Tuesday, August 7, 2012

Buku Anak yang Cocok Untuk Umurnya


Varian Buku Cerita Anak
=====================


Baby books

Untuk bayi dan batita (bawah tiga tahun). Kebanyakan
materinya berupa pantun dan nyanyian sederhana (lullabies and nursery
rhymes), permainan dengan jari, atau sekadar ilustrasi cerita tanpa
kata-kata sama sekali (sepenuhnya mengandalkan ilustrasi serta
kreativitas orang tua dan anak untuk berimajinasi). Panjang cerita
dan formatnya beragam, disesuaikan dengan isi materi. Buku-buku untuk
batita biasanya berupa cerita sederhana berisi kurang dari 300 kata.
Ceritanya terkait erat dengan keseharian anak, atau bermuatan
edukatif tentang pengenalan warna, angka, bentuk, dan lain-lain.
Jumlah halaman sekitar 12 dan banyak yang berbentuk board books (buku
yang kertasnya sangat tebal, seperti karton), pop-ups (buku yang
halamannya berbentuk tiga dimensi), lift-the flaps atau buku-buku
khusus (buku-buku yang dapat bersuara, memiliki format unik atau
dengan tekstur tertentu).

Picture books

Pada umumnya berbentuk buku setebal 32 halaman untuk
anak usia 4–8 tahun. Naskahnya bisa mencapai 1.500 kata, namun rata-
rata 1.000 kata saja. Plotnya masih sederhana, dengan satu karakter
utama yang seutuhnya menjadi pusat perhatian dan menjadi alat
penyentuh emosi dan pola pikir anak. Ilustrasi memainkan peran yang
sama besar dengan teks dalam penyampaian cerita. Buku anak pada genre
ini bisa menggunakan lebih dari 1.500 kata, biasanya sebagai
persiapan bagi pembaca yang memasuki masa-masa puncak di spektrum
usianya. Buku genre ini sudah membicarakan topik serta menggunakan
gaya penulisan yang luas dan beragam. Cerita nonfiksi dalam format
ini dapat menjangkau sampai usia 10 tahun, dengan tebal sampai 48
halaman, dan berisi hingga 2.000 kata dalam teksnya.

Early picture books

Sebentuk dengan picture books, namun dilengkapi
sedemikian rupa untuk usia-usia akhir di batas 4 hingga 8 tahun.
Ceritanya sederhana dan berisi kurang dari 1.000 kata. Banyak buku
genre ini yang dicetak ulang dalam format board book untuk melebarkan
jangkauan pembacanya. The Very Hungry Caterpillar (Philomel
Publishing) karya Eric Carle salah satu contohnya.
Easy readers. Juga dikenal dengan sebutan easy-to-read, buku-buku
genre ini biasanya untuk anak-anak yang baru mulai membaca sendiri
(usia 6–8 tahun). Masih tetap ada ilustrasi berwarna di setiap
halamannya, tapi dengan format yang sedikit lebih "dewasa": ukuran
trim per halaman bukunya lebih kecil dan ceritanya dibagi dalam bab-
bab pendek. Tebal buku biasanya 32–64 halaman dan panjang teksnya
beragam antara 200–1.500 kata, atau paling banyak 2.000 kata. Cerita
disampaikan dalam bentuk aksi dan percakapan interaktif, menggunakan
kalimat-kalimat sederhana (satu gagasan per kalimat). Biasanya ada 2–
5 kalimat di tiap halaman. Seri I Can Read yang diterbitkan Harper
Trophy merupakan contoh terbaik buku genre ini.

Transition books

Kadang disebut juga sebagai "chapter books tahap
awal", untuk anak usia 6–9 tahun. Merupakan jembatan penghubung
antara genre easy readers dan chapter books. Gaya penulisannya persis
seperti easy readers, namun lebih panjang (naskah biasanya sebanyak
30 halaman, dipecah menjadi 2–3 halaman per bab), ukuran trim per
halamannya lebih kecil lagi, serta dilengkapi dengan ilustrasi hitam-
putih di beberapa halaman. Serial The Kids of the Polk Street School
karya Patricia Reilly Giff (Dell Young Yearling Publishing) dan seri
Stepping Stone Books yang diterbitkan Random House masuk dalam
kelompok genre ini.

Chapter books

Untuk usia 7–10 tahun. Terdiri dari naskah setebal 45–
60 halaman yang dibagi dalam tiga hingga empat halaman per bab.
Kisahnya lebih padat dibanding genre transition books, walaupun tetap
memakai banyak ramuan aksi petualangan. Kalimat-kalimatnya mulai
sedikit kompleks, tapi paragraf yang dipakai pendek (rata-rata 2–4
kalimat). Tipikal dari genre ini adalah cerita di akhir setiap bab
dibuat menggantung di tengah-tengah sebuah kejadian agar pembaca
penasaran dan terstimulasi untuk terus membuka bab-bab selanjutnya.
Serial Herbie Jones karangan Suzy Kline (Puffin Publishing) dan
Ramona karya Beverly Cleary (Morrow Publishing) dikatakan masuk dalam
genre buku anak ini.

Middle grade

Untuk usia 8–12 tahun, merupakan usia emas anak dalam
membaca. Naskahnya lebih panjang (100–150 halaman), ceritanya mulai
kompleks (bagian-bagian sub-plot menampilkan banyak karakter tambahan
yang berperan penting dalam jalinan cerita), dan tema-temanya cukup
modern. Anak-anak di usia ini mulai tertarik dan mengidolakan
karakter dalam cerita. Hal ini menjelaskan keberhasilan beberapa seri
petualangan yang terdiri dari 20 atau lebih buku dengan tokoh yang
sama. Kelompok fiksinya beragam mulai dari fiksi kontemporer,
sejarah, hingga science-fiction atau petualangan fantasi. Sementara
yang masuk kelompok nonfiksi antara lain biografi, iptek, dan topik-
topik multibudaya.

Young adult
Naskahnya antara 130–200 halaman, genre ini untuk anak
usia 12 tahun ke atas. Plot ceritanya bisa sangat "ruwet" dengan
banyak karakter utama, meskipun tetap ada satu karakter yang
difokuskan. Tema-tema yang diangkat seringnya relevan dengan
kehidupan remaja saat ini. Buku The Outsiders karya S.E. Hinton
menjadi tonggak sejarah buku cerita anak di genre ini yang
menceritakan permasalahan remaja saat itu ketika pertama kali
diterbitkan pada tahun 1967. Kategori new-age (usia 10–14 tahun)
perlu diperhatikan, terutama untuk buku-buku kelompok nonfiksi
remaja. Buku-buku di kelompok ini sedikit lebih pendek dibanding
untuk kelompok usia 12 tahun ke atas, serta topiknya (fiksi dan
nonfiksi) lebih cocok untuk anak-anak yang telah melewati buku genre
middle grade, tetapi belum siap membaca buku-buku fiksi atau belum
mempelajari subjek nonfiksi yang materinya ditujukan untuk pembaca di
kelas sekolah menengah.

Misteri Buku Best Seller

Pada 2003, Agne William Morris menawarkan naskah debutan Curtis Sittenfeld bertitel 'Chiper'. Sebanyak 24 editor penerbit besar menolak novel tentang sekolah berasrama itu. Tinggal Random House satu-satunya yg menerima dan menawar uang muka $40.000.
 
Pada 2005, naskah itu diterbitkan dan diganti judul 'Prep'. Meski pemasaran dilakukan dengan cara cerdik, namun mereka hanya berani mencetak pertama 13 ribu eksemplar. Sangat minim untuk uang muka yang sudah mereka keluarkan.

Ternyata 'Prep' mampu menempati list best seller di New York Times.  Edisi hardcovernya terjual lebih dari 133.000 copy! Edisi papperback terjual 329.000 copy! Right untuk dialihbahasakan terjual 25 bahasa, serta dibelinya hak untuk memfilmkan oleh Paramount! Hebat!

(apa yang ada di pikiran 24 editor yang menolak?)

Publikasi yang dilakukan: liputan surat kabar bergengsi dan informasi getok tular.
Lho, padahal buku-buku yang lain juga melakukan hal yang sama. Trus, kenapa 'Prep' yan berhasil? Masih banyak buku yang awalnya sangat diunggulkan tapi jeblok di penjualan.

Jawabannya kira-kira menurut Agen Brian De Fiorre:
1. Kovernya
2. Judulnya
3. Tidak ada promosi
4. Waktunya tidak pas
5. Isinya memang tidak menarik
Jawaban yang diberikan editor Strachan adalah: "Nggak ada yang benar-benar tahu. Kalau Anda tahu kuncinya, Pasti Anda sudah sangat kaya!"
Oh iya, sebuah penerbit besar pernah mengeluarkan uang $8 juta untuk draft buku 'Thirteen Moons' karya Charles Frazier (sebelumnya sukses menjual Cold Mountain 1.6 juta copy). Akhirnya dicetaklah 750.000 copy. Meski masuk best seller tapi hanya terjual 240 ribu eksemplar.
heheheh ...
langsung aja ngutip kata si penulis Prep.
"Orang mengira penerbitan adalah sebuah bisnis. Tidak betul. Ini adalah arena perjudian."

Mengapa buku saya tidak dibuatkan acara launching?




Beberapa kali saya menemukan seorang penulis bertanya kepada saya, mengapa sih buku saya tidak dilaunching oleh penerbit seperti buku penulis lainnya?
Keterangan ini mungkin bisa memberi penjelasan.

1. Sebuah penerbit besar, tidak hanya menerbitkan satu-dua buku dalam sebulannya. Bahkan di tempat saya bekerja, bisa sampai lima puluh tiap bulan. Nah, kebayang kan jika semua buku  harus dilaunching.

2. Penerbit memiliki dana yang terbatas, sehingga harus dipilih buku mana yang harus dilaunching oleh penerbit. Tentu saja kategori launching buku pun disesuaikan dengan bukunya.

3. Buku yang dilaunching dipilih dengan kriteria tertentu: misalnya buku itu punya kans besar untuk laku bila diketahui banyak orang. Tema buku itu menarik untuk diangkat dalam sebuah diskusi pada launching buku >>> dan ini juga menarik untuk diberitakan. Penulis juga jadi salah satu faktor. Kalo penulisnya bisa menyedot mediamassa untuk memberitakannya, punya kans besar. Dan masih banyak kriteria lainnya.

so ...

1. Jangan sedih jika bukumu tidak dilaunching oleh penerbit. Ingat tidak semua buku yang dilaunching itu kemudian jadi bestseller. Sebaliknya, tidak jarang buku yang tidak dilaunching oleh penerbit tapi kemudian laris manis di pasaran.

2. Manfaatkan komunitas kamu, atau kamu biayai sendiri aja untuk bikin launching buku.  Hm, paling tidak kamu bisa minta doorprize ke penerbit. Membuat launching buku virtual juga bukan hal yang patut diremehkan.

3. Launching itu intinya adalah pemberitaan buku baru kamu melalui media. Jika acara digelar tanpa kehadiran media, juga sepi publikasi ya acara itu pun jadi mubazir. Mendingan biaya launching dipake buat yang lainnya.

4. Jika tak sempat melakukan launching, cara publikasi lainnya adalah bedah buku, diskusi, dll yang waktunya tak harus mepet dengan buku itu dirilis ke pasar.

5. Launching buku oleh penerbit bukan segala-galanya. masih banyak publikasi cara lain. Tapi kita harus bersyukur banget jika ketiban hoki buku kita dilanuching oleh penerbit.

6. Sesama penulis kalau bisa saling menghadiri launching buku rekan kita.

Buku Hardcover Bekas Jauh Lebih Baik dari Softcover yang Baru



Ketika saya browsing di Internet, saya menemukan kalimat dari seorang blogger bernama Raul Gutierrez ihwal jenis buku yang pantas dibeli seorang rekannya:

"Always buy hardcover. A used hardcover is usually better than a new softcover. If your kids loves a book, he will read it hundreds of times. Softcover books just don't hold up."

Saya terus terang setuju banget! Ada beberapa alasan mengapa buku-buku hardcover sangat direkomendasikan untuk anak:

1. Buku hardcover lebih kukuh ketimbang buku softcover. Ingat kebiasaan anak yang belum terlalu hati-hati memperlakukan buku mereka. Berdasarkan pengalaman, buku-buku softcover yang ringkih umurnya tidak pernah sampai lebih satu bulan. Setelah itu covernya robek, copot, dan hilang. Biasanya kalau sudah rusak begini, anak tidak mau lagi membaca buku itu.

2. Buku Hardcover memang lebih mahal ketimbang buku softcover. Tapi karena berkesan lux, ada hasrat untuk menjaganya lebih hati-hati. Menyimpannya di rak buku pun terlihat menarik. Apalagi dengan punggungnya yang lebar, sehingga masih lebih mudah dicari ketimbang buku softcover (apalagi yang tipis). Karena terlihat lux pula, memberi hadiah buku hardcover kepada seseorang sepertinya jauh lebih asyik.

3. Buku anak-anak biasanya adalah buku untuk dibawa orangtuanya mendongeng di tempat tidur. Anak cenderung membolak-balik ulang cerita yang disukai. Posisi membaca juga lebih menyenangkan dengan buku hardcover. Dan jika ketiduran, bisa dibayangkan kalau buku softcover itu tertindih anak.

4. Mewariskan ataupun menjual kembali buku hardcover lebih laris dipilih ketimbang buku softcover karena lebih awet.

Karena keterbatasan dana yang dimiliki untuk membeli buku hardcover, kita memang harus selektif. Yang harus dipilih:

1. Buku referensial untuk anak: misalnya kitab suci, buku ensiklopedi, kamus dll
2. Buku cerita klasik dengan cerita-cerita pilihan yang menarik
3. Buku cerita dengan visualisasi fullcolor yang disukai anak-anak

Mengapa Islamic Princess?


 

.









Terus terang saya rada prihatin kalo lihat buku-buku princess dari luar. Terutama busananya. Pakai belahan dada, kadang perut terlihat (Princess Jasmine) ... weleh-weleh ... Belum lagi ceritanya yang kadang kurang tepat untuk anak-anak Muslim.

Nah, dari pada ngedumel terus, mendingan buku dilawan buku lagi kan? Maka saya konsep sebuah seri buku cerita bergambar untuk anak-anak (terutama pembaca pemula), namanya Islamic Princess.

Seri ini:

1. Mengunakan nama-nama berdasarkan Asmaul Husna. Agar anak-anak mudah mengingat asmaul husna. Mereka juga bisa merasa bangga ketika diberi nama ortunya berdasakan asmaul husna. Lebih pede.

2. Bilingual. Anak-anak bisa belajar membaca cerita dalam teks berbahasa Inggris pula. Sangat membantu anak-anak yang lagi belajar Bahasa Inggris. Selain itu, saat ini banyak orangtua muslim yang tinggal di mancanegara memiliki anak berbahasa Inggris, tapi kesulitan mendapat bacaan yang islami.

3. Gambar-gambar yang indah, bisa membuat anak-anak jatuh cinta untuk membaca buku ini. Pada pembaca awal, seringkali gambar yang indah menempati posisi penting sebagai penarik perhatian mereka.


Alhamdulillah sekarang judul seri ini sudah 50 judul dan ditulis oleh banyak penulis. Bahkan, sudah diterjemahkan untuk penjualan di Australia dan Malaysia.

[Profil] Penulis yang memotivasi: Shirley Cheng




Dia buta sejak usia 17 tahun.  Tapi penglihatan tak menghalanginya untuk menulis. Sejak usia 20 tahun dia menulis. Dalam setahun dia bisa menyelesaikan tiga buku. Dia menulis sendiri menggunakan layar baca khusus. Awalnya, dia sama sekali gelap soal menerbitkan buku. Internet membantunya memudahkan urusan berhubungan dengan penerbit.
Karyanya banyak dipuji. Banyak pula mendapat penghargaan.

Bagi yang ingin membakar motivasi menulisnya bisa mengunjungi websitenya:  http://www.shirleycheng.com/

Gara-Gara MSG masuk TV-One

"Ma, unang masuk Tipi!"

Inget banget omongan Unang yang kurang lebih kayak kalimat judul posting ini.
Hahahaha ... masuk tipi, buat sebagian orang memang masih barang aneh. Pastinya agak-agak bangga. Ya, asal jangan sebagai pelaku kriminal aja kaleee.


Beberapa bulan lalu, ketika kakak ipar masuk tipi  sebagai bos sebuah bank. Isterinya dah wanti-wanti kepada semua keluarga untuk nonton. Ya ... saya juga penasaran dunk.
Emang, bukan pertama kali saya  dapet sms buat nonton penampilan teman di tipi. Tapi makin lama, teman yang nongol di tipi makin banyak. Kalo teman sih udah kagak aneh lagi. Yang jadi pembawa berita atau acara aja udah banyak banget.


Minggu pagi (22/Maret/2009) saya kebagian giliran masuk tipi. Di Acara Apa Kabar Indonesia TV-ONE. Pasalnya, saya emang harus promosi terus buku Mimpi Sang Garuda (MSG) . Pihak tipi minta saya sebagai tamu. Ya itung2 promosi gratisan.


Saya langsung kasih tahu isteri tersayang, dan minta juga supaya kasih tahu keluarganya dan keluarga besar menjelang siaran live. Saya jujur aja rada degdegan juga awalnya. Takut penampilan gw jelek. Maklum tanpa script gitu.

Gimana rasanya?

Tentu aja bangga. Terutama bisa membuat bangga keluarga isteri gue (yang pada nonton semua).
Kalo secara pribadi, ya gitu deh. Bangga, tapi kayaknya masih lebih bangga ketika skenario pertama kali saya di RCTI ditayangkan beberapa tahun silam jadi sinetron LUV.


Mungkin karena saya lebih suka jadi orang belakang layar.
Tapi ... paling nggak, saya udah bikin bangga isteri dan keluarga dengan masuk tipi.
Apalagi tetangga juga pada nonton (secara nggak sengaja) .

Bollywood Tanpa Lagu

Ibarat sayur tanpa garam, film-film Bollywood tanpa nyanyian terbayang terasa hambar. Sehingga, banyak orang yang tak begitu tahu banyak soal perfilman Bollywood menganggap tak pernah ada film Bollywood tanpa nyanyian. Serta merta, ketika Hollywood menggarap Slumdog Millionaire (SM) dan sukses, mereka menyarankan agar Bollywood membuat film tanpa nyanyian seperti SM.

Sesungguhnya, sejak 1960 Bollywood sudah mencatat rekor pecahnya film layar lebar tanpa nyanyian. Judulnya Kanoon, karya sutradara BR Chopra. Film hitam putih yang bercerita tentang drama misteri pembunuhan ini diganjar anugerah bergengsi FilmFare Award untuk kategori sutradara (BR Chopra) dan aktor pendukung (Palsikar). Bukan perkara mudah untuk mendobrak formula baku Bollywood. Bahkan, beberapa tahun kemudian BR Chopra menulis sebuah artikel khusus tentang upayanya ini.



Dalam artikelnya, BR Chopra menulis kegelisahannya saat pemutaran perdana. Dia berdiri di depan gedung bioskop, lalu seorang yang tidak mengenalinya berkata,"Film ini bakalan jeblok. Tidak ada lagunya sama sekali. Orang yang membuatnya pasti idiot." BR Chopra tak menanggapinya, kecuali tersenyum. Beberapa hari kemudian ternyata film itu dinyatakan masuk jajaran film laris.

Masih di India, di luar film Bollywood yang berbahasa nasional Hindi, terdapat juga film berbahasa Tamil yang biasanya beredar di kawasan selatan India. Tercatat pula bahwa film Tamil tanpa nyanyian malah telah hadir lebih awal, yakni Andha Naal pada 1954.


Saat ini, sederet film Bolywood yang tanpa lagu sudah tak terhitung lagi jumlahnya. Misalnya film horor Darna Marna Kya Hai, Ab Tak 56,. Beberapa diantaranya mendapat ganjaran penghargaan FilmFare Award seperti Black (2005).