Friday, October 24, 2014

Ini Dia Desainer Buku Paling Dicari




Sejak novel karya John Green berjudul The Fault in Our Stars menjadi best sellers dunia banyak orang mencari tahu sosok desainer buku tersebut. Yup, namanya adalah Rodrigo Corral yang ternyata sudah mendesain kaver-kaver buku laris lainnya sebelum itu. Tidak heran bila banyak penerbit buku yang mencari pria satu ini.

Rodrigo Corral  merupakan pemilik Rodrigo Corral Studio sekaligus creative director di  Farrar, Straus and Giroux. Dia telah mendesain buku peraih  penghargaan Pulitzer Junot Díaz  dan penulis buku-buku laris Chuck Palahniuk dan John Green. Rodrigo bahkan mendesai buku laris versi New York Times seperti Decoded  oleh Jay-Z, Classy  karya Derek Blasberg,serta  Influence karya Mary-Kate Olsen dan Ashley Olsen. Dia pernah menjadi tenaga pengajar di School of Visual Arts (SVA) di  New York City dan member kuliah di hampir seluruh bagian Amerika Serikat.

Kecintaan Rodrigo  sejak kecil terhadap dunia gambar membawanya ke SVA di New York, sekaligus mengantarnya ke budaya populer dalam bidang desain. Di SVA, ia diperkenalkan dengan teori dan proses konseptual desain, dan mampu mengembangkan keterampilannya ke tingkat lebih tinggi hingga terdampar di  penerbitan buku. Rodrigo akhirnya  memutuskan membentuk studio sendiri dan memperluas proyek kerjanya.

Rodrigo mengklaim inspirasinya terkuatnya berasal dari terus menerus mengembangkan arsip visualnya. Segala sesuatu yang dia temui dalam hidupnya sisimpan dengan harapan bahwa itu akan bernilai baginya di masa depan.

Keragaman karya Rodrigo ini berasal dari keinginannya untuk secara teratur mengambil proyek yang ditujukan untuk penikmat baru. Dalam mendekati penikmat baru, ia mulai dengan menganalisis apa yang masyarakat inginkan. Selama terjun merancang materi terkait fashion, dia mengambil majalah sebanyak yang dia bisa. Tidak hanya majalah fashion seperti Vogue, tetapi juga majalah seni. Usahanya menelan sebanyak yang ia bisa memungkinkan dia untuk mempertahankan beberapa rasa di luar sana, namun masih memungkinkan dia untuk menempatkan ide-idenya sendiri ke dalam konten. Hasil akhirnya kemudian menjadi sesuatu yang baru dan pas, bukan duplikasi apa yang sudah diproduksi.

Dalam rangka melestarikan ide-idenya,  Rodrigo membuat sketsa di atas kertas, biasanya memo. Studionya penuh dengan kertas memo dan hal-hal yang menginspirasinya. Dia menganjurkan agar setiap orang mulai mendesain  dengan membiasakan merobek sesuatu dari surat kabar dan majalah secara teratur. Dia juga sangat percaya bahwa desainer harus menghindari mencari refrensi gambar secara online, karena potongan cetak memperluas pemahaman, rasa,  pengalaman, dan referensi visual.

Katalog gambar yang dikumpulkannya sangat banyak , namun ia menegaskan  sebagian besar darinya sudah berada di di kepalanya, sehingga ketika ia mendengar cerita secara otomatis ingatannya terbuka. Akhirnya, ia cepat mendapat inspirasi untuk  menciptakan sesuatu yang baru.

Ihwal proses kreatifnya, ia menjelaskan kepada Ooligan Press, "Saya membaca buku, lantas mencari makna cerita tetapi belum tentu jelas, dan saya mencoba menggambarkan beberapa ide-ide sekaligus. Harapannya adalah akan menjadi indah atau cukup menarik bagi pembaca untuk tahu lebih banyak, dan  membawa mereka lebih melekat pada citra, atau mungkin bagian dari itu, karena mereka lantas membaca bukunya.”

"Sekali lagi, proses yang unik dan khusus  benar-benar berasal dari pengalaman individu desainer. Saya harus mengatakan untuk mendatangkan ide, selain dari pemahaman yang kuat tentang tipografi dan tipografikal,  desainer pemula harus memiliki pemahaman tentang apa yang telah datang sebelumnya dan apa yang ada saat ini. Saya telah menghabiskan bertahun-tahun di toko buku bekas dan toko-toko majalah mencari, mengagumi, dan mengumpulkan semua bagian dari proses desain.”

Seringkali, Rodrigo  mengaku, ia memiliki ide dan perlu seorang artis gambar untuk mengeksekusinya. Ketika ia mulai merancang di Firar, Straus, dan Giroux, ia secara teratur mengunjungi departemen seni di perguruan tinggi lokal, mengumpulkan kartu nama sebanyak yang dia bisa. Dia tidak mampu membayar artis, tetapi sebaliknya menawarkan kesempatan menampilkan karya mereka di sampul sebuah buku yang akan diterbitkan. Namun dalam melibatkan artis, dia benar-benar mengambil orang yang tepat untuk pekerjaannya.

Sejak ia mulai merancang untuk New Directions, sebuah penerbit independen besar di New York, desain Rodrigo telah menjadi  ciri khas katalog penerbit itu. Di antaranya pelangi teks berwarna untuk Coney Island of Mind oleh Lawrence Ferlinghetti serta penutup merah berbintik untuk The Halfway House oleh Guillermo Rosales.

Sejumlah besar sampul buku yang adalah mendesain ulang kaver buku yang sudah terbit, termasuk Siddhartha oleh Herman Hesse dan Labyrinths oleh Jorge Luis Borges.  Buku Siddhartha dengan sampul karya Rodrigo yang kosong dari teks, terjual lebih cepat daripada cetakan sebelumnya. Perusahaan bahkan kehabisan stok di Festival Buku Brooklyn pada tahun 2009.

Rodrigo juga termasuk desainer yang lebih memilih untuk menjaga jarak dengan penulis untuk menghindari konflik yang bisa terjadi. Bahkan dalam kasus Chuck Palahniuk, yang buku-bukunya telah dirancang secara eksklusif selama sepuluh tahun, ia hanya berbicara kepada penulis beberapa kali dan tidak pernah membahas tentang desain buku.

Hal yang tampaknya menjadi faktor signifikan dalam keberhasilan Rodrigo adalah dia tidak merancang buku dengan kontinuitas dalam pikirannya. Sebaliknya, ia berfokus pada masing-masing teks sebagai entitas dirinya. Idenya yang menonjol  senantiasa bertautan dengan teks seperti bisa kita lihat di website pribadinya di rodrigocorral.com. Ada organik, nuansa alami dan kecenderungan minimalis. Selain itu, karya kaver bukunya senantiasa dicetak dalam kualitas printing terbaik.

Kontribusi Rodrigo Corral ini tidak hanya membantu membawa desain buku ke garis terdepan sebagai bentuk seni berkualitas. Karena karyanya pula, kita sekarang dapat menilai isi buku dari kavernya. 

0 komentar:

Post a Comment