Saturday, September 6, 2014

Habis Traveling, Terbit Tulisan di Media Cetak


Habis jalan-jalan, kalau nggak ditulis di media cetak sayang banget. Ini beberapa tulisan saya hasil jalan-jalan ke beberapa tempat di dalam negeri maupun luar negeri yang berhasil tembus media cetak.


Yang ini tulisan hasil jalan-jalan di museum terbuka Muang Boran, Bangkok. Dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat. Tulisan ini terbilang cepat dimuat. Tidak sampai dalam seminggu.

Untuk mengirimnya, cukup ketika tulisan dalam 2-3 halaman. Kemudian sertakan foto sekitar 2-3 buah dengan resolusi minimal 2 MB.  Send by e-mail ke redaksinya.







Ada lagi tulisan hasil jalan-jalan diundang sama PT Newmont. Ceritanya sih nulis tentang Pantai Maluk yang keren itu. Dimuat setelah dikirim tiga hari sebelumnya. Fotonya cantik ya? Itu sebabnya, mungkin, dimuat fotonya lebih besar dari biasanya.
Untuk tulisan pariwisata, kualitas foto kerap menjadi pertimbangan utama. Maka jangan asal-asalan kalau sedang traveling. Kan bisa buat foto tulisan di media cetak kelak.






Masih oleh-oleh dari Bangkok, saya juga nulis tentang Masjid Jawa yang beken itu. Nggak keren sebagai muslim kalo nggak singgah di sana. Tulisan ini dimuat juga di Harian Umum Pikiran Rakyat. Sebenarnya banyak sekali yang bisa ditulis di Bangkok lho.Yang uniknya aja dulu deh. Kan nggak enak juga sama redaksinya kalau nulis tentang Bangkok melulu. Memangnya ini Bangkok Post.






Nah, kali ini dimuat di majalah ANNISA. Ini jalan-jalan saya waktu ke Milan. Tau sendiri kan Milan itu kota mode. Jadi saya nulis khusus tentang tempat-tempat belanja di Milan. Apalagi medianya kan majalah khusus wanita muslim. Seru lah pokoknya. Beruntung saya sempat jalan-jalan di Milan hingga ke pusat perbelanjaannya.

Saya menulis feature ini karena mendapat order langsung dari Redpel majalahnya. Jadi, garansi dimuat sudah pasti. Hal ini dikarenakan Redpel majalah tersebut tahu persis kualitas tulisan saya.







Barangkali, karena lebih mudah memantaunya, tulisan saya lebih banyak dikirim dan dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat. Termasuk tulisan tentang Pulau Kelor yang saat itu memang sedang heboh gara-gara ada artis nikah dan nyampah. Eh, tapi saya tetap kok mencoba menulis untuk banyak media.






Tulisan tentang Frankfurt ini saya tulis setelah saya ke Frankfurt Book Fair. Lalu saya dipesan oleh Repel majalah Noor dan tak lama kemudian dimuat. Senang banget ketika lihat hasil foto saya terpampang 2 halaman lho. Beerarti foto saya keren kan? :)







Kalau yang ini tulisan dimuat di Harian Umum Republika. Ceritanya dari Fankfurt kan saya jalan-jalan ke Brussel. Dan saya ingin membagai pengalaman pertama saya di Brussel.

Pemuatan di rubrik Leisure ini terbilang lama. Pasalnya yang mengirim banyak sekali. Dan kebanyakan memang tentang luar negeri. Jadinya ketat deh persaingan. Tapi saya nggak pernah nyerah.
Dan nulis di Harian Umum Republika nggak juga harus sok-sok traveling ke luar negeri. Saya pernah menulis tentang wisata di kawasan Ciburial, Bandung. Dimuat dengan sukses. Yang penting menurut saya, tetap foto kita harus indah, serta tentu saja tulisan yang memikat. kalo bisa kita punya gaya menulis yang unik serta bidikan yang berbeda setiap menulis.





Cuman, memang untuk beberapa media tulisan tentang jalan-jalan di luar negeri lebih menarik perhatian mereka. Nah, ini contohnya adalah tulisan tentang suasana pameran buku di Bologna, Italia. Tulisan ini diorder dan cepat sekali dimuat di Majalah NOOR. Mungkin karena jarang orang yang menulis traveling dari sisi yang berbeda. karena saya orang bvuku. Ya nulisnya tentang buku dong.

Dan biasanya saya sudah merencanakan dengan matang berapa banyak tulisan yang akan saya buat dalam sebuah perjalanan. Minimal satu lah.


Seperti ketika ke Italia. Saya datang ke tiga kota, yakni Milan, Bologna dan venesia. Ketiganya jadi satu tulisan. Termasuk venesia. Ya, walau sudah banyak yang menulis tentang Venesia. tapi tetap saja ada yang mau memuatnya, kok.

Bahkan ada kalanya dengan satu obyek, kita bisa menulis untuk banyak media. selama cerita dan fotonya berbeda. Bukan masalah.

Nah, ada yang masih tidak tertarik menulis travelingnya ke media cetak? Kita mulai yuk







Jangan ragu. Ayo tulis travelingmu dan kirim ke media cetak.


Foto-foto: dokumen pribadi

Friday, September 5, 2014

Tips Nyaman Naik Kereta Malam

Setidaknya ada dua lagu yang mengatakan bepergian baik kereta ke Surabaya. Itulah yang terngiang saat saya naik kereta malam Turangga ke Surabaya  PP pada bulan Ramadhan lalu.

Gerbong yang saya naiki tidak terlalu penuh. Malah seat di sebelah saya kosong. Hikmahnya,setidaknya saya jadi tidak menganggu orang lain ketika foto-foto selfie, bisa tidur agak luas, dan kalau makan tidak terlalu ribet menyengggol teman sebangku.

Karena kereta yang saya tumpangi termasuk ekeskutif, maka jelas sangat nyaman dari banyak hal. Terutama seat yang luas dan bisa diatur saat hendak istirahat.


Tidak disangka, tiga minggu kemudian saya berangkat dinas lagi. kali ini saya harus ke Salatiga. Kali ini tidak sendiri, tapi bersama dua rekan lainnya. Kereta yang saya tumpangi dari Bandung adalah Lodaya malam. Kelasnya sama dengan Turangga, yakni ekeskutif. Tapi fasilitasnya tak sebaik Turangga. Terutama seat-nya. Tapi yang saya syukuri, fitur stop kontak masih ada. Jadi saya tidak khawatir kehabisan batere gadget meskipun dalam perjalanan terus online.

Berikut adalah tips agar perjalanan menggunakan kereta malam jadi nyaman.


1. Jangan terlambat datang ke stasiun. Apalagi sekarang masuk stasiun tidak semudah dulu. Yang beli tiket on-line harus menukar dulu di loket dengan tiket reguler. Belum lagi semua stasiun kereta sekarang kita tidak bisa sembarangan membeli bekal di dalam. Dan saat melewati peron juga harus menujukkan identitas. Kebayangkan repotnya kalau terburu-buru.

2. Cek lintasan kereta, gerbong kereta, dan nomor kursi di tiket sebelum naik. Jika kita belum siap, tunggu dengan sabar di sekitar lintasan. Belakangan ini jadwal kereta sangat disiplin. jangan sampai ketingggaan kereta karena berlama-lama di toilet atau makan dulu di luar stasiun jika waktu sudah dekat.


3. Pastikan duduk sesuai nomor yang tertera di tiket. Jika ingin pindah, tunggu sampai kereta berjalan. Jangan lupa bertanya kepada petugas, kalau-kalau di staisun berikutnya yang terdekat akan mengangkut penumpang.

 

4. Jangan langsung tidur begitu kereta jalan. Sebaiknya tunggu petugas kereta datang memeriksa tiket. Biar tidak terbangun kaget. Setelah itu barulah bisa istiarahta.

5. Jika berangkat sendiri dan berencana tidur sepanjang perjalanan, sementara tujuan turun bukan stasiun akhir, beritahukan teman duduk atau yang terdekat. Bisa juag minta bantuan ke petugas kereta. Penting buat penumpang yang tidurnya ala kebo.

6. Jika alergi dengan produk pewangi (laundry) sebaiknya bawa selimut sendiri. Sewaktu saya naik Turangga, fasiitas selimut saya pakai karena wanginya, warnanya (biru) dan jenis selimutnya tidak ada masalah. Ketika naik Lodaya, saya enggan memakainya. tapi untunglah AC-nya tak sedingin Turangga.

7.  Jika ingin istirahat semantara teman sebelah terus mengajak ngobrol, beritahu saja. Semua pasti maklum kalau naik kereta malam memang bertepatan dengan jam istirahat. Pastikan gadget dimasukkan ke tempat yang aman. Jangan dikeluarkan ketika berniat tidur lelap.



8. Jika ingin sahur, pastikan ke petugas untuk membangunkan. Jangan memakai jadwal imsak di kota asla karena ada perbedaan waktu imsak. Biaakan 30 menit sebelum imsak di kota asla sudah selesai.

9. Bagi yang tidak bisa tidur karena suara kereta, jangan lupa membawa headset. Buni musik bisa mengiringi kita ke alam mimpi.

10. Bagi yang tidak biasa tidur sambil duduk, cobalah tiru beberapa gaya tidur dar penumpangi di sekitar. Siapa tahu ada yang cocok. Hindari minum kopi dan minuman berenergi yang akan membuat sulit tidur.

Selamat mencoba.

Thursday, September 4, 2014

Destinasi Keren di Macau Bagi Penggila Grand Prix

Macau Grand Prix formula Tiga, ajang yang dinantikan setiap tahun.


Banyak orang awam yang mengira Sirkuit Monaco sebagai satu-satunya sirkuit balapan yang memakai lintasan jalan raya. Nyatanya,  di Asia pun juga   ada yang menyajikan suguhan serupa. Sirkuit  jalan raya itu sudah ada sejak tahun 1930-an di kota Macau, sebuah kawasan administratif khusus Tiongkok (Cina).

Sirkuit Guia demikian dunia internasional mengenalnya yang digunakan untuk ajang Macau Grand Prix. Festival otomotif  tahunan berskala internasional itu tak hanya menyajikan menu adrenalin, namun juga pemandangan kota dan budaya yang  memesona.  Tidak aneh jika semua pecinta balapan senantiasa menanti ajang tersebut.

Macau Grand Prix dikenal sebagai satu-satunya acara balap  dengan arena jalan raya untuk dua jenis kendaraan sekaligus,  baik  mobil maupun sepeda motor. Setiap tahun di bulan November  para pembalap bersaing dalam berbagai kategori balap, termasuk single-seaters, mobil touring dan sepeda motor.

Sirkuit Guia yang sangat menantang menggunakan jalan raya 
Salah satu ajang yang menarik dari Macau Grand Prix adalah Formula Tiga  yang menampilkan banyak pembalap nasional  dari seluruh dunia. Macau Grand Prix  juga terkenal dengan  sirkuitnya disebut-sebut   paling menantang  karena mirip Monaco, namun lebih sempit, bergelombang, juga memiliki trek lurus untuk dipacu habis-habisan, membuatnya butuh settingan mobil & motor serta keahlian mengemudi dan kenekatan yang luar biasa.  Itulah sebabnya banyak orang menyukai ajang balap ini.

Banyak pembalap  Formula Satu mengawali  karirnya  di sini termasuk Riccardo Patrese, Ayrton Senna, Michael Schumacher, David Coulthard, Ralf Schumacher dan Takuma Sato .

Tahun ini, Macau Gran Prix ke 61 akan digelar pada tanggal 13-16 November 2014. Tertarik? buruan cari tiketnya.



Museum Grand Prix

Tak hanya sirkuitnya, di Macau juga para turis penggemar balapan juga bisa bertandang ke Museum Grand Prix. Museum ini diresmikan pada tahun 1993 dalam rangka perayaan ulang tahun ke-40 dari Grand Prix Macau. Tujuannya bukan hanya untuk meningkatkan hubungan antara penduduk setempat dengan acara olahraga dan sosial, tapi juga agar wisatawan asing  bisa mengenal sejarah Grand Prix di Macau.

Banyak koleksi museum ini yang menarik perhatian pengunjung. Diantaranya, mobil pembalap Ayrton Senna yang melegenda dan telah menjuarai Formula 1.. Mobil pembalap legenda lainnya Michael Schumacher (Schumi) pun dipamerkan di museum ini. Foto dan mobil  Schumi saat kerjuaraan di Macau Grand Prix tahun 1990 dipamerkan di museum Grand Prix ini.



 Selain itu, Museum Grand Prix Macau ini juga memamerkan mobil balap lainnya yang telah mengukir  sejarah dalam dunia balap Formula 1.

Jika museum lain identik dengan interior yang kuno dan berdebu,  Museum Grand Prix yang terletak di pusat wisata di Rua Luis Gonzaga Gomes ini tidak demikian. Selain itu perangkat museum seperti proyektor dan peralatan audiovisual sehingga dapat membantu pengunjung lebih memahami museum terutama sejarah kompetisi balap grand prix yang legendaris itu.

Bagi yang menyukai balapan atau ingin menjadi pembalap, museum ini bisa jadi tempat yang mengasyikan.  Pengunjung juga bisa naik simulator mobil balap yang memungkinkan mereka seolah mengalami sendiri adrenalin balapan di race dengan trek yang menantang dan kecepatan super tinggi.

Asyiknya lagi,  masuk Museum Grand ini gratis! Museum buka setiap hari sejak pukul 10 pagi hingga 6 sore kecuali  hari Selasa. Museum ini bisa disambangi dengan mudah dengan kendaran umum, yakni naik bus nomor 1A, 3, 3A, 10, 10A, 10B, 12, 17, 23, 28A, 28B, 28C dan 32.

Dan inilah salah satu obyek wisata impian saya di Macau!

^_^

Referensi dan foto:
macautourism.gov.momacau.grandprix.gov.mo



Wednesday, September 3, 2014

Cheoc Van dan Hác-Sá, Dua Pantai Cantik di Macau

Ke pantai di Macau? Mau! (foto: dokpri)


Mandi cahaya matahari di Macau? Bisa! Ada dua pantai terkenal di Macau, yakni   Cheoc Van dan Hác-Sá yang terletak di bagian berbeda Pulau Coloane.  Tentu saja keduanya memiliki keunikan masing-masing. Apa saja?


Cheoc Van



Kecil tapi indah. (foto: panoramio.com)

Sekitar 1,5 km di luar  Estrada de Cheoc Van, tepatnya ke arah  timur dan kemudian ke tenggara dari Coloane Village, pengunjung bisa menemukan Cheoc Van yang artinya Pantai Bambu. Dibandingkan dengan Hác Sá memang pantainya lebih kecil, tetapi menurut catatan Lonely Planet pantainya lebih indah. 


Pantai ini juga memiliki sejumlah penjaga pantai yang bertugas mulai pukul 10:00-18:00 setiap Senin sampai Sabtu. Sementara pada hari Minggu para penjaga pantai bertugas 09:00-18:00 Minggu (hanya bulan Mei-Oktober). Pengunjung bisa menemukan  ruang ganti dan toilet  dengan mudah. 

Di Cheoc Vanp pengunjung dapat menemukan  kolam renang terbuka untuk umum seluas 400 meter persegi dengan kedalaman maksimal tiga meter, beberapa restoran, dan Nautical Club yang menyediakan peralatan untuk kano dan selancar angin. 

Carol, pelancong asal Eropa menyebut pantai ini sangat terpencil . "Hotelnya bergaya Portugis, sangat romantis. Ketika membuka jendela kita bisa mendengar suara ombak laut yang menenangkan. Aku mencintai tempat ini, romantis dan terpencil," ungkapnya di situs Yahoo Travel.


Hác-Sá


Meski tampak hitam, tapi airnya bersih. (foto: camelsee.com)

Pantai  Hác-Sá  yang berarti pasir hitam ini sangat mudah dijangkau dengan kendaraan umum.  Pantai ini lebih besar di Cheoc Van dan sangat populer di Macau, terutama untuk pengunjung yang suka berenang dan melakukan berbagai kegiatan di air lainnya seperti berlayar dan jet-ski. Beberapa kedai kuliner buka di lepas pantai. Wisatawan yang datang bersama keluarga dapat menikmati lapangan tenis, kolam renang, area piknik, taman bermain anak, dan beberapa restoran di Hác-Sá Park.


Meskipun pasirnya berwarna kehitaman dan membuat tampilan air agak kotor, tapi sesungguhnya pantainya sangat bersih. Lifeguard bertugas hanya  dari Mei hingga Oktober. Jika terlalu panas, pengunjung pantai bisa menyewa payung-payung di kedai pinggir pantai untuk mandi cahaya matahari.

^_^


Monday, September 1, 2014

Secuil Tentang Frankfurt Book Fair



Jangan mengaku insan perbukuan jika belum ke Frankfurt Book Fair (FBF). Begitu kata beberapa praktisi di Industri perbukuan. Maka jadilah FBF impian banyak editor, penerjemah, petinggi penerbitan, desainer, ilustrator, penulis dan masih banyak lagi. Seberapa istimewanya FBF ini?


FBF atau  dalam bahasa Jerman disebut Frankfurter Buchmesse merupakan pameran buku terbesar di dunia yang telah dimulai sejak abad ke-15 di kota industri, Frankfurt, Jerman. Terbesar dari sisi penerbitan yang ikut berpartisipasi dan pengunjungnya setiap hari. 

FBF digelar setiap Otober di Area Frankfurt Trade Fair. Perwakilan dari penerbit buku dan multimedia hadir untuk bernegoisasi mendapatkan hak penerbitan di negara masing dengan harga yang realistis. Alhasil, FBF jadi ajang  bergengsi bagi dunia perbukuan internasional dan merupakan ajang terbesar untuk transaksi copyright maupun unjuk karya literasi bermutu dari berbagai bangsa di dunia.  Pameran ini diselenggarakan oleh German Publishers and Booksellers Association. Selama sepekan sekitar 7.000 peserta dari lebih 100 negara dan lebih dari 286.000 pengunjung ambil bagian. 



Menurut sejarah, cikal bakal FBF berawal dari penermuan mesin cetak pertama oleh  Johannes Guttenberg lebih dari 500 silam di Mainz, tak jauh dari Frankfurt. Sejak itu pula digelar book fair pertama, hingga akhir abad 17 menjadi pameran buku terpenting di Eropa. Namun  sesuai perkembangan masyarakat, ajang tersebut dihalangi Leipzig Book Fair. Setelah Perang Dunia, tepatnya 1949, pameran pun kembali ke asal.

Sejak tahun 1976, digelar ajang a Guest of Honour (tamu kehormatan) yang menjadi  fokus selama book fair. Sebuah ruang pameran khusus disiapkan untuk tamu negara untuk melakukan pameran sesuai tema negaranya.


Saat saya berkunjung ke FBF pada 2012, tamu kejormatan adalah Selandia Baru. Negara tersebut membuat pameran buku dan kebudayaan lokal yang menarik.



Indonesia akan menjadi tamu kehormatan pada 2015. Saat ini, semua insan perbukuan Indonesia tengah mempersiapkan diri meramaikan ajang FBF. Meskipun sepengetahuan saya, belum mendapat dukungan penuh dari pemerintah, tapi tak menyurutkan gairah pegiat perbukuan. Semoga saja pada saatnya nanti dukungan semakin bertambah, dan nama Indonesia benar-benar terangkat di mata masyarakat perbukuan dunia.


Saat ini, perbukuan Indonesia masih dianggap sebelah mata oleh peserta FBF. Umumnya pula, wakil penerbitan Indonesia yang datang masih sebagai konsumen. Bukan yang berhasil banyak menjual hak terbit di luar negeri.

Dan saya berharap bisa menjadi saksi hidup dengan hadir di FBF 2015 untuk melihat kesuksesan tersebut.  Melihat banyak penulis Indonesia hadir dan membagikan tandatangan di bukunya. Bukan hanya pengarang Eropa.







foto-foto: Benny Rhamdani

Friday, August 29, 2014

Akibat Membaca Laporan Terios 7 Wonders Tangguh di Merapi



Efek membaca adalah mimpi. Dan mimpi bisa terwujud kapan saja. Itu yang terjadi setelah saya membaca laporan Terios 7 Wonders Tangguh di Merapi. Saya timbul hasrat untuk ke Merapi. Dan seminggu lalu mimpi itu terwujud. saya bisa melihat merapi dari dekat, dan mengenal sejarahnya, dari Ketep, Jawa tengah.


Yup, artikel bertajuk Blessing in Disguise Merapi adalah salah satu artikel yang saya suka dari sekian banyak tulisan menarik di e-mag Hidden Paradise.



Bermula ketika saya dan teman-teman kantor berkunjung ke tempat kediaman penulis novel Ayat-Ayat Cinta Habiburrahman el Shirazy atau Kang Abik, di Salatiga, Jawa Tengah, kami diajak melihat pertemuan dua gunung terkenal Merapi dan Merbabu. Tepatnya ke daerah Ketep. Agak asing, tapi bikin penasaran.




Dari Salatiga, perjalanan menuju Ketep harus melintasi jalan kecil yang berliku serta naik turun karena medannya memang mengitari kaki Gunung Merbabu. Kurang dari satu jam dengan mobil pribadi, akhirnya sampai juga di Ketep. Orang menyebutnya Ketep Pass.



Ketep Pass merupakan  objek wisata di Ketep, Sawangan, Magelang, Jawa Tengah. Obyek Wisata alam ini dikembangkan dengan ciri khas wisata pegunungan api, khususnya Gunung Merapi. Tepat 17 Oktober 2002, Ketep Pass diresmikan sebagai kawasan wisata jalur Solo–Selo–Borobudur (SSB) oleh Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri. 


Ketep Pass berada pada ketinggian 1200 meter dpl dan luasnya kurang lebih 8000 meter persegi. Ketep pass ini berjarak 21 km dari Mungkid, 17 km dari Desa Blabak ke arah timur, 30 km dari Kota Magelang, 35 km dari Kota Boyolali, dan 30 km dari Candi Borobudur. Dari Kota Salatiga yang berjarak sekitar 32 km, Ketep Pass dapat dicapai melalui Kopeng dan Desa Kaponan. Asal mahir berkendara, semua kendaraan bisa lewat jalan. Tapi tetap hati-hati karena banyak truk perkebunan, kadang mereka mogok pas di tanjakan.



Salah satu fasilitas menarika di Ketep Pass adalah Museum Vulkanologi. Museum ini memiliki luas kurang lebih 550 m persegi. Di dalamnya berdiri miniatur Gunung Merapi, komputer interaktif yang berisi tentang dokumen kegunungapian, beberapa contoh batu-batuan bukti letusan dari tahun ke tahun, poster puncak Garuda yang berukuran 3x3m, poster peringatan dini lahar Gunung Merapi, dan juga beberapa foto dan poster yang menggambarkan kisah dari aktivitas Gunung Merapi.




Di sini juga terdapat foto-foto para penunggu setia Gunung Merapi, seperti Mbah Marto dan yang lainnya. Keluar dari ruangan ini, pengunjung jadi tahu soal Merapi mulai dari letusan pertama pada 1006 hingga terkini. 





Eh, ada  teropong berjumlah dua buah. Masing-masing berada di puncak Panca Arga dan Gardu Pandang.Dengan alat ini, para pengunjung dapat melihat dengan jelas keindahan panorama Gunung Merapi, Merbabu dan gunung-gunung yang lain. Kalau kurang puas juga ada penyewaan teropong daria penjaja jasa di sana.

Terus terang, saya betah berada di ketep menikmati keindahan Merapi dan Merbabu. Cukup lama kami duduk sambil ngopi di jajaran warung di area Ketep Pass. Tapi waktu yang terbatas, membuat kami harus segera meninggalkan.

So, berikutnya saya berharap bisa menjelajah ke tempat lainnya. Apalagi bersama tim Terios. Pasti Mantap!


foto-foto: Benny Rhamdani



Wednesday, August 27, 2014

Philips Buka Home Lighting Store di Banceuy Bandung



14091289821706530726
Memilih lampu untuk pencahayaan di rumah harus cermat.

Masih banyak orang yang membangun rumah tanpa merencanakan pengaturan pencahayaan dari awal. Akibatnya, makin sulit mengatur pencahayaan yang benar sekaligus baik bagi kesehatan. Hal itu disampaikan oleh Product Manager PT Philips Indonesia, Indah Susanti, saat talk show ringan bertemaPencahayaan Kreatif di Philips Home Lighting Store, Banceuy, Bandung, Minggu (24/8).

"Pencahayaan rumah yang baik bisa membuat penghuninya merasa nyaman," ujar wanita yang biasa disapa Bu Susan ini.
1409127884309322529
Bu Susan memaparkan tentang Pencahayaan Kreatif.
Pencahayaan di rumah juga disarankan Bu Susan agar berlapis, dari terang sekali hingga temaram. Karena pencahayaan bukan berarti asal terang benderang. Terutama di living room yang banyak sekali aktivitas. Di dapur juga penting sekali pencahayaan agar tidak terjadi kecelakaan. Terutama di atas kitchen set.

"Sebaiknya juga di atas meja makan diberi pencahayaan agar masakan yang dihidangkan bisa terlihat jelas warnanya. Sayang kan kalau sudah capek-capek masak karena kurang cahaya, makanan di atas meja tidak terlihat menarik," tambah Bu Susan.

Bahkan Bu Susan meluruskan anggapan bahwa lampu kamar mandi tidak perlu terang karena terkait dengan penampilan dan kebersihan.

Bu Susan juga menyarankan agar kamar anak-anak diberikan lampu yang sesuai untuk anak. Saat ini, Philips sudah bekerja sama dengan Walt Disney menjual produk untuk anak-anak. Tak hanya pengaturan cahaya, Bu Susan juga menguraikan pentingnya cahaya lampu karena bisa memengaruhi mood.

Bingung menentukan lampu yang cocok di setiap ruangan? Jangan khawatir, karena Philips Home Lighting Store  memberikan konsultasi gratis kepada konsumennya. "Tapi sebaiknya dimulai dari saat merencanakan pembangunan," imbuhnya.

Peresmian Store Banceuy Bandung

Seusai talkshow, acara dilanjutkan dengan rangkaian seremoni Grand Opening Philips Home Lighting Store di Banceuy, Bandung tersebut. Head of Country Marketing Philips Indonesia, Ryan Tirta Yudhistira memberikan pengantar terlebih dahulu. Di antaranya tentang keunggulan produk lampu Philips jenis LED.
Ada tiga keistimewaan dengan penggunaaan LED, yakni hemat energi, ramah lingkungan, dan lebih sehat di mata dibandingkan lampu pijar.

14091279831531081583
Grand opening Philips Home Lighting Store di Banceuy, Bandung

Bapak Ryan memastikan bahwa ketangguhan lampu Philips bertahan 16.000 jam sudah diujicoba, bukan asal-asalan. Bahkan Philips memberikan garansi dua tahun untuk produknya. "Bahkan produk kami turut membantu pemerintah karena listrik merupakan bidang terbesar nomor dua yang disubsidi pemerintah," imbuhnya.

Grand opening ditandai dengan penakanan tombol sirine, lalu pembacaan doa dan pemotongan tumpeng. Dengan begitu, Bandung kini sudah memiliki dua Philips Home Lighting Store. Toko lampu Philips di Banceuy ini sekaligus toko ke 17 di Indonesia.

Mengapa Banceuy? Karena bisa dibilang, kawasan ini adalah pusat belanja lampu warga Bandung.  Yang membedakan, di toko lain tanpa ada layanan konsultasi gratis. Jika tidak percaya, datang saja sendiri  ke Jalan Banceuy 66 dan dapatkan diskon serta hadiah lainnya  pada masa promo hingga 7 September 2014.

14091290791974372888
Philips Home Lighting Store di Jalan Banceuy 66, Bandung
Foto-foto: Benny Rhamdani

Thursday, August 21, 2014

"Alien Terakhir" dari Penulis Kompasiana







Siang ini saya mendapatkan satu buku anak-anak berjudul Alien Terakhir. Buku ini ditulis oleh para penulis yang tergabung Fiksiana Community. Saya bernapas lega, akhirnya buku ini terbit setelah lebih dari setengah tahun menunggu, lantaran antrean terbit buku yang panjang.

Yang belum tahu infonya, buku ini terbit melalui seleksi lewat ajang  Festival Fiksi Anak (FFA) tahun lalu di Kompasiana. Pesertanya, ada yang sudah menulis buku anak bejibun, banyak pula yang pemula. Jam terbang memang tidak bisa dibohongi, kebanyakan yang lolos memang yang sudah terbiasa menulis cerita anak. Lantaran ‘aura’ penulisan cerita anak sedikit berbeda dengan menulis fiksi lainnya. Terutama menulis dengan sudut pandang anak.


Sejak awal, saya sudah jatuh hati dengan naskah peserta Ita Fauziah  dengan judul Alien Terakhir.  Judulnya tidak terlalu panjang, namun bikin penasaran. Itu sebabnya saya kemudian mengangkatnya menjadi cover story (judul utama di kaver buku).

Alien Terkhir berkisah tentang Ben dan Rhea yang tiba-tiba mengalami kejutan demi kejutan, seperti  disapa bunga, mendengar kelinci bicara dan keanehan lainnya. Yang bikin  menarik karena ada kejutan di akhir cerita (surprise ending). Dibandingkan naskah-naskah lain yang terbilang normatif, saya memberi nilai tinggi untuk ide cerita dan plotnya. Apalagi pesan moral yang disampaikan tidak  terasa menggurui. Meskipun dari sisi penggarapan ide (baca: penulisannya) masih terbilang belum matang karena bertebarannya kalimat tidak efektif .

Keunikan lainnya, di buku ini bertaburan tokoh-tokoh lain yang bukan manusia. Ya, namanya juga genre fantasi, jadi pensil pun di sini bisa bicara seperti manusia seperti dalam cerita Cinta, Pensil, dan Penghapus karya Arimbi Bimoseno. Tapi saya paling suka tokoh fantasi sawi dalam cerita Penyesalan Mimi Sawi karya Rahab Garendra. Keunikan karakter, mendorong saya untuk membaca terus ceritanya.

Dua penulis cerita anak yang sudah malang melintang di dunia perbukuan seperti Firma Sutan (Bantal Ajaib untuk Raja), dan Wylvera W (Serbuk Ajaib Tiko Kelinci) sungguh membuat kegembiraan tersendiri untuk saya.  Setidaknya, bagi penulis pemula lainnya dapat belajar cara menyusun kalimat-kalimat yang lebih efektif di dalam cerita ank.

Buku ini juga dikejutkan dengan satu peserta penulis cilik Sellyn yang masih duduk di bangku SD. Sellyn dengan gaya khas anak-anak sangat khas menulis tentang Ratu Peri dan Jam Weker Shabby. Amat terasa, jika anak-anak menulis genre fantasi, maka fantasinya akan melompat-lompat ke sana kemari, namun untungnya bisa dikendalikan dengan baik.

Insya Allah buku yang dihiasi ilustrasi berwarna oleh TOR STUDIO ini akan terbit seminggu lagi. Juga akan disusul dengan buku berikutnya dari penulis Fiksiana Community, berjudul Hantu Siul.


Nah, sekarang saya ingin sekali kedua buku tersebut diluncurkan, walaupun secara sederhana.  Kira-kira menarik nggak ya?

@_@

Tulisan ini juga diposting di Kompasiana.com


Friday, August 15, 2014

Pantai Lawar, Surga Tersembunyi di Sumbawa Barat


 
Berburu sunset Pantai Lawar




Bisa menjejakkan  kaki di Pulau Sumbawa merupakan pengalaman istimewa dalam hidup saya. Apalagi ketika bisa menemukan surga tersembunyi bernama Pantai Lawar di Sekongkang, Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, benar-benar seperti sebuah mimpi.

Sore itu, saya bersama teman-teman sesame blogger dan media televisi langsung bersorak girang ketika akhirnya tiba di Pantai Lawar. Pasalnya, kami takut banget ketinggalan momen sunset. Untunglah matahari belum benar-benar tergelincir di balik cakrawala. Tak ada pelancong selain kami, kecuali beberapa penduduk lokal yang sedang menggembalakan ternaknya.

Jalan kecil menuju Pantai Lawar.
Hilang sudah penat setelah bekerja membuat liputan di kawasan pertambangan dan sekitarnya yang menguras tenaga sejak pagi. Saya langsung melepas sepatu, dan jalan-jalan menapaki pasir pantai yang basah dan lembut.

Pantai Lawar benar-benar tersembunyi dalam arti sebenarnya. Untuk mencapat tempat ini harus melewati jalan tanah berkerikil yang hanya bisa dilalui satu mobil. Dari Jalan Raya Sekongkong, kami harus belok masuk ke area perkebunan percobaan. Nyaris tak ada bangunan yang kami jumpai hingga 300 meter ke dalam berjumpa bibir pantai Sekongkang.

Di sisi pantai, saya melihat beberapa bangunan setengah jadi. Menurut penduduk setempat, bangunan itu tadinya untuk semacam hotel. Tapi sepertinya batal diteruskan. Ya, ada untungnya juga sih, jadinya pantainya tampak bersih tanpa sampah kecuali ranting kering yang dibawa ombak. Cuman, repotnya adalah kalau haus itu.

Foto bareng dulu ya.


Sambil meneguk minuman, saya memerhatikan teman lainya. Harris Maulana, blogger beken yang sering juara ngeblog tampak asyik bereksprimen membuat foto dengan ponsel androidnya yang canggih.  Seleb blogger lainnya adalah Valencia Silly yang juga asyik foto-fotoan dengan fotografer Griska. Icha, satu-satunya kru TV berjenis kelamin cewek tak mau ketinggalan beraksi dengan tongsisnya.

Nikmatnya menapakai pasir Pantai Lawar.
Tadinya saya pengin banget berenang, tapi karena waktu makan malam telah tiba, dan di sekitar Pantai Lawar tak ada restoran, jadinya kami cukup puas hanya foto-fotoan dengan latar matahari tenggelam.

Untuk teman-teman yang mau ke Pantai Lawar, bisa dicapai dari Mataram, Lombok, dengan menaiki bus Damri jurusan Terminal Mandalika – Sekongkang. Perjalanan sekitar 5 jam, termasuk menyebrang dari Lombok ke Sumbawa Barat. Kalau saya karena memakai fasilitas untuk media, maka langsung mencarter mobil dari Bandara dilanjut naik boat menuju Batu Hijau, disambung lagi dengan mobil sewaan.


Meskipun tersembunyi, jangan kaget jika Pantai lawar tiba-tiba ramai dipenuhi pada bulan Agustus sampai September. Karena ternyata, banyak wisatawan asing yang sudah tahu keindahan tempat ini. Mereka datang dengan speedboat dan berselancar di Pantai Lawar.

Suatu saat nanti, ketika saya kembali, semoga keindahan alam pantai Lawar ini tetap terjaga.

Pantai Lawar dari atas. Indah kan? (foto: @Cumilebaycom)


foto: dokumen pribadi.