Monday, June 15, 2015

Mencicipi Pedasnya Nasi Balap Puyung






Ketika di perjalanan dari Bandara Lombok Praya ke hotel di Mataram, perut saya sudah sangat keroncongan. Teman saya, Subhan, tiba-tiba mengirim pesan agar saya minta kepada supir diantar ke warung nasi balap puyung.

Membaca namanya yang unik, saya langsung menyampaikan pesan itu ke supir yang menjemput saya di bandara. Si supir langsung mengiyakan dan menancap gas menuju tempat makan itu. Seperti apakah? Saya sendiri hanya membayangkan, mungkin semacam rumah makan Ampera begitu kalau di Bandung.


Tahu-tahu mobil berhenti di sisi jalan tepat di depan deretan toko dan rumah makan. Tertulis papan nama di depan salah satu kedai makanan Nasi Balap Puyung Inaq Esun. Kami pun segera turun menemui penjaga resto, memesan makanan yang yang saya inginkan.


Saya pun selfie sebentar dan mengirim foto ke Subhan. Responnya di luar dugaan. "Itu tempatnya bukan yang asli. Soalnya yang asli masuk ke perkampungan," tulisnya.

Ya sudah. Toh makanannya sama saja. yang punya dan merknya pun sama. Mungkin ini memang sudah rejeki kami dan penjaga kedai ini. Apalagi perut sudah lapar.

Saya masih malas browsing kuliner satu ini. Ditunggu saja kejutannya. Dan ... voila!

Sepiring nasi di atas daun pisang tiba di hadapan saya. Nasinya sudah dicampur dengan ayam suwir bumbu pedas nan kering, udang kering dan kacang kedelai. Rasanya? Jujur saja saya kurang begitu suka dengan lauk nasi yang keras, jadi makan nasi rames ala Suku sasak ini benar-benar tantangan buat saya. Ya, suwir ayamnya, juga kacang kedelainya. Jadi makannya harus pelan-pelan takut gigi saya yang sudah rapuh pada rontok.

Tantangan kedua adalah pedasnya yang tiada tara. Bahkan disiram teh botol pun tetap menyengat. Cara menetralisir pedas di mulut adalah dengan makan kerupuk. Kebutulan ada kerupuk disediakan di kedai ini.

Di dekat saya terlihat warga lokal menetralkan rasa pedas nasi balap puyung dengan makan es campur. Mungkin saya harus mencobanya lain kali. Untuk kai ini cukup dulu. Khawatir juga sehabis makan yang pedas disiram yang dingin-dingin, perut malah nantinya melilit.

Harga nasi balap puyung itu relatif murahlah. Masih di bawah harga nasi padang.Buat yang suka masakan pedas, hukumnya wajib mencicipi kalau ke Lombok. Hah! Namanya saja sudah Lombok, pasti masakannya sepedas lombok.

Oh iya, soal namanya yang unik, konon dulu namanya Nasi Balap saja. Karena dijual di pelabuhan atau terminal, sehingga dijual terburu-buru seperti balapan. Tapi ada juga yang bilang dulunya memang ada penjual nasi tinggal di Desa Puyung. Dia memiliki keturunan yang pembalap. Maka lahirlah nama Nasi Balap Puyung Inaq Esun. Apapun itu, sebaiknya memang segera dipatenkan saja. Jangan sampai nanti tiba-tiba nasi ini diklaim juga sama negara tetangga ... hehehe

foto-foto: Benny Rhamdani




Sunday, June 14, 2015

Manfaat Kolak Pisang untuk Kesehatan



Salah satu hidangan yang kerap disajikan di meja makan saat ebrbuka puasa adalah kolak. Dan dari sekian jenis kolak di Indonesia, yang paling popular dan mudah ditemukan adalah kolak pisang. Bisa jadi karena mudah pembuatannya, dan juga besar manfaatnya.

Para pakar gizi menyebutkan, di dalam buah pisang banyak sekali  terkandung bahan-bahan yang snagat dibutuhkan tubuh manusia, seperti kalsium, lemak, kalium mineral, vitamin, karbohidrat, serta protein. Namun demikian harus juga diperhatikan, misalnya untuk ibu hamil.

Pisang mengandung asam folat yang juga diperlukan janin buat tumbuh kembangnya di dalam perut ibu hamil. Satu buahpisang mengandung 800 - 1.000 kalori. Oleh karena itu seorang ibu hamil sebainya hati-hati  mengonsumsi pisang. Jangan terlalu berlebihan

Satu buah pisang mengandung sekira  500 mg kalium. Dengan kandungan kalium sebesar ini, pisang akan membantu menurunkan tekanan darah sekaligus menjaga ekuilibrium cairan di dalam tubuh orang yang  mengonsumsinya.  Jadi untuk penderita hipertensi seperti saya, makan kolak pisang ini cocok banget.

Di bulan puasa, biasanya beberapa penderita maag sangat cemas. Tenang , pisang merupakan  alternatif pengobatan murah, namun sangat bermanfaat.  Jadi aman-aman saja, dan malah disarankan buka puasa pakai kolak pisang nih. Manfaat pisang buat asam lambung sudah teruji  di berbagai penelitian.

Nah buat yang menderita anemia juga nggak perlu khawatir di bulan puasa. Ternyata  pisang pun bisa dikonsumsi buat mengatasainya kok.. Pisang mampu merangsang tubuh buat meningkatkan produksi hemoglobin. Jika hemoglobin meningkat, maka masalah kurang darah pun akan teratasi.

Banyak orang malas makan kolak pisang  saat puasa karena katanya bakal sembelit. Itu mitos. Salah satu kegunaan pisang justru buat mencegah sembelit. Pisang mengandung serat nan tinggi dan berguna buat menetralkan kerja fungsi pencernaan.

Buat blogger atau pekerja kreatif yang biasanya moodnya menurun di bulan puasa nih, makan saja kolak pisang.  Pisang mengandung protein tryptophan. Protein ini bisa berubah  menjadi serotonin yang berguna  buat memperbaiki mood, menjadi lebih rileks.


Nah, jadi kalau di mana-mana ada yang menyodorokan kolakpisang buat buka puasa, jangan ditolak ya. Jangan bilang bosan. Masak mau sehat bosan sih? Yang penting jangan berlebihan. Juga hindari terlalu banyak kuah santannya atau gulanya. Fokus sama pisangnya.

Foto: Benny Rhamdani

Mencicipi Roti Legendaris di Gempol Bandung







Seperti biasa, usai jogging hari Minggu saya mencari pelampiasan rasa lapar. Kali ini saya memutuskan untuk berburu roti yang sangat legendaris di kota Bandung, yakni Roti Gempol. Sudah lama saya ingin ke sana, tapi belum kesampaian.

Dari tempat jogging di kawasan GOR Saparua di Jalan Ambon, saya langsung menginjak gas menuju jalan Riau, kemudian masuk ke jalan Banda, memutar ke Bahureksa, lalu belok lagi ke Jalan Tirtayasa hingga akhirnya menemukan Jalan Gempol.

Ini bukan kali pertama saya ke kawasan Gempol. Tapi biasanya saya mampir ke daerah perkampungan tersebut untuk menyantap kupat tahu Gempol yang beken juga. Letak Roti Gempol masih terus dari kedai kupat tahu.

Untuk yang belum pernah ke kawasan ini, sebaiknya jangan terkecoh mencari roti yang berdiri sejak 1958 ini. Pasalnya, di bagian depan juga ada toko roti. Bila kita bertanya ke tukang parkir, kadang diarahkan ke sana.

Satu lagi, karena akses jalan ke Roti Gempol sempit untuk dilalui mobil, ada baiknya parkir di sekitar Jalan Tirtayasa, lalu jalan kaki sekitar 75 meter. Anggap saja pemansan sambil membakar kalori yang nanti akan diisi ulang. Karena kurang nyaman diakses mobil, biasanya yang datang ke kedai Roti Gempol adalah para biker.

Seperti halnya pagi saat saya datang. Sejumlah biker sedang menikmati roti bakar hingga ke pingggir jalan. Di dalamnya yang yang tak seberapa luas sudah disesaki muda-mudi sehabis jogging. Untunglah saya masih mendapat tempat duduk.

Saat tiba di kedai, kita akan diminta menuliskan orderan. Kebanyakan yang mampir memesan roti bakar. Selainya beranekarasa. Saya paling suka yang campur aduk manis. Karena sensasi mengejutkan saat menggigit roti bakar campur-campur adalah kenikmatan tersendiri.

Untuk jenis rotinya juga bisa memilih, antara roti gandum dan roti biasa. Tentu saja yang gandum 
lebih premium. Bagi yang suka asin, bisa juga memesan dengan campuran telur atau keju. Suka-suka saja. Selain roti bakar juga tersedia penganan roti isi lainnya.

Untuk minuman, tersedia beraneka pilihan. Tapi saya paling suka minum dengan teh. Bagi beberapa orang, makan roti bakar paling asyik dengan kopi susu. Ya, silakan saja.

Rasanya tak sabar menunggu roti bakar pesanan datang. Apalagi aroma pembakaran langsung tercium karena berada di dekat tempat duduk. Dan benar saja, begitu sepotong roti masuk ke lidah saya … voila! Menggetarkan rongga mulut saya sehingga tak sabar memasukkan potongan roti bakar berikutnya.

Oh iya, Sebaiknya datang ke Roti Gempol datang bersama-sama, karena hitungan harganya jadi lebih murah. Saya yang datang berempat saja hanya mengabiskan tak sampai rp50.000 untukroti bakar dan teh hangat. Lagipula, lebih seru sarapan roti bakar rame-rame.

Saat saya makan, tak sedikit pelanggan yang membawa pulang ke rumah roti bakarnya. Buat saya sih, makan di kedainya, apalagi selagi rotinya hangat dan tehnya juga hangat. Mantap pisan, euy.
Kalau yang takut kangen dengan Roti Gempol, di sini juga dijual selai yang biasa mereka pakai.


Sebenarnya yang saya suka datang ke kawasan Gempol adalah keunikan tata lingkungannya. Gempol seperti sebuah perkampungan kecil di kawasan elit dengan rumah-rumah besar dan penuh pepohonan. Sementara di Gempol  sesak dan rumah-rumah kecil yang langsung menuju jalanan. Hebatnya, di sinilah berdiri kuliner Bandung yang sangat terkenal dan legendaries, yakni Roti Gempol dan Kupat tahu Gempol.


Foto-foto: Benny Rhamdani

Saturday, June 13, 2015

Nyenyaknya Tidur Dua Malam di Hotel Lombok Raya Mataram




Matahari mulai tergelincir ke barat ketika kami masuk ke Hotel Lombok Raya di Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat ini. Sayua tak begitu sempat memerhatikan bangunan depan hotel karena begitu ramai kendaraan dan spanduk selamat datang tamu peserta seminar ini dan itu.

Saat check in di front office, kami tak mengalami kesulitan karena sudah reservasi sebelumnya. Seorang room staf room service meminta saya mengikuti langkahnya menuju ke dalam hotel. Ternya jalan menuju kamar tak sedekat yang saya kira. Tapi saya senang karena saya bisa melihat sisi lain hotel ini yang ternyata begitu asri.


“Ini hotel bintang berapa?” tanya saya .

“Bintang tiga. Tapi akan diupgrade jadi bintang empat,” jawab staf room service.

Oh, pantas saja telihat luas dan asri. Rasanya memang sudah tidak pas kalau hanya bintang tiga.

Tatkala pintu kamar terbuka, saya langsung jatuh cinta dengan desain interiornya. Sederhana, tapi berseni. Semua terkesan rapi. Bahkan kamar mandinya juga tampak rapi. Yang bikin saya senang adalah kamarnya memiliki balkon. Saya bisa duduk santai di teras balkon sambil melihat eksterior terbuka hotel yang asri.

Satu lagi kejutan, sandal hotelnya berbeda dengan kebanyakan hotel. Di sini sandal jepit berwarna kuning biru yang unik. Saya sejak melihatnya langsung kepikiran untuk membawanya pulang. Kalau sendal hotel biasa, saya sudah bosan.

Di sela-sela waktu santai di hotel, saya melihat fasilitas hotel yang memadai. Kolam renangnya ditata tidak kotak begitu saja seperti kebanyakan.  Ada pilihan kolam dangkal dan dalam untuk dewasa. Sayangnya, saya tidak sempat berenang di sana. Padahal kepengen sekali. Apalagi ada jembatan melintang di atasnya.

Di hotel ini juga tersedia kios cenderamata yang menurut saya cukup bersaing harganya dengan produk di luar hotel. Biasanya kan harga sovenir di hotel mahal. Di sini kaos seharga Rp20.000 saja tersedia. Cuman ya, tentu kualitasnya juga seharga itu. Selain kain batik dan tenun Lombok, juga dijual batu akik yang sedang trend. Saya yang dompetnya sudah menipis hanya sempat membeli gantungan kunci. Hihihihi.

Lokasi hotel Lombok raya terbilang strategis. Untuk mencapai mall, cukup berjalan beberapa puluh meter. Begitu pula mencari tempat makan, baik khas lokal maupun modern tidak terlampau jauh.


Saya mungkin akan kembali menginap di hotel ini jika suatu hari pergi ke Lombok. Apalagi hotel ini tampak ramah keluarga. Saya betah di sini karena bisa tidur nyenyak selama dua malam. Oh iya, menu sarapannya juga seru di sini. Apalagi saat saya menginap disajikan kolak pisang dan ubi. Membuat saya semakin rindu datangnya Bulan Ramadan, yang sesaat lagi ini.


Foto-foto: Benny Rhamdani

^_^

Pengalaman Menginap di Swiss Bell Hotel Jayapura




Berpergian dengan instansi pemerintah, kerap seperti kencan buta. Kadang jadwalnya diubah semau mereka, kadang pula hotelnya baru diketahui detik-detik saat tiba di airport. Begitu pula yang saya alami ketika mengikuti perjalanan dinas ke Jayapura, Papua. Saya sampai mndarat di Bandara Sentani, tidak tahu menahu akan menginap di hotel yang mana. Alhasil, saya kerap tidak berani merencanakan apa-apa di kota tujuan nanti. Khawatir jika ternyata tempat yang rencananya akan dkunjungi jauh dari tempat yang dihayalkan.

Tepat setelah beberapa menit keluar bandara Sentani, saya baru tahu akan menginap di Swiss Bell Hotel. Letaknya tidak ada gambaran, karena saya belum sempat browsing seluruh hotel di Jayapura. Saya pun tidak berani muluk-muluk membayangkan hotelnya. Dan ternyata ...voila! Hotel itu terletak  di pinggir Pantai Kupang Dok 2, Jayapura. Konon nama Kupang berasal dari singkatan bangKU PAnjaNG yang banyak terlihat di sekitar sisi pantai.




Begitu sampai, saya yang sudah keroncongan karena perjalanan panjang dari Bandung (3 jam Bandung-Jakarta, 4 jam Jakarta-Jayapura, dan 45 Menit Sentani-Jayapura) langsung happy ketika diminta mengisi perut dulu di restorannya. Tambah happy lagi lagi ketika tahu restorannya memiliki halaman dimana tamu bisa duduk di luar sambil memandang pantai.

Dari sini saya bisa melihat pulau-pulau kecil nan indah, pelabuhan Jayapura, hingga bukit Polimak dengan tulisan Jayapura City. Rasanya pengen nyebur saja ke laut di depan saya karena hari saat saya sampai lumayan menyengat.

Setelah mengganjal perut, saya masuk ke kamar hotel, berharap jendela kamar akan menghadap ke laut juga. Tapi ... hmmm, saya harus menelan mimpi saya. Jendela menghadap ke arah jalanan nan ramai. Kurang berasa sedang menginap di sebuah kota bernama Jayapura.

Fasilitas di dalam hotel tidak ada yang lebih maupun kurang dibandingkan dengan hotel sekelasnya di Pulau Jawa sekalipun. Apalagi ini hotel yang memiliki group, pastinya memiliki standart segalanya. Termasuk pelayanannya. Cuman, mungkin karena kota Jayapura sedang senang padam listrik, beberapa kali saya kegerahan karena AC mati disebabkan listrik PLN padam.

Lokasinya sendiri menurut saya strategis. Saat pagi hari kita bisa hunting matahari terbit di pantai depan kantor Gubernur. Mau ke mall juga tak seberapa jauh karena ada Jayapura Mall. Tersedia pula beberapa kios penjual sovenir, jika tak sempat sengaja mencari barang-barang khas setempat.

Malam hari, kawasan Dok 2 ini sangat ramai dengan beraneka ragam kuliner dan hiburan malam, seperti karaoke.

Naik angkot pun cukup mudah. Ada pangkalan angkot putih yang siap mengantar kita ke pusat keramaian di 'kota', yakni Jalan Ahmad Yani. Warga setempat biasa memangggil angkot dengan 'taksi'.

Karena ini perjalanan dinas, jadwal padat, saya tidak sempat memeriksa fasilitas lain di hotel. Tapi saya bisa bilang puas tinggal di sini, walaupun sebenarnya agak jauh dari lokasi acara saya, yakni di sebuah SMK negeri di Abepura.

Saya bersama sastrawan Jamal D Rahman di halaman restoran.



Foto-foto: Benny Rhamdani

Thursday, June 11, 2015

Berburu Sarapan di Pasar Karang Lelede Lombok




Seperi  biasa saat mampir di sebuah kota, saya selalu berusaha keluar hotel lepas shalat subuh, mencari pasar tradisional terdekat. Kali ini saya mampir di Pasar Karang Lelede, Jalan Ismail Marzuki, Mataram, Lombok.  Dari hotel saya menginap di Lombok Royal hanya sekitar 100 meter.

Tujuan saya ke pasar tradisional biasanya adalah hunting foto, karena biasanya di pasar tradisional akan banyak ditemukan banyak keunikan. Selain itu, mencari alternatif sarapan pagi, lantaran cukup bosan dengan menu sarapan hotel.

Saat saya datang, banyak pedagang yang baru membuka lapaknya. Hanya pedagang di sisi jalan yang sudah siap.  Saya tidak masuk ke bangunan utama yang bertingkat, tapi ke sisi kirinya yang seperti sebuah gang ke perkampungan.

Jenis-jenis yang dagangan yang terlihat beraneka rupa, mulai dari sayuran, buah-buahan kembang untuk canang,  kain, hingga jajanan pasar.  Mata saya akhirnya terpaku di salah satu kios. Seorang pria sedang mengipas bungkusan daun pisang yang dibakar, sedangkan wanita di dekatnya berbenah.

Nama pria itu Wayan Tirta. Dia mengaku sudah 20 tahun berjualan di Pasar Karang lelede.  Dagangan utamanya adalah pepes ikan dan otak-otak.  Harga pepes ikan Rp1000, dan otak-otak Rp2000 per tiga bungkus.

Saya memutuskan untuk membeli dan mencicipinya. Pepes ikan yang saya pikir ikan tawar ternyata isinya ikan laut. Jiya, saya malah kesenangan. Rasanya lezat karena masih baru diangkat dari pembakaran. Hangat-hangat gimana gitu. Belum lagi aroma arang yang menempel.

Menurut Pak Wayan, orang bisa memakan pepes begitu saja, tapi ada juga yang pakai nasi. Begitu juga dengan otak-otak. “Tapi saya tidak menjual nasinya,” kata Pak Wayan tersenyum.

Lantaran tampak sedang sibuk, saya mengurungkan diri bertanya lebih banyak.


Saya akhirnya memutuskan mencari makanan ringan lainnya. Di kios makanan ringan saya agak bingung memutuskan penganan yang akan dibeli, lantaran tidak terlalu khas. Hampir sama seperti di Jawa. Biar tak bingung saya melanjutkan keliling ke bangunan utama. Di sini lebih banyak dagangan sembako dan daging. Tapi belum buka semua.

Berada di pasar ini, saya seperti masuk ke pasar tradisional di Bali. Tampak pura kecil di depannya, juga aroma dupa dari beberapa kios.  

Memang Pasar Karang Lelede terletak di Cakranegara yang merupakan ‘perkampungan Bali’ di Lombok. Bahkan, di saat hari besar Agama Hindu, pasar ini tutup.



Semakin siang, pasar ini semakin ramai. Delman-delman khas Lombok pun berjajar di depan pasar, tanda pembeli sudah mulai berdatangan. Setelah puas mengambil foto, saya meninggalkan pasar dengan aroma pepes ikan dan otak-otak  yang masih menempel di lidah. Rasanya, pagi ini saya akan sarapan di hotel saja.

Foto-foto: Benny Rhamdani

Wednesday, June 10, 2015

Mencicipi 'Ikan Alien' di Papua

Ini dia ikan yang mirip alien bernama kudu-kudu. (foto: Benny)




Dapur Restoran Sendok Garpu. (Foto: Benny)
Saat berkunjung ke Papua beberapa hari lalu, saya sempat mampir ke sebuah restoran di Abepura. Nama restorannya lucu, Sendok Garpu. Dari depan sudah terpampang nyata bahwa restoran ini menjual menu ungulan ikan.

Aroma ikan bakar langsung menyeruak ketika saya melewati depan restoran. Mereka tampak sedang membakar ikan mujair dari Danau Sentani yang terkenal itu. Karena saya ditraktir, saya tidak begitu tahu menu apa yang dipesan untuk makan siang ini.

Masuk ke restoran, saya seperti masuk ke restoran-restoran Tiongkok yang penuh kaca. Ternyata di resto ini ada ruang VIP, khusus peserta rombongan. Ya, terpaksa saya yang ikut rombongan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Saya tidak begitu perhatikan ketika ditanya soal menu makanan, Perut saya sudah terasa lapar. Apapun itu yang penting segar. Saya pun bertanya, alasan rombongan ini tidak memilih makan menu lokal. Ternyata memang tidak ada kuliner khas lokal yang bisa dinikmati. Saya lihat sepanjang jalan yang ada malah restoran Manado, Minang, Jawa, Sunda dan lainnya.

Menu yang pertama datang. Coba tebak, mana dabu-dabu?
(Foto: Benny)


Masakan yang pertama datang adalah tiga jenis sambal, termasuk dabu-dabu. menyusul lalap dan tahu. Karena lapar, saya pun mengemil lalapan dan tahu sampai habis. Cukup lama juga menu utamanya muncul.

Mungkin lebih dari limabelas menit kemudian baru muncul ikan mujair bakar Danau Sentani ke meja kami. Juga ikan woku yang berwarna kuning, dan menu lainnya. Yang bikin saya takjub adalah menu ikan goreng yang bentuk kepalanya mirip alien.


Ikan apa ini, seram banget?

Ternyata namanya Ikan Kudu atau Ikan Kudu-Kudu. Saya belum dapat informasi jelas, karena namanya pun baru saya dengar. Sepintas saya mengira ini jenis ikan fugu atau blowfish, ternyata bukan. Berdasarkan hasil browsing, ikan ini namanya boxfish alias ikan kotak. 


Ikannya dihidangkan dengan unik. Daging ikan sudah disuwir, lalu digoreng dengan tepung terigu. Setelah matang barulah dimasukkan ke cangkangnya yang sudah digoreng pula. Serius, kalau melihat wajah ikannya kita bisa ketakutan sendiri. Tapi dagingnya menurut saya lezat, seperti kita mencicipi daging ayam.

Ikan muajir bakar yang lezat, dari Danau Sentani. (foto: Benny)


Bahkan, rasa ikan kudu ini bisa mengimbangi kelezatan ikan mujair Danau Sentani yang memang sudah terkenal.

Saya benar-benar dibuat ketagihan dengan menu makan kali ini. Seandainya bisa dibungkus buat oleh-oleh, pasti saya bawa.


^_^

Cara Menikmati Kue Cubit Green Tea




Sebenarnya sudah lama saya ingin mencicipi kuliner yang lagi ngetrend ini. Namanya kue cubit green tea. Di Bandung, kue cubit green tea yang terkenal ada di di Jalan Cisangkuy. Alasan saya baru mencicipi, setiap melalui jalan itu susah cari parkir dan padat terus.

Untunglah beberapa hari lalu saya lewat sana, dan langsung dapat parkir. saya pun langsung berburu kue cubit ini. Sebenarnya, saya juga bingung mengapa jajanan anak SD ini demikian hebohnya. Dibandingkan kue cubit reguler, saya sebenarnya lebih suka kue cubit sarang laba-laba, yang justru dimasak dari bagian sisinya.

Saya pun segera memesan kue cubit greentea dengan topping Nutela. Sejak saya berkunjung ke Jerman, Selai cokelat satu ini jadi salah satu makanan favorit saya. Mau dioleh ke apa saja, rasanya mantap. Saya yakin, kue cubit green tea ini pun demikian.

Saya pun mulai mengerti alasan kue cubit ini ditambah gelar green tea. Lantaran adonannya ditambah essence green tea berwarna hijau. Yang membedakannya, kue cubit green tea dimasak 3/4 matang. Hm, sebenarnya dari dulu juga, kalo pesan kue cubit reguler, saya selalu pesan jangan terlalu matang. Buat sebagian orang mungkin dianggap kurang higienis atau nggak enak. Tapi, ya anggap saja ini kuliner ekstrim. Kalo berani silakan coba.


Setelah menunggu cukup lama karena panjangnya antrean, saya pun bisa melihat wujudnya. Voila! Air liur saya langsung hampir menitik. Tak sabar saya langsung menyomotnya. Karena ukurannya tidak seberapa besar, dan bentuknya juga tidak bulat semua, saya langsung mesukkan semua ke mulut. Hmm, enak sih. Tapi ada yang kurang. Apa ya?

Seperti biasa saya mulai bereksperimen cara paling pas menikmati makanan. Saya ambil satu lagi, saya gigit sedikit ... hmmm kurang pas juga.

Akhirnya saya, saya balikkan posisi kue cubit green tea, lalu bagian topping nutela saya tempelkan di lidah, sambil memejamkan mata, saya biarkan beberapa detik agar cokelatnya meleleh di lidah, barulah saya mengunyahnya. Nah, ini nikmat benar.


Dengan cari ini saya berhasil membuat topping cokelatnya lebih menguasai lidah saya, baru menyusul adonan kue cubit dengan rasa green tea. Sungguh super duper!

Potongan berikutnya, saya masukkan dengan cara tersebut, dan saya berhasil menuntaskan selusin kue cubit pindah ke perut saya.

Ada yang mau coba?






Monday, June 1, 2015

Mencicipi 'Salad Stress' di Roemah Keboen Bandung



Ini dia 'salad stress' di Roemah Keboen.


Merayakan pernikahan kami beberapa hari lalu, saya sengaja mencari tempat makan malam yang asik untuk kami bertiga. Secara random menyusuri jalan, akhirnya saya parkirkan mobil di halaman Roemah Keboen, Jalan Laks. RE Martadinata, Bandung.

Beberapa tahun silam, saya pun pernah mengajak isteri dan anak saya makan di sini. Suasananya sangat luxury, romantis karena tersedia musik hidup. Membuat kami ingin mengulanginya.

Malam ini saya agak terkejut saat masuk. Tak ada suara musik. Bangku yang kosong. Belum lagi terlihat ruangan di sebelah yang berantakan. Tadinya kami hampir tak jadi makan di sini. Untunglah ada satu keluarga yang menjadi tamu di dalamnya.

Kolan ikan koi dan akses moge menghibur kami.


Kami memilih salah satu deret tempat duduk, dekat tangga. Dua waiter duduk sambil ngobrol dekat kami dengan santai. Mungkin karena sepi pengunjung.

Kami pun mengorder masakan. Pesanan minuman yang sudah diorder  harus diulang karena tidak tersedia. Salad yang saya inginkan harus diganti salad lainnya. Hal ini membuat saya dan isteri saya berpikir lain tentang resto ini.

Menu Pilihan Kami

Roemah Keboen memiliki menu variatif, dari makanan Indonesia, orienteal sampai yang western. Silakan pilih tergantung selera.

Dulu ketika makan di sini saya pernah makan steak yang lezat. Namun karena saya sedang berusaha meredam laju berat badan, saya pilih salad, yakni Salad Desperado. Lucu juga namanya kalau tahu bahasa gaul. Desperado itu artinya depresi alias stress. Jadi  kesannya salad ini bikin stress atau yang bikinnya stress.

Salad Desperado ini merupakan salad khas mexico. Kalau bahannya ya sama saja seperti kebanyakan salad, hanya kita akan menemukan dendeng kering sapi nan renyah. Ya, sepertinya orang Mexico suka yang crispy-crispy seperti kita. Lain yang membedakan adalah dressing kejunya. Enak. Ditambah lagi renyahnya onion ring yang saya suka. Dan ternyata bisa bikin stress hilang memang.

Isteri saya memesan menu  nasi ijo royo-royo. Nasi jenis ini memang semoat booming, terutama versi nasi ijo bakar bersisi ikan peda. Tapi di Roemah Keboen dibuat lebih sophisticated penampilannya. Dijamin teman duduk di sebelah bakal ingin mencicipinya. Karena itulah yang saya lakukan. Kalau saja saya tak ingat perut, saya mungkin akan memesannya juga.

Nasi ijo royo-royo ala Roemah Keboen


Nasi ijo royo-royo dilengkapi potongan timun dan tomat segar. Nasinya seperti nasi goreng tapi lebih lembut. Yang menjadi pertanyaan adalah warna hijaunya itu. Soalnya secanggih-canggihnya teknologi pangan, saya belum pernah dengar ada beras warna hijau. Jadi kemungkinan besar warnanya memakai pewarna makanan.

Putra saya, Akhtar, memilih spaghetti Bolognaise kesukaannya. Tapi lagi-lagi tak ada. Akhirnya mengganti dengan makroni keju. Sayangnya dia gagal menghabiskan pesanannya. Ketika saya ikut cicipi, kemungkinan karena rasa gurih keju yang begitu dominan, sehingga aroma cita rasa makroninya malah luntur.

too cheessy


Setelah beres, kami membayar dengan harga sekitar rp200-an ribu.  Isteri saya sempat bertanya mengapa restorannya sepi. Kata kasirnya, Roemah keboen biasanya ramai di malam Minggu. Sedangkan kami datang malam Senin. Hmm, sebenarnya kalau memang recommended, malam apapun ramai.

Sedangkan ruangan berantakan di sebelahnya, kasir bilang itu sedang ada renovasi pangkas rambut. Wuah, di malam hari yang remang-remang suasananya saja terlihat mengganggu. Apalagi siang hari ya. Untunglah interior Roemah Keboen diselamatkan oleh kolam ikan koi di tengahnya serta akses motor gede.

Kami kemudian pulang ke rumah, dengan diskusi ringan, mengapa  kesan kunjungan ke Roemah Keboen jadi berubah tidak seperti kunjungan kami sebelumnya dulu.





 Foto-foto Benny Rhamdani


Thursday, May 28, 2015

Tukang Becak Naik Haji

Bahkan jika memang sudah kehendakNYA, tukang becak pun naik haji.
(foto: Danang Dhave)

Nama pria itu sebut saja Mang Yayat. Siang malam dia mencari rejeki dengan mengayuh becak di jalanan kota Bandung. Mang Yayat tidak pernah mengeluh dengan pekerjaannya.

Mang Yayat rajin beribadah. Beberapa saat sebelum adzan berkumandang, dia selalu masuk ke masjid terdekat, mengambil wudlu dan shalat berjamaah. Tidak terkecuali di hari Jumat.

Beberapa hari terakhir Mang Yayat merasa terketuk setiap kali ada khatib di mimbar cerita tentang ibadah haji. Dadanya berdegup, membayangkan dirinya berada tanah haram. Hanya ibadah hajilah yang diasakannya berat sebagai umat islam.

Satu hari seusai shalat Jumat, Mang Yayat bertanya kepada ustad yang mengisi khotbah siang itu.

"Assalammualaikum, Ustad. Saya mau tanya, apakah saya mungkin bisa naik haji?" tanya Mang Yayat.

"Waalaikumsalam.Tentu saja. Mamang masih sehat dan kuat," jawab sang Ustad.

"Tapi saya hanya tukang becak," kata Mang Yayat.

"Siapapun itu, jika Allah menghendaki, pasti akan berkunjung ke Masjidil Haram," kata Ustad itu meyakinkan. "Banyaklah berdoa dan berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya agar keinginan kita dimudahkan Allah."


Ustad Muchtar Kholid Saat memaparkan kisahnya. (foto: Benny)
Mang Yayat pun berusaha mencerna kalimat sang Ustad. Kebaikan apa yang bisa diperbuatnya? Akhirnya, setelah ebebrapa hari kemudian, dia memilih satu cara untuk menebar kebaikan. Tukang becak ini menggratiskan penumpangnya setiap hari Jumat. Mang Yayat sengaja memilih hari Jumat karena dia pernah mendengar pahala hari Jumat itu sangat besar.

Selama berbulan-bulan Mang yayat melakukan Jumat Gratis itu. Sampai suatu hari, dia dipanggil seorang pria di depan Hotel Horison. 

"Tolong antar saya ke Rumah Sakit Muhammadiyah," kata pria itu.

Mang Yayat pun mengantarkannya. Jarak ke tujuan yang diminta tak seberapa jauh.


Penumpang pun turun ketika becak sampai tujuan. Dia menyerahkan selembar uang Rp.50.000,-

"Maaf, Pak, tidak usah," tolak Mang Yayat.


Penumpang itu heran. "Kenapa nggak mau menerima?"

"Ini hari Jumat. Saya menggratiskan penumpang setiap hari Jumat," kata Mang Yayat.

Hati pria itu tergetar tapi masih keheranan. Dia masih memaksa Mang Yayat untuk menerima uang darinya.

Akhirnya Mang Yayat menceritakan niat menggratiskan penumpang agar doanya berangkat haji dikabulkan oleh Allah Swt.

Penumpang itu makin tersentuh, lalu dia berkata,"Mang, tunggu dulu di sini ya. Saya mau mau ketemu seseorang di dalam. Nanti saya akan bicara lama dengan Mamang. Insya Allah, saya akan mengajak Mamang naik haji."

Kali ini giliran Mang Yayat yang terkesima. Dia tidak percaya. tapi ternyata pria itu mebuktikan janjinya. Dan di tanah suci Mekkah, Mang yayat menceritakan kisahnya kepada Ustad Muchtar Kholid yang tak lain ustad yang telah membesarkan hatinya setelah Jumatan dulu.

Kisah inspiratif ini saya dengar kemarin di acara pengajian kantor. Sungguh membuat saya tergerak untuk meniru Mang Yayat, berbuat kebaikan yang ikhlas terus menerus.