Ini adalah salah satu judul buku untuk anak yang saya tulis. tapi pakai nama samaran: Abu AKhtar. isinya adalah kumpulan cerita yang mengharukan namun menguatkan hati. Diresensi di Nakita karena punya kenalan di sana ^_^
Tuesday, August 7, 2012
Gara-Gara MSG masuk TV-One
Inget banget omongan Unang yang kurang lebih kayak kalimat judul posting ini.
Hahahaha ... masuk tipi, buat sebagian orang memang masih barang aneh. Pastinya agak-agak bangga. Ya, asal jangan sebagai pelaku kriminal aja kaleee.
Beberapa bulan lalu, ketika kakak ipar masuk tipi sebagai bos sebuah bank. Isterinya dah wanti-wanti kepada semua keluarga untuk nonton. Ya ... saya juga penasaran dunk.
Emang, bukan pertama kali saya dapet sms buat nonton penampilan teman di tipi. Tapi makin lama, teman yang nongol di tipi makin banyak. Kalo teman sih udah kagak aneh lagi. Yang jadi pembawa berita atau acara aja udah banyak banget.
Minggu pagi (22/Maret/2009) saya kebagian giliran masuk tipi. Di Acara Apa Kabar Indonesia TV-ONE. Pasalnya, saya emang harus promosi terus buku Mimpi Sang Garuda (MSG) . Pihak tipi minta saya sebagai tamu. Ya itung2 promosi gratisan.
Saya langsung kasih tahu isteri tersayang, dan minta juga supaya kasih tahu keluarganya dan keluarga besar menjelang siaran live. Saya jujur aja rada degdegan juga awalnya. Takut penampilan gw jelek. Maklum tanpa script gitu.
Gimana rasanya?
Tentu aja bangga. Terutama bisa membuat bangga keluarga isteri gue (yang pada nonton semua).
Kalo secara pribadi, ya gitu deh. Bangga, tapi kayaknya masih lebih bangga ketika skenario pertama kali saya di RCTI ditayangkan beberapa tahun silam jadi sinetron LUV.
Mungkin karena saya lebih suka jadi orang belakang layar.
Tapi ... paling nggak, saya udah bikin bangga isteri dan keluarga dengan masuk tipi.
Apalagi tetangga juga pada nonton (secara nggak sengaja) .
Bollywood Tanpa Lagu
Ibarat sayur tanpa garam, film-film Bollywood tanpa
nyanyian terbayang terasa hambar. Sehingga, banyak orang yang tak begitu
tahu banyak soal perfilman Bollywood menganggap tak pernah ada film
Bollywood tanpa nyanyian. Serta merta, ketika Hollywood menggarap
Slumdog Millionaire (SM) dan sukses, mereka menyarankan agar Bollywood
membuat film tanpa nyanyian seperti SM.
Sesungguhnya, sejak 1960 Bollywood sudah mencatat rekor pecahnya film layar lebar tanpa nyanyian. Judulnya Kanoon, karya sutradara BR Chopra. Film hitam putih yang bercerita tentang drama misteri pembunuhan ini diganjar anugerah bergengsi FilmFare Award untuk kategori sutradara (BR Chopra) dan aktor pendukung (Palsikar). Bukan perkara mudah untuk mendobrak formula baku Bollywood. Bahkan, beberapa tahun kemudian BR Chopra menulis sebuah artikel khusus tentang upayanya ini.
Dalam artikelnya, BR Chopra menulis kegelisahannya saat pemutaran perdana. Dia berdiri di depan gedung bioskop, lalu seorang yang tidak mengenalinya berkata,"Film ini bakalan jeblok. Tidak ada lagunya sama sekali. Orang yang membuatnya pasti idiot." BR Chopra tak menanggapinya, kecuali tersenyum. Beberapa hari kemudian ternyata film itu dinyatakan masuk jajaran film laris.
Masih di India, di luar film Bollywood yang berbahasa nasional Hindi, terdapat juga film berbahasa Tamil yang biasanya beredar di kawasan selatan India. Tercatat pula bahwa film Tamil tanpa nyanyian malah telah hadir lebih awal, yakni Andha Naal pada 1954.
Saat ini, sederet film Bolywood yang tanpa lagu sudah tak terhitung lagi jumlahnya. Misalnya film horor Darna Marna Kya Hai, Ab Tak 56,. Beberapa diantaranya mendapat ganjaran penghargaan FilmFare Award seperti Black (2005).
Sesungguhnya, sejak 1960 Bollywood sudah mencatat rekor pecahnya film layar lebar tanpa nyanyian. Judulnya Kanoon, karya sutradara BR Chopra. Film hitam putih yang bercerita tentang drama misteri pembunuhan ini diganjar anugerah bergengsi FilmFare Award untuk kategori sutradara (BR Chopra) dan aktor pendukung (Palsikar). Bukan perkara mudah untuk mendobrak formula baku Bollywood. Bahkan, beberapa tahun kemudian BR Chopra menulis sebuah artikel khusus tentang upayanya ini.
Dalam artikelnya, BR Chopra menulis kegelisahannya saat pemutaran perdana. Dia berdiri di depan gedung bioskop, lalu seorang yang tidak mengenalinya berkata,"Film ini bakalan jeblok. Tidak ada lagunya sama sekali. Orang yang membuatnya pasti idiot." BR Chopra tak menanggapinya, kecuali tersenyum. Beberapa hari kemudian ternyata film itu dinyatakan masuk jajaran film laris.
Masih di India, di luar film Bollywood yang berbahasa nasional Hindi, terdapat juga film berbahasa Tamil yang biasanya beredar di kawasan selatan India. Tercatat pula bahwa film Tamil tanpa nyanyian malah telah hadir lebih awal, yakni Andha Naal pada 1954.
Saat ini, sederet film Bolywood yang tanpa lagu sudah tak terhitung lagi jumlahnya. Misalnya film horor Darna Marna Kya Hai, Ab Tak 56,. Beberapa diantaranya mendapat ganjaran penghargaan FilmFare Award seperti Black (2005).
Wednesday, July 18, 2012
Monday, July 2, 2012
Sunday, July 1, 2012
[BUKU] PEMENANG LOMBA FOTO NARSIS
Terima kasih untuk semua Ajaibers yang telah mengikuti Lomba Foto Narsis Bareng Buku Benny Rhamdani.
Dan pemenangnya adalah:
Liani Handayani
Sri Widiyastuti
Darryl Khalid Aulia:
Yas Marina
nelfisyafrina
Ditta Hakha Soleha
Fitri Hasanah Amhar
Meti Herawati Meti
Hana Amira Chayaningtias
Nadiah Alwi
Helda Fera Puspita
Dewi 'Ichen' Cendika
Hadiah berupa paket buku (lebih dari 1 lho) akan diberikan pada Gathering PBA pada 14 Juli 2012 di Bandung.
Yang tidak bisa datang harap memberikan alamat Indonesia. Dan akan dikirim setelah tgl. 14 Juli 2012.
Alamat dikirim melalui e-mail: benny.rhamdani@mizan.com
Salam Ajaib,
b.r
Hadiah berupa paket buku (lebih dari 1 lho) akan diberikan pada Gathering PBA pada 14 Juli 2012 di Bandung.
Yang tidak bisa datang harap memberikan alamat Indonesia. Dan akan dikirim setelah tgl. 14 Juli 2012.
Alamat dikirim melalui e-mail: benny.rhamdani@mizan.com
Salam Ajaib,
b.r
Thursday, June 21, 2012
[BUKU] PESERTA Lomba Foto Narsis Bareng Buku Benny Rhamdani
Liani Handayani :
Liani Handayani :
Sri Widiyastuti
Darryl Khalid Aulia:
Inilah Kelas Paing Ajaib! Bukan hanya anak-anak
di kelas ajaib saja yang ajaib, tapi bukunya juga ajaib! Dari awal
pertama membaca saya sudah hanyut, tulisan dalam buku ini seperti
sungai, menghanyutkan setiap jiwa yang membacanya. Saya serasa menjadi
Ayra, nyesek sekali rasanya kalau saya harus mengalami perubahan drastis
seperti di kehidupannya. Tapi, itulah yang membawa keajaiban!
Seri Kelas Ajaib-lah yang menempati posisi terdepan itu. Saya sangat
suka novel ini, bercerita tentang anak SD dengan segala kehidupan khas
usia sekolah dasar pada tingkat akhir. Berjuang untuk beradaptasi
terhadap banyak hal, berjuang untuk berusaha maksimal demi sekolah
tercinta, berjuang untuk menjaga kekompakan dan kesetiakawanan, serta
banyak sekali perjuangan-perjuangan lainnya yang sejatinya itu juga
harus dilakukan sampai usia-usia mendatang, tidak hanya pada usia
sekolah dasar.
Buku ini banyak mengajarkan hal positif yang dapat diteladani oleh
pembaca. Karakter-karakter yang unik dan khas membuat cerita makin seru
dengan segala keajaibannya, termasuk pada betapa ajaibnya kebaikan dan
ketulusan hati para tokoh. Novel ini mampu menjadi bacaan yang dapat
diteladani oleh para pembaca, baik anak-anak maupun remaja atau dewasa.
Sampai saat ini (saya baru saja lulus SMA), saya masih suka membacanya
dan dapat selalu ngeh untuk mengambil pelajaran dengan berbagai nilai
yang ada pada novel ini. Semangat, untuk selalu menjadi seseorang yang
ajaib (istimewa) bagi orang-orang di sekitar kita :) !
Helda Fera Puspita
Buku "Indahnya Berbagi" Karya Kang Benny Rhamdani dan Mbak Vani Diana P ini, menjadi buku favorit anak saya Rayhan. Setiap malam, sebelum tidur pasti minta dibacakan. Sampai kata-kata dalam buku tersebut, sudah dihafal di luar kepala oleh Rayhan, karena seringnya dibacakan, hehehe...
Liani Handayani :
Rayhan ingin seperti Sali, tokoh dalam buku "Indahnya Berbagi" yang suka menolong orang lain. Begitu kata Rayhan. Rayhan juga suka, ketika Sali dan Saliha menolong Popo yang jatuh ke dalam selokan.
Sri Widiyastuti
Buku 5 KiSAH SI MANIS ini adalah salah satu buku favoritenya Shafa Nada dan kakaknya Salma Nabila. Di tulis oleh 5 orang penulis kreatif Indonesia. Salah satunya om Benny Rhamdani. Buku ini diterbitkan oleh PTS ONE, salah satu penerbit besar di Malaysia. Keren yaaa...^_^
Kisah yang ditulis oleh Om Benny adalah kisah seorang putri bernama Aziza. Putri Aziza adalah seorang putri yang cantik dan sesuai namanya putri yang kuat. suatu hari dia diuji oleh Allah, bundanya sakit. Seorang tabib mengatakan bahwa ibundanya bisa sembuh dengan obat dari sari bunga anggrek ungu. Putri pun dengan gagah berani mencari bunga itu. Ujian kedua adalah ketika dalam perjalanan mencari bunga tersebut, dia berani berkorban kehilangan rambutnya yang indah untuk ditukarkan dengan informasi letak bunga anggrek ungu. Alhamdulillah kisahnya happy ending. Anak-anak suka sekali dengan gaun-gaun princes yang Islami dan kisahnya yang heroik. Mereka jadi faham, bahwa menjadi perempuan tidak mesti lemah. Justru dalam kelemahlembutan seorang anak wanita, ada kekuatan yang tersembunyi di dalam diri mereka ^_^ nice story ommm...:-)
Darryl Khalid Aulia:
Khalid memang senang sekali dengan sepak bola. Begitu melihat ada buku yang bercerita tentang anak yang bercita-cita menjadi pemain sepak bola, dia langsung meminta saya untuk membelikannya waktu itu. Dia tak puas jika hanya menonton filmnya saja. Lalu, saya mengenalkan kepada Khalid kalau penulis buku itu adalah guru menulis saya waktu kami tinggal di Urbana, Amerika. Dia langsung membaca nama Benny Rhamdani yang tertera di cover buku "Mimpi Sang Garuda". Tak sampai empat hari buku "Mimpi Sang Garuda" ini pun selesai dibacanya. Komentarnya singkat saja, "Bukunya seru, Bu!"
Buku karya Kak Benny berikutnya yang sempat bikin Khalid penasaran adalah "Inilah Kelas Paling Ajaib". Setelah membaca buku ini, dia kembali berkomentar, "Kak Benny itu jago banget ya Bu nulisnya?" ^_^
Yas Marina
"Hamzah?!!! Kemana tuh anak?" pikirku.
Oow, ternyata lagi asyik baca buku di atas genteng.
Hamzah memang suka baca sampai tak kenal waktu dan tempat.
Ketika ditanya tentang kesukaannya membaca buku "Inilah Kelas Paling Ajaib" karangan Bhai Benny Rhamdani, ia menjawab, "bukunya rame dan enak dibaca."
"Kok enak?" pancingku.
"Nggak tahu. Pokoknya enak aja dibaca."
Hamzah belum mengerti bahwa sebuah buku enak dibaca salah satunya karena pilihan kata yang dipakai penulis dalam menguraikan cerita begitu tepat.
Penilaian Hamzah tidak salah karena buku "Inilah Kelas Paling Ajaib" memang menjadi semacam kamus atau buku referensi wajib saat aku menulis.
nelfisyafrina
3 buku Kak Benny ini seru & keren. Cuman 2 jam buat melahapnya. Andai tulisan ibu sekeren itu.
Ditta Hakha Soleha
Inilah Kelas Paing Ajaib! Bukan hanya anak-anak
di kelas ajaib saja yang ajaib, tapi bukunya juga ajaib! Dari awal
pertama membaca saya sudah hanyut, tulisan dalam buku ini seperti
sungai, menghanyutkan setiap jiwa yang membacanya. Saya serasa menjadi
Ayra, nyesek sekali rasanya kalau saya harus mengalami perubahan drastis
seperti di kehidupannya. Tapi, itulah yang membawa keajaiban!
Perasaan saya campur aduk ketika membaca buku ini. Sedih, senang, kesal
sampai ketawa ngakak! kakak saya sampai heran melihat saya tertawa nggak
jelas. Hahaha...Tapi, karakter joko benar-benar membuat perut geli!
Pengen ketawa terus! Selain itu, banyak pelajaran berharga yang dapat di
petik dalam buku ini, yang sebenarnya banyak kita jumpai di kehidupan
ini namun tak disadari. Really enjoy this book! :D
Fitri Hasanah Amhar
Sewaktu saya masih di bangku sekolah dasar, saya sangat suka membaca Novel Anak Islami serta Kumpulan Cerita Anak yang diterbitkan oleh DAR! Mizan. Buku-buku itu saya tata di rak buku di kamar saya dengan urutan dari yang paling seru dan paling saya suka (diletakkan paling depan).
Seri Kelas Ajaib-lah yang menempati posisi terdepan itu. Saya sangat
suka novel ini, bercerita tentang anak SD dengan segala kehidupan khas
usia sekolah dasar pada tingkat akhir. Berjuang untuk beradaptasi
terhadap banyak hal, berjuang untuk berusaha maksimal demi sekolah
tercinta, berjuang untuk menjaga kekompakan dan kesetiakawanan, serta
banyak sekali perjuangan-perjuangan lainnya yang sejatinya itu juga
harus dilakukan sampai usia-usia mendatang, tidak hanya pada usia
sekolah dasar.
Buku ini banyak mengajarkan hal positif yang dapat diteladani oleh
pembaca. Karakter-karakter yang unik dan khas membuat cerita makin seru
dengan segala keajaibannya, termasuk pada betapa ajaibnya kebaikan dan
ketulusan hati para tokoh. Novel ini mampu menjadi bacaan yang dapat
diteladani oleh para pembaca, baik anak-anak maupun remaja atau dewasa.
Sampai saat ini (saya baru saja lulus SMA), saya masih suka membacanya
dan dapat selalu ngeh untuk mengambil pelajaran dengan berbagai nilai
yang ada pada novel ini. Semangat, untuk selalu menjadi seseorang yang
ajaib (istimewa) bagi orang-orang di sekitar kita :) !
Meti Herawati Meti
Teteh, kaka, abang pada suka baca, salah satu buku favoritnya adalah 5 Kisah Si Manis. Ceritanya asyik-asyik dan ilustrasinya cantik, dan yang paling penting penulisnya keren-keren, salah satunya Om Benny Rhamdani. Hallo Om ini foto kami trink-trink ^_*
Hana Amira Chayaningtias
Buku-buku kak Benny sangat keren !
Apalagi buku Inilah kelas paling ajaib, kalau baca bisa nggak
berenti-berenti! Aku suka dengan tokoh-tokoknya yang sangat ajaib.
Apalagi si joko yang kalau jabriknya dipegang bisa kentut, Fika yang
cempreng suka nyanyi, Tanto yang merasa dirinya adalah motor... Wah,
smuanya benar-benar bikin ketawa!
Malah waktu itu, adikku
sedang baca, aku sedang sholat, nah dia ketawa-ketawa baca bab Kelas
paling ajaib di dunia. Karena aku teringat kekocakan dalam bab itu, aku
yang sedang sholat ikut ketawa-tawa sampai muka merah.
Pokoknya buku yang amazing deh!
Aku juga senang baca buku Princess Hamesha. Wih, di bab Aku tidak
pesek! ada yang membuatku tertawa ngakak lagi sampai nggak bisa tidur!
(Ini beneran lho Kak) Aku suka banget kalimat pas si Dave dan
teman-temannya bilang "Pesek..pesek!" Walau itu kata yang biasa aja,
tapi entah mengapa aku kayak gini ^.^
Hehe, gitu deh, buku kak Benny supe kocak..!
Nadiah Alwi
Sore tadi, Hana merenung di teras rumah.
"Ke mana ya buku Kelas Ajaib Kak Benny milikku? Aku kan mau foto dengan buku itu."
Ya, setelah gagal menemukan buku Kelas Ajaib di seluruh penjuru rumah,
akhirnya Hana berfoto dengan buku keroyokan Kak Benny milik Bunda.
Judulnya Dapur Kreativitas Para Juara. Hana juga pernah baca buku ini,
kok.
Tapi, fotonya jadi keren, deh! Karena matching dengan baju Hana. Semoga Kak Benny suka! ^_^
Helda Fera Puspita
Annisa umur 3 tahun 10 bulan, belum bisa baca siy..,tapi senang liat gambar di buku Super Salsa nya Om Benny Rhamdani, nah supaya Nisa mengerti cerita tentang Super Salsa, ibu pun membantu membacakannya. Ini salah satu pose Nisa, (hadduuhh..buku sama badan Nisa masih gedean bukunya nih :p)
Dewi 'Ichen' Cendika
Kq Saski dan Dek Lucky suka banget Pictbook Super Salsa, karya Om @benny rhamdani.
Wednesday, June 20, 2012
[Travelling] Bologna si Kota Merah
Jangan mengaku editor
buku anak jika belum pernah ke Bologna Children’s Book Fair.
Kalimat itu saya temukan beberapa tahun silam di sebuah blog
milik seorang editor buku anak. Sejak itu saya bermimpi mendatangi kota
Bologna, Italia. Alhamdulillah, kantor penerbit tempat saya bekerja menugaskan
saya mengunjungi pameran buku tingkat Internasional yang digelar pada 19-23
Maret 2012.
Perjalanan ke Bologna merupakan kunjungan pertama saya ke
benua Eropa. Hampir 20 jam penerbangan dari Jakarta karena harus singgah di
Bandara Kuala Lumpur, Malaysia, dan Bandara Schipool, Belanda. Pesawat singgah
di Milan, Italia, dan saya masih harus meneruskan dengan kereta api cepat
sekitar satu jam lebih. Di atas kereta cepat dengan tiket seharga 42 Euro
ini, mata saya dihibur dua pemandangan
yang berbeda. Awalnya, saya melihat
kawasan industri Milan, semakin mendekati Bologna saya dapat menikmati hamparan
tanah pertanian dan rumah-rumah pedesaan yang menawan.
Kota Merah
Saya tiba di Bologna menjelang pukul 11.00. Musim semi di
Bologna memudahkan saya menyesuaikan diri karena suhu udara yang masih sama
dengan kota tempat tinggal saya, Bandung, saat subuh. Begitu ke luar dari
stasiun kereta Bologna Centrale, saya langsung disambut bus-bus umum dan
bangunan berwarna kemerahan.
Bologna adalah ibu kota provinsi Emilia-Romagna. Dikenal
para traveler sebagai kota paling cantik di Italia utara. Bangunan bata merah
terakota dengan atap khas, serta serambi berpilar menjadi ciri utama kota. Di
Bologna juga terdapat universitas Bologna yang merupakan universitas tertua di
dunia. Dominasi bata merah membuat Bologna juga sering disebut Kota Merah
Hotel yang saya pesan melalui Internet ternyata tidak berada
di dalam kota. Saya masih harus naik bis sekitar 45 menit dari Stasiun Centrale
(stasiun pusat kereta), sementara info yang dseibut di Internet hanya ditempuh
dalam 10 menit. Ketika bertanya melalui
telepon ke hotel, saya diminta naik bis dari depan stasiun ke arah
Centro lalu berganti bis lagi dengan no rute 96. Keinginan naik taxi muncul,
tapi saya tepis karena hasrat berpetualang saya.
Saya berjalan seratus meter sambil menarik koper dan
menggendong satu ransel. Saya menghampiri halte dan mencoba memahami petunjuk
rute bis. Namun upaya ini sia-sia karena semua petunjuk dalam bahasa Italia,
dan saya tak mengerti sama sekali dengan nama area yang ditulis.
Saya bertanya kepada beberapa orang di sekitar rute bis ke
kawasan Pianoro, namun tak ada yang dapat menjawab dengan pasti. Mereka bingung
karena tidak tahu kawasan tersebut, dan tidak mengerti bahasa Inggris. Orang
terakhir yang saya tanyai adalah warga Itali keturunan Sudan. Pria bernama Icheem ini tak hanya
menjelaskan, tapi mengantar saya ke terminal bis luar kota, membeli tiket, dan
menunjukkan bis yang harus saya tumpangi. Dia begitu baik ketika tahu saya
berasal dari Indonesia dan sesama muslim.
Setelah menyimpan tas bawaan dan membersihkan badan, saya
kembali menuju pusat kota karena ada pertemuan yang harus saya hadiri. Untunglah
halte bus tak jauh dari hotel. Untuk meyakinkan diri, saya bertanya kepada
front officer tentang bus yang harus saya tumpangi. Penjelasannya cukup membuat
saya mengerti.
Persoalan justru datang ketika saya naik bis rute 96.
Semestinya saya sudah membeli karcis bus sebelum naik. Alhasil saya seperti
penumpang illegal. Saya mencoba bertanya cara membeli karcis kepada teman melalui ponsel. Katanya, jika di bus tidak
ada, sebaiknya segera turun di halte berikutnya. Jangan sampai saya kena razia.
Begitu tiba di sebuah halte di kawasan yang cukup ramai saya
pun bergegas turun dengan tangan berkeringat. Pfuih, selamat. Teman saya
langsung meminta saya mencari kios Tabaccheria, sejenis jaringan minimarket,
untuk membeli karcis bis. Setelah berjalan 1 kilometer, akhirnya saya menemukannya
dan membeli 20 karcis sekaligus. Saya tidak mau jadi penumpang illegal lagi di
bologna. Harga tiket sekali perjalanan adalah 1,5 euro.
Saya pun melanjutkan perjalanan dengan bus rute yang sama
dan turun di Via Farini yang juga akhir trayek bus tersebut. Saya benar-benar
takjub melihat gedung-gedung tua dengan selasar berpilar yang juga berfungsi
sebagai trotoar. Bangunan-bangunan itu berisi toko-toko yang menjual barang
bermerk terkenal. Tentu saja harganya juga selangit, sangat tidak bersahabat dengan
isi dompet saya.
Saya takjub juga dengan warga setempat yang terbiasa berjalan
kaki untuk jarak jauh dan dengan langkah cepat. Sementara saya sudah merasa
perlu istirahat untuk mengatur napas setelah berjalan beberapa ratus meter saja.
Saya istirahat sejenak di taman Piazza
Cavour. Di taman seluas setengah lapangan bola ini ini berdiri patung dada Carlo Monari
(1831-1918), seorang pahlawan unifikasi Italia. Di seberang taman saya juga
dapat menikmati keindahan bangunan tua Bank Italia.
Di taman inilah saya bertemu dengan pria Spanyol, Roberto,
yang mengira saya orang Filipina. Begitu saya
menyebut berasal dari Indonesia,
dia langsung menyapa,” Apa kabar?”. Ternyata Roberto pernah tinggal di
Indonesia selama tiga bulan belasan tahun silam.
Roberto cukup sering ke Bologna, sehingga saya mendapat
pemandu wisata gratisan keliling kawasan kota tua Bologna. Tujuan pertama
adalah kawasan alun-alun Bologna yang disebut Piazza Maggiore. Saya aman
terkesan tidak hanya dengan bentuk bangunan yang besar-besar, tapi juga
tingginya menara-menara di sekitar. Apalagi melihat kemegahan gereja San
petronio Basislica yang sedang dipugar.
Menurut Roberto, menara adalah simbol kekayaan para
bangsawan pada masanya. Selain itu, menara juga menunjukkan keinginan manusia untuk
semakin mendekati Tuhan.
Di alun-alun saya menemukan café di teras, yang tentu saja
harganya selangit. Saya juga melihat sejumlah turis Asia, pengemis dan
pengamen. Tentu saja saya bisa melihat sejumlah aktivitas mahasiswa karena
masih satu area dengan Universitas Bologna. Saya sempat heran ketika melihat
beberapa anak muda mengenakan mahkota daun dan dikerjain teman-temannya.
Ternyata itu adalah salah satu cara untuk merayakan kelulusan.
Pengamen di sekitar Piazza Maggiore juga bukan sembarangan.
Kebanyakan bertampang keren dan benar-benar mahir bermusik. Rupanya, sebagian
besar dari mereka adalah mahasiswa jurusan musik yang sedang berlatih. Maklum,
kalau latihan di apartemen, bisa-bisa diprotes tetangga sebelah. Lagi pula,
bermain musik di area publik, bisa sekaligus untuk menempa mental mereka.
Lepas dari Piazza Maggiore, Roberto menunjukkan saya patung
dan air mancur terkenal Fontana di Nettuno. Patung perunggu Neptunus itu
berdiri sejak 1567. Wuah, saya benar-benar kagum dengan warga Italia yang bisa
menjaga peninggalan nenek moyang mereka. Oh iya, saya juga sempat mencicipi air
dari kran di bawah patung Neptunus yang berwibawa itu, walaupun tanpa mitos
yang minum air akan awet muda.
Banyak sekali monumen-monumen bertebaran di Bologna, mulai
dari abad pertengahan sampai masa unifikasi Italia. Dan semua tampak terawat
dengan baik.
Bologna Children Book Fair
Kunjungan utama saya ke Italia adalah Bologna Children’s
Book Fair (BCBF). Untuk apa saya pergi jauh-jauh ke Bologna semata melihat
pameran buku anak-anak? Pameran buku ini jelas berbeda dengan pameran buku
lainnya. Di sini bukan ajang bursa buku seperti pameran buku di Indonesia,
namun ajang bertemunya penulis, ilustrator, editor, penjual dan pembeli hak
penerbitan buku, percetakan sampai pustakawan dari seluruh dunia.
Di usianya yang ke 49 tahun ini, BCBF menghadirkan 1200
peserta pameran dari 66 negara di dunia. Luas arena lebih dari 20.000 meter
persegi, dan benar-benar membuat kaki kita pegal jika hanya mengunjunginya
dalam satu hari. Untungnya, saya bisa menemukan café dan resto di beberapa
sudut meskipun dengan harga berlipat jika kita jajan di luar.
Dari hotel tempat saya menginap di kawasan Pianoro, saya
harus dua kali naik bus umum dengan harga tiket 1,5 euro per perjalanan. Begitu
tiba di kawasan Piazza Costituzione, saya turun di halte tepat di gedung
pameran. Setelah melewati pintu pemeriksaan kartu masuk, saya langsung tiba di
ruang pameran ilustrasi buku anak-anak. Aturan memasuki BCBF sangat ketat, usia
di bawah 18 tahun tidak diperkenankan masuk.
Sangat menyenangkan cuci mata di arena ini. Kita dapat
melihat aneka jenis ilustrasi dengan gaya berbeda dari beberapa negara. Di
arena ini kita juga bisa melihat karya pemenang Bolognaragazzi Award 2012 yang
menarik.
Bolognaragazzi Award diberikan untuk kategori buku fiksi, nonfiksi, horizon
baru (Arab, Amerika Latin, Asia, dan Afrika), karya pertama, dan yang terbaru
untuk buku aplikasi digital.
Untuk kategori ilustrasi fiksi pemenangnya adalah Le Secret
D‘Orbae (Belgia), yang menurut juri pengerjaan pengemasan craft dan
ilustrasinya cocok dengan alur cerita, lalu Saltimbanques (Prancis), dan The
Secret River (AS). Kategori nonfiksi pemenangnya adalah Wszystiko Gra
(Polandia), Masque (Prancis), Orani (AS) dan Line Up for Yesterday (AS).
Di area yang sama saya juga bisa melihat stand khusus untuk
negara kehormatan acara BCBF. Tahun ini jatuh ke Negara Portugal. Saya
berharap, Indonesia bisa menjadi Negara kehormatan pada tahun-tahun mendatang.
Kunjungan saya berlanjut menemui beberapa literary agent (agen hak penerbitan
buku) dan juga penerbit. Agen hak
penerbitan buku adalah lembaga jasa yang menjembatani penerbit yang ingin
mendapatkan hak terjemahan dengan beberapa penerbit buku asli. Dua agen yang
saya temui adalah dari Thailand dan Korea.
Setelah itu, saya mulai menyambangi stand-stand penerbit
yang ditata rapi. Sekali lagi, di sini para peserta pameran tidak menjual buku,
tapi hak terbit ke Negara lain. Jadi, saya tidak bisa mendapatkan fisik buku
langsung. Jika ada buku yang saya minati, mereka akan mengirimkan bukunya dalam
format PDF melalui e-mail. Paling yang bisa kita dapatkan hanyalah katalog.
Pengalaman ini berbeda dengan yang pernah saya dengar dari
seorang editor senior yang bertandang ke BCBF 7 tahun silam. Dulu, editor
sepulang dari BCBF selalu over bagasi sehingga harus mengeluarkan uang ekstra. Kalau
pun saya mau meminta fisik buku yang mereka pamerkan, saya diminta menunggu
sampai penutupan pameran. Karena para peserta pameran pun enggan membawa
buku-buku mereka ke dalam bagasi.
Lantas, untuk apa mendatangi BCBF jika semua bisa dilakukan
melalui Internet sekarang? Hal penting yang saya dapatkan sebagai editor dan
juga penulis buku anak adalah silahturahmi
dengan insan perbukuan dunia melalui tatap muka terasa berbeda jika
hanya dengan Internet. Dengan bertemu langsung juga bisa membangun kepercayaan
dan kredibilitas. Bukan hanya untuk saya dan tempat saya bekerja, tapi juga
Indonesia.
“Bagi saya penting sekali bertemu langsung dengan para editor
dari negara asing. Kedatangan mereka bisa jadi keseriusan untuk berbisnis,”
kata Kavi Meswania dari sebuah penerbitan buku anak di Inggris.
Selain stand penerbit, saya juga menemukan stand yang disewa
secara kelompok dengan bendera satu Negara. Di dalam stand itu akan ditemui
beberapa penerbit dari Negara tersebut. Satu-satunya Negara dari Asia Tenggara
yang ikut serta adalah Malaysia.
Saya sempat miris, karena Indonesia tidak membuka stand di
sana padahal Indonesia punya IKAPI
(Ikatan Penerbit Indonesia). Saya sangat yakin, buku-buku anak penerbit
Indonesia jauh lebih bagus dan memiliki nilai jual ketimbang dari negeri jiran
tersebut.
Agenda Padat
Hal yang juga tidak bisa diabaikan
kepentingannya selama di BCBF adalah mengikuti seminar, workshop, jumpa penulis
hingga peluncuran buku. Setidaknya dalam sehari ada 20 acara di beberapa sudut.
Tentu saja saya tidak bisa mengikuti semua acara. Paling tidak, dari satu-dua
acara saya bisa belajar cara mengemas
acara-acara perbukuan anak agar menarik peserta.
Paling menarik adalah pengumuman pemenang The Astrid
Lindgren Memorial Award ke 10. Astrid Lindgren adalah penulis buku anak
berkebangsaan Swedia yang karyanya berjudul Pippi si Kaos Kaki panjang sangat
melegenda di seluruh dunia. Pengumuman sendiri berlangsung di Vimmerby, kota
kelahiran Astrid Lindgren, tapi disiarkan juga di ruang khusus di BCBF.
Tahun ini pemenangnya adalah Guus Kuijer dari Belanda. Penulis
berusia 70 tahun ini telah menerbitkan 30 judul buku dan sudah diterjemahkan ke
10 bahasa. Saya berharap bisa memenangkan award ini suatu hari nanti, karena
Astrid Lindgren banyak menginspirasi saya sebagai penulis buku anak.
Acara BCBF ini tidak hanya digelar di dalam arena. Di
beberapa sudut kota Bologna juga digelar acara terkait BCBF. Acara launching
seri-seri baru penerbit dari Amerika misalnya, digelar di Hotel Baglioni
disertai acara makan malam. Tak jauh dari patung air mancur Neptunus, kita bisa
memasuki tenda besar penjualan buku-buku anak Italia dengan harga diskon.
Itu pun tidak membuat semua orang yang tinggal di Bologna
tahu tentang BCBF. Edwin Erlangga, mahasiswa Universitas Bologna jurusan Sastra
Italia asal Bandung baru mengetahui keberadaan BCBF tahun ini. Padahal sudah
tinggal dua tahun di Bologna. “Tahun depan saya pasti akan datang lagi,” kata
Edwin yang menjadi pemandu saya selama di Bologna.
Ya, saya pun berharap tahun depan bisa datang lagi ke BCBF.
Bahkan kalau bisa setiap tahun. Banyak sekali oleh-oleh ide sepulangnya.
Megahnya Sala Borsa
Tidak heran jika ajang Bologna Children’s Book fair menjadi
perhatian dunia. Di Bologna, budaya membaca buku sangat kuat. Hampir di setiap
perjalanan, saya menemukan berbagai jenis perpustakaan. Mulai dari perpustakaan
sekolah, perpustakaan gereja, perpustakaan wilayah. Satu perpustakaan yang membuat saya ingin
masuk ke dalamnya adalah Biblioteca Sala Borsa.
Sala borsa berada di kawasan Palazzo d’Accursio, hanya
beberapa meter dari patung air mancur Neptunus yang terkenal itu. Ketika saya
masuk, banyak anak-anak balita yang ikut masuk. Ternyata selain menyimpan
koleksi multimedia, perpustakaan ini juga memiliki ruang penitipan anak. Di
penitipan itu saya lihat koleksi buku untuk balita yang sangat lengkap.
Saya sempat terbelalak melihat luasnya perpustakaan. Di sebagian
lantai dasar, sekitar 400 meter persegi lantainya terbuat dari kristal tembus
pandang, sehingga saya bisa melihat reruntuhan tembok kota masa kerajaan Roma.
Tak heran jika perpustakaan ini juga sering disebuat museum arsitektur Roma.
Sebelum menjadi perpustakaan, Sala Borsa pernah menjadi kantor beberapa bank. Setelah perang dunia,
sempat pula menjadi lapangan olahraga indoor untuk bola basket dan tinju, dan
kemudian menjadi kantor bursa efek. Namun, sejak 2001 pemerintah setempat
menjadikan bangunan tersebut sebuah perpustakaan lengkap empat lantai ke atas
dan masih ada ruang bawah tanah yang biasanya dipakai untuk aktivitas anak-anak
usia 9-14 tahun.
Selain membaca dan meminjam buku, pengunjung bisa menikmati
koleksi DVD, majalah, Koran terbaru, juga akses Internet. Di lantai empat kita
dapat melihat rencana tata ruang kota, juga beberapa ruang diskusi dan
presentasi.
Seandainya saja ada perpustakaan semegah ini di Indonesia,
saya ingin menjadi yang pertama masuk ke dalamnya.
(benny rhamdani)
Monday, June 18, 2012
[BUKU] Lomba Foto Narsis Bareng Buku Benny Rhamdani
Ikutan Yuuk! Lomba Foto Narsis Bareng Buku Benny Rhamdani.
Caranya:
1. Jepret gayamu yang paling oke banget sambil memamerkan buku karya Benny Rhamdani (judul bebas), boleh sendiri atau pun bersama-sama.
2. Pasang foto tersebut di wall atau sharing link foto di Facebook ---> http://www.facebook.com/benny.rhamdani Bisa juga mengriimkan lewat twitter dengan mention @bennytopmodel atau boleh kirim lewat e-mail ke benny.rhamdani@mizan.com
3. Sertakan nama dan komentar kamu tentang buku yang dipamerkan.
4. Satu orang boleh mengirimkan foto maksimal 3 saja.
5. Batas pengiriman: 30 JUNI 2012
6. Setiap foto yang masuk akan dimuat di : http://bennyrhamdani.blogspot.com/
7. Lomba berdasarkan penilaian juri bukan 'like'. Keputusan dewan juri tidak bisa diganggu gugat.
8. Pengumuman pemenang 2 Juli 2012 di TL @bennytopmodel dan http://bennyrhamdani.blogspot.com/
9. 10 (sepuluh) pemenang dengan karya foto paling keren berhak mendapatkan paket buku menarik.
10. Peserta di luar negeri harap menyertakan alamat di Indonesia.
Ditunggu ya!
Caranya:
1. Jepret gayamu yang paling oke banget sambil memamerkan buku karya Benny Rhamdani (judul bebas), boleh sendiri atau pun bersama-sama.
2. Pasang foto tersebut di wall atau sharing link foto di Facebook ---> http://www.facebook.com/benny.rhamdani Bisa juga mengriimkan lewat twitter dengan mention @bennytopmodel atau boleh kirim lewat e-mail ke benny.rhamdani@mizan.com
3. Sertakan nama dan komentar kamu tentang buku yang dipamerkan.
4. Satu orang boleh mengirimkan foto maksimal 3 saja.
5. Batas pengiriman: 30 JUNI 2012
6. Setiap foto yang masuk akan dimuat di : http://bennyrhamdani.blogspot.com/
7. Lomba berdasarkan penilaian juri bukan 'like'. Keputusan dewan juri tidak bisa diganggu gugat.
8. Pengumuman pemenang 2 Juli 2012 di TL @bennytopmodel dan http://bennyrhamdani.blogspot.com/
9. 10 (sepuluh) pemenang dengan karya foto paling keren berhak mendapatkan paket buku menarik.
10. Peserta di luar negeri harap menyertakan alamat di Indonesia.
Ditunggu ya!

















