kira-kira yang membuat tiga buku tentang Dilan laris manis hingga kini. Mungkin ada yang ingin menambahkan?

Tuesday, October 18, 2016

Hebat, Angkot Ini Sediakan Perpustakaan untuk Penumpang



Jalur angkutan kota (angkot) Soreang – Leuwi Panjang, Bandung, boleh dibilang banyak macetnya ketimbang lancar. Terutama karena kepadatan kendaraan pada pagi dan sore hari. Jangan tanya betapa kesalnya penumpang angkot saat menghadapi kemacetan.

Salah seorang pengemudi angkot bernama Muhammad Pian Sopian berusaha membuat hal yang menarik di angkotnya agar penumpang tidak kesal. Di bagian kaca belakang, dia merancang sebuah rak buku, dan meletakkan sejumlah buku agar bisa dibaca oleh penumpang. Terkesan sederhana tapi banyak manfaatnya.

“Saya ingin menaikkan minat baca masyarakat walaupun dengan hal kecil. Minimal saat penumpang turun dari angkot mendapat ilmu,” ujar Sopian yang sudah menjadi supir angkot sejak 15 tahun silam sebelum menikah.

Niatnya ini mendapat dukungan dari sang isteri, Elis Ratna, yang sama-sama pegiat literasi. Sekitar setahun silam Sopian mulai memikirkan mendirikan angkot pustaka. “Saat itu saya masih bawa mobil orang lain, jadi belum berani bikin angkot pustaka. Setelah beberapa bulan lalu ada hamba Allah yang menitipkan uang muka untuk mobil dan ikhlas mobilnya saya pakai fulltime, barulah saya kerjakan angkot pustaka,” tutur Sopian



Tidak banyak persiapan yang dilakukan, karena koleksi buku sudah dimilikinya walau tak banyak. “Persiapannya hanya masang rak di bagian belakang,” ujarnya. Rak yang dibuatnya jika penuh bisa menampung 80 eksemplar buku. Tapi Sopian membatasi sekitar 25 hingga 40 buku saja setiap hari.

Niat baiknya ini memang tidak melulu mendapat dukungan. Bahkan dari teman-teman supir angkot. “Teman-teman supir pada menertawakan saya,” senyumnya. Tapi bukan Sopian jika gentar. Dia terus saja menjlankan pustaka angkotnya.

Setiap kali dari spion dalam dia melihat penumpang mengambil buku dari rak buku, ada rasa bahagia yang membuncah di dadanya. Apalagi ketrika penumpangnya kemudian asyik membaca. Terkadang rasa bahagia dan keharuan menyelimutinya.

“Belakangan, penumpang juga ada yang minta judul-judul atau tema tertentu.  Biasanya penumpang ibu- ibu lebih banyak meminta buku dengan tema keluarga dan resep makanan,” jelas Pian yang hingga saat ini belum mendapatkan donasi buku untuk menambah buku-bukunya dari pihak manapun.

Apakah Sopian pernah merasa takut buku-buku itu dicuri?

“Ah, saya nggak takut buku di angkot dicuri. Setidaknya kehilangan satu buku memberikan nutrisi buat otak si pelaku. Soalnya kan jarang maling yang tahu literasi. Daripada kehilangan uang yang habis hanya untuk kepuasan perut di pencuri,” kilah Pian.


Nah, jika ke Bandung, jangan lupa cari angkot pustaka ini. Siapa tahu ingin naik angkot sambil membaca buku koleksinya. Atau malah ingin memberi donasi buku?

Sunday, August 7, 2016

Inilah Manfaat Membacakan Buku untuk Anak




Banyak kegiatan positif yang bisa dilakukan orangtua bersama anaknya terutama yang masih usia balita. Beberapa jenis mengedepankan aktivitas gerak guna mengembangkan kecerdasan motorik. Tapi afa juga aktivitas yang tidak memakan ruangan.
Salah satunya adalah orangtua membacakan buku dengan nyaring kepada anaknya. Berbeda dengan mendongeng. Kegiatan membaca nyaring sebuah buku  kepada anak ini harus melibatkan buku. Si orangtua melafalkan teks buku dengan intonasi yang bisa menarik perhatian anak. 
Belum lama ini saya bertemu dengan penulis buku Mengikat Makna, Hernowo, yang menceritakan pengelamannya membacakan buku dengan nyaring sejak cucunya di dalam kandungan. Hebatnya, pada usia belum genap setahun, cucunya sangat mencintai buku dan lebih cepat bicara.  
Nicole Niamic dalam The Benefits of Reading to Your Children mengatakan, jika orang tua membacakan buku cerita ke pada anak sejak dini:
1. Mereka sebenarnya telah mengenalkan anak pada dunia lain yang mengasyikkan.
2. Kebiasaan ini bahkan akan menentukan kesuksesan akademik mereka di kemudian hari.
3. Anak usia dua tahun yang setiap hari sering dibacakan buku cenderung berprestasi lebih baik ketika duduk di TK atau SD dan memiliki kemampuan belajar dan berkomunikasi 2-3 kali lebih baik ketimbang anak yang hanya dibacakan buku beberapa kali saja dalam seminggu. Apalagi dibandingkan dengan yang tidak pernah membaca sama sekali.
4. Anak yang terbiasa membaca atau dibacakan buku sejak kecil cenderung memiliki kemampuan matematika lebih baik. Hubungan membaca dan kemampuan akademik ini tidak ada kaitannya dengan kemampuan ekonomi dan tingkat pendidikan orang tua.
5. Membaca nyaring memiliki pengaruh positif lain seperti mempererat hubungan kasih sayang orang tua dan anak, mengenalkan anak pada bahasa lisan dan tulisan, meningkatkan kemampuan berbahasa anak, membuat anak menikmati dunia belajar sebagai hiburan, dan sekaligus memperluas wawasan dan pengetahuan mereka.
Nah, para orangtua, tidak ada salahnya saat ini jika punya anak balita, biasakanlah membacakan buku dengan nyaring kepada putra-putri kita.

Monday, May 16, 2016

Lima Pertanyaan yang Sering Dilontarkan Penulis Pemula; Catatan Festival Sastra Anak dan Remaja Sumatera Barat 2016



Sebagai seorang editor in chief saya kerap memberikan materi penulisan kepada masyarakat, baik penulis baru maupun yang sudah mapan. Seperti yang  saya lakukan di acara Festival Sastra Anak dan Remaja Sumatera Barat, Padang, Sabtu, 14 mei 2016. Dan khusus penulis pemula, biasanya ada lima pertanyaan yang sering dilontarkan.

Mengambil tempat di Perpustakaan Provisi Sumatera Barat, saya begitu senang melihat antusias peserta yang hadir hingga tigaratusan itu. Mereka terdiri dari siswa SD hingga SMA, mahasiswa, guru, dan ibu rumahtangga. Setelah saya menyampaikan materi, mereka pun antusias bertanya.
Nah, beberapa pertanyaan sebenarnya sering dilontarkan saat bertemu penulis pemula di acara sejenis di lain kota.




Tergantung Mood

Banyak penulis pemula yang mengeluh soal mood menulis mereka yang surut. Menurut saya mood berkait erat dengan motivasi. Jika motivasi menulis lemah, maka dia akan membiarkan mood menghantuinya. Motivasi yang tinggi dapat menghalau mood.

Memiliki motivasi dalam melakukan apapun perlu. Juga jika ingin menulis. Apakah motivasi menulis? Ingin dikenal? Ingin mendapat honor? Ingin berkespresi? Apapun itu harus terus dijaga. Motivasi juga akan meningkatkan kedisplinan. Semisal, orang yang disiplin menulis sejam saja sehari, maka dia akan merasa ada yang hilang ketika tidak menulis sejam sehari. Dia tidak butuh mood.

Tulisan Tidak Jelas

Penulis pemula juga kerap bermasalah dengan tulisan yang tidak jelas arahnya, hingga akhirnya tak pernah tuntas menulis. Saya selalu memberikan saran kepada penulis pemula agar membuat kerangka plot atau rencana plot cerita yang akan ditulisnya. 


Menulis rencana cerita seperti seorang traveler membuat itinerary. Dengan adanya rencana plot, penulis akan mudah menulis bahkan hingga penutupnya. Jika sudah mahir menulis dan memainkan plot kelak, mungkin dia bisa mengabikan kerangka atau rencana atau plot.

Untuk penulis pemula, membuat rencana plot cerita akan lebih menghemat waktu dan tenaga.

Judul

Ada dua hal yang sering ditanyakan terkait judul. Satu, cerita sudah selesai, tapi judulnya belum tahu. Atau sudah bikin judul tapi nggak mulai menulis ceritanya.

Jika yang sudah selesai ceritanya tapi kesulitan bikin judul, cukup dengan memeras dari plot ceitanya. Bisa juga dari temanya jika memang menarik. Kadang dengan menyebutkan nama tokoh dan apa yang dilakukan di ceritanya juga bisa menarik. Nanti, bila sudah mahir bisa dengan mudah mencari judul yang benar-benar nendang banget.

Amati judul-judul buku di toko buku, lihat katalog penerbitan, atau bisa juga melihat judul-judul lagu. Di sana kita bisa mengambil banyak juduluntuk cerita kita. Tentunya dengan sedikit menambah atau mengubah kata.

Memilih Ide

Sebagai penulis pemula, kadang mereka kebanjiran ide. Hal itu membuat penulis pemula kebingungan memilih ide yang akan ditulisnya. Saya biasanya memberi solusi dengan cara memilih ide yang memenuhi tiga kriteria:

1. Ide yang paling kita kuasai untuk ditulis. Plotnya kita benar-benar siap.

2. Ide yang jarang atau belum ditulis orang lain. Agar kita tahu mana yang jarang ditulis penulis lain ya kita harus rajin membaca.

3. Ide yang menarik perhatian pembaca. Sebab tidak semua ide walaupun bisa ditulis akan menarik pembaca. Biasanya pembaca tertarik jika idenya orisinil, tidak mudah ditebak ceritanya, dan dapat mendapatkan sesuatu dari ide tersebut.

Jika ada beberapa ide yang terpilih, susunlah mana yang akan ditulis lebih dulu agar fokus. Atau jika memungkinkan beberapa ide digabung menjadi satu cerita.

Membagi Waktu Menulis dan Belajar

Penulis pemula juga kebingungan membagi waktu menulis dan belajar. Saya selalu sarankan agar waktu belajar jangan dikurangi. Yang bisa dikurangi adalah waktu bermain, nonton teve dan sejenisnya, dan dijadikan waktu menulis. Mungkin ada yang tidak rela mengurangi waktu bermain, tetapi namanya memiliki keinginan tentu harus ada pengrobanan.

Jangan pernah berpikir mengurangi waktu belajar. Sebab tugas utama siswa memang belajar.



Acara ini melibatkan beberapa komunitas di Suamtera Barat, yakni Komunitas Kreatif Indonesia, Forum Lingkar pena Sumbar, FAM dan Rumah Kayu.

Foto-foto: Maya Lestari GF

Thursday, March 3, 2016

Ziggy, Penulis Muda Ini Paparkan Proses Kreatif Menulis 21 Bukunya



Namanya memang sulit diingat dan disebutkan: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, tapi kisah dalam novel-novel karyanya sulit dihapus dari hati pembacanya. Meskipun baru berusia 22 tahun, sudah dua puluh satu karya Ziggy yang diterbitkan dan disambut hangat oleh pembaca berbagai usia. Kepenulisan Ziggy merambah berbagai genre, mulai dari fantasi, horor, romance, bahkan drama keluarga. Pada tahun 2014, naskah novelnya Di Tanah Lada memenangkan juara dua  Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta yang bergengsi. Berikut wawancara bersama Ziggy mengenai kegiatan membaca dan menulisnya.



Ziggy, kamu pernah sharing buku-buku yang kamu baca waktu kecil dan jadi favorit sampai sekarang. Misalnya Harry Potter dan Little Women. Tapi ada nggak sih buku yang kamu nggak suka dan pengen diubah endingnya?

Hmmm, mungkin Saga of Darren Shan ya. Sebetulnya bukan endingnya jelek, tapi eksekusinya kurang bagus sampai terasa antiklimaks, padahal idenya sendiri menarik ;v;

Aku belum baca Saga of Darren Shan, emang endingnya kayak gimana sih?


Agak lupa sih, tapi kalau gak salah, endingnya, Darren, si tokoh utamanya, mati, tapi jiwanya diselamatkan seseorang yang namanya Mr. Tiny, dan Darren hidup lagi di masa lalu sebagai pengikutnya Mr. Tiny, dan kemudian mengikuti dan membantu petualangan si Darren di masa lalunya itu.

Sebetulnya keren kok, tapi sepertinya pengarangnya emang kurang jago buat bagian dramatis ;v; Kalau lagi action2 sih, seru banget



Kamu sendiri lebih suka menceritakan hal yang dramatis atau action?

Hem saya suka action, tapi sepertinya belum bisa membuatnya dengan baik.

Bukannya tinggal banyakin adegan baku hantam dan lompat dari gedung tinggi saja ya?

 Iya sih, tapi kan harus membantu yang baca ikutan merasa deg-degan.

Jadi kamu nggak langsung deg-degan kalau tokoh favoritmu dalam buku tiba-tiba lompat dari gedung tinggi?

Hem enggak juga.  Habis kalau cuma dibilang 'lalu dia lompat lalu mati' kan gak kerasa OH MY GOD DIA LOMPAT TERUS MATI. Karena di buku gak ada alat bantu visual, gak seperti film atau komik, jadi narasinya yang harus membangun suasana, kan?

Nah, kalau kamu punya kekuatan menghidupkan tokoh dalam buku, siapa yang bakalan kamu hidupkan lagi?

Hmmm pertanyaannya susah. Mungkin Count Olaf di A Series of Unfortunate Events. Bagian kematiannya itu sangat  sesuatu. Meskipun dia reseh.

Buku terbaru Ziggy, Airmata Bulan.



Ziggy kok mau menghidupkan karakter yang jahat sih? Apakah karena kamu mau memberikan mereka kesempatan kedua?

 Iyaaa, dia salah satu villain terbaik yang pernah ada. Jahatnya jahat banget sampai bikin ngakak.

Kenapa ya?Habis buku-buku kan biasanya diceritakan dari perspektif 'si baik'. Ada banyak cerita dari 'si jahat' yang gak kita tahu, padahal pasti ada sesuatu yang membuat dia sampai jadi sejahat itu. Sepertinya lebih menarik mengetahui apa yang akan terjadi kalau mereka berhasil mendapatkan keinginan mereka.

Bagaimana kalau Voldemort yang hidup di akhir serial Harry Potter? Apakah dia bakalan ada di stasiun mengantar anak-anaknya yang akan bersekolah di Hogwarts? Atau anak Voldemorts bakalan pergi sekolah dengan jet pribadi.

Voldemort kawin sama siapa? Bellatrix kan sudah mati.

Menurutmu ada hubungan nggak sih kisah di dalam buku dengan kisah di dunia nyata? Di buku, kebanyakan tokoh baik yang bertahan hidup? Namun bagaimana dengan Bellatrix-Bellatrix di dunia 'nyata'?

Hem di dunia nyata sih agak lebih rumit, soalnya kita gak diberitahu dengan jelas yang mana yang baik dan yang jahat, kan? Yang baik cuma baik kalau pihak yang baik yang menang. Kalau Voldemort yang menang dan menceritakan kisahnya, pasti geng Harry Potter yang kedengaran jahat. Toh mereka pun sama-sama melukai dan saling bunuh.

Apa sebaiknya kita selalu punya tujuan spesifik dari kegiatan membaca kita? Misalnya kita membaca untuk mendapatkan kesenangan, atau untuk tahu bagaimana cara mengoperasikan Adobe Photoshop?

Hmm, gak perlu ada tujuan spesifik juga. Tapi menurut saya sih, sebelum baca sesuatu yang bisa memberikan perspektif, penting untuk mempunyai perspektif sendiri. Soalnya, kalau membaca dan menerima 'kebenaran' yang ada di dalam buku mentah-mentah, gak ada artinya. Seperti kata pepatah Cina: membaca tanpa berpikir is a labor lost. Buku (ada) untuk membantu kita berpikir, bukan mengikuti pikiran orang :>


Sebelum menulis, kamu nyiapin bekal apa?

Nah, kalau menulis sih I say kita berusaha mempengaruhi orang. Jadi sebelum menulis, biasanya saya menyiapkan moral value apa yang mau saya sampaikan.

Oke-oke, jadi dari mana seorang penulis bisa tahu bahwa ceritanya memang perlu dituliskan? Karena persepsi pembaca tentang moral value, kan, nggak selalu sama.

Yes, true. Tapi berarti sebuah cerita ditulis karena penulis mau pembaca memahami moral value-nya kan? Tapi saya rasa gak semua orang menulis untuk menyampaikan moral value. Kadang-kadang, orang menulis untuk curhat saja. Either way, saya rasa alasan orang menulis, atau at least saya, selalu egois; karena bottom line, saya menulis untuk memberi alasan menjustifikasi perbuatan saya sendiri.

Beberapa kali membaca di Tumblr-mu ada banyak pertanyaan dari pembaca bukumu. "Kak Ziggy, gimana caranya bisa nulis sekeren itu?" Kupikir jawabannya sederhana, "Banyak membaca dan berpikir." Nggak ada rahasia lain, kan?

Enggak, hehe. Saya juga banyak nonton tapi sepertinya itu bukan rahasia.

Waktu pertama menulis, tulisanmu juga nggak serta-merta jadi seperti tulisan yang sekarang, kan? Apakah ada proses belajarnya?

 Hmmm, saya sih gak pernah belajar menulis. Kalau dalam hal penulisan, saya cuma memperhatikan masukan dari para editor. Tapi selain itu, yang berkembang cuma bahan bacaan saya. Kalau tulisan saya sepertinya membaik, itu karena saya membaca bahan yang lebih baik, atau karena bisa menarik pelajaran dari bahan bacaan saya dengan lebih baik.



Sunday, October 25, 2015

Cara Mudah Menulis Cerita Fantasi untuk Anak





Kebanyakan penulis pemula di bidang cerita anak menemukan kesulitan dalam menemukan ide cerita. Sering kali saya lihat mereka menulis tema-tema klise atau sudah pernah ditulis sebelumnya.
Saya memiliki tips khusus untuk penulis pemula cerita anak, khususnya cerita pemula.

Cobalah fokus untuk menggali cerita dimulai dari menciptakan karakter atau tokoh cerita yang kuat dan tidak biasa. Lalu, kombinasikan dengan kebiasaan maupun sifatnya yang unik.

Cara paling mudah adalah:


1. Buat 20 gulungan kertas seperti gulungan kertas arisan.

2. Pisahkan menjadi 10 gulungan di wadah A dan 10 gulungan di wadah B.

3. Tuliskan sebuah  benda apapun di sekitar kita di atas kertas gulungan di wadah A, seperti vas bunga, kacamata nenek, dan lain sebaginya.

4. Tuliskan satu kata sifat atau hobi di atas kertas gulungan di wadah B, seperti berenang tengah malam, pendiam di sore hari, dan sebagainya.

5. Kemudian kocok kedua wadah itu. Lalu ambil bergantian dan pasangkan setiap gulungan kertas dari wadah A dan B.

6. Ini kemungkinan ide cerita yang muncul: Vas bunga yang senang berenang di malam hari.

Proses berikutnya adalah:

1. Karanglah sebab vas bunga itu senang berenang di malam hari.
2. Karanglah tujuan vas bunga itu senang berenang di malam hari.
3. Pikirkan kejadian ketika vas bunga berenang di malam hari.

Dari sini saja akan muncul satu cerita baru yang tak biasa.


Nah ingat, masih ada sembilan pasang gulungan kertas yang siap menjadi ide kita menulis cerita fantasi yang baru dan keren untuk dibaca anak-anak.


Selamat berkreasi!

Friday, August 28, 2015

10 Tips Untuk Penulis Pemula





Banyak penulis baru alias newbie yang bertanya kepada saya, apakah yang sebaiknya dilakukan agar mereka bisa menjadi penulis. Saya tidak bisa menjawab secara sepsifik, karena setiap individu berbeda kebutuhannya. Ada yang butuh motivasi saja, ada yang butuh peningkatan keterampilan.
Baiklah, saya coba susun setidaknya 10 hal yang harus dilakukan penulis baru agar semakin lancar proses kreatif menulisnya.

1.  Nikmati Saja
Sebagai penulis  kita terkadang harus siap menghabiskan waktu berjam-jam  untuk menulis, menulis ulang, dan menulis lagi. Alhasil, kita jadi kekuarangan waktu untuk melakkan ini-itu, termasuk hangout dengan teman-teman. Karena penulis memang harus menulis, jadi nikmati saja kesibukan dengan proses penulisan. Kita perlu mengorbankan sesuatu yang kita anggap tidak begitu penting di dalam skala prioritas agenda kita, kan?

2. Bersabarlah
Cuman siluman mungkin yang bisa menulis buku dalam semalam. Menulis buku memerlukan jangka waktu yang  panjang. Karena itu [perlu pengaturan waktu yang baik. Rencanakan penulisan untuk satu buku yang akan ditulis dan buku berikutnya. Sebab penerbit saat ini, mencari penulis yang mampu menulis tidak satu buku saja. Tidak perlu tergesa-gesa menulis demi sebuah karya yang baik. Tapi jangan pula terlalu bermalas-malasan.

3. Menulis Sampai Tamat
Ini kendala yang banyak ditemui pada enulis pemula. Menulis tapi nggak bers-beres. Ada yang baru 1-2 bab, ditinggalkan. Buatlah perencanaan yang matang sebuah cerita hingga tamat. Agar tak membuang waktu dan energi. Tidak perlu juga mengulur-ulur sebuah cerita agar terlihat setebal kamus nantinya. Jika memang sudah harus selesai, ya kasih tanda ‘tamat’ segera.

4. Edit
Tulisan kita belum benar-benar selesai sampai mengetik ‘tamat’. Harus dibaca ulang, kalau perlu berkali-kali. Jika tidak kuat dengan layar komputer, dicetak dulu. Bacalah perlahan setiap kata yang sudah diketik. Jangan ada typo, jangan ada yang tidak logis, dan masih banyak jangan lainnya. Cobalah membaca dengan jari biar tak ada yang tertinggal. Proses mengedit mungkin bisa 1-2 minggu.


5. Buatlah Ringkasan dengan Baik
Banyak penulis yang masih belum bisa membedakan synopsis dan blurb. Sinopsis cerita atau prmis ceita adalah ringkasan cerita yang kita tulis. Biasanya penerbit/editor akan membaca ringakasan ceritanya dulu sebelum membaca. Didalamnya tergambar jelas penokohan, plot, konflik, hingga endingnya. Bukan seperti blurb yang ada di belakang buku.

6. Ruang kerja
Penulis memang berhak memiliki ruang kerja. Tapi sebagi pemula, nggak perlu terlalu muluk-muluk hanya ingin menulis di sisi pantai nan biru. Menulislah di mana saja. Doronglah diri kita sendiri, bahwa kita adalah penulis yang gigih untuk menyelesaikan sebuah tulisan, dan tidak tergantung dengan tempat yang harus nyaman ono-ini.

7. Pengamat
Banyak mengamati keadaan untuk menangkap ide-ide segar. Penulis yang baik adalah pengamat yang baik pula.

8. Jangan Takut Gagal dan Sukses
Saat masuk proses menulis, jangan berpikir dulu tentang penerbitan, tentang cek royalti, tentang ulasan di blog si anu, atau  jawabn wanacara  saat novel kita nanti masuk   dalam daftar buku terlaris.  Pikirkan itu sebelum atau nanti sesudah proses menulis. Dalam masa menyelesaikan satu tulisan untuk satu buku, fokus saja, menulis yang baik dan nyaman untuk diri kita.

9. Menulis untuk Kesenangan Diri
Pastikan selama menulis kita benar-benar senang, begitu juga setelahnya. Kita sebaiknya benar-benar senang dan puas dengan apa yang kita tulis, edit dan tulis ulang. Itu sebabnya perlu passion dan cinta dalam menulis.  Jika kita senang saat menulis, semoga menular kepada pembaca.

10. Mood

Jangan tergantung mood. Menulislah dengan disiplin. Kalau memang kita tergantung mood, maka kita belum bisa menjadi orang yang merdeka. 


Oke, jadi penulis baru memang bagian dari proses. Nikmati. Pada saatnya kita akan melampaui hal-hal sulit seperti kurang motivasi, tergantung mood, dan gangguan lainnya.

Thursday, August 27, 2015

10 Hal yang Perlu Dimiliki Penulis


Kalo penulis punya alat tulis seperti laptop atau komputer itu sudah tidak aneh. Tapi ada beberapa printilan lain yang harus dimiliki kalo siapapun yang sudah memutuskan jalur penulis sebagai lahan menjala uang:


1. Kamu mungkin beranggapan hanya ingin punya rekening bank syariah karena keyakinanmu. Oke, buatlah satu. Tapi biar bagaimanapun kamu tetap harus memiliki satu nomor rekening dari bank sejuta umat. Karena biasanya perusahaan besar, penerbit, markom berharap penulis punya rekening di bank sejuta umat itu untuk memudahkan transfer dan terhindar dari biaya transfer. Nggak perlu banyak alasan. Kalau memang keukeuh nggak mau buka rekening di sana, paling nggak keluarga kamu punya (orangtua, kakak, adik, suami/isteri), jangan pakai rekening tetangga ya.


2. NPWP. arena sekarang amsalah pajak lagi getol-getolnya. Biar kamu nggak dipotong PPH yang lumayan gede nilainya, sebaiknya kamu mengurus NPWP. Kalau merasa berat, pastikan suami/isetri atau ayah/ibu punya NPWP sehingga kamu bisa nebeng. Cuman ... apa susahnya ya ngurus NPWP sendiri?



3. Alamat email. Ini juga harus punya ya. Kalo nggak punya alamat email hari gini itu keterlaluan. Siapkan pula tandatangan versi digital jika ada tandatangan kontrak melalui e-mail.



4. Akun Socmed. Ini sebaiknya kamu punya juga buat networking (jangan baca: pedekate sama editor), bisa juga buat promo, bahkan jualan kalo mau. Nggak perlu punya banyak-banyak akun socmed kalo nggak suka. Cukup satu saja, semisal facebook. Tapi kalo merasa eksis sebagian dari pintu rejeki ya buka juga akun twitter dan instagram.



5. Blog. Masa sih perlu? Ya. Saya nggak mau jelasin panjang lebar. Buat saja dulu, lalu aktif menulis setiap hari di blog, nggak usah panjang lebar. Yang pentng disiplin dulu. Rasakan manfaatnya 3-6 bulan ke depan.



6. Gadget. Minimal smartphone. Biar kamu mudah dihubungi dan menghubungi pintu rejeki. Bisa juga buat mengeksplore ide.Saya kadang bete kalau susah menghubungi penulis lewat telepon.



7. Aplikasi. Nah, ini juga harus dimiliki. Cari aplikasi buat smartphone kamu yang cocok untuk kegiatan kepenulisan. Mulai dai kamus, alat pencatat, perekam, sampai buat mendokumentasi. Hapus aplikasi game yang bikin buang waktu.



8. Kartu nama. MUngkin keberadaannya mulai disepelekan. Tapi percayalah, kita membutuhkannya. Terutama ketika ketemu potential user/buyer, menjalin networking, dan lain sebaginya. Sudah pada bikin kartu nama, kan? Bikin juga versi digitalnya.



9. Alat tulis manual. Jangan sepelekan ya mentang-mentang ada smartphone, malas membawa pulpen/bolpoin atau notes. Kita tetap membutuhkan yang alat tulis manual ini. Siapa tahu ada yang harus ditandatangani secara manual sesegera mungkin.



10. .... (isi sendiri ya, biar ikut mikir)





Tuesday, August 25, 2015

Lima Novel Indonesia yang Paling Ditunggu Difilmkan



Mengangkat novel bestseller ke layar lebar sudah menjadi tradisi di Indonesia. Formula ini cukup menguntungkan bagi industri perfilman. Sebut saja Laskar Pelangi dan Ayat-Ayat Cinta. Nah, berikut ini adalah lima novel bestseller karya penulis Indonesia yang hingga saat ini dinantikan kehadirannya dalam wujud film layar lebar.

Dilan



Novel Dilan karya Pidi Baiq ini  sudah terbit dua judul dan keduanya mencatat rekor best sellers. Bercerita tentang kisah asmara masa SMA Dilan dan Milea dengan setting Bandung pada tahun 1990-an. Cukup menantang karena wajah Bandung yang dilukiskan di novel itu sudah berubah jauh.
Hal menantang  lainnya adalah pemilihan pemeran tokoh Dilan dan Milea. Sosok Dilan di dalam novel tidak pernah digambarkan ganteng namun mampu menarik. Selain itu harus bisa naik motor modif dan ngetrek di jalanan.

Ayah



Novel dari penulis best bellers Andrea Hirata ini banyak diimpikan ke layar lebar karena keberhasilan sebelumnya, yakni novel ke film  Laskar Pelangi. Novel ini ber cerita tentang hubungan ayah dan anak. Sabari, seorang laki-laki yang hanya mencintai dan sangat mencintai satu perempuan, Marlena. Bahkan bersedia menjadi ayah dari anak yang jelas bukan kandung. Menyayangi Zorro sepenuh hati, membesarkannya dengan cerita dan puisi, mengajarkan kebaikan hati dan ketulusan. Sayang, Lena diceritakan sebagai perempuan yang hanya menolak dan sangat membenci Sabari. Mungkin karena rupa Sabari yang tidak enak dipandang, sedang Lena adalah perempuan dengan senyum menawan.

Sabtu Bersama Bapak



Novel Karya Aditya Mulya ini bercerita tentang seorang bapak bernama Gunawan Garnida, yang memiliki seorang istri bernama Itje dan memiliki 2 orang anak; Satya dan Cakra. Sang bapak menderita kanker ketika kedua anaknya masih berusia muda. Menyadari umurnya yang tak lama lagi, sang bapak punya ide brilian untuk tetap 'menemani' langkah hidup anak-anaknya hingga mereka dewasa tanpa kehilangan sosok seorang bapak. Maka, sebelum meninggal, beliau memutuskan untuk merekam ratusan video dirinya bermodal sebuah handycam, yang berisi pelajaran hidup dan nasihat-nasihat—dengan bantuan sang istri.

Rindu



Novel Rindu karya Tere Liye ini bercerita mengenai kerinduan penumpang kapal Blitar Holland untuk menunaikan Ibadah Haji. Cerita ini berlatar tahun 1938, sehingga naik haji pada zaman itu merupakan perjalanan berbulan-bulan penuh perjuangan mengorbankan banyak waktu, tenaga harta bahkan nyawa.

“Setiap perjalanan selalu disertai oleh pertanyaan-pertanyaan.” Maka, kisah dalam buku ini adalah tentang pertanyaan-pertanyaan itu sendiri. Terdapat lima pertanyaan yang dibawa oleh penumpang kapal Blitar Holland, yang nantinya pertanyaan-pertanyaan itu akan terjawab seiring melajunya kapal Blitar Holland

In a Blue Moon




Novel karya penulis Illana Tan ini bercerita tentangLucas Ford, pemilik sebuah restoran terkenal bernama Ramses. Pada bulan Desember yang dingin, Lucas dikejutkan oleh rencana gila kakeknya, Gordon Ford. Kakeknya ternyata telah menetapkan seorang gadis bernama Sophie Wilson untuk menjadi tunangannya. Jika saja Sophie Wilson bukan seseorang yang membencinya, tentu masalahnya tidak serumit ini. Di sisi lain, tentu saja Sophie tidak setuju ditunangkan dengan orang yang pernah membuat hidupnya susah di masa lalu. 

Sunday, May 10, 2015

Buku Ini Ditarik Karena Memuat Puisi Sadis Anak 10 Tahun

Ilustrasi puisi yang sadis. (Foto: Soompi.com)




Sebuah buku kumpulan puisi, apalagi yang ditulis anak-anak, biasanya berisi keindahan dan keceriaan. Tapi tidak dengan buku berjudul A Single Dog dari sebuah penerbit Korea Selatan. Buku ini memuat sebuah puisi anak 10 tahun yang menggambarkan cara makan daging seorang ibu.

Buku dari Penerbit Chulganil itu terbit 30 Maret lalu. Dan dalam waktu cepat menuai kritik banyak orangtua yang membacanya, terutama puisi anak 10 tahun yang memakan daging ibunya. Apalagi, seperti dilansir upi.com, disertai ilustrasi gadis perempuan bersimpuh di dekat genangan darah sambil menggigit jantung manusia.

Puisi yang ditulis oleh Lee itu berjudul ‘Pada suatu Hari Kamu Tidak Ingin Pergi ke Hakwon’.

Kim Suk Boon, dari pihak penerbit, menjelaskan jika puisi itu tidak diedit karena merupakan sebuah karya ’seni’.  Tapi setelah mendapat keluhan dari banyak orangtua, penerbit  segera menarik dan menghancurkannya pada 6 Mei lalu. bahkan buku online pun akan segera dicabut peredarannya.

Di dalam buku kumpulan puisi itu juga terdapat puisi yang menceritakan seorang gadis yang ibunya dimakan oleh boneka berpisau.

Saya sendiri sebagai seorang editor buku yang  menerima naskah dari anak-anak, kerap juga kaget, karena di beberapa karya-karya mereka kadang terselip hal-hal sadis. Saya jadi bertanya-tanya, bagaimana mereka bisa menuliskan hal tersebut. Apakah karena pengaruh tontonan? Atau justru bacaan?

Yang jelas, saya tidak pernah menerbitkan buku kumpulan puisi anak-anak dengan konten sesadis itu. Apapun alasannya. Masih banyak hal ’seni’ lainnya yang bisa ditulis anak-anak, tanpa harus membuat jantung orangtua tersentak kaget.

Tuesday, April 14, 2015

Mengintip New Delhi World Book Fair 2015






Pembukaan New Delhi World Book Fair 2015. (foto: Benny)


Kantor menugaskan saya ke New Delhi, India, untuk mengikuti pameran buku yang diberi nama New Delhi World Book Fair (NDWBF) 2015. Seperti di banyak bidang, India memang layak dijadikan tempat belajar dan bercermin, termasuk soal buku. Bayangkan, ketika pecinta buku Indonesia gegap gempita karena menjadi guest of honour di Frankfurt Book Fair tahun ini, India sudah dua kali jadi tamu kehormatan di sana pada tahun 1986 dan 2006.

Pagi pertama di New Delhi, saya bangun terlampau dini. Selain karena tak bisa tidur saking senangnya bisa berada di India,  saya juga lupa mengatur waktu di arloji  jadi lebih awal 1,5 jam. Saya pun mencoba mengintip ke luar. Dan Brrrr … udara menjelang akhir musim dingin membuat saya kembali ke dalam wisma. Kurang lebih seperti udara dingin di Pangalengan atau Lembang, Jawa Barat.

Alhamdulillah, senang bisa diundang
di acara perbukuan bergengsi seperti ini. (foto: Benny)


Saya pun bersiap karena pagi ini ada jadwal mengunjungi pembukaan NDWBF. Asyiknya, pihak KBRI menyediakan menu sarapan nasi uduk ala Indonesia. Mengapa? Ternyata staf kedutaan menyadari bahwa tidak semua tamunya berselera dengan masakan India. Malah ada rumor, tamu-tamu dari Indonesia baru diberikan masakan India di hari terakhir. Biar kalau sakit perut sudah kembali ke Indonesia.

Gajah di  Jalan Raya

Saat keluar komplek KBRI saya melihat tata kota yang apik di kawasan Chanakyapuri. Kendati pohon-pohon rindang bertebaran, tapi saya tidak benar-benar melihat hijau seperti di Indonesia. Apakah tingkat polusi di New Delhi tinggi? Ternyata bukan itu. Menurut keterangan, letak New Delhi  yang dekat gurun menyebabkan debu gurun kerap terbawa bersama angin ke sekitar New Delhi.

Tak jauh dari gerbang KBRI kami melewati beberapa kantor kedutaan negara lainnya. Kedutaan Thailand terlihat lebih mentereng. Lalu mobil KBRI melewati pusat pemerintahan dan perkantoran militer. Semua tertata rapi. Di jalanan kami juga sempat melihat tupai, monyet dan anjing berkeliaran di jalan. Bahkan burung gagak dan elang berseliweran bebas di langit New Delhi lengkap dengan teriakannya.

Agak mengejutkan adalah ketika dekat stasiun metro, saya melihat gajah berjalan di tengah jalan raya. Walaupun saya pernah melihat hal seperti ini di film-film berbahasa Hindi, tetap saja takjub. Entah bagaimana jika ada gajah melenggang  di tengah Jalan Sudirman Jakarta.


Perjalanan menuju ke pamera buku. (foto: Benny)

Semakin menjauh dari KBRI, saya mulai melihat potret kehidupan masyarakat Delhi seperti yang sering dipajang di media cetak maupun internet, ketidakteraturan.  Sebanarnya hal-hal seperti itu juga ada di Indonesia. Cuman kuman di seberang lautan kerap lebih terlihat. Dan jauh di hati yang terdalam, saya juga ingin turun dari mobil, memotret lebih dekat masyarakat India di New Delhi. Tapi tidak memungkinkan.

Oh iya, satu kekhasan yang mungkin sudah diketahui banyak orang, jalanan di India selalu berisik oleh klakson. Begitu pula di New Delhi. Kabarnya, justru orang lebih suka diberi klakson sebagai penghormatan. Maklum, cara mengemudi di New Delhi bagi saya terbilang mengerikan. Lebih parah dari supir kopaja di Jakarta.


Shod Yatri

Dua pelajar India cuek selfie saat pembukaan.
(foto: Benny)
Akhirnya saya dan rombongan sampai di kawasan Pragati Maidan, area pameran semacam yang ada di Kemayoran Jakarta.  Bergegas kami ke lokasi pembukaan yang sesungguhnya tempat terbuka namun ditutupi parasut.  Matahari pagi musim dingin menghangat tamu-tamu dari jajaran kedutaan besar, pemerintah, masyarakat buku, serta pelajar dan mahasiswa yang jumlahnya ratusan.


Menteri  Sumber Daya Manusia Ms. Smriti Zubin Irani memberikan pidatonya tentang keberadaan NDWBF yang sudah 40 tahun berlangsung. “Itu atinya sudah melahirkan banyak penulis baru yang sebisa mungkin menulis banyak hal dengan baik,” katanya.

Menteri Irani juga menjelaskan rencananya meluncurkan program Shod Yatri dengan melibatkan anak-anak muda, penulis dan sejarahwan untuk melakukan perjalanan. “Mereka kemudian akan menulis hasil perjalanan, dan pemerintah akan menerbitkan bukunya,” kata Menteri Irani.

Penulis senior India Shri Narendra Kohli pada kesempatan berpidato mengatakan hal yang menarik menurut saya.  “Saya tidak cemas dengan orang-orang yang tidak bisa membaca karena Tuhan tidak menciptakan semua orang  bisa membaca. Saya lebih cemas dengan orang yang suka membaca tapi tidak bisa mengakses buku,” katanya. Karenanya Kohli berharap semua stasiun metro di Delhi terdapat kios buku.


Pada kesempatan acara pembukaan juga secara resmi diumumkan negara Republik Korea Selatan sebagai Focus Country dan Singapura sebagai Guest of Honour. Saya berharap suatu hari nanti Indonesia bisa menjadi salah satunya .

Berkarakter

Stand Indonesia, disukai pengunjung pameran. (Foto: Benny)

Usai acara pembukaan saya menuju ke stand Indonesia. Asal tahu saja, pada akhir pameran, stand Indonesia berhasil mendapat juara 3 terbaik kategori display khusus peserta negara asing. Bravo ya buat timnya Prof. Iwan  Pranoto dari Atase Pendidikan KBRI India.

Saya juga menjelajah semua stand di pameran yang jelas lebih luas dari pameran buku di Jakarta, sekalipun bersakala nasional. India berani mengklaim pameran bukunya merupakan yang terbesar di Asia. Ya iyalah jelas saja. Jumlah penerbit di India saja menurut informasi yang saya dapat ada 18.000 penerbit. Dan bukunya yang terbit lebih dari 100.000 judul per tahun.

Kebersihan dijaga sepanjang hall pameran.
(foto: Benny)

India juga memiliki pangsa pasar nomor tiga buku berbahasa Inggris di dunia. Itu sebabnya saya bisa menemukan dengan mudah novel-novel berbahasa Inggris dari penulis kelas dunia di pameran ini. Dan yang membuat saya langsung meneteskan liur adalah beberapa novel tebal dijual dengan harga sekitar Rp.5.000-an. Kalau tidak ingat kapasitas bagasi mungkin saya sudah memborong banyak.

Buku-buku baru pun di India terbilang murah. Hal tersebut disebabkan dengan oplah pertama mereka yang relatif besar, di atas 10.000 eksemplar. Bandingkan dengan di Indonesia yang standar cetak pertama 3.000 eksemplar.  Besarnya oplah cetak pertama bisa disebabkan banyak hal, diantaranya adalah jumlah penduduk India yang lebih dari 1,2 milyar jiwa dan minat baca yang tinggi.


Diskusi ilustrasi buku anak, juga menarik. (Foto: Benny)

Buku-buku anak India juga terlihat lebih variatif dengan adanya penerbit Amerik dan Eropa yang membuka cabang di India. Beberapa teman pernah mengatakan, kualitas ilustrasi buku anak di India jauh di bawah ilustrasi buku anak Indonesia. Kalau menurut saya, itu lebih disebabkan dengan selera visual di India. Walaupun terlihat agak kasar gaya ilustrasinya, tapi sebenarnya ilustrasi buku-buku anak India lebih berkarakter. Sehingga dengan mudah dikenali, buku anak-anak tersebut dari India.


Lapak buku di pinggir jalan diminati. (foto:Benny)
Asosiasi perbukuan di India juga tidak hanya satu seperti di Indonesia. Ada asosiasi khusus buku pendidikan, buku anak-anak, hingga buku akademik. Alhasil pengaturan kebijakan perbukuan dan kinerjanya lebih maksimal. Di Indonesia semua jenis buku bercampur di IKAPI. Ketika pengurus lebih dominan dari penerbit buku pelajaran, maka yang diurus ya hanya buku pelajaran. Terjadilah conflict of interest.

Secara garis besar saya menyukai kunjungan ke NDWBF 2015. Apalagi sepanjang hall tampak bersih, lebih bersih dari tempat pameran buku di Jakarta yang orang-orangnya kerap menilai orang India jorok.  Pengunjung juga padat. Bahkan di hari pertama yang belum dibuka untuk umum, dipenuhi undangan pelajar dari berbagai sekolah.

Kios-kios toko buku dekat kampus juga ramai.
(foto: Benny)
Selain buku cetak, industri buku digital di India pun mulai menggeliat. Apalagi dengan kehadiran negara Korea Selatan yang memiliki brand gadget paling laris di India, gempita buku digital semakin didukung pelaku industry.


Selain di pameran buku, saya juga sempat diajak ke tempat-tempat penjualan buku. Baik di mall maupun dekat universitas. Buku-buku yang dijual sangat menarik perhatian dengan harga yang murah. Saya jadi ingat ketika di Indonesia beberapa tahun lalu belum ada gadget, orang berjalan maupun nongkrong membawa majalah atau buku, bukan gadget. Di India, walaupun banyak yang menenteng gadget, yang menenteng buku pun masih ada.

^_^