Peri-Periku
DULU ketika nenekku masih ada, nggak pernah aku lewatkan malam tanpa
dongengnya. Yang paling kusuka kalau cerita itu ada tokoh peri-nya. Sayangnya,
nenekku nggak pernah bisa menjelaskan, mengapa peri-peri itu harus perempuan.
“Sudah dari sananya, Sisi. Lagian kalau lelaki, namanya pasti bukan Peri,
mungkin Parjo,” kata nenek.
“Ah, Nenek!” seruku tak puas. Sampai akhirnya nenek meninggal, aku belum
menemukan jawaban yang pas.
Di bangku kelas empat SD, baru kutemukan sosok peri cowok. Mmm,
sebenarnya dia juga manusia. Cuma, suatu hari aku lupa bahwa saat itu ada tugas
menggambar. Sampai di kelas, buru-buru kukerjakan sebisaku. Sebenarnya, aku
nggak begitu bisa karena Pak Minto mewajibkan murid perempuan menggambar bunga.
Sampai tanda bel masuk berbunyi, aku masih belum yakin dengan apa yang telah
kugambar.











