Showing posts with label penulis. Show all posts
Showing posts with label penulis. Show all posts

Thursday, March 3, 2016

Ziggy, Penulis Muda Ini Paparkan Proses Kreatif Menulis 21 Bukunya



Namanya memang sulit diingat dan disebutkan: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, tapi kisah dalam novel-novel karyanya sulit dihapus dari hati pembacanya. Meskipun baru berusia 22 tahun, sudah dua puluh satu karya Ziggy yang diterbitkan dan disambut hangat oleh pembaca berbagai usia. Kepenulisan Ziggy merambah berbagai genre, mulai dari fantasi, horor, romance, bahkan drama keluarga. Pada tahun 2014, naskah novelnya Di Tanah Lada memenangkan juara dua  Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta yang bergengsi. Berikut wawancara bersama Ziggy mengenai kegiatan membaca dan menulisnya.



Ziggy, kamu pernah sharing buku-buku yang kamu baca waktu kecil dan jadi favorit sampai sekarang. Misalnya Harry Potter dan Little Women. Tapi ada nggak sih buku yang kamu nggak suka dan pengen diubah endingnya?

Hmmm, mungkin Saga of Darren Shan ya. Sebetulnya bukan endingnya jelek, tapi eksekusinya kurang bagus sampai terasa antiklimaks, padahal idenya sendiri menarik ;v;

Aku belum baca Saga of Darren Shan, emang endingnya kayak gimana sih?


Agak lupa sih, tapi kalau gak salah, endingnya, Darren, si tokoh utamanya, mati, tapi jiwanya diselamatkan seseorang yang namanya Mr. Tiny, dan Darren hidup lagi di masa lalu sebagai pengikutnya Mr. Tiny, dan kemudian mengikuti dan membantu petualangan si Darren di masa lalunya itu.

Sebetulnya keren kok, tapi sepertinya pengarangnya emang kurang jago buat bagian dramatis ;v; Kalau lagi action2 sih, seru banget



Kamu sendiri lebih suka menceritakan hal yang dramatis atau action?

Hem saya suka action, tapi sepertinya belum bisa membuatnya dengan baik.

Bukannya tinggal banyakin adegan baku hantam dan lompat dari gedung tinggi saja ya?

 Iya sih, tapi kan harus membantu yang baca ikutan merasa deg-degan.

Jadi kamu nggak langsung deg-degan kalau tokoh favoritmu dalam buku tiba-tiba lompat dari gedung tinggi?

Hem enggak juga.  Habis kalau cuma dibilang 'lalu dia lompat lalu mati' kan gak kerasa OH MY GOD DIA LOMPAT TERUS MATI. Karena di buku gak ada alat bantu visual, gak seperti film atau komik, jadi narasinya yang harus membangun suasana, kan?

Nah, kalau kamu punya kekuatan menghidupkan tokoh dalam buku, siapa yang bakalan kamu hidupkan lagi?

Hmmm pertanyaannya susah. Mungkin Count Olaf di A Series of Unfortunate Events. Bagian kematiannya itu sangat  sesuatu. Meskipun dia reseh.

Buku terbaru Ziggy, Airmata Bulan.



Ziggy kok mau menghidupkan karakter yang jahat sih? Apakah karena kamu mau memberikan mereka kesempatan kedua?

 Iyaaa, dia salah satu villain terbaik yang pernah ada. Jahatnya jahat banget sampai bikin ngakak.

Kenapa ya?Habis buku-buku kan biasanya diceritakan dari perspektif 'si baik'. Ada banyak cerita dari 'si jahat' yang gak kita tahu, padahal pasti ada sesuatu yang membuat dia sampai jadi sejahat itu. Sepertinya lebih menarik mengetahui apa yang akan terjadi kalau mereka berhasil mendapatkan keinginan mereka.

Bagaimana kalau Voldemort yang hidup di akhir serial Harry Potter? Apakah dia bakalan ada di stasiun mengantar anak-anaknya yang akan bersekolah di Hogwarts? Atau anak Voldemorts bakalan pergi sekolah dengan jet pribadi.

Voldemort kawin sama siapa? Bellatrix kan sudah mati.

Menurutmu ada hubungan nggak sih kisah di dalam buku dengan kisah di dunia nyata? Di buku, kebanyakan tokoh baik yang bertahan hidup? Namun bagaimana dengan Bellatrix-Bellatrix di dunia 'nyata'?

Hem di dunia nyata sih agak lebih rumit, soalnya kita gak diberitahu dengan jelas yang mana yang baik dan yang jahat, kan? Yang baik cuma baik kalau pihak yang baik yang menang. Kalau Voldemort yang menang dan menceritakan kisahnya, pasti geng Harry Potter yang kedengaran jahat. Toh mereka pun sama-sama melukai dan saling bunuh.

Apa sebaiknya kita selalu punya tujuan spesifik dari kegiatan membaca kita? Misalnya kita membaca untuk mendapatkan kesenangan, atau untuk tahu bagaimana cara mengoperasikan Adobe Photoshop?

Hmm, gak perlu ada tujuan spesifik juga. Tapi menurut saya sih, sebelum baca sesuatu yang bisa memberikan perspektif, penting untuk mempunyai perspektif sendiri. Soalnya, kalau membaca dan menerima 'kebenaran' yang ada di dalam buku mentah-mentah, gak ada artinya. Seperti kata pepatah Cina: membaca tanpa berpikir is a labor lost. Buku (ada) untuk membantu kita berpikir, bukan mengikuti pikiran orang :>


Sebelum menulis, kamu nyiapin bekal apa?

Nah, kalau menulis sih I say kita berusaha mempengaruhi orang. Jadi sebelum menulis, biasanya saya menyiapkan moral value apa yang mau saya sampaikan.

Oke-oke, jadi dari mana seorang penulis bisa tahu bahwa ceritanya memang perlu dituliskan? Karena persepsi pembaca tentang moral value, kan, nggak selalu sama.

Yes, true. Tapi berarti sebuah cerita ditulis karena penulis mau pembaca memahami moral value-nya kan? Tapi saya rasa gak semua orang menulis untuk menyampaikan moral value. Kadang-kadang, orang menulis untuk curhat saja. Either way, saya rasa alasan orang menulis, atau at least saya, selalu egois; karena bottom line, saya menulis untuk memberi alasan menjustifikasi perbuatan saya sendiri.

Beberapa kali membaca di Tumblr-mu ada banyak pertanyaan dari pembaca bukumu. "Kak Ziggy, gimana caranya bisa nulis sekeren itu?" Kupikir jawabannya sederhana, "Banyak membaca dan berpikir." Nggak ada rahasia lain, kan?

Enggak, hehe. Saya juga banyak nonton tapi sepertinya itu bukan rahasia.

Waktu pertama menulis, tulisanmu juga nggak serta-merta jadi seperti tulisan yang sekarang, kan? Apakah ada proses belajarnya?

 Hmmm, saya sih gak pernah belajar menulis. Kalau dalam hal penulisan, saya cuma memperhatikan masukan dari para editor. Tapi selain itu, yang berkembang cuma bahan bacaan saya. Kalau tulisan saya sepertinya membaik, itu karena saya membaca bahan yang lebih baik, atau karena bisa menarik pelajaran dari bahan bacaan saya dengan lebih baik.



Thursday, September 26, 2013

Modus Penipuan Menyasar Calon Penulis Buku




Seperti halnya di bidang menyanyi, akting, dan lainnya, dunia tulis-menulis juga dikelilingi orang-orang tak bertanggung jawab yang mengambil keuntungan dari impian seseorang menjadi penulis buku. Tak jarang, korbannya bisa rugi materi, psikis, dan harga diri. Bahkan saya sempat pula mendengar seorang calon penulis permpuan yang sampai dilecehkan secara seksual.
Berikut saya sampaikan beberapa modus penipuan yang menyasar calon penulis, yang sering sampai ke telinga saya:

1. Tiba-tiba seseorang mengaku editor sebuah penerbitan dan menawarkan jasa menerbitkan naskah calon penulis. Orang itu meminta imbalan kepada calon penulis agar naskahnya pasti lolos terbit. Catatan untuk modus seperti ini adalah mengecek dulu keberadaan penerbitnya. Jika tidak ada di Google, Facebook, Yellow Pages, bahkan di antahberantah sekalipun, maka tolaklah permintaannya. Jika penerbitnya ada, minta konfirmasi keberadaan nama editor itu. Perlu diketahui, seorang editor sudah digaji oleh penerbitnya, sehingga ganjil jika ada editor yang sampai minta uang jasa kepada calon penulis. Justru penulislah yang kelak akan mendapat bayaran dari penerbit.

2. Seseorang dari penerbit buku meminta naskah kepada calon penulis. Walaupun penerbitnya tidak terkenal, tapi kantornya ada, Facebook ada, bahkan punya website sendiri. Tidak meminta imbalan sedikit pun. Tapi tiba-tiba kantor, facebook dan website-nya hilang setelah calon penulis  mengirim naskah.  Catatan untuk kejadian seperti ini adalah sebelum mengirimkan naskah cobalah bertanya kepada para penulis lain untuk merekomendasikan. Beberapa kejadian, ada oknum yang bikin penerbitan untuk menerbitkan sejumlah judul buku, kemudian kabur. Dia tidak membayarkan royalti kepada penulis, sementara bukunya tetap terbit dan beredar luas. Penulis tidak bisa apa-apa karena tidak ada kantornya. Biasanya nanti pelaku akan mendirikan penerbit abal-abal lagi dan mencari korban.

3. Seseorang mengaku kenal dengan penulis terkenal, lalu menjanjikan calon penulis dibimbing menulis oleh penulis tersebut, bahkan duet bareng. Dia menunjukkan foto bareng penulis di Facebooknya. Sebagai jasa kelancaran, dia meminta sejumlah uang. Setelah uang didapatkan, Facebooknya ditutup. Catatan untuk menghadapi kasus seperti ini adalah, selalu cek dan ricek, misalnya kepada penulis yang dia sebutkan atau kepada penerbit si penulis jika penulisnya susah dikontak.

4. Seseorang mengaku-ngaku agen naskah. Dia hanya minta persentase royalti atau uang muka royalti bila naskah diterbitkan. Namun, saat buku terbit nama yang tercantum adalah nama orang lain, bukan nama si penulis naskah yang masih calon penulis. Alasannya, namanya tidak menjual. Si penulis tetap mendapat haknya, tapi secara harga diri tertindas. Catatan bila berhadapan dengan agen naskah adalah membuat perjanjian yang detil mengenai hak dan kewajiban penulis.

5. Seseorang dari penerbit meminta naskah kepada calon penulis. Setelah buku terbit dan terjual, penulis hanya mendapat sedikt royalti. Padahal penulis tahu bukunya sangat laris. Penerbit tersebut malah menyebutkan persentase royalti yang kecil. Sang penulis tidak pernah mendapatkan surat perjanjian penerbitan serta mendiskusikan royalti. Penulis baru umumnya sangat mudah manut-manut karena keinginannya menerbitkan buku lebih diutamakan.

Itulah sebagian modus penipuan yang bisa saya sampaikan. Saran saya kepada calon penulis buku, banyaklah bertanya kepada teman-teman penulis, tambah wawasan dunia penerbitan buku, agar tidak menelan kekecewaan dan akhirnya patah arang untuk mewujudkan mimpi menjadi penulis.

00oo00

Tulisan ini repost dari tulisan saya di:
http://media.kompasiana.com/buku/2013/09/26/5-modus-penipuan-menyasar-calon-penulis-buku-593272.html