Monday, November 5, 2012

[BUKU] KUMCER Remaja Benny Rhamdani COWOK KHAYALAN - Tamat


Peri-Periku
DULU ketika nenekku masih ada, nggak pernah aku lewatkan malam tanpa dongengnya. Yang paling kusuka kalau cerita itu ada tokoh peri-nya. Sayangnya, nenekku nggak pernah bisa menjelaskan, mengapa peri-peri itu harus perempuan.
“Sudah dari sananya, Sisi. Lagian kalau lelaki, namanya pasti bukan Peri, mungkin Parjo,” kata nenek.
“Ah, Nenek!” seruku tak puas. Sampai akhirnya nenek meninggal, aku belum menemukan jawaban yang pas.
Di bangku kelas empat SD, baru kutemukan sosok peri cowok. Mmm, sebenarnya dia juga manusia. Cuma, suatu hari aku lupa bahwa saat itu ada tugas menggambar. Sampai di kelas, buru-buru kukerjakan sebisaku. Sebenarnya, aku nggak begitu bisa karena Pak Minto mewajibkan murid perempuan menggambar bunga. Sampai tanda bel masuk berbunyi, aku masih belum yakin dengan apa yang telah kugambar.
Pak Minto meminta kami mengumpulkan tugas.
Dadaku dag-dig-dug sewaktu Pak Minto mulai memeriksa gambar-gambar di depannya. Hening, Pak guru yang berkumis lebat itu berkerut, tak lama kemudian.
“Sisilia! Apa yang kamu gambar ini?” teriaknya kemudian.
“Bunga, Pak,” jawabku langsung.
Pak Minto mengangkat buku gambarku dan menunjukkan karya besarku itu ke depan teman-temanku. ”Ayo, siapa yang tahu bahwa gambar ini bunga?” tanya Pak Minto.
Tahu-tahu, sebentuk lengan diangkat dari bangku belakang.
“Primadi! Ya, bunga apa ini?”
“Bunga matahari ketabrak truk, terus ketiup angin ribut!”
Seisi kelas tertawa. Termasuk aku. Tapi, Pak Minto malah marah. Ia kemudian menyuruh aku dan Primadi berdiri di sudut kelas, selama pelajaran menggambar. Pertolongan Primadi memang nggak besar, hanya menemaniku dihukum di depan kelas. Tapi, itu sudah jadi cukup alasan, untuk kemudian aku memanggil dan menganggapnya sesosok Peri.
Meskipun mulanya nggak suka, akhirnya ia mau juga dipanggil Peri. Apalagi ketika anak-anak lain juga memanggil sama sepertiku. Dan, nama panggilannya semula, yakni Jabrik, jadi terlupakan. Lagian, rambutnya memang sudah dikeriting.
Peri pertamaku ternyata tak bertahan lama. Saat kenaikan ke kelas enam, ia pindah entah ke mana. Kalau nggak salah, dia ke London mengikuti papanya yang harus tugas di sana. Sebulan kemudian, aku sakit parah. Bukan karena ditinggal Peri, tapi kata dokter, ginjalku rusak. Saking lamanya dirawat, aku terpaksa mengulang sekolahku di kelas enam, sementara teman-temanku masuk SMP. Tapi yang sempat menghiburku, aku menemukan Peri yang kedua.
Sore itu hari pertamaku di ruang rawat. Seorang anak perempuan yang semula terbaring di sebelah tempat tidurku, tahu-tahu meloncat ke sebelahku. Rambutnya yang tipis dan rontok hampir menakutkanku, kalau saja ia tak buru-buru tersenyum manis.
“Kamu mau ikutan main denganku?” tanyanya. Matanya bergerak nakal.
“Main? Main apa?”
“Pokoknya rame. Sebentar lagi, akan datang suster memeriksa kita. Nah, pas giliran aku dimasuki termometer, kamu harus memanggil dan mengajakya bicara selama mungkin. Bisa, nggak?”
Aku hanya mengangguk. Sepuluh menit kemudian, datang suster memeriksa enam anak yang satu ruangan denganku. Setelah si suster memasukkan termometer ke dalam mulut anak perempuan itu, aku langsung memanggil suster tersebut. Kukeluhkan sedikit perutku. Ia memeriksa dan menghiburku. Setelah kurasa cukup, ia membalik ke arah anak perempuan itu.
Sedetik kemudian, aku melihat wajah sang suster pucat dengan mulut menganga. Ia kemudian buru-buru meninggalkan kami. Aku baru tahu apa yang terjadi kemudian. Ternyata, anak perempuan itu punya termometer yang sama dengan suster tadi. Termometernya ia masukkan ke dalam air panas yang sudah ia siapkan. Saat suster itu membalikkan badannya, ia menukar termometer di mulutnya dengan miliknya. Pantas saja kalau suster tadi kaget karena melihat suhu yang tertera di atas normal.
Ia lantas menyebutkan namanya, Peni. “Tapi, kamu boleh memanggilku apa saja. Di sini, para suster memanggilku si Bandel, ada juga yang memanggilku Botak,” katanya.
“Bagaimana kalau kamu kupanggil Peri saja? Aku suka nama itu.”
“Boleh saja. Karena kamu menambahkan hurup R di namaku, aku juga akan menambahkannya di namamu. Aku akan memanggilmu Sisir, hehehe ….”
Kebandelan Peri yang kedua ini, ternyata jauh melebih kebandelan anak cowok yang pernah kutahu. Ia bahkan pernah membawa seekor kecoa dari wc, lalu melepaskannya di pundak suster yang datang. Tentu saja, suster itu jadi meloncat-loncat kegelian dengan wajah pucat. Di balik itu, Peri juga cukup baik dengan sesama teman di ruangan. Ia suka membagikan buah-buahan di mejanya, terutama untuk Wanda yang sepertinya jarang dibesuk.
Dua minggu dirawat, menjadi tak terasa. Sampai suatu pagi, saat aku terbangun, aku nggak melihat Peri di ranjangnya. Setelah diberi tahu Peri meninggal dunia semalam, aku menangis seharian. Aku benar-benar kehilangan dia. Papa akhirnya memindahkan aku ke ruang lain, agar sakitku nggak makin parah.
Masuk bangku SMP, aku kembali mencari-cari orang yang bisa kujadikan Peri ketigaku. Akhirnya, kudapatkan ketika aku mengikuti kegiatan paduan suara di sekolah. Namanya Ferry, tapi dia nggak keberatan ketika kupanggil Peri.
Ia banyak menolongku mengajarkan cara bernyani yang baik, juga bahasa Inggris. Bahkan, ia mau saja menemaniku ke mana saja sekalipun pada acara yang anak cowoknya dia. Aku nggak tahu mengapa ia begitu baik, sementara aku belum pernah menghitung kebaikanku padanya.
Cuma belakangan, aku melihat kejanggalan yang tak kumengerti. Peri ketigaku ini sering ngobrol dengan teman-teman cewek yang lain, soal teman-teman cowok yang ganteng. Dia juga pernah setengah memaksa meminta foto abangku, ketika main ke rumahku. Karenanya, aku terpaksa meninggalkannya. Lagi pula, ia mulai akrab dengan Eko, anak lelaki yang cara dan jalannya itu, mengingatkanku pada seekor bebek.
Sejak itu, aku agak selektif memilih calon-calon peri. Bahkan di bangku SMA, aku nggak menemukannya sama sekali. Sekali sih, pernah cowok bernama Ferdi mendekatiku dan menyatakan ingin menjadi pacarku.
“Boleh saja, tapi kamu harus mau kupanggil Peri,” kataku memberi syarat.
Mulanya ia menyetujui. Tapi, ketika aku mulai memanggilnya dengan nama itu di depan teman-teman dan keluarganya, ia mulai menjauhiku. Ah, biarin aja. Aku yakin kok, suatu saat nanti, akan benar-benar hadir sosok Peri di hadapanku.
***
SIAPA bilang, perpeloncoan di bumi Indonesia ini sudah dihapuskan?
Aneh, kok masih bertahan juga sih, sisa-sisa peninggalan kolonial di sini. Seperti yang kualami kini. Setelah masa orientasi kampus yang melelahkan, para mahasiswa baru diminta ikut perkemahan yang diadakan himpunan jurusan. Ancaman bagi yang nggak ikut, cukup menakutkan. Akan dikucilkan! Nggak boleh ikut kegiatan himpunan yang spektakuler sekalipun, bahkan nggak boleh ngobrol dengan senior.
Terpaksa aku ikut. Meskipun aku mendengar dari senior lain bahwa perpeloncoan Himpunan Mahasiswa Jurnalistik adalah yang paling sadis di Fakultas Ilmu Komunikasi.
“Ya, turun semua! Istirahat sepuluh menit! Jangan ada yang cengengesan!” Seorang senior perempuan berteriak, ketika truk yang ditumpangi empat puluh lima mahasiswa baru, berhenti di sebuah perkebunan teh.
Aku turun seperti yang lainnya. Kubuka botol air mineral dari ranselku. Baru seteguk air kurasa, tahu-tahu suara jeritan terdengar keras di dekatku.
“Heh, siapa yang suruh kamu minum?! Cepat berdiri dan pergi menghadap Tatib di sana!” Senior bawel itu menghardikku.
Aku berdiri tanpa bisa protes dan berjalan mencari senior yang bertanda khusus. Aturan mainnya memang telah ditetapkan. Yang menghukum cuma senior dari bagian tata tertib. Akhirnya, kudapatkan juga senior cowok mengenakan pita merah di lengan bajunya, yang tengah berdiri sendirian.
“Maaf, Kak, saya diminta menghadap karena kesalahan saya,” kataku tanpa berani menatapnya.
“Apa kesalahanmu?” Suara itu terdengar menggelegar.
“Minum sebelum waktunya.”
“Bagus! Siapa nama kamu?”
“Sisilia.”
“Siapa?! Sisilia?”
Kulihat dia melotot ke arahku. Entah hukuman seberat apa yang akan ia berikan, setelah mendengar namaku.
“Kamu tahu siapa saya?” tanyanya kemudian.
“Tahu. Kakak dari bagian Tatib.”
“Bego banget sih, kamu! Maksudnya nama saya!” Suaranya makin meninggi.
Aku mencoba mengamatinya sekilas. Rasanya, aku nggak melihat senior satu ini ketika pengarahan kemarin.
“Lihat muka saya! Perhatikan!”
Aku mengamati mukanya. Rahangnya yang kukuh, hidungnya, matanya, dan … kok, yang muncul malah nama Justin Timberlake. Tapi, nggak mungkin Justin membentakku dalam bahasa Indonesia.
“Ya udah, kalo nggak kenal. Kali ini, kamu lolos dari hukuman. Tapi, kalo nanti menghadap lagi, masih belum kenal saya juga … AWAS!”
“Terima kasih, Kak!” Aku langsung berbalik lega. Buru-buru aku ke kelompokku. Rasanya, masih ada waktu untuk istirahat beberapa menit.
“Diapain kamu tadi?” tanya Arni, yang dekat denganku sejak penataran.
“Nggak diapa-apain. Kamu lihat sendiri dari sini, kan? Cuma, aku disuruh nyari tau namanya. Padahal, dia kan, nggak datang di acara kemarin. Jelas aku nggak tau namanya.”
“Jadi, kamu benar-benar nggak tahu namanya? Ya ampun, kamu tuh kuper banget, sih! Dia kan Kemal, mantan coverboy empat tahun lalu. Cukup sering lho, dia mejeng di majalah. Malah, sempat main sinetron. Kamu tau temen kita, Winda, yang dari Sukabumi itu? Nah, dia malah pengin kuliah di jurusan ini, gara-gara ngefans berat sama Kemal,” jelas Arni panjang lebar.
Aku ternganga. Oh, jadi dia coverboy! Pantas lagaknya macam begitu. Huh! Tapi, apa iya sih, cuma karena dia coverboy dan pernah main sinetron, semua orang harus tahu namanya? Bagaimana dengan aku, yang cuma hobi baca komik Asterix dan nonton film Hollywood? Benar-benar keterlaluan!
Belum reda rasa gusarku, para senior sudah menyuruh kami melakukan perjalanan melintasi dua bukit, sebelum sampai ke lokasi perkemahan. Entah sengaja atau nggak, dalam perjalanan, beberapa kali aku melihat Kemal tengah memandang ke arahku. Mungkin, dia tengah merencanakan hukuman paling memalukan untukku kelak.
Ya, aku harus berusaha nggak bikin kesalahan sekecil apa pun lagi! Tapi, dasar sial! Malamnya, ketika diadakan pemeriksaan perbekalan, aku ketiban sial. Lilin yang kubawa patah, meskipun aku sudah menyimpannya hati-hati.
“Kamu ke pos satu dan beri tahu kesalahanmu!”
Buru-buru aku berlari, sebelum dibentak kasar. Pos satu yang kucari tak jauh dan betapa kagetnya aku, ketika melihat siapa senior yang sudah menungguku.
“Lagi-lagi kamu! Nah, sekarang, pasti kamu sudah tahu siapa saya. Kalau benar, kamu nggak akan dihukum ….”
“Nama Kakak … Kemal.”
“Cuma itu?”
“Kakak pernah jadi coverboy, juga main sinetron.”
“Ada yang lain?”
Oh, apa lagi yang kutahu? Mestinya, aku tadi bertanya banyak kepada Arni.
“Kamu keterlaluan banget. Tutup matamu dengan ini!” katanya sambil memberikan slayer. Aku segera mengikatnya hingga menutup mataku. Tanganku kemudian ditariknya dengan kasar, hingga aku harus berlari mengikutinya. Entah berapa jauh aku berlari. Tapi, mendengar teriakan-teriakan sekitarku, aku yakin, bukan cuma aku yang diperlakukan seperti ini.
“Sekarang, buka slayernya!”
Aku menuruti kalimat itu. Kulihat ia berdiri di depanku. Setelah berlari tadi, kurasa tubuhku sedikit hangat. Tapi, aku nggak tahu berada di mana kini, lantaran di sekitarku hanya ada pohon teh.
“Kalo sekarang, masih nggak ingat apa-apa tentang aku?” tanyanya bersiteguh.
Aku tetap menggeleng. Rasanya, aku benar-benar tersiksa.
“Bagaimana kalau kusebutkan, ‘bunga matahari ketabrak truk, lantas ketiup angin ribut’, kamu ingat?”
Aku mengerutkan dahiku. Rasanya, nggak percaya mendengar kembali kalimat yang dulu pernah kudengar. Jadi ….
“Kamu Peri? Mmm … maksudku Primadi. Tapi, kamu kan, Kemal ….” Aku terbata-bata.
“Kemal Primadi. Tapi, dulu aku selalu menyingkat nama depanku. Lagian, orang lebih senang memanggilku Jabrik, sampai kemudian kamu memanggilku Peri. Oh … syukurlah, kamu sekarang sudah mengingatku. Bertahun-tahun aku mencarimu. Bahkan, aku ikutan coverboy, dengan harapan kamu kemudian bisa mengenaliku dan menyuratiku. Tapi, nggak ada. Tau nggak, setelah pisah dengan kamu, aku selalu berusaha mencari penggantimu. Aku pengin punya teman bernama Sisil. Tapi, nggak ada yang seperti kamu.”
Aku tersenyum. “Sekarang setelah ketemu, apa yang akan kamu lakukan?”
“Aku ingin kita bisa dekat lagi seperti dulu. Bahkan, kalau bisa …. Eh, ada senior yang datang … Jadi, itu kesalahanmu?! AYO, TUTUP MATAMU!”
Aku terpaksa menahan tawa, mendengar nada suaranya yang tiba-tiba meninggi itu. Aku nggak peduli lagi, gimana Peri yang pertama singgah dalam hidupku ini, mengajakku berlari kembali menuju perkemahan. Aku gembira, tanpa bisa kujelaskan bentuknya.
Dan, perpeloncoan ini jadi nggak terlalu mengerikan buatku. Apalagi Kemal, eh Peri, sempat berbisik tadi, “Kalau kena hukuman, cepat cari aku. Biar kamu nggak sampai dimacam-macamin yang laen!”
Hihihi …, curang sebenarnya. Tapi biar gimana juga, tugas seorang Peri di mana pun, memang harus menolong, sih!
***
Tentang Sebuah NamaPemenang 3 Lomba Cerpen ANITA CEMERLANG 1991
AVANZA hitam metalik, berhenti di depan rumah Olin. Seorang cowok bertubuh atletis keluar dari mobil itu, lalu disambut Olin di pintu masuk. Semenit kemudian, Olin pergi bareng cowok dengan Avanza hitam itu.
                Fira mengerutkan kening sesaat. Siapa cowok itu? Sudah dua kali ia memergoki kedatangan cowok itu dari jendela kamarnya. Setelah menimang-nimang sebentar HP-nya, Fira mengurungkan niat menelepon sahabat kentalnya itu.
                Mendingan gue selidikin aja tuh cowok, Fira membatin.
                Sambil membawa novel tinlit terbaru, Fira melenggang ke rumah Olin di seberang rumahnya. Mamanya Olin, Tante Vena, menyambut Fira dengan senyum ramah di ruang tengah.
                “Olin baru aja berangkat ke Goethe,” ujar Tante Vena.
                “Nggak apa-apa kok, Tan. Cuma mau balikin buku yang Fira pinjem,” kata Fira sambil mengacungkan novel di tangannya.
“Simpen aja di kamarnya.”
“Iya, Tan. Mau sekalian liat-liat yang lain.”
Fira dengan bebasnya masuk ke kamar Olin. Persahabatan mereka sudah terjalin sejak kecil. Jadi, saling masuk kamar tanpa harus ada penghuninya, sudah lumrah. Begitu di dalam kamar Olin, Fira menjalankan rencananya. Ia menjelajahi segala penjuru kamar itu, sampai akhirnya … Ketemu! Yup, diary Olin akhirnya ditemukan di rak buku paling bawah. 
Hm …, dari mana mulainya, nih? Nah, ini dia!

Reboke, 6 Oktober
…Kelas Deutch gue udah dimulai hari ini. Rasa-rasanya, gue akan betah di kelas ini. Soalnya, gue kebagian guru yang oke. Selain itu, teman-teman sekelas gue juga oke-oke banget. Tapi, satu yang paling oke. Namanya Donny.
Aduh, Fira pasti nyesel banget, kalo tau gue sekelas ama cowok secakep Donny. Salah sendiri, kenapa nggak mau ikutin gue kursus di Goethe. Pake alasan takut bosen segala lagi. Gimana mau bosen, kalo sekelas sama yang asyik-asyik gini ….

Kemishooping, 8 Oktober
Sebel banget deh, si Fira. Duit bulanan gue udah abis buat belanja buku, eh dia malah nyeret gue ke Semanggi Plaza. Katanya, ada sale gede-gedean! Hah! Dia sih enak, nggak gitu hobi beli novel … bisanya nebeng baca doang. Jadi, masih punya uang buat belanja-belenji. Wueeekkk! Untung hati Fira terbuat dari emas. Gue dibeliin t-shirt warna bluesky yang gue suka. Thx, Fir. Elo baek banget, deh.
Malemnya gue dapat SMS dari Donny. Isinya bikin gue kaget, “Mlm Minggu gw blh dtg ga ke rmh elo?” Hah! Secepat ini? Santai aja napa, sih? Kalo sampe ketahuan Fira, alamat gue kurus kering bulan depan ….

Jumatauk, 9 Oktober
Tadi Donny SMS lagi, soalnya gue dari kemaren nggak bales SMS-nya. Aduh, ngapain, sih? Ya, gue tolak aja. Gue bilang, kalo gue tuh, nggak bisa nemuin dia di malam Minggu. Eh, dia malah nyindir, gue mau diapelin cowok gue. Ihhh, siapa lagi yang punya cowok. Masih jomlo gini juga. Emang sih, kata orang, tampang gue bukan tampang jomlo. Hihihi …, orang yang ngomong gini, langsung gue kasih Rp10.000, lho!
Lagian, gue udah janji nonton konser Idol di Balai Sarbini malam Minggu ama Fira. Gue sih, nggak bilang-bilang ke Donny. Kalo dia nekat ngikutin, bissa berabe. Iihhh, gue masih terikat kontrak ama Fira, yang bisa bikin gue kurus kering kalo ketahuan naksir Donny…. Au ah, gelap!

Seninekadz, 10 Oktober
… Kelas Deutsch gue hari ini, seru banget gara-gara Donny. Dia terus salah mulu, nyebutin bacaan dalam bahasa Jerman. Mungkin saking fasihnya ngomong Inggris, dia jadi keseleo lidah. Padahal, bacaan Jerman ama Indonesia tuh, mirip.
Pulang Goethe, Donny nawarin gue pulang. Nggak, ah. Gue belum kenal siapa dia. Enak aja. Nanti gue diculik, gimana?
Sampe di rumah, Fira datang ngebawain gue roti-roti enak dari Breadtalk. Yummy….

Selasabingung, 11 Oktober
…Donny telepon ke HP, pas gue jalan ama Fira ke pameran buku. Untung aja baterai gue langsung ngedrop. Jadi gue nggak ketauan Fira, deh….

                Rebosunyi, 12 Oktober
                … Donny nggak masuk kelas Deutch. Ih, rasanya kok sepi, sih! Aduh, gue kenapa, ya? Ujug-ujug nggak semangat gini? Pengin SMS dia, tapi gengsi, ah! Ujung-ujungnya, gue merasa bersalah sama Fira. Selama dia ceritain pengalaman lucunya tadi, gue asli nggak bisa ketawa. Untung ceritanya cuma lewat HP….

                Jumatkaget, 14 Oktober
                … Donny SMS. Gue ampe loncat-loncat sendirian kayak orang gila di kamar. Tapi begitu baca isinya, giliran gue yang bingung. ‘Blh ga mlm Minggu ke rmh elo?’ dan gue buru-buru jawab, ‘Nggak bisa’….

                Seningubraks, 17 Oktober
                … Donny jemput gue! What’s? Iya, beneran! Nggak ada janji sebelumnya. Tau-tau dia nongol dan jemput gue. Penginnya sih, marah. Tapi, mulut gue kok, malah ngerapet terus. Aduh, gimana ya, kalo Fira tau? Mudah-mudahan dia tadi tidur siang!
                Pas pulang kursus, gue langsung ngacir! Jangan sampai gue ketangkep basah sama Fira … Tapi, gimana ya, kalo Rebo nanti si Donny ngejemput gue lagi??? Huaaaaaa!!!

                Selasaduh, 18 Oktober
                … Ini emang gila banget! Masa gue udah merasa ada sesuatu yang lain di hati gue. Baru kali ini gue ngalamin hal kayak gini. Fenomena! Aduh, semua gara-gara Donny! Gue bingung, neh. Pengin cerita ama Fira, nanti gue malah jadi kurus kering. Lagian, kenapa sih namanya harus Donny??? Wah, kalo gue jadian sama dia, berarti nanti gue harus backstreet dari Fira ….

                Fira mendengus kesal. Ia menutup diary Olin dan mengembalikan ke tempat semula. Ia meninggalkan kamar Olin dengan dada berguruh.
***
                “POKOKNYA, gue nggak mau punya cowok, kalo namanya bukan Donald. D-O-N-A-L-D!”
                “Jangan asal gitu kalo ngomong! Hari gini, nyari cowok yang namanya Donald itu, susah tau! Apalagi di Indonesia!” sergah Fira.
                “Siapa bilang susah? Kalau emang nggak ada di sini, ya berarti gue harus nyari di Internet. Gampang, tinggal klik, kan?”
                “Kalo ternyata elo jatuh cinta sama cowok yang namanya bukan Donald?”
                “Nggak mungkin!”
                “Kalo terjadi?”
                “Biar nanti uang jajan gue selama tiga bulan, elo ambil semua, deh!”
                “Janji, ya! Gue catet, nih!”
                “Dan, kalo gue dapat cowok namanya Donald, elo yag harus nyerahin uang jajan selama tiga bulan.”
                Ikrar itu diteriakkan Olin sekitar tiga bulan lalu. Tepat saat Olin menyatakan diri sebagai pengagum berat Donald Duck. Olin memang bukan penggemar sembarangan kartun bebek itu. Seisi kamarnya pun, mulai diganti  pernak-pernik berbau Donald Duck.
                Dan, kini ….
                Kenapa dia harus membohongiku? Kenapa ia menutup semua ini sendiri? Bukankah aku sahabatnya? Apa artinya semua ini?
                Fira mendesah sambil menatap langit-lagit kamarnya. Persahabatan sejak kecil, membuat mereka tak pernah saling menyimpan rahasia. Bahkan, ketika Fira mendapat haid pertamanya, justru Olin yang diberi tahu pertama kali.
                Fira tak habis pikir, kalau ketakutan Olin, semata-mata lantaran uang jajannya!
                “Aku harus ngebales dia!” teriak Fira sekeras-kerasya di kamar.
***
                “Tumben pagi gini. Olin masih mandi.”
                “Mau nyalin pe-er, Tan.”
                Fira masuk ke kamar Olin setelah melempar senyum mamanya Olin. Sementara dari kamar mandi, terdengar guyuran shower. Fira buru-buru mencari HP Olin di laci meja belajar. Begitu ketemu, dia langsung membuka inbox dan menemukan SMS dari Donny yang belum dihapus Olin. Buru-buru Fira menyalin nomor Donny ke HP-ya.
                “Biar tau rasa!” gumamnya sambil terseyum.
***
                “Ini Donny?”
                “Siapa, nih?”
                “Fira.”
                “Fira? Kayakya, gue pernah denger nama elo. Ng ….”     
“Gue sobatnya Olin.”
                “Ya, betul. Olin beberapa kali cerita tentang elo. Ada apa, nih?”
                “Gue pengin ketemu elo. Sejam lagi di Café La Toya.”
                “Wah, gue nggak bisa.”
                “Kalo gitu, selamanya elo nggak akan bisa jadi pacar Olin. Udah, ya! Jangan bilang-bilang Olin. Ini top secret!”
                “Eh, tunggu dulu ….”
***
                “Jadi, elo beneran naksir Olin?”
                Fira menunggu jawaban Donny. Diperhatikannya cowok atletis dengan rambut jabrik di depannya. Keren abis! Boleh juga selera Olin!
                “Begitulah. Dan. elo serius bisa bantu gue jadi pacarnya? Terus, gimana elo bisa tau kalo gue naksir Olin?” Donny balik bertanya.
                “Tentu aja, gue ini sobatnya Olin. Kenapa nggak? Itu gampang banget!” timpal Fira yakin. Ya, dari diary yang dibacanya, Fira sudah tahu isi hati Olin.
                “Kenapa sih, elo pengin banget bantuin gue jadian sama Olin?”
                “Ya, karena nama elo Donny!”
                “Ada apa dengan nama gue?”
                Fira tak segera menjawab. Ia menyeruput banana-split pesanannya.
                “Nama gue kampungan, ya?” tanya Donny bingung.
                “Nggak, kok. Ini soal janji doang. Dulu banget sebelum ketemu elo, Olin pernah bilang, cuma mau pacaran dengan cowok yang bernama Donald. Soalnya, dia suka banget Donald Bebek. Kalo dia melanggar, dia harus nyerahin uang sakunya selama tiga bulan ke gue.”
                “Ooo, gitu! Seru juga. Kalo elo yang kalah?”
                “Ya, gue melakukan hal yang sama!” Fira terus tersenyum penuh semangat.
                “Wah … kalo gitu, elo yang harus nyerahin uang jajan elo ke Olin ….”
                “Kok?”
                “Soalnya, nama asli gue Donald Saputra. Donny itu sama panggilan atau nama yang gue pake di tempat-tempat nggak resmi. Sebenarnya, gue nggak gitu suka nama Donald. Abisnya, dulu temen-temen sekelas manggilnya jadi lain. Kalo nggak dipanggil Donald Bebek, pasti McDonald. Makanya, gue suka ngenalin diri dengan nama Donny. Gue sendiri bingung, kenapa dulu bokap gue ngasih nama itu.”
                Fira masih membelalakkan matanya dengan mulut menganga. Kenapa posisinya jadi berbalik begini?
                “Ini KTP gue kalo elo nggak percaya.” Donny menyodorkan KTP ke arah Fira.
                Dengan sedikit lirikan, Fira bisa membaca nama di KTP itu. Ya, Donald Saputra! Makin lemaslah  tubuh Fira.
                “Sekarang, elo masih mau bantu gue dapetin Olin atau malah mau nyingkirin gue? Moga-moga elo tetap bantuin gue. Soal bayaran taruhan itu, biar nanti gue yang ganti. Pokoknya, elo bantu gue dapetin hati Olin ….”
                “Beneran nih, elo mau bayarin taruhan gue?”
                “Iya!”
                Fira lega. “Thanks. Terus, elo mau bantu gue juga nggak?”
                “Apaan lagi?”
                “Elo punya temen cowok yang namanya Conan, nggak? Soalnya, gue lagi tergila-gila ama komik Detektif Conan, nih!” ujar Fira dengan muka serius.
                Dasar Fira! Dia sengaja cari-cari topik baru untuk mengalihkan percakapan dari kesialannya, lantaran ternyata Olin benar-benar bakal mendapatkan cowok bernama Donald!
***

Sepasang Lulugu Biru
Pemenang 1 Lomba Cerpen Anita Cemerlang 1993

“HEH! Gue punya kejutan buat elo.”
                Rara mendongakkan kepala dari komik Asterix-nya. Dilihatnya Ludi masuk dengan senyum khasnya. Membuat Rara urung melemparkan beker di atas meja karena kekurangajaran cowok itu, seenak hati masuk ke kamar. Sudah berulang kali sebenarnya Rara mengingatkan Ludi bahwa mereka bukan lagi anak kecil dan mestinya mengerti yang namanya privacy.
                “Simpan dulu komik ini. Nggak bakal lari!” paksa Ludi. Tangannya menarik komik yang dipegang Rara.
                Rara menguntit Ludi. Semoga kali ini kejutannya bukan yang aneh-aneh. Tahun lalu, Ludi memberi kado ulang tahun yang membuat mukanya merah. Setengah lusin buku pengetahun tentang seks! Mana Rara membukanya di depan puluhan pasang mata lagi.
                Ludi terus berjalan ke luar rumah. Ia baru berhenti di depan VW kodok biru  tosca, kado ulang tahun ketujuh belas Rara dari papa dan mama sebulan lalu. Ludi membuka pintu mobil.
                “Nah, perhatiin deh, di dalam. Ada yang berubah, kan?” tunjuk Ludi sambil tetap tersenyum. Ia yakin, kali ini Rara akan terkejut bercampur senang karenanya.
                Rara memerhatikan satu per satu ruang dalam mobilnya. Jok kursi, koleksi kaset, dan tumpukan komik sudah ada dari kemarin. Tapi… mata Rara membelalak sewaktu melihat rangkaian bunga imitasi yang menggantung di kaca spion dalam mobil. Dadanya serasa sesak.
                “Ludi! Elo buang kemana Lulugu Biru gue? Trus, siapa suruh elo masang bunga jelek itu di dalam mobil?!” teriakan Rara menyengat kuping Ludi. Untung, nggak ada benda yang bisa dilempar ke arah Ludi.
                Ludi buru-buru masuk ke mobil, mengambil bunga plastik yang ia gantung. Sementara, didengarnya Rara terus memakinya habis-habisan.
                “Elo emang nggak tau diri banget! Nggak tau malu! Pokoknya, jangan temuin gue sebelum ngembaliin Lulugu Biru itu!”
                “Lulugu Biru?” tanya Ludi. Ia bingung karena omelan Rara bercampur dengan mata yang basah.
                “Boneka biru yang elo culik itu, Bego!” Rara cepat membalikkan badannya dan menghamburkan diri ke dalam kamar.
                Boneka yang berjajar rapi di dekat tempat tidur, tak mampu menghibur kesedihan Rara. Buat Rara, lebih baik ia kehilangan semua boneka mahal di kamarnya ketimbang Lulugu Biru. Boneka itu memang tampak tak berharga. Cuma sekecil telunjuk tangan Rara, dibuat dari kain satin berwarna biru. Tapi, kenangan manis yang menyertai Lulugu Biru, tak akan pernah dilupakan Rara. Tak pernah!
                Rara masih ingat saat sembilan tahun lalu, ia selalu merengek agar Bunda Ris mendongeng kisah Lulugu Biru setiap malam. Ia juga tak bisa melupakan, saat penghuni panti asuhan lainnya memandangnya iri karena Bunda Ris menghadiahinya sepasang boneka Lulugu Biru.
                “Sengaja Bunda memberikan sepasang boneka ini hanya kepadamu. Karena, cuma kamu yang suka kisah Lulugu Biru,” kata Bunda Ris saat memberikan sepasang Lulugu Biru. “Jaga baik-baik keduanya.”
                Rara pun masih ingat saat ia menangis seharian—dua hari sebelum kepindahan Rara ke rumah mama dan papa yang mengangkatnya—karena satu dari sepasang bonekanya hilang. Itu sebabnya, ia bertekad menjaga sisa satu boneka yang ia miliki.
                “Rara, kamu nangis?” Suara Mama yang menyembul di pintu kamar, mengejutkan Rara.
                 Rara menyeka matanya. Ia pernah berjanji dalam hati, nggak akan pernah nangis di depan mama lantaran akan membuatnya sedih.
                “Mama dengar kamu marah-marah tadi,” ujar mama seraya mendekati Rara. Dibelainya lembut tangan Rara.
                “Ludi cari gara-gara lagi, Ma. Lulugu Biru yang Rara gantung di mobil, dia ilangin,” tutur Rara. Ia menyesal memindahkan boneka itu dari kamarnya.
                Mulanya, lantaran beberapa hari ini ia sering bepergian dengan mobilnya, Rara merasa perlu memindahkan Lulugu Biru, agar senantiasa berada di dekatnya.
                “Tapi, nggak usah sampai maki-maki Ludi gitu, Ra. Jangan sampai kesalahannya nggak kamu maafkan.”
                “Ini kesalahan besar, Ma. Cuma Lulugu Biru yang bisa menenteramkan Rara bila teringat panti, Bunda Ris, dan ….” Rara memutus kalimatnya begitu melihat mata mama. Mama memang tak pernah mau mendengar Rara mengenang panti itu.
                “Ludi terlalu baik untuk kamu musuhi, walaupun dengan kesalahan sebesar apa pun, Ra. Ingat, siapa yang jadi teman perjalananmu pulang pergi ke sekolah sejak SD sampai sekarang? Siapa yang membelamu, kalau teman-teman mengejek kamu anak angkat, Ra? Siapa ….”
                Rara membiarkan mama menghitung-hitung kebaikan Ludi. Sementara pikirannya tertuju pada Lulugu Biru yang hilang.
***
                LUDI termangu menatap boneka koyak di tangannya. Ia bingung lantaran Rara nggak pernah cerita bahwa boneka itu amat berarti. Padahal selama ini, hampir nggak pernah ada rahasia antara mereka.
                Aku harus segera mengembalikan boneka ini, biar muka Rara nggak cemberut lagi, batin Ludi. Yang sudah-sudah, Rara sering menghukumnya bila ia marah. Dan, itu sangat tak diinginkan Ludi.
                Ia mengingat-ingat kepada siapa bisa minta tolong membetulkan Lulugu Biru yang koyak. Rasanya, mustahil memperbaikinya, tanpa menggantinya dengan yang baru. Untung, Ludi ingat saudara sepupunya yang kuliah di Fakultas Seni Rupa. Sore itu juga, ia bergegas menuju studio tempat Wibi sering berkumpul.
                Ludi senang sewaktu tiba di studio langsung bertemu Wibi. Tanpa basa-basi, ia langsung mengajukan permohonan. “Tolong deh, Bang Wibi, boneka ini kalo bisa dibetulkan secepatnya. Abis bingung, minta tolong ke siapa lagi, nih,” kata Ludi dengan muka memelas. Kalau nggak gitu, ia nggak yakin Wibi mau menolong.
                “Aduh, Di, kalo materi kain gini, gue nggak bisa. Kecuali, boneka ini dibuat dari gips, kayu, atau keramik,” timpal Wibi setelah mengamati boneka yang disodorkan Ludi. Tapi, Wibi tak tega membiarkan sepupunya itu tampak cemas. Ia berjalan mendekati temannya yang tekun mendesain mainan anak. “Res, elo bisa membetulkan boneka ini, nggak?”
                Resnu yang terusik, mulanya nggak ingin menghiraukan. Namun, mendadak raut mukanya berubah saat melihat boneka di tangan Wibi. Tangannya langsung meraih boneka itu.
                “Boneka siapa ini?” tanya Resnu cepat. Keningnya berkerut.
                “Gue nggak tahu. Sepupu gue yang bawa. Barangkali punya adik pacarnya. Kenapa emangnya?” Wibi bingung melihat reaksi Resnu.
                Resnu mendekati Ludi. Ia memerhatikan dengan saksama cowok yang duduk  dengan pandangan penuh harap kepadanya. “Elo tau nama boneka ini?” tanya Resnu seperti orang yang sedang menguji.
                “Ya. Lulugu Biru.” Ludi menyebut nama yang diingatnya.
                “Gue sih, bisa aja betulin boneka ini. Asal, elo mau janji.”
                “Janji apa?” Ludi belum mau memberi kepastian.
                “Ngenalin gue ama pemilik boneka ini.” Di benak Resnu, langsung terlintas bayangan seorang anak kecil dengan mata bundar dan suara tangis yang menggemaskan. Seperti apakah dia kini? Cantikkah?
                Ludi mengerutkan kening. Ia yakin, Resnu sudah mengenal Rara dari cara Resnu memandang Lulugu Biru. Tapi, apa hubungan mereka? Ludi yang mengenal semua teman Rara menjadi bingung.
                “Gimana?” tanya Resnu menyentak Ludi.
                Ludi mengangguk tanpa ragu-ragu. “Kapan kira-kira selesainya?”
                “Besok sore, gue ke rumah elo. Gue jamin, bonekanya udah jadi,” jawab Resnu sambil senyum.
                Senyum Ludi jauh lebih mengembang.
***

                RESNU nggak pernah bisa ngelupain Tara. Si Mata Bundar yang sering minta perlindungannya. Resnu berdoa setiap malam, agar mereka nggak dipisahkan. Tapi, doa memang ada yang dikabulkan dan nggak. Ia amat kecewa, begitu tahu Tara akan diangkat oleh sepasang suami-istri kaya.
                “Kamu jangan sedih. Masih banyak Tara lain yang bisa kamu jadikan adik,” hibur Bunda Ris setelah kepergian Tara.
                “Apakah Resnu bisa mendapatkan alamat Tara, Bunda?” tanya Resnu. Ia ingin sekali bisa menemui Tara suatu saat nanti.
                “Itu melanggar aturan, Resnu. Orangtua angkat Tara nggak menghendaki hal itu. Dan mungkin, Tara pun sudah ganti nama. Berdoalah agar suatu hari Tuhan mempertemukan kalian.”
                Ah, kalo begitu, biarkan Tara yang kelak mendatanginya. Resnu nggak akan pindah ke rumah siapa pun karena ia sudah terlalu besar untuk diadopsi. Ia memang nggak tahu kalau Tara kemudian menjelma menjadi Rara, lalu pindah dari kota kecil itu ke Bandung.
                Namun, pertemuan yang sudah diatur Tuhan memang tak ada yang menduga.  Setelah sekian lama menunggu, begitu lulus SMA, ia memutuskan kuliah di Bandung dengan biaya sendiri. Resnu mencoba mencari Tara di sela perjalanan hidupnya.  Siapa sangka ada Ludi, penghubungnya.
                Buru-buru Resnu meninggalkan indekosnya begitu melihat matahari sore. Kedatangannya ternyata amat diharapkan Ludi.
                Seharian ini, Ludi sudah uring-uringan diperlakukan Rara. Dimulai pagi tadi saat Rara  berangkat ke sekolah duluan, tanpa menunggunya. Dan, di kelas, Rara duduk di ujung belakang menjauhi Ludi. Pulangnya, Ludi  kehilangan jejak Rara. Benar-benar komplet hukuman Rara untuknya.
                Maka, nggak ada yang menggembirakan Ludi saat ini, selain melihat Lulugu Biru dalam keadaan seperti semula.
                “Gue udah nepatin janji. Giliran elo yang nepatin janji sekarang,” ungkit Resnu, setelah membiarkan Ludi girang sesaat.
                Ludi diam. Ia sendiri masih bingung, apakah Rara akan menerima dirinya atau nggak. Yang penting, memang harus dicoba dulu. Bergegas ia mengajak Resnu ke rumah sebelah. Dari pintu pagar, ia melihat Rara sedang bersiap-siap membersihkan VW-nya.
                “Rara!”
                “Heh, ngapain elo ke sini? Bawa-bawa orang segala! Udah elo temuin belum Lulugu Biru?!” hardik Rara sambil bertolak pinggang. Tangannya menghempas selang yang dipegang.
                “Nih, boneka elo,” Ludi menyerahkan Lulugu Biru kepada Rara yang tetap memasang wajah angker. “Gue udah dimaafin, kan?”
                “Enaknya! Nggak segampang itu!” Rara berteriak. Ia membalikkan badannya dan siap masuk ke rumah.Tapi, telinganya menangkap suara Resnu.
                “Tara … Tara ….” Resnu yang terdiam beberapa saat, terpana melihat sosok remaja Rara, akhirnya bersuara didorong kerinduannya.
                Rara menoleh. Nama itu memang sudah lama tak didengarnya, tapi kenangan di panti tak pernah dilupakannya. Juga nama itu. Nama masa kecilnya di panti. Ia mengamati cowok yang datang bersama Ludi. Siluet masa lalu, mengungkit kenangan pemilik dagu dengan gurat luka yang pernah Rara gores dulu.
                “Kak … Resnu?” Rara ragu-ragu sejenak. Tapi, begitu hatinya yakin, ia langsung menggamit tangan Resnu tanpa sungkan. Rara bahagia banget menemukan sepenggal perjalanan hidupnya yang hilang. “Masuk yuk, Kak Res! Iiih, gimana ceritanya Kak Resnu bisa tahu Rara di sini?”
                “Ludi yang nggak sengaja nemuin kita. Lho, kamu nggak ngajak Ludi masuk?” Resnu bingung karena Rara tak mengacuhkan Ludi. Spontanitas Rara bergayut manja di lengannya pun membuat rikuh.
                “Ah, dia sih, udah biasa nyelonong. Kalo mau masuk, ya masuk aja!”
                Ludi mengikuti suara hatinya masuk ke rumah, tanpa berpikir lagi. Ia ingin tahu reaksi Rara berikutnya.
                “Kak Ludi mau minum apa? Masih suka susu cokelat?” tanya Rara sesaat sebelum berteriak memanggil Bi Uti.
                “Kamu masih ingat minuman kesukaanku. Padahal, kamu masih terlalu kecil waktu itu,” ujar Resnu kagum.
                “Ih, gimana bisa lupa dengan Kak Resnu? Yang suka ngebelain Rara kalo diganggu Idon, suka metikin mangga, suka ….”
                “Suka bikin kamu nangis sampai menjerit-jerit,” timpal Resnu. “Lantas, aku ikut nangis karena dijewer Bunda Ris.”
                Keduanya tertawa dan tertawa. Sesekali, mereka menyeruput susu cokelat buatan Bik Uti. Obrolan tak juga beranjak dari kenangan masa kecil mereka. Lambat laun Ludi menyadari, ia berada pada tempat yang salah.
                “Ra, gue pamit duluan. Ada yang mesti gue kerjakan di rumah,” pamit Ludi beringsut pulang.
Tak ada komentar apa-apa dari Rara. Cuma ucapan terima kasih Resnu atas kebaikan Ludi mempertemukannya dengan Rara.
                Dari kamarnya di balkon rumah, Ludi melihat Resnu pulang agak larut malam diantar Rara. Ludi yakin, dengan kegembiraan di hati Rara kini, cewek itu akan manis kembali kepadanya besok pagi.
***
APA yang diharapkan Ludi semalam, ternyata nggak dikabulkan sepenuhnya. Memang, Rara sudah mau diajak berangkat bareng ke sekolah. Tempat duduk Rara pun kembali ke asal, di depan meja Ludi. Cuma, Rara masih irit mengeluarkan kalimat dari mulutnya.
                Ludi nggak berani mengusikya, takut Rara sewot lagi. Yang penting, ia bisa kembali dekat dengan Rara. Maka, begitu bel pulang sekolah berbunyi, Ludi langsung mendekati Rara, agar nggak kehilangan jejaknya lagi. Entahlah … ia kini sering merasa tersiksa bila berjauhan dengan Rara.
                “Jadi nanti sore kita ke pameran buku?” tanya Ludi mengingatkan Rara pada janji empat hari lalu.
                “Kayaknya sih nggak, deh,” jawab Rara tak yakin. Langkahnya semakin cepat memburu pintu gerbang. Bahkan, Rara harus menubruk beberapa orang.
                Ludi terkejut sewaktu melihat Rara menyeberang jalan, menghampiri seorang cowok dengan mobil van. Resnu! Rupanya, Rara sudah janjian akan dijemput. Ludi menelan ludahnya. Ia cuma mengangguk ketika Resnu melambaikan tangan ke arahnya. Sekejap kemudian, mereka sudah hilang.
                Ludi terpaksa pulang sendirian. Pantas, tadi pagi Rara nggak mau membawa VW-nya. Dia malah ngotot ingin naik angkot.
                Di rumah, Ludi masih berharap Rara ingat janjinya ke pameran buku bersama. Tapi,  hampir larut malam, dari kamarnya Ludi melihat Rara baru pulang diantar Resnu. Ludi baru tahu ke mana mereka pergi, ketika bertanya esok paginya.
                “Ke Sumedang. Elo tau kan, dulu gue diangkat dari kota kecil itu!” tukas Rara ketus.
                “Tapi, elo bisa pulang dulu, kan?”
                “Elo jangan sok ngatur, deh! Gue udah minta izin mama sebelumnya. Elo pikir gue nggak tau aturan?” Rara memang bisa meyakinkan mama bahwa kenangan masa kecilnya nggak perlu ditutupi lagi.
                Ludi terdiam. Ia nggak mau bertengkar lagi. Apalagi mereka lagi di angkot. Seperti yang diduga Ludi, pulang sekolah ternyata Rara dijemput Resnu. Itu terulang terus esok, esok, dan esoknya lagi. Nyaris nggak ada waktu Rara tersisa untuk Ludi. Ludi jadi menyesal dengan tindakan konyolnya menukar Lulugu Biru.
                Padahal, sewaktu Rara menginjak usia tujuh belas, Ludi sudah berniat menjalin lebih manis lagi hubungan mereka. Tak ada gadis lain yang memikat hatinya, selain Rara.
                Apakah Rara dan Resnu saling jatuh cinta? Itu nggak mustahil. Apalagi mengingat kebersamaan mereka yang berlebihan. Bukankah hasrat yang timbul di hati gue juga karena kebersamaan? Kalo memang demikian, gue harus melupakan hasrat di hati gue. Asalkan Rara bisa bahagia karenanya, Ludi membatin.
                Cuma, sewaktu ia ngobrol dengan Wibi, kegentaran hatinya kembali terusik.
                “Resnu pacaran dengan Rara? Ah, gue rasa cuma temporal. Yang udah-udah, Resnu nggak pernah serius dengan cewek lebih dari sebulan,” tutur Wibi datar.
                Cerita itu membuat Ludi gelisah melebihi sebelumnya. Gimana kalo Resnu benar-benar ninggalin Rara? Gimana kalo hati Rara terluka? Ludi nggak bisa menerima hal itu.  Tapi, usaha apa yang bisa dilakukan untuk mencegahnya? Rara pasti akan bilang Ludi kekanak-kanakan, bila menceritakan reputasi Resnu yang ia ketahui dari Wibi. Lagi pula, agak sulit membuka percakapan dengan Rara pada posisi yang tak menguntungkan kini.
                Sore sedang hujan, sewaktu Ludi menemukan satu cara yang ia yakini keberhasilannya. Ia harus menemui Resnu.
***
                RESNU pernah melakukan kesalahan terhadap Rara di masa kecilnya. Karenanya, ia amat berharap bisa berjumpa dengan Rara. Tapi begitu pertemuan digariskan Tuhan, Resnu masih perlu waktu untuk mengakui dosanya.
                Kini, di sebuah kafe yang berdiri di Jalan Dago, Resnu merasa kesempatan itu telah tiba.
                “Maafkan aku sebelumnya, Ra. Aku ingin mengakui kesalahan kecilku dulu. Aku … akulah yang mencuri salah satu boneka Lulugu biru milikmu. Waktu itu lagi bingung banget karena merasa sedih bakal kehilangan kamu. Karena aku nggak tahu kenangan apa yang akan kuperoleh, maka kucuri diam-diam bonekamu,” tutur Resnu hati-hati.
                Rara terpana. Matanya menembus kaca jendela kafe. Di luar hujan turun. Ia ingat, hujan pun turun sewaktu ia menangis saat salah satu Lulugu Birunya hilang. Rara tak pernah menyangka bahwa bonekanya itu telah dicuri oleh orang yang telah dianggapnya sebagai kakak. Ludi yang konyol itu juga mengambil Lulugu Biru, tapi Ludi tak pernah tahu makna boneka itu bagi Rara. Sementara Resnu tahu, betapa berartinya boneka itu buat Rara.
                “Kamu nggak mau maafin aku, Ra?”
                Selalu perlu waktu bagi Rara untuk memberi maaf kepada orang lain. Sekalipun itu kepada orang yang amat dekat dengannya. Rara merasa hidungnya tersumbat tiba-tiba. Ia langsung pergi ke toilet. Namun, ketika kembali ke tempat duduknya, ia tak menemukan Resnu. Ada secarik kertas di dekat cangkir kopi susu Resnu.

                Ra, aku harus ke Jakarta. Kuharap, waktu seminggu cukup untuk berpikir dan mau memberiku maaf.
 —Resnu—

                Resnu mengendarai kencang mobil van-nya tanpa memedulikan hujan. Ia harus segera konsentrasi pada rencana pamerannya di Jakarta. Resnu berusaha melupakan sementara, beban yang mengganjal di hatinya.
                Sampai di tempat indekosnya, Resnu terkejut mendapatkan Ludi menunggu di depan kamar indekosnya. Ia segera mengajak Ludi ke dalam kamar. Resnu mencoba menebak maksud kedatangan Ludi, sambil mengganti pakaiannya yang basah.
                “Bang Wibi bilang, Kak Resnu akan ke Jakarta besok. Makanya, aku langsung ke sini,” kata Ludi langsung.
                “Pasti penting. Soal apa, Di?” tanya Resnu langsung. Pengalamannya mengajarkan, ia tak perlu menutup-nutupi satu hal.
                “Soal Rara. Tepatnya, soal hubungan Rara dengan Kak Resnu.”
                Resnu tersenyum. Cowok di depannya tampak cukup kuat mental untuk mengutarakan kegelisahannya. “Kami memang akrab. Tapi, jangan elo salah tafsirkan hubungan kami. Sejak dulu, kini, dan sampai kapan pun, gue nggak akan mengubah pendirian gue. Gue hanya mengangap Rara sebagai adik. Nggak pernah lebih,” ucap Resnu kemudian.
                Ludi menghela napas. Ia jadi malu dengan prasangkanya.
“Dan elo, Di? Elo mencintai Rara, kan? Sudah gue baca dari mata elo sejak pertemuan pertama kita. Sayang, elo terlampau rapuh. Elo kurang mempertegas sikap dan posisi elo sebagai cowok .… ”
“Kak Resnu tahu itu?” Ludi melupakan tingkat kedewasaan dan pengalaman Resnu.
 “Dari cerita-cerita Rara tentang elo. Hanya elo yang sering ia ceritakan selama kami berduaan. Sayangnya, elo nggak nyadar. Rara bukan cuma menginginkan seorang pengawal, melainkan juga orang yang bisa ngebimbingnya, tanpa gentar dengan kemanjaannya itu. Hal itu yang diharapkan Rara dari elo. Percaya deh, hanya elo yang ia cintai.” Resnu berusaha membesarkan hati Ludi.
Ludi berusaha mencerna kalimat Resnu.
Sesungguhnya, Resnu tak sejauh itu tahu perasaan Rara terhadap Ludi. Tapi, apa salahnya ia membantu Ludi. Paling nggak, menyambung kembali ikatan mereka yang sempat goyah lantaran kehadirannya. Resnu sadar, Rara memperalatnya untuk menghukum Ludi, tapi Rara kurang pandai menyembunyikan perasaannnya sehingga kerap bicara mengenai Ludi di depan Resnu.
Ludi tak bisa membuka mulut. Jadi, betapa bodohnya ia selama ini. Larut dalam ikatan persahabatan sejak kecil sehingga tak menyadari adanya tuntutan yang berbeda dalam ikatan tali kasih.
“Ludi, gue minta tolong, serahkan boneka ini kepada Rara. Gue nggak sempat lagi menemuinya besok.” Tahu-tahu, Resnu menyerahkan sebuah boneka yang diambilnya dari laci.
“Lho, Lulugu Biru ini kan, udah dikasih ke Rara seminggu lalu?” Ludi bingung.
“Biar Rara yang nanti jelasin. Heh … elo udah pernah denger dongeng Lulugu Biru dari Rara?”
Ludi menggeleng.
“Dongeng kompletnya gue nggak terlalu inget. Secara garis besar, itu kisah tentang seorang putri raja yang diberi hadiah oleh sang Peri Biru. Hadiahnya sepasang boneka bernama Lulugu Biru. Suatu hari, salah satu bonekanya hilang. Raja mengadakan sayembara, siapa pun yang menemukan boneka itu, akan dijadikan pangeran. Ternyata, boneka itu hilang di istal istana. Penjaga kuda yang memang sahabat sang putri, beruntung menemukan boneka itu. Ia akhirnya menjadi pangeran ….”
Kisah yang indah, Ludi membatin. Ia jadi ingin segera menyerahkan Lulugu Biru di tangannya kepada Rara. Dan … menjadi pangeran di sisi Rara!
***

Pangeran Untukku

BEL tanda bubar siswa-siswa SMA TOP sudah berbunyi beberapa menit lalu. Satu kelas masih berkutat dengan pelajaran tambahan. Sebagian besar siswa sudah pulang, dan sebagian lagi masih berbetah-betah di sekolah.
“Ema, kamu akan datang ke pesta Ester, kan?” tanya Marlin saat keluar dari pintu perpustakaan, usai mengembalikan beberapa buku yang dipinjamnya.
“Entahlah,” jawabku singkat. Sejak menerima kartu undangan dari Ester, aku memang sudah ragu akan memenuhi undangan itu. Ada persyaratan dalam undangan itu yang nggak bisa kupenuhi. Undangan harus datang bersama pasangannya.
“Kamu nggak yakin karena nggak punya pasangan, kan? Kita ke lapangan basket dulu, yuk! Siapa tau Doni bisa ngebantu kamu,” ajak Marlin.
Aku tak menolak. Di sisi lapangan basket, Marlin memanggil Doni. Cowok itu datang dengan cepat sambil tersenyum. Keringat yang mengalir di lehernya, mempertegas ketampanannya. Kupikir, alangkah cocoknya pasangan Doni dan Marlin. Yang satu cantik, satunya lagi seperti Arjuna.
“Kami punya kesulitan. Mungkin kamu bisa bantu, Don. Tentang pesta Ester. Ema belum punya pasangan buat nemenin dia datang ke sana,” tutur Marlin.
Doni menganggukkan kepalanya sebentar. Ia kemudian berteriak memanggil salah seorang temannya yang tengah bermain basket. Cowok yang tingginya sedikit di atas Doni, datang menghampiri.
“Oki, elo belum punya pasangan untuk ke pesta Ester, kan? Kebetulan, sahabat Marlin juga belum punya pasangan. Oh, iya, kenalkan namanya, Ema!”
Aku mengangguk kecil. Aku sudah tahu nama cowok itu karena cukup populer di telinga gadis-gadis. Ia juga anggota dream team basket sekolah seperti Doni. Kabar terakhir yang sampai telingaku, Oki baru putus dari gadisnya.
“Aku belum bisa memberi kepastian, Don. Bagaimana kalau kuberi jawabannya besok? Pesta itu masih seminggu lagi ini,” sahut Oki sambil menyeka keringatnya.
“Tak masalah,” timpalku.
Aku dan Marlin segera meninggalkan lapangan basket. Cukup panas juga udara siang ini. Herannya, Doni dan teman-temannya tetap tahan main basket. Barangkali itulah yang membuat mereka jago main bola basket karena rajin latihan.
“Aku nggak akan datang ke pesta Ester kalau kamu nggak datang, Ema,” gumam Marlin menjelang pintu gerbang sekolah.
“Kamu nggak bisa gitu. Doni akan marah nanti.”
“Makanya, kamu harus mau datang. Eh, itu Ester!” Marlin melambaikan tangannya ke seberang jalan. Ester menyeberang mendekati kami.
“Marlin, kamu harus membawa Doni ke pestaku nanti. Sekalian ngumumin bahwa hubunganmu dan Doni serius. Habisnya, udah seminggu pacaran, kamu jarang terlihat bareng dia di sekolah. Dan … kamu juga harus datang. Aku penasaran ingin tahu siapa pasanganmu, Grandma,” kata Ester kepadak,u seraya mengibarkan sisa undangan di tangannya.
Aku cuma tersenyum. Di antara teman sekolahku, cuma Marlin—dan barangkali Doni—yang memanggil namaku dengan benar. Sisanya, memanggilku dengan julukan kudapat sejak kelas satu, yakni Grandma alias Nenek!
“Kami akan datang, Ester. Tenang aja. Kamu sendiri akan pasangan dengan siapa nanti? Alford, Lloyd, Peter ….”
“Hermawan!” Ester memotong kalimat Marlin. “Bukan anak sekolah kita. Ia teman kuliah abangku di Swiss. Dia jauh lebih segala-galanya dari kunyuk-kunyuk yang kamu sebutkan tadi. Eh, udah ya. Jemputanku udah datang. Dah, Marlin! Dah, Grandma!”
Ester masuk ke dalam BMW yang menjemputnya itu dan meninggalkan kami.
“Kamu udah janji pada Ester. Itu berarti, kita harus benar-benar datang,” kataku kemudian.
“Memang. Pesta ulang tahunnya di Eldorado. Pasti akan ramai. Kamu sendiri pernah bilang, belum pernah ke pesta ulang tahun teman-teman kita sebelumnya dan ingin sekali-kali melihatnya.” Marlin mengungkit kalimatku dulu.
“Ya, tapi bukan pesta yang harus dengan pasangan. Kurasa, kalau aku nggak datang pada pesta Ester, aku bisa melihat pesta ulang tahun teman kita lainnya.”
“Hm … kita tunggu aja kabar dari Oki besok,” tepis Marlin sambil mencegat angkutan umum. Kami berpisah karena tujuan kami berlawanan arah. Padahal, aku masih ingin mengucapkan sebuah kalimat: Kamu baik sekali padaku, Marlin.
***
KETIKA mendengar kabar Oki nggak bisa jadi pasanganku di pesta ulang tahun Ester, aku nggak merasa sedih ataupun kecewa. Aku sudah menduga sebelumnya. Mana mungkin salah seorang anggota dream team, mau menjadi pasangan cewek yang berkacamata dengan bingkai tebal, dengan rambut panjang yang cuma dikepang tanpa hiasan pita ataupun bando, dan sama sekali nggak populer di sekolah.
“Tenang, Ma. Aku sudah nyiapin pengganti Oki,” hibur Marlin saat istirahat. “Semalam, aku udah ngobrol dengan kakakku. Ia kebetulan nggak punya acara malam Minggu nanti.”
“Kakakmu bersedia? Itu karena, ia belum mengenalku. Kalau ia tahu aku, pasti ia akan membatalkan kesediaannya itu.”
“Kamu juga belum mengenalnya, kan? Jadi, jangan sembarangan menudingnya sama seperti Oki. Kakakku baik. Sebagai mahasiswa, meskipun baru tingkat dua, ia udah bisa berpikir deewasa. Dia dapat menilai gadis yang pantas jadi pasangannya ke suatu pesta.” Marlin kelihatan agak sewot.
“Maaf, bukan maksudku menuduh kakakmu sejahat itu. Tapi yang jelas, aku dan kakakmu belum saling mengenal,” kataku buru-buru..
“Bagaimana kalau pulang sekolah nanti, kamu ke rumahku dulu? Hari Selasa kakakku nggak ada kuliah,” usul Marlin.
Aku mengangguk setuju. Sebenarnya, aku agak khawatir dengan rencana Marlin. Yang kukhawatirkan, bisa saja kakaknya itu mau memenuhi permintaan Marlin lantaran setengah dipaksa. Dan itu artinya, kepergian kakak Marlin denganku nanti nggak tulus. Namun, untuk menolak rencana Marlin, aku nggak sanggup. Ia pasti sudah setengah mati berupaya mencari pasangan untukku.
Pulang sekolah, aku langsung ke rumah Marlin. Ini kunjungan pertamaku ke rumahnya. Padahal, kami bersahabat sudah empat bulan, sejak kami duduk sebangku di kelas dua. Bisa jadi, ini juga untuk pertama kalinya, aku mengunjungi rumah teman sekolahku.
Sejak dulu, aku memang menutup diri. Setiap ada acara kelas yang mengharuskan kumpul di rumah salah seorang temanku, aku nggak pernah datang. Entahlah, aku merasa, kehadiranku tak akan berarti apa-apa. Ada aku ataupun nggak, semuanya akan berjalan lancar. Begitu pun dengan kegiatan di sekolah. Di kelas satu, aku cuma ke sekolah untuk belajar. Begitu bel pulang berbunyi, aku langsung pulang ke rumah.
“Pasti di rumah, banyak sekali cucumu yang harus kamu urus.” Begitu komentar teman-temanku di kelas satu. Dan, satu per satu, mereka mulai memanggilku Grandma. Mulanya aku agak risi, tapi lama kelamaan terbiasa juga.
Akan tetapi, sejak mengenal Marlin, sedikit demi sedikit aku mulai berubah. Dengan segala kebaikannya, Marlin mulai membuka diriku, agar mau sedikit peduli dengan sekelilingku. Ia beberapa kali mengajakku melihat pertandingan basket di sekolah, mengajakku ke kantin, dan ngobrol dengan teman-temanku yang lain.
“Ini kakakku, Ema. Namanya, Budi Sutanto. Aku memanggilnya Kak Budi tersayang,” ucap Marlin, setelah beberapa menit membiarkan aku duduk sendirian di ruang tamu. Bersamanya, seorang cowok mendekatiku dan menjabat tanganku.
“N-nama saya Ema ….” Aku agak gugup menyebut namaku sendiri. Sebelum tiba di rumah Marlin aku sudah berpikir, kalau Marlin sudah secantik bidadari, pasti kakaknya akan setampan pangeran. Tapi, bayangan yang ada di benakku, ternyata jauh sekali. Kakak Marlin lebih tampan dari seorang pangeran yang pernah kubayangkan. Itulah yang membuatku tiba-tiba saja ingin segera pulang dan menyesal mengenalnya.
“Nah, kalian ngobrol aja dulu. Buat janji, gimana rencana pergi nanti. Aku mau ganti pakaian dulu.” Marlin meninggalkanku.
Aku jadi ingin tahu, apa yang pantas diucapkan seekor itik buruk rupa bila bertemu dengan seorang pangeran.
“Marlin banyak cerita tentang kamu. Katanya, kamu cerdas. Kamu sering mengajarinya pelajaran-pelajaran yang nggak ia ngerti,” kata Kak Budi membuka percakapan. Ia menatapku lekat-lekat, membuatku makin tak berani melihat wajahnya.
“Marlin terlalu melebih-lebihkan. Justru Marlin yang baik kepada saya, Kak Budi. Saya nggak tahu, gimana jadinya kalau Tuhan nggak memperkenalkan Marlin kepada saya.”
“Yang pasti, kita nggak akan bisa kenalan dan pergi ke pesta ulang tahun teman kalian itu,” sahut Kak Budi.
“Soal pesta itu, saya nggak keberatan kalau ternyata Kak Budi ingin membatalkannya,” kataku kemudian.
“Aku sudah janji kepada Marlin. Lagi pula, akan menyenangkan jika pergi ke sebuah pesta dengan gadis SMA secerdasmu. Atau …, kamu yang keberatan?”
Aku terdiam. Apa yang memberatkanku sekarang? Paling persiapan batin karena aku yakin, nanti semua mata di pesta akan memandangku aneh.
“Lihat, Grandma ternyata punya seorang cucu yang jadi pangeran!” Begitu kira-kira komentar mereka.
Dan, aku tentu saja harus siap mendengar itu. Atau, yang lebih menyakitkan sekalipun. Ketimbang aku harus membuat Marlin kecewa.
“Aku akan menjemputmu pukul tujuh. Pesta itu mulai pukul delapan, kan? Aku sudah menghitung waktu perjalanan, ditambah kemacetan jalan menuju Eldorado nanti,” kata Kak Budi lagi.
Aku mengangguk. “Mudah-mudahan, Kak Budi nggak repot karena saya,” kataku.
Marlin muncul tak lama kemudian. Ia menanyai kakaknya soal rencana ke pesta itu. Aku memberi tahu bahwa kami sudah membuat janji.
“Bagus. Kalo gitu, beres. Aku juga bisa membuat janji dengan Doni besok. Oh, iya, gimana kalau pulang sekolah besok, kita cari kado buat pesta ultah Ester?” ajak Marlin.
“Bisa aja,” jawabku cepat. Dan, aku juga mungkin akan membeli gaun yang pantas untuk pergi bersama Kak Budi nanti. Belanja bersama Marlin, pasti akan membantuku memilih mana gaun yang pantas untukku.
***
RABU siang, sepulang sekolah, aku dan Marlin melaksanakan niat belanja lebih dulu. Aku nggak nyangka, kalau Kak Budi akan menunggu kami di gerbang sekolah. Dengan mazda putihnya, ia mengantar kami ke BIP. Sebenarnya, itu keterlaluan. Jarak sekolahku ke Jalan Merdeka, tak sampai dua kilo meter.
“Biar saja Kak Budi mengantar kita. Ia harus terbiasa bersamamu, Ema. Kamu akan merasa janggal kalau tiba-tiba pergi ke suatu pesta dengan mahkluk asing, bukan?” gumam Marlin seperti membaca pikiranku.
Tapi, Marlin tak membiarkan kakaknya terus menguntit kami. Menurutnya, Kak Budi tak boleh tahu gaun apa yang akan kupakai nanti. Kurasa, benar juga apa yang dikatakan Marlin.
Ada tiga gaun yang kusukai. Marlin membantu menentukan mana gaun yang terbaik untukkku. Sebuah gaun biru pastel akhirnya kubeli. Sementara, Marlin membeli gaun dengan warna yang lebih cerah.
Usai belanja, Kak Budi kembali bergabung bersama kami. Sambil menikmati ayam dan kentang Texas, kami ngobrol banyak sekali. Tepatnya, Kak Budi dan Marlin berusaha membuatku banyak bercerita karena mulanya aku menjadi pendengar setia saja.
***
DAN hari ini, sepulang sekolah, untuk pertama kalinya aku mengajak Marlin ke rumah. Kubawa ia langsung ke kamarku.
“Wah, kamarmu besar sekali! Cuma, seharusnya kamu punya ruang sendiri untuk buku-bukumu ini, Ema,” komentar Marlin. Ia tersenyum ketika membaca beberapa buku psikologi populer tentang remaja gaul.
“Aku tertarik membelinya sejak bersahabat denganmu,” kataku.
Sesuai dengan janji, aku mencoba gaun yang kubeli kemarin. Gaun itu pas untukku, tapi rasanya ada yang janggal ketika aku bercermin.
“Rambutmu lepas dulu, Non. Kamu nggak bisa ke pesta dengan rambut dikepang begitu. Biarkan rambutmu terurai,” saran Marlin.
“Bagaimana kalau disanggul kecil saja? Rambutku terlalu panjang bila digerai. Jangan-jangan, nanti aku dikira kuntilanak.”
“Bagaimana kalau dipotong? Jangan terlalu pendek, aku juga tak akan setuju. Kebetulan, Sabtu siang aku juga punya rencana ke salon.”
Aku berpikir sebentar. Kalau nenek masih ada, pasti ia akan melarang. Tapi sejak ia meninggal dua bulan lalu, tak ada lagi yang membantu mengurus rambutku ini. Nenek pasti tak akan marah kalau kupotong rambutku.
“Baiklah,” kataku akhirnya.
“Percayalah, kamu pasti akan kelihatan lebih cantik. Dan, teman-teman pasti akan iri melihatmu, Ema.”
Benarkah? Benarkah aku menjadi cantik? Ah, bagiku yang terpenting, bisa menjadi pasangan yang tak terlalu mengecewakan Kak Budi nanti.
Setelah melepas kembali gaunku, aku duduk berdua di atas tempat tidurku dengan Marlin. Mata Marlin menatap tajam ke arahku. Aku yakin, ada sesuatu yang ingin diceritakannya.
“Aku ingin menceritakan sesuatu tentang kebaikanku selama ini. Mungkin, kamu sering menanyakan itu dalam hati,” kata Marlin kemudian.
Aku mengangguk. Marlin tak lantas melanjutkan ceritanya. Ia malah mengeluarkan selembar foto dari tasnya. Wajah seorang cowok berkacamata dengan gagang hitam dan tebal, rambutnya tak berbentuk, dan … meskipun aneh, tapi sekilas aku mengenalnya.
“Ini foto kakaku tiga tahun lalu, waktu ia masih SMA. Teman-teman sekelasnya memanggil kakakku dengan julukan Gepetto. Kamu tau kan, tukang kayu yang membuat Pinokio? Dan, tak pernah ada gadis yang mau pergi dengannya pada suatu pesta kelas. Waktu itu aku masih kelas dua SMP. Kebetulan aku agak bongsor, jadi aku tak keberatan ketika kakakku minta aku mendampingi ke pesta yang harus didatanginya itu.”
Marlin diam sejenak menghela napas. Matanya menerawang ke langit-langit.
“Tapi, dasar kakakku terlalu tak acuh dengan penampilannya. Meskipun aku telah menyarankannya untuk rapi sedikit, ia menolak. Akibatnya, di pesta itu kakakku diolok-olok habisan. ‘Lihat, Gepetto berhasil mengajak seorang Peri!’ dan lain-lainnya. Dadaku sakit mendengar olok-olok itu. Aku menangis di rumah dan berjanji untuk mengubah penampilan kakakku.”
Mata Marlin basah oleh emosinya.
“Pada mulanya, aku mengalami kesulitan. Namun, sewaktu diam-diam aku tau ia mulai naksir salah seorang cewek di sekolahnya, akhirnya ia mau juga mengubah diri. Kacamatanya diganti, rambutnya dipotong sesuai dengan wajahnya, dan kuganti majalah ilmiahnya dengan majalah-majalah populer. Waktu itu dunia seperti terbalik, aku jadi kakaknya dan ia jadi seorang adik yang penurut.”
Dapat kubayangkan seperti apa kejadiannya. Tentu tak jauh seperti yang kualami.
“Nggak lama kemudian, telepon teman-teman ceweknya mulai berdatangan. Kak Budi sempat memacari cewek yang ia taksir itu, tapi putus lantaran ternyata cewek itu cuma menyukai ketampanan kakakku aja. Sampai sekarang, ia belum pacaran lagi. Bagiku itu tak masalah, asalkan ia nggak kembali seperti Gepetto. Ya ampun, kamu menangis, Ema!”
Aku menyeka air mata yang jatuh tanpa kurasakan. “Gimana aku nggak terharu, Marlin? Di depanku kini, ada seorang peri yang nggak cuma baik terhadap kakaknya, tapi juga sahabatnya. Gimana aku mesti membalasmu kelak?”
“Kalau tak keberatan, cukup dengan memberi respons kepada kakakku. Sejak mengenalmu dulu, aku sudah menceritakan tentangmu kepadanya. Ia tertarik untuk berkenalan denganmu. Tapi, kupikir itu belum waktunya. Sampai kemarin-kemarin ini. Kamu tahu apa komentarnya setelah kita ngobrol di Texas? Katanya, kamu nggak cerewet, tapi sekali ngomong, benar-benar bermutu. Kakakku memang suka tipe gadis cerdas sepertimu.”
“Pasti ia banyak menemukan gadis seperti itu di kampusnya,” timpalku berusaha untuk menahan perasaanku.
“Mungkin aja. Aduh, Ema, apa kamu selalu membiarkan tamumu mati kehausan?”
Aku tergelak mendengarnya.
***
JANGAN tanya seperti apa perasaanku ketika mematut diri di depan cermin usai berdandan. Aku jadi tahu seperti apa takjubnya Cinderella ketika Peri Biru membantunya agar dapat pergi ke pesta istana.
Mama yang melihatku begitu aku keluar kamar, terpana beberapa detik. Ia seperti pangling pada mulanya.
“Ema! Benarkah ini anakku? Kamu benar-benar berubah, Ema!” Mama merangkulku hati-hati. Takut membuat gaunku kusut.
Aku menunggu kedatangan Budi di ruang tamu ditemani Mama, dengan cemas. Setengah jam lalu, Marlin sudah memberi kepastian lewat telepon, kakaknya akan menjemputku.
Kulalui penantianku dengan mengamati jarum jam dinding. Ketika waktu menunjukkan pukul tujuh lebih lima menit, kecemasanku berubah bentuk. Batalkah Budi menjemputku? Aku mencoba bersabar.
Kesabaranku benar-benar berubah ketika lima belas menit kemudian berlalu, tanpa bunyi bel sekali pun. Mama yang melihat kegelisahanku, lantas meremas jemariku.
“Bersabarlah, Ema. Barangkali ada sesuatu yang menghambat perjalanannya. Mama yakin, akan ada seorang pangeran yang datang untukmu malam ini,” hibur Mama sambil mengelus rambutku.
Mama ternyata benar. Semenit kemudian, bel rumah berbunyi. Aku terkejut ketika membuka pintu, mendapatkan Kak Budi dalam sosok yang lain. Sisiran rambutnya berantakan, lengan bajunya kusut bekas digulung, dan mukanya berpeluh.
“Maaf aku terlambat, Ema. Ban mobilku meletus di tengah jalan. Terpaksa aku menggantinya lebih dulu. Dasar aku kurang ahli, tanganku sampai belepotan cuma untuk mendongkrak dan mengganti ban saja,” ucapnya membuatku tersenyum.
Aku memaklumi alasan itu. Kubawa ia ke dalam rumah untuk kukenalkan kepada mama. Kak Budi sempat pula ke kamar mandi untuk merapikan kembali dirinya.
Dalam hatiku, mulai kurasakan sesuatu yang tak biasa sejak mendengar kalimatnya tadi. Ia mau berkorban untukku seperti itu. Sikap yang benar-benar menyentuhku dan mampu mengubah kekagumanku, yang mulanya kutujukan pada sosoknya, kini lebih tertuju pada pribadinya.
“Ema, aku bisa minta tolong padamu? Terus terang, sebetulnya aku yang sedang kesulitan,” ucap Kak Budi sesaat setelah kami berada dalam mobilnya.
“Kak Budi sudah mau menolong saya, masa saya nggak mau, sih? Tentu saja kalau saya mampu. Boleh saya tahu, apa yang bisa saya bantu?”
“Ada teman kuliahku yang akan bertunangan minggu depan. Dia mengundang semua temannya, tapi dengan satu syarat. Undangan harus datang dengan pacarnya, bukan sekadar pasangan bohongan. Bisa saja aku mengajak Marlin, tapi temanku itu sudah tahu Marlin adikku. Kamu keberatan kalau kujemput malam Minggu depan sekali lagi? Tentu saja, aku nggak akan mengulangi ketololanku malam ini, datang terlambat.”
“Baiklah, saya tak keberatan. Bila ternyata Kak Budi menemukan pasangan untuk ke pesta itu selain saya, saya tak juga keberatan bila kemudian Kak Budi membatalkannya,” jawabku segera. Aku tak ingin terlalu banyak berharap. Tuhan sudah mengutus seseorang untuk menjemputku ke pesta malam ini saja, aku sudah bersyukur.
“Aku nggak akan mengubah ajakanku ini. Kamu mau tahu sebabnya? Lantaran malam ini, kamu kelihatan cantik sekali!” puji Budi sambil menatapku sekilas.
Aku tak kuasa menahan perasaanku. Pujiannya sanggup membuatku melayang. Heran, padahal saat Mama mengatakan kalimat serupa tadi, perasaanku tak terombang-ambing begini? Apa artinya ini, ya?
***
Tarian Ilalang

PIA menikmati sentuhan handuk yang mengusap keringat di lehernya. Sisa dua hari menjelang pementasan tarinya, membuat Pia berlatih habis-habisan. Ia nggak mau mengecewakan Tante Min, yang sudah susah payah mencari sponsor untuk pertunjukkan tarinya.
“Eh, Pi! Di luar ada cowok yang nyari kamu,” ujar Atik mendekati Pia.
“Siapa?” Pia merasa tak punya janji dengan teman cowoknya.
“Katanya, teman kursus bahasa Jerman kamu. Lumayan, keren. Apalagi kalau ia ke sini pakai BMW,” komentar Atik yang turut menari bersama Pia untuk pentas lusa.
“Justru aku tertarik dengan kesederhanaan seorang cowok, Tik,” timpal Pia seraya mengenakan kaos dan jeans-nya, menutupi pakaian senam yang ketat.
“Oh, jadi cowok itu gacoanmu! Tahu gitu, kusambar dulu tadi,” ledek Atik.
Pia tak meladeni. Di depan sanggar, ia menemui cowok yang sudah diduganya.
“Hai, kamu bolos lagi sore ini! Sori ya, ke sini nggak telepon ke HP dulu. Takut kamunya lagi sibuk.” Sapaan ramah langsung dilontarkan Yugo.
Pia mengangkat bahu. “Habis gimana? Sebenarnya, aku nggak mau meninggalkan ocehan Frau Nurki. Tapi, meninggalkan jadwal latihan tari ini, sama saja dengan aku bunuh diri,” kilah Pia.
Yugo menyodorkan beberapa helai kertas ke arah Pia. “Ini, ada tugas dari Frau Nurki. Sekalian fotokopi materi yang diberikan tadi. Semoga saja, pertunjukanmu sukses. Kapan, Pi?”
“Malam Minggu. Ini undangan buat kamu. Bareng dengan pacarmu juga nggak apa-apa.” Pia balas menyodorkan sehelai undangan buat Yugo.
“Masalahnya bukan karena aku nggak punya pacar. Aku nggak ngerti apa-apa soal balet,” ungkap Yugo sambil menimang undangan Pia.
“Justru itu, kamu harus nonton tarianku,” timpal Pia. Ia memerhatikan Yugo yang begitu polos. Sosok di depannya, telah begitu menyita seluruh perasaannya belakangan ini. Dari tiga bulan sekelas kursus bahasa Jerman di Goethe Institut, Pia memang belum banyak mengenal Yugo. Namun, kesederhanaan ditambah kebaikannya, membuat Pia ingin Yugo juga mengenal dunia Pia.
“Buatku, pertunjukan balet itu cuma buat kalangan elite, Pi.”
“Jangan begitu. Aku bukan dari kalangan yang kamu sebut itu. Ayolah, berjanji kamu akan datang ke pertunjukan tarianku!”
Yugo tak mengangguk, tak juga menggeleng. Tapi, senyumnya membuat Pia bahagia.
***
KEEMPAT balerina itu saling bertautan tangan, sambil berjalan ke bibir panggung. Kemudian, tubuh mereka membungkuk kompak. Penghormatan kepada penonton itu ditutup dengan turunnya layar merah di atas panggung. Penonton yang memenuhi gedung pertunjukan yang tak begitu besar itu, langsung bertepuk tangan dengan puas.
Di belakang panggung, usai saling berpelukan sesama penari, Pia langsung digamit Tante Min. Tak henti-hentinya, pemilik sanggar baletnya itu memuji-muji penampilan Pia.
“Semua puas melihat tarianmu tadi. Coba kalau kamu simpan terus karyamu itu, kapan orang akan melihat pentas balet yang indah seperti Tarian Ilalang?” oceh Tante Min terus.
Pia tak menimpali. Perasaannya mendadak cemas ketika Tante Min menyebutkan nama tariannya.
“Untung kamu mau mengubah pendirianmu, yang dulu nggak mau mementaskan Tarian Ilalang.”
“Tapi, untuk kali ini saja. Saya mau menari lagi, asal bukan tarian yang ini.”
Tante Min mengerutkan dahi. Ia melihat ada misteri antara Pia dan Tarian Ilalang. “Sayang sekali. Padahal, Tuan Hermawan bermaksud memberikan sponsor pentas baletmu ini ke Jakarta. Beliau ingin tarian ini juga dikenal.”
“Apa Tuan Hermawan datang malam ini?” potong Pia
Tante Min menunduk. “Ada urusan bisnis yang nggak bisa ditinggalkannya,” jawabnya kemudian sambil mengangkat telapak tangannya.
“Padahal, saya ingin sekali bertemu dengannya,” gumam Pia. Di atas pentas tadi, ia sudah melihat kursi kosong di bagian depan khusus, diperuntukkan buat pengusaha kaya yang telah memberikan sponsori pertunjukannya.
Obrolan mereka terusik dengan hadirnya beberapa remaja putri cilik yang hendak berfoto bersama para penari. Tentu saja Pia harus meladeninya. Sementara di sudut ruangan, Yugo berusaha menarik perhatian Pia dengan melambaikan tangannya. Pia yang melihat Yugo, tak bisa berkutik karena kesibukannya. Tapi, kebahagiaannya kini bertambah lagi, dengan hadirnya Yugo menyaksikan pentas tariannya.
***
PIA bangun lebih siang dari biasanya. Malam yang meletihkan, membuatnya nyenyak tidur. Setelah merapikan diri, ia baru memerhatikan ada rangkaian bunga di kamarnya. Rangkaian bunga yang aneh.
Pia membawa bunga itu ke luar kamar. Ia mencari orang untuk ditanyai, siapa yang menerima kiriman bunga itu. Mama, papa dan adiknya, sudah pergi meninggalkan rumah, rekreasi ke Tangkuban Perahu. Tinggal Bik Yem di dapur, yang baru datang dari pasar.
“Bik, siapa yang mengantar rangkaian bunga ini?” tanya Pia.
“Ya, tukang antar bunga. Bibik kok, yang nerima tadi pagi. Memangnya kenapa?”
Ya, kenapa? Pia bingung sendiri. Masa cuma gara-gara menerima rangkaian bunga yang terdiri dari macam-macam bunga ilalang, ia jadi bingung. Pia membawa rangkaian bunga itu ke kamar. Perasaannya kembali tak keruan ketika melihat kartu ucapan kecil yang terselip di antara bunga ilalang itu.

Pengintip cilik itu sudah jadi balerina hebat!

Begitu singkat. Tapi, Pia langsung terbawa pada kilas masa lalu. Sepuluh tahun lalu, saat usianya sembilan tahun Pia pernah diajak orangtuanya berlibur di sebuah bukit yang indah. Sore hari yang menyenangkan, diisi Pia dengan mengejar kupu-kupu. Sampai suatu langkah, ia bermain hingga ke padang ilalang di lembah bukit.
Mata Pia menangkap sosok sebayanya di kejauhan. Yang membuatnya terpana, sosok itu bergerak indah seperti ditiup angin. Melompat dan berputar ke sana kemari, tanpa terganggu topi yang menempel di kepalanya.
“Gerak balet yang sempurna,” gumam Pia, meniru kalimat yang sering dilontarkan Tante Min, bila melihat muridnya yang pandai menari. Ah, padahal sudah setahun Pia menari dilatih Tante Min. Tapi, kemampuannya jangan dulu dibandingkan dengan anak itu.
Entah berapa lama Pia memerhatikan anak itu di tempatnya. Lama-lama, kekagumannya mendesak Pia untuk berjalan mendekati anak yang asyik menari di antara ilalang itu.
“Aku harus mengenal anak perempuan itu. Siapa tahu aku kemudian bisa belajar hingga sepandai dia,” gumam Pia sambil mengendap perlahan.
Entah karena sedang sial, tahu-tahu anak itu melihat ke arah Pia. Secepat kilat, anak itu lari meninggalkan padang ilalang, entah ke mana. Sementara, Pia menyesal dan merasa konyol punya niat mendekati anak itu. Bukankah dengan menikmati dari kejauhan pun sudah cukup? Kini, jangankan mengenal, melihat mukanya pun tak berhasil.
Waktu bergulir begitu cepat. Pia nggak pernah berhasil melihat tarian di padang ilalang itu lagi. Tapi, ia menyimpan lekat pesona tarian itu. Pia sering menirukan gerak tarinya dan sedikit demi sedikit, ia menggubah tarian itu menjadi Tarian Ilalang.
“Aku nggak mau mementaskannya di depan umum,” begitu kata Pia setiap teman-teman mendesaknya untuk mempublikasikan tariannya itu, tanpa menjelaskan alasannya. Hingga akhirnya, Tante Min berhasil membujuknya.
Kini, apa yang ditakutkan akhirnya datang. Penari cilik di padang ilalang itu melihat pentasnya dan tahu, sebagian Tarian Ilalang diambil dari tarian penari cilik yang memang khas itu dulu.
Aku harus menceritakan semua kepada Tante Min, putus Pia. Ia tak berhasil menghubungi HP Tante Min hingga memutuskan meninggalkan kamar.
Sanggar begitu sunyi ketika Pia tiba. Tante Min memang meliburkan semua murid dan pelatihnya hari Minggu ini. Tapi, Pia yakin Tante Min ada di kantornya ketika melihat mazda putik milik Tante Min diparkir di depan sanggar. Namun, sebuah sedan lain yang diparkir, membuat heran Pia.
Pia berjalan agak berjingkat mendekati kantor kecil Tante Min. Pintunya sedikit terbuka. Mungkinkah Tuan Hermawan yang menjadi tamu Tante Min kali ini? Pia terpaksa menegakkan kupingnya, untuk mendengar suara dari dalam kantor. Betapa terkejutnya Pia, ketika mendengar suara yang melekat di telinganya.
“Jadi, Pia nggak mau mementaskan tariannya itu ke Jakarta?”
Nggak salah. Itu suara Yugo.
“Bisa Tante bujuk nanti.”
“Terima kasih. Tapi, jangan terlalu dipaksa. Sebenarnya, saya malah sudah minta papa untuk membiayai tarian Pia itu mengikuti festival di Singapura. Biarlah, nanti saya bicarakan dengan papa lagi kalau memang Pia nggak mau.”
Suasana hening sejenak. Deru napas Pia berubah cepat.
“Maaf ya, Nak Yugo. Lantas, bagaimana hubungan kalian berdua?” tanya Tante Min dengan suara merendah.
“Ah, untuk sementara, usahakan agar Tante pura-pura nggak tahu siapa saya. Bila saatnya tiba nanti, biar saya menjelaskan segalanya  ….”
“Maaf, saya mengganggu, Tante Min!” Suara Pia terdengar lantang begitu mendorong pintu kantor.
Tante Min dan Yugo tersentak melihat kehadiran Pia. Terlebih-lebih Yugo. Mukanya mendadak pucat pasi.
“Saya nggak nyangka, ada sandiwara  memperalat saya!” kata Pia pedas.
“Pia, duduk dulu. Dengarkan penjelasan Tante ….”
“Nggak, Tante! Saya cuma ingin bicara dengannya,” tunjuk Pia ke arah Yugo. “Kamu pikir, dengan pura-pura miskin, kamu akan merebut simpatiku? Dan, usaha kamu memberi sponsor pertunjukan itu, akan berhasil menjebakku! Maaf, aku nggak pernah tertarik dengan anak-anak orang kaya yang munafik macam kamu!”
“Pia ….”
Pia sudah nggak mendengar kalimat Yugo. Ia menghambur ke luar dengan gurat luka di hatinya. Dengan taksi, ia meluncur kembali ke rumah. Serangkaian niat yang direncanakan, berubah menjadi pahit.
“Bik, kalau ada yang mencari saya, bilang nggak ada. Apalagi kalau laki-laki. Usir saja!” pesan Pia kepada Bik Yem sebelum mengunci diri di kamar.
Semestinya aku sudah mencurigai kepolosan dan kesederhanaannya itu. Hari gini, mana ada orang yang serbajujur macam itu! isak batin Pia, yang amat tertekan dengan kepura-puraan Yugo.
***
PIA baru sadar bahwa hatinya bukan cuma disumpeki kepalsuan Yugo, ketika Bik Yem masuk ke kamar sore harinya. Perempuan setengah baya itu membawa rangkaian bunga ilalang serupa yang Pia lihat pagi tadi.
Pia buru-buru membaca kertas kecil yang terselip.

Hai pengintip, sebenarnya aku nggak berhak menerormu macam ini. Tapi, aku ingin bertemu denganmu di panggung pentasmu, malam ini pukul tujuh.

Hati Pia resah. Bagaimanapun, ia telah berbuat curang, dengan menjiplak tarian anak itu untuk Tarian Ilalang.
Aku tak ingin dicap pengecut. Aku harus menemuinya untuk menjernihkan segalanya. Bukankah ini juga berarti, aku bisa mengenal anak perempuan itu, pikir Pia memutuskan.
Pia merasa tak perlu untuk mengonsultasikan masalah ini kepada orangtuanya, apalagi orang lain. Ia merasa urusan ini harus ditanganinya sendiri. Pukul tujuh kurang beberapa menit, Pia sudah memasuki lorong gedung kesenian. Penerangan yang sebenarnya tak perlu dinyalakan bila tak ada pertunjukan, membuat Pia agak lega.
Di mana dia kini? Apa bukan kerjaan orang iseng? Tiba-tiba, ia merasa konyol berada di atas panggung. Bagaimana kalau orang itu berniat jahat mencelakaiku?
Pia menggigit bibirnya. Perlahan, ia mundur ke tepi panggung. Sesuatu yang menyentuh bahunya, membuat ia menjerit.
“Kamu ….” Pia terbata ketika membalikkan badannya. Pia sudah bermaksud lari, tapi pergelangan tangannya dicekal erat.
“Maaf, kalau agak kasar, Pi. Tapi, aku ingin kamu mendengar dulu penjelasanku.” Suara itu terdengar serak.
Pia memandang ke arah Yugo. Rupanya, cowok ini terus membuntutiku, pikir Pia. Sungguh nggak tahu diri. Pia berusaha melepaskan pegangan erat Yugo.
“Aku lepaskan, asal kamu berjanji mau memaafkanku.” Yugo memandang tajam.
“Baiklah, aku maafkan. Sekarang, lepaskan tanganku!”
“Nggak dengan kalimat ketus begitu. Duduklah di situ!” Yugo membawa Pia ke bibir panggung. Mereka duduk bersebelahan. Yugo melepaskan cekalan tangannya.
Pia melirik ke arah Yugo sambil mengusap pergelangan tangannya. Cowok itu seperti orang yang amat letih. Pia langsung menunduk ketika Yugo menengok ke arahnya.
“Sungguh, aku merasa tolol dengan cara yang kupilih untuk mendekatimu,” gumam Yugo dengan mata terarah ke deretan kursi penonton. “Ini semua karena pengalaman pahit yang pernah kualami. Beberapa kali aku tertarik dengan gadis cantik, tapi ternyata gadis itu cuma mau kudekati karena kekayaan orangtuaku.”
“Nggak semua seperti itu!” sela Pia tersinggung.
“Ya, kamu salah satunya. Tapi, aku masih sangsi. Kamu bisa saja menyalahkan sikapku. Tapi, pengalaman pahit dengan gadis-gadis materialistis yang telah kualami, memang cuma bisa kurasakan sendiri.”
Pia mencerna kalimat Yugo. Barangkali aku memang keliru menilai Yugo, pikir Pia gamang.
“Salahkah aku kalau jadi begini karena trauma pahit?!” gumam Yugo meninggi.
“Baiklah, aku maklumi kekeliruanmu. Kita baikan lagi.” Pia menjulurkan telapak tangannya. Ia berharap, ketegangan hatinya segera berakhir. Pia masih terfokus pada niat kedatangannya semula.
Yugo membalasnya lega. “Terima kasih. Namun, ada hal lain yang harus kuceritakan kepadamu, Pi,” tambah Yugo.
“Kepura-puraan mana lagi yang kamu tutupi? Baru tiga bulan kita kenalan, ternyata sudah segudang hal yang perlu kamu jelaskan.”
“Tapi sebelum kuceritakan, aku ingin tahu lebih dulu alasan kedatanganmu ke tempat ini,” syarat Yugo.
Pia menimang sejenak. “Seorang anak perempuan dari masa lalu, mengundangku ke sini,” jawab Pia samar.
“Anak perempuan?”
“Ya, kenapa kamu tertawa?” Pia bingung dan mengira ada yang tak beres dengan Yugo, atau malah dirinya!
“Jadi, selama ini kamu menganggap aku anak perempuan? Pantas papaku dulu melarangku menari! Sudahlah, jangan kamu kerutkan lagi keningmu. Bisa kusut nanti.” Yugo menjawil kening Pia.
“Aku sungguh-sungguh nggak mengerti!” Pia tambah khawatir.
Yugo menghabiskan tawanya. “Dengarkan penjelasanku baik-baik, Pi. Waktu kecil dulu, aku sering ikut kakakku latihan balet privat di rumah. Aku sangat menyukai gerak-gerakan indah balet. Malah, kakakku merasa tersaingi kalau aku menari. Tapi,  kemudian Papa melarangku menari. Kayak perempuan, katanya. Aku menurut. Cuma kadang, diam-diam aku sering menari sendirian kalau sedang jenuh. Seperti ketika kamu intip waktu itu!”
Pia terbelalak. “Jadi, anak yang menari di padang ilalang itu kamu?! Oh, nggak bisa kupercayai begitu saja tanpa bukti. Kalau memang anak itu adalah kamu, tentunya kamu menjadi pebalet yang hebat kini.”
Yugo menggeleng. “Sepulang aku liburan, mobilku kecelakaan. Tumit kananku retak hingga aku tak bisa menari lagi. Akan terasa linu bila kupaksakan. Tarian di padang ilalang itu adalah tarianku yang terakhir. Aku nggak pernah menyangka sama sekali, kalau kemudian kamu menarikan gerakan tari yang pernah kulakukan dulu. Sebelumnya, diam-diam aku mensponsori tarianmu itu pun, bukan karena aku tahu tarian itu pernah kutarikan. Sungguh, aku baru menyadari ketika melihat pentasmu kemarin malam. Setelah itu, aku langsung mengambil kesimpulan, kamulah anak kecil yang membuatku lari ketakutan karena kupikir hantu.”
“Enak aja!” rutuk Pia. “Lantas, apa maksudmu mengirim rangkaian bunga itu?”
“Sekadar untuk meyakinkan bahwa kamulah si pengintip itu. Aku juga berharap, kemudian kamu mengadu padaku. Dengan pura-pura ikut menyelidiki, aku bisa semakin dekat denganmu.”
“Jangan ngomong soal pura-pura lagi. Aku paling hal benci itu.”
“Oke, aku janji! Aku serius sekarang.” Yugo menatap lekat Pia. “Maukah kamu menari untukku?”
Pia menggeleng.
“Kenapa?”
“Aku nggak mau nari, kecuali bersamamu,” ucap Pia sambil berdiri.
Lima detik kemudian, mereka sudah menari di atas panggung tanpa penonton. Nggak terlalu sempurna karena gerakkan Yugo cuma seadanya. Namun, kesunyian membuat irama di hati mereka menjadi musik indah di dunia selama ini.
***

LipstickDimuat di majalah GADIS

MESKIPUN tinggal di sebelah rumahku, Heni jarang sekali bertandang dan ngobrol denganku. Sejak putus sekolah gara-gara papanya meninggal, ia boleh dibilang menjadi gadis kamar lantaran selalu mengurung diri di kamar.
                Aku tahu hal itu dari Yeyen, adiknya yang cuma selisih setahun dengannya. Makanya, aku agak kaget ketika tiba-tiba Heni nongol, saat aku sedang membaca di kamar.
                “Wiwin, sebenarnya Mita itu masih sekolah nggak, sih? Masa dia seenaknya make barang orang tanpa izin!” Heni langsung sewot sambil duduk di dekatku.
Jelas aku bertambah heran. “Ceritanya gimana, Hen?”
                “Barusan anak nggak tahu malu itu main di kamar gue, maksudnya mau ketemu Yeyen. Karena tahu diri, gue keluar kamar, ngebiarin mereka ngobrol. Abis, gue dan Yeyen kan, masih satu kamar. Nggak lama kemudian, mereka berdua pergi dan gue balik ke kamar. Nggak tahunya, gue ngeliat lipstik gue tergeletak di atas meja. Kelihatan sekali kalo habis dipake,” celoteh Heni cepat.
                “Kamu yakin, Mita yang pake lipstikmu? Bukan Yeyen?”
                “Yeyen punya lipstik sendiri, ngapain pake punya gue?”
                “Ya, kalo begitu mau diapain lagi? Nanti kalo ketemu Yeyen, tanya dulu sama dia. Kalo emang Mita yang pakai, baru kamu tegur baik-baik. Sekarang, kamu lupain aja dulu ….”
                “Lupain? Enak aja! Gue beli lipstik itu susah payah dengan tabungan, eh, itu anak malah main pake seenaknya. Anak sekolah, tapi kok, nggak punya etika begitu. Menurut gue, ini adalah tindakan kriminal. Dia udah mencuri milik gue. Gue nggak sudi lagi melihat mukanya, sebelum dia sujud minta maaf!” rutuk Heni sambil berbalik meninggalkanku.
                Aku menghela napas, sambil mengingat pertemuanku terakhir dengan Heni dulu. Ia bukan tipe gadis yang ceriwis dan gampang sewot macam barusan. Heni cukup penyabar dan sangat pandai. Aku juga menyayangkan ia sampai berhenti sekolah karena di kelas, akulah rivalnya meraih ranking pertama. Tapi, keluarga Heni memang harus kehilangan sumber nafkahnya, ketika papanya meninggal karena tertabrak. Heni mengorbankan sekolahnya demi kelangsungan sekolah empat adiknya.
                Hanya. aku tak menyangka akan terjadi perubahan pada dirinya di kemudian hari.
***
                HINGGA beberapa waktu, aku belum lagi melihat Heni. Namun, ketika aku sedang menyapu halaman belakang, Heni muncul lagi di hadapanku. Ada cuaca buruk di mukanya.
                “Mita make lipstik curian itu untuk memikat cowok,” lapornya tanpa sepatah kata salam.
                “Aku nggak ngerti maksudmu. Kupikir masalah lipstik itu sudah beres,” timpalku. Ya, rasanya sudah hampir seminggu berlalu.
                Heni menggelengkan kepala. “Elo tahu Oben, kan?”
                “Ya,” sahutku singkat. Siapa yang nggak kenal anak pak lurah, yang gantengnya selevel dengan bintang sinetron Andrew White. Di kampungku, selain terkenal karena ketampanannya, Oben adalah satu-satunya cowok yang berstatus mahasiswa ITB.
                “Setelah dari kamar gue waktu itu, dia pergi sama Yeyen ke rumah Oben, dengan alasan minta informasi kuliah di Bandung. Nggak tahunya, itu cuma siasat untuk merebut hati Oben. Sialnya, Oben gampang kerayu. Beberapa hari lalu, gue denger dari Yeyen, mereka udah sering jalan bareng. Kalo nggak gara-gara pake lipstik gue, belum pasti dia jadi pacar Oben.”
                Aku berusaha menahan tawa. “Hen, dengarkan aku. Semua gadis di kampung kita ini, pasti pernah melamun bisa jalan, makan, nonton, dan pacaran sama Oben. Tapi, bukan berarti lamunan itu harus jadi kenyataan. Kalo Oben memang suka sama Mita, ya biarin aja. Cewek lain nggak perlu patah hati. Masih banyak cowok di dunia ini. Kesimpulannya, kamu nggak perlu cemburu karena Mita jadian sama Oben.”
                “Cemburu? Buat apa gue cemburu? Dulu waktu Oben masih kelas tiga dan kita di kelas satu, elo kan tau sendiri, gimana Oben ngejar-ngejar gue? Pakai kirim-kirim surat segala lagi, kayak di film kuno,” kenang Heni.
                Aku mengangguk membenarkan. Tapi, itu dulu, waktu Oben masih berpakaian semaunya dan belum punya status mahasiswa ITB. Lagi pula, waktu itu Heni sedang kesengsem sama Bobi, anak pengusaha bahan bangunan yang kini sudah bangkrut.
                “Apa sih hebatnya Mita, sampai Oben mau jadi pacarnya? Pasti gara-gara pakai lipstik gue. Huh, mestinya dia ngaca dulu! Kalo perlu, ngaca di mal yang kacanya gede-gede. Dasar sok kebagusan!” Heni terus merutuki Mita sambil ngeloyor pergi meninggalkanku.
                Aku jadi kasihan sama Mita yang terus disumpahi Heni. Mita adik kelasku. papanya juga sudah meninggal, tapi ia punya mama yang bekerja sebagai guru SD. Otaknya, menurut para guru, lumayan encer. Soal kecantikan, kupikir ia tak kalah cantik dengan Heni yang dulu. Dulu? Ya, karena sekarang, Heni sudah berubah gemuk dan pucat. Rambutnya pun kelihatan seperti tak pernah dirapikan. Sahabatku itu memang sudah sangat jauh berubah.
***
DUA bulan lebih aku nggak melihat Heni. Kupikir, masalah lipstik dan Mita sudah terhapus dari kepalanya. Sebenarnya, aku ingin minta kepastian dari Yeyen dan juga Mita, yang kini agak dekat denganku, namun kubatalkan. Aku tak ingin menyalakan bara yang sudah padam.
                Tahu-tahu, Heni nongol lagi ke kamarku, sambil membawa majalah dan langsung menyodorkan halaman tengahnya kepadaku.
                “Gue denger, ternyata setelah dari rumah Oben tempo hari itu, Mita minta diantar Yeyen ke studio foto. Kemudian, foto itu dikirim ke majalah, mengikuti lomba pemilihan gadis model. Sekarang, fotonya dimuat karena dia masuk unggulan. Coba elo perhatikan bibirnya! Warna pink itu jelas dari lipstik gue. Rupanya, dia benar-benar manfaatin barang curian untuk segala rupa,” celoteh Heni mengejutkanku.
                Aku memerhatikan foto Mita yang terpampang di majalah. Dia kelihatan cantik dengan gaya yang alami. Soal polesan di bibirnya, aku tak bisa membedakan, apakah benar itu lipstik Heni atau bukan.
                “Dan, sampai sekarang, tuh anak sama sekali belum ngejelasin soal lipstik itu sama gue,” sambung Heni.
                “Kamu udah nanya Yeyen belum? Dulu aku kan, nyaranin gitu,” kataku mengingatkan.
                “Harusnya dia dong, yang sadar diri. Udah tau salah, ngapain harus nunggu ditegur segala? Emangnya, gue petugas hukum?!”
                “Bukan gitu, Hen. Ini kan, demi kebaikanmu juga.”
                “Ah, elo emang pengin ngebela Mita. Sekarang, elo lagi dekat sama Arif, kan? Dan, si Arif itu kakaknya Mita.”
                Aku melotot, mulai nggak menyukai kata-kata Heni. Tapi untuk balas menyerang, aku tak tega. “Soal kedekatanku dengan Arif, jangan kamu sangkut pautkan dengan masalahmu,” sanggahku.
                “Kenapa nggak? Elo emang punya kepentingan mempertahankannya. Hanya gue nyayangin aja karena elo sampai ngorbanin persahabatan kita. Wiwin dan Arif … selamat untuk elo berdua!”
                Aku tak menggubrisnya karena kuanggap Heni sudah keterlaluan.
                “Asal elo tau aja, dulu Arif juga pernah gue tolak,” gumam Heni sambil meninggalkan kamarku.
                Aku nggak peduli. Dadaku terasa gerah dengan sikap Heni yang sudah di luar batas itu. Mungkin lain kali, aku harus mengunci kamarku ,agar nggak sembarangan orang bisa mengusik ketenanganku. Lebih-lebih orang seperti Heni. Entahlah, kupikir otaknya mulai terganggu karena frustasi. Aku ingat, bagaimana dulu dia mengatakan dengan lantang akan masuk kuliah di ITB, kemudian mencari pasangan anak ITB juga.
                “Biar kelihatan keren kalo berkeluarga nanti. Suami-istri sama-sama insinyur!” ungkap Heni dengan mantap.
***
                “ARIF di rumah sakit, Win. Kecelakaan sewaktu membonceng Mita. Kalo kamu mau membesuknya sekarang, kita berangkat bareng, yuk!” kata Yeyen di teras rumah.
                Tanganku yang masih memegang gagang pintu, langsung tegang. “Kamu tahu dari siapa, Yen?” tanyaku panik.
                “Barusan aku ke rumah Mita karena ada janji ketemu. Tapi, kakaknya yang sulung langsung memberi tahu kabar itu.”
                “Baiklah. Aku ikut. Tunggu sebentar.” Aku langsung balik ke kamar mengganti pakaian. Begitu beres, aku langsung kembali menemui Yeyen di teras. Kami bergegas mencegat angkot.
                “Kamu tahu kejadian kecelakaan itu bagaimana?” tanyaku setelah duduk di angkot.
                “Katanya, Arif mengantar Mita untuk daftar bimbingan tes. Kamu tahu kan, jalanan dari arah tempat bimbingan itu menurun tajam. Nah, di turunan itu, mendadak ada orang nyeberang. Arif berusaha menghindar dan mengerem motornya. Tapi, ternyata remnya nggak berfungsi. Arif membuang kendali ke kiri, tapi jadinya malah nyelonong nabrak batu, dan akhirnya terjungkal ke parit batu ….”
                Aku dapat menerka kejadian selanjutnya, meskipun Yeyen kesulitan mencari kalimat untuk meneruskannya. Kucoba menenangkan perasaanku sambil berdoa. Begitu angkot tiba di depan rumah sakit, kami turun, lalu setengah berlari menuju ruang informasi. Kami segera mendapat keterangan tempat perawatan Arif dan Mita.
                Tiba di tempat yang kami cari, terlihat keluarga Arif tengah dirundung kesedihan. Aku menghampiri mama Arif yang baru mengenalku seminggu lalu.
                “Nak Wiwin, syukurlah segera datang. Arif barusan sadar dan terus memanggil namamu. Tunggulah sebentar sampai dokter mengizinkan masuk,” tutur Mama Arif sambil menahan tangisnya.
                “Bagaimana dengan Mita?” tanyaku khawatir.
                “Mita … Mita masih kritis. Doakan saja, agar kita bisa berkumpul lagi.”
                Aku mengangguk dalam. Setelah lama menunggu, dokter akhirnya mengijinkan aku menengok Arif. Begitu melihat keadaannya, mataku langsung basah. Buru-buru kugenggam tangannya, sebelum tangisku makin menjadi-jadi.
                “Udah dong, jangan terlalu cemas gitu. Aku nggak apa-apa. Aku udah ngerasa tenang karena kamu sudah mau ke sini.” Arif justru menghiburku.
                “Aku akan terus di sini selama diperlukan.”
                “Jangan bilang gitu. Kamu kan, mesti sekolah.”
                Aku tersenyum dan menjentik hidungnya yang kusukai.
                Arif menghela napas sebentar. “Sampai sekarang, aku masih bingung kenapa remku tiba-tiba blong. Padahal sewaktu berangkat, nggak apa-apa. Aku juga merasa, penyeberang jalan itu seperti sengaja menghalangi motorku,” gumamnya kemudian.
                “Jangan berpikir yang aneh-aneh dulu. Nanti kalo lama sembuhnya, kan gawat. Senewen kalo kita harus ketemuan terus di rumah sakit.”
                Arif tertawa sambil mengusap punggung lenganku. Tapi aku tahu, pikirannya masih belum tenang. Mungkin sama sepertiku, ia masih memikirkan keadaan Mita.
                Sayangnya, aku nggak bisa berlama-lama memikirkan keadaan Arif. Aku segera kembali bersama Yeyen. Di dalam kamar, aku terus berdoa untuk kesembuhan Arif dan Mita. Sampai kemudian, pintu kamar diketuk dari luar. Wajah Heni kulihat tak lama kemudian.
                “Yeyen bilang, kalian baru dari rumah sakit. Benar?” tanyanya tanpa basa-basi.
                “Ya, Yeyen pasti udah cerita siapa yang kecelakaan. Kalo kamu mau ikut membesuk, besok kita bisa pergi bersama-sama,” tawarku sambil membiarkan Heni duduk di atas dipanku.
                “Ngebesuk siapa? Gue kan, nggak dekat dengan Arif. Kalo Mita, terus terang, gue masih malas melihat mukanya. Gue rasa, kecelakaan ini karma atas perbuatannya memakai lipstik gue dulu. Biar dia tau rasa!"
                “Jaga mulutmu, Heni!” Kesabaranku hilang. “Seharusnya, kamu mendoakan orang yang mendapat musibah, bukan merutuk.”
                “Ngedoain pencuri? Nggak, ah. Kalo cuma ngedoain pacar baru elo itu sih, gue masih mau.”
                Kepalaku terasa penat. “Aku minta dengan sangat, tinggalkan kamarku secepat mungkin!” hardikku.
                Heni nggak menunggu dua kali perintahku. Ia langsung menghilang dari pandanganku. Aku nggak peduli, apakah Heni sakit hati atau nggak dengan usiranku. Saat ini aku cuma ingin menenangkan pikiranku dan berdoa untuk keselamatan Arif bersama Mita.
                Ternyata … doaku tak terkabul sepenuhnya.
                Keesokan harinya, kabar duka sampai juga di telingaku. Mita meninggal dunia. Satu hal yang ingin buru-buru kulakukan setelah menghadiri pemakaman Mita adalah segera bertemu Heni.
                Di kamarnya, aku mendapatkan Heni dalam keadaan terbaring lemah. Heran, padahal kemarin ia masih kelihatan bugar.
                “Terima kasih, Win, elo masih mau nengok gue,” kata Heni begitu melihat kedatanganku.
                “Terus terang, aku baru tahu kalau kamu sakit, Hen. Tadinya, aku cuma ingin nyampein permohonan maaf atas nama Mita karena kesalahannya padamu. Sayangnya, aku selalu lupa bertanya padanya, apakah ia benar-benar telah memakai lipstikmu tanpa sepengetahuanmu. Kamu tahu, Mita sudah meninggal, kan?”
                Heni mengangguk lemah. “Soal lipstik itu, gue yang keliru. Semalam, gue baru nanya Yeyen. Ternyata, memang Yeyen yang dulu memakai lipstik gue. Ia buru-buru waktu itu, jadi mengira lipstik gue itu punya dia. Seharusnya, gue ikutin kata-kata elo dulu itu. Tapi, sudahlah ….” Heni kelihatan amat bersalah.
                Aku mendongkol dalam hati. Tapi, melihat kondisi Heni, aku malas berkata-kata lagi. “Cepat sembuh, Hen,” kataku sambil berpamitan.
                Di kamar, aku merenung sebentar. Kucoba untuk melupakan keburukan Heni. Aku berdoa agar Tuhan memaafkannya dan Heni bisa segera sembuh.
                Seminggu kemudian, Heni dikabarkan baru sembuh secara fisik dari sakitnya. Tapi, ia kemudian berubah drastis secara mental!
                Kata Yeyen, kini Heni sering melamun sendirian di depan cermin sambil memegang lipstiknya. Sesekali, ia mencoreng bibirnya hingga melewati batas. Aku merasa iba mendengarnya. Apalagi setelah beberapa hari kemudian, aku melihat Heni berjalan di sekitar turunan tempat kecelakaan yang menewaskan Mita.
                Sambil memegang lipstiknya, Heni berteriak, ”Mita, maafin gue! Mita, maafin gue ….”
                Aku jadi berpikir, mengapa Heni bisa separah itu? Mengapa pula ia jadi sering menyeberangi turunan itu ketika ada motor yang lewat? Heni juga suka berteriak, ”Hati-hati, Mita! Remnya blong ….”
***
Bukan Untukku
MASUK ke pelataran gelanggang remaja di sisi Jalan Yos Sudarso, aku melihat belasan orang sedang berlatih menendang dan memukul. Sesekali mereka melompat dan berteriak. Kulihat Obet memberiku isyarat agar mengambil tempat duduk di pojok dan menunggunya sebentar.
Aku memerhatikan sebentar mereka yang sedang berlatih taekwondo di depanku. Nggak ada yang bisa mencuci mataku. Tapi… ups! Dia pasti bukan Takeshi Kaneshiro, kan? Mustahil cowok Taiwan berdarah Jepang, yang menghebohkan perfilman Hongkong itu, tiba-tiba muncul jadi pelatih taekwondo. Pandanganku terus tertuju pada sosoknya.
“Heh, dari tadi melotot aja gue perhatiin! Siapa yang elo incar?” tanya Obet, yang nggak kusadari sudah menghampiriku.
“Pelatihmu boleh juga,” jawabku sambil terus melirik ke arah cowok itu. Astaga! Dia membuka baju seragam taekwondonya dengan cuek di sisi lapangan. Badannya tegap berisi.
“Bang Herdi? Dia kan, dulunya siswa di sekolah kita juga. Cuma, dia lulus waktu kita masuk tahun lalu,” jelas Obet sambil menyeka keringat dengan handuk kecil.
“Uh, coba aku masuk SMA tiga tahun lalu. Pasti sudah kurebut hatinya.”
“Dia hebat, lho! Prestasi taekwondonya udah segudang. Otaknya juga encer.”
Aku nggak tertarik dengan dua hal itu. Yang jelas, dia terlihat begitu macho.
“Cewek yang ngejar dia juga banyak.”
“Kalo itu sih, udah bisa kutebak. Bahkan aku yakin, pacarnya sekarang lebih dari dua,” tambahku.
“Tebakan elo salah. Bang Herdi belum punya cewek. Eh, elo naksir dia? Biar nanti gue sampein. Kebetulan dalam persiapan menjelang Porda tahun ini, gue dilatih intensif sama dia. Jadi, gue agak akrab sama dia.”
“Awas, kalo kamu berani macam-macam! Akan kularang mama membuatkan puding untukmu lagi nanti!” ancamku sengit.
Obet cengengesan. “Gue ke ruang ganti dulu. Elo jadi ke Malibu nggak, sih?” tanya Obet.
Aku melotot gemas ke arahnya. “Buat apa aku ke sini kalau bukan untuk itu?! omelku. Obet langsung ke ruang ganti sambil terus cengengesan.
Di sekolah, ia memang sudah janji akan mengantarku membuat beberapa foto yang akan kukirimkan pada sebuah lomba pemilihan cewek terkece tahun ini di majlah Galxi Galz. Aku terpaksa menjemputnya dulu ke gelanggang karena sore ini adalah jadwal Obet latihan taekwondo. Sebenarnya aku bisa pergi tanpa Obet. Tapi, rasanya aku kurang pede kalau nanti harus bergaya di depan kamera tanpa diarahkannya. Sebab kuingat-ingat, sejak kecil kalau difoto dengan arahan gaya Obet, hasilnya selalu bagus.
“Sori, kamu pacarnya Obet?” Suara bariton di sampingku, membuatku nyaris latah.
“Oh, bukan! Obet cuma teman. Kebetulan dia tetangga saya,” kataku setelah menenangkan dadaku yang langsung bergemuruh. Entah kapan Bang Herdi hadir di sebelahku.
“Kirain kamu pacarnya yang lagi ngejemput.”
“Ah, saya cuma disuruh Obet untuk ngelihat ke sini. Katanya, mungkin saya nanti tertarik ikutan latihan di sini,” kataku berbohong.
Cowok itu langsung manggut-manggut. Sambil tersenyum, ia pamit meninggalkanku. Aku langsung menghela napas lega. Kemudian, kuingat kalimat pertama yang dilontarkan padaku tadi. Ow! Apakah itu berarti, ia juga tertarik padaku? Duh, Tuhan! Maafkan kalo sifat ge-erku muncul. Tapi, semua orang selalu bilang, aku ini cantik dan mudah membuat cowok jatuh hati. Kalo cowok itu adalah Bang Herdi, berarti Tuhan telah melimpahkan karunianya sekali lagi untukku.
***
“MA, boleh kan, Tya ikutan taekwondo kayak Obet?”
Seperti yang kuduga, mata mama terbelalak heran. “Apa Obet yang memintamu?” tanyanya kemudian. Ia menurunkan majalah yang dibacanya.
Aku menggeleng. “Obet malah nggak tahu keinginan Tya ini,” jawabku.
Mama melepas kacamata bacanya. “Kalo kamu pengin ikutan modeling, les balet, piano, atau komputer, Mama mengerti. Tapi, kok, kenapa kamu tiba-tiba tertarik dengan taekwondo?”
Tak mungkin kukatakan alasan yang sebenarnya. “Taekwondo itu kan, bisa buat olahraga, sekalian belajar bela diri. Biar nanti-nanti kalo ada orang jahat, Tya bisa menjaga diri. Masa ikut kegiatan yang bermanfaat gitu dilarang?”
“Mama nggak ngelarang. Tapi, papa pasti nanti protesnya sama Mama. Belum lagi, Tante Dien yang pengin ngeliat kamu sukses ngikutin jejaknya menjadi artis. Sayang kan, kalau cuma gara-gara ikutan taekwondo, kulit kamu jadi terbakar atau badan kamu ada yang terluka?”
Aku mendengus. “Sampai kapan pun, Tya nggak mau jadi artis!” cetusku sambil pergi.
Mungkin, seperti ini perasaan perempuan-perempuan yang dilarang sekolah di masa Ibu Kartini dulu. Tapi, aku nggak mau terkukung begitu saja. Tanpa sepengetahuan mama, aku mengisi formulir pendaftaran untuk latihan taekwondo. Diam-diam, kuambil uang tabunganku untuk membeli seragam taekwondo. Aku juga nggak bilang-bilang kepada Obet karena khawatir nggak bisa jaga mulut.
Kamis sore di hari latihan pertamaku, sengaja aku datang lebih awal. Obet yang datang kemudian, terkejut melihat kehadiranku.
“Tya, apa-apaan sih, elo?” tanyanya heran. “Aha, pasti gara-gara Bang Herdi, kan?”
“Jangan asal tuduh. Aku sengaja ikutan buat jaga diri, kalo nanti kamu kumat lagi narikin rambutku.”
“Terserah elo mau bilang apa. Gue sih, nggak mempan dibohongin!” Obet tak percaya. “Yang penting, asal elo tahan banting aja dilatih Bang Herdi!”
“Oooh, kalau soal itu sih, jangan khawatir. Aku sudah minum multivitamin tadi, biar kuat ikut latihan ini,” sergahku meyakinkan.
Cuma, keyakinanku langsung goyah ketika Bang Herdi menyuruh semua muridnya pemanasan, dengan lari mengitari areal gelanggang ini sebanyak dua puluh kali. Terpaksa kuturuti perintahnya, meskipun Obet sempat memintaku agar berlari semampuku saja. Tapi… entah pada putaran keberapa, kurasakan tiba-tiba napasku sesak dan kepalaku berputar. Ufh …. Aku keburu ambruk, sebelum sempat minta Obet memapahku. Rupanya, Bang Herdi meneruskan latihan.
“Kata Bang Herdi, elo nggak apa-apa. Cuma kecapekan. Minum dulu ini,” kata Obet setelah aku sadar dan terduduk.
Aku melegakan tenggorokanku dengan sedikit air. Kulihat Bang Herdi menyuruh murid-muridnya berlatih. Kemudian, ia menghampiriku.
“Hari ini kamu jangan ikut latihan dulu. Fisik kamu belum siap. Tapi, jangan pulang sebelum Obet selesai latihan. Biar nanti saya yang mengantar kamu,” kata Bang Herdi penuh perhatian.
“Nggak usah, Bang. Biar Obet aja yang nganterin pulang,” sergahku. Aku khawatir kalau nanti Bang Herdi sampai menemui mama. Bisa-bisa, usahaku gagal total.
“Baiklah,” katanya sambil tersenyum. Ia kemudian mengajak Obet untuk bergabung mengikuti latihannya.
Perasaan hatiku jadi nggak keruan. Antara malu dan senang. Malu, karena di matanya, aku cuma perempuan yang ketahuan berfisik lemah. Tapi senang, karena ia mulai menaruh perhatiannya kepadaku. Rasa senangku semakin berbunga-bunga ketika bubar latihan, ia kembali menghampiriku.
“Kalo memang sungguh-sungguh pengin latihan taekwondo, kamu harus banyak makan dan olahraga ringan. Ada baiknya kamu periksa dulu ke dokter besok. Kalo-kalo kamu kurang darah,” pesannya.
“Baik, Bang,” jawabku singkat. Mataku terus mengikutinya sampai ia pergi dengan motor gedenya. Ia terlihat sangat macho dengan kendaraan itu.
“Bang Herdi, baik sekali ya, Bet.”
“Jangan ge-er dulu. Dia emang perhatian sama siapa aja. Gue malah diminta ke rumahnya malam ini. Katanya, Bang Herdi pengin ngasih lihat rekaman waktu bertanding dulu,” sela Obet.
“Oya? Kalo mama nggak melarangku nanti malam, aku boleh ikut, kan?”
“Terserah elo. Asal gue nggak disuruh ngebohong nanti.”
Aku tersenyum senang.
Akan tetapi, malamnya mama melarangku keluar rumah sedetik pun. Aku malah disuruh istirahat karena mukaku kelihatan pucat. Benar-benar nggak beruntung!
***
PAGINYA di sekolah, aku nggak sabar menemui Obet. Aku ingin mendengar semua ceritanya tentang Bang Herdi yang ia tahu semalam.
“Gimana kunjunganmu semalam? Apa Bang Herdi sempat menanyaiku?” tanyaku nggak sabar.
Obet terdiam. Mukanya tiba-tiba ditekuk aneh. Ia nggak menjawab pertanyaanku. Obet malah menjauhiku. Kelakuan anehnya ini berlanjut sampai pulang sekolah. Ia pulang lebih dulu tanpa menungguku.
Aku tahu, ada yang salah denganku kalau Obet mendiamkanku begitu. Itu kebiasaannya sejak kecil. Tapi, aku punya senjata ampuh untuk meredakan perang dingin ini. Kupaksa mama membuat puding kopyor kesukaan Obet. Begitu puding itu siap, aku langsung membawanya ke rumah Obet.
Obet sedang duduk di kamarnya ketika aku masuk. Kutaruh puding kesukaannya di atas meja belajar. Mukanya nggak sekisruh pagi tadi.
“Mama ngirim puding ini buat kamu. Sekalian aku minta maaf karena semalam aku nggak jadi pergi,” kataku pelan membuka percakapan.
“Elo nggak salah apa-apa kok, Tya.”
“Kalau gitu, boleh dong, tahu sedikit cerita kunjunganmu semalam ke rumah Bang Herdi?”
Obet menghela napas. Lagi-lagi, mukanya mendadak kusut. Oala! Aku baru sadar, Obet ternyata nggak suka ditanya soal Bang Herdi. Tapi, kenapa?
“Kamu kayaknya nggak suka kalo kutanya soal Bang Herdi? Kamu cemburu?” tebakku langsung.
“Bukan itu.”
“Lantas?”
“Gue nggak mau cerita sama elo.”
Aku menekuk bibirku. “Baiklah, kalo memang mau mulai main rahasia-rahasiaan lagi. Mulai detik ini, aku nggak mau nanya sama kamu lagi.”
Obet menatapku. “Aku takut kamu kecewa, Tya. Karena, ini menyangkut Bang Herdi yang lagi kamu taksir itu,” jawab Obet menyerah.
“Kenapa dengan Bang Herdi?” Aku malah penasaran.
“Bang Herdi ternyata … bukan cowok sejati. Dia gay ….”
Tap! Rasanya jantungku berhenti berdetak. Apa Obet nggak salah ngomong? Aku tahu apa itu gay. Teman-teman Tante Dien, nggak sedikit yang seperti itu. Dan setelah kuamati, mereka kebanyakan punya ciri yang dapat kukenali. Kaum itu bertingkah sedikit atau banyaknya cenderung feminin. Tapi, Bang Herdi nggak seperti mereka sedikit pun. Ia sangat, saaangat macho. Jauh dari bayangan yang ada di pikiranku.
“Gue juga kaget waktu mendengar pengakuannya. Apalagi kemudian, ia menyatakan keinginannya untuk pacaran dengan gue. Wah, gue langsung kabur saat ia mau … Tya, jangan paksa gue untuk menceritakan yang lainnya.” Obet memohon dengan gemetar.
Aku memegang bahu Obet. Bahu yang selama ini kujadikan sandaran tangisku bila hatiku sedang sedih karena bentrok dengan orangtuaku. Aku nggak ingin bahu yang tegap ini menjadi rapuh. Aku yakin, kekecewaannya terhadap Bang Herdi melebihi kecewaku.
“Gue akan berhenti latihan taekwondo. Gue mau ngejauhin Bang Herdi. Gue kecewa karena selama ini Bang Herdi adalah panutan dalam latihan taekwondo,” kata Obet emosional.
Pada detik yang sama, aku mulai menyadari makna pertanyaan yang pernah dilontarkan Bang Herdi tentang hubunganku dengan Obet. Aku juga baru memerhatikan bahwa Obet meskipun baru kelas satu SMA sepertiku, memang sudah pantas untuk ditaksir siapa pun. Wajahnya ganteng dan badannya tegap walaupun mungkin belum setinggi dan sebesar Bang Herdi.
“Aku juga kecewa, Bet. Tapi, Tante Dien pernah bilang, kita harus menyadari bahwa di dunia ini nggak cuma ada hitam dan putih. Masih ada warna lainnya, yang diciptakan dengan maksud yang nggak mudah dimengerti,” hiburku tanpa maksud menceramahinya.
Obet mengangguk. “Tapi, Tya, gue tetap akan berhenti latihan tekwondo, entah sampai kapan.”
“Aku juga,” timpalku cepat. Untuk saat ini, aku ingin mendukung apa pun keputusannya. Lagian, kalau aku jadi artis beken nanti, aku nggak mau main film silat. Jadi, aku nggak perlu latihan taekwondo segala.”
“Kalau gue narikin rambut  elo?”
“Aku tarik lagi rambutmu.”
“Kalau ada yang gangguin elo?”
“Tinggal ngadu sama kamu.”
Obet tersenyum sambil menatapku lekat. Itu kebiasaannya jika aku berhasil menenteramkan hatinya. Namun, kali ini tiba-tiba aku merasakan pesona yang lain dari senyum dan tatapannya. Ada getaran aneh yang nggak pernah kurasakan sebelumnya. Aih, tanda-tanda apa lagi sih, ini?
***
Cowok Khayalan

TERHITUNG sudah tiga hari ini, Ria menganggap obrolan Winta dan Diana menjadi amat membosankan. Tampaknya, mereka sudah nggak peduli lagi, apakah Ria menyukai obrolan itu atau nggak, lantaran  satiap saat, obrolan mereka tampaknya semakin seru.
“Benar lho, Na. Dion kemarin mulai sering curi-curi pandang ke arah gue. Bukannya ge-er. Dua kali gue nangkep basah,” kata Winta sambil menelan cendol hijau kesukaannya.
“Itu berarti, udah deket lagi ama jadian. Kayak waktu gue dengan Restu tempo hari. Nggak lama setelah dia suka curi pandang, mulai deh, dia ngajak nonton. Mana film India lagi. Tahu kan, gue paling suka film India. Udah karcisnya murah, filmnya panjang,” timpal Diana. Tangannya membetulkan letak kacamatanya.
“Ah, itu sih, otak elo aja yang nggak mau rugi!” sahut Winta. Ia kemudian melirik Ria yang cuma mengaduk-aduk siomay di depannya. “Elo sendiri gimana? Elo udah dapet gacoan?”
Ria cuma tersenyum kecil. Matanya menerawang, lalu mengedip-ngedip, membuat Diana dan Winta penasaran.
“Pokoknya seru dan mengesankan.” Mulut Ria terbuka. Dia sendiri nggak tahu, bagaimana tiba-tiba bisa mengatakan kalimat itu.
“Seru gimana?” tanya Winta yang tak menyangka Ria akan memberi respons, lantaran sejak tadi cuma bengong.
Mulut Ria tak segera terbuka. Dipandanginya Winta dan Diana bergantian. “Begini …. Mmm, kemarin gue kan, ke toko buku, beli diary buat kado ultah nenek gue. Nah, pas pulangnya, di bus ada cowok cakep. Ya, akhirnya kita kenalan, deh.”
“Pasti elo duluan yang ngajak kenalan,” tuding Diana.
“Yeee, kok nuduh? Yang jelas, mulanya karena waktu itu gue mau bayar ongkos, tapi nggak punya receh. Uang gue lima puluh ribuan semua. Untung cowok di sebelah gue itu ngerti dan mau bayarin gue.”
“Namanya siapa?” tanya Winta dan Diana nyaris berbarengan.
“Namanya …. Mmm … Roy. Ya, Roy. Perhatikan, dari namanya aja, dia bakalan cocok jadi cowok gue. Ria dan Roy. Cocok, kan?” Mata Ria berbinar. Dia memuji dirinya sendiri dalam hati karena kali ini bisa membuat dua sahabatnya takjub. Soal apakah dusta itu akan terbongkar, itu urusan nanti.
Bel istirahat berbunyi. Tiga sahabat itu bergegas menuju kelas, setelah membayar apa yang mereka makan dan minum selama di kantin. Di sela-sela waktu belajar, pikiran Ria menerawang, memikirkan rencana obrolan soal cowok gacoannya. Ya, seenggaknya, dia nggak perlu duduk menjadi pendengar setia saat di antara sahabatnya.
Pulang sekolah Ria nggak bisa pulang bareng dengan dua sahabatnya. Diana pulang dengan cowok barunya, Restu. Meskipun Restu menawarinya untuk satu mobil, Ria menolak. Apa enaknya jadi kambing congek di antara sepasang kekasih. Sementara itu, Winta masih harus rapat OSIS. Tentu aja cewek itu semangat karena di sanalah, dia bisal saling curi-curi pandang dengan Dion.
Ria melangkah malas ke halte terdekat. Jam pulang sekolah begini, butuh perjuangan untuk mendapatkan tempat duduk si atas bus. Makanya, Ria sengaja memilih bus patas AC. Meskipun mahal, asal sampai. Begitu bus yang ditunggunya datang, Ria segera naik dan mencari tempat duduk di bagian belakang, biar gampang turun.
“Hei, ketemu lagi kita! Baru pulang?”
Ria terkejut mendengar sapaan di sebelahnya karena dia baru aja duduk. Seorang cowok cakep menatapnya sambil tersenyum. Ria mencoba mengingat-ingat sosok di sebelahnya. Siapa?
“Lupa, ya? Kemarin sore, kita kan, baru kenalan di bus. Namamu Ria dan aku Roy. Kita kenalan gara-gara kamu nggak punya uang receh untuk bayar bus kemarin. Ingat?”
Ria menggeser duduknya sedikit menjauh. Roy? Kemarin? Ah, mana mungkin! Aku kan, cuma berbohong mengatakan hal itu kepada Winta dan Diana pagi tadi. Lalu, siapa orang ini sebenarnya? Ria kelimpungan.
“Terserah kamu kalo memang nggak mau kenal lagi denganku. Cuma kamu perlu tahu, aku nggak bisa tidur semalaman. Habis, kamu nggak ngasih tahu nomor HP. Untung, Tuhan kasihan sama aku. Nggak nyangka, bisa ketemu kamu pulang sekolah gini.” Roy terus nyerocos.
Ria masih berpikir. Aku nggak bisa diam terus, putusnya dalam hati. “ Maaf, kalo boleh tahu, kamu sendiri masih sekolah, kuliah, atau …”
“Menurut kamu apa? Yang jelas, aku sudah tamat SMA. Apa kamu keberatan kalo punya pacar bukan anak SMA?”
“Pacar? Kok, ngelantur, sih?”
“Lho, kamu kan, kemarin bilang belum punya pacar. Apa aku kurang ganteng untuk ukuranmu?”
Ria melirik wajah Roy. Matanya begitu mirip Ethan Hawke. Sama persis dengan cowok yang diidolakan Ria selama ini. Pantas aja Ria tadi merasa pernah melihat Roy. Seenggaknya, Ria memang pernah membayangkan punya pacar yang bertampang macam itu.
“Ria dan Roy. Aku rasa, itu nama pasangan yang cocok, kan?” kata Roy lagi.
Ria mengerutkan dahi. Kalimat itu sempat diungkapkannya kepada Diana dan Winta tadi pagi. Ia menghela napas sebentar. Semua ini nggak mungkin dipikirkan. Jalani aja … jalani aja, bisiknya dalam hati.
“Rumahmu masih jauh?” Roy menyentak Ria.
“Masih dua halte lagi,” jawab Ria setelah melihat ke luar jendela. “Nanti, ganti naik mikrolet. Sampailah.”
“Boleh aku tahu rumah kamu?”
Ria buru-buru menggeleng.”Kapan-kapan aja. Jangan sekarang,” lanjutnya. Dia ngeri membayangkan tampang neneknya, kalo sampai melihat ada cowok yang mengantarnya. Masih menempel di,benaknya ketika Shasa, kakaknya, dulu waktu SMA pernah diceramahi habis-habisan gara-gara membawa teman cowok ke rumah. Itulah yang sampai kini membuat Ria ragu untuk pacaran.
***
SEBENARNYA, Ria ingin mengatakan kejadian menakjubkan yang dialaminya, saat ngobrol di kantin seperti biasanya. Tapi, niat itu diurungkannya karena yakin dua sahabatnya malah nggak akan pernah memercayainya lagi nanti. Lagi,pula, Ria sudah bisa menikmati obrolan soal cowok.
Winta berceloteh tentang Dion yang mulai berani mengantarnya pulang kemarin. Diana memaparkan sifat romantis Restu saat mengajaknya nonton film India terbaru yang dibintangi Shahrukh Khan dan Preity Zinta. Ria tentu aja nggak mau kalah, menceritakan hal yang dialaminya kemarin, ditambah sedikit bumbu biar seru.
“Jadi, dia anak orang kaya? Ah, masa orang kaya bisa dua kali ketemu lagi naik bus,” timpal Winta usai Ria berceloteh.
“Mobilnya lagi ngadat. Nanti, dia rencananya mau ngejemput sepulang sekolah. Sekalian ngajak makan-makan.” Bohong Ria kian kumat.
“Kalo begitu, gue nggak langsung pulang, ah nanti. Penasaran pengin lihat gacoan elo itu,” kata Winta.
“Gue juga. Kenalin, ya!”
Ria gelagapan menanggapinya. Sedetik kemudian, terdengar kalimat melengking di belakangnya. Mieke dengan gaya yang centil, mendekati tiga sahabat itu sambil membagi-bagi undangan berbentuk dadu.
“Jangan lupa datang hari Sabtu nanti. Syaratnya, cuma bawa pasangan. Yang nggak punya pacar, boleh bawa adik atau kakak, asal jangan bawa kambing!” kata Mieke sebelum meninggalkan meja di sudut kantin itu.
Mereka bertiga buru-buru membaca undangan itu. Diana langsung tersenyum karena ia yakin kalo Restu akan mau diajaknya ke pesta. Winta hanya komat-kamit berharap agar Dion nanti akan menawarkan diri menjadi pasangannya, sementara Ria masih bingung.
“Elo bakal ngajak si Roy, kan?” tanya Diana. Benaknya sudah membayangkan betapa serunya acara kencan bersama itu nanti.
“Entahlah.  Gue nggak tahu, dia suka pesta atau nggak.”
“Ya, tinggal elo tanya aja nanti. Uh, rasanya gue nggak sabar menunggu bel pulang. Gimana sih, tampang Roy itu?” kata Winta sambil menyuapkan siomay ke mulutnya.
Ria cuma meringis. Ia malah berharap waktu berjalan lambat agar bisa berpikir, alasan apa yang dilontarkannya nanti karena sebenarnya Roy memang nggak akan pernah datang. Namun, waktu malah berjalan semakin cepat. Dan, sewaktu bel pulang berbunyi dada Ria berdetak kian keras. Apalagi Winta dan Diana terus menguntitnya.
Sepuluh menit pertama, Diana dan Winta masih berharap cemas mendampingi Ria di pintu gerbang. Sepuluh menit berikutnya, perut mereka keroncongan dan mulai memaki Ria.
“Coba elo telepon dong, ke HP-nya!”
“Udah barusan. Tapi nggak aktif.”
 Sepuluh menit kemudian, Winta dan Diana meninggalkan Ria karena sudah nggak tahan ingin pulang. Cuma Ria yang tinggal karena dia harus pura-pura tetap menunggu Roy. Dan, tiga menit kemudian, sebuah corona putih berhenti tepat di depan Ria.
“Roy!” Ria memekik kaget ketika melihat sosok yang keluar dari dalam mobil. Dia menengok kanan-kiri, siapa tahu Winta dan Diana masih ada. Dengan demikian, dua sahabatnya bisa segera tahu bahwa ia kini benar-benar sudah punya gacoan.
“Kupikir, aku terlambat menjemputmu,” kata Roy sambil mendekati Ria.
“Menjemputku?”
“Kamu kemarin membolehkan aku ngejemput kamu sekarang, kan? Dan, jangan bilang, kamu juga lupa bahwa siang ini aku janji mentraktirmu makan!”
“Nggak, aku ingat itu!” timpal Ria meskipun bingung. Semuanya harus kujalani, apa adanya!  tekad Ria. Dia segera masuk ke dalam mobil, duduk di sisi Roy.
Ria merasakan saat yang membahagiakan. Inikah yang namanya musim semi? Pantas, Diana dan Winta selalu bersemangat setiap hari. Seandainya aja nenek membolehkanku …, Ria membatin.
Saat makan di sebuah restoran Jepang, Ria mengatakan kepada Roy soal undangan pesta ulang tahun Mieke. “Aku sendiri, sebenarnya nggak gitu suka pesta. Tapi, dua sahabatku minta supaya aku datang. Gimana menurutmu, Roy?
“Yang namanya diundang, ya harus datang. Aku nggak keberatan menemani kamu. Berapa hari lagi, sih? Oh, lima hari lagi? Kok, ngundangnya mepet gini?”
“Sebenarnya, undangan lisannya udah dari dua minggu lalu. Oh, iya, makasih kalo emang kamu mau nganter aku. Tapi aku ….” Ria teringat bayangan neneknya.
“Kenapa?”
“Nggak apa-apa.” Ria menengok arlojinya. “Sudah kelamaan, nih. Pulang, yuk.”
Roy mengangguk. Dia mengantar Ria. Tapi, Ria menolak Roy mengantar sampai depan rumah. Dia meminta Roy menghentikan mobilnya beberapa rumah sebelumnya. Untung, Roy nggak tersinggung dan mau mengerti.
Ria menemukan neneknya di teras rumah. Dia merasa beruntung karena tadi Roy nggak mengantarnya ssampai depan rumah. Ria mendekati nenek, lalu memberi kecupan. Tawa kecil nenek membuat Ria heran.
“Mengapa nggak kamu suruh temanmu mampir dulu?”
“Ah, Nenek. Ria tuh, naik bus.”
“Jangan bohong. Seragammu bersih dan nggak tercium bau rokok serta keringat, seperti biasanya. Mukamu cerah dan langkahmu seperti yang habis makan kenyang. Begitu, kan?”
Ria tersipu. Susah memang berbohong pada neneknya. Sekecil apa pun. 
“Dia pacarmu?
“Nenek bukannya nggak suka kalo Ria pacaran?”
“Kapan Nenek melarang? Belum pernah.”
“Secara langsung memang belum. Tapi, Ria masih ingat, waktu dulu Nenek marahin pacar Mbak Shasa. Padahal, Mbak Shasa udah gede.”
Nenek tersenyum memamerkan kempot pipinya. “Jadi, karena itu, kamu takut pacaran? Waktu itu, Nenek marah sama Shasa bukan karena dia pacaran, bukan pula karena udah gede atau belum. Tapi, apa pantas Shasa pergi dengan seorang cowok sampai larut malam dan tanpa pamit? Pantas, nggak?”
Ria menggeleng. Matanya baru terbuka kalo selama ini, sebenarnya neneknya tidak melarang ia pacaran. Yang penting, asal tahu batas dan aturan!
***
Nggak ada berita yang paling menggembirakan bagi Winta dan Diana, ketika Ria menyampaikan bahwa ia akan pergi bersama Roy ke pesta Mieke. Berarti, tiga sahabat itu bisa bepergian bareng, tanpa mengorbankan perasaan satu orang pun.
“Jadi, Roy tuh, kemaren telat ngejemput elo? Ih, gara-gara Winta nggak sabaran, sih!”
“Yeee, kok, gue sih yang disalahin?”
“Roy ada rencana jemput elo lagi nggak, sih?”
Ria menggeleng. Takut kejadian kemaren terulang lagi. “Lagian, gengsi banget minta dijemput mulu,” kilah Ria walaupun sebenarnya dia berharap lain.
Ya, pulang sekolahn Ria sengaja naik patas AC lagi. Siapa tau bisa ketemu dia lagi, harapnya. Pikirannya menerawang, mengingat Roy. Baru dua kali ketemun Ria merasa ada yang lain di hatinya. Aih, cepet banget, sih?
Mudah-mudahan nanti dia nelepon, harapnya. Ria menyesal HP-nya rusak karena kerendam cucian tadi pagi.
Waktu berlalu cepatn ketika Ria mengharapkan keajaiban muncul. Tapin nggak ada telepon dari Roy maupun kemunculan surprise-nya. Ria mendadak merasa dadanya terhimpit. Sementara, wajah Roy makin melekat di benaknya.
Roy … Roy … Roy …. Kamu di mana, sih?
***
PENYAKIT memang nggak pernah diundang datangnya. Pagi setelah hari yang dilalui Ria tanpa Roy, Ria terbaring sakit. Entah apa sebabnya. Malah sampai tiga hari kemudian, Ria masih terbaring sakit. Seperti biasa, Diana dan Winta kembali menjenguk Ria di siang hari. Sekalian mengabarkan, sebagai tanda solidaritas, mereka akan membatalkan rencana ke pesta ulang tahun Mieke nanti malam.
“Gue nggak mungkin ke pesta itu, sementara elo terbaring sakit seperti ini,” papar Winta.
“Jangan bodoh. Gacoan kalian pasti nggak suka ini. Mereka akan menyumpahi penyakit gue tambah parah.”
Winta memandang Diana. “Hal ini juga sekalian menunjukkan rasa penyesalan gue karena selama ini nggak mengerti perasaan elo,” timpal Diana.
“Apa maksud kalian?” tanya Ria. Kepalanya yang pusing semakin bingung.
“Tentang Dion dan Restu. Mestinya kami tahu diri, nggak cerita tentang mereka di depan elo. Hingga akhirnya elo harus berbohong.”
“Win, sederhanain kalimat elo!”
Winta menghela napas. “Ayolah, Ria, elo harus jujur bahwa elo nggak suka kalo gue ama Diana bicara soal cowok-cowok itu karena elo nggak punya seorang cowok yang harus elo bicarain. Lalu, elo ngarang tentang Roy untuk menutupi kejengkelan elo itu.”
“Pada mulanya memang gue berbohong. Tapi kemudian, dia muncul. Roy memang ada.”
“Tapi, mana dia? Elo pernah bisa menghadirkannya di depan kami berdua? Bahkan, sudah tiga hari elo terbaring sakit, dia nggak muncul-muncul!” desak Winta disusul Diana. Mereka yakin betul, penyakit yang dialami Ria pu,n gara-gara tekanan nggak punya pasangan untuk datang ke pesta ulang tahun Mieke.
Ria menggigit bibirnya. Pertanyaan itu juga muncul di benaknya. Mengapa Roy nggak datang-datang juga? Semakin dipikir, kian membuat dirinya tak berdaya. Ria menggamit tangan Winta. Isaknya terdengar pelan. “Mungkin, dia sedang ke luar negeri ya, Win,” katanya menghibur diri, sekaligus menjaga agar tangisnya nggak jatuh.
Diana mengelus rambut Ria. Sejak semula, dia sudah menduga, cerita Ria tentang Roy cuma isapan jempol belaka. Tapi, ia tak mau menggubris. Cuma, kalo jadinya Ria seperti ini, tentu aja sebagai sahabat, dia nggak tega.
“Tapi, dia seperti benar-benar ada. Tawanya, ucapannya, dan semuanya masih kuingat di kepalaku,” sambung Ria.
Diana mengibaskan tangan. “Elo harus lupain itu semua. Barangkali sosok Roy sebenarnya cuma kekasih fantasi aja. Itu lho, tentu elo masih ingat, waktu kita kecil dulu punya teman fantasi, yang seolah-olah ada menemani kita saat sendirian. Kayaknya, si Roy makhluk semacam itu, yang hadir karena tekanan kesendirian elo, Ria,” ujar Diana mencoba membagi pengetahuan yang dia miliki.
Ria termangu. Mungkin, dua sahabatnya benar. Dia harus melupakan Roy, yang sesungguhnya nggak pernah ada itu.
“Biar elo nggak ngekhayal lagi, nanti akan gue bantu deh, nyari cowok buat pasangan elo. Sebut aja, mau Peter, Gino, atau Oding?”
“Win, elo tuh, kalo nawarin orang, seenaknya. Memangnya gampang? Belum tentu dianya mau sama gue.”
“Ya, namanya juga usaha. Asal jangan Delon aja. Soalnya, gue juga ngejar-ngejar dia.”
Pintu kamar diketuk sebentar, lalu muncul nenek membawa baki berisi dua gelas jus segar untuk Winta dan Diana. Nenek juga menyodorkan faksimil.
“Dari Singapura,” kata Nenek sebelum kemudian pergi meninggalkan kamar.
Ria buru-buru membaca kertas surat tersebut.

Dearest Ria,
Maaf, aku nggak bisa memenuhi janji mengantarmu ke pesta ulang tahun itu. Kami sekeluarga harus segera pergi ke Berlin. Ada keluarga kami yang meninggal di sana. Surat ini kutulis di pesawat dan kukirim saat transit di Singapur. O, iya, HP aku ilang kemarin lusa. Jadi, nggak bisa telepon kamu dulu. Tapi, waktu aku coba hubungin HP kamu pake HP nyokap, kok mailbox mulu? Tetaplah menungguku. Aku menyayangimu.
Yours,
Roy

Ria terbelalak membaca isi surat di tangannya. Dia buru-buru menyodorkannya kepada Winta dan Diana. Dua sahabat itu tercengang kaget melebihi Ria. Jadi, mana yang benar, Roy itu ada atau nggak?
“Elo nggak nyuruh sodara elo di Singapura ngirim surat palsu ini, kan?” Selidik Winta.
“Gue nggak punya teman atau pun saudara di sana.” Ria menggeleng kuat. Matanya menerawang ke langit-langit, dengan bibir menyungging senyum.
Kali ini, keyakinan Ria berubah lagi. Bukankah surat itu sudah cukup membuktikan, Roy kekasihnya, memang benar-benar ada, bukan kekasih bayangan atau fantasi. Masih adakah yang meragukan hal itu?
***

Padang Sejuta Bunga

“MAAF, apakah Kakak ini mahasiswa?” Suara itu menyadarkan Lunar bahwa di sisinya, ternyata duduk seorang cewek manis masih dengan seragam abu-abu.
“Ya. Ada apa?” Lunar balik bertanya seraya mengembuskan asap rokoknya perlahan.
“Mestinya kakak tau,  nggak semua orang suka dengan asap rokok. Apalagi di angkot gini,” ucap cewek itu lurus.
Jantung Lunar berdegup keras. Bayangkan, disindir sedemikian rupa oleh seorang cewek yang masih berseragam SMA! Sementara, para penumpang angkot lainnya, tampak mendukung penuh cewek itu.
“Baiklah, aku akan matikan rokokku, asal kamu nyebutin nama komplet dan panggilanmu.” Lunar memberikan syarat. Baginya, menyerah begitu saja, itu berarti kekalahan telak.
“Tituk Handayani Giargania. Teman-teman manggil saya Tituk.” Cewek itu menjawab dengan ekspresi datar. Tak ada tanda-tanda ia sedang berusaha menipu Lunar.
Seketika itu juga, Lunar menginjak rokok yang baru diisapnya beberapa kali, dengan sepatu ketsnya. Tituk tersenyum kecil melihat apa yang dilakukan Lunar.
“Apakah kamu selalu negur setiap orang yang ngerokok di dekatmu?” Lunar melanjutkan percakapan. Ia nggak mau diam begitu saja. Barangkali dengan meneruskan percakapan, aku bisa mengibaskan sedikit rasa maluku, pikir Lunar.
“Ya, terutama kalau di tempat umum,” jawab Tituk singkat. Ia nggak tertarik bicara dengan seorang pria asing di tempat umum. Di sekolah pun, ia jarang bicara dengan teman-teman cowoknya.
Lunar melihat sebentar keluar kaca. Tujuannya sudah dekat, padahal ia masih ingin berbincang dengan Tituk. Ada sesuatu yang membuatnya tertarik. Dari cara Tituk bicara, Lunar bisa mengambil kesimpulan bahwa cewek itu amat cerdas dan lebih dewasa dari cewek-cewek sebayanya.
“Depan kiri, Mang!” Suara itu keluar dari mulut Lunar, tapi ia mendengar Tituk meneriakkan kalimat yang sama.
Keduanya ternyata punya tujuan yang sama. Setelah membayar ongkos, keduanya saling berpandangan sesaat.
“Mau ngeliat pameran lukisan di galeri itu?” tanya Tituk sambil menunjuk ke sebuah bangunan di depannya. Sebuah spanduk besar menyampaikan pesan bahwa di dalam galeri itu tengah digelar pameran lukisan tiga pelukis ternama.
“Ya, kamu juga pasti mau ke sana. Kebetulan sekali, kita bisa bareng ngeliat lukisan-lukisan itu.”
Tituk menggelengkan kepala. Lunar mengira itu penolakan Tituk pada ajakannya. Tapi, ternyata bukan. Tituk lantas berujar, “Saya datang kemari cuma untuk ngeliat satu lukisan.”
Mereka melewati pintu masuk bersisian. Namun, langkah Tituk langsung diayunkan ke tengah ruangan. Ia tidak menyusuri satu per satu ruang pamer yang ada, seperti pengunjung lainnya. Sampai di depan sebuah lukisan yang berukuran sedang, ia terpaku. Matanya memandang dalam pada lukisan impresionisme di depannya.
“Masih banyak lukisan lain yang lebih bagus dari lukisan ini.” Suara Lunar terdengar di belakang Tituk. Cowok satu ini rupanya terus menguntit.
“Saya cuma tertarik dengan lukisan ini,” kilah Tituk. Sejak dua hari lalu—hari pembukaan pameran—ia setiap hari datang ke galeri itu memang cuma untuk melihat satu lukisan.
“Tapi, ini karya yang paling lama dari si pelukisnya. Masih belum matang kelihatannya. Karya-karya lain yang lebih baru hasil lukisan pelukis yang sama, menurutku jauh lebih bagus dari komposisi maupun warnanya, dibandingkan ini,” komentar Lunar panjang.
Tituk kelihatannya tak peduli. “Bagiku, Padang Sejuta Bunga jauh lebih bagus dari yang mana pun,”gumamnya samar.
“Padang Sejuta Bunga? Maksudmu lukisan ini? Namanya kan, Bunga-bunga?” sangkal Lunar sambil menunjuk katalog di tangannya.
Tituk tak menanggapi. Matanya memandang dengan penuh kemisteriusan ke arah lukisan itu. Ia bagai menikmati sesuatu yang tersembunyi di balik lukisan itu. Sayang, aku tak punya cukup uang untuk memiliki lukisan ini, gumamnya dalam hati.
“Tituk, kelihatannya kamu benar-benar terpesona dengan lukisan ini. Heh, kamu akan datang lagi kemari besok, sebelum pameran ini ditutup? Penutupannya pukul lima sore.” Lunar berusaha mengusik Tituk.
Namun, Tituk tetap tak bergeming. Membuat Lunar cuma bisa menarik napas. Akhirnya, sambil mengerutkan dahi, Lunar berusaha untuk menikmati lukisan itu pula.
***
HARI ini waktu terakhir pameran lukisan tiga pelukis ternama itu. Tituk sudah sejak kemarin berencana kembali melihat Padang Sejuta Bunga. Tadinya ia ingin langsung pulang sekolah seperti biasa, tapi ternyata rencana itu berubah.
Mama hari ini akan pulang terlambat dari kantornya. Itu artinya, Tituk harus menggantikan tugas mama. Ia harus memastikan bahwa adik-adiknya tetap melakukan kegiatan rutin yang harus mereka lakukan. Arif pergi ke tempat les Bahasa Inggris-nya dan Uta tidur siang. Ditambah lagi, beberapa urusan rumah yang memang menjadi tugasnya.
Pukul empat sore, Tituk baru bisa keluar rumah setelah mama kembali dari kantornya.
Mudah-mudahan aku bisa melihat lukisan it,u tanpa diusik siapa pun seperti kemarin, harap Tituk dalam perjalanan. Siapa cowok kemarin itu? Ia kuliah di Jurusan Perminyakan ITB. Itu yang disebutkannya saat bincang-bincang sebentar di luar galeri. Lunar? Kalau nggak salah, ia menyebut namanya begitu. Aneh, konyol rasanya kalau mengingatnya. Mahasiswa perminyakan tentunya tak ada hubungannya dengan seni lukis. Tapi, ia tahu begitu banyak tentang lukisan.
Sampai di galeri, waktu yang tersedia untuknya tinggal lima belas menit. Terlihat beberapa panitia tengah sibuk melepas beberapa piranti pameran. Dada Tituk mendadak cemas, dan betapa terkejutnya ketika ia sampai di ruang tengah galeri.
Padang Sejuta Bunga nggak ada di tempatnya.
“Maaf, lukisan yang biasa ditempatkan di sana masih bisa saya lihat sebentar?” tanya Tituk kepada seseorang yang ditemuinya di sudut ruangan.
“Lukisan Bunga-bunga? Lukisan itu sudah dibeli dan diambil oleh pembelinya tadi siang.” Jawaban yang menyentak hati Tituk.
Pupus sudah sesuatu yang diharapkannya menyembul manis di hatinya. Kenangan itu tak akan pernah dinikmatinya lagi. Padahal semalaman, Tituk sudah berdoa, lukisan itu jangan sampai dibeli siapa pun, sampai kapan pun. Sampai ia mampu membelinya.
“Hei, kamu datang juga! Kita bisa meneruskan obrolan yang kemarin ….” Suara Lunar mengejutkan Tituk.
“Maaf, saya harus segera pulang,” kilah Tituk.
“Masih ada beberapa menit untuk menikmati lukisan yang tersisa di sini,” tahan Lunar.
“Kalau saja lukisan yang saya suka masih ada, tentu saya mau berada di sini lebih lama lagi.”
“Padang Sejuta Bunga? Sejam yang lalu aku datang, lukisan itu sudah nggak ada di tempatnya. Tapi, masih ada lukisan bagus lainnya yang bisa kamu lihat.” Lunar berusaha menahan Tituk. Ia nggak puas dengan pertemuan kemarin. Mestikah hari ini dilalui dengan pertemuan yang singkat pula? Padahal, tak ada lagi pameran lukisan yang bisa mempertemukannya dengan Tituk.
“Nggak, saya nggak tertarik. Kalau Kakak ….”
“Aku sudah memberi tahu namaku kemarin. Kamu nggak boleh memanggilku Kakak. Aku kan, bukan kakakmu,” potong Lunar.
Tituk tersenyum. Lunar menikmati senyum itu. Ada sejuta pesona yang memikat hati Lunar. Apalagi tanpa seragam sekolahnya, sosok Tituk benar-benar jelmaan dari mimpi Lunar, akan cewek yang diidamkannya.
“Kalau Kak Lunar memang ingin menikmati lukisan yang ada di sini, silakan saja,” ralat Tituk segera.
Lunar menggeleng. “Aku juga mau pulang. Keberatan kalau aku mengantarkanmu lebih dulu? Kebetulan, kali ini aku nggak naik angkot. Maksudku, ada teman yang mau meminjami aku mobilnya,” ajak Lunar halus.
Tituk cuma mempertimbangkannya sebentar. Lunar nggak terlihat seperti orang jahat dan ia pun harus buru-buru tiba di rumah. “Baik, aku tak keberatan,” jawab Tituk kemudian.
Sore itu, untuk pertama kalinya, Lunar mengantar seorang cewek yang diidamkannya. Ini langkah baik untuk suatu pendekatan yang memang telah direncanakannya. Apalagi Tituk kemudian berkata sambil tersenyum, “Jangan sungkan untuk datang kemari.”
“Kapan biasanya kamu senggang?” tanya Lunar mencari kepastian.
“Kapan saja, saya bukan aktivis sekolah. Tapi biar enak, sebaiknya sore.” Belum pernah Tituk mengundang seorang cowok main ke rumahnya, untuk basa-basi sekalipun.
Great! Rasanya, seribu jalan sudah terbuka bagi Lunar, untuk mengetuk pintu hati Tituk.
***
DUA minggu berlalu tanpa dapat dibendung. Lunar sudah empat kali mengunjungi rumah Tituk. Saling mengenal sedikit demi sedikit, untuk mengetahui sejauh mana kecocokkan dirinya. Meskipun Lunar sudah yakin ia tak kan salah pilih, toh untuk sebuah pendekatan, hal itu perlu juga dilakukan.
Sore ini, Lunar sudah berencana untuk kunjungan yang kelima. Pulang kuliah Termodinamika, Lunar langsung ke tempat tinggal Tituk. Suasana tak biasa menyambutnya saat memasuki halaman rumah itu. Lunar segera menekan bel rumah di sisi pintu.
Si bungsu Uta membukakan pintu untuk Lunar. Mukanya kelihatan mendung.
“Kak Tituk ada, Uta?” tanya Lunar sambil menjawil dagu Uta.
“Kak Tituk ke Rumah Sakit Al-Islam sama Kak Arif. Tadi pesan, Kak Tituk nggak bisa menemui Kak Lunar sore ini.”
“Siapa yang sakit?”
“Mama pingsan tadi pagi. Katanya, harus diopname di rumah sakit. Kak Tituk masih di rumah sakit.”
“Uta ikut Kakak ke rumah sakit menengok mama, yuk!” ajak Lunar kemudian.
“Uta diminta jaga rumah.”
“Nggak apa-apa. Kita kunci saja.”
Beberapa menit kemudian, mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit. Tanpa kesulitan, mereka dapat menemukan Tituk yang tengah duduk di sisi mamanya. Ia kelihatan terkejut mengetahui kedatangan Lunar.
“Lever mama terserang virus. Saya khawatir sekali sewaktu Dokter memberi tahu penyakit mama,” ucap Tituk setelah Lunar mengajak bicara di lorong rumah sakit. “Mestinya, saya nggak membiarkan mama kerja terlalu letih.”
“Kamu sudah berupaya, Tuk. Dengan menjaga adik-adikmu dan membantu pekerjaan di rumah, artinya kamu sudah berusaha membantu mama,” hibur Lunar. Lunar tahu, Mama Tituk bekerja sebagai asisten manajer pemasaran asuransi. Dalam upayanya menjual polis asuransi kepada kliennya, tentu saja mama Tituk harus ulet.
“Saya takut sekali kehilangan mama,” kata Tituk bertambah lirih.
Lunar memahami sekali kesedihan Tituk. Wanita yang tengah berbaring tak jauh darinya itu, dijadikan pegangan oleh tiga anaknya yang belum siap untuk dilepas begitu saja.
“Apa kamu akan menghubungi papamu, Tuk?” tanya Lunar mengingatkan. Pada pertemuannya yang lalu, Tituk sempat mengisahkan sedikit perihal perceraian orangtuanya lima tahun lalu. Cuma itu yang ia ketahui.
Tituk menggeleng. “Kak Lunar belum tahu, bagaimana kisah selengkapnya perceraian mama dan papa. Dulu, saya memang baru kelas enam SD. Tapi saya mengerti bahwa papalah yang salah dalam perceraian itu. Papa menikah diam-diam dengan seorang wanita, sementara Uta masih berumur lima tahun waktu itu. Papa memberitahukan pernikahannya sebulan kemudian. Tentu saja mama marah. Itulah sebabnya, mama memilih cerai dan membawa kami bertiga ke Bandung, meninggalkan kota Jakarta,” tutur Tituk dengan mata menerawang. Ia gagal untuk bicara tanpa melibatkan perasaannya.
“Tak usah kamu paksakan untuk bercerita, bila itu hanya membuatmu sedih, Tuk,” potong Lunar tak enak meskipun batinnya berharap sebaliknya. Ia berharap, dengan kesediaan Tituk berbagi cerita, dukanya akan terhapus.
“Tak apa-apa. Ini berhubungan erat dengan pertanyaan yang sering Kak Lunar lontarkan perihal lukisan Padang Sejuta Bunga itu. Papalah yang melukisnya. Lukisan itu adalah yang terakhir saat papa masih bersama kami. Saya masih ingat, betapa harmonisnya kami waktu itu. Kami melukis lukisan itu bertiga dan tak menduga sama sekali, bila tiga bulan kemudian, mama akan bercerai dengan papa. Saya memang membenci papa, tapi terkadang merindukannya. Dengan memandangi lukisan Padang Sejuta Bunga pada pameran tempo hari itu, saya bisa menghalau sejanak kerinduan saya ….” Tituk menghela napasnya pendek. Air matanya menetes tanpa terasa.
Ingin rasanya Lunar menghapus air mata itu. Namun, yang bisa dilakukannya cuma memberikan sapu tangannya kepada Tituk. Tiba-tiba, Lunar menyadari bahwa cewek yang di hadapannya masih berusia lebih sedikit dari tujuh belas tahun. Kedewasaan yang timbul lantaran tempaan keras dalam hidupnya, luntur disapu air matanya.
“Kamu bisa menghubungi papamu kalau mau, Tuk,” usul Lunar.
“Itu nggak akan berarti apa-apa. Sejak perceraian itu, papa nggak pernah berusaha menemui kami. Mama sendiri menganggap hal itu tak masalah,” tolak Tituk.
Keduanya terdiam sejenak. Sementara, Tituk menyadari keanehan atas apa yang telah dilakukannya. Ia tak mengenal jauh siapa Lunar. Yang ia tahu, Lunar adalah mahasiswa Jurusan Perminyakan ITB, sementara orangtuanya adalah pengusaha sukses di Surabaya.
Mungkin karena ia terlalu baik bagiku sehingga aku tak ragu lagi padanya. Atau, barangkali aku memang memerlukan seorang cowok yang mau melibatkan emosinya, mendengar dukaku, sebagai abang, sebagai….
“Terima kasih atas kepercayaanmu terhadapku, Tuk. Bila tak keberatan, izinkan aku ikut menanggung dukamu,” kata Lunar kemudian.
Tituk mengerutkan kening mendengar kalimat samar itu.
“Kita bisa memulainya, dengan berdoa untuk kesehatan mamamu,” lanjut Lunar buru-buru.
Tituk mengangguk. Ia tak keberatan ketika Lunar merangkul bahunya, membawanya menemui mama yang terbaring sakit.
***
KEKUATAN tubuh mama Tituk ternyata luar biasa. Setelah sepuluh hari diopname, dokter langsung menyatakan, ia boleh kembali ke rumah. Padahal biasanya, butuh waktu lebih dari tiga minggu untuk merawat pasien dari serangan virus keparat itu.
“Bagaimana Mama nggak cepat sembuh, bila kalian tak henti-hentinya berdoa,” ucap mama sewaktu hari terakhir di rumah sakit.
Itu sebabnya, Tituk memutuskan untuk membuat acara syukuran kecil-kecilan kesembuhan mamanya, keesokan harinya. Sejak pulang sekolah, ia sudah menyibukkan diri di dapur, ditemani kedua adiknya.
“Hari ini Kak Lunar akan datang, kan?” tanya Arif di tengah kesibukannya.
“Ya, tapi Kak Lunar harus kuliah dulu,” jawab Tituk. Sepuluh hari ia lewati hari-harinya bersama Lunar, saat mama di rumah sakit. Ia sudah tahu banyak tentang cowok itu. Perkenalan yang mendalam itu, sayangnya tak sampai memberi tahu ada apa di balik kebaikannya selama ini. Semoga bukan pamrih yang memberatkanku, Tituk membatin.
“Kak Lunar baik ya, Kak Tituk,” sahut Uta yang bertugas memotongi sayuran untuk urap.
“Untung Kak Lunar jadi pacar Kak Tituk. Nanti kalau Uta sudah besar, mau cari pacar yang sebaik Kak Lunar.”
Tituk terperangah. Jadi, adiknya mengira ia dan Lunar pacaran. Sama seperti yang diduga mama semalam.
“Nggak, Ma, nggak ada hubungan khusus antara kami berdua. Barangkali kebaikan Kak Lunar pada Tituk, semata-mata karena ia menganggap Tituk sebagai adiknya. Kak Lunar kan, anak bungsu di keluarganya,” kilah Tituk semalam.
“Barangkali dugaanmu benar. Tapi, mama nggak keberatan seandainya pun kemudian, kalian menjadi sepasang kekasih. Kamu mencintainya, kan?”
Tituk tak menjawab. Ia tak tahu perasaan di hatinya. Barangkali lewat pendar-pendar yang begitu dirasakan Tituk, ,ama bisa menemukan jawabannya. Bukankah begitu pula mama selama ini?
“Heh, melamun! Nanti, nasi kuningnya kalau sampai hangus, harus kamu habiskan sendiri!” Suara di belakang Tituk mengejutkannya. Ternyata, Lunar yang datang.
“Datang-datang malah bikin orang kaget. Sudah menemui mama di kamar?”
“Belum. Nanti saja denganmu. Sekarang, bisakah kamu tinggalkan sebentar dapur ini? Aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu,” pinta Lunar berharap.
“Tentu saja bisa. Asal jangan terlalu lama,” syarat Tituk. Keduanya kemudian berjalan meninggalkan dapur menuju halaman rumah.
Lunar ternyata datang dengan mazda putihnya. Ia segera membuka pintu belakang mobilnya. Diambilnya sebuah lukisan yang tak dibungkus. Betapa terkejutnya Tituk ketika mengetahui lukisan itu.
“Padang Sejuta Bunga! Bagaimana Kak Lunar bisa mendapatkannya?” tanya Tituk terkejut.
“Tanpa sepengetahuanmum aku membelinya dari pameran itu. Aku memang ingin memberikannya kepadamu karena aku melihat betapa besar sorot matamu ingin memiliki lukisan itu. Tapi, tentu saja tak lucu kalau aku memberikannya begitu saja padamu, tanpa saling mengenal,” jawab Lunar. Dibiarkannya Tituk mengamati lukisan itu. “Ambillah untukmu.”
“Tapi, Kak Lunar….”
“Jangan menolak. Aku tak akan kemari lagi kalau kamu menolaknya,” ancam Lunar.
“Terima kasih. Tapi ….”
“Nggak ada tapi-tapian. Terima saja lukisan itu. Cuma harus kamu ingat, jangan jadikan lukisan itu monumen dukamu. Meskipun aku tahu, ada kisah sedih di balik lukisan itu. Dan, biar pun aku bukan pelukisnya, jadikan lukisan itu sebagai kenangan dari awal perkenalan kita dulu. Juga tanda bahwa … aku menyayangimu,” cetus Lunar.
Lukisan Padang Sejuta Bunga nyaris lepas dari tangan Tituk, ketika mendengar ujung kalimat Lunar. Ia berusaha untuk menenangan perasaannya.
“Kak Lunar mau tahu apa yang ingin saya katakan tadi? Dalam pameran itu, saya pernah berikrar di depan lukisan ini, saya akan mengabdi kepada siapa pun yang mau memberikan lukisan ini,” ungkap Tituk.
Giliran Lunar yang terperangah. Tapi, ia kemudian buru-buru berkata, “Mengapa nggak dari dulu kamu katakan ikrarmu itu? Aku kan, nggak perlu capek-capek menunggu lama untuk jadi kekasihmu!”
Tituk tersenyum. Pandangannya beralih pada lukisan di tangannya. Lunar ikut menikmati di sisi Tituk. Lunar baru menyadari sekarang bahwa lukisan itu benar-benar indah. Sementara, Tituk mulai merasakan sesuatu yang lain sewaktu memandangi lukisan itu. Perasaan keduanya terwakili oleh lukisan bunga-bunga di depan mereka.
Cukup lama mereka bergeming. Sampai kemudian, terdengar teriakan Arif dan Uta di pintu rumah. “Kak Lunar! Kak Tituk! Jangan pacaran aja, dong! Nasi kuningnya hangus, tuh!”
***
Daniel Bola

LANGKAH kaki Fey begitu ringan. Mulutnya bersenandung kecil tak menentu. Menciptakan irama yang mewakili suasana hatinya. Tentu saja pemandangan ini menarik perhatian Rien, teman sekamar indekosnya.
“Kelihatannya girang banget, Fey? Kayak habis ketemu cowok paling keren se- dunia,” komentar Rien usai Fey meletakkan tas kuliahnya.
“Memang. Ah, tapi sebenarnya, nggak keren-keren banget, sih. Cuma … ya, cowok itu memang tipe yang gue cari-cari selama ini. Nggak nyangka, belum satu bulan ngerasain kuliah, udah ketemu yang gue mau. Benar-benar nggak rugi pindah ke Bandung,” timpal Fey panjang.
“Oh, iya?!” Rien tertarik melanjutkan obrolan. “Ketemu di mana?”
“Anak Fikom juga, satu angkatan. Cuma lain jurusan. Dia anak Jurnalistik. Tapi semester ini, jurusan dia dan jurusan gue kelasnya masih digabung.”
“Ih, apa enaknya nyari cowok yang satu kelas dan satu angkatan? Mau ngapa-ngapain, pasti selalu diawasi. Gue sih, yang satu kampus aja sudah ogah.”
“Iya, tapi akibatnya nggak laku-laku, kan?”
Rien memonyongkan bibir. “Eh, ngomong-ngomong, siapa gacoan elo itu?”
“Daniel Bola … eh, jangan ketawa dulu. Itu cuma sebutan untuk membedakan dia dengan Daniel satu lagi di jurusannya.”
“Lantas kok, ditambahin Bola segala? Orangnya bunder kayak bola, gitu?”
“Ati-ati kalo ngomong!” sewot Fey. “Sebutan itu gara-gara dia gila ….”
“Gila?”
“Kalo masih motong ucapan gue sekali lagi, nggak akan gue terusin, nih!” ancam Fey kesal.
“Oke!” Rien membuat gerakkan seolah mengunci bibirnya.
“Gila yang gue maksud bukan sedeng, tapi ia gila bola. Maksudnya, ia paling suka sama yang namanya sepak bola. Cowok satu ini agak unik. Di antara teman-teman sejurusannya, dialah yang paling jarang ngomong. Tapi kalau sudah soal bola, wah, dialah yang paling ….”
“Gila!”
“Rien!!!”
***
DANIEL menapaki koridor kampus sendirian. Matanya menatap sejenak ke arah papan pengumuman. Di sana, tertempel selembar kertas karton berisi nama-nama orang yang terpilih dalam kesebelasan fakultasnya, untuk mengikuti Piala Rektor.
“Kamu kepilih, kan?”
Daniel menoleh mendengar suara tanya di belakangnya. Cewek itu ….
“Iya, Fey. Imam kemarin ngajak gue. Ya, gue terima aja,” kata Daniel kemudian.
“Kapan pertandingan pertamanya?” tanya Fey lagi.
“Mungkin lusa. Elo suka nonton bola?” Daniel balik bertanya.
“Iya,” jawab Fey singkat.
Daniel tersenyum. Ada lesung yang agak panjang di pipinya. “Hebat. Jarang lho, cewek yang suka nonton bola.”
“Ah, yang main bola pun, sekarang udah banyak, Niel,” kilah Fey.
Daniel tersenyum lagi. Fey nggak pernah melewatkan pemandangan yang satu ini. Cowok di depannya itu kerap kali membuat dadanya berasa lain.
“Eh, Niel, elo ingat nggak, beberapa waktu lalu ketika cerpen gue ada yang dimuat, elo minta ditraktir? Kebetulan, honor cerpen itu udah ditransfer.” Fey mengalihkan pembicaraan.
“Ah, itu …. Waktu itu, gue cuma main-main, lagi,” ujar Daniel yang tabu ditraktir cewek.
“Tapi, serius pun, gue nggak keberatan. Kapan elo ada waktu ditraktir?”
“Terserah yang traktir aja deh, kalo gitu. Tapi, besok gue mesti latihan pertandingan lusa ….”
“Nah, lusanya aja, abis elo tanding,” potong Fey.
“Iya, kalau memang itu mau elo, Fey.”
Fey tersenyum senang. Usahanya untuk membuat dirinya lebih dekat dengan Daniel sudah berhasil. Dan, langkah selanjutnya tinggal dipikirkan sehingga cowok lugu itu mengerti bahwa ada gadis yang mendambakannya.
***
FEY mengambil jaket hitamnya. Sweter saja nggak cukup untuk menghadapi udara di luar yang terasa dingin nanti.
“Fey, elo mau ke mana mendung-mendung gini?” tanya Rien begitu masuk kamar.
“Kan, udah gue bilang dari kemarin, hari ini gue mau nonton pertandingan sepak bola,” jawab Fey.
Rien tertawa sambil memegang perutnya menahan geli. “Nonton bola?! Gue pikirn kemarin elo main-main waktu bilang gitu. Ckckck …, gandrung sih gandrung, tapi jangan jadi ikutan gila gitu dong, Fey!”
“Namanya juga usaha, boleh dong, ngelakuin apa aja,” sahut Fey tak acuh.
“Iya, iya. Heh, ngomong-ngomong, elo udah selidiki dia udah punya gandengan belum? Nanti capek-capek usaha, nggak tahunya gebetan elo itu udah punya pacar. Bisa gigit jari elo, Fey.”
“Informan gue udah ngasih tahu, Daniel nggak punya dan belum pernah punya pacar. Doain aja, biar gue jadi pacar pertama dan yang terakhirnya …. Eh, udah ah. Gue mesti buru-buru berangkat. Nggak lucu kan, kalau gue sampai sana, dia udah nyetak gol banyak untuk gue,” putus Fey.
“Uh, ge-ernya!” rutuk Rien.
Fey nggak peduli lagi. Ia terus melangkah meninggalkan tempat indekosnya. Langit yang mendung, sama sekali nggak menggeser niatnya untuk pergi ke lapangan Uni di Jalan Karapitan. Fey yakin, mendung di langit bakal menjadi cerah, begitu ia melihat Daniel nanti.
Tiba di tujuan, Fey langsung mengedarkan matanya mencari orang yang dikenal dari kampusnya. Nggak jauh dari pintu masuk, ia melihat beberapa teman cowoknya menggerombol. Segera dihampirinya gerombolan itu.
“Kok, belum pada masuk?” tanya Fey heran.
“Nanti aja kalau udah main. Sendirian aja, Fey?” tanya Tio.
“Iya. Kamu lihat Daniel? Maksudku Daniel Bola.”
“Dia kan, main. Tentu aja sudah di dalam. Ada apa? Wah, mencurigakan nih!”
Fey enggan menimpali. Ia bergegas masuk ke Stadion Uni yang nggak begitu besar itu. Benar saja, di sisi lapangan, ia melihat kesebelasan kampusnya sudah siap bermain. Ada Daniel di antara rombongan itu. Fey mencoba berteriak sambil melambaikan tangannya ke arah Daniel. Berhasil! Cowok itu melihat dan kemudian berlari mendekati Fey.
“Datang juga elo, Fey,” sapa Daniel. “Sendirian?”
“Lebih enak sendiri,” timpal Fey. Uh, nggak tahukah cowok ini kalau kedatangan gue ini semata-mata untuknya? “Jangan lupa, buat gol yang banyak untuk gue, ya!”
“Kayaknya susah, Fey. Aku kebagian di back, bukan striker. Jadi nggak mungkin.”
Fey cuma manggut-manggut. Ia sama sekali tak mengerti kata-kata yang dimaksud Daniel. “Pokoknya, mainlah yang bagus,” pinta Fey kemudian.
Daniel menganggukan kepala. Sedetik kemudian, ia sudah berlari ke tengah lapangan. Pertandingan dimulai. Kali ini, kesebelasan Komunikasi melawan anak-anak Psikologi. Fey sudah mendengar, tim lawan kali ini nggak begitu hebat.
“Di Psikologi kan jarang cowok, jadi susah cari pemain yang bagus.” Taufik menjelaskannya tadi pagi di kampus.
Fey berusaha menikmati pertandingan di depannya. Tapi, sia-sia saja. Matanya bukan tertuju ke arah bola, tapi selalu pada sosok cowok itu. Hingga pertandingan usai, Fey baru sadar kalau kesebelasannya menang 5 – 0.
Fey bergegas meninggalkan tempat duduknya. Ia berusaha mendekati kerumunan kesebelasan Fikom. Mereka masih tampak bersuka cita.
“Selamat ya, Niel. Wah, kalau nggak ada elo, mungkin penjaga gawangnya udah kebobolan beberapa kali.” Fey memberi selamat. “Jadi kan, gue traktir sekarang?”
“Astaga! Gue lupa punya janji sama elo hari ini. Duh, gue juga lupa ngasih tau elo kalau anak-anak cowok udah janjian mau ngadain makan-makan kalo menangin pertandingan ini.” Daniel menepuk dahinya.
Fey menarik napas panjang. Ada kekecewaan di hatinya.
“Tapi, jangan khawatir deh, Fey. Nanti malam, elo ada acara ke luar apa nggak? Kalau nggak, biar gue ke tempat indekos elo.”
Seketika mata Fey terbelalak. Nggak salah dengarkah dia? Daniel mau ke tempat indekosnya nanti malam? Nanti malam … dan nanti malam adalah malam Minggu. Oh, apakah ini artinya ia ….
“Oke, gue tunggu, lho!” sahut Fey mantap.
“Oh, iya, kamu udah pernah nulis alamat indekos elo di buku ijo gue waktu orientasi dulu, kan?”
“Iya,” jawab Fey. Malah komplet dengan nomor HP segala, Fey membatin.
“Ya, sampai jumpa!”
***
KERIBUTAN tercipta di kamar Fey. Rien terus mengusik Fey yang tengah mempersiapkan diri untuk kedatangan Daniel.
“Lipstik elo ketebalan tuh, Fey,” komentar Rien.
“Gue nggak pakai, kok!”
“Oh, ya? Wah, kalau gitu, yang merah-merah di bibir elo apa?”
Fey melihat ke cermin. Nggak ada apa-apa. Ia baru sadar, Rien telah mengerjainya ketika sahabatnya itu tertawa ngakak.
“Eit, jangan marah! Nanti muka elo kusut. Si Bola itu bisa-bisa langsung kabur.”
“Udah deh, pergi sana! Ngeganggu aja!” hardik Fey. Ia melirik jam bekernya. Sudah pukul tujuh lewat. Hm, jam berapa Daniel akan datang, ya? Cowok itu nggak menyebutkan jam yang pasti. Fey memutuskan ke ruang tengah.
Di ruang tengah untung sepi. Beberapa anak indekos sudah pergi ke luar beberapa menit lalu. Fey berusaha bersabar sambil membuka-buka majalah. Tapi sampai ia habis membaca lima artikel, Daniel belum juga muncul. Fey meletakkan majalahnya dan menghidupkan televisi.
Setengah hati Fey memasang matanya. Saat menekan remote mengganti saluran televisi, ternyata Fey menangkap siaran langsung pertandingan sepak bola antara Persib dan Persija. Fey jadi tambah teringat Daniel. Kesebelasan favorit Daniel adalah Persib.
Heh, jangan-jangan ….
Ringtone HP Fey berbuyi. Fey kaget ketika langsung mendengar suara sapaan milik Daniel di seberang sana.
“Ya, gue Fey. Gue udah nungguin elo nih, dari tadi,” sahut Fey langsung.
“Oh, lagi-lagi gue lupa. Hari ini ada pertandingan sepak bola di teve. Gue nggak bisa ninggalin, Fey. Tadinya gue mau tetap ke sana abis pertandingan. Tapi, pasti udah kemalaman. Gimana kalo besok aja …. Halo! Fey … Fey!”
Nggak ada sahutan dari Fey. Ia sudah meletakkan HPnya begitu merasa kekecewaan di dadanya memuncak. Seketika itu, Fey langsung bertekad untuk melupakan cowok itu malam ini juga.
Nggak ada lagi yang namanya Daniel di dalam hatinya. Ya, Daniel Bola. Buat apa terlalu mengharapkan cowok itu? Ya, buat apa kalau cuma bikin makan hati? Dan, hatiku ini tak lebih berharga dari bola? Fey berteriak dalam hati.
***
Selubung Gurat Hati
PELUIT time out dibunyikan wasit di sisi lapangan. Pertandingan basket itu terhenti sejenak. Klub Rajawali yang menempati sisi kanan, terlihat agak tegang. Mereka sudah memimpin angka sejak awal pertandingan, namun klub lawan kini mulai mengejar.
“Arlan, kamu diganti dulu sama Cali!” Pelatih yang keringatnya hampir menyamai para pemain itu, memberikan instruksi sesuai dengan yang direncanakannya.
Arlan mengangguk. Ia mengambil tempat duduk di barisan untuk pemain cadangan. Matanya terarah ke sudut tribun penonton. Mencari sosok yang memorak-porandakan konsentarasi bertandingnya tadi.
Cewek berambut panjang dengan blus biru itu, tak ada lagi di tempatnya.
“Permainanmu kacau sekali, Lan,” komentar Mas Aji, yang tahu-tahu sudah duduk di sebelah Arlan. Ia agak senewen melihat permainan muridnya tadi. Tembakan three point yang biasa dihasilkan, semuanya gagal.
“Janji deh, nanti kalo dipasang lagi, nggak bakalan kayak tadi,” timpal Arlan. Ia meneguk sebagian air mineral miliknya.
“Pamit sebentar mau ke belakang ya, Mas.”
Pelatih itu cuma mengangguk sambil tetap memandang ke tengah lapangan. Pertandingan kian seru.
Arlan berjalan cepat. Yang ditujunya bukan kamar kecil. Ia malah menembus pintu ke luar. Matanya terus mencari-cari cewek yang dilihatnya di tribun tadi. Kalo ia menghilang dari tribun itu, mestinya ia pergi ke luar.
“Arlan! Kamu bukannya lagi bertanding? Kok, di luar, sih?” Suara tanya itu mengejutkan Arlan. Seorang cewek manis berambut sebahu mendekatinya.
“Aku lagi nggak kepake dulu. Ya, keluar cari angin sebentar kan, nggak dilarang. Bagaimana rapat senatnya tadi?” Arlan teringat kesibukan Ratri sore ini.
“Agak tersendat dibandingkan sebelumnya. Makanya aku telat datang ke mari,” jawab Ratri. Ia menjajari langkah Arlan ke dalam gelanggang olahraga.
“Kamu duduk di sini saja. Biar nggak susah aku nyari kamu nanti. Eh, mau nunggu sampai aku pulang, kan?” tanya Arlan sambil membiarkan Ratri duduk di barisan paling depan.
“Iya. Asal kamu main bagus!” Ratri tersenyum.
Arlan kembali ke bangku cadangan, bergabung dengan tim lainnya. Baru sepuluh menit kemudian, ia sudah dipanggil lagi untuk mengisi lapangan. Sebuah tembakan three point diciptanya semenit kemudian.
Ratri terpekik girang melihat aksi Arlan. Matanya terus melekat pada sosok cowok itu. Bukan pada permainan basket, yang sebenarnya memang tak pernah ia sukai.
***
DUDUK di taman kecil depan perpustakaan kampus, kerap dilakukan Arlan bila tak tahu apa yang harus dikerjakannya, sambil menunggu kuliah berikutnya. Mengedarkan pandangan sambil melamun, memang jadi keasyikan tersendiri buatnya.
Nggak jarang, matanya tertumbuk pada sosok cewek cantik. Tapi, hatinya buru-buru menyisihkan hasrat yang kemudian timbul. Sebuah nama pada masa lalu, telah menciptakan kenangan yang menggurat di hatinya ….
Maharani menjadi siswa baru kelas dua. Ia langsung populer dengan kecantikannya. Ditambah lagi dengan mobil mewah yang bergantian mengantar-jemputnya. Banyak cowok berusahan mendekati, tapi semua harus puas dengan mimpi mereka saja, tanpa berhasil mewujudkannya. Sementara, sebagian dari mereka, mimpi pun sudah tak berani, termasuk Arlan yang duduk di belakang Rani.
Sampai suatu siang sepulang sekolah, sewaktu Arlan hendak menghidupkan motornya ….
“Arlan, mau nolong aku nggak?” Suara Rani mengejutkannya.
“Asal aku sanggup.”
“Aku harus buru-buru ke rumah. Tapi, jemputanku belum datang juga. Aku ….”
“Mengantarmu dengan motorku ini? Apa kamu nggak risi?”
“Sudahlah. Mau apa nggak?”
Arlan langsung menyambar helm yang tergantung di stang motor di sebelahnya. Ia menyodorkan helm itu kepada Rani. “Ayolah. Tapi kalo kamu masuk angin, aku nggak tanggung.” Arlan menghidupkan motornya dan membiarkan membonceng.
Ternyata, itu menjadi sebuah awal dari jalinan manis antara mereka. Beberapa kali Rani dbonceng Arlan. Sampai akhirnya, Arlan merasa perlu mengungkapkan isi hatinya.
“Kamu mau jadi pacarku, Ran?” tanya Arlan sehabis mengajak Rani menyaksikan pertandingan basket antarkelas.
Rani mengangguk dan tersenum. “Tapi dengan syarat, kamu jangan sampai datang ke rumahku,” katanya kemudian.
“Kenapa?”
“Papa melarangku pacaran.”
“Backstreet juga okelah!” angguk Arlan mantap. Siapa tahu waktu mengubah hal itu.
Tapi, waktu tak pernah memberi kesempatan untuk mengubah hubungan mereka menjadi lebih baik. Lima bulan berlalu, tetap saja mereka harus pacaran umpet-umpetan. Bahkanh tiba-tiba, waktu mengubahnya menjadi amat pahit.
Arlan membonceng Rani sepulang sekolah. Dan, kecelakaan yang tak pernah diinginkan siapa pun itu terjadi. Arlan mengalami luka gores di tangan dan kaki. Tapi, Rani sampai gegar otak.
Langit buat Arlan benar-benar runtuh kemudian. Rani menghilang entah ke mana. Usaha yang dilakukannya, cuma membuat panjang kepedihannya.
Rani ….
Arlan tersentak dari lamunannya. Sekelebat ia melihat bayangan punggung seorang cewek. Ia berambut panjang. Dan, gaun biru yang dipakai itu, sama persis dengan gaun yang dibelikan Arlan pada hari ulang tahun Rani yang ke tujuh belas.
Arlan berlari mengejar sosok itu ke dalam perpustakaan. Tapi, di pintu masuk, langkahnya tertahan.
“Arlan, aku cari-cari kamu dari tadi.” Ratri langsung mendekatinya. “Bagaimana dengan final invitasi antarklub itu?”
“Jadi besok malam. Kamu mau nonton?”
“Kebetulan nggak ada kegiatan. Sudah makan siang? Ke Gelael, yuk! Lapar, nih.”
Arlan menurut saja. Sulit untuk menolak setiap ajakan Ratri. Cewek ini memang seperti hampir kebanyakan anak orang berada. Semua kemauannya harus dipenuhi. Meskipun Ratri berusaha menutupinya dengan berorganisasi di senat, sifat manja itu amat dirasakan Arlan. Tapi, lepas dari itu semua, Arlan lagi-lagi harus bersyukur bisa dekat dengan cewek yang diincar banyak temannya. Seperti dulu, seperti Rani ….
Arlan mendesah mengingat nama itu. Dan, siapakah cewek bergaun biru itu?
“Kamu kelihatan gelisah, Lan,” kata Ratri.
“Nggak apa-apa,” sembunyi Arlan.
“Sungguh?”
“Sungguh.” Arlan menatap bola mata Ratri agar lebih meyakinkan. Dan, hatinya senantiasa bergetar usai menatap binar bola mata itu. Binar itu mirip sekali dengan milik Rani.
Mereka masuk ke dalam lancer merah Ratri. Sambil menghidupkan mesin, Ratri berujar, “Dulu kamu pernah cerita SMA kamu. SMA Lima, kan?”
“Iya. Lumayan ngetop di Bandung sini. Kalo di Jakarta, barangkali bisa disamain dengan SMA kamu itu.”
“Biasanya, sekolah ngetop pada cakep-cakep ceweknya,” lanjut Ratri
“Memang.”
“Masa sih, kamu benar-benar nggak punya pacar di sana?”
Arlan tak menjawab. Ia memang selalu berupaya merahasiakan jalinan cintanya dengan Rani.
“Pasti kamu pernah patah hati ya, sampai akhirnya kebawa ke masa kuliah. Patah hati sih, boleh aja. Asal jangan jadi dingin, Lan.”
“Dingin?”
“Lho, kamu nggak ngerasa kalo kamu tuh, cowok yang dingin? Nggak pernah ngobrol dengan siapa pun di kampus, selain aku. Mainnya aja cuma sendirian di taman perpustakaan.”
Arlan cuma tersenyum. Ia yakin, Ratri tengah memancingnya untuk cerita soal masa lalunya. Sudah sering Arlan membaca gelagat itu. Belum, belum tiba saat untuk itu semua, Arlan membatin.
***
NGGAK tahu, sampai berapa lama lagi aku bisa bertahan begini. Mencari, menunggu, mengejar bayanganmu, yang hilang entah ke mana. Sementara, sisi hatiku telah hampa begitu lama. Akankah kamu salahkan aku, bila saat ini sebuah nama hadir mengisi kehampaan itu? Tidakkah kamu akan merutukku tak setia dan mengutukku agar mengalami luka itu lagi?
Kalo saja nggak kulihat lagi kelebat bayangmu belakangan ini, aku sudah memasukkan namanya pada hari-hariku. Dan, bila bayangmu itu tak juga dapat kuraih, akan kuakhiri penantianku ini ….

Arlan menutup buku catatannya. Buku yang isinya melulu tentang Rani dan sejuta harapan yang menggurat di hatinya. Hampir dua tahun penantian itu terjadi.
Ia beranjak untuk bersiap ke gelanggang olahraga. Rani …. Ratri …. Nama itu terus mengiringi desah napasnya. Satu sisi hatinya ingin, agar Arlan segera memberi kepastian kepada Ratri tentang hubungan yang mereka jalin. Sementara, sisi lain hatinya justru ingin mempertahankan kasih Rani.
Briefing yang diberikan pelatih menjelang pertandingan final invitasi antarklub bola basket se-Bandung, nyaris tak digubris Arlan. Begitu masuk ke sisi lapangan, matanya langsung mengitari tribun penonton.
“Nyari pacar elo, Lan?” usik si jangkung, Oki.
“Sembarangan. Ratri bukan pacar gue,” kilah Arlan.
“Tapi, setia banget, ya. Cuma kali ini, kayaknya dia telat lagi.”
Arlan Cuma nyengir. Bangku yang biasa diduduki Ratri, sudah diisi orang lain. Tapi, bangku di sudut lain itu masih kosong. Tempat favorit Rani bila menyaksikan Arlan bertanding.
Priiit ….
Peluit wasit berbunyi untuk memanggil peserta. Arlan bersama timnya langsung memenuhi lapangan. Rebutan bola segera dimulai, seiring tiupan peluit.
Lawan kali ini cukup tangguh. Lima menit pertama, nyaris dilalui Arlan hanya dengan mengoper bola. Baru kemudian, akhirnya ia mendapat bola tanpa dihadang. Ada kesempatan untuk menciptakan three point. Cuma, saat bola itu diangkat, mata Arlan menangkap sosok cewek bergaun biru di tempat duduk kosong itu. Tempat yang sama diduduki cewek itu, saat babak penyisihan lalu.
Lemparan bola Arlan tak sampai ring. Untungnya sempat diraih Tio. Tapi, peluit wasit berbunyi lantaran pelatih klub Rajawali meminta time out.
“Konsentrasimu kacau sekali, Lan!” hardik Mas Aji saat timnya mendekat.
“Sori, Mas. Diganti dulu, deh,” usul Arlan.
“Pacarnya belum datang sih, Mas,” celetuk Tio.
Mas Aji setuju. Ia memanggil Alford yang tingginya 185 sentimeter. Pertandingan dimulai lagi.
Arlan langsung mengarahkan pandangannya ke tribun penonton di seberangnya. Agak sulit juga untuk menyidiki wajah cewek yang masih terduduk di sana itu. Apalagi wajahnya menunduk, seolah tahu sedang diamati Arlan.
Cewek itu beringsut ke pinggir dan berjalan cepat meninggalkan tempat duduknya. Arlan refleks berdiri.
“Mas, saya pamit ke belakang sebentar,” izin Arlan.
“Dasar beser! Baru main beberapa menit!”
Arlan bergegas mengayunkan langkahnya. Cewek itu pasti ke luar. Siapakah dia? Ranikah? Mengapa begitu misterius?
Sampai di ambang pintu ke luar, Arlan masih sempat menangkap kelebat bayangan cewek itu menuju tempat parkir mobil. Arlan menyusul. Tapi, napasnya tertahan sewaktu melihat cewek itu meluncur dengan katana biru.
“Arlan!” Suara khas itu mengejutkan Arlan.
Ratri baru hendak keluar dari lancernya.
“Jangan turun. Antar aku!” Arlan langsung menyerbu masuk ke dalam mobil. Suatu kebetulan yang menguntungkan.
“Ada apa ini?” Ratri bingung melihat Arlan panik.
“Kamu lihat escudo tadi, kan? Tolong disusul!”
“Orang di dalam mobil itu beberapa kali menguntitku. Aku penasaran. Kurasa kita belok kiri, Rat. Nah, itu mobilnya!” Arlan mengarahkan jarinya ke depan, nyaris menembus kaca.
Mobil yang mereka kejar melaju kian kencang, masuk ke jalan agak besar. Ratri membelokkan mobilnya tiba-tiba. Arlan tercengang.
“Kenapa membelok, Rat?” tanya Arlan.
Ratri tak menjawab. Ia malah membawa mobilnya ke jalan yang agak sepi, sampai akhirnya ke pelataran parkir sebuah kompleks pemakaman umum. Suasana hening menyergap mereka.
“Ada yang ingin kuutarakan kepadamu, Lan. Barangkali aku terlalu lancang ….” Ratri menggantung kalimatnya, menunggu reaksi Arlan.
Mengetahui Arlan hanya membisu, Ratri keluar dari mobil. Tubuhnya lantas bersandar pada badan mobil. Arlan dihinggapi sejuta tanya. Belum terpecahkan persoalan yang satu, sudah muncul soal lainnya.
“Barangkali aku harus menceritakannya dari pertama kepadamu.” Ratri membuka mulutnya lagi. “Dimulai dari perkenalan kita. Terus terang, kamu langsung menyita perhatianku begitu kukenal. Tapi tentu saja, aku punya batasan untuk mengungkapkan perasaanku itu.”
Arlan merasakan hal itu.
“Cara yang kulakukan untuk menarik perhatianmu, kupikir sudah tepat. Tapi rupanya, ada selubung misteri yang menutupi hatimu. Segala upaya kulakukan untuk memancingmu, tapi kamu seperti enggan membukanya. Katakanlah, kenapa, Lan?”
“A … aku … aku tak bisa menceritakannya ….”
“Kurasa kini memang tak perlu lagi, Lan. Waktu yang membelaku memberitahukan itu semua. Satu bulan lalu, aku main ke tempat om-ku. Kutempati bekas kamar sepupuku. Tanpa sengaja, aku menemukan tempat rahasia menyimpan buku harian sepupuku itu, Lan. Isinya banyak bertutur tentangmu dan cerita cinta rahasia kalian berdua ….”
“Rani? Dia sepupumu?! Di mana dia sekarang?”
“Setahun yang lalu, dia telah meninggalkan kita.” Nada suara Ratri melemah.
Arlan mendongakkan kepalanya ke langit. Gara-gara kecelakaan itukah?
“Kamu tak perlu merutuki dirimu sendiri, Lan. Tanpa kamu ketahui, sebenarnya kesehatan Rani memang rapuh. Itu sebabnya, papanya amat ketat mengawasi. Ada kanker di otaknya. Dulu pernah dioperasi di Belanda, tapi kemudian tumbuh lagi. Operasinya yang kedua gagal.”
Arlan menahan air mata yang hampa ke luar.
“Setelah tahu itu semua, aku masih bersabar diri, Lan. Aku ingin satu bentuk kejujuran darimu. Sebagai orang yang dekat, tadinya kupikir kamu mau mengungkapkan itu semua. Tapi, harapanku sia-sia. Dan, itu menimbulkan ide gila untuk menganggumu ….”
“Cewek bergaun biru itu?”
“Ya, cewek itu bagian dari permainanku. Tapi ternyata, aku tak sanggup untuk terus mempermainkanmu. Tuntutan untuk jujur kepadamu amat menyiksaku.” Ratri berupaya untuk tetap tegar mengeluarkan kata-katanya.
“Kamu ….”
“Apa pun pandanganmu padaku saat ini, akan kuterima. Tapi, beri aku kesempatan untuk mengantarkanmu melihat makam Rani.” Ratri mulai tak kuat menahan isaknya. Ia tahu risiko apa yang paling berat yang akan diterimanya. Bisa saja Arlan membencinya, lantas menjauhinya tanpa secuil maaf.
Tanpa diduga, Arlan malah merengkuh Ratri ke pelukannya. Tentu saja, isak Ratri makin tak terbendung. Ia tumpahkan gundah yang mengganjal perasaannya selama ini.
“Aku yang salah, Ratri. Aku bukan cuma nggak jujur pada hatiku sendiri. Aku telah mendustai banyak hal. Kesalahanku amat banyak. Aku harus menebus sakit hati yang kubuat padamu. Aku … aku mencintaimu, Ratri. Sesungguhnya, perasaan itu timbul sudah lama. Tapi, aku terlalu takut menghadapi risiko. Aku takut, gurat luka yang ada di hatiku menganga lagi,” tutur Arlan sambil mengusap uraian rambut Ratri.
Ratri mengangkat mukanya. Jarinya menghapus air mata yang masih ke luar. “Sebaiknya, kita segera ke makam Rani. Berdoa sejenak di makamnya, barangkali akan menenteramkan hati kita berdua. Lagi pula, kamu kan, harus kembali bergabung dengan timmu itu,” kata Ratri kemudian.
Arlan terperangah. Ia baru menyadari, dirinya masih memakai kostum klub basketnya. Segera dirangkulnya bahu Ratri dengan tangan kanannya.
“Ayolah, kita bergegas. Mudah-mudahan, aku masih sempat membuat three point. Tembakan itu akan kubuat spesial untukmu,” ucap Arlan dengan kelegaan yang tiada tara. Entah ke mana larinya selubung yang menutup rapat hatinya. Entah ke mana hilangnya gurat luka itu.
***
Kidung Camar Pulang
BADAI dan kabut yang berbaur, membuat suasana kian mencekam. Vita berusaha menerobos tantangan alam itu hanya dengan lampu senter kabutnya. Ia nggak peduli air hujan yang sudah menyelusup flanelnya, melewati raincoat kuningnya. Ia harus buru-buru sampai ke arah suara ribut di lembah gunung yang ditapakinya.
“Vita, syukur elo sampai juga! Kita harus segera membawanya turun.” Arief menunjuk seorang peserta pendidikan dan latihan dasar yang terbaring.
Bibir cowok itu tampak kelu. Sesekali bergetar, seperti hendak meneriakkan kesakitannya. Vita langsung menggigit bibirnya sewaktu memeriksa perut cowok itu yang membiru. Ternyata ia tak cuma dehidrasi, tapi juga infeksi lambung.
“Cepat bawa turun! Seharusnya, kalian nggak perlu menunggu komando gue! Cepat!” Vita berteriak lantang.
Tenggorokkannya yang kering kehausan, membuat Vita terjaga dari tidurnya. Rupanya, bayangan itu telah membuat keringatnya keluar berlebihan. Diliriknya sebentar jam beker di atas meja. Sebentar lagi pukul enam pagi. Vita mengusap rambutnya ke belakang. Diteguknya air putih yang biasa ia siapkan di atas meja. Masih agak malas Vita meninggalkan kamar. Ia memandang sederatan foto yang memadati dinding kamar.
Matahari terbenam di pantai selatan, sunrise di puncak Gunung Slamet, kawah putih Gunung Patuha, sampai riak Danau Segara Anakan di Rinjani. Semua menjalin keindahan di balik petualangan yang dilakukan Vita.
Mana mungkin gue ninggalin ini semua, Vita membatin.
“Mbak Vit, ada telepon!” Teriak lantang dan ketukan pintu yang dilakukan Deza, memaksa Vita segera meninggalkan kamarnya.
“Lain kali nggak perlu teriak-teriak begitu, Za!” hardik Vita kesal.
“Kirain Mbak Vita masih tidur.”
Vita bergegas ke ruang tengah, setelah sekali lagi memelototi adiknya. Diambilnya gagang telepon yang diletakkan di atas meja kecil.
“Vita di sini. Dengan siapa, nih?” sapa Vita seperti biasanya.
“Yola. Ada berita penting, Vit. Kayaknya, kami nggak bisa ngajak elo ke Pantai Pangumbahan lusa.” Suara Yola terdengar ragu.
“Kenapa? Jangan mentang-mentang gue kena skorsing kampus, lantas kalian jauhi. Acara kali ini di luar kegiatan klub kita, kan?” sewot Vita.
“Semalam, Rob datang ke markas. Ia nggak ngizinin kita-kita ngajak elo.”
“Kenapa? Apa alasannya?”
“Ia nggak jelasin apa-apa. Sebaiknya, elo temui Rob aja. Sudah ya, Vit!” Yola buru-buru meletakkan horn teleponnya. Ia nggak mau kebagian getah atas kesewotan Vita.
Usai mengembalikan gagang telepon ke tempatnya, Vita langsung menutup mukanya dengan telapak tangan. Ia masih belum mengerti dengan rentetan kejadian yang tak menyenangkan hatinya.
Diawali saat ia menjabat komandan lapangan pendidikan dan latihan dasar pada kelompok pecinta alam di kampusnya bulan lalu. Vita tak menyangka, cobaan yang harus dihadapinya begitu berat. Salah seorang peserta meninggal akibat dehidrasi dan infeksi lambung saat berada di medan. Peristiwa itu membuat rektorat menskoring ketua panitia dan komandan lapangan selama satu semester. Buntutnya, papa dan mama, yang memang sejak semula tak mengizinkan Vita menjadi petualang, membuat pilihan untuknya, tetap berpetualang atau tak pernah menginjak lagi rumah ini.
“Maaf, Teman-teman, kali ini gue benar-benar akan berhenti. Ini keputusan orang tua gue, kecuali gue bisa menawarnya suatu saat nanti,” cetus Vita di depan teman-teman klubnya, tiga minggu lalu.
“Gue nggak pernah percaya pada burung camar yang bilang bakal berhenti terbang, padahal belum seluruh pantai ia jelajahi,” celetuk Dion, si rambut gondrong.
Vita cuma mengangkat bahu. Ternyata, apa yang dikatakan Dion tak keliru. Ia tak betah melewati hari-harinya begitu saja, tanpa cerita-cerita petualangan. Maka, saat ia mendengar beberapa temannya akan memburu matahari tenggelam di Pantai Ujung Genteng, lantas membantu pelepasan penyu ke laut di daerah Pangumbahan, ia buru-buru mendaftarkan diri dalam rombongan.
Dan, kini Rob menghalanginya.
“Mbak Vita, minggu depan aku pinjam peralatan hiking-nya, ya!” Suara Deza membuat kepala Vita terdongak.
“Buat apa? Kamu pengin ikut-ikutan kakakmu ini? Memangnya sudah punya izin dari papa dan mama? Mendingan kamu sibuk dalam organisasi kayak mereka. Mereka nggak pernah suka anaknya naik gunung atau nyusurin pantai!” Mulut Vita terkunci mendadak. Ia baru sadar, Mama sedang berdiri di dekatnya sewaktu Deza mengedipkan mata.
“Mama dengar kamu akan jalan-jalan lagi,” ucap Mama sambil duduk di dekat Vita. Kalau pada hari Minggu pakaiannya serapi itu, sudah bisa ditebak Vita. Pasti mama akan pergi dengan papa ke pertemuan suatu yayasan sosial.
“Pasti dari Rob?” terka Vita.
“Semalam, waktu kamu dan Deza ke bioskop sampai larut malam, Rob datang ke sini. Ia menunggu kamu cukup lama,” tutur mama.
Dan, selama menunggu kedatanganku, Mama mencekoki Rob dengan banyak hal, tebak Vita dalam hati. Dapat dibayangkan bagaimana cara Mama membujuk Rob agar membantu Vita menjauhi gunung. Mama dengan lihai memilih kalimat, cara agar Rob bisa mati-matian mencegah Vita pergi ke Pantai Pangumbahan.
“Rob anak yang baik. Mama senang kamu akrab dengannya. Ia juga merencanakan untuk menghentikan hobinya naik gunung dan semacamnya itu.”
Vita terhenyak. Nggak percaya. Bagaimana mungkin si Macan Gunung itu berikrar sedemikian rupa? Apa komentar anggota klub pecinta alam yang lain di kampusnya, bila mendengar hal ini? Pasti mama telah menghasut Rob habis-habisan!
“Lho, mau ke mana kamu?” tanya mama melihat Vita yang sedang diajak bicara, malah berdiri. Padahal, ada satu hal yang teramat penting yang masih ingin disampaikan kepada Vita.
“Vita mau menemui Rob, Ma.”
“Rob janji akan ke sini siang ini.”
“Vita ingin menemuinya pagi ini juga!” tegas Vita.
***
“SELAMAT pagi, Vit!”
Vita cuma terdiam di ambang pintu kamar indekos Rob. Ia pandangi pundak kukuh di depannya. Mestinya, sejak setengah tahun lalu, ia sudah bisa bersandar di pundak itu, bila hatinya galau seperti saat ini. Tapi, Vita masih riskan melakukannya.
“Masuklah. Gue ke rumah semalam,” ujar Rob.
“Sebelum atau setelah elo datang ke markas, memaksa teman-teman melarang gue pergi bareng mereka?” tanya Vita setelah duduk di salah satu kursi.
“Gue lakuin itu untuk kebaikan kita semua,” jelas Rob. Ditatapnya mata tegar gadis di depannya. Mata seekor camar.
“Elo terlalu berlebihan, Rob. Gue pikir itu percuma. Gue tetap akan pergi.”
“Sekalipun nyokap nggak kasih izin?”
“Gue nggak akan minta izin,” sahut Vita.
“Terserah elo kalau memang demikian. Gue tetap megang amanah nyokap elo. Karena elo tetap bersikeras melanggar ikrar elo dulu, jangan salahin kalo gue ninggalin elo,” ancam Rob datar.
“Rob!” Vita tak percaya kalimat itu akan dilontarkan Rob. Pengorbanan cinta dan hobi Rob untuknya benar-benar mengada-ada, seperti keputusan pemuda cengeng belasan tahun.
“Gunung, pantai, camar … semua pun akan gue tinggalin,” susul Rob samar. Ia menyembunyikan alasan kuat yang mendorongnya mengucapkan semua itu. Satu-satunya yang ia inginkan, Vita mengurungkan niatnya kembali berpetualang.
Vita berdiri buru-buru. Sebelum meninggalkan kamar Rob, ia masih sempat berkata, “Baik, Rob, kalau itu keputusan elo. Gue hargai. Tapi gue harap, elo nggak nyesel dengan keputusan yang tergesa-gesa itu!”
Entah berapa kerikil yang ditendang Vita dalam perjalanan pulang ke rumah.
***
MASIH terlalu gelap sebenarnya untuk keluar tenda. Vita yang mulanya ingin mengawali pagi ini dengan menapaki pantai taman laut Ujung Genteng, memilih tempat lain di sebelah barat. Didudukinya bibir dermaga kecil Belanda yang tinggal puing-puing.
Angin pagi yang berembus membuat Vita menyipitkan matanya. Mata yang masih lelah karena semalam ia tak cukup tidur.
Tadi malam untuk kedua kalinya, tidur Vita menyajikan ulang peristiwa satu bulan yang lalu. Ia bangun dari tidurnya dan menafsirkan maksud alam mengulangi mimpi itu.
Apakah ini semata-mata karena kegelisahanku? Vita membatin. Karena aku telah melanggar ikrarku sendiri? Karena Rob meninggalkan aku?
Sejujurnya, Vita memang nggak tenang sejak keberangkatan kemarin subuh. Berangkat dari rumah, ia membawa beban batin atas pelanggaran ikrar yang dibuatnya sendiri. Vita belum tahu, apakah mama dan papa akan mengusirnya, begitu mereka tahu putrinya kembali berpetualang.
Lalu … Rob. Teman-temannya seperti tahu kejadian yang dialaminya bersama Rob. Mereka memandang Vita dengan mata menyalahkan. Vita sudah berusaha meyakinkan teman-temannya bahwa mereka harus menghargai keputusannya.
“Pokoknya, kalian nggak perlu pusing-pusing mikirin gue dan Rob. Soal Rob kemudian berhenti berpetualang, itu juga urusannya. Siapa tahu itu cuma gertak sambalnya. Kita semua tahu kan, gimana gilanya ia naik gunung. Dan, soal gue sendiri, kalau ada apa-apa yang terjadi dengan gue, gue akan tanggung sendiri. Nggak perlu kalian merasa bersalah,” tutur Vita panjang lebar.
Vita cuma yakin, ia tak akan apa-apa pergi tanpa Rob. Walaupun kemudian pada perjalanan, ia baru menyadari bahwa ia merasa kehilangan seseorang yang selalu menemaninya berpetualang. Mati-matian ia menepis perasaan kehilangannya.
Vita memandang sekeliling pantai. Ia berharap, perjalanannya kali ini tak diganggu beban apa-apa lagi. Dihirupnya udara pantai segar. Matahari mulai menebarkan cahayanya, menyibak keindahan pantai.
Vita ingin sekali sesekali membawa mama-papa ke pantai atau gunung. Agar mereka dapat mengerti alasan Vita menyukai gunung dan pantai. Keindahan alam itu tak bisa ia bawa ke rumahnya cuma dengan foto belaka.
Dilihatnya di kejauhan, Dion dan Akuy tengah membawa kakap merah hasil belian dari nelayan. Vita bermaksud meninggalkan dermaga menuju taman laut. Tapi mendadak, Akur menyodorkan HP-nya. Rupanya, sinyal portal yang dipakai Akur lumayan kuat juga.
“Vit, elo harus pulang!” suara Rob.
“Kenapa? Gue baru sehari.” Vita bingung.
“Mama meninggalkan kita kemarin sore ….”
***
“TERUSKAN saja petualanganmu, Vit. Lupakan larangan mama. Sesaat sebelum pergi, mama sudah menyadari kekeliruannya melarangmu berpetualang. Papa juga tak berhak melarangmu.”
Itu kalimat yang dilontarkan papa saat menyambut kepulangan Vita ke rumah. Hati Vita semakin giris karena kalimat itu terus membayanginya saat ia bersimpuh di makam mama.
“Maafkan Vita, Ma,” Vita bergumam dengan mata basah. Tangisnya sudah habis dalam perjalanan pulang. Ia merasa ada setumpuk dosa yang menghimpitnya. Bagaimana mungkin, putri satu-satunya melewati upacara pemakaman yang sakral itu.
“Nggak usah nangis, Vit,” pinta Rob halus. Ia memberi kekuatan pada Vita dengan genggaman tangannya.
“Kenapa elo nggak segera nyeritain soal penyakit Mama kalo elo emang udah tau, Rob?” sesal Vita tanpa maksud menyudutkan Rob.
“Mama yang minta gue nggak ngasih tau. Mama nggak ingin kelihatan lemah di depan elo. Gue pikir, ketegarannya menurun pada elo, Vit.”
Vita termangu. Siapa yang menyangka jantung mama sudah rapuh, padahal sehari-hari ia tampak sehat dan penuh aktivitas. Kalau saja tahu sebelumnya, Vita akan terus berada di sisi mama.
“Elo akan meneruskan petualangan elo itu, Vit?” usik Rob.
Vita menggeleng. “Gue bisa ninggalin hobi gue itu, asal elo janji nggak ninggalin gue, Rob,” kata Vita.
“Gue janji!”
Tanpa ragu-ragu, Vita menyandarkan kepalanya di bahu Rob. Sejak pagi tadi di Pantai Ujung Genteng, ia menyadari betapa berartinya bahu Rob saat kegalauannya hadir. Pada sosok Rob, Vita akan membawa akhir semua petualangannya.
Vita dan Rob meninggalkan makam yang masih gembur itu. Senja telah larut ditelan malam. Vita berdoa dalam-dalam agar dukanya turut larut bersama senja.
***
Perjalanan Hati

KANTIN cukup semarak saat istirahat. Bangku-bangku sesak, malah banyak yang berdiri. Untung Berry udah nempatin pojok kantin, semenit setelah bel istirahat berbunyi.
“Udah, jangan diliatin mulu! Ina nggak akan nyamperin  kalo cuma dipelototin gitu.” Lia memanasi Berry setelah menyeruput minuman ringannya. Ia tahu, cowok di dekatnya itu tengah memburu cewek berambut sebahu yang memang populer di sekolahnya.
“Trus, gue mesti ngapain?” Berry terpancing. Matanya terus mengarah ke depan kantin.
“Ya, samperin dong! Langsung tanya, dia udah punya partner ke pesta ultahnya Muren belum.”
“Kalo belum?”
“Bego! Ya, tawarin diri elo nganter dan jemput dia. Tuh, dia udah mau balik ke kelasnya.”
“Bayarin gue dulu, ya!” Berry beranjak dari duduknya. Ia bergegas mendekati cewek manis itu. Untung Ina cuma balik sendirian. “Ina! Tunggu sebentar!”
Ina menoleh khas. Pesonanya membuat Berry nyaris melupakan apa yang akan diutarakannya.
“Kamu diundang ke ultah Muren, kan? Udah ada yang jemput kamu belum?”
“Belum. Memangnya kenapa?”
“Aku jemput ke rumahmu, ya,” ujar Berry. Pada saat bersamaan, Berry baru sadar betapa nekatnya ia. Berani-beraninya mengajak cewek pujaan banyak cowok di sekolahnya.
Ina menimbang sebentar. Tak ada ruginya pergi ke pesta ulang tahun dengan cowok yang mirip Delon ini. Anggukan kepala Ina membuat Berry lega.
“Tapi kalo bisa, nanti sore kamu telepon aku dulu untuk ngasih kepastian jadi atau nggak. Oke? Ini nomor HP-ku.” Ina menyerahkan kartu nama mini yang hanya bertuliskan nama dan nomor HP-nya.
“Sip!” Berry mengangguk. Ia langsung berlari girang begitu Ina meninggalkannya. Buru-buru dihampirinya Lia yang telah menyemangatinya tadi.
“Gimana?” tanya Lia langsung. Tapi dari cengiran Berry, ia sudah menduga jawabannya.
“Elo emang hebat. Sini, biar gue traktir. Apa yang elo makan tadi?” Berry berlagak mengeluarkan dompet parasutnya.
“Udah gue bayar, Kunyuk!” rutuk Lia yang kian kesal lantaran Berry terus menerus cengar-cengir.
“Sekarang, giliran elo yang gue bantu cari partner. Tinggal pilih dengan siapa. Heru, Idon, Nana ….?”
Lia menggeleng. “ Elo kan tau, gue nggak suka datang ke pesta.”
“Ayolah, kali ini aja!” desak Berry.
Lia tetap menggeleng. Kalo pun ia mengangguk, cowok yang dipilihnya adalah Berry.
***
BERRY turun dari angkot. Kemudian, ditapakinya jalan kompleks menuju rumahnya. Masih cukup jauh. Mestinya, ia tak perlu jalan lagi begitu naik kelas dua. Tapi, lantaran kakaknya gagal menembus perguruan tinggi negeri, dan harus masuk universitas swasta, jatah uang membeli kendaraan, dialihkan untuk biaya kuliah kakaknya dulu.
“Berry rela kok, Mbak. Pokoknya, asal Mbak Putty bisa kuliah dulu, jalan kaki buat Berry nggak masalah,” ujar Berry dulu. Rasa sayangnya kepada Putty membuat ia rela berkorban. Toh, itu tak akan memakan waktu lama.
Di depan pintu pagar, Berry melihat motor bebek terparkir. Ia mengerutkan dahi. Sudah dua kali ia melihat motor bebek itu. Pemiliknya seorang cowok senior di kampus Putty. Augie namanya. Saat Berry membuka pintu rumah, dilihatnya Putty tengah asyik ngobrol dengan Augie.
“Hey, Ber! Baru pulang?” Augie berusaha bersikap ramah.
Berry cuma mengangguk sekadarnya. Ia berjalan lurus ke kamarnya. Dihempaskannya langsung tubuhnya ke atas tempat tidur. Helaan panjang membuka lamunannya.
Mengapa Augie yang datang? Ke mana Mas Budi, Ian, Sam, atau cowok lainnya? Pokoknya, bukan cowok yang datang ke sini cuma dengan motor bebek, Berry membatin. Apakah Mbak Putty sudah berubah? Bukankah sebelum lulus SMA, ia tak pernah mau menemui cowok yang datang tanpa mobil?
Putty teramat agung untuk dibonceng motor bebek. Kecantikan Putty mestinya disertai oleh cowok tampan bermobil. Itu yang diketahui Berry sebelumnya. Ada untungnya buat Berry juga. Sesekali, ia bisa meminjam kendaraan cowok-cowok yang memburu kakaknya. Coba kalo yang datang siang ini Sam. Berry pasti boleh memilih, mau pinjam civic atau mazda untuk menjemput Ina nanti malam.
“Berry,” pintu kamar terkuak bersamaan dengan suara Putty, “kamu belum ganti seragam?”
“Nanti. Ada apa, Mbak?”
“Kelakuanmu tadi. Kenapa? Sudah dua kali kamu bersikap nggak sopan kalo Augie ke sini.” Putty langsung terbuka seperti biasanya.
Berry menghela pendek napasnya. “Mbak udah tahu jawabannya,” kata Berry kemudian.
“Kamu nggak menyukai Augie? Kenapa? Karena dia datang cuma dengan motor bebek? Ayolah, Ber, mana yang kamu suka? Kakakmu yang materialistis atau kakakmu yang pacaran dengan cinta sejatinya?” Putty menjebak Berry.
“Memilih pacar yang bermobil, belum tentu materialistis, Mbak. Seperti Mbak dulu, dengan yang lain juga benar-benar cinta, kan?”
Putty mengangkat bahu. “Nggak seperti saat dengan Augie sekarang. Waktu di SMA, lebih banyak disebabkan tak ingin kalah dengan yang lain saja. Tapi setelah kenal Augie, ia banyak mengubah hal-hal buruk pada diri kakakmu ini.”
Berry menyesal membiarkan kakaknya meneruskan kuliah di universitas itu. Padahal, dulu Berry berharap, cowok-cowok yang memburu Putty akan lebih kaya-kaya lagi. Bukankah fakultas elite yang dimasuki kakaknya banyak dijejali orang-orang berduit?
“Aku sih, rela aja kalo harus putus dengan Augie kalo kamu menghendakinya. Tapi, alasannya harus jelas!” tambah Putty sambil menatap tajam adiknya. “Nah, sekarang, ngomongin soal cewek yang akan kamu ajak ke pesta nanti malam. Jadi kamu ngajak Lia?”
Perasaan Berry berubah. Ia menggeleng sambil tersenyum. “Bukan Lia. Dia nggak suka pesta-pestaan. Tapi, cewek yang kuajak lebih cantik. Namanya Ina. Cuma, jemputnya pakai apa ya, Mbak? Kalo Sam nggak kuliah ke luar negeri, enak bisa pinjam satu mobilnya.”
“Kalo memang nggak ada kendaraan, ya nggak usah maksain. Kan, ada taksi,” usul Putty. Kendaraan satu-satunya yang ada di rumah, hanyalah taft milik kantor papa. Tapi, nggak mungkin Berry mau membawa mobil berplat merah itu ke pesta ulang tahun temannya.
“Mudah-mudahan Ina mau diajak naik taksi.”
“Cewekmu itu bukan cewek materialistis, kan?”
“Mudah-mudahan,” harap Berry lagi.
***
SELEPAS magrib, Berry sudah bersiap untuk pergi. Sore saat menelepon tadi, ia sudah memberi kepastian akan menjemput Ina pukul tujuh.
“Kamu tunggu bentar dulu, Ber. Augie mau ke sini. Kamu bisa pinjam ….”
“Bebeknya itu? Ina bisa pingsan begitu tahu aku ngejemput dia dengan motor,” potong Berry langsung. “Lagian, aku udah telanjur telepon taksinya.”
Putty tak berkutik. Sebenarnya, ia ingin sekali membantu Berry. Ini boleh dibilang kencan pertama adiknya itu. Putty ingin adiknya benar-benar menikmati kencan pertamanya. Tapi apa daya, Putty sudah bertekad nggak menjadikan adiknya cowok yang memanjakan pacarnya kelak dengan materi. Seperti yang dialaminya, cinta yang dilandasi materi cuma sesaat umurnya.
Lima menit kemudian, Berry terbang dengan taksi menuju rumah Ina. Gerbang rumah besar terbuka otomatis, saat taksi yang ditumpanginya sampai didepannya. Ternyata, Ina sudah menunggunya di teras rumah.
“Hai, In! Aku belum telat, kan?”
“Belum,” jawab Ina singkat. Ia masih terpana dengan kedatangan Berry yang diantar taksi. “Ber, taksinya suruh balik aja!”
“Kenapa? Kita ke pesta Muren dengan taksi ini, kok! Tapi, oke-lah!” Berry akhirnya menurut. Ia membayar argo taksi dan membatalkan rencana pergi ke pesta Muren dengan taksi itu. Barangkali Ina punya ide lain. Misalnya, meminjamkan salah satu mobil yang terparkir di garasinya.
“Kamu tunggu bentar. Aku ngambil HP dulu.” Ina melangkah meninggalkan Berry. Belum ada tiga menit, ia sudah balik lagi. “Untung Handi belum pergi. Lima menit lagi, ia ke sini ngejemput kita.”
“Kita?”
“Nggak apa-apa, kan?”
Berry cuma mengangguk. Sepuluh menit kemudian, Berry merutuki dirinya yang sial di bangku belakang crown yang dikendarai Handi. Berry merasa jadi pecundang. Ia tahu siapa Handi. Cowok itu rival beratnya merebut hati Ina. Dan sekarang, di depan matanya, ia menyaksikan cowok itu duduk bersanding dengan Ina.
Semakin jauh dari rumah Ina, himpitan di dada Berry semakin keras. Mau ditaruh ke mana muka gue setiba di pesta Muren nanti? Berry membatin. Sudah banyak teman-temannya yang tahu, ia akan datang bersama Ina. Berdua, tanpa Handi.
“Han, sori, aku turun di sini saja,” tahu-tahu mulut Berry berkata lantaran ia hapal wilayah yang ada di luar jendela.
“Lho, nggak jadi ke pesta Muren?”
“Kepalaku mendadak pusing.”
“Ya udah, kami antar dulu aja ke rumahmu,” usul Ina.
“Nggak usah. Rumahku dekat di sini, kok.” Berry buru-buru keluar begitu mobil berhenti. Ia memandang sekelilingnya. Rumahnya amat jauh dari tempat itu. Yang dekat justru rumah Lia.
Berry terpaku sebentar saat melihat jimny hijau di depan rumah Lia. Dilihatnya juga, Heru keluar dari rumah Lia dengan tampang lesu. Cowok itu kemudian melarikan jimnynya dengan kencang.
Tekad Berry semakin kuat untuk memasuki rumah Lia. Ia segera menerobos pagar dan mengetuk pintu rumah sambil mengucapkan salam.
Sebuah tatapan kaget menyambut Berry saat pintu terbuka. Kedatangan Berry benar-benar kejutan buat Lia. Bukankah seharusnya dia pergi dengan Ina?
“Heh, ganggu nggak, nih?” sapa Berry.
“Nggak.” Lia masih kaget.
“Gue pikir, gue bakal elo usir kayak Heru tadi.”
“Dia kelewat nekat. Padahal di sekolah tadi, udah gue bilang nggak akan pergi ke pesta Muren. Dan elo, kenapa kemari?” Lia ikut duduk seperti Berry di kursi rotan yang berderet di teras.
“Karena gue ingin kemari.”
“Itu bukan jawaban.”
Berry menghela napas. Menceritakan peristiwa yang baru dialaminya, sama aja ngebiarin dirinya diolok-olok Lia habis-habisan nanti.
“Ya udah, nggak cerita juga nggak masalah. Gosip yang bakal gue denger hari Senin nanti pasti seru.” Lia berujar.
“Jadi, elo mau percaya dengan gosip?”
“Habis, cerita dari sumber aslinya nggak gue tau, gimana gue bisa milih mana yang bisa kupercaya?” serang balik Lia.
Berry termenung. Akhirnya, keluar juga cerita sial yang dialaminya secara kronologis. Tanpa bumbu. Berry sudah siap kalo diakhir cerita, Lia kemudian menertawakannya. Tapi, yang terjadi justru sebaliknya. Lia cuma menggigit bibirnya, sambil menatap aneh ke arah Berry.
“Jangan menatap gue seperti itu, dong! Elo pikir, gue akan frustasi cuma diperlakukan begitu? Nggak bakal!” sergah Berry.
“Gue yang salah. Mestinya,  gue nggak beri elo ide konyol waktu di kantin.”
“Semua udah telanjur. Lagian, gue kelewatan juga. Mestinya, nggak gue turutin nafsu gue. Bisa pergi ke pesta Muren berdua dengan Ina, sebenarnya cuma ingin memenuhi hasrat berkompetisi dengan cowok-cowok di sekolah kita.”
“Jadi, bukan karena kamu ingin pacaran dengannya?”
“Kalo bisa jadi pacar gue, ya, bagus. Tapi rasanya sih, nggak mungkin. Cewek yang jadi pacar gue, harus seperti kakak gue saat ini,” cetus Berry.
“Wah, pasti susah. Kakak elo kan, cantik banget.”
“Bukan soal cantiknya. Kakak gue sekarang udah berubah, nggak kayak waktu SMA dulu. Dia nggak materialisits lagi. Biar pacarnya cuma pake motor bebek, tapi karena cinta sejati, ya jadi, deh,” tutur Berry ngelantur.
Lia tersenyum. Bila itu yang diinginkan Berry, seharusnya sudah ditemukannya cewek itu sejak dulu.
“Dan, gue baru aja sadar, siapa cewek yang gue cari,” lanjut Berry.
“Siapa?” Lia penasaran.
“Tunggu aja seminggu lagi.”
“Seminggu?” Lia mengulang. Ya, ampun! Lama banget!
***
HARI Minggu, Berry bangun lebih cepat dari biasanya. Semalaman ia sulit tidur. Bukan lantaran peristiwa yang menginjak hatinya itu. Berry telah menyadari bahwa semua itu semata-mata hanya karena ketololannya sendiri.
Berry mengangkat HP-nya. Ditekannya tombol-tombol di HP-nya. Tak lama kemudian, terdengar suara sapa di seberang.
“Hai, Lia! Ini gue,” sahut Berry yang hapal betul suara Lia.
“Oh, elo. Ada apa, Ber?”
“Semalaman gue nggak bisa tidur. Kayaknya, gue nggak akan menunda rahasia itu selama satu minggu. Cukup satu malam.”
Lia tak menyahut. Semalam pun ia jadi sulit tidur. Nama yang dirahasiakan Berry itu sungguh-sungguh menyiksa keingintahuannya.
“Sudah, nggak usah pura-pura, Lia. Elo tau kan, orang yang gue maksud?”
“Gimana gue bisa tahu?”
“Emangnya elo nggak ngerasain?”
“Ngerasain apa? Ayo, jangan sampai gue banting  HP gue!” ancam Lia.
“Nggg …. ngerasain getaran aneh saat dengan gue.”
“Hah! Gue … elo … gue?”
Berry menutup HP-nya. Ia ingin buru-buru terbang ke rumah Lia. Ingin ditegaskannya sekali lagi perasaannya.
***
Bukan Saatnya

MENDAPATKAN cinta Herdin adalah sesuatu yang amat membahagiakan bagi Atrin. Selama dua tahun di SMP, Atrin memendam keberanian mengisyaratkan perasaannya karena Herdin begitu populer dengan ketampanannya. Ia juga memutuskan untuk mengubur cintanya, ketika ternyata mereka kemudian mendapatkan SMA yang berbeda.
“Kalo emang dia jodoh kamu, nggak akan lari ke mana-mana deh, Trin,” hibur Iren, sahabat kentar Atrin. Ternyata, ucapan Iren benar!
Setahun kemudian, Atrin mendatangi pesta pernikahan kerabat mama di Hotel Mulia. Siapa sangka Atrin bakal bertemu kembal dengan Herdin yang kian memesona. Dan, siapa sangka pula, kalau Herdin juga terpesona oleh penampilan Atrin yang kini jauh berubah. Setelah seminggu pendekatan melalui telepon, akhirnya Atrin berhasil mendapatkan cinta Herdin. Pangeran impiannya.
Tapi, sudah tiga hari ini, Herdin seperti ditelan bumi. Mulanya, Atrin mendiamkan karena ia sendiri sedang sibuk mempersiapkan pesta ulang tahun ketujuh belas Iren di akhir pekan nanti. Lama-kelamaan rasa rindu Atrin tak berbendung dan kemudian berubah menjadi kecemasa,n ketika ia tak berhasil bicara dengan Herdin di telepon.
“Sebaiknya, kamu langsung temui di rumahnya aja, Trin,” saran Iren setelah Atrin mengadukan segalanya. “Mungkin dia sakit. Karena takut kamu ketularan, ia ngehindar. Ya, namanya juga sayang. Jangan dulu berprasangka yang bukan-bukan!”
Atrin menuruti saran sahabatnya itu. Napasnya terasa lega ketika akhirnya ia mendapatkan Herdin tengah duduk di teras rumahnya. Dan, ia kelihatan sedang nggak sakit, meskipun sikapnya terasa amat dingin.
“Ada apa sebenarnya, Her? Apa aku telah berbuat salah tanpa kuketahui?” selidik Atrin setelah mengunci mulutnya beberapa saat.
Herdin menggeleng malas.
“Lantas? Ayolah, Herdin. Kamu kok, nggak menghargai kedatanganku?”
Herdin memandang Atrin. “Aku lagi nggak kepengin ketemu kamu dulu,” kata Herdin kemudian.
Atrin kaget mendengarnya. “Kenapa?” sergah Atrin.
“Aku nggak bisa ngejelasin sama kamu sekarang.”
Atrin mendengus sambil berdiri. “Baiklah, kalo kamu emang udah bosan. Mungkin, kamu juga nggak peduli dengan aku lagi. Aku … pamit pulang,” ucap Atrin sambil berjalan pelan meninggalkan Herdin. Ia begitu berharap Herdin mencegahnya. Tapi, sampai pintu pagar, tak ada tanda-tanda Herdin bereaksi. Atrin pun langsung mempercepat langkahnya dengan dada sesak dan mata sembap.
***
“KAMU nggak bisa diam doang gitu dong, Trin! Kamu harus ngebales perlakuannya. Jangan mentang-mentang dia ganteng, terus bisa bilang bosan ketemu kamu seenaknya!” sungut Iren dengan nada tinggi.
Atrin masih menahan isaknya di atas tempat tidur Iren. “Terus aku harus gimana?” tanya Atrin bingung.
“Minta kepastian sama dia, mau diterusin atau putus!”
“Pu … putus? Aku belum siap kalo harus putus dari Herdin.”
“Kenapa nggak siap? Dia udah nyakitin hati kamu. Atau … karena kegantengannya? Oala, Trin, kalau kamu buka mata kamu lebih lebar, di sekolah kita tuh, banyak yang lebih ganteng dari Herdin. Kamu tinggal pilih aja, biar aku yang ngatur kencannya di pesta ulang tahunku nanti. Gimana?” usul Iren bersemangat.
Atrin mengangkat bahu. Ia nggak memungkiri kalau jatuh hati pada Herdin lantaran cowok itu punya wajah ganteng. Tapi, bukan cuma wajah yang membuat Atrin berusaha mempertahankan cintanya. Ada sesuatu di balik itu semua.
“Gimana kalo aku jodohin kamu dengan Reza? Dia ganteng dan bintang iklan walaupun cuma figuran. Atau Robert? Made? Joko? Obun? Oh, jangan! Yang satu itu cadangan, kalau Rivan memutuskan hubungan denganku.”
“Aku mau pulang dulu, Ren. Aku nggak jadi nemenin kamu ke Mangga Dua sore ini. Sori, ya!” Atrin bergegas menuju rumahnya yang cuma terpisah satu blok.
Di kamar, ia langsung membayangkan hari-hari berkesan yang dilaluinya bersama Herdin. Sebelum ini, urusan cintanya dengan Herdin berjalan mulus. Nggak pernah ada pertengkaran sekecil apa pun karena Herdin nggak pernah menuntut yang macam-macam. Makanya, Atrin kelimpungan menghadapi konflik cintanya saat ini.
Ringtone HP Atrin berbunyi.
“Halo, dengan Atrin?” tanya suara di seberang.
“Ya. Siapa, nih?” balik Atrin pangling
“Aduh, sama teman sebangku SMP sendiri lupa. Ini gue, Sherly, yang sekarang di SMA Tujuh belas. Satu sekolah dengan Herdin.”
“Sherly! Aduh, apa kabar? Tumben! Di mana kamu sekarang?”
“Lagi makan di Kelapa Gading. Gue cuma pengin nanya nih, bukannya mau usil. Gimana hubungan elo dengan Herdin sekarang?”
“Baik,” bohong Atrin. “Memangnya kenapa?”
“Sekali lagi, sori banget nih, Trin. Gue cuma penasaran. Soalnya, di sekolah Herdin akrab lagi dengan Eva, mantan pacarnya sebelum hubungan dengan elo. Dan, barusan gue mergokin mereka di mal. Lengket banget. Gue ngasih tahu ini karena gue khawatir sama elo, kalau selama ini Herdin ngebohongin elo. Halo … masih di sana kan, Trin?”
“Ya, terima kasih atas infonya. Ngomong-ngomong, kamu nanti datang ke ulang tahun Iren kan, Sher?” Atrin mengalihkan pembicaraan.
“Datang, dong. Kita ketemu nanti di sana, ya! Dadah!” Sherly mengakhiri pembicaraannya.
Atrin termangu setelah mematikan HP. Sekilas wajah indo Eva berkelebat di benaknya. Gadis berdarah Belanda yang sekali pernah bertemu dengannya di sebuah pesta teman Herdin itu, mengusik hatinya. Herdin pernah mengatakan putus dengan Eva karena mereka beda keyakinan. Gimana kalau kini keyakinan mereka sama? Eva punya kans lebih besar meraih kembali hati Herdin karena mereka satu sekolah.
Tiba-tiba, Atrin merasa muak membayangkan wajah Herdin. Benar kata Iren, ia harus segera melupakan Herdin.
***
ATRIN menghalau bayang Herdin dengan menyibukkan diri membantu persiapan pesta ulang tahun Iren yang tinggal sehari lagi. Mulai konsumsi, dekorasi, susunan acara, sampai ikut milih gaun yang akan dipakai Iren.
Di saat sibuk itulah, HP Atrin berbunyi. Nomor HP yang tertera di layar HP-ya tak dikenali Atrin.
“Ini dengan Atrin? Aku Eva, teman Herdin. Bisa ngobrol sebentar?”
Atrin mendengus. “Ya, silakan aja. Tapi, nggak usah sebut-sebut nama Herdin.” Ia memberikan syarat.
“Nggak mungkin, Trin. Justru ini tentang Herdin.”
“Kalau gitu, lain kali aja kita ngobrolnya. Aku lagi sibuk.”
“Kalo memang kamu keberatan ngobrol, aku bisa mengerti. Tapi tolong, nanti kalau Herdin menemuimu, biarkan dia ngejelasin semua yang terjadi beberapa hari belakangan ini ….”
“Selamat sore!”
Klik! Atrin mematikan HP-nya dengan perasaan galau. Oh, jadi Herdin ingin menemuiku, Atrin membatin. Carilah sampai dapat.
“Dari siapa, Trin?” Selidik Iren setelah menangkap muka kusut pada wajah Atrin.
“Orang iseng. Eh, malam ini aku nginap di sini buat ngeberesin semua.”
“Asal jangan bangun kesiangan aja. Kamu kan, harus pulang dulu buat pake seragam dan ngambil tas ke sekolah.”
“Beres. Gampang diatur.” Atrin berusaha menyibukkan dirinya lagi.
Sekitar pukul delapan malam ketika mereka berada di kamar, mama Iren menyampaikan kabar yang nggak ingin didengar Atrin. “Di luar ada Herdin pengin ketemu kamu, Trin.”
Atrin memandang penuh harap ke arah Iren. “Tolong bilangin, aku nggak pengin ketemu dia lagi,” pinta Atrin.
“Beneran, nih? Nggak nyesel?” Iren segera beranjak. Agak lama ia meninggalkan Atrin, dan kembali dengan kedua telapak tangan terbuka. “Sori, aku nggak bisa ngusir dia. Sebaiknya, kamu temui dia secepatnya.”
“Kamu ini gimana? Rasanya, di kupingku masih nempel kalimatmu yang memintaku menjauhi Herdin.”
“Itu karena aku salah paham menilai dia. Ayolah, kamu nggak mau Herdin kuajak ke kamar ini, kan?” paksa Iren. “Kenapa masih diam? Takut?”
“Siapa bilang?” Atrin berdiri karena gengsi. Ia meninggalkan Iren dan menemui Herdin dengan perasaan tak keruan. Cowok itu masih menunggu Atrin di teras.
“Trims, kamu masih mau menemuiku. Sebelumnya, aku minta maaf atas sikapku belakangan ini,” sapa Herdin sedikit rikuh. Tapi, kerinduannya pada mata bening itu, membuatnya berani mengatasi keadaan.
“Nggak ada yang perlu dimaafin. Kamu nggak salah. Aku yang nggak tahu diri berharap kamu tetap setia.” Atrin berusaha bersikap datar.
“Nggak, Trin. Aku ngaku salah. Aku nyembunyiin sesuatu darimu.”
“Eva?”
Herdin mengangguk. “Rupanya, kabar itu sampai juga padamu. Kuharap, kamu mau mendengar penjelasanku agar nggak salah mengerti.”
“Apa lagi? Kamu kembali dengan dia lagi? Kurasa itu cukup jelas. Dan, bagiku satu orang hanya ada satu cinta. Jadi, biarlah aku yang ngalah.”
“Justru itu yang keliru dan ingin kujelaskan. Aku nggak bermaksud meninggalkanmu untuk balik lagi ke cintaku yang lama. Sama sekali bukan begitu. Aku masih mencintaimu, Atrin.” Herdin berusaha memegang jemari Atrin. Namun, Atrin menepisnya.
Herdin mendesah. Bagaimanapun, ia harus menceritakan semua yang terjadi kepada Atrin. “Semua berawal ketika Eva memberitahuku bahwa ia terserang kanker di otaknya ….” Herdin sengaja menggantung kalimatnya.
Atrin bereaksi dengan menutup mulutnya. Hatinya melunak mendengar kalimat itu.
“Sebagai orang yang pernah dekat dengannya, aku merasa prihatin dengan keadaannya. Eva memintaku balik lagi padanya, tapi aku menolak lantaran masih mencintai kamu. Lalu, Eva meringankan permintaannya. Ia menginginkan aku menemaninya pada hari-hari terakhirnya, sebelum ia pergi ke Belanda selamanya untuk terapi pengobatan di sana. Mulanya, aku nggak nyanggupin juga. Karena aku pikir, hari-hariku kini hanya milik kamu, Trin. Tapi, Eva terus memohon dan mengatakan akan meminta izin langsung padamu ….”
“Dia nggak pernah melakukan itu,” potong Atrin.
“Aku yang melarangnya. Aku nggak mau ia hadir di antara kita dengan sepengetahuanmu karena khawatir kamu nanti salah pengertian terhadapku. Makanya, aku menyanggupi permintaannya dan melarangnya memberitahumu. Selama beberapa hari kami bersama-sama, lama-lama aku merasa bersalah padamu. Makanya, ketika kamu datang menemuiku, aku memintamu untuk meninggalkanku karena aku sedang galau menyembunyikan rahasia itu. Saat itu aku hanya berpikir, bukan saatnya aku mengungkapkan semuanya kepadamu.”
Atrin memegang telapak tangan Herdin. “Sudahlah, Her. Aku sekarang mulai ngerti. Kalau kedekatanmu dengan Eva bukan karena cinta, kamu nggak perlu ngerasa bersalah dan nyembunyiin dariku,” ucap Atrin. Perlahan, rasa cemburunya surut.
“Ya, itulah kesalahanku dari awal ….”
“Sebelum ini, kamu kan, nggak pernah berbuat salah. Aku rasa wajar kalau sesekali kita berbuat salah. Mungkin di saat lain, giliran aku yang bikin kesalahan.”
“Jadi, kamu memaafkan kesalahanku?” Herdin menghendaki kepastian.
“Asal kamu mau mempertemukan aku dengan Eva.” Atrin memberi syarat.
“Kalau begitu, aku nggak akan pernah mendapatkan maaf darimu. Eva sudah berangkat ke Belanda sore tadi. Dan, ia menitipkan salam untukmu….”
“Kamu nggak sedih ditinggal pergi?”
“Aku lebih sedih, kalau kamu nggak mau memaafkan aku sekarang juga.”
Atrin tersenyum sambil memandangi raut wajah Herdin. “Her, kamu tahu nggak, kalau aku mencintai kamu, bukan cuma karena kamu ganteng. Tapi juga karena hati kamu baiiiiiik sekali,” kata Atrin kemudian sambil menunjuk dada Herdin.
“Jangan memuji dulu. Kamu belum memaafkan aku,” sergah Herdin.
“Aku yang seharusnya minta maaf karena sempat berpikir yang bukan-bukan, setelah kamu minta aku nggak menemuimu dulu. Semestinya, aku segera mengabulkan karena selama ini, kamu nggak pernah meminta apa-apa dariku. Kalau kamu mau tahu, Iren malah sempat berencana menjodohkan aku besok, di pesta ulang tahunnya, dengan …. Auw! Herdin, lepaskan!”
Herdin buru-buru melepaskan cubitan di ujung hidung mancung Atrin. Rasanya, sudah lama ia nggak melakukan kebiasaannya itu. Malah, Herdin sempat berpikir, Atrin tak akan pernah mau menemuinya lagi. Tapi, bukan saatnya ia kini berprasangka seperti itu lagi. Mereka masih saling mencintai.
***
Biar Cinta Berkata

BENK Yuwono. Nama itu tercetak jelas di antara deretan nama orang-orang yang diterima dalam Seleksi Penerimaan Mahasiswa baru. Mestinya, ia gembira seperti yang lain.
“Cuma di pilihan kedua, Nan,” gumam Benk seraya melipat koran di lengannya.
“Itu masih untung kan, Benk? Masih bisa melewati SPMB yang bikin frustasi banyak orang,” hibur Naneng.
“Tapi, itu artinya kita akan berpisah. Kamu di Bandung, sementara aku di Yogya. Cukup jauh. Kapan kamu akan berangkat ke Bandung?”
“Kata Mbak Rien, biasanya registrasi di ITB harus secepatnya. Jadi, ada kemungkinan besok.” Agak ragu ia menjawabnya. Ia tahu bagaimana gamangnya perasaan Benk saat ini.
“Aku ikut.”
“Kamu juga kan, harus ke Yogya secepatnya.” Naneng berusaha mengingatkan.
Benk menggeleng. “Mendingan aku cari universitas lain di Bandung aja. Biar di swasta juga. Aku nggak akan membiarkanmu berpisah dariku, sementara cowok-cowok ITB yang kegerahan, akan berlomba merebutmu.”
Naneng tak tahu harus berkata apa kepada Benk. Perasaanya mengatakan, apa yang diputuskan Benk itu keliru. Tapi, ia tak tahu bagaimana mengungkapkannya. Cuma, sesampai di rumah, ia menumpahkan segalanya kepada kakaknya.
“Seperti itukah Benk? Jadi, dia nggak mau kuliah di Ekonomi Gajah Mada? Keterlaluan!” rutuk Rien. Dua tahun lalu, ia sampai nangis seharian, gara-gara gagal kuliah di jurusan yang kini mestinya dimasuki Benk.
“Dia nggak konsekuen dengan apa yang dipilihnya. Mestinya, kalau ia memang nggak ingin kuliah di sana, ya jangan dipilih!” lanjut Rien. “Entah berapa orang yang memakinya, kalau sampai tahu Benk menyia-nyiakan kesempatan yang didapat.”
“Salahku juga, Mbak. Mestinya, aku milih Bandung juga untuk pilihan kedua, jadi Benk nggak milih Yogya. Sekarang, aku keterima di ITB, pilihan pertama kami, sementara Benk keterima di Yogya, pilihan kedua kami.”
“Kamu nggak salah. Pilihanmu itu kan, karena memang sesuai dengan keinginanmu, sementara Benk cuma ikut-ikutan.”
“Ah, bukan itu, bukan itu yang meresahkanku,” gumam Naneng. Aku tak akan membiarkanmu berpisah dariku, sementara cowok-cowok ITB yang kegerahan, akan berlomba merebutmu. Kalimat itu mengganggu kisi hatinya. Bukan cuma soal konsekuensi pada pilihan, tapi lebih dari itu. Soal kepercayaan hati.
“Kamu nggak bisa mendiamkannya, Nan. Tapi ….” Rien pasrah. Ia tahu seperti apa sifat adiknya. Sejak kecil, Naneng memang tak banyak bicara. Pertentangan apa pun yang ada di hatinya, tak pernah disanggah.
Itu sebabnya, Rien sempat cemas ketika masa-masa SMA, saat biasanya para gadis saling berlomba tampil selincah mungkin, Naneng tetap tak berubah. Ia khawatir, adiknya tak menikmati musim semi masa SMA. Toh, ternyata kekhawatirannya pupus, tatkala beberapa hari setelah ujian akhir tiga bulan lalu, adiknya bercerita tentang cowok bernama Benk.
“Dia baik, Mbak. Aku sudah perhatiin sejak lama. Tapi kan, nggak mungkin kalo bilang duluan. Eh, nggak tahunya, kemarin ia bilang pengin pacaran denganku. Kayaknya, cinta itu ajaib, ya, Mbak. Bisa ngomong dari hati ke hati.”
Ya, itu dulu, saat masih ada keajaiban cinta. Tapi, apa sekarang ia masih akan terus memendam segalanya. Berharap penuh cinta yang menyampaikan segala yang ada di hatinya, kata batin Rien.
***
“MESTINYA kampus ini jadi milik kita,” gumam Benk saat melangkah memasuki gerbang kampus ITB. Udara pagi Kota Bandung yang sejuk, membuat ia terpaksa menarik rapat jaketnya.
“Kamu bisa datang ke kampus ini kapan aja. Nggak ada larangannya, kan?” sahut Naneng.
“Tahun depan, aku ikut SPMB lagi dan harus tembus ke sini!” tekad Benk, seraya menatap lekat salah satu gedung beratap sirap tak jauh darinya.
Naneng tersenyum mendengarnya.
“Jadi, aku bisa terus bersamamu. Konyol nggak sih, keinginanku?” tanya Benk ingin tahu. Pagi tadi, Tante Ratni, tempat ia menumpang di Bandung, sempat berkomentar begitu saat Benk mengutarakan rencananya kuliah di Bandung, melepas hasil SPMB-nya.
“Aku juga senang bisa bersamamu, tapi nggak keberatan kalo harus berjauhan. Yang penting, hati kita,” sahut Naneng samar.
“Tapi, biasanya berjauhan itu gampang pisahnya. Kamu ingat Mas Dino dan Mbak Anti, kan? Abangku putus pacaran gara-gara Mbak Anti ngegaet cowok Filipina waktu sekolah di sana.”
“Tergantung orangnya juga,” timpal Naneng. Ia ingat Mbak Rien yang awet dengan Mas Andri. Padahal, mereka pacaran jarak jauh, Jakarta-Padang.
“Aku lebih suka yang paling aman.”
Naneng tak menimpali lagi. Mereka sudah mendekati gedung serbaguna, tempat registrasi mahasiswa baru. Tampak sekali wajah-wajah suka cita memasuki gedung itu. Sementara, Benk kian gelisah saja melihat sebagian besar calon mahasiswa di sekitarnya adalah cowok. Meskipun yakin ia masih jauh lebih keren dibandingkan mereka, perasaan cemasnya sebagai cowok yang baru memiliki kekasih tiga bulan, tetap saja muncul.
“Aku tunggu di sini, ya, Nan,” kata Benk lantaran sungkan untuk mengantar terus ke dalam.
Naneng mengangguk dan meninggalkan Benk sendirian.
Benk memilih duduk di salah satu bangku beton. Memandangi bangunan di depannya, membuat hatinya kian miris. Akhirnya, ia menenggelamkan diri membaca koran yang sempat dibelinya tadi.
“Hai, Dewi!”
“Hai juga, Arni!”
Benk sedikit terusik mendengar suara dua orang cewek di dekatnya. Ia pikir mereka akan menjauh, tapi keduanya malah duduk tak jauh darinya.
“Elo keterima di sini, kan? Di mana?” tanya yang berambut panjang digerai.
“Kimia.  Gue denger, cowok elo masuk Sipil. Nah, ya, ketahuan elo ke sini ngebela-belain nganterin doi,” timpal gadis yang bernama Arni sambil membetulkan kacamatanya. “Elo sendiri keterima di mana?”
“Ekonomi, Gajah Mada. Gue baru ke Yogya pakai bus nanti malam. Ya, mumpung masih ada waktu untuk berduaan, makanya sekarang nempel terus.”
Kuping Benk agak terangkat. Jadi, gadis berambut panjang itu senasib denganku, pikirnya. Ah, toh ia tak jadi mengambilnya, jadi tak mungkin bertemu lagi nanti.
“Gue denger, cowoknya Sita juga keterima di Gajah Mada,” ucap Arni merembet pada yang lain.
“Nurdin? Iya, Jurusan Komunikasi Massa. Tapi nggak diambil. Katanya sih, gara-gara Sita dapat di Jurnalistik Padjajaran, sementara Indra juga masuk Jurnalisitik. Elo juga tahu kan, Indra ngejar-ngejar Sita dari dulu. Nah, kabarnya Nurdin ngeri kalau sampai Sita digaet Indra ….”
“Gila! Nggak nyangka Nurdin serapuh itu.”
“Setuju! Cowok apaan kayak gitu? Semalam gue ditelepon Diana, sahabat dekat Sita. Kabarnya, Sita malah nekat mau mutusin Nurdin.”
“Aku ngedukung keputusan Sita. Apa yang dilakuin Nurdin, sama saja artinya dengan nggak percaya dengan Sita. Lha, kalau pacaran tapi nggak saling memercayai, apalagi yang mesti diagungkan?”
“Kalau buat aku dan Doni, boleh dibilang, kepercayaan itu modal utama. Itu sebabnya, aku rela kuliah di Yogya, dan Doni rela pacaran jarak jauh denganku. Bandung-Yogya kan, nggak nyampe seabad. Apalagi hari gini, gitu lho! Ada HP, bisa SMS-an kapan aja. Mau curhat, tinggal kirim e-mail, trus bisa chatting lagi ….”
Keduanya tertawa. Lalu, mereka mengganti topik yang tidak lagi menarik perhatian Benk. Kini, giliran hati Benk yang berkecamuk, mengingat-ingat kalimat yang dilontarkan dua cewek itu.
Barangkali, yang ada dalam hati Naneng pun demikian. Aku seorang cowok yang rapuh, penakut. Cuma, Naneng tak mengatakannya langsung kepadaku. Dan, rasanya aku mesti bersyukur kepada Naneng, yang tetap mau menerimaku di sisiny,a sampai detik ini. Mungkinkah aku mengubah segalanya sebelum terlambat?
Sampai Naneng kemudian muncul, Benk mulai dapat menenteramkan hatinya.
“Jadi kita keluar masuk universitas swasta hari ini? Tapi kayaknya, meskipun cuma cari info pendaftaran, sehari nggak bakalan cukup,” kata Naneng mengingatkan Benk.
Benk menggeleng. “Nggak usah, deh. Aku nggak bakalan kuliah di sini. Aku pilih di Yogya aja,” ujar Benk. Rasanya, ia ingin mencium pipi Naneng, yang matanya tiba-tiba berubah penuh binar ceria.
***
DUA bulan berlalu.
Benk menapaki jalan sejuk kampus Bulak Sumur. Di sisinya, berjalan cewek berambut panjang. Beberapa orang yang melihat, menyangka mereka sepasang kekasih.
“Sungguh, Dew, elo nggak pernah merasa ngeliat gue sebelum di Yogya?” Benk mengulangi kalimat yang dilontarkannya setengah menit lalu.
“Betulan. Kalau sebelum di sini gue ketemu elo, barangkali gue nggak akan pacaran dengan Doni. Elo lebih segalanya-galanya dibandingin dengan cowok gue yang di ITB,” timpal Dewi.
“Jangan suka ngebanding-bandingin. Ingat lho, modal utama kalian pacaran adalah kepercayaan. Jangan khianati kepercayaan Doni elo itu!”
Dewi terperangah. Hanya sedikit ia bicara soal prinsip pacarannya. Dan, ia teramat ingat ….
“Astaga! Apa elo cowok yang duduk di dekat gue dan Arni waktu masa registrasi ITB? Ya, gue yakin, elo cowok yang pura-pura baca koran, tapi nguping pembicaraan gue. Gue sempat melirik sekilas. Oalaaa, kenapa elo baru ngasih tahu sekarang?”
“Kemarin, gue baru dapat e-mail dari Naneng. Ia mengingatkan gue supaya berterima kasih sama elo.”
“Atas apa?”
“Sori, yang ini nggak bisa gue ceritain! Bahkan, kepada pacar gue sekalipun.”
“Sialan! Kalau gitu, gue pisah, deh! Gue ada janji dengan dosen wali,” ucap Dewi sambil membelok.
Benk kemudian mengingat kembali isi e-mail dari Naneng, yang dibacanya berulang kali semalam.

Dear Benk,
Sekarang, aku udah ngerti sepenuhnya. apa arti kecemasan kamu dulu pada perpisahan kita.  Kupikir, dulu karena kamu nggak percaya lagi sama aku. Tapi, alasan itu emang nggak terbukti.
Kamu ingat senior yang nyoba ngedeketin aku? Ternyata, sikap diamku diartikan lain. Ia malah makin berani. Akhirnya, kemarin aku nekat, menolaknya terus terang. Kuceritakan panjang lebar tentangmu, sekalian kutunjukkan foto kita berdua. Eh, dia malah melecehkan, pacaran jarak jauh model kita nggak bakalan langgeng. Lantas, kukatakan aja prinsip pacaran yang pernah kamu katakan kepadaku, kepercayaan adalah modal utama kita. Setelah itu, ia pergi dan nggak berani nongol di depanku lagi.
Aku nggak mengerti, sejak kamu katakan prinsipmu itu, aku semakin rindu untuk bertemu denganmu. Mudah-mudahan malam Minggu nanti, kamu nggak ada kegiatan, terus kita bisa chatting. Seenggaknya, itu bisa mengobati sedikit rinduku.
Salam Rindu,
Naneng
***
Nyala Lilin Putih

“OM, Tia pulang dulu, ya. Jangan lupa, besok malam harus datang!”
Om Darwis yang duduk di kursi sutradara, hanya mengangguk. Sebenarnya, ia tengah bersemangat menyelesaikan sinetron yang sedang digarapnya. Tapi, Tiara adalah seorang bintang. Ia sudah berpesan sejak kemarin bahwa hari ini hanya bisa syuting sampai sore. Sedangkan besok, ia ingin libur karena malamnya akan menggelar pesta ulang tahun ketujuh belas. Om Darwis nggak bisa berbuat apa-apa terhadap bintangnya itu.
Tiara berjalan menuju BMW hitam, yang diparkir tak jauh dari lokasi syuting. Mang Sanip langsung membukakan pintu untuknya.
“Langsung pulang, Non?” tanya Mang Sanip sambil menyalakan mesin mobil.
“Antar saya dulu ke rumah lama. Saya pengin ketemu Rosi dan Bobi,” jawab Tiara. Ia ingin memastikan, kedua sahabat masa kecilnya itu datang ke pesta ulang tahunnya besok.
Mang Sanip menjalankan mobil dengan kecepatan yang sudah dihapalnya. Tiara nggak suka ia mengemudi terlalu lambat atau pun terlalu ngebut.
Di kursi belakang, Tiara melemparkan lamunannya jauh ke belakang. Masa kecil yang suram. Bahkan, untuk sebuah pesta kecil ulang tahunnya pun, mama nggak bisa menyelenggarakannya. Padahal, setelah Tiara menghadiri pesta ulang tahun Rima, ia ingin sekali mengundang teman-temannya ke rumah dan bertepuk tangan semuanya, setelah ia meniup lilin ulang tahun.
“Bikin aja pesta ulang tahun yang sederhana,” usul Rosi.
“Yang diundang, nggak usah banyak-banyak,” tambah Bobi.
Tiara memandang kedua kakak-beradik di depannya. “Tapi, aku nggak punya uang,” timpalnya kemudian.
Rosi dan Bobi berpandangan. “Pokoknya, besok ulang tahun kamu kita rayakan. Nggak usah bingung-bingung,” kata Bobi kemudian.
Besok sorenya, Rosi dan Bobi mengajak Tiara ke halaman belakang. Di bawah pohon nangka, mereka duduk di tanah. Bobi mengeluarkan lima batang lilin putih, yang kemudian dipotongnya menjadi dua bagian. Sementara, Rosi mengeluarkan permen dan kacang kulit dari kantong plastik. Sepuluh batang lilin itu kemudian dinyalakan di atas tanah.
“Sekarang, kamu tiup lilinnya. Jangan lupa, minta sesuatu di dalam hati,” seru Bobi.
Dengan girangnya, Tiara menuruti permintaan Bobi. Suara tepuk tangan kemudian terdengar ,dan bersamaan pula suara Bobi dan Rosi melantunkan lagu “Selamat Ulang Tahun”. Mereka kemudian menghabiskan permen dan kacang kulit. Terakhir, Tiara sengaja menyanyikan sebuah lagu untuk kedua tamunya.
“Boleh kutahu, apa yang kamu minta tadi ketika meniup lilin?” usik Bobi ketika pesta kecil itu berakhir.
“Aku nggak bisa memberi tahu kamu. Nanti nggak akan dikabulkan,” elak Tiara.
Bobi mendengus kesal.
Tiara tertawa geli. Dan, ia terus menyimpan rahasia itu sampai sekarang. Pada saatnya nanti, Tiara berjanji akan membukanya.
Mobil yang dikendarai Mang Sanip, berhenti di dekat sebuah gang kecil. “Perlu diantar, Non?” tanya Mang Sanip.
“Nggak usah. Tolong tunggu aja, mungkin agak lama.”
Tiara melangkah memasuki gang. Inilah kampung halamannya.
Setahun lalu, Tiara masih tinggal di kawasan ini. Sampai ketika, diam-diam Bobi mendaftarkannya pada pemilihan model sampul sebuah majalah remaja. Tiara terpaksa mengikuti petunjuk Bobi ketika fotonya muncul sebagai unggulan, dan bahkan akhirnya, ia harus mengikuti penggojlokan pada babak final. Meskipun cuma juara dua, rupanya itu merupakan bekal yang berarti untuknya merambah ke dunia yang berbeda.
Satu bulan kemudian, ia menandatangani kontrak sinetron. Belum ditayangkan sinetronnya, ia mendapatkan kontrak dari sebuah produk sampo sebagai bintang iklan. Yang terhebat, Tiara terpilih sebagai satu-satunya model cewek Asia oleh sebuah produk jeans ternama di dunia.
Semua itu telah mengubah dunianya. Ia lantas memutuskan untuk pindah ke tempat yang lebih asri bersama keluarganya. Namun, sedikit pun Tiara nggak pernah melupakan masa lalunya.
Tiara berhenti sebentar di depan sebuah rumah kayu yang dulu pernah ditempatinya. Kemudian, ia masuk ke dalam rumah sebelahnya. Sudah menjadi kebiasaannya, masuk ke rumah itu tanpa mengucapkan salam.
“Eh, ada bintang beken nyasar ke rumah kita!” Teriakan suara Rosi terdengar nyaring begitu melihat kedatangan Tiara.
Tiga orang yang ada di ruang tamu, langsung berebut memberi tempat untuk Tiara.
“Bobi kok, nggak kelihatan?” tanya Tiara.
“Ada di kamar. Belakangan ini, kerjanya cuma bertapa. Mungkin, biar masuk SPMB nanti.”
Tiara langsung berjalan ke dalam. Ia mengetuk pintu kamar Bobi, yang langsung terbuka tak lama kemudian. Nyaris Tiara tertawa lepas, ketika melihat rambut Bobi dipotong model jabriknya Delon.
“Rupanya, kamu udah jadi cowok trendi sekarang!” komentar Tiara. Ia menggamit lengan Bobi dan menyeretnya ke ruang depan, bergabung dengan Rosi, Ibu dan Pak Rusli.
“Pokoknya, semua yang ada di rumah ini, nggak boleh ada yang absen besok.”
“Kami sih, pasti hadir. Nggak tahu Bobi, tuh. Katanya, bingung mau ngasih kado apa,” sahut Bu Rusli.
“Bawain aja kacang kulit sama permen kayak dulu,” timpal Rosi.
“Ide bagus. Sekalian sama lilin putihnya,” Tiara melirik ke arah Bobi. Tapi, tak ada reaksi.
Percakapan berlangsung terus. Lama-lama, Tiara menyadari, Bobi memang tak mau membuka mulutnya sama sekali. “Ada apa sih, dengan Bobi? Kok, diam melulu dari tadi?” usik Tiara.
“Lagi stres kali. Biarin aja. Kalo mau jadi pengusaha, kan harus belajar stres.”
HP Tiara berbunyi. Setelah bicara sebentar, Tiara kemudian terpaksa pamit karena harus kembali ke rumah. Rosi mengantarnya sampai mulut gang.
“Sekarang, abangku memang berubah. Dia paling benci kalo di teve ada iklan kamu, Ti. Bahkan, kalo dulu getol nonton sinetron kamu, sekarang belum apa-apa, semalaman nggak ada di rumah,” ucap Rosi ketika hendak berpisah.
Tiara mengangguk. Mungkin kesalahan ada pada dirinya. Dan, ia berjanji akan membenahi dirinya.
***
MALAM pesta ulang tahun Tiara begitu meriah. Tiara tampil seperti bidadari yang diutus para dewa. Dibalut sutra putih dengan potongan sederhana, Tiara tampak bersahaja. Ia memang sengaja tampil tak terlalu glamor di pestanya. Ia ingin menunjukkan kepada tamunya, kepribadiannya jauh menarik daripada atribut yang menempel pada dirinya.
Tidak lelah Tiara menyalami dan melempar senyum kepada tamu-tamunya. Senyumnya kian mengembang, ketika keluarga Bu Rusli datang menghampirinya. Rosi kelihatan ceria didampingin pacarnya. Tapi, di mana Bobi?
“Bobi nggak ikut bareng, Ros?’ tanya Tiara berbisik kepada Rosi.
“Bilangnya mau nyusul. Habis pas mau berangkat tadi, dia belum siap-siap. Jadi kami tinggal aja.”
Tiara menarik napas pelan. Diliriknya arloji bertahtakan berlian di pergelangan tangannya. Acara puncak masih sekitar setengah jam lagi. Ia langsung menerobos deretan tamu. Lewat pintu samping gedung megah itu, Tiara menyelinap ke luar dan langsung menuju mobil kesayangannya. Ia mengendarai sendiri mobilnya dan memacunya dengan kecepatan di atas biasanya.
Tiara tahu, Bobi pasti nggak akan datang ke pestanya. Entah apa alasan Bobi memperlakukan Tiara seperti itu. Tapi Tiara yakin, ia harus bicara empat mata dengan cowok itu, malam ini juga.
Tiara memarkirkan mobilnya tak jauh dari mulut gang. Ia merasa perlu menguncinya dengan hati-hati. Beberapa orang di sepanjang gang menyapanya. Langkahnya amat tergesa-gesa hingga nyaris tak menggubris tegur sapa beberapa orang yang dilewatinya. Tangannya langsung membuka pintu rumah Bobi begitu sampai. Nggak dikunci. Berarti, Bobi masih ada di rumahnya. Namun, sewaktu Tiara membuka kamar Bobi, ia tak menemukan sosok Bobi.
Tiara terpana sebentar di dalam kamar Bobi. Begitu banyak gambar dirinya memenuhi dinding kamar Bobi. Sadar akan tujuannya, Tiara buru-buru menerobos ke belakang rumah. Didapatinya Bobi tengah duduk di bawah pohon nangka. Sementara, di dekatnya beberapa batang liling menyala, sebagian padam tertiup angin malam
“Bobi, kenapa kamu nggak mau ke pestaku?”
Bobi terperanjat mendengar suara itu. Setelah melihat sebentar, ia tertunduk dalam. Tangannya sibuk menyalakan lilin putih yang padam
“Kita harus membicarakannya, Bob. Kamu jangan membuat aku serbasalah gini,” desak Tiara seraya duduk di samping Bobi.
“Aku memang nggak ingin datang ke pestamu. Kulakukan untuk menjaga perasaan dan hatiku sendiri.”
“Menjaga dari apa?”
“Dari mimpi-mimpi yang terlalu mengawang.”
“Sederhanakan kalimatmu. Aku nggak ngerti.”
“Dari dirimu. Kamu semakin jauh ke atas langit. Kamu adalah bintang sekarang, yang tak mungkin lagi kudekati.”
“Jangan aneh gitu. Lihatlah ke arahku. Aku masih di bumi. Duduk pun sekarang aku masih di tanah. Baiklah, aku ngerti yang kamu maksud. Aku memang sudah berbeda dengan yang dulu. Tapi, aku nggak pernah ngelupain sedikit pun gimana aku dulu. Aku masih sering main ke sini. Heh, bukankah dulu kamu yang justru membukakan pintu bagiku menuju ke dunia yang berbeda ini?”
Bobi memandang ke arah Tiara. Ia seperti melihat bidadari impian hatinya.
“Aku juga memahami perasaanmu, Bob. Tapi, kenapa kamu nggak pernah mau memahami perasaanku? Aku ini cewek. Seperti yang lainnya, aku cuma bisa menunggu ungkapan perasaan seseorang. Termasuk … perasaanmu terhadapku yang sebenarnya.”
Bobi terpengarah. “Aku ….”
“Jangan kamu katakan kalo memang sulit. Tapi, sikapmu yang berubah belakangan ini, meyakinkanku bahwa kita ternyata menyimpan perasaan yang sama. Tadinya, aku ingin mendesakmu pada pesta ulang tahunku. Aku ingin mengumumkan tentang hubungan kita di depan orang banyak. Dan, itu masih bisa kita lakukan, kalo kamu mau ikut denganku sekarang.” Tiara berdiri menunggu reaksi Bobi.
Tapi, Bobi malah menarik telapak tangan Tiara, untuk kembali duduk di dekatnya. “Kamu nggak pengin kita rayain dulu ulang tahunmu berdua? Tiuplah nyala lilin putih ini, seperti yang dulu pernah kamu lakukan. Jangan lupa, untuk mengajukan permintaan dalam hati,” pinta Bobi.
Tiara tersenyum. Ia menuruti apa yang dipinta Bobi.
“Boleh kutahu, apa yang kamu pinta tadi?” tanya Bobi kemudian, setelah lilin-lilin putih itu padam.
“Masih sama dengan yang dulu pernah kupinta.”
“Dulu, kamu nggak mau mengatakannya.”
“Aku minta agar Rosi bisa menjadi saudaraku dan kamu menjadi pendampingku kelak. Itulah yang kupinta dulu. Ya, sejak dul,u aku memang sudah punya pikiran konyol, kamulah calon suamiku. Kamulah yang menjadi pangeran dalam setiap lamunanku. Aku nggak pernah mengharapkan cowok lain, kecuali kamu, Bob.”
“Sudah, sudah. Ayo, kita berangkat! Kamu terus membuatku melayang-layang.”
Tiara tertawa pelan. Berdua mereka berjalan menuju pesta lain yang lebih besar. Sementara di langit, bintang-bintang dan rembulan berlomba menerangi kebahagiaan cinta mereka.
***
Kalo Bulan Jatuh Cinta

LANGKAH Maya kian cepat menapaki tangga menuju kelasnya, begitu mendengar bel tanda istirahat usai. Ia tak ingin Bu Nurky masuk kelas sebelum dirinya. Selain itu, ia harus menyempatkan diri menginterogasi Wulan.
“Heh, kemana aja kamu selama istirahat?” Maya langsung sewot karena Wulan ternyata sudah duduk di bangkunya.
Wulan cuma tersenyum.
“Di kantin, anak-anak pada nanyain. Dodo nagih novel silat yang kamu pinjem, Idang nagih sebotol Fanta lantaran kamu kalah taruhan atas pertandingan bola semalam di teve, terus… aduh, siapa lagi, ya? Heh, malah cengengesan!”
“Lagian, elo kok, mau-maunya ngapalin pesen orang? Biar aja mereka nagih langsung,” timpal Wulan.
“Begitu, ya? Terus, ke mana aja kamu selama dua hari ini? Setiap bunyi bel istirahat, kamu langsung ngilang.”
“Ke perpustakaan.”
Maya terbelalak. “Apa nggak salah, tuh? Di sana kan, seumur-umur nggak akan kamu temuin novel silat, Wul! Kapan kamu terakhir minum obat, sih?”
“Lho, memangnya perpustakaan cuma buat baca-baca. Nggak ….”
“Terus ngobrol dengan cowok? Hayooo, siapa dia?”
Wulan merasa dirinya terancam. Diliriknya pintu kelas. Aduh, moga-moga Bu Nurky cepat datang. Nah, benar kan. “Ssst, Bu Nurky dateng, tuh!” bisik Wulan buru-buru.
Maya kesal. Mulutnya komat-kamit tanpa suara. Ia belum puas kalau pertanyaannya tak dijawab. Apalagi, agaknya dugaannya kali ini benar. Ya, soal cowok. Ia bisa menangkapnya dari sorot mata Wulan.
Oh, ini benar-benar berita. Si Iwul alias Wulan alias Rembulan Giargina, sedang jatuh cinta. Tapi … berita itu belum cukup informasinya, tanpa diketahui siapa cowok yang ditaksir Wulan. Akan kuselidiki, biar tahu rasa Wulan. Hihihi….
“Maya, kenapa kamu cengar-cengir? Kamu ngetawain baju baru Ibu, ya?” Di depan, Bu Nurky sewot begitu melihat mimik muka Maya. Ia memang selalu mengawasi dua gadis badung di kelas ini.
“Nggak kok, Bu. Baju Ibu bagus. Ngomong-ngomong, beli di Tanah Abang ya, Bu? Abis, mirip dengan punya tetangga saya.”
“Sembarangan kamu!” Bu Nurky menghardik. Mukanya pucat. Ia bingung karena sudah lima orang menebak dengan jitu, tempat ia membeli baju itu. Karena kesal, ia langsung menyuruh murid-muridnya ulangan mendadak. Biar tau rasa!
Tapi, Wulan nggak protes seperti biasanya. Malah, tumben-tumbennya dia mengumpulkan lebih dulu kertas ulangannya, tanpa lebih dulu menyebarkan ke teman-teman cowok di sekitarnya. Maya gemas karena ia baru mengisi separuh soal di depannya.
Sampai bel bubar pelajaran sosiologi, Maya cuma menjawab empat soal esai dari sepuluh yang diberikan. Pelajaran beriktunya, ia sama sekali nggak menegur Wulan.
Begitu bel pulang berbunyi, Maya langsung keluar lebih dulu. Dia mengambil tempat untuk menguntit Wulan. Diperhatikan sobatnya yang berambut ala vokalis Roxette itu, berjalan ke depan laboratorium kimia. Heh, mau apa anak sosial ke sana? Lima menit kemudian, dari dalam laboratorium, keluar para penghuninya. Wulan dihampiri seorang cowok cakep. Maya tak begitu kenal dengannya karena ia yakin cowok itu jarang nongkrong di kantin, jarang menyentuh lapangan basket, dan … bukankah dia Ibnu? Cowok yang suka disebut-sebut teman-teman cewek di kelasnya karena wajahnya yang menggemaskan kayak bayi.
Jadi, Wulan naksir Ibnu?
Maya buru-buru berbalik menuju kantin. Beberapa sobat kentalnya, seperti biasa, masih nongkrong di sana mengganggu anak-anak kelas satu. “Heh, dengar nih, aku punya berita penting. Aku tahu sekarang, kenapa si Iwul jadi lain. Dia ternyata lagi kasmaran dengan Ibnu, anak fisika itu.” Maya langsung bertetetoet.
“Yang benar? Nggak mungkin Iwul naksir Ibnu. Maksud gue, Ibnu kan, cowok ….”
“Don, jangan gitu sama teman. Tomboi-tomboi juga, Wulan masih normal, kok!” bela Maya.
“Dengan penampilannya yang macam gitu? Gue rasa, semua orang sependapat dengan gue,” timpal Dodong. Yang lain langsung manggut.
“Gue pikir, malah dia pacaran sama elo,” timpal Ijul.
“Kalian benar-benar keterlaluan!”
“Bukan gitu. Kalau tahu Iwul masih selera dengan cowok, dari dulu udah gue pacarin,” tambah Ijul.
Maya memonyongkan mulutnya. Ia berbalik karena respons yang diharapkan dari teman-tamannya berbeda. Dalam kendaraan, Maya jadi memikirkan Wulan. Kalimat yang dilontarkan teman-temannya soal Wulan, jadi pikirannya.
Wulan memang tomboi. Tidak hanya dari penampilannya, tapi juga perilakunya. Cewek itu cuma punya teman cewek, Maya. Selebihnya, lelaki. Wulan lebih suka nongkrong di kantin sekolah atau ke lapangan basket daripada ngerumpi dengan teman-teman sejenisnya. Wulan nggak suka majalah cewek. Suaranya berat, dengan tawa yang terbahak. Terkadang malah Maya lupa, kalau teman jailnya itu bukan cewek.
Tapi, Maya tahu benar, Wulan masih normal, nggak seperti yang dituduhkan teman-temannya.
***
KEESOKAN harinya, cerita tentang Wulan dan Ibnu menjadi berita utama di SMA VIT. Entah siapa yang menyebarluaskan, dan lebih parah lagi, menambah-nambahkan. Semua menyudutkan Wulan. Maya mengerti kalau kalimat nyinyir itu keluar dari para rival Wulan.
“Gimana bisa si Wulan pacaran dengan Ibnu? Dia kan, nggak beres.”
“Alaaa, paling buat nutupin keenggakberesannya.”
“Tapi kok Ibnu mau, ya?”
“Semodern-modernnya dunia, dukun masih banyak, Non!”
Maya cuma menelan ludah, mendengar mulut-mulut usil itu di tangga sekolah. Wulan juga pasti mendengar omongan usil itu. Mudah-mudahan dia nggak ngamuk.
Di dalam kelas, raut muka Wulan nggak terlihat kisruh.
“Kamu udah dengar omongan orang di luar, Wul?”
Wulan mengangguk. “Biar aja. Kafilah akan tetap berlalu, meskipun anjing menggonggong.”
“Kamu nggak bisa cuek gitu, Wul. Kalau kamu memang serius dengan dia, kamu harus perhatikan itu.”
“Maksud elo, gue harus ngehajar mereka?”
“Bukan mereka, tapi kamu. Kamu harus mulai sedikit memerhatikanmu sendiri. Sori ya, Wul, terutama perilaku dan penampilanmu. Setelah aku pikir-pikir, ada salahnya juga mengabaikan omongan orang, terutama yang bernada kritis,” papar Maya.
Wulan mendelik. “Kok, elo jadi serius gini, May?”
“Aku cuma membayangkan, kalau hal ini aku yang mengalaminya, betapa sakitnya pasti. Apalagi kalau tudingan itu datang dari mulut teman-teman kita.”
“Tudingan apa?”
“Bahwa kamu … mustahil menyukai cowok ….”
Wulan terbelalak. “Gue belum denger yang itu! Siapa yang ngomong gitu? Biar gue hajar!”
“Tuh, kan. Kalau kamu begitu, orang makin curiga. Seperti yang aku bilang, ada baiknya kalau kamu yang melakukan perubahan.”
Wulan mendengus. “Elo yakin, ini akan berhasil?”
“Tentu aja. Dan, aku yakin, Ibnu akan makin menyukaimu. Kamu serius kan, dengannya?”
Wulan tersenyum. Maya sudah tiga kali gonta-ganti cowok, ia pasti tahu jawabannya.
***
WULAN akhirnya menyadari juga kalimat Maya. Ia memang nggak bisa terlampau mengacuhkan kata-kata orang. Bahwa, orang menilai orang lain dari kulitnya, memang selalu terjadi di mana-mana. Dan, ia nggak pengin hal itu sampai berlarut-larut. Bagaimana kalau tudingan-tudingan itu sampai ke telinga mamanya?
Wulan melakukan perubahan. Kendati perlahan, tapi amat terasa. Hari pertama, ia mulai menjauhi berlama-lama di kantin. Kemudian, mengurangi tawanya. Berikutnya, ia membuat tatanan rambutnya lebih modis. Dan seterusnya. Sejauh ini Ibnu memberikan respons positif.
“Kamu tambah cantik, Wul!” puji Ibnu pada hari ketujuh mereka pacaran. Mereka merayakannya di KFC sepulang sekolah.
Wulan tersipu.
“Nanti malam, aku mau ngajak kamu ke rumahku. Aku ingin mengenalkanmu kepada orang rumah.”
“Sungguh? Secepat ini?”
Ibnu mengangguk. Bulu halus di atas bibirnya membuat pesona sendiri buat Wulan. Tapi, sedetik kemudian, ada perubahan di mukanya. Wulan menangkap sebuah kegelisahan pada Ibnu. Sebelum Wulan sempat menanyakan, sebuah suara berat terdengar dari belakangnya.
“Eh, di sini rupanya.” Cowok yang umurnya sekitar tiga tahun di atasnya itu, menyapa Ibnu.
“Iya. Ng … kenalin. Ini kakak sepupuku, Raka. Ini Wulan ….”
“Pacar baru Ibnu,” tambah Wulan.
“Sori nih, keburu-buru. Ibnu, tolong bilang sama nyokap, aku di rumah sepanjang hari ini.” Raka langsung pergi, tanpa menunggu kalimat lagi dari Ibnu dan Wulan.
Wulan nggak peduli. Mungkin, dia terburu-buru. Wulan melirik Ibnu. Cowok itu agaknya masih gelisah. Kenapa?
“Aku harus buru-buru  pulang, Wul. Nggak apa-apa, kan?”
Wulan mengangguk. Mereka meninggalkan KFC. Setelah Ibnu mengantarnya sampai depan rumah, Wulan buru-buru masuk ke kamar. Pikirannya langsung tertuju pada persiapan untuk acara nanti malam.
Gue nggak mau mengecewakan Ibnu, Wulan membatin.
***
IBNU mengangkat mukanya. Wajah Raka di depannya masih datar. Belum ada satu kalimat pun yang keluar dari mulutnya. Ibnu berharap, hal ini akan segera beres.
“Jadi, elo ngedeketin Wulan cuma buat pura-pura? Untuk nutupin keadaan elo di mata mama sama papamu? Emangnya, nggak kepikiran ujungnya nanti? Gimana kalau Wulan ternyata benar-benar mencintai kamu?”
“Tadinya, Ibnu nggak berpikir sampai ke situ. Kirain, Wulan … sama seperti kita. Penampilan dan perilaku dia, selama ini sudah Ibnu amatin. Makanya, Ibnu berani deketin dia. Tapi setelah dideketin, baru ketahuan, dia ternyata normal. Rencana untuk berkompromi dengannya gagal. Tapi, Ibnu masih ngebutuhin dia, untuk menutupi kecurigaan orang rumah.” Ibnu ingat bagaimana kata-kata nyinyir Mama, ketika menemukan foto Raka di dompetnya. Untung, saat itu Ibnu bisa berdusta.
“Terserah. Gue sebenarnya seneng-seneng aja, kalo elo memang bisa sungguh-sungguh bisa mencintainya. Bercinta dengan normal. Nggak seperti hubungan kita saat ini. Tapi, bukan dengan kepura-puraan yang melibatkan perasaan orang lain.” Raka berusaha berbicara sedewasa mungkin. Ia sendiri sebenarnya sudah menguntit Ibnu beberapa hari ini. Dan, betapa kagetnya ia, ketika tahu Ibnu—yang bukan saudara sepupunya itu—tengah berusaha menggaet seorang cewek di sekolahnya. Ada perasaan cemburu bergelora.
Ibnu tersedak. Ia nggak mau ditinggal Raka, seseorang yang memberikan kasih yang diimpikannya. Nggak mau, kendati ia tahu hal itu nggak wajar. Dan Wulan, belum benar-benar mampu singgah di hatinya.
“Lakukanlah yang menurutmu terbaik saat ini juga,” kata Raka sambil menunjuk HP di dekat Ibnu.
Tanpa ragu, Ibnu menelepon Wulan.
“Halo, Ibnu! Udah siap, nih. Kapan gue dijemput?”
“Wulan … aku harus bilang … aku nggak jadi mengajakmu ke rumah. Dan, mengenai hubungan kita … sebaiknya berakhir sampai di sini aja.” Ibnu sadar, kalimatnya akan menyakiti hati Wulan. Tapi bagaimanapun, ia harus mengatakannya. Lebih cepat lebih baik bagi Wulan dan dirinya.
“Ibnu, elo nggak bercanda, kan? Ini … ini terlalu singkat. Kenapa, Ibnu? Ada yang salah dengan gue?”
“Bukan … bukan kamu yang salah. Aku yang salah. Tapi, aku belum bisa ngomong sekarang. Aku belum siap…”
Wulan mematikan HP-nya. Berjam-jam ia nggak sabar menunggu datangnya malam, dan ketika saatnya datang, justru kabar buruk yang ia terima. Wulan menengadahkan kepalanya, memandang langit dari jendela kamar. Rembulan termangu di atas sana. Wulan benar-benar belum siap untuk patah hati.
***

6 comments:

  1. sukaaaaa...paling sukaaa yang peri2kuuu kereen bangeet bhaii

    ReplyDelete
  2. Makasih Bhai udah share tulisannya. Asyik banget.

    ReplyDelete
  3. sama-sama. terima kasih udah berkunjung dan memberi komentar @Yas Marina

    ReplyDelete
  4. Sip banget! Alur nya gk gmpg di tebak. Byk blajar dari sini. Mkasih ya om :)

    ReplyDelete