Saturday, October 25, 2014

Nien's Corner Ramaikan Kuliner Bandung








Jalan-jalan ke Bandung memang tak lengkap bila tak mencicipi tempat-tempat kuliner di Bandung. Tak aneh bila bisnis kuliner di Bandung terus tumbuh. Meskipun tahun lalu saja sudah melampaui 3.000 lokasi. Salah satu pemain baru di bisnis kuliner Bandung adalah Nien’s Corner.

 Terletak di kawasan hotel Latief Inn, tepatnya di Jalan Natuna 16 Bandung, mini resto ini menyajikan hidangan ala restoran di hotel-hotel berbintang dengan harga yang lebih ramah. Saat disodorkan menu, saya menemukan sejumlah makanan lokal seperti sop dan nasi goreng hingga makanan luar negeri seperti aneka steak dan pasta.

Karena saya sedang diet daging merah, meskipun ingin sekali mencicipi steak atau sop buntut goreng, saya alihkan pesanan saya untuk mencicipi spagheti chicken cream. Untuk minum saya tertarik dengan nama yang unik babby chino party.

 Seperti biasa, saya termasuk memilih makanan berdasarkan waktu pembuatan yang tak terlalu lama. Ya, saya pikir akan terhidang 30 menit untuk pesanan saya. Tapi karena tamu Nien’s Corner sedang membludak, mau tak mau harus bersabar. Cuman ketika kanan-kiri saya yang memesan setelah saya sudah habis makanannya (padahal mereka pesan pasta dan steak) ya saya tanya dong. Ternyata pasta pesanan saya masih harus menunggu beberapa menit lagi.

 Ketika pasta pesanan saya dong, langsung aromanya membuat perut saya makin keroncongan. Waktu makan siang sudah lewat. Tapi tak apalah, demi sepiring pasta yang menggiurkan. Saya pun mencicipinya sedikit. Ada yang kurang. Ya, tabasco sauce. Bukannya belagu sih. Tapi karena saya pernah ke Bologna, Italia, makan pasta yang enak memang kalau diberi tabasco sauce.


Saya pun minta tabasco, ternyata tidak tersedia, mau tak mau saya langsung menyantap spagheti chicken itu. Lezat, bukan karena pasta dan creamnya, tapi juga potongan ayam yang menyatu. Kadang kita seperti menemukan harta karun ketika memasukan gulungan pasta ke mulut ternyata ada daging ayamnya.

 Setelah tandas, saya menutupnya dengan minuman yang menurut saya unik sekali rasanya. Mungkin ada yang pernah mencicipinya? saya belum. Babby chino pasrty ternyata adalah minuman berlayer, cream dibubuhi cherry, lalu kopi dan caramel, dan bagian bawahnya adalah perasan jeruk mandarin. rasanya? Unik!

Saya biasanya memang membiasakan minum berlayer, lapis demi lapis untuk mendapatkan sensasinya. Setelah itu barulah saya aduk untuk tahu mana rasa yang kuat ketika bercampur. Saya rekomendasikan kepada siapapun yang suka mencicipi minuman berasa unik untuk mencicipinya di Nien’s Corner.

 Oh iya, karena hari itu sangat istimewa, Nien’s Corner menghadiahi sebuah menu special bernama Appritada. Hidangan olahan ayam ini sangat menarik perhatian saya karena ada brokolinya, sayuran favorit saya.  Sayangnya karena perut saya sudah kenyang, hanya sedikit saya mencicipinya. Rasanya? Oke juga. Apalagi porsinya juga tak terlalu besar.

 Bicara tentang interior, Nien’s Corner terbilang mungil untuk menu masakan kelas hotel berbintang. Tak heran jika pembatas dibuat semi terbuka agar terkesan luas. Serasa kita sedang makan di ruang makan belakang rumah. Tapi cukup nyaman untuk makan berkelompok. Jika memang pengunjung membludak, akan disediakan meja dan kursi tambahan di luar yang masih halaman Latief Inn.

Karena semi terbuka, udara di tempat makan jadi segar natural. Apalagi di sekitar Jalan Natuna banyak berdiri pohon kenari tinggi yang rimbun.

Buka dari pukul 10 pagi hingga 10 malam, Nien’s Corner setidaknya bisa menjadi alternatif kuliner bagi tamu hotel Latief Inn yang enggan atau tak ada waktu mencari kuliner lainnya di Bandung. Tertarik mencicipi di sini? Saya sarankan untuk datang bersama teman atau keluarga :)

Friday, October 24, 2014

Ini Dia Desainer Buku Paling Dicari




Sejak novel karya John Green berjudul The Fault in Our Stars menjadi best sellers dunia banyak orang mencari tahu sosok desainer buku tersebut. Yup, namanya adalah Rodrigo Corral yang ternyata sudah mendesain kaver-kaver buku laris lainnya sebelum itu. Tidak heran bila banyak penerbit buku yang mencari pria satu ini.

Rodrigo Corral  merupakan pemilik Rodrigo Corral Studio sekaligus creative director di  Farrar, Straus and Giroux. Dia telah mendesain buku peraih  penghargaan Pulitzer Junot Díaz  dan penulis buku-buku laris Chuck Palahniuk dan John Green. Rodrigo bahkan mendesai buku laris versi New York Times seperti Decoded  oleh Jay-Z, Classy  karya Derek Blasberg,serta  Influence karya Mary-Kate Olsen dan Ashley Olsen. Dia pernah menjadi tenaga pengajar di School of Visual Arts (SVA) di  New York City dan member kuliah di hampir seluruh bagian Amerika Serikat.

Kecintaan Rodrigo  sejak kecil terhadap dunia gambar membawanya ke SVA di New York, sekaligus mengantarnya ke budaya populer dalam bidang desain. Di SVA, ia diperkenalkan dengan teori dan proses konseptual desain, dan mampu mengembangkan keterampilannya ke tingkat lebih tinggi hingga terdampar di  penerbitan buku. Rodrigo akhirnya  memutuskan membentuk studio sendiri dan memperluas proyek kerjanya.

Rodrigo mengklaim inspirasinya terkuatnya berasal dari terus menerus mengembangkan arsip visualnya. Segala sesuatu yang dia temui dalam hidupnya sisimpan dengan harapan bahwa itu akan bernilai baginya di masa depan.

Keragaman karya Rodrigo ini berasal dari keinginannya untuk secara teratur mengambil proyek yang ditujukan untuk penikmat baru. Dalam mendekati penikmat baru, ia mulai dengan menganalisis apa yang masyarakat inginkan. Selama terjun merancang materi terkait fashion, dia mengambil majalah sebanyak yang dia bisa. Tidak hanya majalah fashion seperti Vogue, tetapi juga majalah seni. Usahanya menelan sebanyak yang ia bisa memungkinkan dia untuk mempertahankan beberapa rasa di luar sana, namun masih memungkinkan dia untuk menempatkan ide-idenya sendiri ke dalam konten. Hasil akhirnya kemudian menjadi sesuatu yang baru dan pas, bukan duplikasi apa yang sudah diproduksi.

Dalam rangka melestarikan ide-idenya,  Rodrigo membuat sketsa di atas kertas, biasanya memo. Studionya penuh dengan kertas memo dan hal-hal yang menginspirasinya. Dia menganjurkan agar setiap orang mulai mendesain  dengan membiasakan merobek sesuatu dari surat kabar dan majalah secara teratur. Dia juga sangat percaya bahwa desainer harus menghindari mencari refrensi gambar secara online, karena potongan cetak memperluas pemahaman, rasa,  pengalaman, dan referensi visual.

Katalog gambar yang dikumpulkannya sangat banyak , namun ia menegaskan  sebagian besar darinya sudah berada di di kepalanya, sehingga ketika ia mendengar cerita secara otomatis ingatannya terbuka. Akhirnya, ia cepat mendapat inspirasi untuk  menciptakan sesuatu yang baru.

Ihwal proses kreatifnya, ia menjelaskan kepada Ooligan Press, "Saya membaca buku, lantas mencari makna cerita tetapi belum tentu jelas, dan saya mencoba menggambarkan beberapa ide-ide sekaligus. Harapannya adalah akan menjadi indah atau cukup menarik bagi pembaca untuk tahu lebih banyak, dan  membawa mereka lebih melekat pada citra, atau mungkin bagian dari itu, karena mereka lantas membaca bukunya.”

"Sekali lagi, proses yang unik dan khusus  benar-benar berasal dari pengalaman individu desainer. Saya harus mengatakan untuk mendatangkan ide, selain dari pemahaman yang kuat tentang tipografi dan tipografikal,  desainer pemula harus memiliki pemahaman tentang apa yang telah datang sebelumnya dan apa yang ada saat ini. Saya telah menghabiskan bertahun-tahun di toko buku bekas dan toko-toko majalah mencari, mengagumi, dan mengumpulkan semua bagian dari proses desain.”

Seringkali, Rodrigo  mengaku, ia memiliki ide dan perlu seorang artis gambar untuk mengeksekusinya. Ketika ia mulai merancang di Firar, Straus, dan Giroux, ia secara teratur mengunjungi departemen seni di perguruan tinggi lokal, mengumpulkan kartu nama sebanyak yang dia bisa. Dia tidak mampu membayar artis, tetapi sebaliknya menawarkan kesempatan menampilkan karya mereka di sampul sebuah buku yang akan diterbitkan. Namun dalam melibatkan artis, dia benar-benar mengambil orang yang tepat untuk pekerjaannya.

Sejak ia mulai merancang untuk New Directions, sebuah penerbit independen besar di New York, desain Rodrigo telah menjadi  ciri khas katalog penerbit itu. Di antaranya pelangi teks berwarna untuk Coney Island of Mind oleh Lawrence Ferlinghetti serta penutup merah berbintik untuk The Halfway House oleh Guillermo Rosales.

Sejumlah besar sampul buku yang adalah mendesain ulang kaver buku yang sudah terbit, termasuk Siddhartha oleh Herman Hesse dan Labyrinths oleh Jorge Luis Borges.  Buku Siddhartha dengan sampul karya Rodrigo yang kosong dari teks, terjual lebih cepat daripada cetakan sebelumnya. Perusahaan bahkan kehabisan stok di Festival Buku Brooklyn pada tahun 2009.

Rodrigo juga termasuk desainer yang lebih memilih untuk menjaga jarak dengan penulis untuk menghindari konflik yang bisa terjadi. Bahkan dalam kasus Chuck Palahniuk, yang buku-bukunya telah dirancang secara eksklusif selama sepuluh tahun, ia hanya berbicara kepada penulis beberapa kali dan tidak pernah membahas tentang desain buku.

Hal yang tampaknya menjadi faktor signifikan dalam keberhasilan Rodrigo adalah dia tidak merancang buku dengan kontinuitas dalam pikirannya. Sebaliknya, ia berfokus pada masing-masing teks sebagai entitas dirinya. Idenya yang menonjol  senantiasa bertautan dengan teks seperti bisa kita lihat di website pribadinya di rodrigocorral.com. Ada organik, nuansa alami dan kecenderungan minimalis. Selain itu, karya kaver bukunya senantiasa dicetak dalam kualitas printing terbaik.

Kontribusi Rodrigo Corral ini tidak hanya membantu membawa desain buku ke garis terdepan sebagai bentuk seni berkualitas. Karena karyanya pula, kita sekarang dapat menilai isi buku dari kavernya. 

Thursday, October 23, 2014

Saya Konsumsi Produk Oat Ini Bukan Karena Diorder Lho




Sejak berhasrat diet beberapa makanan karena sakit darah tinggi dan faktor umur juga, saya memutuskan mengganti sarapan saya dengan yang lebih sehat. Setelah browsing sana-sini akhirnya saya menemukan produk yang rasanya cocok, yakni Quaker Oats.

Saat memilih di supermarket saya sempat bingung milih yang biru atau merah. Jadi saya beli keduanya. Ternyata, kata isteri saya mestinya saya pilih yang instan saja, yang warna merah.

Saya bukan pemakan yang sulit. Seaneh apapun rasa makanan saya bisa menikmatinya. Oat, kata teman-teman saya itu rasanya nggak enak dan bentuknya menjijikan. Tapi saya nggak tuh. Rasanya enak-enak aja kayak makan bubur kacang ijo atau ketan item.

Isteri saya biasa mencampurkan dengan susu putih atau cokelat. Kalau mengikuti resep dari internet bisa juga sih dicampur yoghurt atau buah-buahan. Tapi saya cari yang simple. Kasihan isteri saya kan harus menyiapkan makanan buat anak saya juga.

Sebagai blogger aktif sebenarnya sudah lama ingin menulis produk oat ini karena manfaatnya mulai terasa. Berat badan saya realtif stabil dibandingkan dulu sarapan dengan nasi goreng atau olahan nasi lainnya. Juga lebih tahan lapar sampai makan siang.

Ya, paling saya cuman ngetwit aja sambil mention (at)quakerIND testimoni saya. DiRT syukur nggak juga ga masalah. Soalnya saya memang bukan buzzer mereka. Saya juga belum nerima order dari mereka untuk review di blog.

Belum lama ini saya mengikuti quiz dari Radio Sonora yang kerja bareng dengan Quaker. saya ikutan ngasih tips sehat. Eh ternyata menang. Padahal saya sudah lupa. Hadiah pun saya ambil. Senang banget karena hadiahnya produk Quaker. Kata isteri saya, lumayan bisa ngirit sebulan :)

Follow me @bennyrhamdani_

Menginap Gratis Lima Malam di Hotel Novotel Gajah Mada Jakarta






Menginap di hotel gratis? Yiay, itu selalu menjadi impian semua orang. Termasuk saya. Apalagi kalau hotelnya berbintang seperti Hotel Novotel Gajah Mada Jakarta. Sehari saja sudah senang, apalagi lima malam.

Saya bisa menginap lima malam karena diundang mengikuti sebuah workshop penerbitan buku anak. Karena diundang jadinya gratis alias dibayarin. Semula lokasinya bukan hotel ini, melainkan hotel di bilangan Slipi. Entah mengapa dipindahkan.

Saya datang Minggu malam setelah berjuang mati-matian mencari travel ke Jakarta yang semuanya penuh. Akhirnya dapat juga sih yang jurusan Grogol. Enak, banget karena terbilang dekat. Naik taxi juga cuman Rp25.000. Itu juga karena ada macet sedikit.

Pas masuk lobi hotel seorang helper dengan siaga menawarkan jasa membawa gembolan saya yang emang berat. Oke, sementara dia nungguin gembolan, saya pun check in. Room mate saya dari Solo ternyata udah masuk kamar sejak sore. Jadi agak tenang deh udah ada yang bersih-bersih kamar duluan. Eh,  bukan deng. Ada yang ngisi kamar maksudnya.

Saya pun diantar sama roomboy sampai pintu kamar. Di lift dia sempat nawarin jasa spa hotel. Saya menolaknya karena belum perlu. Baru juga sampai, udah minta spa. Kolokan amat.

Pintu kamar 1112 dibuka, dan teman kamar saya yang nggak mau disebut namanya pun telihat. Sumpah saya baru kenal dan ketemu. Soalnya dimention di Twitter nggak balas juga.



Setelah merapikan semua pakaian ke lemari, saya duduk santai di bed sambil ngobrol sama room mate. Nggak lama kemudian dia ngajak makan. Tapi saya tolak karena nggak biasa makan malam.

Nah, begitu sendiri saya mulai deh perhatikan kamarnya yang modern. Pemandangan keluar ya lampu-lampu gedung begitu. Namanya juga di kawasan perkotaan.

Nggak terasa malam pun bikin saya ngantuk. Capek karena perjalanan.

Esok subuhnya saya bangun awal banget (biasalah masih adaptasi) dan mulai gelisah pengen segera sarapan. Ternyata baru buka pukul enam. Saya pun cek-cek internet pake wifi hotel. Sayangnya sinyal wifi nggak nendang sama sekali. Mungkin masukan saja buat pihak hotel, agar meningkatkan sinyal wifi hotel.


Pukul enam, saya tanya pihak informasi kapan ruang gym dibuka. Ternyata sudah. saya putuskan untuk ngegym. Walaupun hanya lari-lari di TM. Beres itu saya langsung ke shower dan sarapan. Rasanya ingin menyantap semua yang dihidangkan. Tapi karena ngeri nanti ngantuk pas workshop, cukuplah bubur ayam dan salad.

Beres sarapan langsung menuju ruang workshop di lantai lima yang nama ruagannya nama-nama negara di ASEAN, Siangnya makan lagi di tempat yang sama. hidangan berbeda. Lalu workshop lagi sampai sore. Malamnya saya seperti lainnya dapat jatah makan malam di hotel, tapi saya nggak manfaatin. Takut bosan. Jadi nangkring di Kopi Oey di dekat hotel yang klasik banget suasananya.

Jujur aja, karena selama empat hari akan mengalami rutinitas yang sama, saya berusaha variasikan waktu dan tempat makan. Karena saya sudah mengalami kalau menginap lebih dari dua hari di sebuah hotel dan makannya selama tiga kali di restoran yang sama akan cepat terasa bosan. Apalagi kalo menunya kurang lebih sama.

Sebenarnya saya lebih suka makan pagi dan siang saja di hotel. Makan malam diberikan saja voucher makan untuk jajan di tempat lainnya. Kecuali kalao makan pagi, siang dan malam berbeda restorannya.

Nah ini poin penting yang saya rasakan menginap lima malam di Novotel Gajah Mada Jakarta:

1. Pelayanannya ramah. Bahkan saat telepon informasi malam dan subuh hari tetap diladeni dengan ramah.

2. Suasana restoran sering kali penuh. Dan kadang sangat berisik, semisal karena ada demo mie tarik. Belum lagi tamu-tamu asing dari Tiongkok yang biasanya kalo ngomong memang nyaring sekalipun dia berdekatan dengan lawan biacaranya.

3. Kalo berenang sebaiknya jangan terlalu malam karena anginnya sangat kencang. Mungkin karena terhalang tembok jadi anginnya ngubek di sekitarkolam renang. Lebih baik pagi atau sore.


4. Pada jam-jam tertentu ruang gym yang kecil itu penuh. Apalagi kalau mau lari di treadmil, kadang antre. Sebaiknya pagi-pagi lebih lengang.

5. Sinyal di kamar kurang begitu bagus (saya pake XL, teman sekamar pake lainnya juga sama). Jadi saya kalau menelepon ke rumah di saat di luar kamar. Di dalam kamar bisa saja nyambung tapi tiba-tiba teroutus atau timbul tenggelam. Kecuali sekadar SMS. Jangan pula berharap bisa mengandalkan wifi, karena untuk buka satu web saja saya harus sabar menunggu. Bawa saja modem sendiri. Mudah-mudahan sinyalnya lagi bagus.

6. Colokan, lampu, dan fitur lainnya di kamar sangat baik. Juga saluran televisi . Buat saya ada National Geography Channel sudah cukup. Nggak suka nonton TV pula saya.

7. Kamar mandi juga baik. Antara shower dan toilet terpisah. Tapi hati-hati jangan sampai salah pencet karena tiba-tiba tirai kamar mandi bisa terbuka dan tembus pandang. Karena antara kamar mandi dan ruang tidur disekat dinding kaca.


8. Hal paling saya sukai di restoran adalah banyaknya makanan tradisional.  Sayangnya saya punya banyak pantangan, jadi nggak bisa nikmati semua. Tapi bagus buat memperkenalkan berbagai kuliner Indonesia karena banyak tamu dari dari luar negeri menginap di hotel ini. Bahkan ada jamu tradisional lho.

9. Hotel ini sangat strategis. Bisa naik busway bagi yang ingin jalan-jalan jauh tanpa macet. Mau ke pusat belanja seperti Asemka, Mangga Dua, apalagi Glodok sangat dekat. Jadi sangat efektif buat saya yang ingin belanja oleh-oleh untuk anak dan isteri. Sebagai selingan juga bisa mampir ke Cagar Budaya Candra naya untuk refreshing. Cuman beberapa langskah dari hotel. Mau ke kawasan kota Tua pun relatif dekat. Paling hanya lima menit kalau jalanan lengang.

10. Kalo kelaparan tengah malam juga jangan khawatir karena tersebar minimarket sampai jajanan kakilima sampai malam. Tapi hati-hati ya bagi yang muslim, karena kawasan ini adalah kawasan pecinan.

11. Bagi penggemar dugem, kawasan sekitar hotel banyak sekali pilihan hiburan malam. Tapi kalo saya sih milih tidur aja.

Jadi, di hotel manapun kita menginap kalau kita menyiasati agar betah ya nggak ada masalah.

Untuk info lengkap langsung aja ya mampir di websitenya :)

Wednesday, October 22, 2014

Polisi Ganteng Ini Wakili Negaranya ke Ajang Model Internasional




Tugas utama polisi memang melayani dan mengayomi masyarakat. Tapi ada juga polisi yang karena gantengnya akhirnya merangkap  jadi model, bahkan menyandang gelar  Mister International di negaranya.  Dia juga siap mewakili  negaranya ke ajang Mister International Pageant yang rencananya dihelat di Korea Selatan November mendatang.

Nama polisi itu adalah Police Officer2 Mariano Perez Flormata Jr dari Filipina. Polisi yang kemudian memiliki nama tenar Neil Perez ini  bahkan menyandang lima gelar modeling sekaligus, sebagai Mister International Philippines, Best in Swimwear, Most Photogenic, Mister Unisilver, dan Mister Informatics. Dia berhasil  menyisihkan 26 pesaingnya yang kebanyakan dari kalangan model di negaranya.

Pria berusia 29 tahun ini sudah menjalani tugas di Philippine National Police divisi Keamanan Penerbangan selama Sembilan tahun. Neil bukanlah sembarangan polisi karena merupakan sarjana Kriminologi Universitas Manuel L. Quezon dengan spesialiasi anti pembajakan pesawat, yang kini bertugas di NAIA (Nino Aquino International Airport). Dia memiliki tanggung jawab menjinakan bom dan serangan teroris.

Neil mengikuti  kontes karena  tak lepas dari dukungan rekan-rekan sesama polisi. Menurut teman-temannya, ada potensi lain yang dimiliki Neil di luar tugasnya sebagai polisi. Teman-teman Neil tidak salah memprediksi. Neil bahkan meraih nilai voting di atas 40 persen, sementara pesaing terdekatnya hanya 7 persen.

Kemenangan Neil direspon positif oleh pihak kepolisian Filipina. Neil dianggap mempromosikan gaya hidup sehat dan bugar di kalangan polisi. "Kami bangga padanya dan berharap dia sukses di tugas selanjutnya," jelas Chief Supt. Reuben Theodore Sindac juru bicara Kepolisian Nasional Filipina.


Di Filipina memang beredar rumor tak sedap ihwal polisi. Mereka dicap terlalu gemuk sehingga tak sanggup mengejar penjahat.

Tuesday, October 21, 2014

Mengenal Sekilas Budaya Tiongkok di Candra Naya



Salah satu efek  jadi blogger adalah kemanapun saya pergi akan mencari obyek wisata terdekat untuk ditulis. Salah satunya adalah ketika saya harus mengikuti workshop literasi anak di Novotel Hotel, Jalan Gajah Mada, Jakarta, pada 13-16 Oktober 2014. Hanya beberapa langkah dari lobi hotel tersebut, saya melihat sebuah cagar budaya Candra Naya yang langsung menyedot perhatian saya untuk mendatanginya.

Semula saya mengira bangunan bergaya Tiongkok itu adalah vihara atau kelenteng. Ternyata, bekas rumah Major Khow Kim An, pemimpin masyarakat Tionghoa di Jakarta pada masa kolonial Belanda pada 1910-1916. Sebagian menyebutkan bangunan tersebut dibangunan oleh ayah Major Khow Kim An yakni Khow Teng Tjoan. Tapi ada juga yang menyebutnya bangunan itu sudah berdiri sejak masa kakeknya yakni Khow Tian Sek.

Sekitar tahun 1990-an saya sering ke daerah Kota dan melihatnya nyaris seperti bangunan lusuh. Lalu pada tahun 2000-an saya melewatinya dengan penuh khawatir karena mulai berdiri kerangka-kerangka tinggi di sekitarnya. saya berharap penuh bangunan dengan atap melengkung itu tidak dihancurkan. Sedihnya, saya malah mendengar bangunan yang memiliki struktur atap tou-kung itu malah akan dipindahkan ke Taman Mini. Untungnya tidak jadi.

Bila masuk dari bagian depan kita bisa melihat papan nama bangunan itu tertulis Candra Naya. Dalam bahasa Sanskerta yang saya tahu, Chandra berarti bulan, Naya berarti baru (lawannya: purana berarti lama). Ingin tahu sejarah lengkap Candra Naya, silakan baca informasi di dinding kanan, sementara tentang sang Major ada di sebelah kiri. 

Begitu masuk ke dalam saya seperti terlontar ke masa lalu, tepatnya bangunan di kawasan Pecinan era Jakarta bernama Batavia. Mungkin karena terpampang beberapa foto tentang masa lalu, juga aksara kanji Tiongkok.

Berdasarkan informasi yang tertera, Khouw Kim An lahir di Batavia pada 5 Juni 1879. Ia fasih berbahasa negeri Kincir Angin meskipun dididik di sekolah Hokkien. Khouw Kim An menjadi salah satu pendiri Tiong Hwa Hwe Kwan Jakarta yang berdiri pada 1900, dan pada 1905 ia diberi pangkat letnan oleh Belanda.

Pada 1908 Khouw Kim An dipromosi menjadi kapten, dan kemudian naik lagi menjadi mayor pada 1910. Karena itulah Candra Naya dulu disebut sebagai Rumah Mayor.

Khouw Kim An sempat tinggal di Bogor sebelum menempati rumah warisan ayahnya itu pada 1934. Selain sebagai pengusaha, Khouw Kim An juga menjadi pemegang saham Bataviaasche Bank.

Pada masa pendudukan tentara Jepang, Khouw Kim An ditawan dan meninggal di kamp konsetrasi Jepang pada 13 Februari 1945. Ia dimakamkan di dekat kompleks pemakaman keluar Khouw di Jati Petamburan.

Diperkirakan, jika bukan dibangun pada tahun kelinci 1867 oleh Khouw Tjeng Tjoan, maka Candra Naya dibangun Khouw Tian Sek pada tahun kelinci 1807 untuk menyambut kelahiran puteranya pada 1808.

Perkiraan dibangunnya Candra Naya pada tahun kelinci itu berasal dari adanya sebuah lukisan di dalam gedung dengan tulisan dalam bahasa Cina dengan karakter Han yang berarti “Pada musim gugur di tahun kelinci”

Menurut petugas kebersihan yang saya tanya, selain sebagai tempat pameran, bangunan ini  ini juga kadang dijadikan tempat pertunjukan Wayang Potehi.

Sekitar 1946 berdiri Sin Ming Hui (Perkumpulan Sinar Baru) dan menyewa gedung Candra Naya ini sebagai pusat kegiatannya. Diantara kegiatan yang dilakukan perkumpulan ini adalah mendirikan klinik yang kemudian berkembang menjadi Rumah Sakit Sumber Waras.

Di tempat ini juga pernah digelar kejuaraan  bulutangkis pertama yang diadakan Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia, kompetisi bilyar dan angkat berat pertama di Jakarta, serta sebagai tempat belajar seni beladiri kung fu.

Candra Naya juga pernah digunakan sebagai tempat pendidikan oleh Sin Ming Hui dari mulai jenjang SD, SMP, SMA, dan kemudian berkembang dengan adanya Universitas Tarumanegara. Para fotografer juga pernah menggunakan gedung ini sebagai tempat mereka berkumpul.

Pada 1965, Sin Ming Hui berganti nama menjadi “Perkoempoelan Sosial Tjandra Naja” atas saran Lembaga Pembina Kesatuan Bangsa. Dari tahun 1960-an hingga 1970-an Candra Naya menjadi tempat pesta pernikahan kaum kelas atas.

Hal yang membuat saya betah di dalam Candra Naya adalah sejumlah kaligrafi Cina berisi kalimat-kalimat positif. Selain itu juga terdapat hiasan dinding berwujud panglima perang dan puteri-puteri cantik Tiongkok. Tak ketinggalan lukisan Dewi Kwan Im dan sederet topeng karakter yang saya tidak kenal tapi membuat saya terhanyut suasana. Rasanya tidak bosan menikmatinya. Sayang, karena informasi yang kurang dalam bahasa Indonesia, banyak hal yang saya tidak mengerti.


Candra Naya tidak hanya dikenal di dalam negeri, namun juga dikenal di kawasan regional Asia Tenggara dan internasional. Candara Naya merupakan bagian terpadu dari Green Central City, superblock yang dibangun oleh PT Bumi Perkasa Permai.

Setelah kembali ke masa kini begitu ke luar Candra Naya, saya pun menyesuaikan diri di sayap kanan Candra Naya. Di sana terdapat caffe Oey yang menyajikan aneka hidangan peranakan.

Menyenangkan juga bisa mampir ke Candra Naya di sela kesibukan mengikuti workshop. Betul seperti kata penulis traveling Agustinus Wibowo,” Traveling tidak harus pergi jauh.”  Bahkan hanya beberapa langkah dari lobi hotel menginap.

follow me: @bennyrhamdani_

Belajar dari Room to Read Tentang Tingkat Kemampuan Membaca Anak





Pernahkah kesulitan dalam memilih buku bacaan anak yang sesuai untuk anak-anak? Baik saat membeli maupun meminjam buku.  Saya pernah. Terutama pengkategorian berdasarkan tingkat kemampuan membaca anak.

Buku-buku anak di luar negeri, umumnya senantiasa memberi disclaimer kategori berdasarkan usia pembaca atau  kelas sekolah si anak. Biasanya dengan range yang tidak begitu jauh jaraknya 2-3 tahun. Di Indonesia, hal seperti demikian masih malu-malu dilakukan. Mengapa?

Biasanya, di Indonesia hanya disebutkan buku anak SD, buku balita, buku pra SD dan sejenisnya. Karena penerbit mempertimbangkan, sengan semakain sempitnya kategori pembaca buku yang diterbitkan, akan memengaruhi tingkat pembelian buku itu. Dengan kata lain, penerbit memilih tidak memberi kategori. Karenanya buku anak yang diterbitkan bisa jadi untuk usia 5 tahun ataupun 12 tahun,

Padahal pada range umur 6-12 tahun bisa jadi ada beberapa tingkat kemampuan membaca. Room to Read, salah satu yayasan nirlaba dunia, membagi level kemampuan membaca buku anak hingga 6 level. Uniknya, mereka membagi 6 tingkatan tersebut tidak dalam angka melankan warna. “Agar anak-anak yang berada di kategori warna hijau muda tidak merasa smbong, dan anak yang berada di kategori warna tidak merasa minder,” jelas David dari Room to Read di acara workshop untuk penerbit, pegiat taman bacaan, dan sejumlah pegiat perbukuan yang akan dilibatkan dalam proyek mereka di Indonesia.

Dengan adanya penandaan warna-warni di setiap buku bacaan anak, diharapkan anak=anak lebih mudah memilih buku sesuai tingkat kemampuannya membaca. Dari mulai yang teksnya sederhana hingga rumit.

Tentang Room to Read

Di usia kerjanya yang mencapai sembilan tahun di Microsoft, John Wood telah hidup lebih dari cukup. Karier menjanjikan, perusahaan besar yang prestisius, dan sejumlah benefit yang menjadi impian para pekerja telah diperoleh John dengan sukses. Kekurangannya cuma satu, John tidak pernah mendapatkan cukup waktu untuk kehidupan pribadinya.

Namun, satu kunjungan ke sebuah agen perjalanan telah mengubah jalur hidup John untuk selamanya.Lepas dari padatnya pekerjaan, John menemukan dirinya menapaki ketinggian Himalaya di dataran tinggi Nepal sejauh 200 mil dan hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki selama 20 hari. “Rupanya desa terpencil di awal perjalanannya yang dihuni oleh orang-orang buta huruf dengan mayorias anak-anak putus sekolah itu telah membawa keajaiban bagi hidupnya yang lenggang,”  jelas Joel Bacha, Director of Strategic Expansion at Room to Read. saat memberi penjelasan tentang Room to Read.

Sebuah gagasan tentang ruang baca yang dinamainya Room to Read telah mengubah dunia yang senyap itu dengan ingar-bingar pengetahuan. Dari ketinggian Himalaya, John melebarkan gagasannya untuk anak-anak di banyak negara miskin, jagad pengetahuan yang dilipat dalam lembaran-lembaran buku.

Salah satu negara yang saat ini akan menjadi proyek mereka adalah Indonesia. Dan saya merasa senang bisa menjadi bagin dari proyek ini. Semoga berjalan lancar.

Monday, October 20, 2014

5 Alasan Blogger Enggan Menerbitkan Buku



Sungguh mengejutkan, ternyata setelah berinteraksi dengan sejumlah blogger, tidak sedikit yang enggan atau tidak tertantang menerbitkan buku. Ternyata dugaan saya sebelumnya keliru, jika orang yang memiliki passion menulis secara otomatis akan punya mimpi menulis buku.

Berbagai alasan dikemukan, namun bisa saya kelompokkan ke dalam 5 alasan ini:

Tidak Bergengsi Lagi

Ternyata menulis buku di era sekarang bukan lagi hal yang membuat harga diri meningkat. Demikian pula status kecendekiaan. Tidak lagi seperti era sebelum Internet mewabah. Hanya orang-orang yang serius, pintar, tekun pintar yang bisa menerbitkan buku, setidaknya sebelum tahun 2000. Begitu banyaknya penerbit, membuat lowongan naskah terbuka lebar, dengan kualitas minim sekalipun. Buku-buku laris bukan buku yang memberi banyak manfaat. Siapapun bisa menulis dan menerbitkan sendiri buku di masa maraknya self pubishing dan print on demand.

Tidak Bikin Kaya

Beberapa kompasianer ada yang bercerita memiliki teman penulis produktif. Hampir setiap bulan menerbitkan tapi hidupnya pas-pasan. Barulah setelah penulis itu terjun ke dunia penulisan skenario level hidupnya semakin meningkat. Tidak sedikit yang merasa imbalan dari menulis buku tidak sepadan dengan jerih payah menulis buku. Mulai dari waktu, pikiran dan tenaga. Daripada menulis buku yang berlembar-lembar, mendingan ikut lomba menulis blog yang cukup beberapa halaman tapi hadiahnya lebih besar ketimbang royalti menulis buku.

Tidak Punya Referensi Penerbit

Sebagian ada pula yang enggan menulis buku karena tidak punya referensi yang memadai tentang penerbit buku. Mereka khawatir nanti karyanya dibajak. Cemas pula penerbitnya berlaku curang kepadanya. Ada pula yang merasa hanya penulis-penulis yang dekat orang-orang penerbitan saja yang bisa menerbitkan buku. Selebihnya tidak akan bisa menembus penerbitan buku. Apalagi penerbit papan atas.

Merasa Tidak Layak Menulis Buku

Ada pula yang enggan menulis buku karena merasa dirinya belum atau tidak layak menulis buku. Biasanya mereka memiliki standar seorang penulis buku dan membayangkan dirinya harus bisa berkarya sekualitas penulis tersebut. Meskipun dia tahu bahwa tidak semua karya tulis harus seperti penulis idolanya, tapi mereka tetap ingin dirinya sesempurna penulis kesukaannya.

Tidak Minat Sama Sekali


Bisa saja seorang penulis artikel di media cetak ataupun blogger mengaku tidak minat sama sekali menulis buku tanpa alasan sama sekali.  Tapi beberapa penulis artikel dan blogger memberi alasan, seperti ingin fokus pada bidang lain yang lebih disukainya, tidak punya waktu fokus menulis buku.

Saya sendiri tak pernah memaksa seorang penulis blog atau artikel di media cetak menulis buku. Saya hanya menyarankan. Tapi jika menolak tak apalah. Karena passion orang memang berbeda. Kalau kamu?

follow @bennyrhamdani_
#BeraniNulisBuku

Empat Jenis Penulis Nyebelin Banget



Sebagai seorang editor buku dan berkecimpung di dunia penulisan juga, saya menemukan begitu banyak karakter penulis di Indonesia. Dari yang menyenangkan sampai yang nyebelin banget. Yang menyenangkan tentu saja disambut hangat oleh semua kalangan. Yang nyebelin, kemungkinan besar umurnya nggak akan lama, kecuali dia cepat sadar.

Di bidang apapun berkarya, yang namanya sikap, sifat, tabiat ataupun perilaku seseorang tentu penting banget dijaga sesuai etika yang berlaku. Sebagian mengganggap menjaga atittude adalah siksaan dan merasa ‘nggak gue banget’ sehingga dia akan bersikap semau gue. Alih-alih jadi trade mark, malah jadi cibiran banya orang di sekitar.

Berikut beberapa karakter yang membuat penulis jadi nyebelin banget.

Ratu Drama Sosmed

Saat ini, jejaring sosial sudah menjadi perangkat wajib bagi penulis. Ada yang memanfaatkannya untuk promosi buku, jualan buku, berbagi tips menulis, mengunggah foto-foto kegiatannya di penulisan. Selama masih positif sih nggak ada masalah ya.

Sayangnya, masih banyak penulis yang nggak nyadar kalau jejaring sosial itu bisa jadi bumerang bagi dirinya saat mengupdate status dengan hal-hal yang terlalu berlebihan dalam kehidupannya alias lebay alias drama queen (padahal berlaku juga untuk penulis cowok).  Dan … saya beberapa kali menemukan yang seperti ini. Bahkan drama yang dibuatnya lebih dramatis dari karya yang pernah ditulisnya.

Di statusnya sebentar-bentar nyinyir, nyindir, marah-marah (stres banget kayaknya hidup sebagai penulis). Dia akan senang kalau ada yang mendukungnya atau menghiburnya. Sebaliknya akan marah-marah kalau ada pembaca bukunya yang kepo atau ngasih kritik.  Malah ada juga yang main delete atau hapus pertemanan (karena dia menganggap itu adalah fansnya bukan teman).

Jutek Setengah Mati

Masa sih ada penulis jutek? Banyak! Saya beberapa kali bertemu di forum penulis. Ada penulis yang nggak mau nyapa duluan. Maunya disapa orang. Padahal baru nulis satu buku dan nggak meledak-meledak amat. Itu pun balasnya cuma dengan anggukan kepala. Senyumnya mahal, apalagi ngobrol. Kalaupun dia menyapa orang duluan atau beramah-tamah pastinya dengan orang penting banget yang bakal mendongkrak karirnya. Gimana kalo dia jadi penulis terkenal ya?

Ada juga penulis jenis ini yang kalo dimention sama fansnya nggak mau balas sama sekali. Bahkan mungkin baginya, “Siapa elo? Nggak dimention elo juga gue tetap ngetop kok.”

Mungkin dalam jajaran penulis, @pidibaiq terbilang yang paling bersahabat dengan penggemarnya. Nggak cuman membalas mention, tapi juga folbek langsung fansnya. Tentu saja mention yang penting dibalas. Jangan yang basa-basi.

Sotoy Berasa JK Rowling

Ini dia kadang yang bikin editor pusing. Baru nulis satu buku, dan belum laris, tapi lagaknya melebihi penulis best sellers. Permintaannya  ampun-ampunan. Naskahnya nggak boleh diedit, judulnya nggak boleh diganti, uang royalti minta tinggi, dan malah kalau bisa pakai uang muka royalti. Lebih parahnya lagi ikut-ikutan ngurus kaver buku. Padahal di setiap penerbit sudah ada editor dan desainer yang tentunya nggak akan sembarangan bekerja.

Masih mending kalau penulisnya punya latar belakang editor atau desain. Kalau nggak sama sekali, dan cuma berlandas selera subyektif, jadinya bikin repot.

Memang sah-sah saja penulis ikut nimbrung mengurus bukunya. Ya, namanya juga karyanya. Tapi akan lebih baik jika dia menyerahkan naskahnya ke penerbit (bukan penerbitnya sendiri) juga memberi kepercayaan kepada para profesional. Memberi saran oke, tapi janganlah memaksakan kehendak. Apalagi sampai mengancam,” Saya akan tarik naskahnya kalau usul saya nggak diterima.” Padahal sesama editor walaupun beda penerbit  juga suka saling berbisik, mewanti-wanti penulis tertentu yang bermasalah.

Raja Kepo

Ada lagi nih jenis penulis yang rajin dan sering banget bertanya-tanya ke sana-sini. Herannya nulisnya jarang banget. Mungkin lima tahun hanya satu buku. Ke sesama penulis dia rajin nanya. Kadang pertanyaan yang sudah terbilang common sense.


Penulis jenis ini juga sering bertanya-tanya kepada editor penerbit buku. Dari soal trend, permasalahan perbukuan, dan banyak lagi. Tapi nggak nulis-nulis juga walaupun segudang info dia dapatkan. Entah apa masalahnya, sepertinya penulis jenis ini kurang percaya diri dan motivasi untuk menulis sehingga butuh suntikan dari rekan sesama penulis.

Ada juga Raja kepo untuk penulis baru. Baru kirim naskah udah nanya, kapan naskahnya terbit. Lho, yang kirim naskah ke kantor penerbit bukan hanya dia. Perlu proses. Dievaluasi, dirapatkan, diputuskan dulu naskahnya. ada lagi proses editing, layout, desain dan banyak lagi sebelum dicetak dan didistribusikan. Penulis jenis ini bahkan rajin bertanya setiap hari kepada pihak penerbit. Kalau editornya menolak teleponnya, dia bertanya ke sekretaris redaksi, atau kalau perlu ke bagian keamanan :)

Itu hanya sebagian yang bisa saya ungkap. Menurut saya, jadi penulis jangan nyebelin di lingkungannya. Tetap ramah dan handap asor. Mengapa? Karena penulis adalah sosok cendikia, yang bekerja menggunakan otaknya. Masyarakat umum tentunya berharap penuh jika berhadapan dengan penulis, apalagi yang disukai karyanya, sesuai dengan harapan mereka.

Kalau kamu, jenis penulis bagaimana?

***

follow me @benyrhamdani_

Thursday, October 2, 2014

Kesan Menginap di Hotel Le Grandeur Mangga Dua Jakarta



Akhir pekan lalu saya sekeluarga berakhir pekan di Jakarta. Saya mengajak anak dan isteri berkunjung ke Indonesia Internasional Motor Show 2014 dan Kompas Travel Fair 2014. Dari Bandung saya belum sempat booking hotel.

Saat di KTF 2014 yang digelar di Jakarta Convention Centre, saya melihat ada beberapa stand hotel. Sampai mata saya melihat stand hotel Le Grandeur. Sebelumnya saya sudah pernah browsing dan memang ingin menginap di sana, tapi belum sempat booked. Alasan utama mengincar Le Grandeur, karena isteri ingin belanja di kawasan ITC Mangga Dua, saya juga ingin membeli beberapa perlengkapan kamera  di mall samping hotel ini.


Di stand itu kebetulan dikasih harga promosi yang lumayan jauh dari dari rate publish mereka. Belum lagi bonus soto betawi untuk dua orang. Jika dibandingkan dengan harga online selisih di atas sedikit sekitar RP50.000an. Tapi itu di online kan belum termasuk tax dan lain-lain, yang ujung-ujungnya sering kali jatuhnya nggak seperti yang tecantum.


Saya pun check in untuk kamar Superior King Size di stand La Grandeur tersebut. Kemudian saya masih harus jalan-jalan lagi. Magrib, kami sampai di hotel dan langsung menyerahkan receipt ke petugas check in. Tidak pakai lama kamar pun beres. tapi saya tetap harus menyimpan deposit sebesar Rp300.000.


Isteri dan anak saya senang ketika masuk ke kamar. Hehehe, biasanya kalo menginap di hotel menginapnya di hotel minimalis. Tapi kalo dipikir-pikir mestinya sih dengan nambah Rp200.000-an kalo bisa dapat yang sekeren ini, ya mungkin nanti pilih ini saja. Terutama kalau dapat harga promo.



Beberapa jam kemudian kami menagih bonus dua soto Betawi. Tapi sepertinya ada miskomunikasi. Untunglah kemudian beres, dan dua soto betawi pun diantar ke kamar dalam keadaan hangat. Isteri dan anak saya menyantap soto betawi itu dengan lahapnya.


Keesokan paginya kami berangkat dari hotel ke Pasar Pagi Asemka, Jembatan Lima. Mencari mainan untuk putra saya, dan sekaligus memborong banyak mainan untuk kado ulang tahun kalau-kalau teman putra saya ada yan berulangtahun. Soalnya kalau beli borongan kan lebih murah.

Selesai dari Asemka kami menuju ITC Mangga Dua. Kali ini giliran isteri saya yang belanja. Sekaligus juga membeli barang titipan kerabat. Dan dari ITC Mangga Dua ke Mall Mangga Dua di seberangnya kami tak mengalami kesulitan karena ada skywalk penghubung. Begitu juga menuju hotel. Jadi nggak perlu panas-panasan.

Kembali ke hotel kami tidak perlu berpeluh. Dan siap untk check out. Isteri dan putra saya mengaku senang menginap di La Grandeur. "Strategi untuk belanja. Nggak perlu susah cari parkir mobil dulu," kata isteri saya, Titin Hartini.

Yup Betul sekali. Kalau menginap di hotel lainnya (sebelum ini) saya ke ITC Mangga Dua tetap harus membawa mobil. Ribeut bangeut cari parkir mobilnya. Belum lagi bayar parkirnya. Tau sendiri kalau belanja nggak mungkin satu jam. Sementara dengan tinggal di Le Grandeur, mobil tetap saya tinggalkan di hotel. Dan selama menginap di hotel, kita bebas biaya parkir.

Saya juga lihat banyak tamu di hotel ini yang memiliki kepentingan bisnis di kawasan Mangga Dua. Termasuk tamu-tamu dari negara-negara tetangga.


Saya sendiri menilai hotel yang dulunya bernama Dusit Thai ini sangat nyaman untuk stay.  Selain itu tempat parkirnya relatif aman dan tidak menyulitkan. Sayang saya tidak sempat menikmati fasilitas hotel lainnya. Mungkin di lain waktu.

Satu-satunya kekurangan hotel ini adalah WIFI yang kurang manteng. Untuk pengguna gadget dan blogger seperti saya hal tersebut adalah hal paling penting ketika tinggal di hotel. Apalagi sedang dikejar-kejar deadline beberapa lomba blog. Semoga ke depannya bisa lebih ditingkatkan.

Saat check out uang deposito dikembalikan. tapi saya harus mebayar air putih kemasan 1 liter sebesar Rp.8.500.  Tak ada masalah. Karena isteri dan anak saya mengaku senang. Kalau mereka happy, saya juga happy dong.



*_*