Tuesday, September 10, 2013

Alif Laam Meem, Frat House Muslim Pertama di AS

Pernah melihat mess mahasiswa berdasarkan kelompok persaudaraan (frat house)di film-film Hollywood? Umumnya kita akan dipertontonkan adegan pesta liar dengan alkohol yang mengalir bebas dengan perilaku yang bikin geleng-geleng kepala. Tapi sebuah mess mahasiswa di Amerika Serikat justru melarang pesta pora dan menggantinya dengan kegiatan amal dan pengajian.



Nama mess mahasiswa persaudaraan muslim itu adalah Alif Laam Mim yang didirikan di University of Texas, Dallas, AS, pada 12 Februari 2013. Di sinilah mahasiswa muslim  bersosialisasi dan menikmati kehidupan kampus tanpa budaya minum alkohol yang membudaya di kehidupan mess mahasiswa Amerika..
 

Alih-alih berpesta, kelompok persaudaraan ini berkumpul untuk mengaji dan berkeliling daerah setempat membagi-bagikan sandwich untuk para tunawisma.  Upacara inisiasi mereka tidak melibatkan minum dari tong bir, tapi menyerahkan lebih dari $ 100 untuk disumbangkan.

Persaudaraan - Alpha Lambda Mu dalam huruf Yunani tradisional, atau Alif Laam Mim dalam bahasa Arab - didirikan oleh seorang  lulusan University of Texas, Ali Mahmoud. Saat itu seorang teman Muslim mengatakan kepadanya sedang mempertimbangkan bergabung dengan sebuah kelompok persaudaraan, ia mulai berpikir tentang sebuah mess persaudaraan yang islami.

Beberapa kelompok Muslim mengkritik Mahmoud karena mengikuti dengan tradisi  membuat kelompk persaudaraan yang sering dikaitkan dengan minum berlebihan dan seksual. Tapi Mahmoud  justru ingin membuktikan pemikirannya benar.

“Umat muslim  mengalami kesulitan dalam mencoba memahami  peran mereka dalam masyarakat, sehingga untuk membentuk kelompok yang sudah jadi tradisi kehidupan sosial mahasiswa merupakan langkah simbolis, "katanya kepada New York Daily News.

Namun, Mahmoud menolak anggapan bahwa upayanya tersebut dirancang untuk mendorong mahasiswa  muslim mengikuti arus budaya AS, meskipun sebagian besar anggota warga AS.

"Saya sendiri dibesarkan di Plano, Texas," katanya. "Saya pergi ke sekolah umum, saya bermain Xbox Hidup sepanjang waktu dengan teman-teman saya yang tidak Muslim, dan saya sayangnya makan terlalu banyak makanan cepat saji.  Saya seorang Muslim Amerika bangga, dan saya tidak melihat kontradiksi dari dua gelar. Islam adalah kompas moral saya yang memandu setiap aspek kehidupan saya, tetapi juga menyisakan ruang untuk pengalaman budaya kita."

Sementara itu, banyak mahasiswa di lingkungan kampus tidak bisa membayangkan pengalaman tinggal di mess mahasiswa tanpa minuman keras dan pesta. Mahmoud  malah menegaskan bahwa ia dan teman-temannya baik-baik saja tanpa pesta liar dan minuman keras.

"Sebagian besar dari kami memang tumbuh dalam keluarga tanpa pesta dan minuman keras," katanya.








Kegiatan yang dilakukan oleh kelompok yang gampang dikenali dari kopiah merahnya ini diantaranya protes terhadap kekerasan dalam rumah tangga, dan mengumpulkan uang untuk korban pemboman Marathon Boston. Sepertinya tahun ajaran baru akan dimulai, dan persaudaraan muslim ini mulai melakukan perekrutan. Meskipun berlandaskan Islam, mahasiswa  non-muslim diperbolehkan  mendaftar..

Monday, September 9, 2013

Mati Ketawa ala Papan India

Jangan bilang jago bahasa Inggris jika dalam dua detik setiap melihat foto di bawah ini, nggak ketawa. Yup, ini adalah sederet foto papan informasi yang bertebaran di India. Papan ini mencoba menyampaikan pesan dalam Bahasa Inggris. Alih-alih informatif, yang baca bisa pingsan gara-gara nggak bisa berhenti ketawa.














Icip-icip di Cafe Warisan Bandung


Beberapa waktu lalu, kami bermaksud makan di Black Market di pojok jalan Aceh dan Riau. Tapi rupanya sudah ganti jadi Café Warisan. Wuah, tempat makan baru.

 
 Sebenarnya saya kurang berani icip-icip di tempat makan baru. Apalagi kalau belum dapat referensi secuil pun. Tapi karena sudah kadung, kami pun masuk ke dalam tempat makan itu. Wuah, interior ruangannya lebih tertata dan terkonsep dibandingkan sebelumnya.

Ternyata menu masakannya adalah masakan Indonesia umum. Isteri saya memesan bakmi godok, saya pesan soto betawi, anak saya pesan nasi goreng. Kami pun memesan tempe mendoan untuk camilan.
Pesanan pun datang satu per satu. Untuk anak dan isteri saya. Juga kompiment berupa es buah sebagai hidangan pembuka. Tapi kok pesanan saya belum datang.

Isteri dan anak saya mulai makan. Saya bertanya kepada pelayan yang lalu lalang pesanan saya. Tapi ditunggu-tunggu nggak datang juga. Saya pun akhirnya bertanya langsung ke bagian dapurnya. Barulah sepuluh menit kemudian soto betawi saya datang. Tapi saya sudah tidak terlalu nafsu. Isteri saya sudah beres, anak saya tinggal beberapa suap lagi. 

Akhirnya, saya berjuang mati-matian memakan makanan yang sudah dipesan. Tapi entah karena sudah kadung kesal, kok saya merasa dagingnya tidak seempuk yang biasa saya makan di tempat lain. Bukan apa-apa sih. Gigi saya sudah nggak setajam dulu, jadi nggak bisa melawan daging yang tidak empuk. Akhirnya, saya gagal menghabiskan makanan itu.


 
Mungkin lain waktu, jika saya ke sini lagi, berharap pelayannya tidak  melewatkan pesanan saya lagi. Dan mungkin saya akan mencoba menu lainnya. Sebab tempatnya kalau untuk tongkrongan sih asyik banget.

Wednesday, September 4, 2013

Gareth Bale Dukung Kampanye 'Raise Your Hands For Luca'

Dukungan Bale untuk Luca. (foto: dailymail.co.uk)




Pemain sepak bola termahal di dunia saat ini, Gareth Bale, ikut menyerukan kepada khalayak agar membantu  seorang anak kecil  yang kehilangan kedua kakinya karena meningitis. Bale  yang baru saja dijual ke Real Madrid ini  menjadi selebriti terbaru yang  bergabung dengan kampanye pengumpulan dana untuk balita berusia 4 tahun,  Luca Williams.

Bale  menulis ' For Luca ' di telapak tangannya, kemudian memosting gambarnya ke halaman Facebook. Cara ini dilakukan dalam  upaya penggalangan dana membantu Luca mendapatkan kaki palsu sebesar  £1,5 juta atau lebih dari Rp26 milyar. Luca Williams kehilangan kakinya karena menderita meningitis.

 Pasangan Mo Syed dan Sian Williams mengaku senang  karena  Bale telah mendukung kampanye yang mereka buat untuk anak mereka . "Sangat menakjubkan Gareth Bale mau melakukan ini untuk Luca,” kata Sian Williams yang pernah mengalami empat kali keguguran dan kehilangan dua bayi prematur


Luca selalu tersenyum. (foto:dailymail.co.uk)

Gareth Bale bukan bintang sepakbola pertama yang bergabung dengan  kampanye 'For Luca’.  Maradona juga telah  menulis slogan ’For Luca'  di tangannya dan memosting fotonya. Peshor lainnya adalah pembalap Formula1 Sebastian Vettel ,  bintang film Mickey Rourke , dan banyak lainnya.


Setelah Bale, tentu akan banyak orang yang terinspirasi mengikutinya. Tapi jika ingin menyumbang langsung, silakan berkunjung http://www.justgiving.com/forluca

(sumber: dailymail.co.uk)

Jakarta sebagai Ibu Kota Diplomatik ASEAN, Apa Untungnya?

Pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-21 ASEAN di Phnom Penh, Kamboja, November 2012, Menlu Marty M. Natalegawa secara resmi menyerahkan Piagam Pengesahan (Instrument of Ratification) Persetujuan antara Pemerintah Republik Indonesia dan ASEAN mengenai Host Country Agreement kepada Sekretaris Jenderal ASEAN. Perjanjian Host Country Agreement yang mengatur mengenai pemberian fasilitas dan keistimewaan kepada Sekretariat ASEAN ini, akan memastikan Sekretariat ASEAN dapat beroperasi sebagai nerve centre Komunitas ASEAN dan mempromosikan Jakarta sebagai Ibu Kota Diplomatik ASEAN (Diplomatic Capital of ASEAN).

Markas ASEAN di jakarta. (foto: wikipedia)


Resminya Jakarta sebagai Ibu Kota Diplomatik ASEAN dengan kata lain peran kota Jakarta bisa seperti Manhattan tempat Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa ataupun Brussels di Belgia yang menjadi ibu kota bagi Uni Eropa. Di kota-kota negara tersebut terdapat perwakilan diplomatik negara-negara anggotanya.

Menurut saya langkah ini sudah tepat, karena Indonesia sebagai salah satu pelopor berdirinya ASEAN harus memegang andil paling besar dalam kiprahnya di ASEAN, terutama menyambut Komunitas ASEAN 2015. Tapi apakah Jakarta memang cocok sebagai ibu kota diplomatik dibandingkan kota-kota besar lainnya di ASEAN?

Pengalaman saya melihat dua kota besar lainnya di ASEAN seperti Kuala Lumpur dan Bangkok, setidaknya bisa menyimpulkan, Jakarta masih harus berbenah menghadapi tantangan sebagai ibu kota diplomatik. Iklim yang hospitable bagi kehidupan diplomatik di Jakarta masih jauh dari baik. Terutama problem lalu lintas dan minimnya infrastruktur masih menjadi PR besar. Janganlah dibandingkan dengan Brussels atau Manhattan.

Apa Untungnya?

Lantas mengapa Indonesia harus keukeuh Ibu Kota diplomatik ASEAN. Tentunya pemerintah sudah memikirkan keuntungannya. Baik keuntungan bagi pemerintah Indonesia sendiri maupun untuk masyarakat Indonesia, terlebih warga Jakarta.

Keuntungan bagi pemerintah Indonesia sudah jelas adalah kebanggaan dalam pencitraan. Sehingga Jakarta khususnya, bisa lebih di kenal di forum-forum International. Tidak mustahil jika perannya sebagai Ibu Kota Diplomatik ASEAN berhasil, akan menular kepada organisasi yang lebih besar keanggotaannya. Sebagai Ibu Kota Diplomatik juga bisa memegang peranan penting dalam pengambilan keputusan-keputusan.

Demi keuntungan tersebut, pemerintah sudah semestinya memikirkan perbaikan fasilitas dan sarana demi menjadi ibu kota diplomatik yang baik. Mau tidak mau peran Pemda DKI Jakarta akan dituntut lebih besar lagi.

Transportasi publik harus dibenahi. (foto: wkipedia)

Di sinilah yang kemudian menjadi keuntungan bagi warga Jakarta, dan masyarakat Indonesia umumnya. Karena akan banyak dikunjungi tamu asing termasuk liputan media asing, maka akan terjadi pembangunan infrastruktur yang lebih baik dan modern di Jakarta. Artinya, infrastruktur tersebut bukan hanya untuk dinikmati para diplomat asing, namun juga warga Jakarta.

Kemacetan lalu lintas akan diurai, transportasi publik dibuat lebih manusiawi, kebersihan lingkungan akan dijaga, tata kota lebih asri, warganya hidup dalam kedisiplinan dan mengembangkan kearifan lokal demi mempertahankan citra yang baik dari pandangan international. Itulah sebagian keuntungan yang diharapkan.

Dari sisi ekonomi, sudah pasti akan terjadi peningkatan pendapatan asli daerah. Jika ada rapat, diskusi atau konferensi, entah berapa tamu yang akan menginap di hotel-hotel berbintang di Jakarta, yang berarti pemasukan untuk industri hotel dan pemda Jakarta dari sector wisata. Termasuk uang yang mereka belanjakan untuk makan dan minum, atau oleh-oleh. Dibukanya kantor-kontor diplomat asing juga akan membuka lapangan kerja baru. Bisinis property sudah dipastikan akan meningkat karena pejabat-pejabat kantor perwakilan asing membutuhkan tempat tinggal. Efeknya adalah pada tingginya permintaan apartemen, terutama di kawasan yang penuh dengan kantor diplomat seperti Kuningan dan Menteng.

Saat ini, tercatat  di Jakarta terdapat 94 kedutaan besar asing, kantor Sekretariat ASEAN, sejumah kantor perwakilan Badan PBB dan organisasi non-pemerintah internasional. Secara tidak langsung,  memberi kontribusi pertumbuhan ekonomi di Jakarta yang cukup signifikan. Hal itu terlihat dari jumlah perusahaan di bidang logistik yang meningkat hingga 104 persen, sejak 2010 (500 perusahaan) hingga kuartal pertama 2012 (1.020 perusahaan).

Penanaman modal asing (PMA) di Jakarta mencapai pada level tertinggi, dibandingkan sejumlah kota besar di Indonesia, dengan pencapaian sebesar 4,8 miliar dolar AS (Rp45,4 triliun) pada 2011. Pada kuartal pertama 2012, Jakarta kembali menikmati nilai PMA tertinggi sebesar 13,9 miliar dolar AS (Rp131,56 triliun).

Dari sisi keamanan, sudah pasti harus lebih ditingkatkan. Sebab tidak mungkin orang-orang asing mau berkunjung ke kota yang dipenuhi ancaman kriminalitas dan teroris, serta gangguan keamanan lainnya.

Andil Masyarakat

Bukan hanya pemerintah yang harus menjaga nama baik Jakarta sebagai Ibu Kota Diplomatik ASEAN. Peran masyarakat dan swasta tentu penting sekali. Untuk menumbuhkan kesadaran tersebut, sangat diperlukan sosialisasi kepada semua pihak posisi Jakarta saat ini sebagai Ibu Kota Diplomatik ASEAN.

Saya yakin sepenuhnya dengan kepemimpinan Jokowi-Ahok, Jakarta akan menjadi Ibu Kota Diplomatik ASEAN yang ideal. Sebab, bila gagal, maka Indonesia akan merugi. Pencitraan negatif akan mudah tersebar luas.

Saya sendiri walaupun bukan warga Jakarta (tapi sering berhubungan dengan rekan bisnis dari luar negeri di Jakarta), akan berusaha menyumbangkan pemikiran demi Jakarta yang lebih baik. Terutama lewat tulisan-tulisan di blog tentunya. Karena saya sudah membaiat diri saya sendiri sebagai blogger ASEAN.
ooOOoo

referensi: asean.org dan kemlu.go.id

Tulisan ini disertakan dalam lomba #10daysforASEAN

Bukan Mieholic Kalo Belum Icip-Icip Mie Celor 26 Ilir




Jika pergi ke Palembang, Sumatera Selatan, makan mpek-mpek sudah bukan hal baru lagi bagi pelancong.  Ada berbagai jenis makanan khas setempat yang terkenal, salah satunya adalah Mie Celor 26 Ilir. Kuah yang kental serta aroma khasnya, selalu memikat pengunjung yang datang kewarung sederhana di sisi  perempatan Jalan KH Ahmad Dahlan ini. Nah, karena saya penikmat mie, maka saya wajib datang ke tempat satu ini. Soalnya di Bandung nggak ada sih.

Tidak susah untuk mencari lokasi warung ini. Datang saja ke kawasan pasar tradisional 26 Ilir Palembang, atau lebih kenal  wong Palembang dengan sebutan  Pasar Soak Bato. Semua akan segera menunjukkan letak warung  yang  selalu ramai pengunjung ini. Bukan hanya mereka yang ingin sarapan setelah capai berbelanja di pasar, namun ada pula para pekerja, ibu rumah tangga, karyawan kantor, dan eksekutif muda.

Ini saya, bukan yang jualan. (foto: Benny Rhamdani)
Memasuki Warung Mie Celor 26 Ilir   saya melihat sembilan meja yang dilengkapi empat kursi. Sabar saja bila ingin makan di warung. Sebab tak jarang pengunjung harus rela mengantre. Warung ini dibuka 06.30-18.30 dan  pengunjung dapat menyantap mie celor dengan berbagai varian, mulai mie celor spesial, mie celor biasa, hingga yang menambahkan racikan kecambah, telur, dan udang. Kenikmatan Mie Celor 26 Ilir terletak pada perpaduan kuah dan Miekuning yang dibuat secara khusus.

Bikin ketagihan. (foto: Benny Rhamdani)
Mie Celor 26 Ilir berdiri lebih dari 30 tahun. Usaha kuliner ini dirintis HM Syafei Z dan kini diteruskan oleh anak-anaknya. Para pengunjung bukan hanya warga Palembang, melainkan para wisatawan yang sengaja berkunjung, maupun warga dari luar kota/provinsi yang memang sudah terbiasa berkunjung ke sini. Bahkan, mantan Presiden RI Megawati Soekarno Putri saat masih menjabat dan berkunjung ke Palembang sempat beberapa kali menyantap secara langsung Mie Celor 26 Ilir berkat rekomendasi sang suami, almarhum Taufiq Kiemas, yang juga asli Palembang.

Kuahnya diramu dengan racikan bumbu rahasia yang didominasi kaldu udang satang ditambah santan kelapa agar lebih mengental. Kuah kental kekuningan dengan  bongkahan udang ukuran kecil ini terasa makin nikmat disajikan dalam kondisi panas. Kelezatan kuah inilah yang membedakannya dengan mie celor lain.

Kuah diletakkan dalam panci besar yang terdiri dari dua bagian. Kompor  dibiarkan hidup dengan pengaturan yang tidak terlalu besar. Sementara, bagian panci lain berisi air khusus untuk mencelupkan mie dan kecambah.

Bahan mie di sini berwarna kuning, bentuknya sedikit menyerupai pasta, terasa lembut dan tak terlalu kenyal lantaran mie ini memang dipesan khusus dengan bahan dasar gandum dan pembuatannya cukup higienis. Wangi bawang merah goreng, daun bawang, dan daun seledri yang ditaburkan di atas mie celor sangat menggugah selera makan. Apalagi ada telur rebus yang sudah diiris-iris. Mau lebih nikmat? Tambahkan kerupuk ikan dan emping. Kalau saya sih cukup menambahkan kuah dengan sambal, kecap, dan cuka. Pokoknya, maknyus deh! Cocok buat mieholic seperti saya.


OOooOO

Tuesday, September 3, 2013

Pengusaha Swedia Sulap Boeing 747 Menjadi Hostel

Boeing 747? Bukan lagi. Ini Jumbo Hostel. (foto: Dailymail.co.uk)


Pengusaha Swedia, Oscar Divs membeli  pesawat Boeing 747 pada 2006 dari sebuah maskapai penerbangan yang bangkrut. Oscar kemudian menyulap pesawat itu menjadi  sebuah  penginapan dengan 27 kamar, termasuk kamar mewah yang  dilengkapi jendela  dari cockpit pesawat. Hostel yang berdiri di dekat Bandara Arlanda,  Stockholm, Swedia itu memasang tarif mulai dari Rp775.000 hingga Rp3.000.000 per malam.

“Saya sedang memperluas bisnis hostel pada 2006 ketika mendengar sebuah pesawat yang akan dijual di Arlanda,” jelas Orcar seperti dilansir Dailymail.  “Sejak itulah saya berpikir untuk memulai usaha di Arlanda, dan tidak perlu menunggu lama untuk membeli pesawat itu.”


Pesawat jenis jumbo jet yang dibeli Oscar tersebut dibuat pada 1976,  dan dioperasikan oleh maskapai penerbangan Swedia Transjet yang bangkrut pada  2002. Tidak semua bagian pesawat itu diubah. Ada beberapa bagian yang snegaj disisakan agar tamu hostel bisa melihat wujud asli pesawat sebelum dirombak. Oscar kemudian memberi hostelnya dengan nama Jumbo Hostel.

Ingin menginap di Jumbo Hostel? Tempat ini cocok bagi Anda yang ingin naik pesawat tapi takut ketinggian.












(sumber berita dan foto: Dailymail.co.uk)




Our People, Our Future Together



Pastinya, ada diskusi produktif ketika para kepala negara/pemerintahan negara ASEAN, berkumpul di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam dalam forum  KTT ASEAN ke-22 pada  24-25 April 2013. Apalagi sebuah tema sudah digenggam,  “Our People, Our Future  Together”, dengan penekanan pada peran masyarakat dalam upaya membangun Komunitas ASEAN 2015.   Sudah semestinya semua menyadari  pentingnya mewujudkan dengan sungguh-sungguh arti ‘people centered’ ASEAN sebagai elemen utama  saat berlakunya Komunitas  ASEAN 2015.


Tentunya,  para pemimpin ASEAN  harus lebih mengintensifkan kerjanya  untuk mewujudkan Komunitas ASEAN yang terpadu secara politis, terintegrasi secara ekonomi dan memiliki tanggung jawab sosial dalam rangka mengambil  manfaat pada masa kini dan membuka peluang pada masa depan, dan efektif merespon tantangan-tantangan regional dan internasional.

Dorongan kepada  semua badan ASEAN untuk terus bekerja sama dalam menangani isu lintas sektoral  juga perlu diberikan oleh semua kepala negara ASEAN.  Termasuk menugaskan menteri-menteri terkait untuk melakukan evaluasi jangka menengah  sehingga dapat mengidentifikasi cara-cara yang tepat agar dapat bergerak maju dalam fase kedua (2013-2015) menjelang Komunitas ASEAN 2015.

Cara lain yang dapat dilakukan setiap pemerintah negara ASEAN adalah mengakui pentingnya berbagai organ ASEAN dalam membantu negara-negara anggota ASEAN  menjalani komitmen mereka untuk mewujudkan Komunitas ASEAN 2015.

Komunitas Politik-Keamanan ASEAN (APSC)

Sebuah komunitas kemasyarakatan baru bisa tumbuh jika perdamaian tercipta. Dan ASEAN menyadari pentingnya upaya untuk meningkatkan perdamaian dan keamanan di kawasan, sehingga dibentuklah  Komunitas Politik-Kemanan ASEAN( APSC) .

Upaya tersebut sebenarnya sudah bisa dilihat dengan ditandatanganinya Perjanjian Persahabatan dan Kerjasama di Asia Tenggara (TAC) sebagai kode etik yang mengatur hubungan antar negara di kawasan dan landasan untuk pemeliharaan perdamaian dan stabilitas regional.

ASPC  memiliki beberapa wadah untuk mewujudkan visinya, antara lain:

1.  ASEAN Defence Ministers 'Meeting-Plus (ADMM-Plus), sebuah wadah di tingkat menteri pertahanan dan angkatan bersenjata untuk  meningkatkan perdamaian dan keamanan regional. ASMMM-Plus telah  menggelar latihan bersama  Penanggulangan Bencana dan  Kedokteran Militer di Brunei Darussalam sebagai kontribusi yang signifikan untuk meningkatkan pembangunan kepercayaan dan kapasitas daerah dalam mengatasi tantangan keamanan non-tradisional,

2. SEANWZ yang berperan menjaga Asia Tenggara sebagai kawasan bebas senjata nuklir dan bebas dari semua senjata pemusnah massal lainnya.

3. ASEAN Ministerial Meeting on Transnational Crime (AMMTC)  yang berperan memperkuat kerjasama dalam menangani masalah terorisme dan kejahatan transnasional di wilayah tersebut.

4.  Rencana Aksi Pemberantasan Perdagangan Manusia (RPA) dan Konvensi ASEAN tentang Perdagangan Manusia (ACTIP).

5. ASEAN Maritime Forum (AMF)  sebuah wadah kerjasama regional dalam keamanan maritim melalui, peningkatan kapasitas, bertukar pengalaman dan berbagi praktek terbaik dengan memanfaatkan kerangka kerja ASEAN, karena keamanan maritim, termasuk keselamatan maritim, sangat penting untuk hidup, damai, stabil dan tangguh Asia Tenggara,

6. ASEAN Institute for Peace and Reconciliation (AIPR) akan mempromosikan kegiatan penelitian tentang perdamaian, manajemen konflik dan resolusi konflik di wilayah tersebut.

7. Deklarasi Hak Asasi Manusia ASEAN (AHRD) sebagai tonggak penting dalam upaya ASEAN dalam promosi dan perlindungan hak asasi manusia di wilayah tersebut dan mendorong Komisi Antar-Pemerintah ASEAN tentang Hak Asasi Manusia (AICHR) untuk meningkatkan kegiatan, termasuk pelaksanaan AHRD, dalam koordinasi yang erat dengan berbagai badan sektoral ASEAN.

Masih banyak lagi wadah yang sudah disusun ASPC sesuai dengan lingkup tugasnya. Dengan beberapa wadah serta agenda kegiatan tersebut, saya yakin bukan hal sulit menjadikan ASEAN sebagai wilayah paling damai di dunia.

Komunitas Ekonomi ASEAN (AEC)

Sejak penerapan AEC Blueprint pada bulan November 2007, pendapatan per kapita di wilayah ASEAN telah meningkat dari US $ 2.267 menjadi US $ 3.759 pada tahun 2012. Total perdagangan ASEAN tumbuh sebesar 16,8%, dari US $ 2,05 triliun pada 2010 menjadi US $ 2,4 triliun pada 2011, karena perdagangan intra-ASEAN mencapai US $ 598.000.000.000 dari US $ 520 miliar, meningkat 15,1%, dibandingkan periode yang sama. ASEAN juga terus menarik investor asing, menghasilkan rekor US $ 114.000.000.000 FDI yang masuk pada 2011, meningkat 23% dari US $ 92 miliar pada 2010.

Jadi, tidak ada yang diragukan lagi dengan pentingnya AEC ini. Sejumlah rencana menuju Komunitas ASEAN 2015 pun sudah disiapkan karena kondisi perekonomian regional dan global menuntut peningkatkan daya saing ASEAN . Untuk perdagangan dan fasilitasi investasi termasuk pengembangan sudah dirancang  ASEAN Non Tarif (NTMs), ASEAN Single Window, ASEAN Customs Transit System, pengembangan Kartu Perjalanan Bisnis ASEAN untuk memudahkan pergerakan orang bisnis dan investor.

Untuk mengembangkan usaha  kecil dan menengah (UKM), yang dapat menciptakan lapangan kerja dan mempromosikan jaring pengaman sosial,  para Menteri yang relevan diharapkan memberdayakan UKM, terutama di sektor prioritas Integrasi, melalui pelatihan, dukungan dan nasehat keuangan,

Di sektor pariwisata telah dilakukan upaya bersama dari sektor publik dan swasta untuk memfasilitasi dan meningkatkan pengalaman perjalanan wisatawan, seperti penandatanganan ASEAN Mutual Recognition Arrangement (MRA) tentang Pariwisata Profesional dan pembentukan Sekretariat Regional untuk ASEAN Tourism Professionals.  Pembentukan bebas visa perjalanan di negara-negara ASEAN untuk warga negara ASEAN, dan jalur imigrasi ASEAN. Selain itu, ASEAN Common Visa untuk warga negara non-ASEAN yang akan memfasilitasi mobilitas bisnis dan pariwisata.

Dan masih banyak langkah-langkah yang telah disiapkan AEC guna mendukung terlaksananya dengan baik Komunitas ASEAN 2015.

Komunitas Sosial-Budaya ASEAN (ASCC)

Semangat ASEAN. (foto: news.asiaone.com) 


Perlunya  membentuk identitas ASEAN bersama, serta membangun kepedulian dan masyarakat berbagi, membuat  Komunitas ASEAN mau tak mau harus  berbasis kerakyatan dan tanggung jawab sosial yang mencapai solidaritas abadi dan persatuan di antara semua bangsa di Asia Tenggara.

Salah satu unsur masyarakat yang paling penting adalah  generasi muda.  Para profesional muda berada dalam posisi yang unik untuk meningkatkan solidaritas ASEAN dengan menawarkan layanan masyarakat secara sukarela di berbagai bidang seperti pembangunan pedesaan, bantuan bencana, kesehatan, pendidikan dan lingkungan serta mendukung kelompok rentan, termasuk orang-orang yang berbeda-keterbatasan, dan mendorong keterampilan kewirausahaan.

Peran penting pemuda dalam mempromosikan pembangunan ekonomi juga diperlukan. Dengan demikian, sektor swasta sebisa mungkin melibatkan pengusaha muda dalam meningkatkan kesadaran ASEAN.
Selain pemuda sebagai pelaku, hal yang menyangkut kemasyarakatan adalah bidang olahraga. Tidak hanya tentang gaya hidup sehat menuju Komunitas ASEAN 2015 tetapi juga lebih berkontribusi untuk membangun identitas regional yang kuat.

 Kontribusi perempuan terhadap  pembangunan masyarakat ASEAN secara keseluruhan juga diperlukan, termasuk untuk meningkatkan kesadaran masyarakat menghentikan kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak.

Masih banyak rencana dan potensi yang bisa dikembangkan. Dari rencana kerja pilar ASCC ini, saya yakin semua akan mendukung Komunitas ASEAN 2015 yang lebih baik dan selalu berpegang teguh kepada potensi dan kepentingan masyarakat.

Kesadaran Bersama

Sebuah PR besar akhirnya menjadi tanggung jawab ASEAN, bagaimana mempromosikan kesadaran yang lebih besar bagi masyarakat luas dalam rangka menghubungkan satu sama lain, untuk menjembatani kesenjangan budaya, dan mengartikulasikan manfaat dari integrasi regional. Ini bukan tugas  Dewan Komunitas ASEAN  semata tapi semuanya yang terkait.

Pentingnya pengkomunikasian dalam sosisalisasi jadi begitu penting. Termasuk melalui penggunaan berbagai media, baik media mainstream dan maupun media baru. Dari sinilah kita bisa menerawang ke masa depan, dan menyampaikannya ke masyarakat, lalu menjadikannya sebagai langkah awal membentuk rencana langkah-langkah ke depan yang sudah pasti diimpikan lebih baik, melalui Pembangunan Badan Persatuan ASEAN yang harus dirampungkan sebelum 31 Desember 2015.

Saya pribadi sebagai blogger yang juga menjadi bagian masyarakat, akan berupaya terus mendukung terbentuknya Komunitas ASEAN 2015 semampunya. Karena saya yakin, manfaatnya akan kembali kepada masyarakat. Tidak hanya masa sekarang, tapi generasi, anak, cucu, dan cicit saya.

OOooOO

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba #10daysforASEAN

Monday, September 2, 2013

Filipina dan Indonesia, Beda Tipis Soal Kebebasan Informasi dan Berekspresi

Para Bloggers Filipina. (foto: blognapinoy.com)




Sudah lama saya sering menggunakan frasa ‘kebebasan informasi’ dalam keseharian. Namun, saya baru faham definisinya begitu mencarinya (lagi-lagi) di Wikipedia. Kebebasan informasi, menurut Wikipedia, merupakan hak asasi manusia yang diakui oleh hukum internasional dalam mendapatkan informasi dengan bebas, yang mencakup bukan hanya dalam teks dan gambar,  tetapi juga pada sarana berekspresi itu sendiri terutama dalam pemanfaatan teknologi informasi.

Kebebasan informasi terutama dalam mendapatkan hak akses informasi dari Internet serta media massa lainnya seperti televisi, radio, surat kabar, buku dan lain sebagainya, juga merupakan nilai dasar dalam kehidupan berdemokrasi. Oleh karena itu kebebasan memperoleh informasi bagi masyarakat dapat menjadi dasar dalam meningkatan partisipasi dari masyarakat itu sendiri, mengingat ketersediaan informasi yang memadai tentunya akan dapat mendorong masyarakat untuk lebih mampu berpartisipasi dalam proses pembuatan kebijakan secara efektif dan berarti.

Pada kenyataannya, tidak semua negara mengecap kebebasan informasi. Di beberapa negara ASEAN saja, seperti Laos, Myanmar, dan Kamboja, informasi masih dikendalikan pemerintah. Tidak cuma mendapatkan akses informasi, bahkan kebebasan berekpresi menyampaikan informasi melalui blog saja sulit sekali.

Guru pemasaran Hermawan Kartajaya mengungkapkan di  Pre-Conference ASEAN Blogger Festival 2013, Jakarta (20/4/2013),  di ASEAN hanya di negara Indonesia dan Filipina saja yang memiliki kebebasan berekspresi.

Thailand (135) meskipun index kebebasan press-nya dinilai Reporter Without Border lebih baik dari Indonesia (139), namun nyatanya di sana orang tidak bisa seenaknya mengritik keluarga kerajaan, termasuk di sosial media. Sementara di Indonesia seperti  juga di Filipina, orang bisa sehari tiga kali mencaci pemerintah lewat Twitter. Di Vietnam, pemerintah langsung menyatakan akan menghukum berat blogger yang mengkritik pemerintah.

Mirip di Indonesia

Dalam beberapa hal, soal kebebasan informasi dan kebebasan berekspresi di Filipina memiliki sejumlah kesamaan. Di Indonesia dua kebebasan tersebut  tidak bisa diumbar sebebas-bebasnya. Pemerintah RI tetap mengaturnya di dalam UU RI no. 11 tahun 2008.

Di Filipina pada 12 september 2012, telah dibuat UU antikejahatan internet atau biasa disebut Cybercrime Prevention Act of 2012. UU tersebut dibuat bertujuan untuk mengatasi masalah hukum yang menyangkut interaksi secara online  di Filipina. Di antara pelanggaran cybercrime adalah cybersquatting, cybersex, pornografi anak, pencurian identitas, akses ilegal ke data dan pencemaran nama baik.

Dengan UU itu maka kejahatan di dunia maya diancam dengan ganjaran hukuman maksimal 12 tahun penjara selain hukuman denda.

Pose alay ABG Filipina pun mirip ABG Indonesia. (foto:google)

UU tersebut ternyata mengundang reaksi dari para jurnalis dan sejumlah blogger di Filipina. Setali tiga uang dengan di Indonesia.  Bahkan ada beberapa hacker yang kemudian  meretas situs pemerintahan. Lembaga hak asasi yang berkantor di Amerika Serikat, Human Right Watch, juga berkomentarmenyebut undang-undang itu akan menghambat kebebasan berbicara.

Sepekan kemudian, Mahkamah Agung di Filipina melarang pemberlakukan undang-undang baru tentang kejahatan internet tersebut, yang oleh para pengamat dikatakan menghalangi kebebasan berpendapat. Setelah melewati beberapa sidang dan penundaan keputusan, akhirnya pada 24 Mei 2013, kementerian hukum setempat menghapus aturan tentang pencemaran nama baik secara online. 

Yang berbeda dengan di Indonesia, pemerintah Filipina mau mendengar masukan dari jurnalis, blogger  dan sejumlah aktivis HAM agar menunda pelaksanaan UU antikejahatan internet itu.  Nasib Undang-undang ini selanjutnya akan diurus oleh rapat senat Filipina nanti.

Mengapa Mirip?

Mengapa kondisi kebebasan informasi dan kebebsan berekspresi di Filipina nyarisa sama dengan di  Indonesia. Karena ternyata banyak kesamaan yang bisa dilihat dari dua negara ASEAN ini. Keduanya sama-sama masuk dalam euphoria demokrasi yang hampir bersamaan, setelah satu era pemerintahan yang berlangsung lama. Secara demografis, keduanya sama-sama negara kepulauan, walaupun Filipina lebih kecil. Keduanya juga memiiki tingkat korupsi yang tinggi, sehingga masyarakat ingin mengkritik system yang ada sebanyak mungkin.

Entah dengan undang-undang atau tidak, saya merasa Filipina dan Indonesia tetap harus memiliki aturan untuk kebebasan informasi dan kebebasan berekspresi agar tidak kebabablasan. Pendidikan dan sosialisasi etika begaul di dunia maya harus terus dilakukan.


Apabila Filipina (juga Indonesia) berhasil menumbuhkan kesadaran agar masyarakatnya memakai internet untuk hal-hal positif, tidak mustahil negara-negara ASEAN lainnya akan lebih terbuka pula dalam kebebasan informasi dan kebebasan berekspresi, meniru Filipina. Apalagi saat mulai diberlakukannya Komunitas ASEAN 2015,  setiap blogger di  masing-masing negara saya harapkan dapat menulis apa saja tentang negara ASEAN lainnya, untuk masyarakat ASEAN yang lebih kondusif.

Saya pikir unuk Komunitas Blogger ASEAN, blogger Indonesia bisa lebih banyak melakukan kerja sama dengan blogger Filipina. Ada yang nggak setuju?

OOooOO

referensi: wikipedia dan BBC.

Tulisan ini diikutsertakan dalam
 #10daysforASEAN

Sunday, September 1, 2013

Belajar dari Pedra Branca


 
Ini dia Pedra Branca
.(sumber foto: http://wilayahpembangunaniskandar.files.wordpress.com)


Pedra Branca? Ya, saya ingat. Karena saya pernah punya kenangan dengan nama ini.
Pedra Branca atau orang Malaysia menyebutnya Pulau Batu Puteh adalah nama sebuah pulau seluas 8.560 meter persegi di Selat Singapura. Pedra Branca awalnya dalam wilayah Kesultanan Johor yang didirikan pada tahun 1528.

Sengketa Malaysia dan Singapura mengenai kepemilikan atas Pedra Branca muncul  pada tahun 1979 ketika pemerintah Malaysia menerbitkan sebuah peta yang memasukkan pulau Pedra Branca dalam wilayah kedaulatan Malaysia. Kemudian Malaysia berargumentasi pula bahwa Kesultanan Johor sempat memiliki pulau itu pada abad ke16. 

Singapura bereaksi dengan  menyampaikan protes resmi atas pengakuan Malaysia tersebut pada  15 Februari 1980 yang menolak klaim Malaysia dan meminta untuk mengakui kedaulatan Singapura atas Pedra Branca.

Menurut Singapura, Inggris mendapatkan hak atas pulau itu sejak tahun 1847 dengan bukti sejarah sudah membangun mercusuar Horsburgh di Pedra Branca pada tahun 1847. Selanjutnya pada tahun 1852 hingga 1952, Singapura mempunyai bukti surat menyurat antara Colonial Secretary of Singapore kepada British Adviser to the Sultan of Johor tahun 1953, Acting Secretary of Johor menyatakan bahwa “Johore Government does not claim ownership of Pedra Branca.“ 

Malaysia dan Singapura berusaha menyelesaikan sengketa melalui serangkaian negosiasi bilateral dari tahun 1993 sampai tahun 1994. Akhirnya keduanya sepakat menandatangani Perjanjian Khusus pada tanggal 6 Februari 2003 (yang mulai berlaku pada tanggal 9 Mei 2003) dan menyerahkan sengketa kepada Mahkamah Internasional atau International Court of Justice (ICJ) pada  24 Juli 2003, karena salah satu alternatif penyelesaian sengketa secara hukum atau judicial settlement dalam hukum internasional adalah penyelesaian melalui Mahkamah Internasional.

ICJ pada 23 Mei 2008, menetapkan Singapura sebagai pihak yang berdaulat atas Pedra Branca. Malaysia memperoleh hak Batuan Tengah. Sementara Karang Selatan yang masih satu gugusan masih belum jelas kepemilikannya. Indonesia sebenarnya lebih berhak atas Karang Selatan karena wilayah itu lebih dekat dengan Indonesia, yakni 7 Mil dari Pulau Bintan (Kepri), sedangkan Malaysia (Johor) 10 Mil bahkan Singapura jaraknya lebih jauh lagi, 21 Mil .

Dampak Sengketa

Sengketa mengenai wilayah selalu menimbulkan ketegangan antara pihak yang bersengketa dan memunculkan sentimen nasionalisme sesaat di dalam negeri yang dapat membahayakan stabilitas dan ketegangan di kawasan, dalam hal ini tentunya ASEAN.

Saya pernah merasakan ketegangan itu karena pada Mei 2008 saya sedang di Kuala Lumpur, Malaysia. Saya membaca di koran-koran setempat reaksi warga Malaysia yang kecewa dengan keputusan itu. Bisa dibayangkan selama 29 tahun, sejak sengketa dimulai, warga dua negara itu diam-diam memendam percik api permusuhan. Dan, saya kerap membaca itu di forum-forum diskusi politik di Internet.

Saya sempat pula membayangkan terjadi perang antara Malaysia dan Singapura, seperti yang terjadi di beberapa negara saat bersengketa soal wilayah perbatasan, India dan Pakistan misalnya. Singapura, walaupun kecil wilayahnya memiliki militer yang handal dan alutsita yang sangat modern.  Dan Malaysia pun bukan negeri yang tak pernah memperbaikin angkatan perangnya.

Jika Singapura dan Malaysia berperang, maka sudah pasti ASEAN akan menjadi sorotan dunia. Bagaimana dua negara dalam satu organisasi teritorial bisa dibiarkan perang? Bukan cuma itu. Dampak perang pun akan merembet ke mana-mana. Dan Indonesia sebagai negara tetangga akan terkena getahnya.

Tapi untunglah, Singapura masih mengupayakan penyelesaian sengketa secara damai. Inilah jalan terbaik untuk menghindari pengorbanan nyawa yang tidak dibutuhkan. Padahal, percik bentrok senjata memungkinkan terjadi pada 1980-an. Saat itu Kapal Polisi Kelautan  Malaysia memasuki perairan sekitar Pedra Branca. Namun Singapura menahan diri. Pemerintah Singapuran telah memberi instruksi ketat kepada angkatan lautnya untuk tidak meningkatkan masalah.

Pada tahun 1989, Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad pernah melakukan kunjungan mendadak ke sekitar Pedra Branca. Kapalnya dicegat oleh kapal angkatan laut  Singapura. Untuk menghindari insiden internasional, angkatan laut Singapura hanya mengarahkan kapal yang ditumpangi Mahathir Mohammad agar menjauh.

Memetik Pelajaran

Siapapun bisa memetik banyak pelajaran berharga dari kasus ini. Apalagi negara-negara ASEAN yang masih dalam satu kawasan. Beberapa hal yang bisa dipetik antara lain lebih mementingkan perdamaian di kawasan ASEAN untuk setiap persengketaan antar negara yang muncul, dan melakukan upaya diplomasi  terlebih dahulu. Keterlibat diplomat ulung serta pakar hukum internasional mutlak diperlukan.

ASEAN sendiri sudah ASEAN menelurkan berbagai traktat seperti Asia Tenggara sebagai zona damai, bebas, dan netral (zone of peace, freedom, and neutrality), zona bebas senjata nuklir, treaty of amity and co-operation (TAC), dan berbagai persetujuan kerja sama lainnya.

Dan menjelang berlakunya Komunitas ASEAN 2015 salah satu pilar telah pula diputuskan yakni Komunitas Politik Keamanan ASEAN (ASEAN Political Security Community/APSC) ditujukan untuk mempercepat kerjasama politik keamanan di ASEAN guna mewujudkan perdamaian, termasuk dengan masyarakat internasional.Saya optimis pilar ini akan bermanfaat dan berjalan. Karena masyarakat ASEAN yang saya tahu, walaupun akan berjuang mati-matian demi wilayahnya, tapi akan menempatkan perang militer sebagai upaya paling terakhir. Sebisa mungkin tidak perlu malah.

OOooOO

Referensi: Wikipedia, kemlu.co.id
Tulisan ini diikutsertakan dalam:
#10daysforASEAN