Wednesday, May 20, 2015

Lima Jenis Kuliner yang Harus Dicicipi Saat di India



Saat lima hari di New Delhi beberapa waktu lalu, saya mencoba beberapa jenis kuliner India. Ada yang cocok dengan lidah, tapi ada juga yang kurang asik. Buat yang akan bepergian ke India, terutama di Delhi, saya rekomendasikan lima jenis kuliner yang harus dicicipi.

Falooda Kulfi




Falooda Kulfi adalah makanan pencuci mulut yang khas dan unik.  Kulfi adalah sebutan untuk es krim India yang beraneka rasa. Tidak hanya buah-buahan, tapi juga bunga-bungaan. Kabarnya, kulfi sebenarnya adalah minuman dari Persia yang masuk ke India di era Mughal.

Bagian terunik lainnya adalah Falooda yang mirip bihun dari tepung beras. Tapi sebenarnya mi putih ini terbuat dari tepung jagung. Saya sendiri sempat kebingungan ketika mencoba menebak dengan merasakannya.

Buat penggemar es krim, jelas Falooda Kulfi tidak boleh dilewatkan.  Sensasi rasa bunga mawar membuat perasaan kita langsung segar. Dan mulut yang sedikit terkontaminasi makanan berat kari bercampur bawang bisa jadi lebih harum,

Percayalah, kita bisa ketagihan setelah mencicipinya. Walaupun pada suapan pertama agak mengejutkan.

Nasi Briyani



Nah, kalau yang ini di Indonesia sudah banyak ditemukan. Tapi saya menemukan sebuah tempat yang menjajakan Briyani sangat sedap di Delhi. Kuliner nasi rempah ini biasanya dicampur pula dengan daging kambing, daging ayam atau sayuran. Saya lebih cocok dengan daging ayam karena rasanya super mantap. Beberapa menyebutkan nasi briyani kambing lebih lezat.

Tempat saya makan nasi briyani  di kedai Alkauser terletak dekat Assam Bhawa, Chanakya Puri.  Kedainya kecil, tapi yang memesan makanan harus antre. Beberapa makan di pinggir jalan sambil berdiri, sesuai kebiasaan mereka.

Banyak jenis masakan India yang bisa kita santap. Tapi saya tetap tertuju kepada nasi Briyani. Bukan apa-apa, mereka menjual langsung dengan kendinya. Sedangkan saya biasanya makan sudah disiapkan di piring.

Yang bikin saya suka senang, saya juga bisa mengintp koki mereka mengolah masakan di tempat yang ekcil itu. Di bagian depan kedainya kita bisa membaca penghargaan dari berbagai media untuk beraneka jenis makanan di kedai ini.

Buat yang kangen nasi kalau jalan-jalan di India, mendingan pilih menu satu ini.

Choley Bathura



Bathura adalah salah satu dari sekian banyak jenis roti di India. Yang membedakan adalah betuknya yang menggelembung, tidak pipih seperti lainnya. Roti yang banyak ditemui di India utara ini biasanya dijadikan menu sarapan berat dan dimakan bersama Choley.

Choley adalah menu masakan perpaduang antara kacang Arab dan kentang yang rasanya gurih. Biasanya, choley bathura disajikan di nampan dengan potongan bawang yang segar dan acar mentimun.

Cara makannya dengan menyobek bathura lalu mencocolnya ke choley. Bisa juga disisipin bawang dan acar. Umumnya untuk sarapan orang India makan dua potong bathura. Tapi bagi yang diet, cukuplah satu lembar.

Saya menikmati choley bathura di ahendra Sweet House di pojokan babu Market, kawasan Sarojini, New Delhi.

Ladoo



Ladoo adalah manisan India yang sangat terkenal. Bentuknya seperti bola dengan berbagai ukuran. Bahan dasarnya adalah tepung chickpea (kacang arab), gandum rava, dan kelapa.  Rasanya sangat manis. Jadi hati-hati buat yang memiliki diabetes.

Bagi penggemar Bollywood, makanan ini sangat terkenal karena  sering terlihat sebagai penganan, baik adegan di rumah maupun di jalanan. Beruntung saya bisa datang ke BIkanervala, sebuah toko kue oleh-oleh seperti Kartika sari kalau di bandung. Di sini tersedia beraneka jenis ladoo, seperti ladoo kacang kenari, ladoo Punjab, sampai ladoo special. Saya sengaja membungkus beberapa jenis ladoo untuk oleh-oleh. Dan anak saya sangat senang memakannya.

Selain ladoo masih banyak lagi jajanan yang bisa dibawa oleh-oleh, seperti Gulab Jamun, Rabdi Faluda, Raj Bhoj, Chaat, Raj Kachori, Masala Dosa. Tapi karena anak saya sering nonton animasi Bima yang suka ladoo, membuatnya terinspirasi makan ladoo juga. Harganya juga tak sebarapa mahal. Dijual berdasarkan gramatur, dan bisa dikemas untuk dibawa pulang ke Indonesia.

Barbeque ala India

Sebenarnya ini bukan makanan khas India asli. Jujur saja, karena di India sulit mencari makanan daging dan seafood, jadi yang aman adalah ke resto barbeque. Tapi tetap lho ada bedanya dengan resto barbeque di Indonesia.


Barbeque di India ini, mencampur semua hal yang layak di panggang. Mulai dari ayam, jamur, paprika, udang, dan yang asik adalah paneer. Bagi yang suka makanan India pasti sudah tahu paneer. Makanan satu ini tekstur dan rasanya mirip tahu. Tapi ini sebenarnya bukan tahu, melainkan keju. Saya sendiri menyebutnya tahu keju India. Daripada ribeut cari terjemahan yang pas.

Yang bikin lain ketimbang di resto barbeque di Indonesia adalah bumbunya. Kita bisa memoles apa yang kita ingin lahap dengan bumbu barat maupun India. Setu, kan. Jadi buat yang alergi sama rempah-rempah ala masakan India, bisa mengole dengan saos biasa.


Barbeque tentu saja paling asyik kalau dinikmati bersama-sama. Kebetulan saya ditraktir oleh para pejabat KBRI di New Delhi. Jadi bukan saja lezat, tapi juga asik karena menyantap bersama-sama. Ditraktir pula. Heheheh


^_^

Foto-foto: Benny Rhamdani

Tuesday, May 19, 2015

Pengusaha Turbin Ini Juga Sukses Mengangkat Bandrek dan Bajigur


Bajigur dan bandrek kemasan instan pun diliriknya. (foto: dokpri)


Sosoknya bersahaja dan kental dengan dialek Sunda saat bicara. Saya terlebih dahulu mengenalnya sebagai sosok pengusaha turbin yang produknya sudah mencapai mancanegara. Belakangan saya kemudian tahu bahwa pria ini juga pengusaha bandrek kemasan. Yang satu banyak melibatkan tenaga pria, satunya lagi malah didominasi pekerja wanita.

Saat pertama bertemu langsung dengan mantan dosen ini di pabriknya di kawasan Cihanjuang, Cimahi, Jawa Barat, saya nyaris tak menyangka pria kelahiran Sumedang 2 Oktober 1958 ini adalah pengusaha turbin yang terkenal di banyak negara dan memiliki banyak prestasi. Begitu sederhananya. Bahkan ketika saya bertemu kedua kali karena mengundangnya ke kantor untuk berbagi cerita, tampilannya tetap sederahana, walaupun kendaraannya tidak sederhana.

Sebab itulah saya merasa santai ketika berbincang dengan peraih penghargaan ASEAN Hydro Award 2004 ini. Dan yang menarik, sukses di bisnis turbin air tak menghalangi niatnya untuk terjun ke bisnis bubuk minuman dalam kemasan, dengan mengangkat jenis minuman Jawa Barat yang terkenal, yakni bandrek dan bajigur.

Eddy Permadi menceritakan ihwal titik balik menuju suksesnya justru dari kegagalannya dalam usaha pupuk tablet. “Waktu itu kebijakan pemerintah kurang menguntungkan produk saya dengan mengelompokkan ke dalam pupuk industri, sehingga harganya jadi mahal,” ungkap peraih Kalapataru tahun 2005 ini.

 Kegagalan usahanya pada 1995 itu mendorongnya menjajal bisnis sesuai latar belakangnya sebagai lulusan Jurusan Mesin PMS ITB dan universitas di Stutgart, Jerman, yakni bisnis turbin.

Eddy Permadi, dari Turbin ke Bajigur. (dokpri)
Ia teringat tanah tercinta ini  yang memiliki sumber air berlimpah.  Proyek pertamanya perbaikan turbin asal Jerman untuk perkebunan teh di Bandung berkapasitas 200 ribu watt.  Kemudian, Eddy mendapat order pemasangan turbin di Sulawesi.  Selanjutnya, setiap tahun ia mendapat 4-5 proyek turbin. Kala itu karyawannya mencapai 20-30 orang. Adapun lokasi workshop-nya di Cihanjuang awalnya hanya seluas 800 m2, kini mencapai 1.200 m2.

Keberhasilan Eddy di bisnis turbin boleh dibilang karena karyanya  tak sulit dioperasikan dan dirawat oleh masyarakat. Ia juga mampu membuat turbin yang kecil ataupun besar, yang menghasilkan daya listik sekitar 100 watt hingga 200 ribu watt (200 kw). Turbin itu pun dapat dipasang di daerah dengan ketinggian air yang rendah (2 meter), hingga untuk air terjun.

Sukses di bisnis turbin, Eddy  mulai memikirkan bisnis lainnya.Pada tahun  2005 ia merintis bisnis minuman kemasan instan bandrek. “Awalnya banyak orang menyangsikan kemampuan saya soal ekonomi rakyat karena pendidikan saya. Dari situ saya buat alat pengolahan pascapanen seperti pengering, pemotong hingga gerinda,” ia menuturkan.

Merasa sayang peralatan produksinya tak difungsikan, ia pun mengembangkan ide menjual kopi yang sudah ditambah gula dalam kemasan. Namun belakangan ide ini ia urungkan karena tak sesuai dengan konsep bisnisnya, yaitu kalau ingin mulai berwirausaha jangan mulai dari wilayah yang sudah banyak digarap orang lain. Dan, tiba-tiba ia terbersit untuk membuat bandrek pakai kopi. Ia meyakini kombinasi minuman itu tak ada di pasaran.

Eddy memberdayakan  tenaga kerja empat orang. Itu pun dari orang dalam sendiri. Selanjutnya, mereka belajar tentang perizinan, kemasan dan distribusi produk ke warung. Dalam setahun pertama, respons pasar terhadap bandrek yang bermerek Hanjuang itu sangat jelek.

Pada tahun kedua Eddy melakukan evaluasi.  Dia mencoba mengubah jalur dari produk warungan menjadi eksklusif dengan cara masuk ke toko oleh-oleh dan factory outlet.  Desain kemasan pun diubah lebih dinamis. Warna pun dibuat bervariasi dan lebih terang. Bisnisnya pun meningkat.Dia juga mendapatkan informasi, banyak bapak-bapak dan ibu-ibu yang mengeluh tidak kuat minum kopi. Lalu akhirnya Eddy membuat jenis produk baru yaitu bandrek tanpa kopi dengan kemasan baru.

Karyawan pun bertambah dari empat orang. Setelah melihat permintaan yang meningkat, di tahun kedua Eddy merilis item baru seperti Bajigur Hanjuang. Di tahun ketiga, perusahaan mulai membuat sekoteng dan minuman energi atau bandrek khusus dewasa yaitu Bandrek Spesial. Dalam produk ini ada kandungan ginseng dan buah pinang. Lalu muncul selanjutnya Teh Bandrek, Coklat Bandrek, Beras Cikur.

Selain melibatkan tenaga kerja dari lingkungan pabriknya, Eddy juga  menjalin kerja sama dengan perajin gula aren di kawasan Gunung Halimun. Mengenai kiat keberhasilannya, Eddy mengatakan,
”Yang penting berani berbeda.”


Monday, May 18, 2015

Nggak Sempat Beli Kado untuk Pasangan, Mampir Saja di Shopious

Jangan panik kalo nggak sempat ke mall cari kado buat pasangan.
(foto: Dokpri)


Pernah nggak di saat sedang sibuk-sibuknya dengan kerjaan, tiba-tiba pasangan mengingatkan bahwa sebentar lagi dirinya ulang tahun?  Peringatan dari pasangan itu bisa juga berarti kode agar kita tidak lupa menyiapkan kado untuknya.

Berani melewatkan momen bahagia pasangan kita tanpa memberinya hadiah istimewa? Coba saja. Pasti dia akan merasa sedih dan merasa kurang diperhatikan. Jangan bicara dulu soal bentuk dan harganya, tapi momen mendapatkan kado dari orang yang dicintai itulah yang sebenarnya ditunggu.
Apalah daya jika kita sedang sibuk dengan pekerjaan. Belum lagi kalau tiba-tiba ada anggota keluarga yang sakit dan kta harus repot merawatnya. Perlu solusi.

Hari gini, kalau belum pernah menjajal belanja on-line jelas keterlaluan banget. Belanja on-line merupakan salah satu cara paling praktis ketika kita sedang sibuk sehingga tak sempat untuk berjalan ke mall mencari kado untuk pasangan.

Sayangnya, belum semua toko on-line di Indonesia bisa memberikan layanan yang memuaskan. Seperti dikeluhkan isteri saya. Dia pernah membeli sebuah baju gaya Korea dari toko on-line, ternyata bahan dan modelnya tidak sebagus tampilannya di foto.

Salah satu website yang saat ini sedang banyak dibicarakan banyak tukang belanja on-line adalah Shopious.com .  Shopious itu semacam index toko on-line atau yellow pages toko on-line. Sehingga memudahkan kita dalam dalam menemukan toko-toko online di Indonesia yang bisa dipercaya.

Oh iya, Shopious tidak memegang stok barang yang di tampilkan website, karena hanya display barang-barang dari toko on-line. Produk-produk yang di tampilkan di website di ambil dari Instagram toko penjual. Karenanya, kadang ada harga barang, kadang nggak dipasang. Coba tanya aja langsung kepada pemilik toko. Selain harga juga kita harus kepoin soal ongkos kirim biar jelas.

Belanja di Shopious juga membuat kita nggak perlu repot-repot punya instagram. Maklum, sekarang ini kan yang jualan secara on-line kebanyakan melalui instagram. Dan kita nggak perlu mengingat-ingat hashtag tertentu karena sudah ada di kategorinya. 



Jelasnya, untuk masuk ke sini setelah login adalah browsing dulu aja sesuai kategori barang yang dicari. Kalau sudah  kita tinggal klik barangnya atau nama tokonya. Kemudian kita bisa kontak langsung dengan pemilik barang alias si empunya toko on-line. Gampang kok.

Keunggulan Shopious dibandingkan wesite sejenis adalah  fokus untuk memberikan jumlah seleksi barang yang sangat banyak, bervariasi, dan juga kualitas barang yang tinggi. Kita juga bisa lho jualan di sini. Caranya? Masuk aja dulu ke wesbsite Shopious.


Jadi, kalau sudah pernah masuk ke sini, dijamin kalau tiba-tiba harus ngasih kado untuk pasangan kita, nggak bakal panik lagi karena sedang repot sama pekerjaan. Pastinya, pasangan kita juga nggak bakalan cemberut :)

^_^

Pengalaman Berburu Batu Akik di India

Pengasah marmer dan batu. (Foto: Benny Rhamdani)


Sebelumnya saya tak tertarik dengan batu akik yang heboh itu. Tapi ketika saya akan melakukan perjalanan dinas ke New Delhi, India, seorang kerabat minta dicarikan batu akik. Sementara itu, ketika brwosing daerah batu akik adalah Jaipur yang tidak akan saya singgahi. Akhirnya di sela-sela dinas, saya berusaha melirik batu akik ke kanan dan kiri.

Di Delhi, seperti umumnya di wilayah lain di India, batu berharga sudah menjadi bagian kehidupan mereka. Hampir bisa kita temukan aneka jenis batu di perhiasan perempuannya, termasuk di pakaiannya. Kaum lelaki pun sama, terutama pada cincin dan gelang.

Saya tahu persis aktor Bollywood Salman Khan malah memiliki gelang (brachelete) rantai dengan mata batu pirus Persia, dan jadi perbincangan banyak orang. Saat ke India saya sempat menemukan benda yang mirip di toko perhiasan. Saat saya menanyakan harganya sekitar Rp2juta-an langsung mundur perlahan. Budget belanja saya tak sebanyak itu soalnya.



Akhirnya menemukan juga yang sesuai budget.
(Foto: Benny Rhamdani)


Saat saya bertandang ke Taj Mahal, Agra, saya juga melihat pengasah dan pembentuk marmer serta batu. Di dekatnya saya melihat batu-batuan yang indah. Berbeda dengan di Indonesia yang bentuknya lonjong mulus, di India umumnya batu-batu itu bersudut, seperti halanya batu berlian yang sudah diasah.

Ketika saya tanya harganya, saya langsung mundur lagi. Mungkin karena di daerah wisata, harganya jadi mahal.

Akhirnya, saya malah menemukan batu-batu akik itu tak jauh dari tempat dinas saya di salah satu hall di Pragati Maidan. Kebetulan saya memang sedang bertandang di New Delhi World Book fair. Saat berkeliling ke sebuah hall yang berisi hal-hal metafisika, saya menemukan beberapa stall batu akik di sana. Selain dalam bentuk batu yang sudah diasah, dijual juga batu dalam bentuk perhiasan, tasbih, dan dekorasi.

Apa hubungannya batu akik dengan metafisika?

Simbol Batu Akik

Ketika saya hendak melihat-lihat batu akik, pria setengah baya yang menjual sempat bertanya tentang astrologi. BIntang saya apa, lahir hari apa, dan lain sebagainya. Menurutnya, sebaiknya kalau membeli batu akik, sesuaikan dengan astrologi, karena akan member aura positif.

Dua dari tiga batu akik yang saya beli.
(Foto:Benny Rhamdani)

Saya bukan jenis orang yang percaya hal-hal seperti itu. Saya hanya mencari batu akik yang sesuai dengan budget saya. Akhirnya dia menyerahkan beberapa pilihan. Dia merekomendasikan batu-batu yang khas dari India. Karena saya buta wawasan batu akik jadi saya pilih yang bagus saja. Ukurannya kecil, tapi yang penting asli.

Oh iya, dari obrolan seru dengan mereka, salah satu khasiat batu akik juga bisa dilihat dari warnanya. Dengan bahasa Inggris campur Hindi  (kebtulan saya kuasai sedikit), saya jadi tahu simbol warna di balik batu-batu itu.

Warna merah akan menambah rasa percaya diri, menghilangkan rasa takut, dan berani bertindak. Jenis batu ini antara lain coral merah, bloodstone, red jasper, cinnabar dan ruby.

Warna merah muda atau pink akan menambah kecantikan dan ketenangan. Jenis batu ini antara lain rhodocrosite, pink opal, calcedoni dan masih banyak lagi.

Warna cokelat akan membuat pemakaianya lebih kuat perasaannya. Jenis batu ini  tiger eye, stromatolite, dan masih banyak lainnya.

Warna jinga atau orange akan membuat pemakainya lebih kreatif. Jenis batunya adalah carnelian, fire opal, sunstone, dan masih banyak lagi.

Warna kuning akan membuat intelektualitas pemakainya meningkat. Jenis batunya antara lain amber, citrine, sulphur, dan masih banyak lainnya.

Masih banyak lagi warna yang disebutkannya. Saya sendiri agak-agak susah mengingatnya. Soalnya saya ingin segera mengehentikan diskusi soal batu ini karena tidak tahan dengan aroma dupa yang ada di hall pameran tersebut.


POkoknya, sekarang saya sudah sedikit lebih mengerti soal batu akik. Nggak sia-sia jauh-jauh ke New Delhi berguru sama penjual batu akik India langsung  hehehe.

^_^

Sunday, May 17, 2015

Sangria, Hotel Berbintang Tanpa AC namun Tetap Diminati






Rasanya memang aneh bila menginap di hotel berbintang tiga, tapi kita tidak menemukan air conditioner  (AC) di dalam kamarnya. Nyatanya saya bertahan menginap sembilan hari di hotel bernama Sangria Resort di Lembang, Jawa Barat ini.

View kamar bikin adem. (Foto: Benny)
 Saat pertama bertandang, saya menyetir sendiri ke Jalan Holtikultura Lembang. Sedikit meragukan dengan performa hotel itu karena jalan yang harus dilalui tidak diaspal halus dan berada di ujung jalan kecil.  Akhirnya, bayangan itu langsung pupus karena saya bisa melihat sebuah hotel yang cantik.

Begitu menuju front officer yang ramah, saya segera mendapatkan kunci. Voila! Saya mendapatkan sebuah kamar yang menghadap langsung ke sebuah lereng dipenuhi pepohonan. Di kejauhan saya melihat gunung Burangrang berdiri tegak.



Hall di Sangria juga nyaman lho. (Benny)
Lantai kamar terasa dingin membuat saya ingin mematikan AC. Tapi di mana remotenya? Terus di mana AC-nya? Halagh, ternyata memang tidak ada AC. Kesejukan di kamar ternyata karena memang suhu udara Lembang yang di bawah 20 derajat Celsius. Saya  segera memakai sandal hotel. Dan sandal hotelnya berbeda sekali dengan kebanyakan sandal hotel lainnya.  Bikin telapak kaki terasa hangat.

Saya pun tertarik masuk ke websitenya dan melihat rate kamarnya. Wow, di atas satu juta semua. Dan tidak ada AC pula.  Okay, tapi fasilitas kamarnya cukup memadai kok. Ada  wifi yang jika beruntung posisi kamarnya bisa sangat kencang, televisi dengan saluran HBO, jomlah colokan yang pas, meja keja, coffee maker, dan fitur standar hotel lainnya.

Kamar mandinya pun terbilang sedang ukurannya.  Hanya showernya saja menurut saya kurang panjang. Jadi kalau mandi kadang harus mepet-mepet tembok.

Citrus Taste

Saya menginap di hotel ini dua kali. Kali pertama saya menginap empat malam, kali kedua saya menginap lima malam. Rupanya, penyelenggara workshop yang saya ikuti ketagihan dengan Sangria. Salah satunya tentu karena di sini ada resto yang menurut saya keren, yakni Citrus Taste.

Kerennya resto ini karena memiliki view yang indah bila kita makan di balkonnya. Dari dalam pun kita bisa melihat saja sih. Tapi kalo di balkon kita bisa menikmati udara segar dan cahaya matahari pagi saat sarapan. Kalo malam? Brrr, kecuali pakai jaket, silakan saja makan di balkonnya.


Soal pilihan menu makanan saat sarapan menurut saya cukup variatif. Nggak terlalu melimpah seperti kalau saya menginap di hotel-hotel yang berada di tengah kota. Tapi saya malah jadi tidak tergoda untuk tetap menjaga menu sarapan yang sehat. Minimal, tetap konsumsi serat, kan?

Menu makan siang dan makan malam pun menurut saya lumayan variatif. Kadang masakan lokal, kadang oriental, kadang ada continental. Pastinya sih, masuk perut saya. Kalau misalnya agak sedikit bosan, saya tinggal keluar cari kuliner Lembang. Kebetulan lokasi Sangria nggak begitu jauh dengan jajanan malam susu murni dan ketan bakar, kalau siang bisa juga mampir ke Pasar Apung yang beken itu. Jaraknya hanya 10 menit pakai mobil. Itu pun karena harus memutar dulu. Pulangnya sih hanya lima menit.

Kelas Yoga



Hal paling saya suka selama di Sangria adalah viewnya, termasuk layoutnya yang memanfaatkan kontur tanah di lokasi. Coba deh lihat kolam renangnya. Keren banget.  Apalagi kalau dilihat dari ketinggian. Sayangnya saya belum sempat mencicipi nyebur di sana karena padatnya jadwal acara workshop.

Selain kolam renang ada juga jauzzi buat yang ingin santai-santai berasa dipijat di dalam air. Sayangnya saya juga belum mencicipinya. hiks. Padahal kalau lihat sekelilingnya yang asri, kita bakal nggak menyangka sedang berenang di kolam renang melainkan di sebuah danau kecil.


Ini saya lagi ikutan kelas yoga.
Tapi saya sempat mengikuti kelas yoga di outdoor tak jauh dari kolam renang. Benar-benar asik, dan tentunya bikin badan terasa sehat setelahnya. Instruktur yoga pun berpengalaman. Membuat saya ingin kembali mengambil kelas yoga yang dulu pernah saya tekuni. Ya, sebelum peru saya sebesar ini … hiks.

Untuk kelas yoga ini saya nggak harus bayar lagi. Cukup daftar saja. Lalu nanti kita disediakan matras untuk alas beryoga. Juga disediakan handuk putih kecil dan sebotol minuman. Walaupun gerakannya masih kaku-kaku, cuek aja ikutin instruktur. Namanya juga pengen hidup sehat.





Di Sangria juga terdapat kolam ikan yang tampak alami. Bila ingin memberi makan ikan ini, jangan mengambil di restoran. Saat masuk ke kamar hotel, sudah disiapkan makanan ikan di atas meja yang bisa kita pakai gratis.

Jangan berpikir untuk memancing atau menyeroknya ya. walaupun kita gemas melihat ikan yang montok-montok dan berwarna cantik itu.

Cuman, ya siap-siap saja kalau kembali dari kolam renang.  Soalnya nggak ada lift. Jadi harus menapakai tangga naik. Lumayan ngos-ngosan buat yang nggak terbiasa berolahraga.


Saya berharap satu hari nanti bisa kembali ke sini. Bukan untuk workshop, tapi benar-benar untuk bersantai bersama keluarga.

^_^

Friday, May 15, 2015

Tiga Mie Yamin Paling Nikmat di Bandung






Teman-teman saya dari Jakarta yang belum pernah ke Bandung kerap bingung jika saya mengajak mereka makan mie yamin. Kebanyakan mengira itu sama saja dengan mie ayam. Meskipun sama-sama dibubuhi ayam, tapi keduanya berbeda sama sekali.

Perbedaan pertama adalah jenis mie yang dipakai. Kedua adalah ayam yang dipakai  di mie yamin jauh lebih halus bentuknya. Pastinya, rasanya juga berbeda. Paling menonjol pembedanya  adalah mie yamin memakai kecap.

Mie yamin ada yang rasanya manis dengan kecap manis, ada juga yang asin dengan kecap asin. Secara terpisah, kita juga menambahkan dengan bakso kuah, pangsit, ceker ayam, babat  dan lain-lain sesuai selera.

Saya paling gemar makan yamin, ketimbang olahan mie lainnya. Banyak tempat mie yamin di Bandung yang saya datangi, dan menurut saya juaranya ada di tiga lokasi ini.

Linggarjati


Linggarjati berdiri sejak 1950. Lumayan jadul. Jadi jangan bayangkan sebuah kedai mie modern. Interiornya jadul. Mulai dari meja, kursi, sampai kipas angin. Seperti terperangkap di tahun 1970-an. Menu mie yang disajikan pun jadul. Bagi yang bosan dengan olahan mie modern, wajib mencoba mie jadul ini.

Dulu di sebelahnya adalah bioskop Dian Thetatre yang banyak memutar film India. Jadi tampat makan mie ini terus terpatri di memori saya karena dulu saya sering nonton di sana.  Sekadar catatan, jika ke sini membawa mobil, siap-siap harus parkir agak jauh karena tempat parkir di depannya adalah sisi jalan. Paling cukup 4 mobil.  Biar aman, parkir saja di lantai dasar alun-alun Bandung.

Favorit saya di sini adalah yamin baso. Sebenarnya saya suka ditambah babat. Tapi karena saya harus menahan diri makan jeroan, cukup ditambah baso saja yamin-nya.  Jika tidak kuat porsi besar, boleh pesan porsi setengah lho. Untuk yang suka yamin manis, bisa  pesan yamin manis. Kalau mau yang agak asin, juga tinggal pesan sesuai kesukaan.Untuk penutup saya suka es campur klasik. Kadang saya pesan juga susu murni.

Rasa mie ayam di sini sangat klasik. Dari dulu saya makan di tahun 1990-an hingga kini tak berubah rasanya. Untuk yang punya jadwal piknik ke sekitar alun-alun Bandung, saya sarankan untuk mampir ke jl. Balonggede no.1, Bandung.

Akung

Kalau lokasi mie satu ini sudah terkenal ke mana-mana. Tapi umumnya orang sekadar mencicipi baso atau mie baso. Cobalah jika ke sini menjajal paket Yamin Manis Bakso Pangsit Siomay Ceker.  Olahan mie yaminnya terasa begitu manis dan gurih merata, kemudian suwiran ayamnya yang terasa lezat. Belum lagi kuah bakso dengan aroma yang bikin kita nggak mau mikir untuk menunda menyantapnya.

Untuk yang tidak terbiasa porsi besar, bisa membeli porsi separuh. Atau kurangi saja  tambahan lainnya. Misalnya, cukup mie yamin dan kuah baso atau dengan kuah ceker saja. Saya sarankan untuk memakai ceker karena sebenarnya inilah keistimewaan hidangan di Akung.

Mie Bakso Akung berada di Jalan Lodaya No. 123 ini terbilang ramai di akhir pekan. Kadang tutup lebih cepat karena stok sudah habis. Usahakan datang di hari biasa. Juga jangan sesekali mencoba datang saat liburan lebaran. Mie Akung sudah bisa dipastikan tidak buka saat lebaran. Bahkan tutupnya melebihi lburan Pegawai Negeri Sipil.




Ibu Atih


Bukan karena lokasinya di Jalan Cipamokolan dekat rumah saya, sehingga saya memilih mie yamin ini. Namun memang yamin baso di Mie Ibu Atih Tasik ini menurut saya lezat. Terutama mie-nya. Selain lezat juga aman tanpa formalin. Kita bisa melihat langsung mie yang digunakan dibuat lebih dulu di tempat makan.

Yamin baso adalah favorit saya. Porsinya tidak terlalu banyak, baik bakso maupun yaminnya. Saya juga suka kuah basonya yang lezat.

Untuk yang ingin mampir ke tempat ini harus sabar karena parkirnya hanya cukup dua mobil.  Bisa parkir di SPBU di depannya  sementara.

Kalau belum kenyang, kita bisa memesan roti bakar, karena rasanya juga lezat menurut lidah saya.



Selamat menikmati J



Foto-foto: Benny Rhamdani

Thursday, May 14, 2015

Kota Bukit Indah Hotel, Pilihan Liburan Keluarga yang Seru


Liburan keluarga kok ke hotel?  Tentu boleh-boleh saja. Apalagi saya sering berempati dengan anak dan isteri yang diam di rumah ketika saya harus dinas luar kota, lalu menginap di hotel berbintang. Saya ingin agar isteri dan putra saya  juga merasakan menginap, sarapan dan berenang di hotel.

Kebetulan saya mendapatkan voucher menginap dari Kota Bukit Indah Hotel (KBIH) Cikampek, jadi bisa mengajak keluarga. Apalagi fasilitas kamar yang saya peroleh adalah suite’s room. Dan saya sudah pernah dua kali menginap di KBIH untuk kepentingan rapat kantor, jadi amat merekomendasikan isteri dan putra ikut merasakannya.

Setelah kurang dua jam menyetir mobil dari Bandung melalui tol Cipularang, akhirnya sampai juga kami di hotel KBIH.  Jika biasanya saya mengajak keluarga liburan di hotel di dalam kota Jakarta, baru kali ini menginap di hotel yang jauh dari mall. Ya, karena lokasi KBIH memang di daerah kawasan Industri,  namun sebagian lagi kawasannya masih banyak pepohonan.

Setelah menyerahkan voucher ke front officer, hanya beberapa menit kemudian saya disodori kunci kamar. Bergegas kami masuk ke kamar hotel. Dan … tada!  Wuah, kamarnya luas. Ada ruang tamu dengan TV sebesar gabar, serta ruang khusus tempat tidur. 

“Ada setrikanya,” kata putra saya, Akhtar, takjub saat memeriksa lemari kayu yang besar.

 Hotel ini memang  saya tahu banyak disinggahi expatriat yang bekerja di pabrik-pabrik tak jauh dari hotel. Itu saya tahu dari menginap sebelumnya dulu. Baik mereka yang bule sampai orang-orang Jepang dan Korea tampak terlihat di restoran saat makan.

Saat week-end, KBIH justru tampak sepi karena para tamunya justru meninggalkan hotel untuk menginap di Jakarta ataupun ke luar kota lainnya. Biasalah, cari hiburan biar nggak jenuh di rumah … eh kamar hotel yang sama melulu. Tapi saat weekend biasanya justru dipenuhi warga sekitar yang berenang.

 
Setelah istirahat sebentar, Akhtar minta segera diantar ke kolam renang.  Oh iya, kami juga mengajak Rafli, sepupu Akhtar, untuk ikut serta kami menurut voucher kami boleh bawa dua anak. Saya pun mengantar, dan tentu saja ikut berenang. Karena cuaca bersahabat, acara berenang siang menjelang sore pun jadi asyik dan bikin badan segar. Ada tiga kolam untuk para tamu. Kolam untuk berenang, kolam untuk bermain air, dan kolam jacuzzi.

Jika kehausan atau lapar, kita bisa memesan minuman di counter yang ada di pojok kolam renang. Harganya nggak mahal-mahal amat.

 
Selesai puas berenang, kami kembali ke kamar.  Apakah anak-anak langsung membilas tubuhnya? Tidak. Mereka mandi lagi di bathtub. Maklumlah kamar mandinya juga luas dan modern, jadi mereka malah betah.
Biasanya saya dan isteri mengajarkan putra kami memakai kamar mandi serta menjaga isi di dalamnya. Ini sengaja kami lakukan agar suatu hari kelak tidak kaget dengan hal-hal yang tidak ada di rumah. Karena kebetulan saya sering membuat acara di hotel yang melibatkan anak-anak, dan kebanyakan dari meerka kikuk ketika berada di kamar mandi .

Malam harinya kami bermaksud makan malam, tapi tak jadi karena mobil saya mendadak ngadat. Mau makan di mana di tengah hutan  begini kalau jalan kaki? Jangan khawatir, seperti kebanyakan hotel KBIH juga ada resorannya dong. Tapi kami memeilih layanan delivery ke room  aja. Dan akhirnya kami makan malam dengan menu nasi goreng yang membuat kami langsung mengantuk karena kekenyangan.


Keesokan harinya, kami sarapan di Krena Lounge.  Pilihan sarapannya bervariasi. Anak-anak memilih nasi goring, pancake dan buah-buahan. Beda banget dengan orang dewasa yang saya kenal kalau sarapan di hotel yang semua makanan ingin dcitelan. Kami mengajarkan anak-anak untuk sarapan secukupnya dan memilih yang tampak paling enak saja. Kami jadikan juga sarapan bersama untuk belajar etika makan.
 
Mumpung masih pagi, saya kemudian berusaha memperbaiki mobil dengan bnatuan pegawai KBIH. Sementara Akhtar dan Rafli asyik main sepeda. Di KBIH memang ada penyewaan sepeda di depannya. Cukup hubungi front officer, nanti aka nada yang membantu kita.

Alhamdulillah akhirnya mobil bisa diperbaiki. Tadinya saya ingin mengajak keluarga jaln-jalan ke kota Purwakarta, tapi tak jadi, karena anak-anak memilih berenang lagi! Yiay, kata mereka kolam renangnya enakeun dan nggak terlalu dingin-dingin amat airnya.


Di Hari Minggu kolam renang lebih ramai ketimbang Sabtu. Karena memang banyak warga sekitar KBIH yang berenang di sini. Beberapa malah ada yang menjadi member untuk berenang di KBIH.

Menjelang pukul sebelas siang, kami sudah berkemas. Dan akhirnya meninggalkan KBIH sebelum pukul  duabelas siang. Rasanya sayang sekali meninggalkan kamar yang nyaman itu. Tapia pa boleh buat, vouchernya hanya untuk satu hari.

Mungkin satu hari nanti akan kembali  lagi ke KBIH bersama keluarga.
 *_*

Foto-foto: Benny Rhamdani

Wednesday, May 13, 2015

Menilik Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma







Tak ada rencana sama sekali saya  ke tempat ini.  Setelah browising mencari-cari lokasi menarik yang gratis, keputusan jatuh bertandang kesebuah galeri topeng dan wayang. Ternyata, saya benar-benar dibuat takjub di dalamnya.

Hari itu saya tiba terlalu awal di International Airport I Gusti Ngirah Raih, Bali. Masih pukul 10 pagi waktu  setempat. Sementara jam check-in hotel baru pukul dua siang. Ketimbang nongkrong nggak jelas, saya dan teman-teman yang akan mengikuti sebuah workshop di Sanur memutuskan menyewa mobil dan keliling Bali.

Belum jelas ke mana arahnya. Namun setelah browsing dan diskusi dengan supir yang baik hati itu, kami singgah ke sebuah tempat yang asri bernama Setia Darma House of Mask and Puppets atau Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma (RTWSD). Lokasi RTWSD  tepatnya di Banjar Tengkulak Tengah, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali.

Saya belum ada gambaran ketika menjejak ke halaman RTWSD. Tapi teman saya yang pernah bertandang sebelumnya sekilas menceritakan tentang koleksi topeng yang eksotik. Karuan saya segera bergegas.

Seorang pemandu wanita, sebut saja Ayu, dari RTWSD menyambut kami ramah ketika kami hendak masuk ke salah satu joglo. Dia menyalakan lampu di dalam ruangan agar kami leluasa menikmati koleksi di dalamnya. Sesekali Ayu menceritakan tentang koleksi yang dipajang.

Sebagai pecinta karya seni, saya bisa belajar banyak hal, mulai dari warna, ukuran , ragam bentuk ekspresi, anatomi, hingga ornamen penghias. Topeng pertunjukkan  dengan topeng ritual yang agak-agak mistis.

Salah satu topeng ritual yang bisa dilihat adalah  topeng ritual dari Kalimantan yang diperkirakan berusia sekira dua abad. Topeng yang bentuknya demikian purba meski sederhana, yaitu topeng ritual Suku Dayak (Hudoq) terbuat dari kayu dengan tekstur  kasar berwarna oranye dan mirip labu.

Untuk koleksi wayang dan boneka,  saya harus masuk  ke salah satu bangunan berbentuk joglo. Di sana tersimpan apik ragam wayang mulai dari Jawa, Betawi, Sunda, sampai Batak. Tidak hanya koleksi lokal, lihat pula koleksi wayang gantung dari China, Italia, bahkan Malaysia.

Sejarah wayang dan bentuk boneka tampaknya tak kalah purba dengan sejarah peradaban bangsa. Menarik mengenal ragam bentuknya yang kaya kreatifitas ataupun mengenal format pertunjukan dan mitos atau kisah yang diusung sebuah boneka atau wayang.

 Beberapa koleksi diantaranya adalah wayang kaper yang biasanya digunakan oleh anak-anak raja, wayang beber jawa dan bali, wayang suket dari rumput, wayang kulit, dan lainnya. Wayang golek tak mau ketinggalan memenuhi ruang koleksi.

Kebetulan sekali saya dan teman-teman sedang mempelajari sejarah ilustrasi dalam cerita anak-anak di Indonesia. Di sini kami bisa mengamati langsung dari wayang beber Bali. Benar-benar beruntung.
RTWSD merupakan rumah bagi ribuan topeng dan wayang di Indonesia, serta beberapa negara di Asia dan Afrika. Selain untuk tujuan wisata keluarga dan budaya, RTWSD juga dibangun sebagai upaya bagi pelestarian, pendidikan, hiburan, dan pengembangan seni topeng dan wayang.

“Rombongan pelajar juga sering datang ke sini,” kata Ayu menjelaskan.

Milik Pengusaha

Saya terkesima ketika mengetahui RTWSD bukan milik pemerintah daerah setempat. RTWSD  merupakan prakarsa seorang pebisnis sekaligus pemerhati budaya, Hadi Sunyoto.   Pengusaha tersebut  menyadari akan rendahnya apresiasi dan kepedulian terhadap topeng dan wayang tradisional di Indonesia. 

Hadi Sunyoto mengoleksi topeng dan wayang dari berbagai daerah di Indonesia sejak kurun waktu 7 tahun. Koleksinya tersebut kemudian disimpan, dilestarikan, dan dibuka untuk umum agar masyarakat luas lebih mengenal keberadaannya pada tahun 2006. RTWSD dikelola sepenuhnya secara partikulir tanpa campur tangan pemerintah. Meski demikian, sistem pengelolaanya menganut prinsip kerja sebuah museum.

Rasanya tak bosan mata saya memerhatikan koleksi –koleksi yang unik dari Indonesia.  RTSWD berdiri di atas lahan seluas 1,4 hektar, dengan  5900 koleksi yang terdiri dari 1200 topeng dari Indonesia, Afrika, dan Jepang. Sementara, untuk koleksi wayang tercatat sekira 4.700 wayang dari Indonesia, China, Malaysia, Thailand, Mianmar, dan Kamboja.

Kabarnya, Koleksi yang dipamerkan di RTWSD saat ini barulah setengah dari jumlah koleksi total yang sudah dikumpulkan. Baru setengah saja saya sudah takjub, apalagi kalau semuanya dikeluarkan.
Ada beberapa bangunan di RTWSD, mulai  dari arsitektur Bali, arsitektur seperti joglo, tekuk lulang dan limasan. Dan yang bikin saya nggak merasa seperti di dalam museum adalah kebun, taman, lapangan rumput  serta  hamparan sawah yang alami. Ada juga ruang pertunjukan juga menjadi fasilitas penunjang di RTWSD.


Saya bersyukur banget bisa nyasar  ke Gianyar, menyaksikan sebuah obyek wisata  kelas dunia bernama Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma.

Foto-foto: Benny Rhamdani

Tips Memotret di Pameran Mobil untuk Pemula


Susah-susah gampang berburu foto di pameran mobil. (Foto: Benny)


Saya sering mendatangi pameran mobil di Jakarta. Bukan untuk membeli mobil. Melainkan untuk memotret atau mengulasnya di blog saya. Saya bukan potografer otomotif professional, tapi saya pernah menjadi juara  lomba memotret di pameran mobil. Meskipun saya sudah berulang-ulang memotret tetap saja saya merasa tidak puas.

Saya akhirnya berusaha membaca beberapa referensi, dan mungkin ini intisari terbaik tips memotret untuk pemula yang akan coba-coba memotret  di pameran mobil. Siapa tahu berguna.

Lensa

Hindari lensa di atas 70mm  karena akan sulit mengambil  seluruh mobil.  Cobalah  gunakan lensa standar  lensa 17-55mm. Kita bisa saja  menggunakan Ultra Wide Angle 10-22mm, tapi ingat UWA ini akan mendistorsi mobil sampai sekitar 15mm. Kecuali kita menginginkan efek  seperti 'fisheye' efek.

Saran terbaik juga adalah menggunakan lensa yang mampu mengurangi getaran seperti Canon EF-S17-55mm IS USM, yang menjadi  lensa favorit  para fotografer untuk pemotretan pameran mobil di dalam ruangan. Dengan dimikian memungkinkan kita mengambil gambar yang tajam di shutter dengan sangat lambat tanpa harus memakain  tripod. Lumayan ribet kalau harus menenteng tripod di acara penuh keramaian orang itu.

Polarisasi

Perlu dipikirkan polarisasi. (Foto: Benny)


Biasanya, di acara pameran mobil  banyak sorot lampu yang diarahkan pada mobil, ini memberikan refleksi yang tidak diinginkan, sehingga kita  perlu menggunakan filter polarisasi untuk mengatasi ini.

Kita kemungkinan besar tidak dapat menghapus semua refleksi yang diambil di acara-acara dalam ruangan, tetapi dapat melakukan upaya yang maksimal.  Satu trik yang bisa dilakukan adalah  adalah menembak dua atau lebih berikutnya dari mobil yang sama, tetapi dengan filter di berbagai sudut.

Pengaturan kamera

Pengaturan apa yang harus kita gunakan untuk memotret mobil di  pameran mobil di dalam ruangan ? Itu semua tergantung pada lingkungan dan tingkat cahaya di dalam gedung.

Shutter speed dengan lensa normal dan tidak ada tripod tetap antara 1/60 dan 1/125, terutama jika ada model, lebih rendah dan berisiko dia akan memiliki motion blur di tembakan akhir.

Jangan berpikir diam di iso 100, biasanya gunakan iso antara 400 dan 800, kadang-kadang bahkan hingga 1600 untuk mencapai kecepatan rana yang layak.  Semakin tinggi iso, tentu saja lebih berisiko kekacauan di foto kita.

Untuk menembak memerlukan pengaturan aperture  5,6-8,0 tergantung pada ukuran mobil. Tembakan sisi penuh bisa dilakukan pada 2,8 Namun, sehingga sangat berguna untuk memiliki lensa cepat di pameran mobil.  Juga cobalah beberapa tembakan di 50mm dengan aperture 2,8.

Panjangkan  fokus saat  berada di pameran mobil, sehingga memungkinkan kita menggunakan pengaturan seluas mungkin, 17 atau 18mm adalah yang paling umum digunakan.  Jangan menggunakan lensa zoom, tapi tidak begitu praktis di pameran mobil.

Persiapan adalah Segalanya

Luangkan waktu untuk memantau situasi. (Foto: Benny)


Datanglah lebih awal agar tidak terlalu berkerumun banyak orang. Coba telususi tata letak pameran , dapatkan daftar ini  pintu masuk pameran dan rencanakan trip memotret dengan hati-hati. Luangkan waktu untuk memperhitungkan posisi memotret. Dengan cara inikita  dapat berkonsentrasi mendapatkan gambar yang benar-benar penting dan menghabiskan sisa hari mencari kesempatan untuk membuat beberapa tembakan lagi.

Jaga Attitude

Selalu tetap sopan di acara pameran mobil.  Ingat tidak hanya kita saja yang sedang  hadir di acara pameran mobil tersebut. Jangan membuat kesalahan  dengan membawa sekantong plastik brosur ketika memotret di pameran mobil. Apalagi mencoba memotret mirip seperti di brosur.

Terkadang ada area terlarang. Cobalah minta izin kepada sales marketing.

Tarik Model

SPG menghalagi? Jadikan model. (Foto: Benny)


Pada semua  acara pameran mobil kerap tersedia model  atau SPG di sekitar mobil  yang ingin dipotret. Namun, kadang kita ingin memotret mobil tanpa model. Cobalah untuk dengan sopan meminta kepadanya untuk sedikit bergeser. Jika dia keberatan, kita bsia menunggu pada jam-jam tetentu, biasanya ada pergantia atau jam istirahat.

Memang kita  datang untuk memotret mobil, tapi  apa salahnya mengambil beberapa gambar dari wanita-wanita ini bersama mobilnya?

Bawa Tripod

Ada saat-saat ketika kita tidak bisa mendapatkan kecepatan rana yang layak, bahkan tidak dengan lensa stabil, sehingga mau tak mau harus  menggunakan tripod.

Kebanyakan orang melihat mobil dari sudut yang lebih tinggi sepanjang waktu, sehingga kita harus mencari gambar yang berbeda, sudut ketinggian rendah m, dan kita dapat menggunakan tripod kecil yang menyenangkan. Sebuah tripod rendah memiliki beberapa keuntungan, sangat ringan, tidak mengambil terlalu banyak ruang jika tidak digunakan dan membutuhkan pijakan yang relatif kecil untuk mengatur ketika ingin menggunakannya.

Berhati-hati membawa tripod di bahu atau ransel . Jangan sampai tidak sengaja menyakiti seseorang ketika berbalik, atau lebih buruk, merusak sebuah mobil  sangat mahal.

Flash


Beberapa orang tidak akan pernah menggunakan flash pada pameran mobil di dalam ruangan. Sebenarnya kita bisa memakainya  tetapi tidak membanjiri mobil dengan cahaya melainkan untuk menghalau beberapa bayangan dan bagian gelap mobil .

Selamat mencoba.

Monday, May 11, 2015

Inilah Hotel Favorit Pekerja Buku di Frankfurt



Tahun ini Indonesia akan menjadi tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair. Terbayang jumlah rombongan yang akan diboyong oleh pemerintah ke kota di Jerman itu. Tentunya mereka memerlukan tempat menginap yang strategis. Mungkin hotel satu ini bisa jadi pilihan. 

Saya menginap di Hotel Meininger tiga tahun lalu. Saat itu, hotel ini masih terbilang baru. Bisa bilihat dari bau cat yang kadang tercium serta kondisi eksterior dan interior masih serba mulus.

Keputusan memilih hotel ini karena dari semua rekomendasi di internet menyebutkan inilah hotel paling dekat dekat dengan Messe, likasi pameran buku internasional di Frankfurt. Bukan saya yang membooking, tapi teman saya dari satu group perushaan. Tapi saya setuju dengan keputusannya.

Dari stasiun kereta api Frankfurt, ada bus khusus menuju hotel ini. Tepat berhenti dekat hotel. Sebenarnya itu semacam terminal akhir karena bus kemudian memutar. Karena saya memiliki kartu pass masuk Frankfurt Book Fair, saya bisa naik bus secara gratis.

Saat itu saya datang terlalu pagi untuk jadwal check in. Namun font officer memberikan penawaran untuk menyimpan bagasi kami di loker hotel. Saya pun diberikan kunci, lalu turun ke lantai bawah hotel menuju ruang loker. Ternyata kabin untuk bagasinya lumayan besar, sehingga saya bisa memasukkan koper kami.

Sambil menunggu waktu check in, saya memutuskan untuk mencari makan. Jadi yang terpikir adalah ke kawasan di depan stasiun Frankfurt. Kami kembali naik bus, dan ternyata jaraknya cukup dekat. Hanya harus sedikit memutar.

Saat kembali ke hotel, pihak hotel menyerahkan kunci kamar. Dan tada! Kamarnay tak sebarapa besar, tapi cukuplah buat kami berdua yang hanya menempati kamar hotel untuk tidur karena sepanjang siang kami harus bekerja di lokasi pameran.

Selain tempat tidur, lemari, juga ada televisi yang siaran malamnya benar-benar bikin takjub. Ya, maklum deh. Namanya juga di Eropa. Tapi yang saya senang saya menemukan saluran televisi yang menayangkan  film berbahasa Hindi. Hidup Bollywood!


Saya juga diberikan password Wifi hotel oleh front officer. Lucunya ketika saya mengaktifkan wifi, koneksi wifi teman saya itu terputus. Barulah kami menyadari satu password hanya untuk satu orang. Maklum, di Indonesia satu password bisa dipakai satu hotel. Akhirnya, saya minta ke front officer dan diberikan khusus untuk saya.

Jangan ditanya kecepatan internet di sana. Mau nonton film di youtube pun tetap kencang.

Hal yang saya suka di hotel inilah restorannya yang minimalis tapi makanannya tidak minimalis dan cocok buat saya. Saya bisa memesan omelet dengan penggorengan baru yang belum dipakai masak omelet campur daging babi. Alau kelihatan penuh antrean, saya pilih makan buah-buahan saja, dan kentang untuk katbohidrat. Namanya sarapan, kan ngak harus kenyang banget ngisi perutnya.

Dari hotel ke lokasi pameran buku cukup berjalan sekitar 50 meter saja. Iya. Karena hotel ini berada di belakang lokasi pameran. Bahkan kita bisa melewati pintu khusus dari jalan layang, turun pakai lift. Praktis.

Paling terasa sekali kelebihan hotel ini adalah saat pulang dari pameran buku. Tahu sendiri, kan, kaki gempor karena jumlah hall yang banyak dan berjauhan di arena pameran. Karena ke hotel dekat, bisa langsung cepat istirahat. Nggak harus naik bis atau kereta lagi.

Hotel minimalis ini juga menyediakan jasa penyewaan sepeda untuk yang mau keliling kota Frankfurt. Sepeda bisa dipilih di depan hotel. Lalu, minta kuncinya ke front officer.



Nah, jika memang mau ke Frankfurt Book Fair tahun ini, coba saja menginap di sini. Cuman saya nggak jamin kalau pesan sekarang amsih dapat kamar. Atau mungkin dapat kamar namun dengan harga yang sudah melambung. Bisa jadi begitu. Secara, hotel ini sudah menjadi favorit para pekerja buku karena lokasinya yang strategis dengan pameran buku Frankfurt.

Foto: Benny dan Meininger Hotel.