Showing posts with label Italia. Show all posts
Showing posts with label Italia. Show all posts

Wednesday, August 29, 2012

[Travelling] Venesia, Kangeeen ...



Tulisan ini dimuat di HU PIKIRAN RAKYAT, 4 Agustus 2012





Venesia, Kota Wisata Romantis

Rasanya, kurang lengkap jika bepergian ke Italia namun tak mengunjungi Venesia. Itulah yang penulis lakukan ketika perjalanan dinas ke Bologna. Dari stasiun kereta api Centrale Bologna di piazza delle Medaglie d'Oro, saya langsung menuju mesin otomatis tiket. Tidak perlu antre di loket.

Sengaja penulis memilih kereta express dengan harga tiket 29 euro agar tidak terlalu lama di jalan. Bagi yang mau menghemat bisa memilih tiket 10,75 euro dengan waktu tempuh 30 menit lebih lama. Setelah 1,5 jam perjalanan, akhirnya tiba juga di stasiun kereta Venezia Santa Lucia.

Begitu tiba, penulis segera mencari loker bagasi. Tidak nyaman rasanya keliling arena wisata sambil menarik-narik koper atau menggendong ransel yang berat. Biaya penitipan bagasi 1 euro per jam. Saya menitipkan untuk 5 jam. Jika terlambat mengambil semenit saja, kita akan dikenai biaya 1 euro untuk jam berikutnya.

Keluar dari pintu selatan stasiun, mata penulis langsung disambut kanal besar yang biasa disebut Canal Grande. Di seberangnya laguna Venesia berdiri dengan sejuta pesona.  Kota yang terkenal dengan gondola ini sering kali dijuluki juga kota terapung dan merupakan salah satu situs warisan dunia oleh UNESCO. Terletak di pantai Adrian, siapa menyangka keseluruhan bangunan di kota ini berdiri di atas beribu-ribu kayu yang ditancapkan di dalam air.

Tanpa membuang waktu, penulis menaiki bus air dengan tiket seharga 6 euro. Jika ingin lebih nyaman dan cepat, pengunjung bisa naik taxi air yang harganya bisa sampai 40-70 euro, tergantung tujuan. Bus air berjalan tidak terlalu cepat dan beberapa kali singgah di halte di sisi kanal. Asyiknya, bisa menikmati lingkar luar Venesia sambil menghirup udara pantai, serta menikmati pemandangan di sisi pantai yang dihiasi bermacam bangunan tua. Kita bisa juga melihat burung-burung camar yang berterbangan.



Setelah lebih dari 30 menit, penulis sampai di halte bus air San Marco. Rasanya bangga bisa menginjak tanah Venesia pertama kalinya ini, dan tujuan penulis langsung ingin melihat alun-alun Piazza San marco yang terkenal itu. Penulis sempat berhenti sebentar di dekat Ponte dei Sospiri atau Jembatan rintihan. Pada masa lampau, jembatan ini berfungsi sebagai penghubung penjara lama ke ruang interogasi di Doge Palace. Sebelum dibawa ke sel, para tahanan yang melalui jembatan ini biasanya menghela napas dan merintih saat melihat keindahan Venesia. Pemandangan dari jembatan rintihan adalah pandangan terakhir Venesia sebelum para tahanan merasakan hukuman penjara. Nama jembatan ini sendiri diberikan oleh Lord Byron di abad ke-19.


Mitos yang beredar kini malah jauh dari rintihan yang memilukan. Masyarakat setempat mengatakan bahwa para pecinta akan diberikan cinta abadi dan kebahagiaan jika berciuman di gondola di bawah jembatan ini saat matahari terbenam. Lumayan untuk sebuah daya tarik wisata.

Tiba di alun-alun San Marco, saya memasuki Basilica Cattedrale Patriachale yang merupakan gereja katedral paling terkenal di antara gereja-gereja lainnya di Venesia dengan arsitektur byzantine-nya yang indah. Interior yang berlapis emas, membuat saya terkagum-kagum di dalamnya. Sayangnya, di sini dilarang keras memotret. Namun, pengunjung boleh naik ke menara gereja untuk melihat pemandangan sekitar asal mebayar tiket masuk 5 euro.

Di pelataran gereja, penulis menemukan sejumlah pedagang kaki lima yang menjual souvenir. Mulai dari gantungan kunci, stiker kulkas, hingga kartu pos. Semua tertib. Saya jadi teringat pelataran Masjid Agung Bandung yang  semrawut oleh PKL dan pengunjung yang makan semaunya. Semestinya, semua warga punya kesadaran memelihara ketertiban dan keasrian tempat ibadah.

Di sekitar alun-alun San Marco kita bisa mengagumi keindahan bangunan lain seperti Palazzo Ducale, Bell Tower, Clock Tower dan Procuratie. Mau bersenang-senang dengan merpati juga silakan. Atau rehat di kafe-kafe yang tentu harganya relatif mahal.

Untuk mengelilingi setiap sudut kota Venezia, membutuhkan waktu berjam-jam karena luasnya mencapai 414.57 km2. Untungnya, penulis didampingi  seorang mahasiswa Universitas Venesia. Dengan begitu, penulis tidak berlama-lama menghabiskan waktu di penjual souvenir yang kebanyakan justru didatangkan dari China.

Penulis dipandu melihat sisi kehidupan penduduk asli Venesia, pasar tradisional, kafe-kafe dengan harga miring, dan kanal-kanal yang justru dijadikan arena balap speedboat oleh pemuda setempat. Penulis juga menemukan perkampungan geto Yahudi yang resik dan bangunannya lebih tinggi dari sekitarnya karena tidak boleh memperluas wilayah mereka. Sambil menghabiskan creamy venetian cod fish "Baccala" on bruschetta saya menikmati senja yang indah di pinggir kanal di Venesia.


 
Gondola

Hal yang tak boleh dilewatkan saat ke Venesia adalah naik gondola. Tapi kalau tidak menganggap itu sebagai atraksi penting, cukuplah memotret mereka. Apalagi bila harus menghemat kocek. Untuk perjalanan 40 menit kita harus menyiapkan uang 80 euro. Terkadang, bila sedang bukan musim turis bisa saja tawar menawar dengan gondolier (supir gondola). Tapi, biasanya mereka tidak akan membawa ke tempat-tempat yang pemandangannya indah.

Harga Gondola mulai sore hingga malam akan melonjak hingga 100 euro. Bahkan, di musim turis atau akhir pekan bisa lebih. Apalagi jika kita minta disediakan pemain musik dan makan-minum. Banyak paket-paket untuk turis yang ditawarkan untuk bergondola di malam hari.


Tingginya tiket gondola ini harap dimaklumi. Investasi mereka untuk membuat gondola sekitar 22.000 euro
yang harus balik dalam waktu kurang dari setahun. Para gondolier juga harus melewati kursus khusus mengemudikan gondola. Belum lagi mengurus perijinan. Jadi mereka benar-benar professional. Bahkan mereka harus menggunakan seragam garis hitam putih.

Turis yang naik gondola akan merasa nyaman, apalagi para gondolier secara penampilan terlihat bersih, enak dilihat, santun bercerita dan siap membantu. Saya membayangkan sais delman atau tukang kuda di jalan Ganesha dan samping Gedung Sate berasosiasi, lalu menciptakan kenyaman bagi turis. Rasanya membayar lebih, tapi mendapat kenyamanan jadi tak masalah.

Sayangnya, waktu penulis di Venesia hanya 7 jam berkeliling Venesia. Mudah-mudahan bisa berkunjung lagi di waktu lain. Sekadar catatan, bagi wisatawan yang ingin berhemat. Jika ingin menginap agar bisa berkeliling Venesia sampai puas, dapat menghemat dengan mencari hotel di kawasan Mestre. Hotel-hotel di Venesia nyaris semahal di kota metropolitan, padahal dengan fasilitas yang minim. Dijamin akan sulit mencari kamar di bawah 50 euro. Begitu juga makan berat.


Dari Mestre yang hanya 10 menit dengan bus menuju Venesia, penulis menemukan hotel seharga 40 euro semalam dengan fasilitas prima. Bila pergi berdua bisa berbagi biaya penginapan. Mencari makanan halal pun mudah karena kita bisa menemukan kedai kebab. Bagi yang lebih cocok dengan masakan China pun sangat mudah. Yang jelas harganya lebih terjangkau dibandingkan harga makanan di Venesia.
(Benny Rhamdani, traveler tinggal di Bandung)

Thursday, May 3, 2012

[Travelling] Jalan-jalan di 3 Kota Italia (2)


Tujuan utama saya adalah mengunjungi kota Bologna yang tengah mengadakan ajang tahunan Bologna Children’s Book Fair. Namun pesawat KLM yang saya tumpangi, hanya membawa sampai kota Milan. Begitu tiba di bandara Malpensa dan melewati imigrasi, rasanya lega karena penerbangan lebih dari 20 jam dari bandara Soekarno Hatta, singgah di Kuala Lumpur dan Amstredam, akhirnya berujung juga.



Naik KLM yang pertama kali ini, sedikit mengagetkan. Pramugarinya jauh dari bayangan orang Indonesia kalo disebutkan kata 'pramugari'. Tidak cantik, tidak muda, dan tidak langsing. Untungnya tidak menggigit pula. 

Saya harus ganti pesawat di Bandara Schipool, Amsterdam sebelum turun di Bandara Malpensa, Milan. Serunya, saya bisa ngiter-ngiter dulu di Amstredam karena transit 5 jam ini. Hayahhhh, nggak mau rugi banget ya.

Dua anjing pelacak yang membaui koper saya setelah mengambil bagasi sempat membuat saya bingung. Apakah raginang kering dan penganan gurilem khas Bandung membuat mereka mencurigai saya? Untunglah mereka mengizinkan saya melewati pintu keluar.

Sebenarnya saya ingin merasakan sensasi petulangan keluar bandara sendiri, tapi teman saya di Milan wanti-wanti akan menjemput saya. Maka saya urung naik kereta ekspres dari Malpensa menuju stasiun Milan.

Kota Kelabu, Surga Belanja

Keluar dari Malpensa, saya melintasi jalan tol yang diselimuti kabut dan sisa gerimis. Pepohonan masih mengering karena musim semi baru saja tiba. Pabrik dan gudang menandakan saya akan memasuki sebuah kota industri. Begitu keluar jalan tol, saya merasakan suasana yang sepi di kota Milan. Bangunan-bangunan berwarna kelabu, membuat suasana seperti kota mati. Padahal saya tiba pada hari Minggu.

Dina Adam, Warga Milan keturunan Indonesia, menjelaskan kebiasaan warga Milan beristirahat di rumah atau pergi ke luar kota setiap akhir pekan membuat Milan jadi tampak sepi. Belum lagi dampak krisis Eropa yang terasa benar hingga ke Milan. Sejumlah toko justru tutup di akhir pekan karena pemiliknya enggan membayar uang lembur yang lebih besar dari upah di hari kerja.


Bahkan, ketika berkunjung ke kawasan Republica untuk menyeruput kopi di sebuah kafe yang direkomendasikan, ternyata kafe itu tutup. Akhirnya, untuk melihat keramaian Milan, satu-satunya cara adalah menuju kawasan Piazza del Duomo.

Di Duomo, suasana kota benar-benar terasa karena mulai melihat banyak orang. Jalan yang bebas mobil, membuat siapapun bebas berlalu lalang. Di kedua sisi jalan, toko-toko menjual aksesoris, pakaian, sepatu, tas, dan perlengkapan busana bermerk papan atas lainnya. Semua memamerkan koleksi terbarunya. Benar-benar melambangkan Milan sebagai kota fashion.

Ketika memasuki toko LV, saya benar-benar takjub dengan interior dan pelayanannya. Yang agak mengejutkan lagi, ternyata mayoritas pembeli barang-barang luks ini adalah warga Asia. Alasan mereka, selain harganya lebih murah di Milan, koleksi terbaru lebih lengkap, juga akan mendapat pengembalian pajak yang bisa diklaim di airport.

“Padahal, warga Milan sendiri jarang beli barang-barang mewah itu. Kalau pun beli tas yang harganya mahal itu, paling seumur hidup sekali,” jelas Riska Wulandari, yang sudah setahun menikah dan menjadi warga Milan.

Saya sempat mengantar Dina Adam yang berbisnis tas-tas mewah itu ke beberapa toko. Baru tahu juga, kalau warga asing hanya boleh membeli  maksimal tiga tas. Walau akhirnya dengan bujuk rayu, bisa juga jadi empat tas. Dan entah mengapa, saya melihat wajah-wajah Asia bekerja di outlet-outlet ternama itu. Terutama sebagai kasir. Jangan-jangan karena pembelinya kebanyakan dari Asia.



Selain melihat toko dan kafe, di Duomo kita juga bisa melihat beberapa bangunan bersejarah. Sebut saja gereja San Carlo al Corso yang merupakan bangunan neoklasik di pusat Milan. Yang menakjubkan, kita juga bisa melihat gereja Katedral Milan yang kabarnya gereja katedral terbesar ke empat di dunia.

Katedral Milan dibangun berdasarkan ide bangsawan Milan bernama Gian Galeazzo Visconti yang memiliki usaha marmer. Dia bertekad membuat katedral yang seluruhnay terbuat dari marmer. Pembangunan dimulai pada 1368. Marmernya diambil dari tambang marmer milik Visconti di Gunung Candoglia yang berjarak 50 km dari Milan. Karena sulit diangkut lewat darat, maka digunakanlah kanal-kanal di Milan untuk mengangkut marmer.

Ketika melihat gereja yang memiliki ornament menarik, yang terbayang adalah betapa sibuknya dulu ketika masa pembangunan. Dan betapa hebatnya orang-orang di masa lalu itu membuat bangunan semegah ini, padahal belum tentu mereka bisa melihat bentuk bangunannya kelak. Mereka benar-benar memikirkan agar bangunan yang mereka buat bisa dinikmati orang-orang hingga beratus tahun kemudian.

Di depan Katedral, terbentang alun-alun yang biasa dipakai para turis berfoto-foto. Walaupun berada di Eropa, berhati-hatilah dengan dompet kita. Banyak sekali copet yang lihai. Jadi, waspadai dompet, ponsel dan kamera. Tidak hanya copet, kita juga akan bertemu sejumlah pedagang kaki lima yang berjualan dengan gaya manis tapi memaksa. Umumnya mereka adalah imigran dari daerah Maroko.

Saya sendiri melihat seorang pedagang gelang yang menawarkan dagangannya seolah-olah gratis demi persaudaraan dan perdamaian. Tapi bila kita memegangnya, mereka dengan sikap memaksa akan meminta kita membayar dengan harga 10 euro.

Di kawasan ini juga jangan kaget bila menemukan sejumlah pengemis menghampiri saat kita makan. Mereka tidak pura-pura cacat atau berpakaian lusuh. Tapi dari penempilan mereka, kita tahu bahwa umumnya pengemis di Milan adalah kaum Gipsi.

Tak jauh dari di depan gereja, terdapat sebuah bangunan besar Galleria Vittorio Emanuele II. Di lantainya terdapat mozaik bergambar banteng. Konon, jika kita bisa berputar 360 derajat tanpa jatuh tepat di atas testis bantengnya, kita akan kembali lagi ke Milan tahun berikutnya. Upaya menarik untuk atraksi turis.

Karena senja makin larut, saya menghabiskan sisa hari dengan mengunjungi Castello Sforzesco dengan air mancur yang indah di depannya. Rumah bangsawan Milan yang dibangun abad ke14 ini, kini digunakan sebagai museum penyimpanan karya seni berharga seperti pahatan terakhir Michelangelo the Rondanini Pietà, karya Andrea Mantegna Trivulzio Madonna and manuscript Leonardo da Vinci Codex Trivulzianus.

Masjid Milan

Sebelum ke kawasan Duomo, saya diantar teman-teman dari  Indonesian Trade Promotion Centre mengunjungi sebuah masjid di Segrate, Milan. Hampir setengah jam perjalanan ke luar pusat kota. Masjid bernama Al Rahman ini merupakan mesjid dengan kubah dan menara pertama di itali setelah mesjid terakhir dirobohkan di Lucera pada abad ke14.  Masjid yang diresmikan 28 Mei 1988 ini sekaligus menjadi pusat kegiatan umat muslim di Milan.

Bahagia sekali ketika bisa shalat ashar di Al Rahman, karena kunjungan ke Italia lebih banyak melihat bangunan gereja. Apalagi ketika bertemu belasan muslim Italia yang tengah belajar  di salah satu ruangan bangunan masjid. Al rahman memang menjadi pusat belajar agama islam, dan bahasa Arab.


Menurut Ali Abu Syaima, Imam Al Rahman, jemaah masjid dari kota Milan berjumlah 200 orang. Tidak hanya imigran, tapi juga penduduk asli.  Jumlah ini terus meningkat karena di Italia selama tiga tahun terakhir saja sudah bertambah 2000 pemeluk baru agama Islam. “Dan kebanyakan para mualaf adalah dari kaum muda yang ingin memeluk agama Islam karena kemauannya sendiri,” jelas Ali Abu Syaima saat dijumpai. 

Dijelaskan pula, bahwa warga muslim, khususnya muslimah di Milan juga berpakaian mengikuti perkembangan mode di Milan. Mereka kebanyakan tidak mengeksklusifkan diri dengan yang berwarna gelap dan tertutup rapat. “Yang pasti masih sesuai ajaran islam,” ucapnya.

(nyambung)