Showing posts with label wisata. Show all posts
Showing posts with label wisata. Show all posts

Saturday, August 3, 2013

Sampah Jakarta Kotori Kepulauan Seribu

Tulisan ini menjadi HL di kompasiana.com





Harapan saya melihat bibir pantai yang cantik pupus sudah saat tiba di dermaga kecil Pulau Bidadari, Kepulauan Seribu, Sabtu (6/7). Ombak mengantar aneka sampah, terutama plastik, mengotori pantai yang semestinya bersih karena merupakan obyek wisata. Dari manakah rombongan sampah itu?

Setelah cek-in dan istirahat sejenak, saya keluar dari kamar tempat menginap di bagian barat Pulau Bidadari. Seorang pria tampak tengah mati-matian menghalau sampah yang terus mendesak ke pantai. Setelah mengangkut dua gerobak sampah, pria bernama Tahmid itu akhirnya hanya bisa menghalau sampah-sampah itu ke tengah laut agar kembali terbawa ombak.

Monday, April 22, 2013

Neilson Hays Library: Perpustakaan Tanda Cinta

Neilson Hays Library yang Nyaman.

Jika di India ada Taj Mahal sebagai tanda cinta Shah Jahan atas wafatnya sang isteri tercinta Mumtaz Mahal, lain lagi dengan di Bangkok, Thailand.  Pria berkulit putih Heywood Hays membangun sebuah perpustakaan atas kepergian isterinya karena Kolera.

Bangunan itu sangat mudah dicapai  karena berdekatan dengan stasiun MRT  Silom atau  stasiun BTS Saladang.  Cukup berjalan kaki melewati gedung-gedung bertingkat sampailah di salah satu tempat yang teduh di Sarawong Road. Jika melihat sebuah bangunan bergaya Neo-klasik, itulah Neilson Hays Library.

Berawal ketika  pada  1869 sekumpulan wanita  kulit putih yang senang membaca buku membentuk  The Bangkok Ladies Library Association.  Kemudian. Bergabunglah seorang missionari bernama  Jennie Neilson pada 1881. Dia senang dengan klab buku tersebut karena bisa saling menukar buku dan diakusi buku.
Lambang Cinta.

Jennie menikah dengan Dr Thomas Heywood Hays yang begitu mendukung kegiatannya membuat perpustakaan. Sayangnya Jennie meninggal tiba-tiba pada tahun 1920 – diduga  akibat kolera.  Dr Hays  pun membangun sebuah gadung perpustakaan baru sebagai tanda cinta untuk isterinya.


Perpustakaan baru  dibuka pada  26 Juni 1922. Dirancang oleh arsitek Italia Mario Tamagno,  bangunan baru menampilkan kekayaan fitur klasik seperti plesteran bermotif dan lantai kayu jati. Fokus arsitekturnya  adalah kubah Italianate yang indah. Bangunan ini digambarkan oleh Bangkok Times, pada saat pembukaan sebagai “… sebuah istana besar dalam skala kecil”.  Perpustakaan Nielsen Hays diberi status “Historic Landmark” pada tahun 1986 oleh Asosiasi Arsitek Siam.

Kini, Neilson Hays Library menjadi perpustakaan umum dengan sistem keanggotaan. Meskipun demikian, perpusatakaan ini lebih dikenal sebagai perpustakaan untuk anak. Apalagi diediakan sudut koleksi untuk anak-anak. Sementara, setelah pintu masuk bagian ini, dijadikan galeri untuk ruang pameran lukisan dan karya seni lainnya.
Ruang baca anak.



Jika merasa lapar, pengunjung tidak perlu khawatir. Disini, disediakan pula kafe untuk menyantap hidangan bersama keluarga. Kafe yang terang ini mengombinasikan konsep dalam dan luar ruangan. Kafe yang didominasi dengan warna hijau, menjadikannya sebagai lokasi sempurna untuk beristirahat sejenak. Bahkan, kadang kala di sini diadakan kegiatan-kegiatan khusus, misalnya acara untuk anak-anak, pertemuan pengarang buku atau para seniman.

Secara pribadi saya senang berkunjung ke perpustakaan. Apalagi yang menyimpan koleksi buku-buku kuno seperti Neilson Hays Library. Saya membayangkan suatu hari buku saya berada di perpustakaan tersebut dan dibaca banyak orang.

(br)

Kunjungan ke Bangkok, Ibukota Buku Dunia 2013

Promosi Hingga ke Monore
Penetapan UNESCO kepada  Bangkok sebagai Ibukota Buku Dunia  untuk tahun 2013 di Paris, 27 Juni 2011, membuat saya penasaran ingin mengunjungi ibukota Thailand tersebut. Seberapa hebatnya dunia perbukuan di sana.
Keinginan saya terwujud, ketika Mizan Publishing mengutus saya mengunjungi Bangkok International Book Fair yang digelar 29 Maret-8 April 2013. Acara yang diselenggarakan Asosiasi Penerbit dan Penjual Buku Thailand (Pubat) ini menampilkan 950 stand dengan melibatkan 400 penerbit lokal dan puluhan penerbit dari Taiwan, Singapura dan Korea Selatan.

Dari tempat saya menginap di kawasan Lumphini, saya cukup naik MRT selama 10 menit menuju lokasi pameran di Queen Sirikit National Conventional Centre. Dari stasiun MRT Queen Sirikit, akses menuju tempat pameran hanya 50 meter. Sehingga calon pengunjung yang menggunakan kendaraan umum amat nyaman.  Sangat berbeda dengan pameran buku di Jakarta. Dari halte busway harus naik ojek atau berjalan kaki lebih dari seratus meter.

Masuk ke selasar arena pameran yang telah memasuki tahun ke-45 untuk skala nasional, dan ke-11 untuk skala internasional, saya langsung disambut dengan jajaran komik-komik Asia yang mencolok warna sampulnya. Namun karena saya datang awal, stand-stand di luar itu belum dibuka. Saya pun masuk ke dalam hall tanpa tiket, yang di depannya merupakan food court. Setelah melewati lorong, sampailah ke dalam hall luas yang sangat ramai.
Serunya Stand Buku Anak. (foto Beny Rhamdani)

Ruangan pameran yang sejuk membuat saya  lupa suhu di Bangkok saat itu mencapai 40 derajat Celsius. Saya pun mulai memerhatikan sudut-sudut ruang pameran buku yang tahun ini bertema “Read for Life”. Meskipun ukuran stan  mirip dengan pameran di Jakarta, namun tampilannya lebih aktratif. Buku tidak berjejal begitu banyak sehingga pengunjung masih leluasa memilih-milih buku.

Budaya membaca di generasi muda sangat kuat. (foto Benny Rhamdani)
Kedatangan saya ke pameran kali ini, selain melihat perkembangan buku di Thailand, juga menawarkan right buku Indonesia untuk diterbitkan di Thailand. Orang-orang penerbitan di Thailand relatif lebih terbuka dan ramah untuk diajak kerjasama di industri perbukuan. Demikian halnya dengan mitra agen yang saya temui, bisa diajak diskusi panjang lebar tentan rencana penerbitan. Walaupun menurut saya, ruang untuk pertemuan dengan agen ini sangat sempit dibandingkan di Frankfurt, Jerman.


Hal yang sangat saya kagumi di arena pameran, pengunjung malah didominasi kalangan pelajar dan mahasiswa. Mereka antusias berebut buku-buku yang dijual, mulai dan novel, komik sampai buku-buku non fiksi, buku asing, buku akademik dan buku-buku tua berkelas. Acara-acara yang melibatkan kaum muda pun berlimpah, mulai dari workshop penulisan, festival komik, dan sebaginya.

Selain pameran buku, juga digelar pameran foto HM Raja dan karya terjemahan HRH Princess Maha Chakri Sirindhorn, serta sejumlah stand e-book oleh penerbit online.

Layak


Mengutip situs BBC Travel, General Director UNESCO Irina Bokova mengatakan, Bangkok dicanangkan sebagai World Book Capital 2013 karena fokus kepada komunitas dan pro terhadap perkembangan kultur membaca.

Saya yang berangkat bersama enam penulis DAR! Mizan saat menyusuri Kota Bangkok mendapati banyak toko dengan rak-rak penuh buku. Toko-toko ini menjual aneka novel, majalah, sampai komik manga. Beberapa mal besar seperti Siam Paragon sudah dilengkapi jaringan toko buku asal Jepang yakni Kinokuniya, dan perusahaan buku berbahasa Inggris terbesar di Thailand yakni Asia Books.

Ada pula jaringan toko buku Barnes & Noble asal AS, dan Waterstones asal Britania Raya. Toko-toko buku ini punya atmosfer yang nyaman untuk pengunjung bersantai sambil membaca. Ada sofa, pendingin udara, lantai kayu, dan komputer yang bisa digunakan untuk selancar dunia maya.

Para penggemar buku bekas bisa menemukan ‘harta karun’ di Dasa Books, Jalan Sukhumvit. Ada lebih dari 16.000 buku bekas dalam berbagai bahasa untuk dijual maupun dibaca di tempat. Di sini, wisatawan bisa membaca buku di kafe sambil menyeruput kopi dan mengunyah brownies cokelat.

Untuk sekadar membaca, sempatkanlah mengunjungi Library Cafe yang masih berlokasi di Jalan Sukhumvit. Toko buku mungil ini punya atmosfer yang sangat nyaman, dengan interior ala tahun 1950-an. Kita bisa membaca buku sepuasnya sambil memesan kopi panas.


(br)

Wednesday, January 2, 2013

Jadi Kurir Tas Branded dari Italia


Pengalaman tak terlupakan pada 2012 adalah ketika saya berkesempatan mengunjungi Milan, Italia. Mulanya, saya mengontak seorang teman dari alamamater yang tinggal di Milan. Eno (sebut saja begitu) mengajak saya singgah ke tempat tinggalnya.

Seminggu sebelum berangkat, tiba-tiba Eno menawarkan saya menjadi kurir tas branded dari Italia. Saya sih iya-iya saja, tanpa hitung-hitungan. Ternyata Eno malah bilang akan ada komisi buat saya. Itu pun saya abaikan. Dan Eno menegasakan, bahwa yang berbisnis bukan dia, tapi temannya juga yang orang Indonesia (sebut saja Dian).

Di Bandara Soeta, saya dihampiri seorang pria, dititipkan sejumah uang dan kartu kredit. Maka berangkatlah sayake Milan dengan rasa penasaran. Yang mengejutkan, ternyata Dian dan suaminya yang orang Italia dengan senang hati menjemput saya di bandara.

Eno yang sedang hamil tua menyatakan maaf karena tak bisa mengajak saya jalan-jalan di Milan. Saya diserahkan ke tangan Dian. Saya pun dibawa ke kawasan Duomo, bukan untuk melihat atraksi wisata, tapi … belanja tas branded!

Dian terus bercerita tentang bisnisnya itu. Dia bersama patnernya di Indonesia sudah cukup lama bisnis tas branded ini. Caranya, temannya di Jakarta yang mencari pembeli, lalu mereka kasak-kusuk mencari orang Indonesia yang akan mampir di Milan. Terkadang, Dian sendiri merangkap kurir kalau sekalian pulang kampung.
 
Menurut Dian, meskipun di Indonesia bisa ditemukan outlet-outlet tas branded, tapi belum tentu koleksinya sekomplet di Milan. Harganya pun berlipat karena sudah kena biaya distribusi, pajak, dan tentu saja display toko.

Keuntungan yang diambil Dian dan patner diambil dari selisih harga jual, juga diskon turis saat pembelian dengan menunjukkan paspor, termasuk kartu diskon tertentu. Belum lagi pengembalian pajak pembelian di bandara yang jumlahnya cukup lumayan.

Semula Dian menyebutkan hanya akan membeli empat tas dari dua merk ternama. Salah satunya adalah pesanan isteri seorang pejabat papan atas. Pada kenyataannya, selama kami berkeliling, orderan dari Indonesia terus masuk. Alhasil, delapan tas bermerk pun pindah ke tangannya. Jumlah itu bisa terus membengkak jika dia tak menahannya.

Ketika pulang dari Milan, saya kembali diantar oleh Dian. Semua tas dikemas dalam satu bagasi dengan rapi olehnya. Saya mendapat upah kurir sekitar 2 juta rupiah lebih. Lumayan, menggantikan uang saku yang terpakai selama di Italia. Sesampai Bandara Soeta saya dijemput kembali oleh seorang pria yang langsung mengambil tas-tas itu.

Saya teringat ucapan Eno ketika saya ngobrol dengannya,” Orang Indonesia memang gila belanja. Setiap musim mereka selalu ganti tas bermerk. Padahal orang Italia sendiri belum tentu punya tas-tas bermerk itu. Kalaupun mereka beli, hanya satu untuk seumur hidup.”

Friday, September 28, 2012

[Traveling] Di Ketinggian Ciburial

Sehari  di Ketinggian Ciburial

Oleh Benny Rhamdani, traveler tinggal di Bandung

Jangan hanya keluar masuk factory outlet bila berwisata ke Bandung, Jawa Barat. Masih banyak  pilihan obyek wisata yang menarik, mulai dari wisata kuliner, sejarah, pertanian, hingga kesenian. Coba melangkah ke utara kota Bandung, menuju kawasan  Ciburial, Kabupaten Bandung.

Desa Ciburial selain merupakan daerah pertanian subur, juga memiliki panorama alam yang sangat indah. Kawasan Ciburial tergolong dataran tinggi karena berada pada ketinggian antara 750 s.d. 1.200 m.

Saya melakukan perjalanan wisata kali ini bersama isteri dan anak. Saya memang ingin berwisata sambil mengenalkan banyak pengetahuan kepada anak. Kami  menuju Desa Ciburial melalui Jalan Ir H. Djuanda hingga melewati terminal angkot Dago. Setelah melewati batas wilayah Kotamadya Bandung, sebenarnya kami sudah memasuki wilayah Desa Ciburial. Tapi warga kota Bandung lebih mengenalnya dengan sebutan Dago Atas atau Dago Pakar atau Bukit Dago.


Goa Jepang dan Belanda

Pilihan pertama kami adalah mengunjungi Taman Hutan Raya (Tahura) Ir Djuanda. Kami masuk melalui pintu utama dari Jalan Bukit Pakar Barat. Begitu melewati gerbang dengan tiket Rp8.500 per orang, kami langsung disambut aroma pepohonan pinus yang  menyegarkan paru-paru. 

Di taman hutan seluas 527  hektar ini, obyek yang paling menarik  adalah Goa Jepang dan Goa Belanda. Goa Jepang berjarak 600 meter dari pintu masuk Dago Pakar. Untuk masuk ke dalamnya, kita harus menyewa senter, sekaligus dengan pemandu karena di dalam goa sangat gelap gulita.

Goa buatan yang dibangun pada tahun 1942 ini cukup unik karena memiliki empat pintu yang saling terhubung di dalam kecuali pada pintu kedua yang dimaksudkan sebagai pintu pengecoh. Goa ini dulunya dibangun oleh orang-orang Indonesia yang menjadi romusha. Goa sepanjang  70 meter ke dalam ini difungsikan sebagai tempat perlindungan sekaligus pusat pertahanan Jepang di Bandung utara. 



Sepanjang perjalanan, anak saya banyak bertanya soal penjajahan Jepang. Mulai dari alasan Jepang menjajah, berapa lama menjajah, hingga  bagaimana Jepang kalah di Indonesia. Begitu pula saat memasuki Goa Belanda empat ratus meter selanjutnya. Belajar sejarah dapat, tubuh sehat juga dapat.

Untuk mencapai kedua goa ini bisa dilakukan dengan menggunakan jasa ojek. Bahkan sampai masuk melihat air terjun Curug Ciomas. Tapi kami memutuskan tetap berjalan kaki. Barulah pulangnya, karena matahari mulai menyengat, putra kami memilih menunggang kuda dengan tarif Rp.10.000 sampai mendekati gerbang utama. .


Selasar Sunaryo

Setelah dua dua jam lebih menjelajah Tahura Djuanda, dalam waktu sepuluh menit mengendarai mobil kami sudah tiba di Selasar Sunaryo. Bagi publik seni, Selasar Sunaryo Art Space bukanlah nama yang asing. Berada di Jalan Bukit Pakar Timur di No 100, tempat ini menawarkan segala bentuk karya seni yang layak untuk diapresiasi. Tujuan saya ke tempat ini adalah mengenalkan dunia seni kepada anak saya. Karena di tempat ini kita bisa melihat karya seni lukis dan karya seni patung.


Di galeri lukisan kita tidak bisa sembarangan memotret. Tak apa, yang penting kita masih bisa melihatnya. Sayangnya, saat itu tidak ada program pameran khusus. Padahal Selasar Sunaryo memiliki program yang padat, hampir 15 kali dalam setahun.

Masih di lokasi yang sama, ada tempat ngopi yang disebut Kopi Selasar. Saat kami datang, tidak tersedia tempat duduk lagi saking penuhnya. Padahal, saya berniat rehat sejenak sembari menghirup kopi di Kopi Selasar yang terkenal. Ahirnya kami memutuskan mencari tempat makan siang sekalian.

Love Lock

Di sepanjang Jalan Bukit Pakar Timur banyak sekali resto dengan berbagai jenis makanan. Karena ingin resto yang menyajikan masakan Sunda dan modern serta memiliki pilihan menu yang cocok untuk anak, maka kami memilih Lisung. Salah satu alasan paling kuat memilih Lisung, resto ini memiliki desain interior yang Indonesia banget, belum lagi view kota Bandung di kejauhan. 

Saya memilih masakan Sunda nasi tutug oncom khas Lisung. Porsi nasinya cukup besar bagi yang sedang diet. Tapi karena nikmat, ya habis juga. Apalagi ditutup dengan minum lemon freeze yang segar. Anak saya lebih memilih pizza ala Lisung yang renyah.

Satu lagi yang tidak boleh dilewatkan, Lisung juga merupakan pencetus  Love Lock pertama di Indonesia.  Berbeda dengan Love Lock di negara-negara Eropa maupun Korea, di Lisung terbuat dari Kelotok Sapi antik yg diberi gembok di bagian bawahnya.  Siapapun yang ingin mengikrarkan isi hatinya, bisa pasangan kekasih, kakak-adik, keluarga, sahabat, dapat menuliskan nama atau untaian kata-kata pada kelotok sapi ini. Biayanya Rp75.000. 

Gembok cinta akan disimpan di Lisung selama setahun. Untuk memperpanjang, cukup makan di Lisung minimal Rp100.000. Kalau putus dengan pasangan, silakan lepaskan gembok kapanpun mau. 


Lebah Madu Cikurutug

Perjalanan kami teruskan setelah shalat di masjid Agung Assalam yang sedang renovasi. Tujuan berikutnya Kampung Cikurutug yang terkenal dengan budi daya lebah madu.  Kami dikenalkan dengan Aepudin, salah seorang peternak lebah madu. Jalan menuju area peternakan harus dilalui dengan jalan kaki. Medannya pun cukup menguras tenaga karena untuk menjelajahi perkampungan ini harus mendaki undakan tangga mungkin lebih dari seratus undakan.


Aepudin menjelaskan Dalam setahun, musim kembang bisa dua kali. Paling bagus menjelang musim hujan. Lebah paling suka mengerubungi bunga kaliandra, bunga rumput, kecubung, dan baruntas. Selain dengan cara diternak, para petani juga biasa mengambil langsung lebah liar dari Tahura Djuanda.

Madu-madu yang dihasilkan dikemas dalam botol berbagai ukuran. Satu botol ukuran 630 milimeter dijual Rp75.000,00, sedangkan untuk ukuran botol kecil 300 milimeter seharga Rp40.000,00. Produk Ciburial ini sudah dipasarkan di Bandung, Jakarta, Sumatera, Kalimantan, hingga Malaysia. Rasanya yang lezat dan berkhasiat untuk kesehatan, membuat madu ciburial banyak diminati. Satu lagi yang istimewa, kita bisa membeli madu dengan sarangnya.

Selain menjual madu, peternak lebah di Ciburial ini juga memfasilitasi mereka yang ingin tahu cara beternak lebah. Ada paket belajar selama seminggu bagi masyarakat umum untuk mempelajari budidaya lebah madu. Kegiatan yang paling menarik dan menantang adalah bermain dengan lebah. Para peternak mempersilakan kepada siapa pun yang berminat merasakan sensasi kepala dan tubuhnya dikerubuti lebah. Banyak yang datang hanya ingin merasakan dikerubuti lebah. Tapi kami tidak berani. Mungkin lain kali.

Aepudin juga menawarkan paket untuk kunjungan sehari lengkap dengan hidangan nasi liwet ditambah goreng ayam kampung yang dimakan di pinggir hutan bersama. Untuk sepuluh orang cukup sediakan dana Rp.300.000. tapi ini tidak termasuk madu. Untuk yang menyukai pengobatan alternatif dengan terapi sengatan lebah, di Ciburial juga bisa ditemukan.

Kolam Renang dan Spa

Semakin malam kawasan Ciburial ini semakin ramai karena pemandangan cahaya kota Bandung yang menawan. Selain di resto dan café, kita bisa singgah di villa ataupun resort yang bertebaran. Saya merekomendasikan Dago Highland yang berkelas bintang tiga. Untuk mencapai tempatnya memang harus melalui jalan turunan curam dan jug tanjakan terjal, belum lagi belokan patah dan ruas jalan yang tidak begitu lebar. Perlu kemahiran dan kehati-hatian bila mengendarai mobil sendiri.

Dago Highland memiliki pemandangan indah ke kota bandung. Tidak hanya bisa dinikmati malam keindahannya, tapi sepanjang hari. Bagi yang membawa anak, Dago Highland memiliki kolam renang yang seakan berada di sisi tebing. Bila penat jalan-jalan seharian keliling Ciburial, tersedia juga fasilitas spa untuk pijat refleksi, pijat badan sampai luluran. Kerennya, ruang spa ini juga langsung menghadap ke lembah dengan pemandangan kota Bandung.

Setelah mendapat terapi spa, letih pun hilang, tidur nyenyak. Apalagi saat malam hari, suasananya jauh dari bunyi kendaraan, dan masih terdengar suara jangkrik, katak dan burung-burung malam.




Habis Berapa:
1. Taman Hutan Raya Ir Djuanda: tiket masuk Rp.8.500/orang, mobil Rp10.000, senter Rp6.000 dan pemandu Rp15.000-Rp25.000 (tergantung nego), berkuda Rp10.000-Rp20.000 (tergantung keramaian.
2. Lisung: Harga makanan di Lisung bervariasi. Untuk yang memiliki budget rendah, kita bisa makan komplit dan minum minuman segar hanya rp.50.000. Jika mau pilihan lain pun harganya masih masuk akal. Tempat makan dan
pemandangan tidak akan membuat kita berpikir soal mahal atau murahnya.
3. Ternak madu: kunjungan pribadi gratis, tinggal membeli produk madu dari petani setempat.

Naik Apa
Desa Ciburial bisa dikunjungi dengan kendaraan pribadi dan umum. Bila belum mahir berkendaraan sebaiknya ekstra hati-hati dan mengisi bensin penuh karena jauh dari lokasi pom bensin. Untuk umum, bisa naik angkot jurusan Ciburial dari terminal Dago. Bisa juga minta diantar ojek seharian Rp.50.000-Rp75.000 tergantung nego.